Chapter Eleven

Yang Punya Darahnya

POV: Valerie

Aku takut jarum.

Bukan takut yang lucu, seperti anak kecil yang menangis waktu imunisasi. Takut yang membuat tanganku dingin dan pandanganku menyempit setiap kali melihat jarum suntik, bahkan di iklan televisi, bahkan di gambar. Aku sudah ditusuk ratusan kali dalam hidupku. Mungkin ribuan. Aku tidak pernah menghitung. Aku berhenti menghitung di bulan kedua, waktu perawat harus mencari vena baru karena semua vena di lenganku sudah lelah.

Jadi ketika aku berkata kepada Juna bahwa aku akan ikut menemaninya donor darah, aku tahu persis apa yang sedang kusetujui.

Sabtu pagi, di dalam mobil menuju unit donor darah di kantor PMI Jakarta Timur, tanganku sudah dingin.

“Bu,” kata Pak Darto dari kursi sopir, melirik lewat kaca spion. “Ibu yakin?”

“Yakin, Pak.”

“Ibu bisa tunggu di mobil.”

“Nggak.”

Pak Darto diam. Lalu, tanpa diminta, ia mengecilkan AC.


Juna sudah menunggu di depan gedung PMI, duduk di atas motornya, memakai kaus abu-abu dan jaket jins yang sudah pudar warnanya. Ia berdiri waktu mobil kami berhenti, dan wajahnya berubah begitu aku turun.

“Kamu pucat,” katanya langsung.

“Bedaknya terlalu terang.”

“Kamu nggak pakai bedak.”

“Kamu tahu dari mana?”

“Pipimu ada titik kecil di dekat telinga. Kalau pakai bedak, titiknya nggak kelihatan.” Ia menatapku. “Sekarang kelihatan.”

Aku menatapnya. Laki-laki ini memperhatikan titik kecil di dekat telingaku. Aku sendiri lupa titik itu ada.

“Kamu merhatiin mukaku sedetail itu?” tanyaku.

Telinganya langsung merah. “Kerjaan, Val. Kebiasaan ngecek panel.”

“Mukaku panel?”

“Bukan gitu...”

“Panel apa? Panel kontrol?” Aku melangkah mendekat. “Kamu mau pencet tombol yang mana?”

Juna menatap langit, menatap gedung PMI, menatap motornya, menatap apa saja kecuali aku. Aku tertawa, dan entah kenapa tanganku sedikit lebih hangat.


Ruang tunggu donor penuh. Bapak-bapak dengan kaus partai, mahasiswa-mahasiswa yang datang berombongan, ibu-ibu yang membawa termos teh. Di dinding ada poster besar bergambar tetesan darah berbentuk hati dan tulisan Setetes Darah Anda, Nyawa Bagi Sesama.

Begitu kami masuk, ruangan itu hening.

Lalu seorang petugas perempuan di meja pendaftaran, umur empat puluhan dengan kerudung biru dan kacamata tebal, menjatuhkan pulpennya.

“Ya Allah,” katanya. “Itu Mbak yang di video.”

Seisi ruangan menoleh.

“Video cium-ciuman itu! Itu kan Mas-nya! Mas teknisi lift!” Petugas itu sudah berdiri, mengeluarkan HP dari saku seragamnya dengan kecepatan yang tidak masuk akal untuk orang seumurnya. “Mbak, Mas, boleh foto? Anak saya nggak bakal percaya.”

“Bu,” kata Juna dengan wajah merah. “Saya mau donor.”

“Iya, Mas, donor nanti. Foto dulu.”

Aku tertawa. Aku tidak bisa menahannya. Aku menarik lengan Juna, menempelkan badanku ke sisinya, dan tersenyum ke kamera HP petugas itu. Juna berdiri kaku seperti tiang listrik. Bunyi rana terdengar tiga kali.

“Satu lagi, Mbak! Yang mesra!”

Aku menoleh ke Juna. Ia menatapku dengan wajah orang yang tahu apa yang akan terjadi dan sudah pasrah. Aku berjinjit dan mencium pipinya.

