Chapter Four

Lift Lantai 40 Rusak Lagi

POV: Juna

Lift lantai 40 tidak rusak.

Aku tahu itu bahkan sebelum menyentuh panelnya. Aku tahu dari bunyi motornya yang halus di ruang mesin, dari pintunya yang membuka dan menutup tepat waktu, dari lampu indikatornya yang menyala tanpa berkedip. Aku sudah memeriksanya dua kali, mengetes rem darurat, mengecek kabel, mengelap sensor yang sudah bersih. Lift itu sehat seperti atlet.

Jam tujuh pagi, aku berdiri di depan pintu lift yang terbuka di lantai 40, memegang kotak perkakas, dan menatap perempuan yang berdiri di dalamnya.

“Liftnya sehat, Mbak,” kataku.

“Aku tahu.”

“Terus yang rusak apa?”

Valerie menekan tombol tahan pintu dengan ujung jari telunjuknya, kuku pendek dicat warna nude. Ia memakai blazer hitam, kemeja putih, celana panjang yang jatuh lurus sampai ujung sepatu. Rambutnya disanggul rendah, dan ada beberapa helai yang lepas di dekat telinga, seolah sengaja dibiarkan.

Ia cantik dengan cara yang membuat aku ingin mengecek ulang semua yang kupikir aku tahu tentang kata cantik.

“Yang rusak,” katanya, “pagiku. Pagiku rusak kalau nggak lihat kamu.”

Di belakangku, pintu tangga darurat berderit. Aku menoleh. Bang Ucok dan Gilang buru-buru menutupnya lagi, tapi tidak cukup cepat untuk menyembunyikan HP Gilang yang terangkat dalam posisi merekam.

“Mbak,” kataku, kembali menghadapnya. “Ini jam kerja. Kalau Mbak telepon kantor terus lapor lift rusak, saya harus isi laporan. Laporannya dicek supervisor. Supervisor saya punya anak kembar yang les renang.”

“Aku tahu soal anak kembarnya.”

“Kok tahu?”

“Aku tahu banyak hal.” Ia melangkah keluar dari lift, mendekatiku. “Isi aja laporannya. Tulis: lift lantai 40 dicek, pemiliknya kangen.”

“Saya nggak bisa nulis gitu, Mbak.”

“Kenapa?”

“Nggak ada kolomnya.”

Ia tertawa. Tawanya pendek, rendah, dan entah kenapa membuat tengkukku panas. Lalu ia berjalan melewatiku ke arah kantornya, dan di tengah jalan menoleh ke belakang.

“Ayo, Pak Teknisi,” katanya. “Lift di kantorku juga perlu dicek.”

“Di kantor Mbak nggak ada lift.”

“Ada. Kamu aja yang belum lihat.”

Ia masuk ke ruangannya. Pintu kaca itu tetap terbuka.

Di belakangku, pintu tangga darurat berderit lagi. Bang Ucok menjulurkan kepalanya.

“Jun,” bisiknya. “Ingat pepatah: rejeki jangan ditolak, musibah jangan dicari.”

“Ini masuk yang mana, Bang?”

Bang Ucok berpikir. “Dua-duanya.”


Itu hari Senin.

Hari Selasa, lift lantai 40 “rusak” lagi. Laporannya masuk ke kantor jam enam empat puluh pagi dengan keterangan bunyi aneh. Aku naik, memeriksa, tidak menemukan bunyi apa pun. Valerie berdiri di samping lift dengan secangkir kopi, menonton.

“Bunyinya kayak apa, Mbak?”

“Kayak jantungku kalau kamu datang.”

Hari Rabu, keterangannya pintu terasa dingin. Hari Kamis, lampu kurang romantis. Hari Jumat, Pak Hendrik memanggilku ke ruangannya, menyerahkan lembar laporan dengan keterangan lift kesepian, dan menatapku dengan wajah orang yang sudah kehilangan kendali atas hidupnya.

“Juna,” katanya. “Bagian administrasi tanya, ‘kesepian’ itu masuk kategori kerusakan apa.”

