Chapter Twenty

Kamu Bayar Utang

POV: Juna

Aku mengganti bantalan rol lift nomor tiga dalam empat jam.

Biasanya pekerjaan itu makan waktu dua jam. Hari itu aku mengerjakannya empat jam karena aku membongkar setiap baut dua kali, memeriksa setiap kabel tiga kali, dan mengelap setiap permukaan logam sampai mengilap seperti cermin. Aku tidak mau berhenti. Kalau aku berhenti, aku harus memikirkan sesuatu selain lift.

Bang Ucok naik ke ruang mesin jam empat sore. Ia berdiri di ambang pintu besi, menatapku yang berlutut di depan motor lift dengan tangan hitam oli sampai siku.

“Jun.”

“Hm.”

“Aku dengar dari Kiki. Eh, Bu Kiki.” Ia diam sebentar. “Maaf. Aku nggak tahu soal tender itu bakal...”

“Bukan salah Abang.”

“Tetep aja. Mulutku ini.” Bang Ucok menepuk mulutnya sendiri. “Pepatah bilang, mulutmu harimaumu.”

“Itu bener, Bang.”

Bang Ucok tidak menyangka aku setuju. Ia menatapku lama, lalu masuk dan duduk di peti kayu di dekat pintu.

“Kamu marah sama dia?”

Aku memasang baut terakhir. Mengencangkannya. Mengendurkannya. Mengencangkannya lagi.

“Aku nggak tahu, Bang.”

“Dia bohong?”

“Dia nggak bohong. Dia cuma nggak bilang.”

“Itu beda?”

“Beda.” Aku mengelap kunci pas dengan lap kotor. “Dia nggak pernah bohong, Bang. Itu yang bikin susah. Kalau dia bohong, aku bisa marah. Tapi dia nggak bohong. Dia cuma ngasih. Diam-diam. Terus aku nerima. Tanpa tahu.”

Bang Ucok diam lama. Kipas angin industri berputar di atas kami.

“Jun,” katanya akhirnya. “Kamu tahu kenapa aku nikah sama istriku?”

“Kenapa, Bang?”

“Karena dia bayarin utang motorku waktu aku dipecat dari bengkel. Diam-diam. Aku baru tahu tiga bulan kemudian.” Bang Ucok tertawa kecil. “Aku marah. Aku bilang ke dia, aku laki-laki, aku nggak mau dibayarin perempuan. Terus dia bilang, ‘Aku bayarin motormu bukan karena kamu laki-laki atau perempuan. Aku bayarin karena aku mau kamu tetep bisa jemput aku.’”

Aku menatapnya.

“Pepatah bilang...” Bang Ucok berhenti. Berpikir. “Nggak ada pepatahnya, Jun. Aku cuma mau cerita.”

Ia berdiri, menepuk bahuku yang berlumur oli, dan turun.


Aku tidak pulang langsung.

Aku menyetir motor tanpa tujuan. Melewati Cawang, di bawah papan reklame wajahnya. Aku tidak melihat ke atas. Melewati angkringan Mbah Karto di pinggir rel. Aku tidak berhenti. Melewati taman kecil di dekat kanal, tempat aku menyuapinya bubur di jok belakang mobil tanpa tahu sedang merayakan hari yang kuberikan sendiri.

Jam sembilan malam, aku sampai di rusun.

Gang gelap.

Bukan gelap biasa. Gelap total. Lampu jalan mati. Jendela-jendela rusun mati. Gerobak Bu Sum sudah tutup, terpal birunya terlipat. Hanya ada cahaya lilin di beberapa jendela dan senter HP yang berkedip-kedip di tangga.

Mati lampu. Seluruh blok.

Aku memarkir motor dan menatap gedung rusun yang hitam di bawah langit Jakarta yang oranye kusam.

Waktu kecil, aku takut gelap. Takut sampai muntah. Bapak duduk di sebelahku, pegang tanganku, dan bilang kalimat itu. Lalu menghitung sampai sepuluh. Lalu nyanyi.

Bapak sudah tidak ada. Aku sudah tidak takut gelap. Aku sudah sembilan tahun bekerja di lubang lift yang lebih gelap dari ini.

Tapi malam ini, menatap rusun yang hitam, aku merasa seperti anak kecil lagi.


Aku tidak masuk ke unit kami. Aku naik terus, melewati lantai lima, ke atap.

Atap jemuran sunyi. Tali-tali jemuran kosong, bergoyang pelan tertiup angin dari kanal. Dari atas sini, aku bisa melihat seluruh blok yang gelap, dan di luar blok, lampu-lampu kota yang masih menyala, jauh, seperti dunia lain.