Seisi ruang tunggu bersorak. Seorang bapak berkaus partai bertepuk tangan. Rombongan mahasiswa bersiul. Pak Darto, di dekat pintu, mengeluarkan buku sakunya.

“Pipi nggak dihitung,” bisikku di telinga Juna.

“Kamu bilang gitu terus.”

“Karena memang nggak dihitung.”

“Kalau nggak dihitung, kenapa Pak Darto nyatet?”

Aku menoleh ke Pak Darto. Ia menulis tanpa mengangkat kepala.

“Pak Darto punya standar sendiri,” kataku.


Petugas itu, yang ternyata bernama Bu Nurul, memproses pendaftaran Juna dengan semangat orang yang sedang mengurus pernikahan keluarga sendiri. Ia menimbang Juna, mengukur tekanan darahnya, menusuk ujung jarinya untuk memeriksa hemoglobin.

Aku memalingkan muka waktu jarum kecil itu menusuk jarinya.

“Mbak juga mau donor?” tanya Bu Nurul, menyodorkan formulir kosong kepadaku.

“Nggak, Bu.”

“Kenapa, Mbak? Golongan darahnya apa?”

“O.”

“Wah, O dibutuhkan banget, Mbak! Stok lagi tipis. Ayo, sekalian sama pacarnya.”

Aku menatap formulir itu. Pertanyaan-pertanyaannya tercetak rapi dalam kotak-kotak kecil. Apakah Anda pernah menerima transfusi darah? Apakah Anda pernah menjalani operasi besar? Apakah Anda pernah...

Aku mengembalikan formulir itu.

“Saya nggak boleh donor, Bu,” kataku pelan.

Bu Nurul menatapku. Ia membuka mulut, mungkin mau bertanya kenapa, lalu ia melihat sesuatu di wajahku dan menutupnya lagi. Ia sudah bekerja di sini lama. Ia tahu ada banyak alasan orang tidak boleh donor, dan sebagian besar bukan alasan yang ingin diceritakan di depan antrean.

“Oh, nggak apa-apa, Mbak,” katanya lembut. “Nemenin juga pahala.”

Juna menatapku dari kursi pemeriksaan. Ia tidak bertanya. Tapi aku melihat matanya, dan aku tahu ia menyimpan kalimat itu di suatu tempat di kepalanya, di sebelah semua catatan kecil di formulir lecek yang ia bawa ke mana-mana.

“Jadi aku nemenin yang punya darahnya,” kataku kepadanya. Ringan. Seolah bercanda.

Ia tersenyum. Ia tidak tahu itu bukan bercanda.


Ruang pengambilan darah berisi delapan kursi panjang yang bisa direbahkan, berjejer seperti kursi di salon. Juna berbaring di kursi nomor lima, lengan kirinya terulur di sandaran, telapak tangannya menggenggam bola karet kecil warna merah.

Aku duduk di kursi plastik di sebelah kanannya. Di sisi yang jauh dari lengan yang akan ditusuk.

Seorang petugas laki-laki muda menyiapkan kantong darah, selang, dan jarum. Aku melihat jarum itu sekilas. Jarum donor lebih besar dari jarum suntik biasa. Jauh lebih besar.

Pandanganku menyempit.

“Val.”

Aku menoleh. Juna menatapku dari kursinya, kepala miring di sandaran.

“Kasih tangan kamu,” katanya.

“Kenapa?”

“Kasih aja.”

Aku mengulurkan tangan kiriku. Ia menggenggamnya dengan tangan kanannya, tangan yang tidak akan ditusuk. Genggamannya hangat, mantap, dan ia tidak melepaskannya.

“Lihat aku,” katanya. “Jangan lihat jarumnya.”

“Aku nggak takut jarum.”

“Tanganmu dingin kayak es, Val.”

Aku tidak membantah lagi. Aku menatapnya. Hanya menatapnya. Matanya yang cokelat tua, alisnya yang tebal, sisa jerawat kecil di dagunya yang mungkin baru muncul karena kurang tidur, karena seseorang meneleponnya setiap jam dua pagi.

