Chapter Five
Dua Ratus Mangkuk Bubur
POV: Juna
Aku tidak membalas pesan hari Sabtu itu.
Lift di hatiku rusak. Bisa datang tanpa surat tugas?
Aku tidak membalas karena aku tidak tahu caranya membalas pesan seperti itu tanpa terdengar seperti orang bodoh. Aku juga tidak membalas karena aku takut, kalau aku membalas, aku akan mengetik sesuatu yang benar, dan aku belum siap mengetahui apa yang benar itu.
Jadi aku melakukan hal yang selalu kulakukan setiap Sabtu pagi: mencuci baju.
Rusun kami punya atap datar yang dipakai bersama sebagai tempat jemuran. Jam delapan pagi, aku sudah di sana, menjepit kaus-kaus abu-abu ke tali jemuran, di antara daster Bu RT dan seragam pramuka anak-anak lantai dua. Angin pagi bertiup dari arah kanal, membawa bau air dan gorengan. Dari atas sini aku bisa melihat seluruh gang: gerobak Bu Sum di depan gerbang, ibu-ibu yang mulai berkumpul di bangku semen, motor-motor yang diparkir berderet.
Aku sedang menjepit kaus terakhir ketika gang itu mendadak hening.
Hening yang kukenal. Hening lobby Hadinata Tower.
Aku menunduk melewati pagar atap.
Sebuah mobil hitam besar, jenis yang biasanya hanya lewat di jalan protokol, berhenti di depan gerbang rusun. Mesinnya mati. Pintunya terbuka. Pak Darto turun lebih dulu, mengenakan kemeja batik yang terlalu rapi untuk hari Sabtu, menyapu gang dengan tatapan radar.
Lalu dia turun.
Ia tidak memakai blazer hari ini. Ia memakai kaus putih polos, celana jins biru muda, dan sepatu kets putih. Rambutnya diikat ekor kuda, tinggi, dengan beberapa helai yang lepas di sekitar wajah. Kacamata hitamnya didorong ke atas kepala.
Dan tetap saja, di tengah gang sempit yang becek di pinggir kanal, di antara gerobak gorengan dan jemuran celana dalam yang berkibar, ia terlihat seperti sampul majalah yang salah alamat.
Seluruh gang menatapnya.
Ia tidak peduli. Ia menatap ke atas, ke gedung rusun, seperti sedang mencari sesuatu. Lalu matanya menemukanku di atap, di antara jemuran, memegang jepitan baju.
Ia tersenyum dan melambaikan tangan.
Aku menjatuhkan jepitan baju.
Ketika aku turun lima lantai lewat tangga, terengah, masih memakai kaus oblong lusuh dan celana pendek, situasinya sudah di luar kendali siapa pun.
Valerie berdiri di depan gerobak Bu Sum. Bu Sum, yang selama tiga puluh tahun berjualan belum pernah terlihat gugup, memegang sendok sayur dengan tangan gemetar.
“Semua,” kata Valerie.
“S-semua, Neng?”
“Semua yang ada di gerobak Ibu. Untuk semua orang di sini.” Valerie menunjuk ke sekeliling gang, ke ibu-ibu di bangku semen, ke bapak-bapak di pos ronda, ke anak-anak yang berhenti main sepeda. “Satu blok. Kalau kurang, Ibu masak lagi. Saya bayar semuanya.”
“Neng, ini dua panci. Paling dua ratus mangkuk.”
“Dua ratus mangkuk.” Valerie mengangguk. “Pak Darto, bantu Ibu bagikan.”
“Siap, Bu.”
Dan aku menyaksikan pemandangan yang tidak akan pernah bisa kulupakan: mantan marinir berkemeja batik, dengan wajah datar seperti sedang memimpin operasi militer, berdiri di sebelah gerobak bubur kacang ijo dan mulai membagikan mangkuk-mangkuk plastik kepada warga rusun dengan presisi yang mengerikan.
“Antre,” katanya kepada sekelompok anak yang berebut. “Satu baris. Yang paling kecil di depan. Bergerak.”
Anak-anak itu langsung berbaris rapi. Aku belum pernah melihat mereka berbaris rapi, bahkan waktu upacara tujuh belasan.
“Ibu-ibu, mangkuk dikembalikan ke sini setelah selesai,” lanjut Pak Darto. “Yang tidak mengembalikan mangkuk, saya catat.”
Mbak Yuni dari lantai tiga, yang biasanya tidak pernah mengembalikan apa pun, buru-buru mengangguk.
