Chapter Twenty Nine

Duluan

POV: Valerie

Aku tidak tidur sejak jam dua pagi.

Centang biru jam dua lewat tiga belas. Status online. Lalu tidak ada apa-apa. Tidak ada tiga titik. Tidak ada balasan. Hanya status online yang bertahan sampai jam tiga, jam empat, jam lima.

Ia mendengarkan. Aku tahu ia mendengarkan. Empat puluh satu menit, lalu lagi, lalu lagi.

Jam lima lewat dua puluh, statusnya berubah: terakhir dilihat pukul 05.19.

Lalu tidak ada apa-apa lagi.

Mama menelepon jam enam pagi. Ia bilang ia mau ke Cikarang. Ia bilang aku jangan datang hari ini. Ia bilang, biar Mama dulu, Nak, dengan suara yang aneh, gemetar, seperti suara Mama setiap 17 Maret. Aku bertanya kenapa. Ia tidak menjawab. Ia hanya bilang, tunggu di rumah.

Jadi aku menunggu.

Aku duduk di sofa ruang tengah apartemenku, memeluk lutut, masih memakai kaus oblongnya yang paling besar, yang tidak pernah kukembalikan sejak malam di rusun. Rambutku berantakan. Mataku bengkak. Di meja di depanku, HP-ku yang sekarang dan HP lama dengan casing ungu, berdampingan.

Di luar jendela, gerimis mulai turun lagi. Jakarta abu-abu.

Jam tujuh. Jam delapan. Jam sembilan kurang sepuluh.

Aku jago menunggu. Aku sudah menunggu lima tahun. Tapi pagi ini, setiap menit terasa seperti lift yang berhenti di antara dua lantai.


Jam sembilan lewat tujuh menit, bel pintu berbunyi.

Bukan bel. Ketukan. Ketukan keras, cepat, berulang-ulang, seperti seseorang yang tidak sabar menunggu bel dijawab.

Aku membeku.

Satpam di lobby seharusnya menelepon dulu kalau ada tamu. Pintu apartemenku di lantai paling atas, dan lift ke lantai ini hanya bisa dipakai dengan kartu akses. Tidak ada yang bisa sampai ke pintuku tanpa izin.

Ketukan lagi. Lebih keras.

Lalu suara. Teredam pintu kayu. Serak. Terengah-engah.

“Val.”

Aku berdiri. Kakiku tidak terasa.

“Val. Ini aku.”

Aku berjalan ke pintu. Aku tidak tahu bagaimana kakiku bergerak. Aku memegang gagang pintu. Tanganku gemetar begitu keras sampai aku harus mencoba dua kali untuk membuka kuncinya.

Aku membuka pintu.


Ia berdiri di sana.

Basah kuyup. Rambutnya menempel di dahi. Seragam abu-abunya kotor lumpur dari lutut sampai ujung kaki. Jaketnya terbuka, dan di dalamnya, dipeluk di dada, ada map plastik bening.

Dan di kepalanya, helm proyek putih ukuran kecil. Helm yang ia berikan kepadaku kemarin di bawah hujan. Helm yang terlalu kecil untuknya, menekan pelipisnya, talinya menggantung tidak terkunci.

Wajahnya basah. Bukan hanya karena hujan.

Matanya merah. Bengkak. Seperti orang yang menangis berjam-jam. Seperti aku.

Di belakangnya, di ujung koridor, aku melihat satpam apartemen berdiri dengan napas terengah-engah, dan di sebelahnya Pak Darto, yang entah dari mana datangnya, memegang lengan satpam itu dengan sopan tapi tegas. Pak Darto menatapku, mengangguk sekali, lalu menarik satpam itu kembali ke lift.

Juna menatapku.

Aku menatapnya.

“Kamu...” Suaraku tidak ada. “Kamu naik lift?”

“Pak Darto yang tap kartunya.”

“Kamu pakai helm.”

“Lupa dilepas.”

“Itu helm yang kamu kasih ke aku.”

“Gilang yang kasih balik.” Ia menelan ludah. “Kekecilan.”

Aku tertawa. Tawa yang pecah dan basah dan tidak bisa ditahan. Aku mengangkat tanganku dan melepas helm itu dari kepalanya. Pelan. Talinya tersangkut di telinganya. Rambutnya berantakan di bawahnya, basah, ada bekas merah melingkar di dahinya karena helm yang terlalu kecil.