“Tarik napas, Mas,” kata petugas itu. “Sedikit sakit.”

Juna tidak menarik napas. Ia tidak berkedip. Ia terus menatapku, dan di detik jarum itu masuk ke lengan kirinya, ia tersenyum kepadaku, seolah tidak terjadi apa-apa.

“Udah,” katanya.

“Udah?”

“Udah masuk. Nggak sakit.”

Aku tidak melihat ke lengannya. Aku tidak berani. Tapi aku tahu, di ujung lengannya, darahnya sedang mengalir melalui selang tipis ke dalam kantong plastik. Darah merah tua. Darah O positif. Darah yang akan dibawa ke rumah sakit, ke ruang operasi, ke ruang perawatan, ke lengan seseorang yang tidak ia kenal dan tidak akan pernah ia temui.

Seseorang yang mungkin sedang menghitung sampai sepuluh di dalam gelap.

Dia nggak tahu, pikirku. Dia nggak tahu ini bukan pertama kalinya dia ngasih aku sesuatu.

Mataku panas.

“Val?”

“Hm.”

“Kamu nangis lagi.”

“Nggak.”

“Matamu berair.”

“Lampu di sini terlalu terang.”

Ia diam. Ibu jarinya bergerak pelan di punggung tanganku, bolak-balik, seperti mengusap sesuatu yang mudah tergores.

“Kamu nggak boleh donor,” katanya pelan. Bukan pertanyaan.

“Iya.”

“Alasan medis?”

Aku menatap tangan kami yang bergenggaman.

“Iya,” kataku. “Nanti aku cerita.”

“Oke.”

“Kamu nggak mau tanya sekarang?”

“Kamu bilang nanti.” Ia memejamkan mata, kepalanya bersandar di kursi. “Aku nunggu nanti.”

Aku menatapnya. Laki-laki ini sedang mengeluarkan darahnya untuk orang asing, sambil menggenggam tangan perempuan yang menyembunyikan sesuatu darinya, dan ia memilih menunggu.

Aku membungkuk dan mencium punggung tangannya yang menggenggam tanganku.

Juna membuka mata.

“Itu dihitung?” tanyanya.

“Tangan nggak dihitung.”

“Banyak banget yang nggak dihitung.”

“Aku CEO. Aku yang bikin aturan.”

Ia tertawa pelan, dan di kursi nomor tiga, seorang mahasiswi yang juga sedang donor menatap kami dengan mata berbinar dan diam-diam merekam dengan tangan kanannya.


Sepuluh menit kemudian, petugas itu mencabut jarum dari lengan Juna, menekan bekasnya dengan kapas, lalu menempelkan plester bulat kecil warna cokelat di lipatan sikunya.

“Tekan lima menit, Mas,” katanya. “Terus makan, minum yang banyak. Jangan angkat beban berat hari ini.”

“Saya teknisi lift, Mas.”

“Jangan angkat lift hari ini.”

Juna duduk perlahan. Ia sedikit pucat. Aku langsung berdiri, tanganku di bahunya.

“Pusing?”

“Sedikit.”

“Berbaring lagi.”

“Udah nggak apa-apa, Val.”

“Berbaring,” kataku dengan suara CEO, suara yang membuat direktur keuangan lari setengah berlari, dan Juna berbaring lagi tanpa membantah.

Petugas itu meninggalkan kami. Ruangan agak sepi sekarang. Mahasiswi di kursi nomor tiga sudah pergi. Hanya ada kami berdua, dan seorang bapak tua di kursi nomor delapan yang tertidur dengan mulut terbuka.

Aku menatap plester bulat di lipatan siku Juna.

Lalu, sebelum aku sempat berpikir, aku membungkuk dan menempelkan bibirku di atas plester itu.

Pelan. Lama. Bibirku menyentuh plester kecil yang menutup luka kecil, tempat darahnya baru saja keluar untuk orang asing.

