Chapter Thirty Two

Sebentar Lagi Aman

POV: Juna

Rencanaku hari Sabtu.

Angkringan Mbah Karto, di pinggir rel. Jam sembilan malam, waktu kereta terakhir lewat. Di bawah pohon ketapang, tempat aku pertama kali meminta sesuatu untuk diriku sendiri. Aku sudah bicara dengan Mbah Karto. Ia akan menyalakan lampu petromaks ekstra. Ia akan menyimpan dua bungkus nasi kucing sambal teri, kesukaan Valerie. Ia bilang ia akan menyanyikan tembang Jawa waktu aku berlutut, dan aku memohon dengan sangat supaya ia tidak melakukannya.

Kotak beludru merah dari toko emas di Pasar Baru ada di saku kemejaku sejak hari Selasa. Aku memegangnya setiap sepuluh menit. Gilang bilang aku seperti orang yang takut dompetnya dicopet.

Hari Jumat jam tiga sore, aku sedang di kantor PT Elevasi Prima Teknik, mengisi laporan mingguan pertamaku sebagai supervisor. Laporan pertama tanpa salah ketik. Aku sudah memeriksanya empat kali.

HP-ku berdering. Bang Ucok.

“Jun! Lift nomor tiga Hadinata! Pintunya telat lagi!”

“Berapa, Bang?”

“Nol koma dua detik!”

Aku berdiri. Kursi plastikku jatuh ke belakang.

“Aku ke sana.”

“Cepetan, Jun! Nanti makin parah!”

Aku sudah setengah jalan ke parkiran sebelum sadar ada yang aneh. Bang Ucok tidak pernah bisa mengukur nol koma dua detik. Bang Ucok bilang pintu yang telat setengah detik itu normal, Jun, namanya juga pintu.

Tapi itu lift nomor tiga. Lift yang bantalan rolnya kuganti sendiri, hari terakhirku di sana, empat jam, sendirian. Lift tempat ia memejamkan mata dan aku membersihkan lipstik di sudut bibirnya.

Aku tidak bisa membiarkan lift itu telat.


Lobby Hadinata Tower sepi untuk Jumat sore. Terlalu sepi. Satpam di meja depan mengangguk ke arahku dengan senyum yang aneh, terlalu lebar. Resepsionis menunduk ke komputernya dan bahunya bergetar, seperti menahan tawa.

Lift nomor tiga terbuka di lantai dasar. Menunggu.

Dan di dalamnya, Valerie.

Ia berdiri di tengah sangkar lift dengan gaun putih. Gaun putih sederhana yang jatuh sampai bawah lutut. Rambutnya digerai, bergelombang. Lipstiknya merah, sedikit manis, seperti permen yang belum pernah kucoba.

Gaun yang sama. Aku tahu tanpa perlu bertanya. Gaun yang ia pakai di hari pertama, waktu ia berjalan menembus lobby ini dengan hak sepatu yang berbunyi seperti detak jam, dan berhenti di depanku, dan menarik kerahku.

Aku berhenti di depan pintu lift.

“Val?”

“Hai, Pak Teknisi.” Ia tersenyum. Senyum miring itu. “Liftnya telat. Ayo cek bareng.”

“Kamu ngapain di sini?”

“Nunggu kamu.”

“Bang Ucok bilang...”

“Bang Ucok bohong.” Ia mengulurkan tangan. “Masuk, Jun.”

Aku menatap tangannya. Lalu wajahnya. Lalu, dengan perasaan yang campur aduk antara curiga dan sesuatu yang lain, sesuatu yang membuat jantungku berdetak terlalu cepat, aku melangkah masuk.

Pintu menutup. Tepat waktu. Tidak telat nol koma dua detik. Tidak telat sama sekali.

Valerie menekan tombol 40.

Lift naik.


“Pintunya nggak telat,” kataku.

“Aku tahu.”

“Bang Ucok bohong.”

“Aku yang suruh.”

Lantai 10. 15. 20. Aku berdiri di pojok, seperti hari pertama. Punggungku menempel ke dinding. Tanganku memegang... tidak ada apa-apa. Aku tidak membawa kotak perkakas. Aku tidak membawa obeng. Satu-satunya yang kubawa adalah kotak beludru merah di saku kemejaku, dan tanganku sudah memegangnya tanpa sadar.