Aku memegang helm itu di dadaku.

“Kamu dengerin,” kataku.

Ia mengangguk.

“Sampai habis?”

“Tiga kali.”

Aku menatapnya. Air mataku jatuh.

“Mas Lift,” bisikku.

Wajahnya hancur.


Ia tidak bilang apa-apa. Ia mengeluarkan map plastik bening dari dalam jaketnya. Tangannya gemetar. Map itu basah di luar, tapi kertas di dalamnya kering, karena ia memeluknya di dada sepanjang perjalanan dari Cikarang.

Ia menyerahkannya kepadaku.

“Mama kamu,” katanya. Suaranya pecah. “Mama kamu yang kasih. Tadi pagi.”

Aku menatap map itu. Map yang dibawa Mama ke apartemenku semalam. Bukan punya kamu, Nak. Itu punya dia.

Aku mengambil kertas di dalamnya.

Formulir. Kertas HVS yang menguning. Kotak-kotak isian. Di bagian atas, huruf kapital: DRIVE KHUSUS: PASIEN V. RS MEDIKA HARAPAN.

Pasien V.

Aku.

Drive yang Mama buat lima tahun lalu. Mama duduk di meja di lobby itu setiap malam selama empat bulan, menunggu orang asing yang mau swab pipi untuk anaknya.

Nama lengkap: Juna Mahesa.

Tulisan tangannya. Huruf J dengan lengkungan seperti kail.

Tanggal & jam pendaftaran:

Aku membaca tanggalnya.

Aku tahu tanggal itu. Aku tahu tanggal itu seperti aku tahu tanggal lahirku sendiri. Tanggal itu tertulis di nama file audio di HP lama dengan casing ungu, di metadata yang sudah kubaca ratusan kali. Tanggal malam itu. Malam lift.

Jam: 23.12.

Rekamanku berakhir jam sepuluh lewat lima puluh satu.

Dua puluh satu menit.

Dua puluh satu menit setelah perawat membawaku pergi dengan kursi roda. Dua puluh satu menit setelah aku berteriak makasih, Mas Lift, aku nggak takut lagi ke arah koridor tanpa menoleh.

Ia turun ke lobby. Dan ia mendaftar.

Mataku turun ke kotak kecil di bagian paling bawah formulir. Pesan untuk pasien (opsional).

Semoga cocok. Buat mbak yang tadi kejebak di lift lantai 3. Jangan takut lagi.


Aku tidak bisa bernapas.

Kertas itu bergetar di tanganku. Huruf-huruf di atasnya kabur. Aku membacanya lagi. Dan lagi.

Buat mbak yang tadi kejebak di lift lantai 3.

Lima tahun.

Lima tahun aku berpikir donorku adalah keajaiban. Satu dari jutaan. Orang asing yang kebetulan cocok, yang kebetulan mendaftar, yang kebetulan menulis soal bubur kacang ijo yang sama dengan Mas Lift. Waktu aku membaca kartu itu di rumah sakit, lima tahun lalu, dan melihat kalimat paling enak sedunia, aku menangis seharian, karena aku tahu. Aku tahu donornya adalah suara di balik pintu baja itu. Tapi aku pikir itu kebetulan. Takdir. Tuhan yang punya selera humor.

Aku tidak pernah tahu bahwa ia mendaftar karena aku.

Ia mendaftar untukku. Malam itu. Dua puluh satu menit setelah ia mendengar aku bilang aku menunggu donor dan tidak ada yang cocok. Ia tidak tahu namaku. Ia tidak tahu wajahku. Ia hanya tahu ada perempuan botak yang takut di dalam gelap.

Dan ia turun ke lobby, duduk di depan Mama yang tidak ia kenal, dan menulis jangan takut lagi.

“Kamu...” Aku mengangkat kepala. Menatapnya. Air mataku jatuh ke formulir, ke tinta biru yang sudah luntur. “Kamu daftar karena aku.”

“Iya.”

“Sebelum kamu tahu aku siapa.”

“Iya.”

“Kamu nyelamatin aku karena kamu udah peduli duluan.”