“Saya juga nggak tahu, Pak.”

“Mereka mau bikin kategori baru.”

“Jangan, Pak.”

Pak Hendrik menghela napas panjang, membuka laci, dan menyodorkan kacang telur.

Hari Sabtu tidak ada laporan, karena kantor tutup. Tapi jam enam pagi HP-ku bergetar.

Lift di hatiku rusak. Bisa datang tanpa surat tugas?

Aku membaca pesan itu tiga kali, mematikan layar, menyalakannya lagi, dan membaca lagi.

Tari, yang kebetulan lewat sambil menggosok gigi, mengintip dari balik bahuku. Ia membaca pesan itu. Lalu ia pergi ke kamar mandi, meludahkan pasta giginya, dan berteriak dari dalam:

“MAS, BALES! JANGAN JADI BATU!”

Aku tidak membalas. Aku menatap formulir di meja, yang judulnya KENAPA DIA MENCIUMKU dan teorinya masih cuma satu.


Tapi itu nanti. Kembali ke hari Senin, di kantor lantai 40, ketika aku masih mengira semuanya bisa dijelaskan dengan logika.

Kantornya luas. Dinding kaca, meja kerja dari kayu gelap, rak buku tinggi berisi buku-buku tebal yang judulnya dalam tiga bahasa. Di pojok ada sofa tamu tempat aku duduk hari pertama. Di dinding samping, aku baru melihat sekarang, ada panel besar berisi tombol-tombol: kontrol lampu, tirai, AC.

“Itu liftnya?” tanyaku, menunjuk panel.

“Itu tirai.”

“Mbak bilang di kantor Mbak ada lift.”

“Aku bohong.” Ia duduk di kursinya, menyilangkan kaki, dan menatapku. “Aku cuma mau kamu masuk.”

Aku berdiri di ambang pintu dengan kotak perkakas. “Saya harus kerja, Mbak.”

“Kerja di sini.”

“Nggak ada yang bisa saya kerjain di sini.”

Ia berpikir sebentar. Lalu ia membuka laci, mengeluarkan sebuah obeng kecil bergagang ungu, dan menaruhnya di meja.

“Kursiku goyang,” katanya. “Bautnya kendor. Benerin.”

Aku menatap kursinya. Kursi itu besar, berlapis kulit, mungkin harganya sama dengan cicilan motorku selama dua tahun. Kursi itu tidak goyang. Kursi itu kokoh seperti batu karang.

“Mbak, kursinya nggak goyang.”

Valerie menatapku. Lalu, dengan sengaja, ia menggoyangkan badannya ke kiri dan ke kanan. Kursi itu ikut bergerak sedikit, karena memang ada pegasnya.

“Goyang,” katanya.

Aku menyerah. Aku menaruh kotak perkakasku, berlutut di samping kursinya, dan mulai memeriksa baut-baut di bawahnya. Semuanya kencang. Tentu saja semuanya kencang. Aku tetap mengencangkannya sedikit, karena aku tidak tahu harus berbuat apa lagi.

Dari bawah meja, aku bisa melihat ujung sepatunya. Hak tinggi warna hitam, ujungnya runcing, dan kakinya yang menyilang bergoyang pelan.

“Aku suka lihat kamu megang obeng,” katanya dari atas.

“Mbak, ini kunci L.”

“Apa pun yang kamu pegang, aku suka.”

Tanganku berhenti.

Aku merasakan panas naik dari leherku ke telinga, cepat sekali, seperti air mendidih. Aku menunduk lebih dalam, pura-pura memeriksa baut yang sudah kuperiksa tiga kali.

“Jun.”

“Ya, Mbak.”

“Kupingmu merah.”

“Panas, Mbak.”

“AC-nya delapan belas derajat.” Aku mendengar senyum di suaranya. “Aku yang setel.”

Aku keluar dari bawah meja begitu cepat sampai kepalaku terantuk pinggiran meja. Bunyinya keras. Valerie langsung berdiri, wajahnya berubah. Senyumnya hilang, diganti sesuatu yang lebih cepat dari kekhawatiran.

