Chapter Thirty

Meja Makan Hadinata (Lagi)

POV: Juna

Aku minta restu Pak Bramantyo hari Jumat malam, dua minggu kemudian.

Bukan karena aku butuh dua minggu untuk memutuskan. Aku sudah memutuskan di bedeng proyek jam tiga pagi, waktu suara gadis dua puluh tiga tahun dari balik pintu baja bilang suaraku membuatnya ingin hidup. Aku sudah memutuskan di tanah proyek yang becek, berlutut di depan Bu Ratih dengan formulir di dada. Aku sudah memutuskan di sofa apartemen di Kuningan, dengan Valerie tertawa di pangkuanku dan bilang nikahin aku cepet, aku nggak sabaran.

Aku butuh dua minggu karena aku harus menyelesaikan beberapa hal dulu.

Hal pertama: proyek Cikarang. Lift barang gudang logistik itu harus lulus uji beban sebelum serah terima. Aku tidak mau meninggalkannya setengah jadi. Pak Slamet bilang aku gila, menolak cuti untuk urusan menikah demi lift barang. Aku bilang, lift itu kayak orang, Pak. Kalau ditinggal setengah jadi, nanti ngambek. Pak Slamet menatapku lama, lalu bilang aku memang cocok sama perempuan yang pakai heels ke proyek.

Hal kedua: tabungan. Aku membuka buku tabunganku dan menghitung. Hasilnya cukup untuk satu cincin. Bukan cincin yang mahal. Cincin emas putih polos, tanpa berlian, dari toko emas di Pasar Baru tempat Bapak dulu membeli cincin kawin Ibu. Aku membelinya hari Rabu. Pemilik tokonya, engkoh tua yang mengingat Bapak, menolak memberi diskon dan malah memberi kotak beludru merah gratis.

Hal ketiga: Tari.


Aku menemukan Tari di kamarnya hari Selasa malam, sedang mengerjakan tugas statistik dengan kacamata baca palsunya.

Ia sudah pulang dari kos Dinda sejak hari aku lari ke Kuningan. Kami sudah berbaikan di koridor rumah sakit. Tapi ada sesuatu yang belum selesai, dan aku tahu itu, dan ia tahu itu.

Aku duduk di lantai kamarnya. Di depan meja belajarnya. Seperti dulu, waktu ia SD dan aku membantunya mengerjakan PR matematika yang aku sendiri tidak terlalu mengerti.

“Tar.”

“Hm.” Ia tidak mengangkat kepala dari laptopnya.

“Mas minta maaf.”

“Udah, Mas. Di rumah sakit.”

“Itu buat Mas jahat sama Kakak. Ini buat Mas jahat sama kamu.”

Tari berhenti mengetik.

“Mas bilang kamu mungkin lolos karena Kakak,” kataku. “Mas nggak percaya kamu pinter. Itu salah. Itu paling salah dari semua yang Mas bilang.”

Tari diam. Ia melepas kacamata baca palsunya. Menatap layar laptop.

“Mas tahu nggak,” katanya pelan, “aku ranking berapa di seleksi?”

“Nggak.”

“Dua.” Ia memutar laptopnya menghadapku. Ada email di layar. Dari Yayasan Cahaya Bangsa. Tertanggal kemarin. Menindaklanjuti permintaan klarifikasi dari keluarga penerima... “Bu Ratih minta panitia seleksi kirim rinciannya ke aku. Biar transparan. Katanya Kak Val yang minta.”

Aku membaca email itu.

Peserta atas nama Tari Mahesa memperoleh peringkat ke-2 dari 312 pendaftar berdasarkan penilaian berkas akademik, esai, dan wawancara, yang dilakukan oleh panel independen sebelum ada intervensi apa pun dari pihak pengurus yayasan. Satu-satunya perubahan adalah percepatan jadwal pencairan dana, yang tidak memengaruhi hasil seleksi.