“Jun!”
Valerie melihatku. Ia meninggalkan gerobak dan berjalan ke arahku, dan seluruh gang menoleh mengikuti langkahnya seperti penonton pertandingan tenis.
“Pagi,” katanya, berhenti tepat di depanku.
“Mbak ngapain di sini?”
“Kamu nggak balas pesanku.”
“Jadi Mbak datang?”
“Kalau lift nggak bisa naik, teknisinya yang turun.” Ia memiringkan kepala. “Kalau teknisinya nggak mau naik, pemiliknya yang turun.”
Aku menatapnya. Ia tersenyum. Lalu matanya turun, pelan, dari wajahku ke kaus oblongku yang lusuh, ke celana pendekku, ke kakiku yang memakai sandal jepit, lalu naik lagi.
“Ternyata kamu tidur pakai ini,” katanya.
“Ini bukan baju tidur, Mbak. Ini baju nyuci.”
“Kamu nyuci pakai celana sependek ini?”
“Biar nggak basah.”
“Hm.” Ia menatap kakiku lagi, kali ini lebih lama, dengan ekspresi orang yang sedang menilai properti. “Bagus juga.”
Dari bangku semen, ibu-ibu bersorak. Aku mendengar seseorang berteriak, “Cocok! Cocok!” Aku ingin lantai gang itu terbuka dan menelanku ke dalam kanal.
Valerie makan bubur kacang ijo di bangku plastik di sebelah gerobak Bu Sum, di tempat yang sama aku biasa duduk.
Ia makan pelan sekali.
Aku duduk di bangku sebelahnya, dengan mangkukku sendiri, dan tanpa sengaja memperhatikannya. Ia menyendok sedikit, meniupnya, memasukkannya ke mulut, lalu memejamkan mata. Ia menelan, membuka mata, dan menyendok lagi. Setiap suapan diperlakukan sama: pelan, hati-hati, mata terpejam.
Seperti orang yang sedang berdoa.
“Mbak suka bubur kacang ijo?” tanyaku.
Ia membuka mata. Menatap mangkuknya. “Iya.”
“Dari kecil?”
Ia diam sebentar. “Dari lima tahun lalu.”
“Kenapa lima tahun lalu?”
Ia tersenyum, tapi senyumnya tidak sampai ke mata. “Ada orang yang bilang ini makanan paling enak sedunia. Aku penasaran.”
“Terus?”
“Terus ternyata dia benar.” Ia menyendok lagi, memejamkan mata lagi. “Rasanya kayak hidup kedua.”
Aku tidak mengerti maksudnya. Tapi aku tidak bertanya lagi, karena ada sesuatu di wajahnya yang membuatku merasa pertanyaan berikutnya akan membuka pintu yang tidak bisa ditutup.
Bu Sum menghampiri kami dengan panci kedua, wajahnya merah karena kebanyakan senyum.
“Neng,” katanya kepada Valerie. “Gimana? Enak?”
“Paling enak sedunia, Bu.”
Bu Sum tersipu seperti anak gadis. Lalu ia menatapku, menatap Valerie, lalu menatapku lagi, dan berbisik keras, terlalu keras: “Jun. Ini yang kemarin di video, kan? Yang nyium kamu?”
“Bu Sum...”
“Cantik banget, Jun. Aslinya lebih cantik dari di HP Ibu.” Ia menoleh ke Valerie. “Neng, Juna ini anak baik. Dari kecil makan bubur Ibu. Waktu orang tuanya meninggal, dia yang ngurus adiknya. Nggak pernah ngeluh. Nggak pernah minta apa-apa. Kalau ada tetangga yang susah, dia yang bantu duluan. Ibu jamin.”
“Bu,” kataku, “udah.”
“Ibu cuma promosi!”
Valerie tidak tertawa. Ia menatap Bu Sum dengan mata yang tiba-tiba basah.
“Saya tahu, Bu,” katanya pelan. “Saya tahu dia nggak pernah minta apa-apa.”
Bu Sum terdiam. Lalu menepuk tangan Valerie dua kali, dengan cara ibu-ibu menepuk tangan menantu yang sudah disetujui, dan kembali ke gerobaknya.
Aku menatap Valerie. Ia buru-buru menyeka sudut matanya dengan punggung tangan dan tersenyum seolah tidak ada apa-apa.
“Kepedasan,” katanya.
“Mbak, ini bubur kacang ijo.”
“Jahenya kebanyakan.”
