Chapter Twenty Six
Helm Proyek
POV: Valerie
Aku bangun jam dua siang, dan bubur kacang ijo di nakas sudah dingin.
Kiki duduk di kursi di samping ranjang, memegang mangkuk plastik itu dengan dua tangan, seperti memegang sesuatu yang bisa meledak. Matanya bengkak. Ia tidak bilang apa-apa waktu aku membuka mata. Ia hanya menyodorkan mangkuk itu.
Aku tahu dari mana bubur itu sebelum aku melihat tutupnya. Wangi jahe dan gula aren. Takaran santan yang sedikit berlebih. Tidak ada bubur kacang ijo lain di Jakarta yang wanginya begitu.
“Dia ke sini?” tanyaku.
Kiki mengangguk.
“Kapan?”
“Tadi pagi. Jam sebelas.” Kiki menelan ludah. “Dia nunggu tiga hari, Val. Di lantai koridor. Dari pagi sampai malam.”
Aku tahu. Aku mendengarnya. Tiga hari aku berbaring di ranjang ini dan mendengar suaranya di balik pintu. Bicara pelan dengan Tari. Mengucapkan terima kasih ke Kiki untuk kopi. Diam berjam-jam di samping Pak Darto. Aku mendengar napasnya. Aku hafal napasnya. Aku sudah mendengarkannya jam dua pagi di telepon selama berminggu-minggu.
“Terus dia ke mana?”
Kiki tidak menjawab. Ia menunjuk tutup mangkuk.
Ada kertas terlipat di bawahnya. Sobekan. Pinggirnya tidak rata. Di baliknya, aku bisa melihat sisa tulisan yang terpotong, huruf-huruf kapital: KENAPA DIA MEN-
Formulirnya. Ia merobek formulir yang ia bawa ke mana-mana.
Aku membuka lipatan kertas itu.
Tulisan tangan. Tinta biru yang hampir habis. Huruf-huruf miring ke kanan. Huruf g dengan ekor seperti kail.
Kamu sehat. Itu udah bayaran paling mahal.
Makan buburnya. Masih anget.
Aku membaca kalimat pertama itu lagi.
Kamu sehat. Itu udah bayaran paling mahal.
Kalimat dari kartu itu. Hampir sama persis. Cukup hidup yang lama. Itu udah bayaran paling mahal. Lima tahun lalu ia menulisnya untuk orang asing. Pagi ini ia menulisnya lagi, untukku, dan menitipkannya lewat orang lain, lalu pergi.
“Dia bilang apa, Ki?” tanyaku. Suaraku tidak ada.
Kiki menatap lantai.
“Ki.”
“Dia bilang...” Kiki menarik napas, gemetar. “Dia bilang, ‘Kalau dia sehat, aku pergi lagi.’”
Aku menatap kertas di tanganku.
Lalu aku tertawa.
Aku tidak tahu dari mana tawa itu datang. Tawa itu keluar dari dadaku, pendek, kering, tidak percaya. Kiki menatapku dengan wajah takut, seperti aku baru saja kehilangan akal.
“Val?”
“Dia pergi karena aku sehat,” kataku. “Dia nunggu tiga hari di lantai karena takut aku sakit. Terus begitu aku sehat, dia pergi.”
“Val...”
“Dia kira kalau aku sehat, aku nggak butuh dia.” Aku menatap Kiki. Mataku basah tapi aku masih tertawa. “Ki. Dia beneran kira aku sama dia cuma karena aku butuh.”
Kiki diam.
Aku membuka tutup mangkuk itu. Bubur kacang ijo. Dingin. Gula arennya mengental di pinggir. Ada dua sendok plastik di dalamnya. Dua. Bukan satu.
Bu Sum. Bu Sum yang memberinya dua sendok.
Aku mengambil satu sendok. Menyendok bubur yang dingin. Memasukkannya ke mulut.
Rasanya sama. Paling enak sedunia.
Aku menghabiskannya. Seluruhnya. Dingin. Di ranjang rumah sakit, dengan bekas tusukan biopsi yang masih perih di punggung, dengan kertas sobekan formulir di pangkuan.
Lalu aku meletakkan mangkuk kosong itu di nakas, menatap Kiki, dan berkata:
“Aku mau pulang. Sekarang.”
Dokter tidak mengizinkanku pulang sebelum besok pagi.
Jadi aku menghabiskan malam itu dengan satu hal yang belum pernah kulakukan selama minggu ini: aku menyusun rencana.