Dua dari tiga ratus dua belas.

Aku menatap layar itu lama.

“Esaiku dapet nilai paling tinggi,” kata Tari. Suaranya bergetar sedikit. “Judulnya Kakak Saya Tidak Pernah Mengeluh. Aku nulis soal Mas. Soal Mas kerja tiga sif. Soal Mas berhenti kuliah. Soal Mas dateng ke pentas tari aku pakai seragam kerja yang bau oli.”

Aku tidak bisa bicara.

“Pewawancaranya nangis, Mas.” Tari menyeka matanya cepat-cepat dengan punggung tangan. “Dia bilang dia mau kenal sama kakakku.”

Aku menarik adikku dari kursinya ke lantai. Memeluknya. Kacamata baca palsunya jatuh ke karpet.

“Kamu pinter, Tar,” bisikku di rambutnya. “Kamu lebih pinter dari Mas.”

“Aku tahu,” isaknya. “Aku udah bilang dari dulu.”

“Dan kamu lolos sendiri.”

“Aku tahu, Mas.”

“Mas bangga sama kamu.”

Tari memelukku lebih erat. Lalu, dari dadaku, dengan suara teredam:

“Mas juga harus bilang gitu ke diri Mas sendiri. Sekali-kali.”


Hal keempat datang tanpa kuminta.

Hari Kamis, Pak Hendrik meneleponku. Aku sedang di Cikarang, berdiri di depan lift barang yang baru lulus uji beban seratus dua puluh lima persen.

“Juna. Kantor pusat kirim surat lagi.”

Perutku jatuh. “Surat apa, Pak?”

“Promosi.”

“Pak, saya udah bilang...”

“Dengar dulu.” Suara Pak Hendrik terdengar aneh. Seperti sedang tersenyum, dan berusaha keras tidak tersenyum. “Klien utama kita cabut rekomendasinya. Bu Valerie sendiri yang kirim email. Katanya keputusan promosi diserahkan ke penilaian objektif.”

“Terus?”

“Terus kantor pusat nilai ulang. Pakai data. Rekam jejak sembilan tahun. Nol kecelakaan. Nol komplain. Nilai evaluasi tertinggi tiga tahun berturut-turut. Ditambah laporan dari Cikarang: lift barang selesai dua minggu lebih cepat dari jadwal, lulus uji beban pertama kali.” Pak Hendrik diam sebentar. “Mereka mau angkat kamu jadi supervisor. Lagi. Bukan karena siapa-siapa. Karena kamu.”

Aku berdiri di depan lift barang yang baru lulus uji, di tengah debu kuning Cikarang, memegang HP di telinga, dan tidak tahu harus berkata apa.

“Juna? Halo?”

“Saya di sini, Pak.”

“Kamu mau nolak lagi?”

Aku menatap lift barang itu. Kotak baja polos. Tanpa cermin, tanpa musik. Lift yang kuperbaiki sendirian, selama berminggu-minggu, waktu aku pikir aku tidak punya apa-apa lagi.

Mas juga harus bilang gitu ke diri Mas sendiri. Sekali-kali.

“Nggak, Pak,” kataku. “Saya terima.”

Hening di seberang. Lalu Pak Hendrik menghela napas panjang, napas lega yang terdengar sampai Cikarang.

“Tapi saya selesaikan serah terima Cikarang dulu,” tambahku.

“Tentu saja kamu mau gitu,” kata Pak Hendrik. “Tentu saja.”

Sore itu, waktu aku pulang, ada sebungkus kacang telur di atas jok motorku. Tidak tahu siapa yang menaruhnya. Tapi di bungkusnya ada tulisan spidol hitam, huruf kapital, tulisan tangan Pak Hendrik yang sudah kukenal dari laporan-laporan harian sembilan tahun:

BUAT ORANG YANG UDAH WARAS LAGI.