Valerie melihatnya. Matanya turun ke saku kemejaku. Lalu naik lagi ke wajahku.

Ia tersenyum lebih lebar.

“Kamu pegang saku itu lagi,” katanya.

“Nggak.”

“Delapan kali, Jun. Sejak makan malam di rumah Papa. Ditambah satu barusan.”

Lantai 30. 35. 38.

“Val, kamu mau ngapain?”

Lantai 39.

Ia melangkah maju. Ke panel tombol. Dan dengan gerakan yang pelan, tenang, sangat tenang, ia menekan tombol merah besar bertuliskan STOP.


Lift berhenti.

Sentakan halus. Angka di layar membeku di antara 39 dan 40. Dengung motor hilang. Lampu tetap menyala. Udara tetap mengalir dari kisi-kisi di langit-langit.

Hening.

Aku langsung bergerak. Refleks. Aku melangkah ke arahnya, tanganku sudah terangkat, siap menggenggam tangannya, siap berkata kalimat itu, siap menyanyikan lagu jelek itu, karena terakhir kali ia menekan tombol merah, ia menempel di dinding dan tidak bisa bernapas.

Tapi ia tidak menempel di dinding.

Ia berdiri tegak. Di tengah sangkar lift. Napasnya teratur. Tangannya tidak gemetar.

Ia menatapku.

Dan ia tersenyum.

“Tenang,” katanya. “Sebentar lagi aman.”

Aku membeku.

Kalimat itu. Kalimat Bapak. Kalimatku. Diucapkan dengan nada yang sama, dengan jeda kecil yang sama di antara tenang dan sebentar. Dari mulutnya. Kepadaku.

Dari kotak baja yang berhenti di antara dua lantai.

Seperti lima tahun lalu. Tapi terbalik.

“Val...”

“Kamu yang selalu bilang itu ke orang lain,” katanya. Suaranya pelan. Jernih. “Ke nenek di Kemang. Ke ratusan orang di lift. Ke aku, di lift rumah sakit, waktu aku nggak bisa napas. Ke aku lagi, di lift ini, waktu aku pencet tombol merah dan nyesel.”

Ia melangkah mendekat.

“Nggak pernah ada yang bilang ke kamu, Jun. Sejak Bapakmu nggak ada.”

Aku tidak bisa bicara.

“Jadi aku yang bilang sekarang.” Air matanya mulai jatuh, tapi ia tidak berhenti tersenyum. “Tenang, Jun. Sebentar lagi aman. Kamu nggak sendirian lagi. Kamu boleh takut. Kamu boleh capek. Kamu boleh minta. Aku di sini.”

Dan Valerie Sasmita Hadinata, CEO Hadinata Land, perempuan yang membekukan rapat direksi dengan dua kalimat, berlutut di lantai lift nomor tiga.

Dengan heels. Dengan gaun putih yang sama dengan hari pertama.

Ia mengeluarkan kotak kecil dari genggamannya. Kotak beludru biru tua. Membukanya.

Di dalamnya, cincin. Cincin laki-laki. Emas putih polos, tanpa batu, tanpa ukiran di luar. Sederhana. Seperti cincin yang akan dipakai orang yang bekerja dengan tangan.

“Aku nggak bisa bikin pidato,” katanya. Suaranya bergetar sekarang. “Aku CEO, aku bisa pidato tiga jam soal properti hijau. Tapi buat ini aku nggak bisa. Jadi aku cuma mau bilang satu hal.”

Ia menatapku dari bawah. Air mata di pipinya. Lipstik merah. Mata yang sama dengan mata di papan reklame di Cawang, tapi tidak sama sama sekali.

“Juna Mahesa,” katanya. “Kamu mau nikah sama aku?”


Aku tidak menjawab.

Aku tertawa.

Aku tidak bisa menahannya. Tawa itu keluar dari dadaku, keras, basah, tidak percaya. Aku tertawa sampai harus bersandar ke dinding lift. Aku tertawa sampai air mataku jatuh.

Valerie menatapku dengan wajah panik. “Jun? Kok ketawa? Aku salah? Cincinnya jelek? Aku bisa...”

Aku merogoh saku kemejaku.

Mengeluarkan kotak beludru merah dari toko emas di Pasar Baru.

Dan aku berlutut juga. Di depannya. Di lantai lift nomor tiga. Lutut kami hampir bersentuhan.

