Chapter Twenty Two

Laki-Laki yang Nggak Mau Apa-Apa

POV: Valerie

Tiga hari setelah basement, aku masih masuk kantor.

Kiki bilang aku gila. Mama bilang aku harus istirahat. Papa bilang ia akan membatalkan semua rapatku kalau aku tidak pulang. Aku tidak mendengarkan siapa pun. Jam tujuh pagi aku sudah duduk di kursiku di lantai 40, membaca laporan, menandatangani dokumen, memimpin rapat.

Aku tidak tersenyum di rapat. Aku memang tidak pernah tersenyum di rapat. Tapi minggu itu, direksi menatapku dengan cara yang berbeda. Bukan takut. Kasihan. Dan itu lebih buruk dari takut.

Direktur keuangan, laki-laki berkacamata yang dulu kupotong presentasinya dengan dua kalimat, menyerahkan laporan revisi hari Rabu dan berkata pelan, “Bu, kalau Ibu butuh apa-apa...”

Aku menatapnya. Ia langsung keluar ruangan setengah berlari, seperti biasa. Tapi sebelum pintu menutup, aku melihatnya menoleh. Wajahnya bukan wajah orang yang takut. Wajah orang yang ikut sedih.

Seluruh gedung tahu. Tentu saja seluruh gedung tahu. Basement dua punya CCTV, dan satpam punya grup WhatsApp, dan teriakanku bergema sampai basement satu.

Aku tidak peduli.


Setiap jam tujuh pagi, aku naik lift nomor tiga.

Bukan lift eksekutif yang langsung ke lantai 40. Lift nomor tiga. Lift yang pintunya dulu telat nol koma dua detik. Lift tempat aku memejamkan mata dan ia membersihkan lipstikku dengan tisu.

Pintunya sekarang menutup tepat waktu. Bantalan rolnya baru. Dia yang menggantinya, hari terakhirnya di sini, empat jam, sendirian di ruang mesin.

Setiap pagi aku berdiri di tengah lift itu dan menatap pantulanku di pintu baja. Sendirian. Tidak ada laki-laki di pojok yang memegang obeng seperti pegangan hidup. Tidak ada mata yang turun ke bibirku dua kali.

Lalu aku menekan tombol 40, dan pintunya menutup tepat waktu, dan aku membenci bahwa pintunya menutup tepat waktu.


Aku mengirim satu pesan setiap malam. Jam dua.

Hanya satu. Tidak lebih. Aku memaksa diriku tidak mengirim lebih dari satu, karena kalau aku mulai, aku tidak akan berhenti, dan itu akan jadi seperti kontrak dan promosi dan beasiswa: aku mengatur, aku mendesak, aku memastikan.

Aku sudah janji di basement. Aku tidak akan atur apa-apa lagi.

Jadi hanya satu pesan. Setiap malam. Kalimat yang sama.

Udah makan?

Malam pertama, centangnya abu-abu. Terkirim, belum dibaca.

Malam kedua, centangnya biru. Dibaca. Jam dua lewat empat menit. Tidak dibalas.

Malam ketiga, centangnya biru dalam tiga puluh detik.

Ia membaca. Ia membaca setiap malam. Ia tidak membalas.

Dan entah kenapa, itu lebih menyakitkan daripada kalau ia tidak membacanya sama sekali.

Malam keempat, aku mengetik Udah makan?, lalu sebelum mengirimnya, aku menambahkan satu kalimat. Aku tidak bisa menahannya.

Udah makan? Aku nggak akan atur apa-apa lagi. Tapi aku boleh kangen, kan? Kangen nggak ada di kontrak.

Centang biru. Lima belas detik.

Tiga titik muncul di layar.

Aku duduk tegak di kasur. Jantungku berhenti.

Tiga titik itu bertahan. Lima detik. Sepuluh. Aku tahu ritme ini. Ia sedang mengetik, menghapus, mengetik lagi. Biasanya ia butuh tiga kali hapus sebelum mengirim sesuatu yang manis.

Tiga titik itu hilang.

Aku menunggu. Satu menit. Lima menit. Tiga puluh menit.