Bukan rencana seperti kontrak vendor. Bukan rencana seperti rekomendasi promosi. Aku tidak menelepon siapa pun. Aku tidak menyuruh siapa pun. Aku tidak mengatur apa pun di belakangnya.
Rencanaku sederhana. Rencanaku adalah: aku datang. Sendiri. Seperti dia dulu datang ke lantai 40 tanpa dipanggil.
Tari meneleponku jam sembilan malam.
“Kak. Mas di Cikarang. Mas nggak mau pulang. Mas tidur di bedeng proyek.”
“Bedeng?”
“Rumah-rumahan dari papan buat tukang. Mas tidur di situ. Katanya biar nggak capek pulang-pergi.” Tari terisak. “Kak, Mas bodoh.”
“Aku tahu, Tar.”
“Kakak mau ngapain?”
Aku menatap jendela kamar rumah sakit. Pohon flamboyan di luar sudah gelap.
“Tar,” kataku. “Bu Sum buka jam berapa?”
Jam lima pagi, hari Jumat, aku sudah berdiri di depan gerobak Bu Sum.
Bukan Pak Darto yang menyetir. Aku yang menyetir. Mobilku sendiri, mobil kecil yang jarang kupakai, yang kuambil dari garasi apartemen jam empat pagi. Pak Darto duduk di kursi penumpang, wajahnya lebih tegang dari waktu ia mengawal Papa di demonstrasi buruh sepuluh tahun lalu.
“Bu, Ibu baru keluar rumah sakit.”
“Saya sehat, Pak. Dokter bilang sehat.”
“Dokter bilang istirahat.”
“Ini istirahat. Saya duduk. Saya nggak angkat apa-apa.”
Pak Darto menatap jalan di depan dengan wajah orang yang sedang berdoa.
Bu Sum sedang menyalakan kompor waktu aku turun dari mobil. Ia menatapku. Menatap mobil kecil itu. Menatap Pak Darto di kursi penumpang.
“Neng,” katanya pelan. “Udah sehat?”
“Udah, Bu.”
“Juna di Cikarang.”
“Saya tahu, Bu.”
Bu Sum menatapku lama. Lalu ia tersenyum. Senyum yang lebar, yang memperlihatkan gigi depannya yang sedikit maju, senyum yang sama dengan waktu ia mencoret kata (KATANYA) di spanduknya.
“Berapa mangkuk?”
“Semua, Bu.”
“Semua?”
“Pekerja proyeknya empat puluh orang, Bu. Tari yang tanya ke mandornya.”
Bu Sum menatap panci-panci di gerobaknya. Lalu menatapku. Lalu, tanpa bertanya apa-apa lagi, ia mematikan kompor, menggulung lengan bajunya, dan berteriak ke lantai dua rusun:
“YUNIII! BANTUIN IBU! KITA KE CIKARANG!”
Kami sampai di gerbang proyek jam tujuh lewat dua puluh.
Mobil kecilku penuh. Pak Darto di kursi depan, memeluk panci besar berisi bubur di pangkuannya dengan wajah orang yang memeluk bom. Di kursi belakang, Bu Sum dan Mbak Yuni dari lantai tiga, masing-masing memeluk satu panci lagi, dikelilingi tumpukan mangkuk plastik dan kantong-kantong gula aren. Di bagasi, termos besar berisi santan.
Pak Slamet, mandor proyek, menatap mobil kecil itu dari pos jaga dengan wajah orang yang melihat konvoi alien.
Aku turun dari mobil.
Aku memakai celana jins, kemeja putih yang lengannya digulung, dan heels. Heels hitam dengan ujung runcing. Kiki bilang aku gila. Tari bilang aku keren. Aku tidak mendengarkan keduanya. Aku memakai heels karena itu sepatuku. Aku tidak mau datang ke dunianya pura-pura jadi orang lain.
Pak Slamet menghampiriku. Lalu menatap kakiku.
“Bu,” katanya. “Ini proyek. Wajib pakai sepatu safety.”
“Saya tahu, Pak.” Aku mengangguk sopan. “Boleh saya pinjam helm?”
Pak Slamet menatapku. Menatap heels-ku lagi. Lalu menatap mobil kecil yang dari jendela-jendelanya mengepulkan uap bubur kacang ijo.
“Ibu siapa?”