Aku membuka kotak itu.

Cincin perempuan. Emas putih. Polos. Satu batu kecil, sangat kecil, hampir tidak kelihatan, karena hanya itu yang bisa kubeli dengan tabungan sembilan tahun. Engkoh pemilik toko bilang batunya bukan berlian. Zirkon. Tapi berkilau di bawah lampu lift.

Valerie menatap cincin itu. Wajahnya membeku. Mulutnya terbuka.

“Kamu...” bisiknya.

“Besok,” kataku. Suaraku pecah di tengah tawa. “Rencanaku besok. Di angkringan. Mbah Karto udah siap nyanyi tembang Jawa.”

“Kamu mau ngelamar duluan.”

“Iya.”

“Aku tahu! Aku tahu dari Tari! Makanya aku majuin jadi hari ini!”

“Tari bilang?”

“Tari nggak bilang! Tari terikat sumpah ganda! Aku tahu dari mukanya!”

Kami berdua tertawa. Berlutut di lantai lift yang berhenti di antara lantai 39 dan 40, saling menyodorkan kotak cincin, menangis dan tertawa sekaligus.

“Kamu selalu duluan,” kataku.

“Kamu yang daftar donor duluan,” katanya. “Sebelum aku tahu namamu. Itu duluan banget, Jun. Aku nggak bisa ngalahin itu.”

“Kamu milih aku duluan. Di lift. Sebelum aku daftar.”

“Jadi siapa yang duluan?”

Aku menatapnya. Perempuan yang berlutut di depanku dengan gaun putih hari pertama. Perempuan yang dulu botak di balik pintu baja, yang sekarang memegang cincin untukku.

“Nggak penting,” kataku. “Kita nggak saling utang.”

Ia tertawa, basah. “Kita cuma saling duluan.”

Aku mengambil tangan kirinya. Pelan. Jemarinya dingin dan gemetar.

“Valerie Sasmita Hadinata,” kataku. “Aku nggak pinter ngomong. Aku cuma tahu aku mau jagain kamu sampai tua. Sampai kamu bosan. Sampai kamu lupa namaku, terus aku ingetin tiap pagi.”

Air matanya jatuh.

“Kamu mau nikah sama aku?”

“Aku yang nanya duluan!”

“Jawab dulu.”

“Iya!” Ia menangis. “Iya, iya, iya! Sekarang kamu jawab!”

“Iya, Val.” Aku tertawa. “Iya. Dari lima tahun lalu.”


Aku memasangkan cincin di jari manisnya. Pas. Tidak terlalu longgar, tidak terlalu sempit.

“Ukurannya pas,” bisiknya, menatap tangannya. “Kok bisa?”

“Aku ukur waktu kamu tidur di kasur busaku. Pakai benang.”

Ia menatapku. Lalu tertawa lagi.

Ia memasangkan cincin di jari manisku. Juga pas.

“Kamu?” tanyaku.

“Aku tebak,” katanya. “Dari waktu kamu pegang tanganku di PMI.”

Aku menatap cincin di jariku. Emas putih polos. Lalu aku melihat sesuatu. Di bagian dalam cincin itu, ada ukiran. Sangat kecil. Aku memutar cincin itu sedikit di jariku supaya bisa membacanya.

Mas Lift.

Aku menatapnya. Ia tersenyum, basah.

“Lihat punyamu,” kataku.

Ia mengangkat tangannya. Memutar cincinnya. Membaca bagian dalamnya. Di sana, sama kecilnya, ukiran yang kuminta dari engkoh pemilik toko dengan biaya tambahan dua puluh ribu rupiah:

Jangan takut lagi.

Valerie menutup mulutnya dengan tangan.

Kalimat dari formulir. Kalimat yang kutulis lima tahun lalu, jam sebelas lewat dua belas malam, untuk perempuan yang tidak kukenal.

“Kamu...” Ia tidak bisa menyelesaikannya.

Aku menarik napas. Menatap bibirnya. Lama.

“Val,” kataku.

“Hm.”

“Boleh aku minta sesuatu?”

Ia tidak menjawab dengan kata-kata.


Lift bergetar. Dengungnya kembali. Angka di layar bergerak: 39... 40.

Bang Ucok di ruang mesin, pasti. Ia pasti menghitung waktu. Ia pasti mendengar semuanya lewat interkom, karena aku tiba-tiba sadar lampu kecil di panel interkom menyala hijau sejak tadi.

