Chapter Ten

Telepon Jam Dua Pagi

POV: Juna

Jam dua lewat tujuh menit pagi, HP-ku berdering.

Bukan bergetar. Berdering. Dengan nada dering bawaan pabrik yang keras dan cempreng, yang tidak pernah kuganti karena aku tidak pernah butuh nada dering lain. Selama sembilan tahun, telepon jam dua pagi hanya berarti satu hal: ada orang terjebak di lift, dan aku harus berangkat.

Aku terbangun dengan jantung berdebar, meraih HP di lantai, dan langsung duduk tegak.

Nama di layar: Val.

Bukan Bu CEO, bukan Mbak Valerie, bukan nomor tidak dikenal. Val. Aku menggantinya dua hari lalu, setelah malam di bawah pohon ketapang, setelah ia bilang sejak awal ia tidak main-main, dan aku menatap kontaknya lama sekali sebelum berani menghapus tulisan Mbak Valerie dan mengetik tiga huruf itu.

Aku mengangkat telepon.

“Val? Kenapa? Kamu nggak apa-apa?”

Jeda. Lalu suaranya, serak karena kantuk, lembut, sedikit manja:

“Nggak bisa tidur.”

Aku diam. Jantungku masih berdebar, sisa panik, tapi pelan-pelan berubah jadi sesuatu yang lain.

“Kamu nggak kenapa-kenapa?”

“Nggak.”

“Liftnya nggak macet?”

“Aku di kasur, Jun. Nggak ada lift di kasurku.”

Aku menghela napas panjang dan membaringkan diri kembali di kasur busa, menatap noda bocor berbentuk peta Kalimantan yang hampir tidak kelihatan dalam gelap.

“Terus kenapa telepon jam dua?”

“Aku mau dengar suara kamu.”

Sesuatu di dadaku terlipat pelan, seperti selimut.

“Ceritain sesuatu,” katanya.

“Cerita apa?”

“Cara kerja rem lift.”

Aku mengerjap di dalam gelap. “Rem lift?”

“Iya. Yang detail.”

“Val, itu nggak romantis.”

“Suara kamu yang romantis,” katanya, dan aku mendengar bunyi selimut bergeser di seberang, seperti ia membalikkan badan. “Rem liftnya cuma alasan.”

Aku menutup mata. Kalau ada orang yang bisa melihatku sekarang, mereka akan melihat laki-laki dua puluh sembilan tahun yang senyumnya terlalu lebar untuk jam dua pagi.

“Oke,” kataku. “Lift penumpang biasanya pakai dua jenis rem. Rem utama di mesin, sama rem pengaman di sangkar.”

“Hm.”

“Rem utama itu kayak tangan yang megang roda. Kalau listriknya nyala, tangannya ngelepas. Kalau listriknya mati, tangannya langsung megang. Jadi kalau mati lampu, liftnya otomatis berhenti. Nggak jatuh.”

“Kayak kamu.”

“Kenapa kayak aku?”

“Kalau aku mau jatuh, kamu langsung megang.”

Aku diam. Di seberang, aku mendengar ia tertawa kecil, tawa orang yang tahu kalimatnya mendarat.

“Lanjut,” katanya.

“Rem pengaman itu buat kalau tali bajanya putus. Jarang banget kejadian. Tapi kalau putus, ada alat namanya governor. Dia ngukur kecepatan. Kalau liftnya turun terlalu cepat, governor narik tuas, terus ada baji yang jepit rel. Liftnya berhenti.”

“Baji itu apa?”

“Kayak ganjal. Logam yang bentuknya miring. Dia nyelip di antara rel sama sangkar, terus makin turun makin kenceng jepitnya.”

“Makin turun makin kenceng,” ulangnya pelan.

“Iya.”

“Kayak aku.”

“Kok kayak kamu lagi?”

“Makin jatuh, makin kenceng megangnya.” Suaranya merendah, hangat, setengah tertidur. “Aku udah jatuh dari tadi, Jun. Udah kenceng banget.”

Aku memejamkan mata dan menekan HP ke telinga lebih rapat, seperti bisa mendekatkan jarak lima belas kilometer di antara kami.