Tidak ada yang datang.

Aku memeluk boneka kelinci dan menatap layar yang gelap sampai jam empat pagi.


Kiki dan Reza datang ke apartemenku hari Jumat malam.

Bersama. Dalam satu mobil. Itu sendiri seharusnya membuatku tertawa, tapi aku hanya membuka pintu dengan piyama dan rambut berantakan dan menatap mereka berdua tanpa ekspresi.

Kiki membawa sekotak martabak manis. Reza membawa sesuatu yang besar, terbungkus kain hitam, dan dua kantong plastik penuh.

“Apa itu?” tanyaku.

“Mesin karaoke,” kata Reza dengan bangga.

“Reza.”

“Portabel! Ada mikrofonnya dua! Ada lampu disko!”

“Reza, aku nggak mau karaoke.”

“Kamu butuh karaoke, Val.” Reza sudah melangkah masuk, menaruh mesin itu di ruang tengah, membuka kain hitamnya. “Penelitian bilang nyanyi bisa ngurangin hormon stres.”

“Penelitian mana?”

“Pokoknya ada.”

Kiki menatap Reza dengan wajah orang yang sudah menyerah sejak di parkiran. “Aku udah bilang, Za. Val nggak mau karaoke. Val butuh martabak sama nonton drama Korea sambil nangis.”

“Itu nggak menyelesaikan masalah.”

“Karaoke juga nggak!”

“Karaoke menyelesaikan semua masalah! Waktu aku ditolak Val pertama kali, aku karaoke tiga jam. Besoknya aku sembuh.”

“Kamu ditolak tiga kali, Za. Berarti karaoke-nya nggak berhasil.”

“Berhasil! Aku udah nggak sakit hati!”

“Kamu bikin pemain biola main dangdut di rooftop!”

“ITU BUKAN SAKIT HATI! ITU EKSPRESI SENI!”

Aku berdiri di ambang pintu, menatap mereka berdua bertengkar di ruang tengahku, Kiki dengan martabak di tangan dan Reza dengan mikrofon karaoke, dan sesuatu yang aneh terjadi di dadaku.

Aku tertawa.

Tidak keras. Tawa kecil, pendek, yang keluar dari hidungku. Tapi Kiki dan Reza langsung berhenti bertengkar dan menatapku, seolah aku baru saja bicara dalam bahasa asing.

“Val,” bisik Kiki. “Kamu ketawa.”

“Kalian berdua kayak suami istri,” kataku.

Kiki memerah. Reza memerah lebih parah, sampai ke leher. Mereka saling menatap, lalu saling membuang muka, lalu Kiki menyodorkan martabak ke arahku dengan kasar dan Reza mulai mencolokkan kabel mesin karaoke dengan kecepatan orang yang mencoba menghilang.

Aku makan martabak. Kiki memilih drama Korea. Reza, setelah dilarang karaoke, duduk di lantai dan memainkan lampu disko mesin karaokenya tanpa suara, sehingga ruang tengahku berkedip-kedip merah, biru, hijau, sepanjang malam.

Di tengah episode ketiga, waktu tokoh utama perempuannya menangis di halte bus, aku ikut menangis. Kiki memelukku. Reza, di lantai, menyodorkan tisu tanpa menoleh, dan lampu disko berkedip biru di wajahnya yang juga basah.


Papa menelepon hari Sabtu pagi.

“Pulang,” katanya. “Ke rumah. Makan siang.”

“Pa, aku capek.”

“Papa nggak nanya kamu capek atau nggak.” Suaranya keras. Lalu, lebih pelan: “Papa mau cerita sesuatu.”


Papa menunggu di gazebo di taman belakang. Gazebo yang sama tempat kami makan bubur kacang ijo setiap 17 Maret. Pohon kamboja di atasnya sedang menggugurkan bunga-bunga putih.

Mama tidak ada. Pelayan tidak ada. Hanya Papa, duduk di bangku kayu dengan kemeja batik yang kancingnya, kali ini, terpasang benar.

Aku duduk di seberangnya.

Papa diam lama. Ia menatap bunga kamboja yang jatuh di meja di antara kami.