Ting.

Lantai 40. Pintu terbuka.

Dan di koridor berkarpet abu-abu itu, semua orang.

Bu Sum di depan, memegang panci bubur kacang ijo yang masih mengepul, menangis ke ujung kerudungnya. Tari di sebelahnya, melompat-lompat sambil menutup mulut. Gilang, memegang kamera dengan jari, akhirnya, tidak menutupi lensa. Bang Ucok, yang entah bagaimana sudah turun dari ruang mesin, terengah-engah.

Bu Ratih dan Pak Bramantyo, berpegangan tangan. Pak Bramantyo menangis tanpa suara, kumisnya bergetar. Kiki dan Reza, Reza memeluk Kiki dari belakang, dua-duanya menangis. Pak Hendrik dan istrinya dan anak kembarnya yang memakai kacamata renang di kepala. Mbah Karto, memakai sarung dan kemeja batik, tersenyum dengan gigi yang tinggal separuh.

Dan Pak Darto. Di belakang semuanya. Tegak. Buku saku hitam di tangan.

Mereka menatap kami. Aku dan Valerie, masih berlutut di lantai lift, berpelukan, dengan cincin di jari masing-masing, lipstik merahnya sudah tidak ada di bibirnya karena sekarang ada di bibirku.

Hening satu detik.

Lalu koridor lantai 40 meledak.


Malam itu, di atas kasur busa di rusun, aku membuka formulir lecek untuk terakhir kalinya.

Ujung bawahnya sobek, bagian yang kurobek untuk menulis catatan di rumah sakit. Lipatannya hampir putus. Penuh coretan.

KENAPA DIA MENCIUMKU

Teori #1: Salah orang. Dicoret.

Teori #2: Tameng perjodohan. Dicoret dua kali.

Teori #3: Prank. Dicoret, atas permintaan tersangka.

Teori #4: Kembaran. Gugur. Dia anak tunggal.

Catatan-catatan kecil. Dia bilang: “Akhirnya.” Rasanya kayak hidup kedua. Dia nggak pergi. Aku yang pergi.

Jawaban: Dia yang nerima. Aku yang ngasih. Lima tahun lalu.

Aku mencoret jawaban itu. Satu garis tipis.

Lalu, di bawahnya, di sisa ruang yang masih kosong, aku menulis dengan pulpen biru yang tintanya hampir habis:

Teori terakhir: Karena dia cinta aku. Duluan.

Aku menatap kalimat itu lama.

Lalu aku menambahkan satu baris lagi. Lebih kecil.

Aku juga.


Kami menikah dua bulan kemudian.

Akad di taman belakang rumah Menteng, di bawah pohon kamboja yang menjatuhkan bunga-bunga putih di atas kepala kami. Tamunya tidak banyak. Keluarga. Teman-teman. Empat puluh pekerja proyek Cikarang yang naik dua bus sewaan. Petugas PMI bernama Bu Nurul. Engkoh pemilik toko emas di Pasar Baru.

Gerobak Bu Sum berdiri di sudut taman, di sebelah gubuk sate dari katering mahal yang dipesan Bu Ratih. Antrean di gerobak Bu Sum tiga kali lebih panjang.

Valerie memakai kebaya putih. Rambutnya disanggul dengan melati. Ia berjalan menyusuri jalan setapak batu ke arahku dengan Pak Bramantyo di sebelahnya, dan hak sepatunya berbunyi di atas batu. Tok. Tok. Tok.

Seperti detak jam. Seperti di lobby, hari pertama.

Waktu ia sampai di depanku, ia menatapku dari balik untaian melati, dan matanya basah, dan ia tersenyum miring.

“Kamu lihatin bibirku,” bisiknya.

“Iya.”

“Sabar. Habis akad.”

Seluruh barisan depan tamu yang mendengar tertawa. Pak Bramantyo berdeham keras. Bu Ratih menutup wajahnya dengan kipas.


Setelah akad, ada satu bagian yang tidak biasa. Valerie yang memintanya. Bukan janji pernikahan resmi, bukan bagian dari acara. Hanya satu menit, di depan semua orang, di bawah pohon kamboja.

Ia menghadapku. Memegang kedua tanganku. Cincin dengan ukiran Jangan takut lagi berkilau di jarinya.