“Saya Valerie,” kataku. “Saya bawa sarapan buat semua pekerja. Boleh, Pak? Saya nggak mau ganggu kerja. Kalau nggak boleh, saya taruh di pos aja, nanti Bapak yang bagiin.”
Aku bertanya. Aku minta izin.
Pak Darto, yang baru turun dari mobil dengan panci di tangan, menatapku seperti melihatku untuk pertama kali.
Pak Slamet menggaruk kepalanya. “Boleh, Bu. Jam istirahat pagi jam setengah delapan. Sepuluh menit lagi.”
“Terima kasih, Pak.”
Ia menyerahkan helm proyek warna kuning dari rak di pos jaga. Helm itu terlalu besar untukku. Talinya harus dikencangkan sampai paling ujung, dan tetap saja helmnya miring sedikit ke kiri.
Aku memakainya.
Jam setengah delapan, sirene istirahat berbunyi.
Empat puluh pekerja turun dari gedung gudang yang setengah jadi. Tukang batu, tukang las, tukang listrik, kuli angkut. Mereka berkumpul di bawah atap seng di dekat pos jaga, seperti biasa, berharap kopi sachet dan gorengan dari warung sebelah.
Mereka menemukan Bu Sum dan Mbak Yuni berdiri di belakang meja lipat, dengan tiga panci bubur kacang ijo yang mengepul. Mereka menemukan Pak Darto, mantan marinir dengan kemeja batik, membagikan mangkuk-mangkuk plastik dengan presisi militer.
“Antre,” kata Pak Darto. “Satu baris. Yang paling tua di depan. Bergerak.”
Empat puluh pekerja konstruksi langsung berbaris rapi.
Dan mereka menemukan aku. Berdiri di sebelah meja lipat, dengan helm proyek kuning yang miring, kemeja putih, dan heels yang ujungnya sudah kuning karena debu.
Lalu mereka menemukan dia.
Juna turun dari tangga darurat gedung paling terakhir. Ia memakai seragam abu-abu yang sudah kusam, kotor debu sampai siku, rambutnya berantakan di bawah helm putih, dan wajahnya tidak dicukur tiga hari. Ia berhenti di anak tangga terakhir.
Ia menatapku.
Aku menatapnya.
Debu kuning beterbangan di antara kami, diangkat truk kontainer yang lewat di jalan proyek. Empat puluh pekerja konstruksi menoleh dari aku ke dia, dari dia ke aku, seperti penonton pertandingan tenis.
“Val,” katanya. Suaranya tidak sampai. Aku membacanya dari bibirnya.
Aku tidak menjawab. Aku mengambil satu mangkuk bubur dari meja lipat, berjalan menyeberangi lapangan proyek yang berdebu dengan heels yang tenggelam sedikit di tanah, dan berhenti di depannya.
“Sarapan,” kataku. Aku menyodorkan mangkuk itu.
Ia menatap mangkuk itu. Lalu menatapku.
“Kamu baru keluar rumah sakit.”
“Kemarin.”
“Kamu harusnya istirahat.”
“Aku sehat.” Aku menatapnya. “Kamu sendiri yang nulis. Kamu sehat. Itu udah bayaran paling mahal.”
Ia tidak menjawab.
“Jadi aku udah bayar, kan?” Aku melangkah lebih dekat. “Aku udah sehat. Aku udah bayar lunas. Terus kenapa kamu pergi pas aku udah bayar?”
Rahangnya mengencang. Telinganya merah. Ia membuka mulut, menutupnya lagi.
Di belakangku, aku mendengar empat puluh pekerja konstruksi menahan napas bersamaan.
“Bapak-bapak,” kataku, tanpa menoleh, dengan suara yang cukup keras untuk sampai ke pos jaga. Suara CEO. Suara yang membekukan ruang rapat. “Boleh saya kenalan?”
Hening.
“Nama saya Valerie.” Aku menyelipkan tanganku ke lekuk siku Juna. Lengannya yang kotor debu. Ia membeku. “Dan ini suami saya.”
Seluruh lapangan proyek meledak.
Siulan. Teriakan. Tepuk tangan. Seseorang memukul panci dengan sendok. Gilang, aku baru sadar, ada di antara mereka, karena Bang Ucok mengirimnya ke Cikarang hari ini untuk membantu proyek, dan Gilang berteriak paling keras: “BANG JUNAAA!”
Juna menatapku dengan wajah merah sampai ke leher. “Val. Kita belum...”
