Chapter Two
Pagi Ini Dokter Bilang Aku Sembuh
POV: Valerie
Jam tujuh lewat lima belas pagi, dokterku membuka map cokelat, membaca selembar kertas, lalu melepas kacamatanya.
Aku tahu artinya. Lima tahun duduk di kursi yang sama membuatku hafal kebiasaannya. Kalau beritanya biasa, ia membaca sambil tetap berkacamata. Kalau beritanya buruk, ia menaruh map di meja dulu, menautkan jari, dan berkata “Nah” sebelum kalimat apa pun. Ia melepas kacamata hanya kalau ingin melihat wajahku dengan jelas.
“Lima tahun,” katanya. “Tidak ada tanda kekambuhan. Hitung darahmu bagus. Semuanya bagus.”
Aku mengangguk. Aku CEO. Aku sudah mendengar laporan bagus ratusan kali, dan aku tahu cara menerima laporan bagus: angguk sekali, ucapkan terima kasih, tanya langkah selanjutnya.
“Jadi,” kataku. “Langkah selanjutnya?”
Dokter itu tersenyum. Ia sudah tua, rambutnya hampir putih semua, dan ia pernah melihatku dalam versi terburukku: botak, kurus, tidak bisa mengangkat sendok sendiri.
“Langkah selanjutnya, Valerie,” katanya pelan, “kamu hidup.”
Aku mengangguk lagi. Mengucapkan terima kasih. Menjabat tangannya dengan genggaman yang mantap, genggaman orang yang sedang menutup kesepakatan.
Lalu aku berjalan ke parkiran, masuk ke mobil, menutup pintu, dan menangis begitu keras sampai Pak Darto, yang duduk di kursi sopir, mematikan radio dan menatap lurus ke depan selama dua puluh menit tanpa bicara sepatah kata pun.
“Mama,” kataku di telepon, setelah suaraku cukup stabil untuk dipakai.
Di seberang, Mama sudah menangis bahkan sebelum aku mengatakan apa-apa. Ia tahu jadwal kontrolku. Ia selalu tahu. Lima tahun lalu ia yang menempelkan kalender di dinding kamar rumah sakit dan mencoret setiap hari dengan spidol merah, seolah hari-hari itu musuh yang harus dikalahkan satu per satu.
“Bersih?” tanyanya.
“Bersih, Ma.”
Mama mengeluarkan suara yang bukan tawa dan bukan tangis, lalu berteriak memanggil Papa. Aku mendengar Papa menjatuhkan sesuatu di latar belakang, mungkin cangkir kopi, mungkin harga dirinya, karena detik berikutnya laki-laki yang membuat separuh direksi Jakarta takut itu sesenggukan di telepon seperti anak kecil.
“Papa beliin kamu apa saja,” katanya. “Apa saja. Pulau. Kamu mau pulau?”
“Aku nggak mau pulau, Pa.”
“Kamu mau apa?”
Aku menatap keluar jendela mobil. Jakarta pagi itu kelabu, lalu lintas padat seperti biasa, orang-orang bermotor menyelip di sela mobil dengan helm dan jaket dan wajah setengah mengantuk. Salah satu dari mereka, entah di mana, mungkin sedang berhenti di lampu merah dan tidak tahu bahwa hari ini adalah hari yang sudah kutunggu selama lima tahun.
“Aku sudah tahu mau apa, Pa,” kataku. “Aku ambil sendiri.”
Aku menutup telepon. Pak Darto melirikku lewat kaca spion.
“Ke Hadinata Tower, Pak,” kataku. “Peresmiannya jam sepuluh.”
“Siap, Bu.” Ia diam sebentar. “Bu.”
“Hm?”
“Hari ini, Bu?”