Jumat malam. Rumah keluarga Hadinata di Menteng. Pohon-pohon trembesi tua. Pagar besi hitam. Rumah kolonial putih dengan pilar-pilar besar.

Aku memarkir motorku di antara dua mobil Eropa yang mengilap. Seperti waktu itu.

Aku memakai batik cokelat tua yang sama. Celana kain hitam yang sama. Sepatu pantofel Bapak, yang kusemir dua jam semalam sampai jari-jariku hitam semua. Seperti waktu itu.

Dan di saku batikku, kotak beludru merah dari toko emas di Pasar Baru.

Valerie menunggu di teras. Kali ini ia tidak berlari menuruni tangga. Ia berjalan pelan, gaun panjang warna krem, rambut digerai, dan berhenti di depanku.

“Kamu ganteng banget,” katanya.

“Kamu yang...”

“Jangan balas.” Ia merapikan kerah batikku. Pelan. “Biarin aku yang bilang duluan.”

“Kamu selalu duluan.”

“Iya,” katanya, dan tersenyum. “Aku suka duluan.”

Ia menggenggam tanganku. Ia tidak tahu soal kotak beludru merah di saku batikku. Aku sudah memastikan ia tidak tahu. Aku sudah meminta Tari bersumpah demi semua skincare yang pernah ia terima.

Tapi ada sesuatu di matanya malam ini. Sesuatu yang berkilat, nakal, seperti ia juga menyembunyikan sesuatu.

Aku tidak bertanya. Aku sudah belajar. Ia selalu bilang nanti, dan nanti selalu datang.


Kali ini Pak Bramantyo tersenyum waktu aku masuk.

Bukan senyum lebar. Pak Bramantyo tidak pernah tersenyum lebar. Hanya sudut bibir yang naik sedikit di bawah kumis tipisnya, seperti Pak Darto. Tapi ia berdiri dari kursinya di ujung meja makan, berjalan memutari meja, dan mengulurkan tangan.

Aku menjabatnya.

Genggamannya keras. Sama seperti waktu itu. Tapi kali ini ia tidak sedang mengukur. Kali ini ia memegang tanganku lama sekali, terlalu lama untuk jabat tangan biasa, dan menatap mataku.

“Juna,” katanya.

“Ya, Pak.”

“Lima tahun saya mau ketemu kamu.”

Aku diam.

Pak Bramantyo merogoh saku kemeja batiknya dengan tangan kiri, tangan kanannya masih menggenggam tanganku. Mengeluarkan buku catatan kecil bersampul kulit yang sudah lusuh. Membukanya di halaman yang ditandai pita merah.

Ia tidak membacakannya. Ia merobek halaman itu. Pelan. Hati-hati. Dan menyelipkannya ke tanganku.

Aku menatap kertas itu. Tulisan tangan Pak Bramantyo, rapi, miring ke kiri.

Terima kasih, Pak. Tapi saya nggak jual. Saya cuma kasih. Semoga anak Bapak sehat terus dan hidup lama. Itu udah cukup.

Di bawahnya, tanggal. Lima tahun lalu.

Dan di bawahnya lagi, tulisan yang lebih baru, tinta yang lebih segar:

Dia sehat. Dia hidup lama. Dan sekarang dia mau nikah sama kamu. Itu juga udah cukup buat Papa.

Aku mengangkat kepala.

Pak Bramantyo masih menggenggam tanganku. Matanya merah. Kumis tipisnya bergetar.

“Terima kasih,” katanya. Suaranya pecah. “Lima tahun Papa mau bilang itu langsung. Terima kasih udah kasih anak Papa hidupnya. Dua kali. Sekali di lift, sekali di rumah sakit.”

Aku tidak bisa menjawab.

Di belakang Pak Bramantyo, Bu Ratih sudah menangis ke serbet makan. Valerie, di sebelahku, menggenggam lenganku begitu erat sampai jari-jarinya memutih.

