Chapter Twenty Five

Lift yang Sama

POV: Juna

Tari menelepon jam setengah lima sore.

Aku sedang berdiri di atas sangkar lift barang di lantai dua gudang Cikarang, mengencangkan klem kabel. Di lubang lift tidak ada sinyal. Tapi pagi itu aku sudah memindahkan HP-ku ke saku dada, dan setiap setengah jam aku naik ke lantai tiga, ke sudut dekat jendela tempat sinyalnya muncul satu batang, dan memeriksa layar.

Tidak ada pesan dari Valerie. Centang abu-abu masih abu-abu.

Jam setengah lima, waktu aku naik ke sudut itu untuk kesembilan kalinya, HP-ku langsung bergetar di tanganku. Nama di layar: Tari.

Sudah enam hari Tari tidak membalas pesanku.

Aku mengangkatnya.

“Tar...”

“Mas.” Suaranya hancur. Napasnya tersendat-sendat, seperti habis berlari. “Mas, Kakak di rumah sakit.”

Dunia berhenti.

Bukan seperti di lobby. Bukan seperti di lift yang berhenti. Dunia berhenti seperti malam sembilan tahun lalu, telepon dari nomor tidak dikenal, suara laki-laki asing yang sopan dan lelah: Mas Juna? Bapak sama Ibu Mas kecelakaan.

“Rumah sakit mana?” Suaraku keluar dari tempat yang jauh.

“Medika Harapan. Paviliun. Kamar paling ujung.”

“Kenapa? Tar, kenapa?”

“Kak Kiki bilang trombositnya turun. Kemarin biopsi. Biopsi tulang, Mas. Hasilnya tiga hari lagi.” Tari menangis keras. “Kakak nggak mau Mas tahu. Kakak matiin HP biar nggak telepon Mas. Kakak bilang dia nggak mau Mas balik karena kasihan.”

Aku tidak bisa bernapas.

Aku nggak mau Mas balik karena kasihan.

“Mas?”

“Mas berangkat.”

“Mas, aku masih marah sama Mas.”

“Mas tahu.”

“Aku masih marah banget.” Isakan. “Tapi Kakak lebih penting. Mas cepetan.”


Aku tidak ingat perjalanan dari Cikarang ke Jakarta.

Aku ingat Pak Slamet berteriak sesuatu waktu aku melewatinya di gerbang proyek dengan helm masih di tangan. Aku ingat jalan tol yang tidak cukup cepat. Aku ingat menyelip di antara truk kontainer di bahu jalan, sesuatu yang tidak pernah kulakukan seumur hidup. Aku ingat lampu merah di Cawang, di bawah papan reklame wajahnya, dan aku tidak berhenti. Aku melanggar lampu merah di bawah wajahnya.

Satu jam sepuluh menit.

Rumah Sakit Medika Harapan. Gedung putih bertingkat delapan, dengan atap biru dan logo palang merah di atas pintu masuk utama. Aku memarkir motor sembarangan di area drop-off, mengabaikan teriakan satpam, dan berlari masuk.

Lobby. Lantai granit putih. Kursi-kursi tunggu biru berderet. Bau antiseptik dan kopi kantin. Papan petunjuk: Paviliun Hadinata, Lantai 6, Gedung B.

Aku berlari ke lift.


Lift di gedung B rumah sakit itu tua.

Aku tahu dari jauh. Pintunya stainless steel yang sudah kusam, ada goresan-goresan halus bekas troli. Tombol panggilnya bulat, model lama, yang menyala oranye kalau ditekan. Panel indikator di atas pintunya masih memakai angka segmen tujuh, bukan layar digital.

Aku menekan tombol panggil. Menunggu. Angka di panel turun pelan: 6, 5, 4.

Lalu aku berhenti bernapas.

Aku pernah ke sini.

Bukan sebagai pengunjung. Sebagai teknisi. Lima tahun lalu, waktu vendor kami masih memegang kontrak pemeliharaan beberapa rumah sakit di Jakarta, sebelum kontraknya pindah ke perusahaan lain. Aku pernah memperbaiki lift ini. Aku pernah berdiri di depan pintu stainless steel yang kusam ini dengan kotak perkakas di tangan.

  1. 2. 1.

Pintu terbuka.

Aku masuk. Menekan angka 6. Pintu menutup. Pelan. Telat. Aku tidak sempat menghitung berapa.

Lift naik. Dengungnya kasar. Ada bunyi gesekan halus di rel pemandu, bunyi yang dulu kudengar juga. Bunyi yang sama. Lima tahun dan tidak ada yang memperbaikinya.