“Val.”

“Hm.”

“Tidur.”

“Lanjutin dulu. Governor-nya ngukur pakai apa?”

Aku melanjutkan. Aku menjelaskan soal kabel governor, soal kecepatan tripping, soal pengujian rem setiap enam bulan. Aku menjelaskan dengan suara pelan, datar, membosankan, dan di seberang, napasnya pelan-pelan melambat. Di tengah penjelasanku tentang beban uji seratus dua puluh lima persen, aku mendengar napasnya menjadi teratur.

Ia tertidur.

Aku tidak menutup teleponnya. Aku berbaring di kasur busa, mendengarkan perempuan paling cantik se-Jakarta mendengkur pelan di telingaku, dengkuran kecil yang lucu seperti anak kucing, dan aku tidak bisa berhenti tersenyum.

Jam tiga lewat dua belas, aku akhirnya tertidur juga, dengan HP masih menempel di pipi.

Jam lima lewat lima, Tari membuka pintu kamarku, melihatku tidur dengan HP di pipi dan layar yang menunjukkan durasi panggilan 3:02:44, dan berteriak cukup keras untuk membangunkan seluruh lantai lima.


Itu malam pertama.

Malam kedua, jam satu lewat empat puluh, ia minta dijelaskan cara kerja sensor pintu. Malam ketiga, jam dua lewat sepuluh, cara kerja tombol panggil. Malam keempat, ia tidak minta penjelasan apa-apa. Ia hanya bilang, “Diam aja. Aku mau dengar kamu napas,” dan aku bernapas di telepon selama dua puluh menit seperti orang bodoh, dan ia tertidur.

Aku mulai tidur dengan HP di sebelah bantal.

Aku mulai kurang tidur.

Aku mulai tidak peduli.

“Jun,” kata Bang Ucok suatu pagi, menatap kantung mataku. “Kamu kayak orang habis begadang ngurus bayi.”

“Hampir sama, Bang.”

“Pepatah bilang: siapa menanam, dia menuai.”

“Saya nanem apa, Bang?”

Bang Ucok menunjuk kantung mataku. “Itu.”


Ngambek pertamanya terjadi hari Kamis.

Aku sedang di dalam lubang lift sebuah gedung perkantoran di Kuningan, berdiri di atas sangkar lift di lantai 18, mengganti kabel governor yang aus. Di dalam lubang lift tidak ada sinyal. Tidak pernah ada. Lubang lift adalah tempat paling sunyi di dunia, kotak beton panjang yang menelan semua suara kecuali dengung mesin dan napasmu sendiri.

Aku di sana dua jam empat puluh menit.

Waktu aku naik ke ruang mesin dan HP-ku menemukan sinyal lagi, HP itu bergetar tanpa henti selama sebelas detik.

Jun.

Jun, lagi apa?

Kok nggak dibales?

Udah lima menit.

Udah lima belas menit.

Kamu marah?

Aku salah apa?

Jun, aku telepon nggak nyambung.

Kamu di mana?

Kamu kenapa-kenapa?

Jun, jawab.

Aku suruh Pak Darto cari kamu.

Pesan terakhir dikirim empat puluh menit lalu.

Aku menatap pesan-pesan itu. Lalu aku mendengar bunyi langkah kaki di tangga menuju ruang mesin. Langkah kaki yang berat, teratur, dan sangat kukenal.

Pintu ruang mesin terbuka. Pak Darto berdiri di sana, napasnya sedikit berat setelah naik dari lantai 18, menatapku dengan wajah datar.

“Mas Juna,” katanya. “Ibu ada di bawah.”

“Di bawah mana, Pak?”

“Lobby. Di mobil. Ibu tidak mau turun dari mobil.”

“Kenapa?”

Pak Darto diam sebentar. “Ibu ngambek, Mas.”


Mobil hitam itu terparkir di depan lobby gedung, mesinnya menyala, kaca jendelanya gelap. Aku mengetuk kaca belakang.

Tidak ada jawaban.