Pak Darto bukan orang yang suka bertanya. Dua belas tahun ia menjaga keluargaku, dan dalam dua belas tahun itu ia mengajukan pertanyaan pribadi mungkin tiga kali. Tapi ia ada di sana tahun lalu, waktu Kiki dan aku menyusuri warung demi warung di Jakarta Timur. Ia ada di sana enam bulan lalu, waktu aku duduk di dalam mobil di seberang sebuah warung bubur dengan kaca jendela setengah terbuka, mendengar suara seorang laki-laki tertawa di dekat gerobak, lalu lututku lemas begitu parah sampai aku tidak bisa turun dari mobil.
Aku tahu waktu itu. Aku langsung tahu.
Dan aku tidak mendekat. Aku menyuruh Pak Darto menyetir pulang.
“Aku nggak mau datang ke dia sebagai pasien,” kataku waktu itu, dan Pak Darto, yang tidak pernah bertanya, juga tidak bertanya kenapa.
Sekarang ia bertanya, dan aku menjawab.
“Hari ini, Pak.”
Pak Darto mengangguk sekali. Lalu, tanpa diminta, ia memutar arah mobil ke jalur yang lebih cepat.
Aku punya rencana.
Rencanaku rapi, seperti semua rencanaku. Aku akan memotong pita. Aku akan memberi pidato tiga menit tentang masa depan properti hijau di Jakarta. Aku akan menyalami tamu-tamu penting. Lalu, setelah semua selesai, aku akan berjalan ke tim vendor lift yang kontraknya sudah kutandatangani sendiri tiga bulan lalu, menyapa mereka satu per satu dengan sopan, dan ketika sampai di depannya, aku akan berkata: “Terima kasih sudah menjaga gedung ini.”
Hanya itu. Langkah pertama. Kenalan dulu. Pelan-pelan.
Rencana itu bertahan sampai aku melangkah masuk ke lobby dan melihatnya.
Ia sedang berlutut di depan panel lift nomor tiga, punggungnya membungkuk, seragam abu-abunya sedikit kebesaran di bahu. Rambutnya hitam pendek, agak berantakan di belakang. Tangannya memegang obeng dengan cara orang memegang sesuatu yang ia sayangi.
Lalu ia menoleh.
Aku sudah melihat wajahnya enam bulan lalu, dari balik kaca mobil, dari jarak dua puluh meter. Tapi jarak dua puluh meter tidak pernah memperlihatkan matanya. Matanya cokelat tua, tenang, sedikit lelah di ujung, mata orang yang sudah terbiasa menunggu dan tidak pernah mengeluh soal menunggu. Ada bekas oli di pelipisnya. Ada noda di lutut celananya.
Dan ia menatap ke arahku bukan seperti semua orang di lobby itu. Bukan kagum, bukan takut. Ia menatapku seperti orang yang sedang memastikan sesuatu di sekitarnya aman.
Rencanaku hancur di langkah keempat belas.
Kakiku tidak berbelok ke podium. Kakiku lurus saja, seolah selama lima tahun ini aku hanya berlatih berjalan ke satu arah. Aku mendengar Kiki berbisik “Val, Val, podiumnya di sana” dari jauh, tapi suaranya seperti dari dalam air.
Ia berdiri waktu aku sampai di depannya. Ia lebih tinggi dari yang kukira. Ia berkata, “Selamat pagi, Bu,” dengan suara itu.
Suara itu.
Lalu aku tidak ingat keputusan apa pun. Aku hanya ingat tanganku sudah menggenggam kerahnya, dan aku menariknya turun, dan bibirku sudah di bibirnya.
Ia tidak menciumku balik. Tentu saja tidak. Ia terlalu kaget, dan ia laki-laki yang terlalu sopan. Tapi ia juga tidak mendorongku. Tangannya terangkat sedikit di udara, ragu-ragu, tidak tahu harus ditaruh di mana, lalu turun lagi tanpa menyentuhku. Dan entah kenapa justru itu yang membuat dadaku sakit: bahkan dalam keadaan kaget setengah mati, ia masih berhati-hati untuk tidak menyentuh perempuan tanpa izin.
Aku melepaskannya.