“Belum,” kataku keras-keras, menghadap empat puluh pekerja. “Belum, Bapak-bapak. Tapi bentar lagi.”
Teriakan lebih keras. Pak Slamet di pos jaga tertawa sampai terbatuk-batuk. Bu Sum menyeka matanya dengan ujung kerudung. Pak Darto mengeluarkan... tidak, buku sakunya ada di tasku. Ia hanya berdiri tegak, wajah datar, tapi sudut bibirnya naik satu milimeter.
“Val,” bisik Juna. “Kamu ngapain?”
“Kenalan.” Aku menatapnya dari bawah helm kuning yang miring. “Kamu bilang aku bukan duniamu. Jadi aku kenalan sama duniamu.”
“Ini bukan dunia aku, ini proyek di Cikarang.”
“Kamu di sini, kan? Berarti ini duniamu.” Aku mengangkat mangkuk bubur itu lagi ke depan dadanya. “Makan.”
Ia tidak bergerak.
“Jun,” kataku lebih pelan. Hanya untuknya. “Kamu lihatin bibirku.”
Ia menelan ludah.
“Tiga kali,” lanjutku. “Sejak kamu turun tangga.”
“Debu, Val. Mataku kena debu.”
“Haus apa haus?”
“Itu nggak nyambung.”
“Nyambung. Kamu nelan ludah tadi.”
Ia menutup matanya. Lama. Ketika ia membukanya lagi, ada sesuatu di sana yang retak. Sesuatu yang sudah seminggu ia tahan, seperti tali baja yang terlalu tegang.
Ia mengambil mangkuk bubur dari tanganku.
Ia tidak memakannya. Ia hanya memegangnya. Dengan dua tangan. Seperti aku memegang HP lama di dada di malam-malam rumah sakit.
“Kenapa kamu dateng?” tanyanya pelan.
“Karena aku nggak bisa nggak dateng.”
Ia membeku. Itu kalimatnya. Kalimatnya di balik pintu kayu putih, dua malam lalu. Karena aku nggak bisa nggak nunggu.
“Aku nggak atur apa-apa, Jun,” kataku. “Aku nggak telepon Pak Hendrik. Aku nggak telepon mandormu. Aku nggak sewa apa-apa. Aku bangun jam empat, nyetir sendiri ke Bu Sum, minta izin ke Pak Slamet. Itu aja.”
“Kenapa?”
“Karena itu yang kamu lakuin. Ke lantai 40. Tanpa dipanggil. Tanpa surat tugas.” Aku menatap matanya. “Kamu dateng karena kamu mau. Aku dateng karena aku mau. Nggak ada yang bayar siapa-siapa.”
Ia menatapku. Lama sekali. Bubur kacang ijo di tangannya mengepul, uapnya naik di antara kami, bercampur debu kuning.
Lalu ia berkata, sangat pelan:
“Aku belum bisa, Val.”
Dadaku sakit.
“Aku pengen,” lanjutnya. Suaranya bergetar. “Aku pengen banget. Tapi ada sesuatu di sini.” Ia menyentuh dadanya sendiri dengan satu tangan. “Yang belum percaya. Aku nggak tahu cara benerinnya.”
Aku menatapnya. Laki-laki yang bisa memperbaiki apa saja. Lift empat puluh lantai. Senapan bengkok di pasar malam. Rem motor yang bunyi. Laki-laki ini berdiri di depanku dengan mangkuk bubur di tangan dan mengaku ada sesuatu di dalam dirinya sendiri yang tidak bisa ia perbaiki.
“Oke,” kataku.
Ia mengerjap. “Oke?”
“Oke.” Aku tersenyum. Senyumku pasti jelek sekali, basah dan miring di bawah helm kuning yang kebesaran. “Kamu belum bisa. Aku ngerti.”
“Kamu nggak marah?”
“Aku marah banget.” Aku merapikan kerah seragamnya yang berdebu. Pelan. “Tapi aku nggak pergi. Besok aku dateng lagi. Lusa juga. Bawa bubur. Sampai kamu bisa.”
“Val, kamu nggak harus...”
“Aku tahu aku nggak harus.” Aku menepuk dadanya, di tempat ia tadi menyentuh. Di atas jantungnya. “Kamu juga nggak harus nunggu tiga hari di lantai koridor. Tapi kamu nunggu.”
Ia tidak menjawab.