Juna diam sama sekali. Aku merasakan lengannya menegang di bawah bibirku, lalu pelan-pelan melunak.

Ketika aku mengangkat kepala, ia menatapku dengan ekspresi yang belum pernah kulihat. Bukan malu. Bukan kaget. Sesuatu yang lebih dalam, lebih bingung, seperti orang yang baru saja mendengar bahasa yang ia tidak kenal tapi entah kenapa mengerti.

“Kenapa?” tanyanya pelan.

“Kenapa apa?”

“Kenapa kamu cium bekas donornya?”

Aku menatap plester itu. Lalu menatapnya.

“Karena dari sini,” kataku, “kamu ngasih sesuatu ke orang yang nggak kamu kenal. Dan kamu nggak pernah minta apa-apa balik.”

“Itu biasa, Val. Semua orang di sini juga gitu.”

“Nggak semua orang ngelakuinnya sejak umur tujuh belas, tiap tiga bulan, tanpa pernah tahu darahnya ke siapa.”

Juna diam.

“Kamu nggak pernah penasaran?” tanyaku. “Darahmu ke mana?”

Ia berpikir. Lalu menggeleng pelan.

“Nggak,” katanya. “Kalau aku tahu, nanti orangnya ngerasa utang. Nggak enak. Mending nggak tahu.”

Dadaku sakit. Sakit yang tajam dan tiba-tiba, seperti jarum yang masuk tanpa aba-aba.

Mending nggak tahu.

Aku menatap laki-laki ini, yang berbaring di kursi donor dengan wajah pucat dan plester di lengan, dan berkata mending nggak tahu dengan nada orang yang sudah lama sekali memutuskan itu.

Aku tidak menjawab. Aku tidak bisa. Aku hanya menggenggam tangannya lagi, lebih erat, sampai ia meringis.

“Val, sakit.”

“Maaf.”

“Kenapa?”

“Nggak apa-apa,” kataku. “Aku cuma mau pegang.”


Setelah lima belas menit, Juna sudah tidak pucat. Bu Nurul memberinya segelas teh manis hangat, dua bungkus biskuit, dan sebutir telur rebus, lalu menatapku dengan penuh arti.

“Mbak, dia harus makan yang bener. Jangan cuma biskuit.”

“Saya bawa dia makan, Bu.”

“Daging. Hati ayam. Sayur bayam.”

“Siap, Bu.”

Bu Nurul menyalamiku dengan dua tangan, seperti menyalami calon menantu. “Jagain, ya, Mbak. Orang yang rajin donor itu hatinya baik. Jarang ada.”

“Saya tahu, Bu,” kataku. “Saya tahu banget.”


Aku membawanya ke rumah makan Padang di dekat situ, yang lantainya agak lengket dan kipas anginnya berputar terlalu lambat, dan aku memesan semuanya. Rendang. Gulai hati ayam. Ayam pop. Sayur daun singkong. Telur balado. Dua belas piring di meja kecil kami.

“Val, ini terlalu banyak.”

“Kamu harus makan yang bener.”

“Aku nggak bisa habisin dua belas piring.”

“Kamu nggak usah habisin. Kamu cuma harus makan.” Aku mengambil sendok, menyendok nasi dan gulai hati ayam, dan mengangkatnya ke depan mulutnya. “Aaa.”

Juna menatap sendok itu. Lalu menatapku. Lalu menatap Pak Darto yang duduk di meja sebelah, makan rendang dengan sikap tegak, dan pura-pura tidak melihat.

“Val. Aku bisa makan sendiri.”

“Tangan kirimu baru ditusuk.”

“Aku makan pakai tangan kanan.”

“Tangan kananmu habis aku remas tadi.”

“Itu nggak...”

“Aaa, Jun.”

Ia menatapku lama. Lalu, dengan wajah merah sampai ke leher, ia membuka mulut.

Aku menyuapinya.