Di antara lantai tiga dan empat, lift bergetar sedikit. Hanya sedikit. Sentakan kecil, seperti orang tersandung.

Dan aku ingat.


Malam. Hujan. Lima tahun lalu, atau sedikit lebih.

Aku sedang piket malam, dan telepon darurat masuk jam sepuluh lewat: lift gedung B Medika Harapan macet di antara lantai tiga dan empat. Ada penumpang di dalam. Satu orang.

Aku datang dengan motor, basah kuyup. Satpam rumah sakit membawaku ke lantai tiga. Pintu lift tertutup. Dari dalam, tidak ada suara.

Aku mengetuk pintu. “Halo? Ada orang di dalam?”

Hening lama. Lalu suara. Suara perempuan, kecil, gemetar, dari balik pintu baja, dari celah sempit di atas pintu karena sangkarnya berhenti setengah di atas lantai.

“Ada.”

“Mbak nggak apa-apa?”

“Nggak tahu.”

“Mbak terluka?”

“Nggak. Aku cuma...” Suaranya pecah. “Aku nggak bisa napas.”

Aku ingat aku berlutut di lantai koridor yang dingin dan basah dari sepatuku sendiri, menempelkan wajahku ke celah pintu, dan berbicara ke dalam gelap.

Aku ingat ia bilang ia pasien. Aku ingat ia bilang ia harusnya tidak keluar kamar malam-malam, tapi ia tidak bisa tidur dan ingin ke kantin. Aku ingat ia bilang, setengah tertawa, setengah menangis: Jangan lihat, Mas. Aku botak. Aku pakai masker. Aku jelek banget.

Aku tidak bisa melihatnya. Celahnya terlalu sempit dan dalamnya gelap karena lampu sangkar mati. Aku hanya bisa mendengar suaranya. Dan ia hanya bisa mendengar suaraku.

Empat puluh menit. Itu yang dibutuhkan untuk menunggu teknisi kedua datang membawa kunci rem manual. Empat puluh menit aku berlutut di koridor itu dan bicara dengan perempuan yang tidak bisa kulihat.

Aku ingat aku cerita soal Tari. Soal Bu Sum. Soal bubur kacang ijo paling enak sedunia. Aku ingat ia tertawa waktu aku cerita soal kambing kurban Pak RT.

Aku ingat aku menyanyi.

Lagu itu. Lagu jelek itu. Aku baru membuatnya beberapa bulan sebelumnya, untuk nenek di Kemang. Malam itu aku menyanyikannya untuk kedua kalinya seumur hidup. Fals. Cengkok dangdut yang dipaksakan. Dan dari balik pintu baja, perempuan itu tertawa. Tawa yang tipis, serak, seperti orang yang sudah lama tidak tertawa.

Lalu lift berhasil diturunkan ke lantai tiga. Pintunya terbuka. Dan dua perawat langsung menerobos masuk, membungkus perempuan itu dengan selimut, mendudukkannya di kursi roda, dan membawanya pergi dengan cepat sebelum aku sempat berdiri dari lantai.

Aku tidak pernah melihat wajahnya.

Aku hanya melihat punggungnya. Bahu kecil di bawah selimut biru rumah sakit. Kepala yang tertutup topi rajut warna abu-abu.

Dan tangannya. Ia mengangkat tangannya dari balik selimut, melambai kecil ke arahku, tanpa menoleh, sebelum kursi rodanya menghilang di tikungan koridor.

Aku tidak pernah tahu namanya.

Aku menyebutnya mbak botak di laporan harianku malam itu. Penumpang 1 orang, perempuan, pasien, kondisi stabil, dibawa perawat. Lalu aku pulang, basah kuyup, dan...

Dan apa?

Aku tidak ingat. Ada sesuatu setelah itu. Sesuatu di lobby, sebelum aku pulang. Tapi ingatannya kabur, seperti kaca jendela berembun. Sudah lima tahun. Aku sudah menolong ratusan orang sejak itu.


Ting.

Lantai 6. Pintu terbuka.

Aku berdiri di dalam sangkar lift itu satu detik lebih lama dari seharusnya, menatap koridor putih di depanku, dan merasakan sesuatu yang aneh di dada.

Mbak botak. Di rumah sakit ini. Di lift ini.

Aku menggeleng. Ini bukan waktunya. Valerie di kamar paling ujung. Hasilnya tiga hari lagi.

Aku melangkah keluar.


Koridor paviliun Hadinata sunyi dan terlalu bersih. Lantai marmer krem, dinding berpanel kayu terang, lukisan-lukisan pemandangan di dinding. Bukan seperti rumah sakit. Seperti hotel.