Tari muncul jam setengah sepuluh, berlari menuruni tangga dengan rambut basah dan baju yang jelas dipilih buru-buru, dan berhenti mendadak tiga meter dari Valerie seperti melihat malaikat.
“Ya Tuhan,” bisiknya. “Ya Tuhan, ya Tuhan.”
“Tari,” kataku. “Napas.”
“Mas, itu dia. Itu beneran dia.”
Valerie berdiri dari bangku plastik, meletakkan mangkuknya, dan mengulurkan tangan. “Kamu Tari?”
Tari menatap tangan itu seperti menatap tiket konser. Ia menjabatnya dengan kedua tangan. “Iya, Kak. Saya Tari. Saya fans Kakak dari SMA. Saya punya poster kutipan Kakak. Saya...”
“Skincare-nya cocok?”
“Cocok banget, Kak. Pori-pori saya mengecil dalam satu malam. Saya nggak tahu itu mungkin secara ilmiah.”
Valerie tertawa. Tawa yang hangat, bukan tawa menggoda yang biasa ia pakai kepadaku. “Nanti aku kirimin yang buat siang.”
“KAK...”
“Tapi ada syaratnya.”
Tari langsung menegakkan badan, seperti tentara. “Apa, Kak? Apa saja.”
Valerie mencondongkan badan ke arah Tari dan berbisik sesuatu di telinganya. Aku tidak bisa mendengar. Tapi aku melihat mata Tari membesar, lalu ia menatapku dengan ekspresi pengkhianat yang baru menerima suap besar, lalu mengangguk berkali-kali.
“Kalian ngomongin apa?” tanyaku.
“Rahasia perempuan,” kata Valerie.
“Rahasia negara,” kata Tari.
Aku tahu, dengan kepastian yang dingin, bahwa adikku baru saja menjual sesuatu tentang aku lagi.
Valerie ingin melihat unit kami.
“Lima lantai, Mbak,” kataku. “Nggak ada lift.”
“Teknisi lift tinggal di gedung tanpa lift?”
“Ironis, kan.”
“Romantis,” katanya, dan mulai menaiki tangga.
Tangga rusun kami sempit, curam, dindingnya penuh coretan dan iklan sedot WC. Di lantai tiga, Valerie mulai terengah. Di lantai empat, ia berhenti, berpegangan pada pagar besi, dan menatapku dengan mata menyipit.
“Kamu naik ini tiap hari?”
“Dua kali sehari. Kadang empat kali kalau lupa bawa sesuatu.”
“Pantas,” katanya.
“Pantas apa?”
Ia tidak menjawab. Ia menatap betisku. Lalu pahaku. Lalu ia membuang muka dan melanjutkan naik dengan pipi yang sedikit lebih merah dari tadi, dan aku tidak tahu apakah itu karena tangga atau karena hal lain.
Di belokan antara lantai empat dan lima, kakinya tersandung anak tangga yang retak. Aku menangkap pinggangnya dengan refleks. Ia oleng ke belakang, ke arahku, dan tas kecil di bahunya terlepas.
Tasnya jatuh terbuka. Isinya berhamburan di anak tangga: lipstik, kunci mobil, HP, dan sebuah dompet kulit warna krem.
Aku melepaskan pinggangnya dan membungkuk memunguti barang-barangnya. Lipstik. Kunci. HP. Lalu dompet.
Dompet itu terbuka sedikit waktu jatuh. Aku melihat kartu-kartu di dalamnya, kartu kredit warna hitam, kartu identitas, dan sesuatu yang dilaminasi di slot paling depan, sebuah kartu kecil berwarna putih dengan tulisan tangan biru yang...
Dompet itu direnggut dari tanganku.
Cepat. Sangat cepat. Lebih cepat dari gerakan apa pun yang pernah kulihat Valerie lakukan. Ia menutup dompet itu, memasukkannya ke tas, dan memeluk tasnya di dada.
“Jangan,” katanya. Suaranya aneh. Tipis. “Itu... jangan.”
Aku diam, tanganku masih terangkat di udara.
“Maaf, Mbak. Saya cuma mau kembaliin.”
Valerie menatapku. Dan untuk sedetik, wajahnya tidak tertata sama sekali. Tidak CEO, tidak menggoda. Hanya wajah seseorang yang ketakutan, seperti orang yang hampir menjatuhkan sesuatu yang tidak bisa diganti.
Lalu ia menarik napas, dan wajahnya kembali.
“Maaf,” katanya, lebih lembut. “Aku nggak marah sama kamu. Itu... ada barang penting di dalamnya. Aku nggak pernah biarin siapa pun pegang.”