“Akhirnya,” kataku, dan suaraku pecah. Lima tahun pecah di satu kata.
Aku harus mengendalikan diri. Ada seratus kamera. Ada saham perusahaan yang akan bergerak besok pagi tergantung foto mana yang keluar. Jadi aku melakukan satu-satunya hal yang bisa kulakukan agar tidak menangis di depan seluruh pers Jakarta: aku mengambil alih situasi.
“Ini pacar saya.”
Lobby meledak. Aku bahkan tidak peduli.
“Mbak,” katanya pelan, hanya untukku. “Saya teknisi lift.”
Ia memanggilku Mbak. Bukan Bu. Bukan Ibu Valerie. Mbak.
Aku tersenyum. Tidak bisa ditahan. “Aku tahu.”
Dan kemudian, karena ia melihat tanganku gemetar di kerahnya, karena ia selalu, selalu melihat hal-hal kecil seperti itu, ia menurunkan suaranya dan berkata:
“Tenang. Sebentar lagi aman.”
Dunia berhenti.
Kalimat itu. Dengan nada yang sama. Dengan jeda kecil yang sama di antara “tenang” dan “sebentar”. Lima tahun berlalu dan ia masih memakai kalimat itu, seolah kalimat itu sudah jadi bagian tubuhnya, seperti cara orang lain mengucap “permisi”.
Ia tidak tahu apa artinya kalimat itu bagiku. Ia mengucapkannya untuk orang yang gemetar di depannya, siapa pun itu, tanpa berpikir. Dan itu yang membuatku hampir runtuh di tengah lobby: ia baik bukan karena aku. Ia baik karena ia memang begitu.
Aku memanggil Pak Darto sebelum lututku menyerah.
Lift nomor tiga. Pak Darto memilih lift nomor tiga, entah sengaja atau tidak, dan aku tidak bertanya karena aku takut jawabannya.
Di dalam lift, ia berdiri di pojok seperti kucing yang terpojok di gang, punggung menempel dinding, obeng di tangan seperti senjata satu-satunya. Telinganya merah. Aku melihat pantulan kami berdua di pintu baja yang mengilap: aku di tengah dengan gaun putih dan lipstik berantakan, ia di pojok dengan seragam abu-abu dan wajah orang yang baru disambar petir.
Lalu matanya turun ke bibirku.
Sekali. Ia buru-buru membuang pandangan. Lalu turun lagi.
Aku sudah lima tahun berlatih menahan diri. Rapat direksi, negosiasi alot, wartawan nyinyir, keluarga besar yang bertanya kapan aku menikah. Tapi tidak ada latihan yang menyiapkanku untuk melihat laki-laki ini melirik bibirku dua kali dalam lift yang sempit.
“Mau cium aku lagi, ya?”
Ia tersedak udara. Aku hampir tertawa.
Sepanjang sisa perjalanan naik, aku menggodanya dan ia bertahan, dan setiap kali ia bertahan, aku jatuh sedikit lebih dalam. Waktu aku menyuruhnya membersihkan lipstikku, aku memejamkan mata, bukan karena ingin terlihat romantis, tapi karena kalau aku melihat wajahnya sedekat itu, aku akan menangis lagi. Tisunya menyentuh sudut bibirku seringan napas. Tangannya gemetar. Tangan yang bisa memperbaiki mesin seberat berton-ton gemetar karena sudut bibirku.
Aku ingin menyimpan detik itu di toples, seperti anak kecil menyimpan kunang-kunang.
Kantor lantai 40 punya dinding kaca dari lantai sampai langit-langit. Dari sini, Jakarta terlihat seperti peta yang kusut. Biasanya pemandangan ini membuatku merasa berkuasa. Pagi ini, aku hanya ingin tahu dari jendela sebelah mana rusun tempatnya tinggal.
Ia duduk di ujung sofa tamu, hanya di ujung, seperti takut sofanya kotor kena seragamnya. Kotak perkakasnya ditaruh di lantai, rapat di dekat kakinya. Pak Darto berdiri di dekat pintu.
