Chapter Eighteen

Siapa yang Menang Tender

POV: Juna

Selama tiga hari setelah malam itu, aku bahagia.

Aku ingin mencatat itu dengan jujur, karena apa yang terjadi sesudahnya membuat tiga hari itu mudah dilupakan. Tapi tiga hari itu nyata. Tiga hari itu, aku bangun pagi dan hal pertama yang kupikirkan adalah: dia hidup. Dan hal kedua: sebagian dari aku ada di dia. Dan hal ketiga: dia memilih aku.

Hari Sabtu, aku mengantarnya pulang ke apartemennya di Kuningan dengan motor, karena ia menolak dijemput Pak Darto. Ia memeluk pinggangku sepanjang jalan, pipinya di punggungku, dan di setiap lampu merah ia berbisik sesuatu ke tengkukku. Golongan darahku sekarang kamu. Kamu nggak bisa kabur lagi, Jun. Kamu udah ada di dalam aku. Aku sayang kamu. Aku sayang kamu. Aku sayang kamu.

Hari Minggu, ia datang ke rusun membawa tiga kotak martabak dan duduk di lantai ruang tengah bersama Tari, dan mereka berdua menangis lagi waktu Tari menunjukkan foto-foto lama dari tahun itu. Foto aku yang jalannya seperti kakek-kakek. Foto aku tertidur di kursi plastik dengan plester di kedua lipatan siku.

“Kamu bilang keseleo,” kata Valerie, menatap foto itu.

“Aku memang keseleo. Di hati.”

Valerie memukul lenganku. Tari memukul lenganku yang satunya. Aku tertawa.

Hari Senin, ia meneleponku jam dua pagi dan tidak bilang apa-apa selama lima menit. Hanya napas. Lalu ia bilang, aku cuma mau dengar kamu napas, terus inget darahmu juga lagi napas di sini, dan aku tidak tahu apakah itu masuk akal secara medis, dan aku tidak peduli.

Tiga hari.

Pertanyaan kecil dan dingin itu tetap diam di sudut dadaku. Aku tidak menyentuhnya. Aku tidak melihatnya. Aku pura-pura ia tidak ada.

Lalu hari Selasa, Bang Ucok membuka mulut.


Kami sedang makan siang di ruang istirahat kantor. Aku, Bang Ucok, Gilang, dan dua teknisi dari tim lain. Nasi bungkus, es teh, gorengan. Seperti biasa.

Bang Ucok sedang bercerita soal sepupunya.

“Sepupuku itu kerja di bagian pengadaan Hadinata Land,” katanya, menyuap nasi. “Yang ngurusin tender-tender. Kemarin aku ketemu dia di kondangan. Dia nanya, ‘Cok, temenmu yang dicium Bu Valerie itu, kerja di vendor kamu, kan?’ Aku bilang iya. Terus dia ketawa.”

“Kenapa ketawa?” tanya Gilang.

“Dia bilang, ‘Pantesan.’” Bang Ucok mengunyah. “Aku tanya, pantesan apa. Dia bilang, tender lift Hadinata Tower itu aneh dari awal.”

Sendokku berhenti di udara.

“Aneh gimana?” tanyaku.

Bang Ucok tidak melihat wajahku. Ia sedang sibuk memisahkan kulit ayam dari dagingnya. “Katanya biasanya tender lift buat gedung sebesar itu, yang dipanggil lima vendor. Yang besar-besar. Yang punya kantor di Singapura. Vendor kita kan kecil, Jun. Nggak pernah masuk daftar.”

“Terus?”

“Terus beberapa bulan lalu, tiba-tiba ada perintah dari atas. Dari lantai 40. Langsung dari Bu Valerie. Vendor kita harus dipanggil. Terus vendor lain nggak dipanggil sama sekali. Tender dua minggu, biasanya tiga bulan. Kontrak lima tahun.” Bang Ucok tertawa sambil mengunyah. “Sepupuku bilang semua orang di bagian pengadaan bingung. Ada yang ngira Bu Valerie punya saham di vendor kita. Ternyata...”

Ia mengangkat kepala, menatapku, dan menyeringai.

“Ternyata buat kamu, Jun. Dari sebelum peresmian dia udah ngincer. Romantis, kan?”

Gilang tertawa. Dua teknisi dari tim lain bersiul.

Aku tidak tertawa.

Aku menatap nasi bungkusku. Di kepalaku, kalimat-kalimat lama menyala satu per satu, seperti lampu indikator di panel lift.