“Nggak apa-apa, Mbak.”
“Bukan karena aku nggak percaya kamu.” Ia menatap tasnya, lalu menatapku. “Justru...”
Ia tidak menyelesaikan kalimatnya.
“Justru apa, Mbak?”
Ia tersenyum, tipis sekali. “Nanti.”
Lalu ia menaiki sisa tangga, dan aku mengikuti di belakangnya, dan aku tidak bisa berhenti memikirkan kartu putih kecil dengan tulisan tangan biru itu. Aku hanya melihatnya setengah detik. Aku bahkan tidak bisa membaca satu kata pun.
Tapi entah kenapa, tulisan tangan itu terasa seperti sesuatu yang pernah kulihat.
Unit kami terlalu kecil untuk tiga orang dewasa dan satu mantan marinir. Pak Darto akhirnya memilih berjaga di luar pintu.
Valerie berdiri di tengah ruang tengah kami, yang luasnya mungkin sama dengan kamar mandi di kantornya, dan menatap semuanya seperti sedang mengunjungi museum. Kursi plastik. Kipas angin yang batuk-batuk. Foto Bapak dan Ibu di dinding, berbingkai kayu murah. Rak kecil berisi buku-buku kuliah Tari dan manual perawatan lift milikku.
“Ini rumahmu,” katanya pelan.
“Iya. Kecil.”
“Hangat,” katanya.
Ia berjalan ke dinding, menatap foto Bapak dan Ibu lama sekali. Lalu ia menoleh ke pintu yang setengah terbuka di samping dapur.
“Itu kamarmu?”
“Mbak, jangan...”
Terlambat. Ia sudah mendorong pintunya.
Kamarku sempit. Kasur busa tipis di lantai, kipas angin kecil, lemari plastik, dan tumpukan seragam yang sudah dilipat. Di dinding ada kalender bergambar lift dari distributor suku cadang, sama seperti punya Pak Hendrik. Di langit-langit, noda bocor berbentuk peta Kalimantan.
Valerie berdiri di ambang pintu kamarku. Lalu ia melangkah masuk. Lalu, dengan gerakan yang terlalu santai untuk tidak disengaja, ia duduk di ujung kasurku.
Kasur busa itu melesak di bawah berat badannya. Ia menyentuh permukaan seprainya dengan telapak tangan, pelan, seperti menyentuh sesuatu yang berharga.
“Jadi ini,” katanya, menatapku dari bawah, “kasur tempat kamu mikirin aku jam satu pagi.”
Aku membeku di ambang pintu.
“Siapa yang bilang?”
Dari ruang tengah, aku mendengar Tari tiba-tiba batuk-batuk keras sekali.
“Tari,” desisku.
“AKU NGGAK BILANG APA-APA, MAS!”
Valerie tertawa. Ia menepuk tempat kosong di sebelahnya di atas kasur.
“Sini.”
“Nggak, Mbak.”
“Kenapa?”
“Itu kasur saya.”
“Justru itu.” Ia menyandarkan punggung ke dinding, menyilangkan kaki, dan menatapku dengan mata yang setengah tertutup. “Aku pengen tahu rasanya duduk di tempat kamu biasa mikirin aku.”
“Saya nggak mikirin Mbak.”
“Kamu nyentuh bibirmu sendiri jam satu pagi.”
Aku menoleh ke ruang tengah. Tari sudah tidak terlihat. Pintu depan terbuka sedikit, dan aku mendengar langkah kaki berlari menuruni tangga.
“Tari bilang itu juga?”
“Itu syarat skincare yang buat siang.”
Aku menutup wajahku dengan kedua tangan.
Ketika aku menurunkan tangan, Valerie sudah berdiri. Ia sudah di depanku. Di ambang pintu kamarku yang sempit, dengan tubuhnya cukup dekat sehingga aku harus menunduk untuk melihat wajahnya.
“Jun,” katanya pelan.
“Ya, Mbak.”
“Kamu tadi lihat bibirku lagi.”
“Nggak.”
“Tiga kali. Sejak aku duduk di kasurmu.”
Aku tidak bisa membantah. Karena itu benar.
Ia mengangkat tangannya, menyentuh dadaku, tepat di atas jantung, dan menahannya di sana. Ia tidak mendorong. Ia hanya menahannya, seperti sedang menghitung sesuatu.
“Cepat,” katanya.
“Habis naik tangga, Mbak.”