Aku mengetuk lagi. Kaca turun lima senti. Dari celah itu, aku melihat sebagian wajah Valerie: mata yang menyipit, alis yang turun, dan bibir yang manyun. Bibir yang benar-benar manyun, seperti anak kecil yang tidak dibelikan es krim.

Aku tidak pernah membayangkan CEO bisa manyun.

“Val.”

“Hm.”

“Maaf. Aku di lubang lift. Nggak ada sinyal.”

“Dua jam empat puluh menit.”

“Iya. Kabel governor-nya aus. Harus diganti.”

“Kamu nggak bilang mau masuk lubang lift.”

“Aku masuk lubang lift tiap hari, Val.”

“Aku nggak tahu.” Kaca turun lima senti lagi. Sekarang aku bisa melihat seluruh wajahnya. Matanya merah di ujung. “Aku kira kamu kenapa-kenapa. Aku kira kamu jatuh. Aku kira...”

Ia berhenti. Wajahnya berubah, dan aku melihat sesuatu di baliknya. Bukan ngambek. Takut. Takut yang sama seperti di lift yang berhenti. Takut orang yang pernah menunggu kabar terlalu lama, di suatu tempat, dan kabarnya tidak pernah datang.

Aku membuka pintu belakang mobil, masuk, dan menutupnya.

Valerie bergeser ke ujung jok, memeluk tasnya, menatap ke luar jendela.

“Val.”

Ia tidak menjawab.

“Val, lihat aku.”

Ia tidak melihatku.

Aku bergeser mendekat. Pelan. Sampai bahuku menyentuh bahunya. Lalu, dengan hati-hati, seperti mendekati kucing yang ketakutan, aku mengambil tangannya dari tasnya dan menggenggamnya.

“Mulai besok,” kataku, “sebelum masuk lubang lift, aku kirim pesan. Aku tulis jam masuk, perkiraan jam keluar. Kalau lewat dari perkiraan, kamu boleh suruh Pak Darto cari aku.”

Ia masih menatap jendela. Tapi jarinya membalas genggamanku. Sedikit.

“Setiap hari?” gumamnya.

“Setiap hari.”

“Janji?”

“Janji.”

Ia menoleh. Matanya masih merah. Bibirnya masih manyun, tapi sudut-sudutnya mulai goyah.

“Aku masih ngambek,” katanya.

“Iya.”

“Kamu harus bujuk.”

“Bujuk gimana?”

Ia menatapku. Lalu, perlahan, ia mencondongkan badannya, sampai wajahnya tepat di depan wajahku, dan berkata dengan suara sangat pelan:

“Panggil aku sesuatu. Yang bukan Val.”

Aku diam.

Aku tahu apa yang ia minta. Aku sudah tahu sejak berhari-hari lalu, sejak pesan pertamanya yang menyuruhku menyimpan nomornya dengan nama Sayang. Aku belum pernah mengucapkan kata itu kepada siapa pun. Tidak kepada pacar SMA yang hanya bertahan dua bulan. Tidak kepada siapa pun.

Kata itu terasa terlalu besar untuk mulutku.

Valerie menunggu. Matanya di mataku. Bibirnya, yang tadi manyun, sekarang sedikit terbuka.

“Sayang,” kataku.

Ia membeku.

Benar-benar membeku. Seluruh tubuhnya berhenti bergerak, seperti lift yang ditekan tombol merahnya. Matanya terbuka lebar. Bibirnya tetap terbuka. Napasnya tertahan.

Aku menghitung. Kebiasaan. Seperti menghitung keterlambatan pintu lift.

Satu. Dua. Tiga. Empat.

Ia masih tidak bergerak.

Lima. Enam. Tujuh.

Pak Darto, di kursi sopir, menurunkan kaca spion sedikit.

Delapan. Sembilan. Sepuluh.

Sebelas.

Lalu Valerie menarik napas. Panjang, gemetar. Dan ia menutup wajahnya dengan kedua tangan dan menjatuhkan kepalanya ke bahuku.

“Sebelas detik,” kataku pelan.

“Diam,” gumamnya dari balik tangannya.