Ia menatapku. Air mata mengalir di wajahnya, bercampur air hujan, menetes dari dagunya ke lantai marmer di depan pintuku.

“Kamu cinta aku,” katanya, suaranya hancur, “sebelum aku nyelamatin kamu.”

“Iya.”

“Di lift. Sebelum transplantasi. Sebelum kartu.”

“Iya, Jun.”

“Kenapa nggak bilang?”

“Karena aku mau kamu percaya tanpa bukti.” Aku tertawa, basah, pecah. “Bodoh, kan? Aku punya buktinya lima tahun. Aku simpan di brankas Papa. Dan aku nggak mau kasih. Karena aku mau kamu percaya karena aku.”

“Val.”

“Tapi ternyata kamu juga punya bukti.” Aku mengangkat formulir itu. “Dan kamu juga nggak tahu. Kamu juga lupa. Kita berdua...”

Aku tidak bisa menyelesaikannya.

Kita berdua saling menyelamatkan di dalam gelap. Tanpa tahu. Lima tahun. Lalu kita bertemu di lobby, dan saling menyakiti di terang. Karena tahu.


Ia melangkah masuk.

Melewati ambang pintu. Lumpur dari sepatunya mengotori lantai marmer. Air hujan menetes dari bajunya. Ia berhenti tepat di depanku, begitu dekat sehingga aku bisa merasakan dinginnya bajunya yang basah.

“Val,” katanya.

“Hm.”

“Aku cinta kamu.”

Aku membeku.

Ia belum pernah mengatakannya. Tidak dengan kata itu. Ia sudah bilang sayang. Ia sudah bilang aku mau kamu jadi istriku. Tapi cinta, belum. Tidak sekali pun.

“Aku cinta kamu,” ulangnya. Pelan. Mantap. Seperti orang mengencangkan baut terakhir. “Dari sebelum aku tahu namamu. Dari koridor itu. Dari suara di balik pintu yang ketawa denger kambing kurban Pak RT.”

Air mataku jatuh.

“Aku nggak tahu waktu itu,” lanjutnya. “Aku pikir aku cuma nolong orang. Kayak biasa. Aku pikir aku daftar donor karena kasihan. Tapi Val...” Ia menelan ludah. “Aku nggak pernah daftar donor buat siapa pun sebelumnya. Sembilan tahun nolong orang di lift. Ratusan orang. Aku nggak pernah turun ke lobby buat siapa pun. Cuma kamu.”

Aku tidak bisa bicara.

“Aku nanya ke kamu,” katanya, suaranya bergetar, “kalau aku bukan donormu, kamu bakal cium aku nggak.”

“Jun...”

“Pertanyaannya salah.” Ia tertawa, basah. “Harusnya aku nanya ke diriku sendiri. Kalau kamu bukan mbak di lift, aku bakal daftar nggak?”

Ia menatapku.

“Nggak, Val. Aku nggak bakal daftar. Aku nggak tahu ada drive donor. Aku nggak tahu sel punca itu apa. Aku cuma daftar karena ada perempuan di lift yang bilang dia nunggu donor dan nggak ada yang cocok. Dan aku nggak tahan dengernya.”

Ia mengangkat tangannya. Menyentuh pipiku. Jemarinya dingin dan basah dan gemetar.

“Kita nggak saling utang,” bisiknya. “Kita cuma saling... duluan.”


Aku tidak tahu siapa yang menangis lebih keras.

Aku menjatuhkan formulir dan helm putih ke lantai. Aku memeluknya. Ia memelukku. Bajunya yang basah membasahi kaus oblongnya yang kupakai. Lumpur dari celananya menempel di kakiku. Aku tidak peduli. Aku tidak peduli sama sekali.

Kami berdiri di ambang pintu apartemenku, berpelukan, menangis, sementara gerimis di luar jendela berubah jadi hujan deras.

“Jun,” isakku di lehernya.

“Hm.”

“Aku cinta kamu sebelum kamu nyelamatin aku.”

“Aku tahu.”

“Dan kamu nyelamatin aku karena kamu udah peduli duluan.”

“Aku tahu, Val.”

“Kamu nggak boleh pergi lagi.”

“Aku nggak pergi.”

“Janji?”