Di ujung koridor, di depan pintu kamar paling ujung, berdiri tiga orang.

Pak Darto, tegak di samping pintu seperti biasa. Kiki, duduk di kursi tunggu dengan tablet di pangkuan dan mata bengkak. Dan Tari.

Tari berbalik waktu mendengar langkahku. Matanya merah. Wajahnya basah.

Aku berhenti tiga meter darinya.

Kami saling menatap. Adikku yang enam hari lalu membanting pintu dan pergi ke kos temannya. Adikku yang bilang Mas takut ditolong. Adikku yang tidak membalas satu pun pesanku selama enam hari.

“Tar,” kataku.

Ia berjalan ke arahku. Cepat. Lalu, satu langkah sebelum sampai, ia mengangkat tangannya dan memukul dadaku. Keras. Dengan kepalan tangan.

“Mas bodoh,” katanya.

“Iya.”

Pukulan kedua. “Mas bodoh banget.”

“Iya, Tar.”

Pukulan ketiga, lebih lemah. Lalu ia jatuh ke dadaku dan memelukku, dan menangis.

“Mas nggak percaya aku pinter,” isaknya.

“Kamu pinter, Tar.” Aku memeluknya erat-erat. “Kamu pinter banget. Kamu lebih pinter dari Mas. Mas yang bodoh. Mas yang nggak bisa lihat.”

“Mas jahat.”

“Iya.”

“Mas jahat sama Kakak juga.”

Aku tidak bisa menjawab. Aku hanya memeluk adikku di koridor rumah sakit yang terlalu bersih, dan menatap pintu kamar paling ujung dari atas kepalanya.


Pak Darto tidak menyingkir dari pintu.

“Mas Juna,” katanya, waktu aku akhirnya melepaskan Tari dan berjalan ke arah pintu itu.

“Pak. Saya mau ketemu Valerie.”

“Ibu tidak mau ketemu Mas.”

Aku berhenti.

“Ibu sudah bilang,” lanjut Pak Darto, wajahnya datar seperti biasa, tapi matanya tidak. “Kalau Mas datang, Mas tidak boleh masuk.”

“Pak...”

“Perintah Ibu, Mas.” Ia diam sebentar. “Saya minta maaf.”

Kiki berdiri dari kursinya. “Juna. Dia marah sama aku karena bilang Tari. Dia bilang dia nggak mau kamu...” Kiki berhenti. Menggigit bibir.

“Nggak mau aku balik karena kasihan,” kataku pelan.

Kiki menatapku. Lalu mengangguk.

Aku menatap pintu itu. Pintu kayu putih dengan pelat nomor kuningan. Di baliknya, ia berbaring. Dengan trombosit yang turun. Dengan bekas tusukan biopsi di tulang punggungnya. Dengan darahku yang mengalir di nadinya, darah yang mungkin gagal, darah yang mungkin...

Aku tidak menyelesaikan pikiran itu.

Aku duduk di lantai.

Di koridor marmer krem itu, di samping pintu kamar paling ujung, bersandar ke dinding berpanel kayu. Di sebelah kursi tempat Pak Darto biasa duduk.

“Mas,” kata Kiki. “Ngapain?”

“Nunggu.”

“Dia nggak mau ketemu kamu.”

“Aku nggak minta ketemu.” Aku menatap pintu itu. “Aku cuma nunggu.”


Aku menunggu tiga hari.

Tidak tiga hari penuh. Aku pulang setiap malam jam sebelas untuk mandi dan ganti baju, lalu kembali jam lima pagi. Aku mengambil cuti dari proyek Cikarang. Pak Hendrik mengizinkan tanpa bertanya, dan mengirim pesan WhatsApp berisi foto sebungkus kacang telur.

Aku duduk di lantai koridor itu dari pagi sampai malam. Kiki membawakan kopi. Tari membawakan nasi bungkus. Bu Ratih, waktu pertama kali keluar dari kamar dan melihatku duduk di lantai, menutup mulutnya dengan tangan dan menangis, lalu masuk lagi tanpa bicara.

Pak Darto duduk di kursinya. Di sebelahku. Diam.

Hari kedua, jam tiga sore, Pak Darto bicara.

“Lima tahun lalu,” katanya, menatap pintu yang sama, “saya duduk di kursi ini satu tahun.”

Aku menoleh.

“Bukan kamar ini. Kamar di lantai empat. Gedung lama. Waktu paviliun ini belum dibangun.” Ia menatap tangannya. “Setiap malam. Ibu nggak bisa tidur. Ibu takut gelap. Ibu takut tidur, terus nggak bangun.”

Aku tidak bicara.