“Mbak,” katanya akhirnya, setelah diam cukup lama untuk mengumpulkan keberanian. “Saya boleh tanya?”
“Boleh.”
“Mbak lagi dijodohin, ya?”
Aku mengangkat alis. “Kok tahu?”
“Adik saya nonton sinetron.” Ia menggaruk tengkuknya. “Di sinetron, orang kaya yang tiba-tiba cium orang asing di depan umum biasanya lagi kabur dari perjodohan. Terus orang asingnya disuruh pura-pura jadi pacar. Terus nanti ada kontraknya.”
“Terus?”
“Terus, ya...” Ia menatap kotak perkakasnya. “Saya nggak keberatan bantu, Mbak. Tapi saya nggak bisa tanda tangan kontrak yang lama-lama. Saya ada adik. Saya harus kerja.”
Aku menatapnya. Laki-laki ini baru dicium paksa di depan seratus kamera, diseret ke lantai 40, dan hal pertama yang ia tawarkan adalah membantu. Dengan syarat ia tetap bisa bekerja untuk adiknya.
Lima tahun lalu ia juga begitu. Tidak minta apa-apa. Hanya memberi, lalu pergi.
Aku berdiri dari kursiku, berjalan memutari meja, dan duduk di sebelahnya di sofa. Tidak di ujung lain. Tepat di sebelahnya, sampai lututku menyentuh lututnya yang bernoda oli.
Ia menegang seperti tiang listrik.
“Dengar baik-baik,” kataku. “Aku memang dijodohkan. Namanya Reza, orangnya baik, dan aku sudah menolaknya tiga kali. Aku tidak butuh pacar bohongan untuk menolak orang. Aku CEO. Aku bisa menolak siapa saja tanpa bantuan.”
“Terus kenapa...”
“Aku nggak pura-pura.”
Ia menatapku. Lama. Matanya mencari sesuatu di wajahku: kebohongan, lelucon, kamera tersembunyi. Ia tidak menemukannya, dan itu justru membuatnya lebih bingung.
“Mbak nggak kenal saya,” katanya pelan.
Aku menahan napas.
Bukan sekarang.
Aku sudah memutuskannya enam bulan lalu, di dalam mobil, di seberang warung bubur itu. Kalau aku menceritakan semuanya hari ini, ia akan melihatku sebagai orang yang berutang. Ia akan baik kepadaku karena kasihan, atau karena merasa bertanggung jawab, atau karena ia memang tidak bisa tidak baik kepada siapa pun. Dan ia akan selamanya bertanya-tanya apakah aku di sini karena dia, atau karena sesuatu yang pernah ia berikan.
Aku tidak mau itu. Aku mau ia memilihku dulu. Aku sebagai perempuan. Bukan aku sebagai utang.
“Kalau gitu,” kataku, “kenali aku.”
“Mbak...”
“Dan berhenti panggil aku Mbak dengan nada orang mau minta maaf. Kamu boleh panggil Mbak, tapi panggil dengan nada orang yang mau ngajak makan malam.”
Ia membuka mulut. Menutup lagi. Telinganya, yang tadi sudah mulai normal, merah lagi sampai ke leher.
“Saya harus balik kerja,” katanya akhirnya.
“Lift kamu aman, kok.”
“Mbak nggak tahu.”
“Aku tahu.” Aku mencondongkan tubuh sedikit, cukup untuk membuat ia mundur sedikit, cukup untuk membuat punggungnya menyentuh lengan sofa. “Lift kamu aman. Yang nggak aman itu aku.”
Ia berdiri begitu cepat sampai lututnya terantuk meja kopi.
“Saya permisi, Mbak.”
“Nomor HP kamu?”
“Nggak usah, Mbak.”
“Nggak apa-apa.” Aku menyandarkan punggung ke sofa dan tersenyum. “Aku punya cara.”