Aku duduk di lantai semen, bersandar ke tembok pembatas, dan menatap gelap.

Di saku seragamku, formulir lecek itu. Aku tidak mengeluarkannya. Aku tahu kalimat terakhir yang kutulis di sana. Jawaban: Dia yang nerima. Aku yang ngasih. Lima tahun lalu.

Dan di bawahnya, kalimat yang tidak kutulis tapi ada di sana, seperti tinta yang tidak kelihatan:

Kalau aku bukan orang yang ngasih, dia bakal cium aku nggak?


Aku mendengar langkah di tangga.

Pelan. Ragu-ragu. Sepatu yang bukan sepatu kets, bukan sandal jepit. Hak. Hak sepatu di anak tangga semen yang retak, dalam gelap.

Lalu cahaya senter HP muncul di pintu atap.

“Jun?”

Suaranya. Aku tahu suaranya dari satu suku kata.

Aku tidak menjawab.

Cahaya senter menyapu atap. Menyapu tali-tali jemuran yang kosong. Lalu menemukanku di pojok, bersandar ke tembok. Cahaya itu berhenti di wajahku, lalu cepat-cepat turun ke lantai, seperti tidak mau menyilaukan mataku.

“Tari bilang kamu belum pulang,” kata Valerie. “Terus Pak RT bilang lihat motor kamu. Terus Bu Sum bilang kamu suka ke atap kalau lagi...”

Ia berhenti.

“Kalau lagi apa?” tanyaku.

“Kalau lagi sedih.”

Aku diam.

Ia berjalan mendekat. Pelan, hati-hati, karena atap gelap dan lantainya tidak rata. Aku mendengar haknya tersandung sesuatu, mungkin pipa, mungkin ember bekas. Ia oleng. Aku refleks berdiri setengah, tanganku terulur.

Ia tidak jatuh. Ia menemukan keseimbangannya sendiri. Lalu ia menatap tanganku yang terulur di udara, dan aku menarik tanganku kembali.

Wajahnya, dalam cahaya senter yang menghadap ke bawah, berubah sedikit.

Ia mematikan senter. Gelap total. Lalu aku mendengar ia duduk di lantai semen, di sebelahku, tidak terlalu dekat. Setengah meter.

Kami duduk dalam gelap.

“Kamu naik lima lantai pakai heels,” kataku akhirnya. “Dalam gelap.”

“Enam. Sama atap.”

“Kamu bisa jatuh.”

“Aku nggak jatuh.”

“Tadi hampir.”

“Tapi nggak.” Ia diam sebentar. “Kamu ngulurin tangan.”

“Refleks.”

“Aku tahu,” katanya pelan. “Kamu selalu refleks nolong orang. Itu yang aku takutin.”

Aku menoleh. Dalam gelap, aku hanya bisa melihat siluetnya. Garis rahangnya, rambutnya yang diikat, bahunya yang memeluk lututnya sendiri.

“Takutin kenapa?”

“Karena aku takut aku cuma salah satu orang yang kamu tolong refleks.” Suaranya pelan. “Orang di lift. Nenek di Kemang. Orang asing yang butuh sel punca. Aku.”


Hening. Angin dari kanal membawa bau air dan sisa asap obat nyamuk dari jendela tetangga.

“Kamu dateng buat apa, Val?” tanyaku.

“Buat ngomong.”

“Kemarin udah ngomong.”

“Kemarin kamu yang ngomong. Aku cuma nangis.” Ia menarik napas. “Hari ini giliranku.”

“Oke.”

Ia diam lama. Aku bisa mendengarnya menyusun kalimat, seperti aku bisa mendengar Valerie menyusun pesan WhatsApp dari titik tiga yang muncul dan hilang.

“Aku salah,” katanya akhirnya. “Soal kontrak. Soal promosi. Soal beasiswa. Aku salah karena aku nggak tanya kamu. Aku ngatur hidupmu kayak aku ngatur perusahaan. Aku pikir aku tahu yang terbaik buat kamu, terus aku lakuin aja, tanpa izin.”

Aku diam.

“Itu kebiasaanku,” lanjutnya. “Dari setelah sakit. Aku pikir hidupku ini bonus. Aku nggak mau buang satu hari pun. Jadi kalau aku lihat sesuatu yang bisa aku bikin lebih baik, aku langsung bikin. Nggak nunggu. Nggak tanya.” Suaranya bergetar. “Aku minta maaf, Jun. Beneran.”

Aku menatap gelap di depanku. Lampu-lampu kota yang jauh.

“Aku nggak marah soal kontrak, Val,” kataku.

Ia menoleh. Aku merasakan gerakannya dalam gelap.