“Lima tahun lalu,” katanya akhirnya, “setelah transplantasi kamu berhasil, Papa pergi ke registri.”

Aku menatapnya.

“Papa minta ketemu kepala registrinya. Papa bilang Papa mau kasih sesuatu ke donor itu. Terima kasih.” Papa memutar cincin kawin di jarinya. “Papa bawa cek. Angkanya... banyak. Cukup buat beli rumah. Dua rumah. Cukup supaya orang itu nggak perlu kerja lagi seumur hidup.”

“Pa...”

“Kepala registrinya bilang nggak bisa. Aturannya donor dan penerima nggak boleh saling kasih uang. Papa marah. Papa bilang Papa nggak peduli aturan. Papa bilang Papa mau anak Papa dibayar lunas.” Papa tertawa pahit. “Dibayar lunas. Kayak transaksi bisnis.”

Aku diam.

“Akhirnya kepala registri bilang, dia bisa sampaikan ke donornya. Tanpa nama. Tanpa cek. Cuma tawaran. Kalau donornya mau, mereka cari jalan.” Papa menatapku. “Dua minggu kemudian, mereka telepon Papa.”

“Terus?”

“Donornya nolak.”

Aku tidak bisa bernapas.

“Dia nggak mau apa-apa,” kata Papa pelan. “Kepala registri bacain pesannya ke Papa lewat telepon. Papa masih ingat. Kata per kata. Papa tulis di buku catatan Papa, terus Papa simpan sampai sekarang.”

Papa merogoh saku kemejanya. Mengeluarkan buku catatan kecil bersampul kulit yang sudah lusuh. Membukanya di halaman yang ditandai pita merah. Lalu ia membacakannya, dengan suara yang bergetar di tengah:

“Terima kasih, Pak. Tapi saya nggak jual. Saya cuma kasih. Semoga anak Bapak sehat terus dan hidup lama. Itu udah cukup.”

Papa menutup buku catatan itu.

Aku menangis. Aku tidak bisa menahannya. Bunga kamboja jatuh di bahuku, putih dan wangi, dan aku menangis di gazebo tempat kami mengucapkan terima kasih ke udara setiap tahun.

Saya nggak jual. Saya cuma kasih.

Lima tahun lalu. Ia menolak uang Papa. Dua tahun lalu, ia menolak bertemu denganku. Tiga minggu lalu, ia menolak jabatan kepala divisi dari Papa di halaman depan rumah ini. Empat hari lalu, ia menolak promosinya sendiri, menolak tim Hadinata Tower, menolak ciumanku di basement.

Ia menolak semuanya. Selalu. Dengan alasan yang sama.

“Malam itu,” kata Papa pelan, “waktu dia datang ke sini. Waktu Papa tanya dia mau kasih apa ke kamu. Dia bilang, cuma saya.”

“Iya, Pa.”

“Waktu Papa tawarin kerjaan, dia nolak. Dia bilang dia mau kamu bangga karena dia, bukan karena Papa.” Papa menggeleng. “Papa langsung tahu. Papa nggak perlu kamu bilang dia donornya. Papa udah tahu dari cara dia nolak. Cara nolaknya sama persis. Sopan. Pelan. Nggak bisa ditawar.”

“Papa bilang ke dia, dia mirip seseorang.”

“Papa nggak tahan.” Papa menyeka matanya dengan punggung tangan, cepat, seperti malu. “Papa udah lima tahun pengen ketemu orang itu. Pengen salaman. Pengen bilang terima kasih langsung. Terus dia berdiri di halaman Papa, pakai sepatu almarhum bapaknya, dan Papa nggak bisa bilang apa-apa.”

Kami diam. Bunga kamboja terus jatuh.

“Laki-laki itu nggak mau apa-apa, Val,” kata Papa akhirnya. “Dari dulu. Dari lima tahun lalu.”

“Aku tahu, Pa.”

“Dan kamu kasih dia segalanya.”

Aku menunduk.