Ia menjauhkan wajahnya sedikit. Cukup untuk menatapku. Matanya merah dan basah dan penuh, sangat penuh, dengan sesuatu yang tidak ada lagi keraguan di dalamnya.

“Seumur hidup,” katanya.


“Val.”

“Hm.”

“Boleh aku minta sesuatu?”

Jantungku berhenti. Kalimat itu. Kalimat di bawah pohon ketapang.

“Minta,” bisikku. “Minta yang bener.”

Ia menangkup wajahku dengan kedua tangan. Ibu jarinya mengusap air mata di pipiku, pelan, seperti mengusap sesuatu yang mudah tergores.

“Boleh aku cium kamu?” katanya. “Sebagai aku. Bukan Mas Lift. Bukan donor. Cuma aku.”

Aku tidak menjawab dengan kata-kata.

Aku menarik kerah seragamnya yang basah, seperti di lobby di hari pertama, dan menariknya turun.

Ia menciumku.

Bukan ciuman di bawah pohon ketapang, yang mengetuk pintu. Bukan ciuman di depan perapian, yang menemukan pintu tidak terkunci. Ciuman ini seperti orang yang pulang. Seperti lampu yang menyala setelah mati listrik semalaman. Seperti napas pertama setelah lima tahun menahan napas.

Ia menciumku dalam dan lama dan tidak berhenti. Tangannya di wajahku, lalu di rambutku, lalu di punggungku, menarikku lebih dekat. Aku mundur selangkah. Dua langkah. Punggungku menyentuh dinding di sebelah pintu. Ia mengikutiku. Tidak ada jarak lagi. Tidak ada udara lagi.

Aku menendang pintu sampai tertutup dengan kakiku.

Ia tertawa di bibirku. Lalu menciumku lagi.

Bajunya basah dan dingin dan aku tidak peduli. Tanganku menyusup di bawah jaketnya, mendorongnya dari bahunya, dan jaket itu jatuh ke lantai dengan bunyi basah. Tangannya turun ke pinggangku, ke ujung kaus oblong yang kupakai, kaus oblongnya, dan menyusup di bawahnya, telapak tangannya yang kasar dan dingin di kulit pinggangku. Aku menarik napas tajam di bibirnya.

“Dingin?” bisiknya.

“Jangan berhenti.”

Ia tidak berhenti.

Bibirnya turun dari bibirku ke rahangku, ke bawah telingaku, ke leherku. Pelan. Panas. Setiap tempat yang ia sentuh menyala. Lalu ke tulang selangka. Lalu, dengan sangat hati-hati, ia menyibak kerah kaus oblong itu ke samping, dan menempelkan bibirnya di bekas luka kecil di bawah tulang selangka kananku.

Lama.

“Lewat sini,” bisiknya di kulitku.

Aku tidak bisa bicara. Aku hanya mencengkeram rambutnya yang basah dan memejamkan mata.

Ia mengangkatku. Aku tidak tahu bagaimana. Tiba-tiba kakiku tidak menyentuh lantai lagi, dan aku melingkarkan kakiku di pinggangnya, dan ia membawaku tiga langkah ke sofa di ruang tengah, dan menjatuhkan dirinya ke sofa dengan aku di pangkuannya.

Seperti di villa. Tapi tidak seperti di villa. Di villa, ia masih menahan sesuatu. Di sini, tidak ada lagi yang ia tahan.

Aku menciumnya. Ia menciumku. Tanganku menemukan kancing seragamnya. Satu. Dua. Tiga. Seragam abu-abu yang basah dan berlumpur, dan di bawahnya kaus dalam putih yang juga basah, menempel di dadanya. Telapak tanganku di dadanya. Jantungnya berlari di bawah tanganku, seperti mau keluar.

“Jun,” bisikku. Napasku tidak ada.

“Hm.”

“Jantungmu.”

“Iya.”

“Cepat banget.”

“Kamu yang bikin.”

Aku tertawa. Napasnya di leherku. Tangannya di punggungku, di bawah kaus, kulit ke kulit, menyusuri tulang belakangku seperti membaca huruf braille, pelan, dari bawah ke atas.

Dan aku tahu, aku tahu dengan seluruh tubuhku, bahwa kalau aku tidak berhenti sekarang, aku tidak akan berhenti.