“Kamu nggak apa-apa?” Ia sudah berlutut di sebelahku sebelum aku bisa menjawab, tangannya terangkat ke kepalaku. Jemarinya menyentuh rambutku di bagian yang terantuk, pelan, memeriksa. “Sakit?”

“Nggak, Mbak.”

“Bohong.”

“Sedikit.”

Ia diam. Jemarinya masih di rambutku. Wajahnya dekat. Dari jarak ini, aku bisa mencium wangi parfumnya, yang mahal dan tenang itu, bercampur sedikit kopi.

“Maaf,” katanya pelan. “Aku nggak mau kamu sakit.”

Sesuatu di nadanya membuatku diam. Bukan nada CEO. Bukan nada perempuan yang sedang menggoda. Nada orang yang sungguh-sungguh takut ada yang terluka.

“Cuma kepentok, Mbak,” kataku. “Saya pernah kejatuhan pintu lift. Yang ini nggak ada apa-apanya.”

“Kamu pernah kejatuhan pintu lift?”

“Waktu tahun pertama. Engselnya lepas.”

Ia menatapku seperti aku baru mengaku pernah ditabrak kereta. Lalu, perlahan, ia menarik tangannya dari rambutku, dan aku hampir, hampir saja, mengikuti tangannya.


Jam sembilan, rapat direksi.

Aku seharusnya sudah turun. Tapi Valerie menyuruhku memeriksa “lampu yang kedip-kedip” di ruang rapat sebelah kantornya, dan aku sudah terlalu lelah untuk berdebat. Aku berdiri di atas tangga lipat di pojok ruang rapat, pura-pura memeriksa lampu yang tidak kedip-kedip, ketika delapan laki-laki dan dua perempuan berjas masuk dan duduk mengelilingi meja panjang.

Mereka tidak menyadariku. Orang berjas tidak pernah menyadari orang di atas tangga lipat.

Valerie masuk terakhir. Dan begitu ia masuk, ruangan itu berubah suhunya.

Bukan berubah karena AC. Berubah karena semua orang di meja itu menegakkan punggung bersamaan, seperti murid yang melihat kepala sekolah. Valerie duduk di ujung meja, membuka map, dan wajahnya, wajah yang sepuluh menit lalu tersenyum nakal kepadaku dari balik meja kerja, sekarang datar seperti permukaan danau beku.

Seorang laki-laki berkacamata berdiri dan mulai presentasi. Grafik. Angka. Proyeksi kuartal depan. Aku tidak mengerti setengahnya, tapi aku mengerti nada suaranya: nada orang yang berharap tidak ada yang bertanya.

Valerie membiarkannya bicara selama empat menit. Lalu ia mengangkat satu jari.

Laki-laki berkacamata itu berhenti di tengah kalimat.

“Halaman tujuh,” kata Valerie. “Angka biaya konstruksi di sana tidak cocok dengan halaman dua belas. Selisihnya empat miliar.”

Laki-laki itu membuka halaman tujuh. Lalu halaman dua belas. Wajahnya berubah warna seperti lampu lalu lintas.

“Saya... akan saya cek ulang, Bu.”

“Perbaiki sebelum saya selesai minum kopi,” kata Valerie. Ia mengangkat cangkirnya. “Kopi saya tinggal setengah.”

Dua kalimat.

Dari atas tangga lipat, aku hampir tertawa. Jadi ini legenda dua kalimat itu. Bukan kalimat ajaib. Hanya dua kalimat yang diucapkan oleh orang yang membaca semua halaman, sementara orang lain berharap ia tidak membacanya.

Laki-laki berkacamata itu keluar ruangan setengah berlari. Rapat dilanjutkan. Valerie bertanya, memotong, mengoreksi. Tidak sekalipun ia tersenyum. Tidak sekalipun suaranya naik. Dan tidak sekalipun ada orang di meja itu yang berani menatap matanya lebih dari tiga detik.

Lalu, di tengah presentasi direktur pemasaran, Valerie mengangkat kepala dan menatap lurus ke pojok ruangan. Ke tangga lipat. Ke aku.