“Jun,” katanya. Suaranya cukup keras untuk didengar semua orang, tapi matanya hanya untukku. “Lima tahun lalu kamu nulis di kartu: sebagian dari aku sekarang ada di kamu. Aku baca kalimat itu setiap malam, selama satu tahun, di rumah sakit.”

Aku menggenggam tangannya lebih erat.

“Hari ini aku mau bales,” lanjutnya. “Bukan bayar. Bales.”

Ia menarik napas.

“Golongan darahku sekarang kamu,” katanya. “Dan mulai hari ini, seluruh hidupku juga.”

Di barisan depan, Tari meledak menangis. Bu Sum menangis. Pak Darto menunduk dan menulis di buku sakunya dengan tangan yang gemetar.

Aku tidak bisa bicara. Aku hanya menariknya ke pelukanku di bawah hujan bunga kamboja, dan menciumnya, dan kali ini tidak ada yang menghitung berapa lama.


Malam pertama, kami ke villa di Cisarua.

Valerie yang memilih. Ia bilang ia tidak mau hotel. Ia mau tempat yang ada perapian. Ia mau menyelesaikan sesuatu yang dulu kami hentikan.

Pak Ujang menyalakan perapian sebelum pulang ke paviliun, seperti dulu. Pak Darto, untuk pertama kalinya, tidak ikut. Ia bilang ini satu-satunya malam dalam dua belas tahun yang ia tidak akan jaga.

Kabut turun dari bukit. Menekan jendela. Api kayu pinus berderak, cahayanya oranye dan hangat di dinding kayu.

Valerie berdiri di depan perapian, masih memakai kebaya putih, melati di sanggulnya sudah sedikit layu. Ia menatapku yang berdiri di ambang pintu.

“Kunci pintunya, Jun,” katanya.

Aku memutar kuncinya. Klik. Bunyinya keras di ruangan yang sunyi.

“Sini,” katanya.

Aku berjalan ke arahnya. Pelan. Berhenti di depannya. Begitu dekat sehingga aku bisa mencium melati dan asap kayu pinus dan wangi parfumnya yang mahal dan tenang.

Ia mengangkat tangan. Menyentuh kancing paling atas kemeja putih yang kupakai di bawah beskap. Tidak membukanya. Hanya menyentuhnya.

“Kamu yang buka,” katanya pelan.

“Kenapa?”

“Buka kancingnya, Jun. Pelan-pelan.” Matanya di mataku. “Aku mau lihat tanganmu gemetar sekali lagi. Cuma karena aku.”

Aku mengangkat tanganku ke kancing itu.

Tanganku gemetar.

Tangan yang tenang di lubang lift, tenang di atas sangkar dua puluh lantai, tenang memegang tangan orang-orang yang ketakutan. Gemetar seperti tangan anak kecil, di depan perapian, di depan perempuan yang sekarang istriku.

Ia tersenyum. Ia menatap tanganku yang gemetar, dan senyumnya berubah, dari nakal jadi sesuatu yang sangat lembut, sangat dalam.

“Itu dia,” bisiknya.

Satu kancing. Lalu yang kedua.

Lalu tangannya menemukan tusuk konde di sanggulnya, dan melepasnya, dan rambutnya jatuh, panjang dan bergelombang dan wangi melati, ke bahunya, ke tanganku.

“Jun.”

“Hm.”

“Kamu lihatin bibirku.”

“Iya.”

“Kamu mau minta sesuatu?”

Aku menatapnya. Istriku. Perempuan dari balik pintu baja. Perempuan dari lobby. Perempuan yang darahnya darahku.

“Nggak,” kataku.

Ia mengerjap.

“Malam ini aku nggak minta,” kataku, dan menangkup wajahnya dengan kedua tanganku yang masih gemetar. “Malam ini aku ngasih. Semuanya. Dan kamu boleh nerima tanpa takut.”

Matanya basah.

“Nggak ada tagihannya?” bisiknya.

“Seumur hidup,” kataku. “Tapi bukan tagihan.”

Ia menarik kerahku. Seperti di lobby. Seperti di hari pertama.

Dan api di perapian berderak, dan kabut menekan jendela, dan di luar, jauh di lembah, lampu-lampu kota berkedip seperti kunang-kunang yang tidak pernah tidur.

Selebihnya bukan untuk dicatat.

Bahkan Pak Darto setuju.