Aku menarik wajahku dari wajahnya. Hanya sedikit. Dahiku menempel di dahinya. Napas kami berdua pendek dan berat dan berantakan.

Ia menatapku. Matanya gelap. Bertanya.

Aku tertawa.

Tawa yang keluar dari dadaku, lepas, penuh, tanpa air mata di ujungnya. Tawa yang belum pernah keluar dari diriku sejak... sejak lift itu. Sejak lagu paling jelek di dunia.

“Nikahin aku cepet, Jun,” kataku di bibirnya. “Aku nggak sabaran.”

Ia menatapku. Lalu, pelan, senyumnya muncul. Senyum yang belum pernah kulihat. Senyum yang lebar sekali dan basah dan bodoh dan bahagia, senyum anak kecil yang baru melihat lampu menyala.

“Kamu yang berhenti kali ini,” katanya.

“Giliranku.”

“Kamu bilang kamu nggak sabaran.”

“Justru karena nggak sabaran.” Aku mencium hidungnya. “Kalau aku nggak berhenti sekarang, aku bakal nyesel nggak nunggu. Kamu bilang di villa, kamu mau pertama kali sebagai suamiku. Aku juga mau, Jun. Aku mau semuanya bener. Sekali ini aja, aku mau sesuatu yang nggak diburu-buru.”

Ia menatapku lama.

“Oke,” bisiknya.

“Tapi jangan lama-lama.”

“Berapa lama?”

“Secepat kamu bisa benerin lift yang macet.”

Ia tertawa. Tertawa keras, sampai sofa bergetar, sampai aku ikut terguncang di pangkuannya. Lalu ia memelukku. Erat. Menyembunyikan wajahnya di leherku.

“Aku cepet banget kalau benerin lift,” gumamnya.

“Aku tahu.”

“Kamu bakal kaget.”

“Aku nggak pernah kaget sama kamu, Jun.” Aku membelai rambutnya yang basah. “Aku cuma jatuh cinta. Terus-terusan.”


Kami berbaring di sofa sampai siang. Berpakaian. Kurang lebih. Ia memakai kaus oblong lain dari lemariku, kaus yang dulu kubeli waktu mabuk belanja dan terlalu besar untukku, dan celana training. Seragamnya yang berlumpur di mesin cuci. Aku berbaring di dadanya, mendengarkan jantungnya, yang sekarang berdetak pelan dan teratur.

Hujan di luar sudah reda. Matahari keluar dari balik awan, menembus jendela besar, jatuh di lantai marmer di depan pintu, di tempat formulir itu tergeletak di samping helm putih ukuran kecil.

“Val,” gumamnya, setengah tertidur.

“Hm.”

“Kamu lihatin aku.”

“Iya.”

“Kenapa?”

“Kamu ganteng.”

Ia membuka satu mata. “Sama persis kayak orang yang nyelamatin kamu?”

Aku tertawa sampai kepalaku jatuh dari dadanya.


Jam dua siang, HP-ku bergetar. Pesan dari Pak Darto.

Aku membukanya. Satu foto. Halaman buku saku, tapi bukan buku saku yang ia berikan kepadaku. Buku saku baru, sampul hitam, masih kaku. Ia pasti membelinya hari ini.

Tulisannya huruf kapital, rapi, seperti laporan dinas.

INSIDEN 24. APARTEMEN IBU. PUKUL 09.07. SUBJEK KEMBALI.

SUBJEK BASAH KUYUP. SUBJEK MENANGIS. IBU MENANGIS.

PINTU DITUTUP DARI DALAM. TIDAK SAYA CATAT LEBIH LANJUT.

CATATAN PRIBADI: SAYA SUDAH MENUNGGU INSIDEN INI SEJAK BASEMENT DUA. TERIMA KASIH, MAS JUNA.

Di bawah foto itu, satu pesan lagi:

Bu. Buku saku yang lama disimpan Ibu saja. Saya mulai buku baru. Untuk arsip pernikahan.

Aku menunjukkan layar itu ke Juna. Ia membacanya, lalu menutup wajahnya dengan kedua tangan, dan aku tertawa lagi, dan tertawa, dan tertawa.

Ia yang minta. Aku yang jawab.

Kali ini, kami berdua yang duluan.