Kontrak Hadinata Tower itu kontrak terbesar kita tahun ini, Juna. Lima tahun pemeliharaan. Pak Hendrik, hari kedua.

Kontrak Hadinata Tower dulu juga turunnya cepat banget. Kebetulan, ya? Gilang, minggu lalu.

Aku cari kamu satu tahun. Valerie, di bawah terpal, Jumat malam.

Enam bulan lalu aku tahu itu kamu.

Aku meletakkan sendokku.

“Jun?” Bang Ucok berhenti menyeringai. “Kenapa? Aku salah ngomong?”

“Nggak, Bang.” Aku berdiri. “Aku ke ruang mesin dulu.”


Ruang mesin Hadinata Tower ada di lantai paling atas, di atas lantai 40, di balik pintu besi yang hanya bisa dibuka dengan kunci khusus. Ruangannya panas, bising, penuh dengung motor-motor lift dan bau oli dan logam. Tidak ada jendela. Hanya lampu neon putih di langit-langit dan kipas angin industri yang berputar pelan.

Sejak jadi supervisor, aku punya meja kecil di pojok ruangan ini. Meja besi dengan laptop kantor, map berisi kontrak pemeliharaan, dan gelas kopi yang sudah dingin dari pagi.

Aku duduk di meja itu dan membuka map kontrak.

Aku sudah membaca kontrak ini minggu lalu, waktu pertama kali jadi supervisor. Aku membaca bagian teknisnya: jadwal pemeliharaan, standar pengujian, prosedur darurat. Aku tidak membaca halaman-halaman pertamanya. Halaman-halaman yang isinya soal tender, soal penunjukan vendor, soal tanda tangan.

Aku membacanya sekarang.

Halaman tiga. Berdasarkan disposisi Direktur Utama tertanggal...

Tanggalnya empat bulan lalu.

Halaman empat. Penunjukan langsung kepada PT Elevasi Prima Teknik, dengan pertimbangan...

Pertimbangannya tiga baris kalimat umum soal kapabilitas teknis dan rekam jejak keselamatan. Tidak ada perbandingan dengan vendor lain. Tidak ada vendor lain sama sekali.

Halaman terakhir. Tanda tangan. Di atas nama Valerie Sasmita Hadinata, Direktur Utama, ada tanda tangan miring yang sudah kukenal. Tanda tangan yang sama dengan yang ada di kartu kecil di kotak setelan jas yang kukembalikan. Buat Jumat. Ukurannya aku tebak dari waktu peluk kamu di motor. — V.

Aku menutup map itu.

Lalu aku membuka laptop dan mencari surat promosiku.


Surat promosiku tersimpan di folder email. Aku membukanya lagi. Membaca dengan teliti, kalimat per kalimat, seperti membaca diagram kelistrikan yang ada salahnya di suatu tempat.

Berdasarkan evaluasi kinerja dan rekomendasi...

Rekomendasi.

Aku tidak memperhatikan kata itu waktu pertama kali membaca. Waktu itu aku hanya melihat kata supervisor dan angka gaji dan tanggungan keluarga.

Aku menelepon bagian SDM kantor pusat. Seorang perempuan muda dengan suara ramah menjawab.

“Selamat siang, saya Juna Mahesa, supervisor baru dari cabang Jakarta Timur. Saya mau tanya soal surat promosi saya. Di situ tertulis ‘berdasarkan rekomendasi’. Rekomendasi dari siapa, ya, Mbak?”

“Sebentar, Pak, saya cek.” Bunyi ketikan. “Oh, ini, Pak. Rekomendasi dari klien utama. Hadinata Land. Ada surat resmi dari Direktur Utama mereka, minta tim yang menangani Hadinata Tower dipimpin oleh Bapak. Karena kinerjanya bagus, katanya.”

Aku diam.

“Pak? Halo?”

“Kapan surat itu masuk, Mbak?”

“Tiga minggu lalu, Pak.”

Tiga minggu lalu. Seminggu setelah pasar malam. Seminggu setelah PMI. Beberapa hari sebelum villa di Puncak.

“Terima kasih, Mbak.”

“Sama-sama, Pak. Selamat, ya, Pak. Jarang lho klien sebesar itu kasih rekomendasi langsung.”

Aku menutup telepon.

Kipas angin industri berputar pelan di atas kepalaku. Motor-motor lift berdengung. Salah satunya, motor lift nomor tiga, berbunyi sedikit lebih kasar dari yang lain. Bantalan rolnya mulai aus. Aku tahu dari bunyinya. Biasanya aku akan langsung berdiri dan memeriksanya.

Hari ini aku tidak berdiri.