“Satu malam,” lanjut Pak Darto, “Ibu keluar kamar diam-diam. Saya ketiduran di kursi. Waktu saya bangun, Ibu nggak ada. Saya cari ke mana-mana. Satu jam kemudian Ibu dibawa perawat balik ke kamar, pakai kursi roda, basah keringat, gemetar.”

Aku menatap Pak Darto. Sesuatu di dadaku bergerak.

“Tapi malam itu Ibu senyum,” kata Pak Darto. “Pertama kali dalam tiga bulan. Saya tanya kenapa. Ibu nggak mau cerita. Ibu cuma bilang...”

Ia berhenti.

“Bilang apa, Pak?”

Pak Darto menatapku lama. Lalu menggeleng pelan.

“Itu bukan cerita saya, Mas,” katanya. “Itu cerita Ibu.”


Malam kedua, jam sebelas kurang sepuluh, sebelum aku pulang, aku mendengar suara dari balik pintu.

“Pak Darto?”

Suaranya. Lemah, serak, tapi suaranya.

Pak Darto berdiri. “Siap, Bu.”

“Dia masih di luar?”

Pak Darto menatapku. Aku tidak bergerak. Aku tidak bernapas.

“Masih, Bu.”

Hening lama di balik pintu.

Lalu, sangat pelan: “Suruh dia pulang, Pak. Dia harus tidur.”

Aku berdiri. Pelan. Berjalan ke pintu. Menempelkan telapak tanganku ke kayu putih itu.

“Val,” kataku.

Hening.

“Val, aku di sini.”

Hening. Lalu, dari balik pintu, sangat dekat, seperti ia juga berdiri di sisi lain, menempelkan tangannya di kayu yang sama:

“Aku tahu.”

Suaranya. Dari balik pintu. Teredam kayu.

Dan untuk satu detik, aku merasakan sesuatu yang sangat aneh. Seperti déjà vu. Seperti pernah berdiri di depan pintu tertutup, berbicara dengan suara yang tidak bisa kulihat, di gedung ini, di malam lain...

“Kamu udah makan?” tanyaku.

Ia tertawa. Pendek, serak, basah. Dari balik pintu.

Tawa itu.

Aku membeku.

“Kamu kenapa?” tanyanya. “Kok diam?”

“Nggak,” kataku. “Nggak apa-apa.”

Aku tidak tahu kenapa. Aku tidak tahu apa yang baru saja terjadi di dadaku. Aku hanya tahu tawa itu terdengar seperti sesuatu yang pernah kudengar. Lama. Di tempat yang gelap.

“Pulang, Jun,” katanya pelan. “Tidur.”

“Aku tunggu sampai hasilnya keluar.”

“Kenapa?”

Aku menatap pintu itu. Kayu putih. Pelat nomor kuningan.

“Karena aku nggak bisa nggak nunggu,” kataku.

Hening panjang di balik pintu.

Lalu, sangat pelan, hampir tidak terdengar:

“Itu bukan jawaban yang aku takutin.”

Aku tidak mengerti. Tapi aku mendengar langkah kakinya menjauh dari pintu, pelan, menyeret, kembali ke ranjang.


Hari ketiga. Jam sepuluh pagi.

Dokter berkacamata dengan rambut hampir putih semua masuk ke kamar paling ujung membawa map cokelat. Bu Ratih dan Pak Bramantyo sudah di dalam sejak subuh. Kiki berdiri di depan pintu, tabletnya dipeluk di dada seperti perisai. Tari duduk di sebelahku di lantai, memegang tanganku erat-erat.

Pintu menutup.

Aku menghitung. Kebiasaan.

Satu menit. Dua menit. Tiga menit.

Lalu, dari balik pintu, suara.

Bukan tangis. Bukan teriakan.

Tawa. Tawa Bu Ratih, keras, pecah, bercampur isak. Lalu suara Pak Bramantyo, berat dan bergetar, mengucapkan sesuatu berulang-ulang: Alhamdulillah. Alhamdulillah. Alhamdulillah.

Kiki menutup wajahnya dengan tablet dan menangis.

Pintu terbuka sedikit. Dokter itu keluar, menatap kami semua di koridor, lalu menatapku. Ia tidak mengenalku. Tapi ia menatapku seperti mengenal sesuatu.

“Infeksi virus,” katanya. “Sumsum tulangnya bersih. Sel-selnya sehat. Semuanya bekerja sebagaimana mestinya.” Ia tersenyum. “Sel-sel yang bagus. Siapa pun donornya, dia kasih yang terbaik.”

Tari meremas tanganku begitu keras sampai jari-jariku sakit.

Aku tidak bisa bergerak.