“Pak,” kataku akhirnya. Suaraku serak. “Saya mau minta sesuatu.”

Pak Bramantyo menatapku. Ia tahu. Aku melihat ia tahu.

“Saya mau minta izin,” kataku, “buat nikahin anak Bapak.”

Hening.

Lampu kristal di atas meja makan berdenting pelan tertiup angin dari jendela. Detak jam antik di pojok ruangan. Napas Valerie yang tertahan di sebelahku.

Pak Bramantyo melepaskan tanganku. Ia mundur selangkah. Ia menatapku dari atas sampai bawah. Batik cokelat tua. Celana kain hitam. Sepatu pantofel almarhum ayahku.

Lalu ia berkata:

“Lift Hadinata Tower. Empat puluh lantai. Kapasitas seribu enam ratus kilogram. Beban penyeimbangnya berapa?”

Aku mengerjap.

Valerie mengeluarkan suara yang terdengar seperti tawa yang ditahan. Bu Ratih menurunkan serbetnya, menatap suaminya dengan mulut terbuka.

“Pa!” kata Valerie.

“Papa tanya calon menantu Papa,” kata Pak Bramantyo, wajahnya tetap serius. “Beban penyeimbangnya berapa, Juna?”

Aku menarik napas.

“Berat sangkar ditambah empat puluh sampai lima puluh persen kapasitas, Pak,” kataku. “Biasanya empat puluh lima persen untuk gedung perkantoran. Jadi kalau berat sangkarnya seribu dua ratus, beban penyeimbangnya sekitar seribu sembilan ratus dua puluh kilogram. Biar motornya paling ringan waktu liftnya setengah penuh, karena itu kondisi yang paling sering.”

Pak Bramantyo menatapku.

Lalu ia mengeluarkan HP dari saku celananya. Membuka sesuatu. Membaca. Menggulir. Membaca lagi.

Ia menyimpan HP-nya.

“Benar,” katanya.

“Papa ngecek di internet?” tanya Valerie, tidak percaya.

“Papa harus pastikan.” Pak Bramantyo menatapku. Dan untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya, sudut bibirnya naik lebih dari satu milimeter. Lebih dari dua. Senyum. Senyum yang sebenarnya, di bawah kumis tipis yang bergetar. “Anak Papa nggak boleh nikah sama orang yang salah soal beban penyeimbang.”

Ia menepuk bahuku. Dua kali. Keras.

“Izin diberikan,” katanya.


Bu Ratih berdiri dari kursinya, berjalan memutari meja, dan memelukku. Lama. Seperti waktu pertama kali, di ambang pintu. Tapi kali ini ia tidak bilang akhirnya.

Ia bilang, “Selamat datang di rumah, Nak.”

Dan Valerie, yang dari tadi berdiri di sebelahku dengan tangan mencengkeram lenganku, tiba-tiba melepaskan pegangannya. Ia melangkah ke tengah ruang makan, di bawah lampu kristal, dan menghadap ke pintu.

Ke arah ruang depan. Tempat, aku baru sadar, beberapa orang sedang berdiri dan mengintip.

Kiki. Reza. Bude-bude dan om-om keluarga Hadinata yang tidak kukenal. Sepupu-sepupu. Pelayan-pelayan. Pak Darto di belakang semuanya, dengan buku saku hitam yang baru.

Mereka semua ada di sini. Malam ini. Makan malam keluarga besar. Valerie tidak bilang. Tentu saja Valerie tidak bilang.

“Om. Tante. Semuanya,” kata Valerie. Suaranya suara CEO. Jernih. Tenang. Suara yang membekukan ruang rapat. “Saya mau bilang sesuatu.”

Semua orang diam.

Valerie menatap mereka. Satu per satu. Lalu menoleh ke arahku.

“Lima tahun saya ditanya kapan nikah,” katanya. “Lima tahun saya jawab nanti. Banyak yang bilang saya terlalu pilih-pilih. Banyak yang bilang saya trauma. Banyak yang bilang saya akan sendirian sampai tua.”

