Chapter Eight

Kalau Mbak Serius

POV: Juna

Aku sudah melihat ratusan orang ketakutan di dalam lift.

Ada yang berteriak. Ada yang memukul-mukul pintu. Ada yang menelepon ibunya sambil menangis, atau menelepon kantornya sambil marah, atau menelepon pengacaranya sambil mengancam akan menuntut semua orang. Ada bapak-bapak berjas yang pingsan. Ada anak kecil yang malah tertawa karena mengira itu permainan.

Aku tahu bentuk-bentuk ketakutan. Aku sudah sembilan tahun belajar membacanya.

Tapi aku belum pernah melihat ketakutan seperti miliknya kemarin.

Ketakutan yang tidak berteriak. Ketakutan yang diam, yang menempel di dinding, yang membuat napas pendek-pendek dan mata kosong seperti sedang melihat tempat lain. Ketakutan orang yang pernah terjebak lama sekali, di suatu tempat, dan tidak pernah benar-benar keluar.

Pernah kejadian. Dulu. Lama.

Aku tidak tahu kejadian apa. Aku tidak bertanya. Tapi aku tidak bisa berhenti memikirkannya. Sepanjang malam, sepanjang pagi, sepanjang perjalanan motor ke kantor, aku memikirkan perempuan yang sengaja menekan tombol merah, padahal ia tahu tombol itu akan menghancurkannya, hanya karena ia ingin tahu apakah bersamaku rasanya beda.

Dan air matanya waktu aku menyanyi.

Lagu itu jelek. Aku tahu lagu itu jelek. Aku membuatnya di tahun kedua bekerja, waktu terjebak bersama seorang nenek yang serangan panik di lift apartemen Kemang, dan satu-satunya yang terpikir di kepalaku saat itu adalah dangdut yang biasa diputar Bapak di radio bengkel. Sejak itu aku menyanyikannya untuk siapa saja. Orang biasanya tertawa. Lalu tenang. Lalu lupa.

Ia tertawa. Lalu ia menangis. Dan ia tidak lupa.

Aku juga tidak.


“Bang,” kataku di ruang istirahat kantor, jam makan siang. “Saya mau tanya.”

Bang Ucok menurunkan bungkusan nasi padangnya. Gilang berhenti mengunyah rendang. Mereka saling pandang dengan ekspresi orang yang menunggu momen ini seumur hidup.

“Tanya apa, Jun?” kata Bang Ucok, suaranya dibuat berat dan bijak.

“Kalau ada orang yang...” Aku berhenti. Mulai lagi. “Kalau ada perempuan yang terus-terusan ngejar, terus kita nggak tahu kenapa dia ngejar, tapi kita juga...”

“Juga apa?”

“Juga nggak mau dia berhenti.”

Hening.

Gilang menjatuhkan sendoknya. Bang Ucok menatapku lama, lalu menaruh tangannya di bahuku dengan khidmat seorang guru besar.

“Jun,” katanya. “Ingat pepatah: biar lambat asal selamat, tapi kalau kelamaan, ditikung orang.”

“Itu dua pepatah, Bang.”

“Hidup memang dua pepatah.”

“Bang Juna takut, ya?” tanya Gilang tiba-tiba. Ia polos, selalu polos, dan pertanyaannya selalu jatuh di tempat yang paling sakit.

“Takut apa?”

“Takut ternyata dia beneran suka.”

Aku membuka mulut untuk membantah. Tidak ada yang keluar.

Gilang mengambil sendoknya lagi, menyendok rendang, dan berkata sambil mengunyah: “Soalnya kalau dia cuma main-main, Bang Juna kan tinggal pergi. Gampang. Tapi kalau dia beneran, Bang Juna harus ngapain?”

Bang Ucok menatap Gilang seolah baru melihat Gilang untuk pertama kali. “Lang. Kamu belajar ngomong gitu dari mana?”

“Dari sinetron, Bang. Sama kayak adiknya Bang Juna.”


Pak Hendrik tidak membantu.

Ia hanya menatapku dari balik mejanya, mendengarkan aku bicara berputar-putar selama lima menit, lalu membuka laci dan menyodorkan dua bungkus kacang telur. Bukan satu. Dua.

“Ini kasus berat,” katanya.