Aku tahu apa yang harus kucari berikutnya.

Aku tidak mau mencarinya. Tanganku di atas keyboard laptop tidak bergerak selama hampir satu menit. Aku tahu, kalau aku mengetik nama itu dan menekan enter, sesuatu akan rusak. Seperti tahu bahwa kalau kau membuka panel tertentu di lift yang sedang jalan, alarmnya akan berbunyi.

Yayasan Cahaya Bangsa.

Aku mengetiknya.

Hasil pertama adalah situs resmi yayasan. Warna biru dan putih. Foto anak-anak berseragam sekolah tersenyum di depan bangunan sekolah baru. Program beasiswa untuk mahasiswa berprestasi dari keluarga kurang mampu.

Aku menggulir ke bawah. Ke bagian Tentang Kami.

Yayasan Cahaya Bangsa adalah lembaga filantropi yang didirikan oleh Hadinata Group pada tahun...

Aku berhenti membaca.

Lalu aku memaksa diriku melanjutkan.

Ketua Dewan Pembina: Ibu Ratih Hadinata.

Ada foto. Bu Ratih, dengan kebaya hijau sage yang sama seperti malam itu, tersenyum di depan sekelompok mahasiswa yang memegang sertifikat.

Bu Ratih yang memelukku di ambang pintu. Yang menangis. Yang bilang akhirnya.

Aku menutup laptop.


Aku duduk di ruang mesin itu lama sekali.

Dengung motor. Bau oli. Kipas angin yang berputar pelan. Lampu neon putih yang membuat segalanya terlihat datar dan tanpa bayangan.

Di dalam kepalaku, aku membuka formulir lecek itu. Aku tidak mengeluarkannya dari saku. Aku tidak perlu. Aku hafal isinya.

Lalu aku menulis daftar baru di kepalaku. Daftar yang tidak pernah ingin kutulis.

Kontrak vendor. Penunjukan langsung. Tanda tangan Valerie. Empat bulan lalu.

Empat bulan lalu. Tiga bulan setelah ia menemukan Bu Sum. Tiga bulan setelah ia duduk di mobil di seberang gerobak bubur dan mendengar suaraku. Ia memastikan perusahaanku dapat kontrak di gedungnya. Supaya aku ada di sana. Di lobby. Di hari pertama.

Promosi. Rekomendasi klien utama. Tiga minggu lalu.

Beasiswa Tari. Yayasan Cahaya Bangsa. Ketua Dewan Pembina: Ratih Hadinata. Pencairan dipercepat.

Pencairan dipercepat. Tari bilang begitu, di ambang pintu, dengan HP di kedua tangan dan mata berkaca-kaca. Pengumumannya harusnya bulan depan. Tapi mereka kirim email sekarang.

Aku menangis malam itu. Aku menangis di ruang tengah rusun, memeluk adikku, menatap foto Bapak dan Ibu, dan berkata Bapak, Tari dapet beasiswa.

Aku berterima kasih kepada foto Bapak untuk sesuatu yang dibeli oleh pacarku.

Sesuatu di dadaku, di sudut, yang kecil dan dingin, berhenti diam.

Ia bergerak. Ia membesar. Ia mengisi ruang yang tiga hari ini kupenuhi dengan dia hidup dan dia memilih aku.

Kalau aku bukan orang yang ngasih, dia bakal cium aku nggak?

Pertanyaan itu sudah tidak di sudut lagi. Pertanyaan itu duduk di tengah dadaku, di kursi yang paling besar, dan menatapku.


Aku ingat malam di villa. Perapian. Kabut di jendela.

Apa pun yang aku kasih ke kamu, nggak ada tagihannya. Nggak ada cicilannya. Nggak ada bunganya.

Aku ingat aku memutuskan untuk percaya.

Aku ingat paman-paman, tetangga-tetangga, teman-teman Bapak, sembilan tahun lalu, waktu aku umur dua puluh dan Tari umur dua belas. Orang-orang yang menawarkan bantuan. Yang tulus dan yang tidak. Aku ingat bagaimana rasanya menerima amplop dari seseorang di pemakaman Bapak, lalu tiga bulan kemudian orang yang sama datang ke rumah dan berkata kamu harus bantu anak saya masuk kerja di tempatmu, kan dulu saya bantu kamu.

Aku ingat bagaimana rasanya setiap kali seseorang memberi sesuatu, dan aku tidak tahu kapan tagihannya akan datang.

Jadi aku berhenti menerima. Lebih gampang memberi daripada menerima. Kalau memberi, tidak ada yang bisa menagihmu.