Sel-sel yang bagus. Siapa pun donornya, dia kasih yang terbaik.

Darahku tidak gagal. Darahku bekerja. Di dalam tubuhnya, sekarang, sel-sel yang berasal dari tulangku sedang melakukan tugasnya. Tenang. Diam. Tidak minta apa-apa.

Ia sehat.


Aku berdiri dari lantai koridor itu jam sepuluh lewat lima belas.

Aku tidak masuk ke kamar itu.

Aku berjalan ke kantin rumah sakit. Bertanya apakah ada bubur kacang ijo. Tidak ada. Aku keluar rumah sakit, naik motor, menyetir empat puluh menit ke rusun, ke gerobak Bu Sum, dan membeli satu mangkuk dengan tutup plastik.

Bu Sum menatapku. “Buat Neng Valerie?”

“Iya, Bu.”

“Kenapa nggak kamu suapin sendiri?”

Aku tidak menjawab. Bu Sum menatapku lama, lalu menggeleng pelan, dan memberikan bubur itu dengan dua sendok, bukan satu.

Aku kembali ke rumah sakit. Empat puluh menit. Naik lift gedung B yang tua, yang bergetar di antara lantai tiga dan empat. Menyusuri koridor paviliun.

Kiki berdiri di depan pintu. Ia menatap bubur di tanganku, lalu wajahku.

“Dia tidur,” katanya pelan. “Baru tidur. Tiga hari dia nggak tidur.”

“Aku nggak masuk.”

Aku menyerahkan mangkuk bubur itu kepada Kiki. Lalu aku mengeluarkan formulir lecek dari saku jaketku, merobek sedikit bagian bawahnya yang masih kosong, dan menulis di atasnya dengan pulpen biru yang tintanya hampir habis.

Huruf-huruf miring ke kanan. Huruf g dengan ekor seperti kail.

Kamu sehat. Itu udah bayaran paling mahal.

Makan buburnya. Masih anget.

Aku tidak menandatanganinya. Ia tahu tulisan tangan ini. Ia sudah membacanya setiap hari selama satu tahun.

Aku melipat kertas itu dan menyelipkannya di bawah tutup mangkuk.

“Juna,” kata Kiki. Suaranya bergetar. “Kamu mau ke mana?”

“Cikarang.”

“Dia sehat, Juna. Kamu dengar dokternya. Dia sehat.”

“Iya.” Aku tersenyum ke arah pintu kamar paling ujung. Senyum yang terasa seperti mencabut sesuatu dari dadaku dengan tangan kosong. “Kalau dia sehat, aku pergi lagi.”

“Itu nggak masuk akal.”

“Masuk akal, Bu.” Aku memakai helm. “Kalau dia nggak butuh aku, dia bebas. Itu yang paling masuk akal.”

Aku berbalik dan berjalan ke lift.

Di belakangku, aku mendengar Kiki memanggil namaku, sekali, lalu diam. Aku mendengar Tari berlari menyusulku dan berhenti di tengah koridor. Aku mendengar Pak Darto berkata sesuatu pelan, terlalu pelan untuk kudengar.

Pintu lift tua itu terbuka. Aku masuk. Menekan tombol 1.

Pintu menutup. Pelan. Telat.

Lift turun. Dan di antara lantai empat dan tiga, ia bergetar lagi. Sentakan kecil, seperti orang tersandung.

Dan dalam kepalaku, sangat jauh, sangat samar, aku mendengar tawa itu. Tawa tipis, serak, dari balik pintu baja. Tawa dari lima tahun lalu.

Dan tawa dari balik pintu kayu putih, semalam.

Aku menempelkan dahiku ke dinding lift yang dingin dan memejamkan mata.

Itu nggak mungkin.

Itu nggak mungkin.

Lift sampai di lantai satu. Pintu terbuka. Aku keluar ke lobby yang terang, ke bau antiseptik dan kopi kantin, ke barisan kursi tunggu biru.

Dan di sudut lobby, di dekat pintu masuk, ada meja panjang dengan taplak putih dan banner kecil yang sudah pudar: Ayo Jadi Pahlawan: Daftar Donor Darah Rutin.

Aku menatap meja itu lama.

Ada sesuatu di sana. Di ingatanku. Di balik kaca berembun. Sesuatu tentang meja di lobby ini, lima tahun lalu, malam itu, setelah mbak botak menghilang di tikungan koridor.

Tapi aku tidak bisa mengingatnya.

Aku keluar ke parkiran, naik motor, dan menyetir ke Cikarang, satu setengah jam, dengan sesuatu yang belum bisa kuberi nama berdenging di kepalaku seperti alarm lift yang tidak ada yang mendengar.