Seorang bude di barisan depan menunduk, malu.

“Saya bukan pilih-pilih,” lanjut Valerie. “Saya nunggu. Saya nunggu orang yang lima tahun lalu duduk di lantai koridor rumah sakit, basah kuyup, nyanyiin lagu paling jelek di dunia buat perempuan botak yang dia nggak kenal.”

Ia menatapku. Matanya berkilat.

“Aku nggak pura-pura,” katanya. Ke aku. Ke semua orang. “Aku mau nikah sama dia.”


Ruang makan meledak.

Tepuk tangan. Isak tangis. Seorang om berteriak ALHAMDULILLAH begitu keras sampai lampu kristal bergoyang. Bude yang tadi menunduk sekarang menangis ke pundak suaminya. Sepupu-sepupu bersiul.

Dan dari barisan belakang, suara Reza, keras sekali, menembus semuanya:

“AKU JUGA MAU NIKAH!”

Semua orang menoleh.

Reza berdiri di tengah ruang depan, wajahnya merah sampai ke telinga, satu tangannya menggenggam tangan Kiki.

Kiki menatapnya dengan wajah horor. “Za. Bukan sekarang.”

“Sekarang!” Reza mengangkat tangan Kiki yang ia genggam, menunjukkannya ke semua orang. “Tante! Om! Aku sama Kiki pacaran! Dari tiga minggu lalu! Kami ketemu di rooftop waktu Val kabur ke angkringan!”

Hening. Lalu Bu Ratih tertawa begitu keras sampai harus berpegangan ke kursi.

“Reza,” kata Valerie datar. “Ini momenku.”

“Maaf, Val! Kelepasan! Aku nggak tahan!”

“Pemain biolanya main dangdut,” kataku pelan ke Valerie.

Valerie menoleh kepadaku. Lalu tertawa. Tawa yang lepas dan penuh dan basah, sampai ia harus menyandarkan dahinya ke dadaku.

Kiki, di ruang depan, menutup wajahnya dengan tablet.

Pak Darto, di belakang semuanya, membuka buku saku hitamnya yang baru, dan menulis sesuatu dengan kecepatan yang belum pernah kulihat.


Malam itu, di halaman depan, di samping motorku, Valerie berdiri memeluk lenganku di bawah lampu taman yang kuning.

“Kamu bawa sesuatu di saku,” katanya.

Aku membeku. “Nggak.”

“Ada kotak. Kotak kecil. Aku lihat bentuknya dari tadi.”

“Itu... dompet.”

“Dompetmu di saku belakang.” Ia menatapku dengan mata menyipit. “Aku hitung, Jun. Kamu pegang saku itu tujuh kali selama makan malam.”

Aku tidak bisa membantah.

Valerie tersenyum. Senyum miring itu. Nakal. Penuh rahasia.

“Jangan dikeluarin,” katanya.

“Kenapa?”

“Karena aku mau duluan.”

Aku menatapnya. “Duluan apa?”

Ia tidak menjawab. Ia hanya berjinjit, mencium pipiku, dan berbisik:

“Pipi nggak dihitung.”

Lalu ia berbalik dan berjalan ke rumah, gaun kremnya bergoyang di atas jalan setapak batu, dan di ambang pintu ia menoleh sekali dan melambaikan tangan.

Lambaian kecil. Tanpa kata. Seperti lambaian dari balik selimut biru rumah sakit, dari atas kursi roda, lima tahun lalu, sebelum menghilang di tikungan koridor.

Aku berdiri di samping motorku, memegang kotak beludru merah di saku batikku, dan menyadari dengan perasaan yang campur aduk antara bahagia dan takut bahwa aku baru saja ditantang.

Perempuan itu selalu duluan.

Tapi kali ini, aku juga sudah siap.