Aku menyuapinya rendang, gulai hati ayam, telur balado. Aku menyuapinya sayur daun singkong, satu sendok penuh, karena Bu Nurul bilang harus ada sayur. Dan setiap kali ia membuka mulut, telinganya makin merah, dan setiap kali ia mengunyah, matanya tidak bisa menatapku lebih dari satu detik.

“Kamu malu,” kataku.

“Nggak.”

“Kupingmu merah.”

“Pedas.”

“Ini ayam pop, Jun. Ayam pop nggak pedas.”

Ia menutup wajahnya dengan tangan kanannya. Aku tertawa sampai pelayan rumah makan itu, seorang laki-laki muda berpeci, menoleh dari balik etalase kaca.

“Kamu tahu nggak,” kata Juna dari balik tangannya, “dua belas tahun aku donor darah. Nggak pernah sekali pun ada yang suapin aku sesudahnya.”

Aku berhenti tertawa.

“Biasanya aku makan biskuit, minum teh, terus langsung balik kerja,” lanjutnya. “Kadang lupa makan. Kadang pusing di jalan.”

“Mulai sekarang,” kataku, “aku yang suapin. Tiap tiga bulan.”

Ia menurunkan tangannya. Menatapku.

“Tiap tiga bulan?”

“Tiap tiga bulan. Seumur hidup.”

Kata itu jatuh di antara kami di meja rumah makan Padang yang lengket, di antara dua belas piring, di bawah kipas angin yang berputar terlalu lambat. Seumur hidup. Aku tidak berniat mengucapkannya. Kata itu keluar sendiri, seperti kalimat kalau macet, kita di sini lebih lama yang keluar dari mulutnya di bianglala.

Juna tidak bilang apa-apa. Tapi ia membuka mulut, menunggu suapan berikutnya, dan menatapku dengan mata yang terlalu lembut untuk rumah makan Padang.


Malam itu, sebelum tidur, aku membuka tasku dan mengeluarkan sesuatu dari kantong kecil di dalamnya.

Plester bulat warna cokelat. Bekas donor Juna. Ia melepasnya di parkiran rumah makan Padang dan mau membuangnya ke tempat sampah, dan aku merebutnya dari tangannya dengan alasan “biar aku yang buang”.

Aku tidak membuangnya.

Aku tahu ini aneh. Aku tahu kalau Kiki melihatnya, ia akan menelepon psikiater. Aku tahu perempuan dua puluh delapan tahun dengan aset triliunan seharusnya tidak menyimpan plester bekas.

Aku membuka dompet kulit warna krem itu. Dompet yang tidak boleh disentuh siapa pun. Di slot paling depan, di balik lapisan plastik bening, ada kartu kecil berwarna putih yang dilaminasi, dengan tulisan tangan biru yang sudah sedikit pudar.

Aku tidak membaca kartu itu. Aku sudah hafal setiap katanya.

Aku menyelipkan plester bulat itu di slot di belakang kartu.

Lalu aku menutup dompet itu, memeluknya di dada, dan berbaring di kasur yang terlalu luas, dan berbisik ke langit-langit yang terlalu tinggi:

“Mending nggak tahu, katanya.”

Mataku panas lagi.

Sebentar lagi, Jun. Sebentar lagi kamu tahu. Tapi tolong, waktu kamu tahu, jangan pergi.

Jam dua lewat sepuluh, HP-ku bergetar. Bukan aku yang menelepon malam ini. Dia.

“Val,” katanya. “Kamu belum tidur?”

“Kok tahu?”

“Kamu selalu nelepon jam dua. Malam ini nggak.” Jeda. “Aku khawatir.”

Aku memejamkan mata. “Aku nggak apa-apa.”

“Lenganku masih ada bekas bibirmu,” katanya tiba-tiba. Suaranya pelan sekali, malu, seperti tidak percaya ia mengucapkannya. “Di atas plester. Aku nggak bisa berhenti mikirin.”

Aku menekan HP ke pipiku.

“Kalau gitu,” bisikku, “pikirin terus. Sampai tidur.”

“Nanti aku nggak tidur-tidur.”

“Bagus. Biar kamu tahu rasanya jadi aku.”