Tari juga tidak membantu. Atau terlalu membantu.

Malam itu, waktu aku pulang, ia sudah menunggu di ruang tengah dengan laptop terbuka dan selembar kertas HVS penuh coretan. Ia memakai kacamata baca yang tidak minus, kacamata yang hanya ia pakai kalau mau terlihat pintar.

“Mas,” katanya. “Duduk. Kita perlu bahas Teori #4.”

“Teori #4 nggak ada, Tar.”

“Ada. Aku yang bikin.” Ia memutar laptopnya menghadapku. Di layar, ada foto Valerie dari majalah bisnis, dan di sebelahnya foto Valerie dari video ciuman. “Teori #4: kembaran.”

“Kembaran?”

“Dengar dulu. Kalau Valerie punya kembaran, terus kembarannya yang pernah ketemu Mas, terus kembarannya meninggal, terus Valerie nemu diari kembarannya yang isinya tentang Mas, terus Valerie...”

“Tari.”

“...terus Valerie jatuh cinta sama Mas lewat diari itu, terus...”

“Tari, dia anak tunggal.”

Tari berhenti. “Kok Mas tahu?”

“Kamu yang bilang. Minggu lalu. Kamu baca di wawancara majalah.”

Tari menatap kertas HVS-nya. Lalu menatapku. Lalu meremas kertas itu dan melemparnya ke tempat sampah dengan ekspresi peneliti yang hipotesisnya ditolak jurnal.

“Oke,” katanya. “Teori #4 gugur.”

Aku mengambil formulir dari saku seragamku. Formulir yang sekarang sudah lecek, lipatannya hampir sobek, penuh coretan dan catatan kecil. Aku membukanya di atas meja dan menulis:

Teori #4: Kembaran. (Usulan Tari. Gugur. Dia anak tunggal.)

Lalu aku menatap seluruh formulir itu.

Teori #1: salah orang. Dicoret. Teori #2: tameng perjodohan. Dicoret dua kali. Teori #3: prank. Dicoret, atas permintaan tersangka sendiri. Teori #4: kembaran. Gugur.

Dan di sela-sela teori itu, catatan-catatan kecil. Dia bilang: “Akhirnya.” Waktu kepalaku kepentok meja, tangannya gemetar lagi. Dia makan bubur Bu Sum kayak orang berdoa. Dia bilang: “Rasanya kayak hidup kedua.” Dia takut lift yang berhenti. Pernah kejadian. Dulu. Lama.

“Mas,” kata Tari pelan. Ia sudah melepas kacamata baca palsunya. “Kenapa Mas masih nyari teori?”

“Karena Mas mau tahu kenapa.”

“Kenapa harus tahu?”

Aku diam.

“Mas,” kata Tari, lebih pelan lagi. “Waktu Bapak sama Ibu nggak ada, Mas umur dua puluh. Mas berhenti kuliah. Mas kerja tiga sif. Mas yang anter aku sekolah, Mas yang ambil rapor, Mas yang dateng ke pentas tari aku pakai seragam kerja yang masih bau oli.” Ia menunduk. “Aku nggak pernah lihat Mas minta apa-apa buat diri Mas sendiri. Sekali pun.”

“Tar...”

“Sekarang ada orang yang ngasih Mas sesuatu tanpa diminta. Dan Mas sibuk nyari alasan kenapa Mas nggak pantas dapet.” Tari mengangkat kepala, matanya merah. “Mas nyari teori bukan karena mau tahu. Mas nyari teori karena Mas takut. Takut kalau ternyata nggak ada alasan apa-apa. Takut kalau ternyata dia suka Mas cuma karena Mas itu Mas.”

Kipas angin batuk-batuk di atas kepala kami.

Aku menatap adikku. Adikku yang dulu kugendong pulang dari sekolah SD sambil menangis karena sepatunya jebol. Adikku yang sekarang mahasiswi, memakai kacamata baca palsu, dan entah sejak kapan bisa melihat isi kepalaku lebih jelas daripada aku sendiri.

“Kamu belajar ngomong gitu dari mana?” tanyaku. Suaraku serak.

Tari tersenyum, matanya masih basah. “Dari Mas.”


Besok paginya, untuk pertama kalinya, tidak ada laporan lift lantai 40 rusak.