“Kamu diam sebelas detik.”

“Diam, Jun.”

“Aku hitung.”

Ia memukul dadaku pelan, tanpa mengangkat kepala. Lalu ia memelukku. Erat. Lengannya melingkari pinggangku, wajahnya terbenam di leherku, dan aku merasakan napasnya yang panas dan pipinya yang lebih panas lagi.

“Bilang lagi,” bisiknya.

“Nanti.”

“Kenapa nanti?”

“Biar sebelas detiknya nggak kebiasaan.”

Ia tertawa di leherku, tawa basah yang menggetarkan seluruh tubuhku. Dan di kursi depan, aku mendengar bunyi pulpen menggores buku saku.


Hari Sabtu, Valerie makan malam di rusun.

Bukan karena aku mengundangnya. Karena Tari yang mengundangnya, lewat DM Instagram, tanpa bilang padaku. Aku baru tahu jam empat sore waktu pulang dari kerja dan menemukan Tari sedang mengepel lantai ruang tengah dengan semangat orang yang menyambut tamu negara.

“Kamu undang dia?”

“Aku undang Kakak,” kata Tari, menekankan kata Kakak seperti itu gelar kehormatan. “Mas yang masak.”

“Masak apa?”

“Sayur asem, tempe goreng, sambal terasi. Masakan Ibu. Yang Mas jago.”

“Tari, dia makan di restoran yang antreannya enam bulan.”

“Terus?”

Aku tidak punya jawaban untuk “terus”.

Jadi jam tujuh malam, di dapur sempit kami yang hanya cukup untuk satu orang berdiri, aku memasak sayur asem resep Ibu, sementara di ruang tengah, dua perempuan duduk bersila di lantai dan, aku segera sadar, bersekongkol melawanku.

“Kak, Mas waktu SD pernah nangis di depan kelas karena salah nyanyi lagu wajib.”

“Lagu apa?”

“Halo-Halo Bandung. Dia nyanyinya Halo-Halo Bandung tapi liriknya lirik Indonesia Raya.”

Valerie tertawa sampai terguling ke karpet.

“Tari!” teriakku dari dapur.

“Kak, Mas juga pernah ditolak cewek di SMA karena dia ngasih cokelat yang udah meleleh.”

“Kenapa meleleh?”

“Dia simpan di saku celana seharian. Soalnya malu mau ngasih.”

“Tari, berhenti.”

“Kak, mau lihat foto Mas waktu kecil? Ada yang pakai baju kodok.”

“MAU.”

Aku keluar dari dapur dengan sendok sayur di tangan. Valerie sudah memegang album foto lama kami, album yang sampulnya plastik bunga-bunga, dan menatap fotoku umur empat tahun memakai baju kodok kuning dengan ekspresi yang tidak pantas untuk seorang CEO.

“Ya Tuhan,” bisiknya. “Pipinya.”

“Val, kembaliin.”

“Jun, pipimu.”

“Itu dulu.”

Valerie menatap foto itu, lalu menatapku, lalu foto itu lagi. Lalu ia berdiri, berjalan ke arahku dengan album di tangan, dan menatap wajahku dari dekat. Sangat dekat.

“Masih ada,” katanya.

“Apanya?”

“Pipinya.” Ia mengangkat tangan dan mencubit pipiku. Pelan. Lalu tidak melepaskannya. “Masih ada sedikit. Di sini. Kalau kamu senyum.”

“Aku nggak senyum.”

“Kamu senyum sekarang.”

Aku tidak bisa membantah. Karena itu benar.

Di belakang Valerie, Tari mengangkat HP-nya dan memotret kami. Aku mendengar bunyi rana.

“Tari, hapus.”

“Ini buat dokumentasi keluarga, Mas.”


Sayur asemku habis. Valerie makan dua piring nasi, empat tempe, dan sambal terasi sampai bibirnya merah dan matanya berair. Ia bilang itu sayur asem terenak yang pernah ia makan. Tari bilang memang itu resep Ibu. Lalu suasana jadi hening sebentar, karena Valerie menatap foto Bapak dan Ibu di dinding, lama sekali, dengan wajah yang tidak bisa kubaca.