“Aku juga nggak marah soal promosi,” lanjutku. “Atau beasiswa. Aku nggak suka. Tapi aku nggak marah.”

“Terus kenapa kamu nggak nelepon semalam?”

Aku diam. Lama.

“Karena aku nggak tahu kamu cinta aku atau cinta yang aku kasih,” kataku.


Kalimat itu menggantung di udara gelap.

Valerie tidak menjawab. Aku mendengar napasnya berhenti.

“Jun,” katanya pelan. “Jangan.”

“Aku harus ngomong ini, Val.”

“Jangan ngomong itu.”

“Kamu cari aku karena kartu itu. Kamu cari aku karena aku yang ngasih sel punca. Kamu cium aku di lobby karena aku yang nyelamatin kamu.” Suaraku tenang. Terlalu tenang. Seperti suara orang yang menjelaskan cara kerja rem lift jam dua pagi. “Itu bukan salah. Itu wajar. Kalau aku jadi kamu, aku juga pasti cari orang itu.”

“Jun...”

“Tapi setelah ketemu, kamu terus ngasih. Kontrak. Promosi. Beasiswa. Bubur. Skincare. Kamu nggak berhenti ngasih.” Aku menatap tanganku dalam gelap. Tangan yang masih ada sisa oli di bawah kukunya. “Dan aku nggak bisa berhenti mikir, kamu lagi bayar.”

“Aku nggak bayar!”

“Kamu mungkin nggak sadar, Val.”

“Berhenti bilang aku nggak sadar!” Suaranya naik. Pecah di ujung. “Aku sadar! Aku sadar semuanya!”

“Terus jawab aku.” Aku menoleh ke siluetnya. “Kalau aku bukan donormu. Kalau aku cuma teknisi lift yang lagi berlutut di lobby hari itu. Laki-laki biasa, seragam abu-abu, noda oli di lutut. Kamu bakal cium aku?”

Hening.

“Kamu bakal lihat aku, Val? Atau kamu bakal jalan lewat, kayak semua orang lain yang pakai jas di lobby itu?”

Valerie tidak menjawab.

Hening itu terasa seperti jawaban. Bukan karena ia tidak punya jawaban. Karena ia tidak bisa menjawab tanpa berbohong, atau tanpa mengatakan sesuatu yang tidak bisa ia katakan.

Aku mendengar ia menarik napas. Gemetar.

“Aku punya...” katanya. Lalu berhenti.

“Punya apa?”

“Aku punya...” Ia berhenti lagi. Lama. Aku mendengar ia menelan ludah. “Nggak. Lupain.”

“Punya apa, Val?”

“Aku nggak mau kamu percaya karena itu.”

“Karena apa?”

“Aku mau kamu percaya karena aku.” Suaranya hancur. “Karena kamu kenal aku. Karena kamu udah lihat aku nangis di lift, makan nasi kucing lima bungkus, tidur meluk sweter kamu. Karena kamu tahu aku. Bukan karena bukti.”

“Bukti apa?”

Ia tidak menjawab.

Aku menatap siluetnya dalam gelap. Ada sesuatu di sana. Sesuatu yang ia pegang erat, yang tidak mau ia keluarkan. Seperti dompet kulit warna krem yang ia rebut dari tanganku di anak tangga retak berminggu-minggu lalu.

Dan aku lelah. Aku sangat lelah. Aku sudah lelah menunggu nanti.

“Kamu selalu nyimpen sesuatu, Val,” kataku pelan.

Ia diam.

“Dari hari pertama. Kamu bilang nanti. Nanti aku cerita. Sebentar lagi. Aku nunggu. Aku selalu nunggu. Aku nunggu waktu kamu takut lift. Aku nunggu waktu kamu nggak boleh donor. Aku nunggu waktu kamu nangis di mobil tanggal 17 Maret.” Suaraku retak sekarang. Aku tidak bisa menahannya lagi. “Aku nunggu karena aku pikir, waktu kamu cerita, semuanya bakal jelas. Terus kamu cerita. Terus ternyata ada lagi. Kontrak. Promosi. Beasiswa. Registri. Sekarang ada lagi. Bukti apa. Aku nggak tahu.”

“Jun...”

“Aku nggak tahu masih ada berapa nanti lagi, Val.”


Ia menangis.

Pelan dulu. Lalu tidak bisa ditahan. Ia menangis di lantai semen di atap rusun, dalam gelap, di sebelahku, dan aku duduk diam setengah meter darinya dan tidak memeluknya.

Aku ingin memeluknya. Seluruh tubuhku ingin. Tanganku terkepal di lutut, menahan.