Aku menunggu di kantor dari jam enam. Jam tujuh. Jam delapan. Tidak ada.

Aku membuka WhatsApp. Pesan terakhir dari Valerie semalam: foto mi instan di mangkuk putih, dengan keterangan Sudah makan. Kamu boleh tidur sekarang. Dan aku membalas dengan satu kata, Bagus, yang sekarang terdengar sangat bodoh.

Tidak ada pesan pagi ini.

Jam sembilan, aku mengambil kotak perkakas dan naik motor ke Hadinata Tower. Tanpa surat tugas. Tanpa laporan kerusakan. Tanpa alasan apa pun yang bisa kutulis di formulir.

Aku naik lift nomor tiga ke lantai 40.

Pintu terbuka, dan seorang perempuan berkacamata dengan tablet di tangan berdiri di depan meja resepsionis koridor. Aku mengenalinya. Perempuan yang menggunting pita hari itu.

Ia menatapku. Lalu menatap kotak perkakasku. Lalu menatap wajahku lagi.

“Kamu Juna,” katanya. Bukan pertanyaan.

“Iya, Bu.”

“Kiki. Kinanti. COO. Sahabat Valerie sejak SMA.” Ia menyilangkan tangan, menjepit tabletnya di dada. “Nggak ada laporan lift rusak pagi ini.”

“Saya tahu, Bu.”

“Terus ngapain ke sini?”

Aku membuka mulut. Menutupnya lagi.

Kiki menatapku dari ujung rambut sampai ujung sepatu safety, seperti Reza dulu, tapi dengan ekspresi yang jauh lebih tajam. Ekspresi orang yang sudah menjaga sesuatu yang berharga sejak lama dan tidak akan menyerahkannya ke sembarang orang.

“Dia sengaja nggak lapor hari ini,” kata Kiki akhirnya. “Kamu tahu kenapa?”

“Nggak, Bu.”

“Karena dia mau tahu apakah kamu bakal dateng tanpa dipanggil.”

Aku diam.

“Kemarin dia pulang dari kantor,” lanjut Kiki, suaranya turun, “dan dia nangis di mobil. Bukan nangis sedih. Aku nggak pernah lihat dia nangis kayak gitu. Terus semalam dia masak mi instan jam sebelas. Dia nggak pernah masak, Juna. Dia nggak bisa nyalain kompor. Dia telepon aku jam sebelas lewat dua puluh lima buat nanya air harus mendidih dulu atau nggak.”

“Terus?”

“Terus aku bilang iya. Terus dia bilang, ‘Dia nggak bisa tidur kalau aku belum makan, Ki.’” Kiki menatapku dengan mata yang tiba-tiba basah di balik kacamata. “Lima tahun aku kenal dia setelah... setelah semuanya. Lima tahun dia nggak pernah peduli dia makan atau nggak. Dan kamu bikin dia masak mi instan jam sebelas malam.”

Aku tidak tahu harus bilang apa. Aku tidak tahu apa yang dimaksud dengan setelah semuanya. Tapi aku tahu dari wajah Kiki bahwa aku tidak boleh bertanya.

Kiki menyeka matanya dengan cepat, kembali ke wajah COO-nya, dan menunjuk pintu kaca di ujung koridor.

“Dia di dalam,” katanya. “Kalau kamu nggak serius, putar balik sekarang. Naik lift. Turun. Jangan balik lagi. Aku yang jelasin ke dia.” Ia menatapku tajam. “Tapi kalau kamu serius...”

Ia tidak menyelesaikan kalimatnya. Ia hanya menyingkir dari jalanku.

Aku berjalan menyusuri koridor berkarpet abu-abu itu. Langkahku tidak terdengar. Jantungku terdengar sampai telinga.


Valerie duduk di kursinya, menatap layar laptop, satu tangan memegang pulpen. Ia tidak menoleh waktu aku mengetuk pintu kaca yang terbuka.

“Masuk,” katanya, tanpa mengangkat kepala. Suaranya suara CEO. Datar. Dingin. “Kalau soal laporan kuartal, taruh di meja. Saya baca nanti.”

“Bukan soal laporan kuartal, Mbak.”

Pulpennya berhenti.