Aku berjinjit. Ia membeku, menunggu, aku tahu ia menunggu, aku melihat matanya turun ke bibirku sekali lagi.
Aku mencium pipinya. Hanya pipinya. Cepat. Ringan.
“Pipi nggak dihitung,” bisikku.
“Kamu bilang gitu terus,” bisiknya balik, suaranya serak.
“Karena memang nggak dihitung.” Aku mundur selangkah. “Yang dihitung nanti. Waktu kamu udah bisa. Waktu kamu yang minta.”
Aku berbalik dan berjalan kembali ke meja lipat, menyeberangi lapangan proyek yang berdebu, dengan heels yang tenggelam di tanah dan helm kuning yang miring ke kiri.
Empat puluh pekerja konstruksi bertepuk tangan. Pelan dulu, lalu makin keras. Seseorang bersiul panjang.
Di belakangku, aku tidak mendengar Juna bergerak.
Tapi waktu aku sampai di meja lipat dan menoleh, ia masih berdiri di kaki tangga darurat, memegang mangkuk bubur dengan dua tangan.
Dan ia makan.
Pelan. Satu sendok. Dua sendok. Matanya terpejam setiap kali menelan.
Seperti orang berdoa.
Gilang menghampiriku waktu Bu Sum dan Mbak Yuni mulai mengemasi panci-panci kosong. Wajahnya masih merah karena berteriak.
“Kak Valerie,” katanya.
“Iya, Lang?”
“Bang Juna seminggu ini nggak makan bener.” Gilang menatap lantai. “Makannya cuma nasi kucing. Tidurnya di bedeng. Malam-malam dia naik ke lantai tiga, ke pojok yang ada sinyalnya. Duduk di situ sampai jam tiga. Lihatin HP.”
Aku tidak bisa bicara.
“Pak Slamet bilang dia kayak pungguk,” lanjut Gilang. “Aku nggak tahu pungguk itu apa. Tapi kata Bang Ucok, itu burung hantu yang nungguin bulan.”
Aku menatap ke arah tangga darurat. Juna sudah tidak di sana. Ia sudah naik lagi, kembali ke lubang lift, kembali ke pekerjaannya.
Tapi mangkuk plastik itu, kosong, diletakkan dengan rapi di anak tangga terakhir. Dengan sendoknya di dalam.
“Lang,” kataku.
“Iya, Kak?”
“Besok aku dateng lagi. Bubur. Jam tujuh.” Aku menatapnya. “Kalau Bang Juna nanya, bilang aku nggak minta siapa-siapa ngatur apa-apa. Aku cuma dateng.”
Gilang mengangguk dengan serius, seperti menerima perintah militer.
Lalu, setelah ragu sebentar: “Kak. Boleh aku tambah satu mangkuk lagi? Buburnya enak banget.”
Aku tertawa. Pertama kali sejak rumah sakit, aku tertawa tanpa menangis di ujungnya.
“Boleh, Lang. Habisin semua.”
- 1 Ciuman di Lantai Dasar
- 2 Pagi Ini Dokter Bilang Aku Sembuh
- 3 Teori Nomor Satu: Salah Orang
- 4 Lift Lantai 40 Rusak Lagi
- 5 Dua Ratus Mangkuk Bubur
- 6 Bawa Aku ke Duniamu
- 7 Tombol Merah
- 8 Kalau Mbak Serius
- 9 Angkringan, Bukan Rooftop
- 10 Telepon Jam Dua Pagi
- 11 Yang Punya Darahnya
- 12 Makan Malam Keluarga Hadinata
- 13 Kunci Pintunya
- 14 Rezeki Nomplok
- 15 Ulang Tahun Kedua
- 16 Kartu Laminasi
- 17 Bekas Luka
- 18 Siapa yang Menang Tender
- 19 Kamu Pernah Menolakku
- 20 Kamu Bayar Utang
- 21 Aku Nggak Pura-Pura
- 22 Laki-Laki yang Nggak Mau Apa-Apa
- 23 Proyek Baru, Hati Lama
- 24 Biopsi
- 25 Lift yang Sama
- 26 Helm Proyek reading
- 27 HP Lama
- 28 Kalau Aku Nggak Keluar
- 29 Duluan
- 30 Meja Makan Hadinata (Lagi)
- 31 Malam di Lift, Lima Tahun Lalu
- 32 Sebentar Lagi Aman
- 33 Epilog — Golongan Darah Anak Kita