Ia mengangkat kotak perkakasnya, mengangguk sopan ke arahku, mengangguk sopan ke arah Pak Darto, lalu berjalan ke pintu dengan langkah orang yang berusaha keras tidak terlihat seperti sedang kabur.
Di ambang pintu, ia berhenti. Berbalik setengah.
“Mbak,” katanya. “Tadi, di lobby. Tangan Mbak gemetar.”
“Iya.”
“Sekarang masih?”
Aku menatap tanganku. Masih. Sedikit. “Masih.”
Ia diam sebentar. Lalu, dengan suara yang lebih pelan, seolah malu dengan pertanyaannya sendiri: “Mbak sudah sarapan?”
Aku tidak bisa menjawab. Tenggorokanku tertutup.
Ia mengangguk seolah diamku sudah menjawab. “Makan dulu, Mbak. Orang gemetar biasanya karena belum makan.”
Lalu ia pergi.
Pintu kaca menutup pelan di belakangnya. Pak Darto mengeluarkan buku sakunya dan menulis sesuatu. Kiki menerobos masuk tiga detik kemudian dengan wajah merah padam dan tablet di tangan.
“Valerie Sasmita Hadinata!” teriaknya. “Kamu tahu saham kita naik dua persen dalam lima belas menit gara-gara video ciuman? Kamu tahu tim PR lagi nangis di toilet? Kamu tahu aku tadi gunting pita sambil gemetar kayak ayam basah?”
Aku tidak mendengarkan.
Aku duduk di sofa yang sama, di tempat ia tadi duduk, yang masih sedikit hangat, dan menekan telapak tanganku ke dada.
Ia tidak mengenalku. Itu tidak apa-apa. Lima tahun aku mengenalnya hanya dari satu kalimat dan satu warung bubur. Aku bisa sabar. Aku jago menunggu.
Tapi jantungku tidak mau sabar.
“Kiki,” kataku.
“Apa?”
“Pesankan sarapan.”
Kiki menganga. “Itu yang mau kamu bilang? Setelah semua ini?”
“Dia bilang aku harus makan dulu.”
Kiki menatapku lama, lalu menatap Pak Darto. Pak Darto mengangguk pelan, seperti saksi di pengadilan.
“Ya Tuhan,” kata Kiki. “Kamu sudah habis, Val.”
Aku tertawa. Untuk pertama kalinya hari itu, aku tertawa tanpa menangis di ujungnya.
Ya. Aku sudah habis. Sudah lama sekali.
- 1 Ciuman di Lantai Dasar
- 2 Pagi Ini Dokter Bilang Aku Sembuh reading
- 3 Teori Nomor Satu: Salah Orang
- 4 Lift Lantai 40 Rusak Lagi
- 5 Dua Ratus Mangkuk Bubur
- 6 Bawa Aku ke Duniamu
- 7 Tombol Merah
- 8 Kalau Mbak Serius
- 9 Angkringan, Bukan Rooftop
- 10 Telepon Jam Dua Pagi
- 11 Yang Punya Darahnya
- 12 Makan Malam Keluarga Hadinata
- 13 Kunci Pintunya
- 14 Rezeki Nomplok
- 15 Ulang Tahun Kedua
- 16 Kartu Laminasi
- 17 Bekas Luka
- 18 Siapa yang Menang Tender
- 19 Kamu Pernah Menolakku
- 20 Kamu Bayar Utang
- 21 Aku Nggak Pura-Pura
- 22 Laki-Laki yang Nggak Mau Apa-Apa
- 23 Proyek Baru, Hati Lama
- 24 Biopsi
- 25 Lift yang Sama
- 26 Helm Proyek
- 27 HP Lama
- 28 Kalau Aku Nggak Keluar
- 29 Duluan
- 30 Meja Makan Hadinata (Lagi)
- 31 Malam di Lift, Lima Tahun Lalu
- 32 Sebentar Lagi Aman
- 33 Epilog — Golongan Darah Anak Kita