“Mereka pasti bangga sama kamu,” katanya pelan.

Aku tidak menjawab. Tari mengambil piring-piring kotor dan membawanya ke dapur, meninggalkan kami berdua di ruang tengah.

Di meja, HP-ku bergetar. SMS. Aku membacanya sekilas.

PMI: Yth. Bpk Juna Mahesa, golongan darah O+. Jadwal donor darah Anda berikutnya: Sabtu depan. Terima kasih telah menjadi pahlawan kemanusiaan.

Valerie membaca dari balik bahuku. Aku merasakan ia diam.

“Kamu donor darah?” tanyanya. Suaranya aneh. Pelan sekali.

“Tiap tiga bulan.”

“Sejak kapan?”

“Sejak umur tujuh belas. Bapak yang ngajak. Katanya darah kita nggak cuma punya kita.”

Valerie menatap layar HP itu. Lalu menatapku. Lalu, entah kenapa, ia tersenyum. Senyum yang besar dan aneh dan terlalu basah untuk sekadar SMS PMI.

“Aku golongan O, lho,” katanya. “Cocok sama kamu.”

Aku tertawa. “Golongan darah nggak ada hubungannya sama cocok, Val.”

“Ada.”

“Nggak ada. Itu cuma buat transfusi.”

“Ada, Jun.” Ia menatapku, dan senyumnya tidak hilang, tapi matanya serius. Terlalu serius. “Percaya sama aku.”

Aku menatapnya. Lalu, karena aku tidak tahu harus bilang apa, aku bertanya hal pertama yang terlintas:

“Kok kamu tahu aku O?”

Ia mengangkat bahu. “Aku tahu banyak hal.”

“Dari mana?”

“Dari HRD vendormu, mungkin.” Ia mengambil gelas teh di meja, menyesapnya, menatap ke tempat lain. “Atau dari Tari.”

Aku menoleh ke dapur. “Tari! Kamu kasih tahu golongan darah Mas juga?”

“HAH? NGGAK, MAS! AKU NGGAK TAHU GOLONGAN DARAH MAS!”

Aku menoleh kembali ke Valerie. Ia masih menyesap tehnya, menatap foto Bapak dan Ibu di dinding.

“HRD vendor,” katanya ringan. “Pasti.”

Aku menatapnya lama. Ada sesuatu di sudut pikiranku yang ingin bertanya lagi. Tapi Valerie meletakkan gelas tehnya, mencondongkan badan ke arahku, dan meletakkan kepalanya di bahuku, dan sesuatu di sudut pikiranku itu langsung lupa apa yang mau ditanyakan.

“Sabtu depan,” gumamnya di bahuku. “Aku ikut.”

“Ke PMI?”

“Iya.”

“Kamu mau donor juga?”

Ia diam sebentar. “Nggak. Aku nemenin.”

“Kenapa?”

Ia tidak menjawab. Ia hanya mengencangkan pegangannya di lenganku, dan di dapur, Tari mencuci piring sambil menyanyikan lagu cinta dengan suara yang sengaja dikeraskan.


Malam itu, jam dua lewat tiga menit, HP-ku berdering.

“Nggak bisa tidur,” kata Valerie.

“Mau dengar soal apa malam ini?”

“Nggak mau dengar soal lift.”

“Terus?”

Jeda. Lalu suaranya, pelan, sangat pelan, seperti takut didengar orang lain di kamarnya yang kosong:

“Bilang lagi.”

“Bilang apa?”

“Yang tadi di mobil. Yang sebelas detik.”

Aku menatap noda bocor berbentuk peta Kalimantan. Lalu memejamkan mata.

“Sayang,” kataku. “Tidur.”

Di seberang, aku mendengar ia menarik napas. Lalu hening. Lama.

Aku menghitung. Satu. Dua. Tiga.

Di detik ketujuh, aku mendengar dengkurannya. Dengkuran kecil seperti anak kucing.

Ia tertidur di tengah sebelas detiknya sendiri.

Aku tidak menutup teleponnya.