“Tangganya udah dari sepuluh menit lalu.”
Kami berdiri seperti itu entah berapa lama. Tangannya di dadaku. Mataku di matanya. Jarak di antara wajah kami cukup untuk membuatku tahu bahwa satu gerakan kecil, satu saja, akan mengubah segalanya.
Aku tidak bergerak.
Ia juga tidak.
Lalu, perlahan, Valerie menurunkan tangannya. Ia tersenyum, tapi kali ini senyumnya berbeda. Lebih lembut. Lebih sabar.
“Aku nggak akan cium kamu lagi,” katanya.
Sesuatu di dadaku jatuh, dan aku terkejut menyadari bahwa itu kecewa.
“Sampai kamu yang minta,” lanjutnya.
Ia melewatiku keluar kamar, dan wangi parfumnya tertinggal di ambang pintu, bercampur bau bubur kacang ijo dan sabun cuci yang masih menempel di tanganku.
Malam itu, setelah mobil hitam itu pergi dan gang kembali menjadi gang, Bu Sum memanggilku dari gerobaknya yang sudah kosong.
“Jun, sini.”
Aku menghampirinya. Ia sedang menghitung uang di kotak kayunya. Lebih banyak dari yang pernah kulihat di sana.
“Neng Valerie bayar lima kali lipat,” katanya. “Ibu udah bilang kebanyakan, dia nggak mau dengar.”
“Dia memang begitu, Bu.”
“Jun.” Bu Sum berhenti menghitung dan menatapku. “Tadi waktu dia makan, kamu lihat nggak matanya?”
“Kenapa, Bu?”
“Ibu udah tiga puluh tahun jualan bubur. Ibu udah lihat ribuan orang makan bubur Ibu. Ada yang lapar. Ada yang iseng. Ada yang lagi sedih.” Bu Sum menutup kotak uangnya. “Tapi Ibu belum pernah lihat orang makan bubur kayak orang yang baru dikasih nyawa.”
Aku diam.
“Jagain dia, Jun,” kata Bu Sum. “Ibu nggak tahu dia siapa. Tapi kayaknya dia udah lama nyari sesuatu. Dan kayaknya sesuatu itu kamu.”
Di atas kasur busa, yang malam ini masih menyimpan sedikit wangi parfum mahal, aku membuka formulir yang terlipat itu.
Aku tidak menulis teori baru.
Aku menulis:
Dia makan bubur Bu Sum kayak orang berdoa.
Dompetnya nggak boleh dipegang siapa pun. Ada kartu putih di dalamnya. Tulisannya tangan.
Dia bilang: “Rasanya kayak hidup kedua.”
Dia bilang dia nggak akan cium aku lagi sampai aku yang minta.
Aku menatap baris terakhir itu lama sekali.
Lalu aku melipat formulir itu dan menaruhnya di bawah bantal, dan menatap noda berbentuk peta Kalimantan sampai jam dua pagi, bertanya-tanya berapa lama seorang laki-laki bisa bertahan tidak meminta sesuatu yang sangat ia inginkan.
- 1 Ciuman di Lantai Dasar
- 2 Pagi Ini Dokter Bilang Aku Sembuh
- 3 Teori Nomor Satu: Salah Orang
- 4 Lift Lantai 40 Rusak Lagi
- 5 Dua Ratus Mangkuk Bubur reading
- 6 Bawa Aku ke Duniamu
- 7 Tombol Merah
- 8 Kalau Mbak Serius
- 9 Angkringan, Bukan Rooftop
- 10 Telepon Jam Dua Pagi
- 11 Yang Punya Darahnya
- 12 Makan Malam Keluarga Hadinata
- 13 Kunci Pintunya
- 14 Rezeki Nomplok
- 15 Ulang Tahun Kedua
- 16 Kartu Laminasi
- 17 Bekas Luka
- 18 Siapa yang Menang Tender
- 19 Kamu Pernah Menolakku
- 20 Kamu Bayar Utang
- 21 Aku Nggak Pura-Pura
- 22 Laki-Laki yang Nggak Mau Apa-Apa
- 23 Proyek Baru, Hati Lama
- 24 Biopsi
- 25 Lift yang Sama
- 26 Helm Proyek
- 27 HP Lama
- 28 Kalau Aku Nggak Keluar
- 29 Duluan
- 30 Meja Makan Hadinata (Lagi)
- 31 Malam di Lift, Lima Tahun Lalu
- 32 Sebentar Lagi Aman
- 33 Epilog — Golongan Darah Anak Kita