Wajahnya tetap datar. Tapi matanya berubah.

Dan HP di sakuku bergetar.

Aku mengeluarkannya diam-diam. Satu pesan.

Fokus ke lampunya. Atau kamu mau aku bubarin rapatnya sekarang?

Aku menatap Valerie. Ia sudah kembali menatap layar presentasi, wajahnya beku, satu tangan memegang pulpen. Tangan yang lain, di bawah meja, memegang HP.

Pesan kedua masuk.

Kamu dari tadi lihatin aku, bukan lampunya. Aku hitung. Tujuh kali.

Aku memasukkan HP ke saku dan menatap lampu dengan konsentrasi orang yang sedang menjinakkan bom.


Jam sebelas, aku akhirnya berhasil kabur ke lobby. Aku sedang mengemasi kotak perkakas di dekat lift nomor tiga, berencana turun ke ruang mesin dan tidak naik lagi sampai sore, ketika seseorang menepuk bahuku.

“Kamu Juna?”

Aku berbalik. Laki-laki di depanku tinggi, rapi, memakai kemeja biru muda yang lengannya digulung sampai siku. Rambutnya disisir ke belakang. Wajahnya ramah, terlalu ramah, seperti presenter acara kuis.

“Iya, Mas.”

“Reza.” Ia mengulurkan tangan. “Reza Danuarta.”

Aku menjabat tangannya. Genggamannya kuat dan hangat, dan ia mengguncang tanganku tiga kali seperti sedang meresmikan jembatan.

“Kamu tahu aku siapa?” tanyanya.

“Nggak, Mas.”

“Aku calon tunangan Valerie.” Ia tersenyum lebar. “Yang ditolak tiga kali.”

Aku diam. Tidak tahu harus bilang apa. Turut berduka? Selamat?

Reza tertawa melihat wajahku. “Santai. Aku nggak marah. Aku cuma penasaran.” Ia mundur selangkah dan menatapku dari ujung rambut sampai ujung sepatu safety-ku, seperti juri lomba. “Jadi ini laki-laki yang bikin Valerie Hadinata cium orang di depan pers.”

“Saya juga nggak tahu kenapa, Mas.”

“Serius?”

“Serius.”

Reza menyipitkan mata. Lalu ia merangkul bahuku, menarikku sedikit menjauh dari lift, dan menurunkan suaranya.

“Dengar,” katanya. “Aku kenal Valerie dari kecil. Keluarga kami kerja sama bisnis dari zaman kakek. Aku sudah lihat dia nolak orang dengan cara paling dingin yang bisa kamu bayangkan. Ada anak menteri yang ngajak dia dinner, dia bales pakai satu kata: ‘Tidak.’ Titik. Tanpa terima kasih.”

“Oke.”

“Dan aku belum pernah, belum pernah, lihat dia senyum kayak di video itu.” Reza menatapku serius. “Jadi aku mau tanya satu hal.”

“Apa, Mas?”

“Caranya gimana?”

Aku mengerjap. “Cara apa?”

“Cara bikin Valerie bucin. Ajarin aku. Bukan buat Valerie, aku udah ikhlas. Buat orang lain.”

“Mas, saya nggak ngapa-ngapain.”

“Itu dia!” Reza menjentikkan jari. “Itu tekniknya! Nggak ngapa-ngapain! Aku kebanyakan ngapa-ngapain!”

“Bukan gitu, Mas...”

“Reza.”

Suara itu datang dari belakang kami. Datar, dingin, setajam pisau baru diasah.

Kami berdua berbalik. Valerie berdiri di depan lift nomor tiga, Pak Darto dua langkah di belakangnya. Ia menatap lengan Reza yang masih merangkul bahuku, lalu menatap wajah Reza, lalu menatap lengan itu lagi.

Reza melepaskan rangkulannya secepat orang memegang setrika panas.

“Val! Pagi!”

“Ini sudah siang.”

“Siang! Selamat siang!” Reza mengangkat kedua tangannya. “Aku cuma kenalan. Ramah-tamah.”