Karena kalau aku memeluknya sekarang, aku akan bilang nggak apa-apa. Aku akan bilang aku percaya. Dan besok pagi, aku akan bangun dan pertanyaan itu masih di tengah dadaku, di kursi yang paling besar.

“Kamu nggak cinta aku, Val,” kataku. Pelan sekali. Setiap kata terasa seperti mencabut baut yang berkarat. “Kamu cinta orang yang nyelamatin kamu. Dan kamu lagi bayar utang.”

Tangisnya berhenti.

Mendadak. Seperti lift yang ditekan tombol merahnya.

Dalam gelap, aku merasakan ia berbalik menghadapku. Aku merasakan tatapannya, walaupun aku tidak bisa melihatnya.

“Kalau aku cuma mau bayar utang,” katanya. Suaranya sangat pelan, sangat jernih, dan sangat dingin. Suara CEO. Suara yang membekukan rapat direksi. “Aku transfer uang. Satu miliar. Sepuluh miliar. Aku CEO, Jun. Aku bisa bayar utang nyawa dengan angka yang bikin kamu nggak perlu kerja lagi seumur hidup.”

Aku diam.

“Aku nggak transfer uang. Aku naik tangga lima lantai. Enam. Pakai heels. Dalam gelap.” Suaranya mulai bergetar lagi. “Aku makan bubur di pinggir kanal. Aku naik motor pakai helm Tari. Aku tidur di karpet di depan perapian dan nggak ngapa-ngapain karena kamu bilang mau aku jadi istrimu dulu. Aku nunggu. Aku, yang paling nggak sabar se-Jakarta, nunggu.”

“Val.”

“Orang bayar utang nggak nunggu, Jun. Orang bayar utang mau cepet lunas.” Ia menarik napas, gemetar. “Aku nggak mau lunas. Aku mau seumur hidup.”

Aku menatap siluetnya. Dadaku sakit. Sangat sakit.

“Terus kenapa kamu atur semuanya?” tanyaku. Suaraku hampir tidak ada. “Kenapa kamu bayar kontraknya, promosinya, beasiswanya?”

“Karena aku sayang kamu dengan cara yang salah.” Ia tertawa, pahit, basah. “Aku nggak pernah diajarin cara sayang yang bener. Aku diajarin cara ngatur. Cara nyelesaiin masalah. Cara bikin angka cocok. Aku lihat kamu capek, aku selesaiin. Aku lihat Tari butuh, aku selesaiin. Kayak laporan kuartal.”

“Aku bukan laporan kuartal, Val.”

“Aku tahu!” Suaranya pecah. “Aku tahu sekarang! Aku baru tahu kemarin! Waktu kamu berdiri di kantorku dan bilang kamu nggak bisa percaya apa-apa lagi!”


Lampu menyala.

Tiba-tiba. Tanpa peringatan. Di bawah kami, jendela-jendela rusun menyala satu per satu, lantai demi lantai, seperti lift yang naik. Lampu jalan di gang berkedip lalu menyala. Lampu neon di tangga. Lampu bohlam di atap, satu-satunya, tergantung di kabel di dekat pintu, menyala kuning pucat di atas kepala kami.

Dari bawah, aku mendengar sorak tetangga. Anak-anak berteriak. Seseorang menyalakan televisi dengan volume terlalu keras.

Dan di atap, di bawah bohlam kuning pucat, aku melihat wajahnya untuk pertama kalinya malam itu.

Wajahnya hancur.

Riasan matanya luntur, hitam di bawah mata. Pipinya basah dan merah. Bibirnya bengkak karena digigit. Rambutnya yang diikat sudah setengah lepas. Ia masih memakai blazer dari kantor, dan di lututnya ada noda debu semen dari lantai atap.

Ia menatapku. Aku menatapnya.

Dan di bawah cahaya itu, aku melihat sesuatu yang membuatku tidak bisa bernapas.

Ia tidak menatapku seperti orang yang berutang. Ia tidak menatapku seperti orang yang sedang membayar sesuatu.

Ia menatapku seperti orang yang sedang kehilangan sesuatu.

Dan aku tidak tahu, aku sungguh tidak tahu, apakah itu cukup.

Karena pertanyaan di dadaku masih duduk di kursinya. Dan suara di kepalaku, suara yang sudah ada sejak aku umur dua puluh, sejak amplop di pemakaman Bapak dan tagihan tiga bulan sesudahnya, masih berbisik dengan pelan dan sabar dan masuk akal:

Orang yang kehilangan sesuatu juga bisa kehilangan utang. Kamu nggak bisa bedain.


Valerie berdiri.