Ia mengangkat kepala perlahan. Dan aku melihat wajahnya berubah: dari CEO yang beku, ke kaget, ke sesuatu yang terlalu cepat untuk kubaca, lalu ke senyum yang ia coba tahan dan gagal.

“Kamu,” katanya.

“Saya.”

“Nggak ada laporan lift rusak.”

“Saya tahu.”

“Terus ngapain ke sini?”

Aku menaruh kotak perkakasku di lantai. Pelan. Rapat di dekat kaki, seperti hari pertama. Lalu aku berdiri tegak di tengah kantornya, di atas karpet tebal itu, dan menatapnya.

“Mbak,” kataku. “Saya nggak tahu kenapa Mbak cium saya.”

Senyumnya goyah.

“Saya sudah bikin empat teori,” lanjutku. “Semua gugur. Saya nggak tahu Mbak kenal saya dari mana. Saya nggak tahu kenapa Mbak bilang ‘akhirnya’. Saya nggak tahu kenapa Mbak makan bubur kayak orang berdoa, atau kenapa Mbak takut lift yang berhenti, atau kenapa Mbak nangis waktu saya nyanyi lagu jelek.”

Ia diam. Tangannya meletakkan pulpen di meja, perlahan sekali.

“Dan saya sadar,” kataku, “saya nggak perlu tahu.”

Ia berdiri.

“Saya nggak perlu tahu kenapa,” kataku, dan suaraku mulai goyah, dan aku membiarkannya goyah. “Saya cuma perlu tahu satu hal.”

“Apa?” bisiknya.

“Mbak serius?”

Ia memutari meja. Berjalan ke arahku. Berhenti di depanku, cukup dekat sehingga aku bisa melihat matanya yang mulai merah di ujung.

“Aku serius, Jun,” katanya. “Dari hari pertama. Dari sebelum hari pertama.”

“Kalau Mbak serius,” kataku, “saya juga serius.”

Hening.

Di luar dinding kaca, Jakarta terang benderang. Sebuah pesawat melintas, kecil seperti mainan, seperti hari itu.

“Ulangin,” katanya.

“Kalau Mbak serius, saya juga serius.”

“Bukan yang itu. Yang tadi.” Ia menelan ludah. “Bagian yang kamu bilang kamu nggak perlu tahu.”

“Saya nggak perlu tahu kenapa Mbak suka saya.”

“Kenapa?”

Aku menarik napas. Ini bagian yang sulit. Ini bagian yang sudah kulatih sepanjang perjalanan motor dari kantor, di setiap lampu merah, di bawah papan reklame wajahnya di Cawang.

“Karena saya juga nggak tahu kenapa saya suka Mbak,” kataku. “Saya cuma tahu saya nggak bisa tidur kalau Mbak belum makan. Saya cuma tahu saya nggak mau Mbak takut sendirian lagi. Di lift atau di mana pun. Saya cuma tahu...”

Aku berhenti. Kalimat berikutnya terlalu besar untuk mulutku.

“Tahu apa?” bisiknya.

“Saya cuma tahu saya mau jagain Mbak,” kataku akhirnya. “Saya nggak pintar ngomong. Saya nggak bisa kasih Mbak apa-apa kayak yang Mbak kasih ke Tari, atau ke Bu Sum, atau ke satu blok rusun. Saya nggak punya apa-apa. Tapi saya bisa jagain Mbak. Sampai tua. Sampai Mbak bosan.”

Valerie menatapku.

Air mata jatuh di pipinya. Satu. Lalu dua. Ia tidak menyekanya.

“Kamu bilang kamu nggak pintar gombal,” katanya, suaranya pecah.

“Saya nggak lagi gombal, Mbak.”

“Justru itu.” Ia tertawa, basah, lalu meletakkan kedua tangannya di dadaku, seperti di lift kemarin. “Justru itu yang bikin aku nggak bisa napas.”


Kami berdiri seperti itu entah berapa lama.

Tangannya di dadaku. Wajahnya menengadah ke wajahku. Dan aku tahu, aku tahu dengan seluruh tubuhku, bahwa ia sedang menunggu. Menunggu janjinya ditepati. Menunggu aku yang meminta.

Aku ingin. Ya Tuhan, aku ingin.

Tapi tidak di sini. Tidak dengan Kiki yang pasti sedang mengintip dari balik pintu kaca, dan Pak Darto yang pasti sudah berdiri di koridor, dan laporan kuartal yang menunggu di meja. Tidak dengan seragam abu-abu yang bau oli.