Dan sekarang, aku duduk di ruang mesin di atas lantai 40, dan aku menyadari bahwa selama berminggu-minggu, aku menerima. Kontrak. Promosi. Beasiswa adikku. Skincare. Dua ratus mangkuk bubur. Lima ratus lembar uang dua ribuan.

Semuanya dari dia.

Dan aku tidak tahu.

Aku tidak menagih. Aku tidak pernah menagih. Tapi ia membayar.

Ia membayar.

Kata itu jatuh di dadaku seperti beban penyeimbang yang lepas dari talinya.

Lima tahun lalu aku memberikan sesuatu kepada orang asing. Dan sekarang orang asing itu sedang membayarnya kembali. Dengan kontrak. Dengan promosi. Dengan beasiswa. Dengan ciuman di lobby di depan seratus kamera.

Dengan dirinya.


Motor lift nomor tiga berbunyi kasar lagi. Bantalan rolnya. Kalau tidak diganti minggu ini, bulan depan bisa macet.

Aku berdiri.

Bukan untuk memeriksa motor itu. Aku berdiri dan berjalan ke pintu besi ruang mesin, membukanya, menuruni tangga sempit ke lantai 40.

Koridor berkarpet abu-abu. Sunyi. Langkahku tidak terdengar. Jantungku terdengar sampai telinga, seperti hari itu, hari aku datang tanpa dipanggil dan berkata kalau Mbak serius, saya juga serius.

Kiki berdiri di depan meja resepsionis koridor dengan tablet. Ia mengangkat kepala, melihatku, dan senyumnya muncul. Lalu ia melihat wajahku, dan senyumnya hilang.

“Juna?”

Aku tidak berhenti.

“Juna, kenapa? Mukamu...”

“Valerie ada, Bu?”

Kiki menatapku. Lalu menatap map di tanganku. Map kontrak pemeliharaan, dengan logo Hadinata Land di sampulnya. Aku tidak sadar aku membawanya turun.

Wajah Kiki berubah. Pucat. Ia tahu. Tentu saja ia tahu. Ia yang menemani Valerie menyusuri warung demi warung. Ia COO. Ia pasti ikut menandatangani sesuatu.

“Juna,” katanya pelan. “Tunggu dulu. Biar aku...”

“Dia ada, Bu?”

Kiki diam. Lalu, sangat pelan, ia mengangguk ke arah pintu kaca di ujung koridor.


Valerie duduk di kursinya, membaca laporan di layar laptop. Ia mengangkat kepala waktu aku muncul di ambang pintu kaca, dan wajahnya langsung bercahaya.

“Jun! Kok nggak bilang mau turun? Aku baru mau telepon kamu, mau ngajak makan siang di...”

Ia berhenti.

Ia melihat wajahku. Lalu map di tanganku. Lalu wajahku lagi.

Cahaya di wajahnya padam, pelan-pelan, seperti lampu lift yang meredup waktu listrik turun.

“Jun,” katanya.

Aku masuk. Aku tidak duduk di sofa. Aku tidak menaruh map itu di meja. Aku berdiri di tengah kantornya, di atas karpet tebal itu, di tempat yang sama aku berdiri berminggu-minggu lalu dan berkata saya bukan dunia Mbak.

“Val,” kataku. Suaraku datar. Aku tidak tahu dari mana datangnya suara itu. Itu bukan suaraku. Itu suara orang yang sedang membaca laporan kerusakan. “Aku mau tanya sesuatu.”

Ia berdiri pelan dari kursinya. Tangannya mencengkeram ujung meja.

“Tanya,” bisiknya.

“Kontrak vendor kami di gedung ini,” kataku. “Penunjukan langsung. Tanda tanganmu. Empat bulan lalu.”

Ia tidak menjawab. Ia tidak perlu menjawab. Wajahnya sudah menjawab.

“Promosiku. Rekomendasi dari Direktur Utama Hadinata Land.”

Matanya mulai basah.

“Beasiswa Tari,” kataku, dan suaraku, suara laporan kerusakan itu, akhirnya retak di tengah. “Yayasan Cahaya Bangsa. Ketua Dewan Pembina-nya mamamu.”

Hening.

Di luar dinding kaca, Jakarta terang benderang seperti biasa. Sebuah pesawat melintas, kecil seperti mainan.

Aku menatap perempuan di depanku. Perempuan yang darahnya darahku. Yang hidup karena sesuatu yang kuberikan lima tahun lalu sambil tidur menonton sinetron.

“Val,” kataku pelan. “Yang lain juga kamu?”