Valerie berjalan mendekat. Ia berhenti di sebelahku. Tidak di depan, tidak di belakang. Di sebelahku, begitu dekat sampai lengannya menyentuh lenganku. Lalu, di depan Reza, di depan Pak Darto, di depan dua satpam dan seorang resepsionis yang pura-pura sibuk dengan komputernya, ia menyelipkan tangannya ke lekuk sikuku.

Lengan bajuku bernoda oli. Ia tidak peduli.

“Reza,” katanya. “Kalau kamu mau kenalan sama pacarku, minta izin aku dulu.”

“Pacar,” ulang Reza, menatapku dengan mata berbinar seperti fans.

“Pacar,” kata Valerie.

Aku membuka mulut untuk mengoreksi, tapi jemari Valerie mengencang di lenganku. Bukan menekan. Lebih seperti orang yang berpegangan.

Aku menutup mulutku.

Reza menatap kami berdua, lalu tersenyum lebar. “Oke. Oke, oke, oke.” Ia mundur, mengangkat kedua tangannya lagi. “Aku pamit. Juna, kita belum selesai. Nomormu berapa?”

“Jangan kasih,” kata Valerie.

“Val...”

“Jangan kasih, Jun.”

Aku tidak memberikan nomorku. Reza pergi sambil menggeleng-gelengkan kepala dan tertawa sendiri, seperti orang yang baru menonton pertunjukan sulap yang triknya tidak bisa ia pecahkan.

Begitu ia hilang di balik pintu putar, Valerie melepaskan lenganku.

Aku menatapnya.

“Mbak,” kataku pelan. “Itu tadi...”

“Itu tadi apa?”

“Mbak pakai saya buat nolak dia.”

Ia menatapku lama. Lalu ia menggeleng pelan.

“Aku sudah nolak dia tiga kali, Jun. Jauh sebelum kamu. Aku nggak butuh kamu buat nolak siapa pun.” Ia diam sebentar. “Aku cuma nggak suka orang lain rangkul kamu.”

“Dia cuma...”

“Bahu itu,” katanya, menunjuk bahuku dengan dagunya, “punyaku.”

Dan ia berbalik masuk ke lift nomor tiga, yang pintunya sekarang menutup tepat waktu karena aku sudah membetulkannya kemarin. Pak Darto mengikuti. Sebelum pintu menutup sepenuhnya, aku melihat Pak Darto mengeluarkan buku sakunya.


Malam itu, di atas kasur busa tipis, di bawah noda bocor berbentuk peta Kalimantan, aku membuka formulir yang terlipat itu dan menulis:

Teori #2: Dijadikan tameng perjodohan.

Aku menatap tulisan itu lama.

Lalu, di bawahnya, dengan huruf yang lebih kecil, aku menulis:

Tapi dia bilang sudah menolak Reza tiga kali sebelum aku.

Dan dia bilang dia nggak pura-pura.

Dan waktu kepalaku kepentok meja, tangannya gemetar lagi.

Aku mencoret Teori #2.

Lalu aku mencoret coretannya, karena aku tidak suka tidak punya teori.

HP-ku bergetar di lantai.

Kepalamu masih sakit?

Aku menatap pesan itu. Ini pertama kalinya ia mengirim pesan yang tidak ada godaannya sama sekali.

Aku mengetik: Sudah nggak, Mbak.

Aku menghapus “Mbak”. Menatap layar. Mengetiknya lagi.

Kirim.

Balasannya datang hampir seketika.

Syukurlah.

Lalu, setelah jeda panjang, cukup panjang untuk membuatku mengira ia sudah tidur:

Besok lift lantai 40 rusak lagi. Bunyinya kayak orang kangen. Kamu harus datang. Ini perintah klien.

Aku menaruh HP di dada dan menatap langit-langit.

Teori #2 sudah dicoret dua kali. Aku tidak punya teori lagi.

Yang kupunya hanya bahu yang katanya bukan punyaku lagi, dan perasaan aneh bahwa aku tidak keberatan.