Aku ingin memintanya dengan benar. Sekali seumur hidup, aku ingin meminta sesuatu dengan benar.

“Mbak,” kataku.

“Hm.”

“Mbak belum dapet yang Mbak tunggu, ya?”

Ia mengerjap. Pipinya memerah di bawah air mata. “Kok tahu aku nunggu?”

“Mbak lihatin bibir saya dari tadi.”

Ia membuka mulut. Menutupnya. Wajahnya, wajah yang bisa membekukan rapat direksi, tiba-tiba merah sampai ke telinga.

“Empat kali,” kataku. “Saya hitung.”

Valerie menatapku, terkejut, lalu tertawa keras, keras sekali, dan memukul dadaku pelan dengan kepalan tangannya.

“Kamu,” katanya di sela tawa. “Kamu belajar dari aku.”

“Mbak gurunya.”

“Terus kenapa nggak minta?”

Aku menatapnya. Lalu, dengan suara yang lebih pelan, yang hanya untuknya: “Nanti. Saya mau mintanya pas bener. Bukan di kantor. Bukan pakai seragam.”

Ia diam. Matanya berubah, dari tertawa ke sesuatu yang dalam dan lembut dan terlalu besar untuk kantor sebesar ini.

“Oke,” bisiknya. “Aku tunggu.”

“Mbak udah nunggu lama, ya?”

Ia tersenyum. Senyum yang miring itu, tapi kali ini tidak nakal sama sekali.

“Aku jago nunggu, Jun.”


Ketika aku keluar dari kantornya sepuluh menit kemudian, Kiki berdiri di koridor dengan tablet terangkat menutupi separuh wajahnya, pura-pura membaca, padahal tabletnya dalam posisi terbalik.

Dan Pak Darto berdiri di depan lift, tegak, dengan buku saku di tangan.

Ia menatapku. Aku menatapnya. Lalu, perlahan, dengan presisi yang hanya bisa dilakukan oleh orang yang sudah melakukannya ribuan kali di lapangan upacara, mantan marinir itu mengangkat tangan kanannya ke pelipis.

Ia memberi hormat.

Aku berdiri membeku di tengah koridor, tidak tahu harus berbuat apa. Kiki menurunkan tabletnya dan menatap Pak Darto dengan mulut terbuka.

“Pak Darto,” bisik Kiki. “Bapak ngapain?”

Pak Darto menurunkan tangannya. Wajahnya tetap datar seperti biasa.

“Prosedur, Bu,” katanya. “Untuk laki-laki yang membuat Ibu Valerie makan malam.”

Lalu ia menekan tombol lift untukku, dan pintu terbuka tepat waktu.


Malam itu, di atas kasur busa, aku membuka formulir yang sudah lecek itu untuk terakhir kalinya hari itu.

Di bawah Teori #4, aku menulis:

Aku berhenti nyari kenapa.

Hari ini aku bilang ke dia: kalau Mbak serius, saya juga serius.

Dia bilang dia jago nunggu.

Aku menatap tulisan itu. Lalu, setelah lama, aku menambahkan satu baris lagi, dengan huruf yang sangat kecil, seolah ada yang bisa membacanya:

Aku belum minta. Tapi aku sudah tahu mau minta di mana.

HP-ku bergetar.

Pacarku sudah sampai rumah?

Aku menatap kata itu. Pacarku.

Aku mengetik: Sudah, Mbak.

Balasannya datang dalam satu detik.

Jangan panggil Mbak lagi. Pacar nggak manggil Mbak.

Terus panggil apa?

Val.

Aku menatap tiga huruf itu lama. Jempolku melayang. Lalu aku mengetik, menghapus, mengetik lagi, dan akhirnya mengirim:

Selamat tidur, Val.

Tiga titik muncul di layar. Hilang. Muncul lagi. Hilang lagi. Muncul lagi.

Lalu, akhirnya:

Aku nggak akan bisa tidur sekarang. Gara-gara kamu.

Tanggung jawab.

Aku menaruh HP di dada, menatap noda bocor berbentuk peta Kalimantan, dan tersenyum seperti orang bodoh sampai jam satu pagi.