Pelan. Ia menyeka wajahnya dengan punggung tangan, yang membuat riasan matanya makin berantakan. Ia merapikan blazernya. Ia menepuk debu semen di lututnya.

Ia menatapku dari atas.

“Kamu nggak harus percaya malam ini,” katanya. Suaranya serak tapi tenang. “Tapi kamu harus tahu satu hal.”

Aku menatapnya.

“Aku lihat kamu sebelum...” Ia berhenti.

Aku menunggu.

“Sebelum apa?”

Valerie menatapku lama. Bibirnya terbuka. Aku melihat kalimat itu di sana, di ujung lidahnya, seperti hari itu di jok belakang mobil, 17 Maret, waktu ia hampir mengatakan sesuatu dan tidak jadi.

Lalu ia menutup mulutnya.

“Sebelum kamu lihat aku,” katanya akhirnya.

Aku tidak mengerti. Aku tidak mengerti sama sekali.

“Itu nggak masuk akal, Val.”

“Aku tahu.” Ia tersenyum. Senyum paling sedih yang pernah kulihat di wajah siapa pun. “Nanti masuk akal.”

Nanti.

Aku menutup mata.

Ketika aku membukanya lagi, ia sudah berjalan ke pintu atap. Langkahnya pelan, hati-hati di lantai yang tidak rata. Di ambang pintu, ia berhenti. Tidak menoleh.

“Kamu udah makan?” tanyanya.

Kalimatku. Kalimat yang kukirim pertama kali, jam sebelas malam, setelah lift yang berhenti.

Aku tidak menjawab.

Ia menunggu tiga detik. Lalu ia turun.

Aku mendengar haknya di anak tangga semen. Satu. Dua. Tiga. Pelan, hati-hati, menuruni enam lantai yang sekarang terang. Aku mendengar suara Tari di lantai lima, memanggil Kak, pelan, seperti bertanya. Aku tidak mendengar jawaban Valerie.

Lalu, jauh di bawah, mesin mobil menyala. Mobil itu pergi.


Aku duduk di atap sampai jam satu pagi.

Bohlam kuning di atas kepalaku dikerubungi laron. Tali-tali jemuran bergoyang. Lampu-lampu rusun di bawah padam satu per satu, kali ini karena orang-orang tidur, bukan karena listrik mati.

Tari naik ke atap jam satu lewat sepuluh. Ia memakai piyama beruang dan membawa dua gelas teh tawar hangat. Ia duduk di sebelahku, di tempat Valerie tadi duduk, dan menyodorkan satu gelas.

“Mas.”

“Hm.”

“Kakak nangis di tangga. Lama. Aku peluk.” Ia menyesap tehnya. “Dia bilang jangan bilang Mas. Tapi aku bilang.”

Aku menatap gelas teh di tanganku.

“Mas kenapa?”

Aku tidak bisa menceritakannya. Belum. Tidak soal beasiswa. Tidak soal Yayasan Cahaya Bangsa dan Bu Ratih dan pencairan yang dipercepat. Tari baru saja membeli buku-buku kuliah dengan uang saku beasiswanya. Tari baru saja tersenyum di depan foto Bapak dan Ibu.

“Besok Mas cerita, Tar,” kataku.

Tari menatapku lama.

“Mas kayak Kakak,” katanya pelan.

“Kenapa kayak Kakak?”

“Selalu bilang nanti.” Ia menyesap tehnya lagi. “Kalian berdua sama-sama suka bilang nanti. Kalian berdua sama-sama nyimpen sesuatu. Kalian berdua sama-sama nggak mau orang lain khawatir.”

Aku tidak bisa membantah.

Tari menyandarkan kepalanya di bahuku. Seperti waktu ia kecil, di atap yang sama, waktu Bapak dan Ibu baru meninggal dan kami tidak bisa tidur dan naik ke sini untuk melihat lampu-lampu kota.

“Mas,” katanya pelan. “Kakak sayang Mas. Aku lihat. Bukan karena darah. Aku nggak tahu darah-darahan. Tapi aku lihat cara dia lihat Mas.”

“Gimana caranya?”

Tari diam sebentar.

“Kayak Mas lihat lift,” katanya. “Kayak dia mau benerin semua yang rusak, padahal nggak ada yang nyuruh.”

Aku menatap lampu-lampu kota yang jauh.

Aku tidak tahu apa artinya itu. Tapi aku tahu, entah kenapa, bahwa itu adalah kalimat paling benar yang pernah diucapkan adikku.

Dan aku tidak tahu, sungguh tidak tahu, kenapa kalimat itu tidak cukup untuk membuat pertanyaan di dadaku duduk lagi di sudut.