“Kamu kasih dia kontrak. Promosi. Beasiswa adiknya.” Papa tidak terdengar marah. Ia terdengar sedih. “Kamu kasih dia semua hal yang dia tolak dari Papa lima tahun lalu. Bedanya, kamu kasih diam-diam. Jadi dia nggak bisa nolak.”

“Aku cuma mau...”

“Kamu mau hidupnya lebih ringan. Papa tahu.” Papa meraih tanganku di atas meja. “Papa juga mau gitu, lima tahun lalu. Papa mau bayar lunas. Papa mau nggak ada utang. Karena Papa nggak tahan ngerasa anak Papa hidup karena kebaikan orang asing yang nggak bisa Papa bales.”

Ia meremas tanganku.

“Nak. Laki-laki itu nggak butuh dibales. Dia cuma butuh percaya bahwa dia nggak lagi dibales.”


Aku pulang dari rumah Papa sore itu dengan satu keputusan.

Bukan keputusan untuk menyerah. Aku tidak akan menyerah. Aku sudah menunggu lima tahun. Aku bisa menunggu lebih lama.

Tapi aku tidak akan mengatur lagi.

Tidak ada kontrak. Tidak ada rekomendasi. Tidak ada yayasan. Tidak ada orang yang kusuruh, tidak ada strategi, tidak ada rencana tiga langkah yang kususun di kepala seperti presentasi untuk investor.

Di mobil, aku membuka laptop dan menulis email ke kantor pusat PT Elevasi Prima Teknik. Email resmi, dengan kop surat Hadinata Land, ditandatangani sebagai Direktur Utama.

Dengan ini kami mencabut surat rekomendasi tertanggal... terkait penunjukan supervisor tim pemeliharaan Hadinata Tower. Keputusan penempatan dan promosi karyawan sepenuhnya kami serahkan kepada kebijakan internal perusahaan Bapak/Ibu, berdasarkan penilaian kinerja yang objektif.

Aku menatap email itu lama. Lalu aku mengirimnya.

Lalu aku menulis email kedua. Ke Mama. Ketua Dewan Pembina Yayasan Cahaya Bangsa.

Ma. Beasiswa Tari. Tolong jangan diubah apa-apa. Biarkan proses seleksinya yang bicara. Kalau ada yang tanya, tolong bilang yang sebenarnya.

Aku mengirimnya juga.

Kontrak vendor lima tahun itu tidak bisa kubatalkan. Itu kontrak perusahaan, bukan kontrak pribadi, dan membatalkannya akan merugikan puluhan teknisi lain yang tidak bersalah. Bang Ucok. Gilang. Pak Hendrik dan anak kembarnya yang suka renang.

Tapi aku bisa berhenti di sana. Aku bisa berhenti menjadi orang yang menyelesaikan masalah orang lain tanpa bertanya.

Pak Darto, dari kursi sopir, melirikku lewat kaca spion.

“Bu,” katanya. “Ibu baik-baik saja?”

“Nggak, Pak.”

Ia mengangguk, seolah jawaban itu lebih baik dari yang ia harapkan.

“Pak Darto.”

“Siap, Bu.”

“Bapak masih punya buku sakunya?”

Pak Darto diam sebentar. Lalu ia mengeluarkan buku saku kecil itu dari saku jasnya dan menyerahkannya kepadaku lewat sela kursi, tanpa menoleh.

Aku membukanya.

Dua puluh tiga insiden. Huruf kapital semua. Rapi, seperti laporan dinas. INSIDEN 1. PUKUL 10.02. LOBBY. SUBJEK DICIUM. SUBJEK TIDAK MELAWAN. INSIDEN 1B. LIFT 3. SUBJEK MEMBERSIHKAN LIPSTIK. SUBJEK GEMETAR. INSIDEN 19. POHON KETAPANG. CATATAN PRIBADI: SAYA IKUT SENANG. INSIDEN 22. VILLA CISARUA. CATATAN PRIBADI: SAYA LEGA. SUBJEK LAKI-LAKI BAIK. INSIDEN 23. IBU CEMBURU. SAYA BELUM PERNAH LIHAT.

Aku membalik halaman.

Halaman berikutnya kosong. Di bagian paling atas, hanya ada satu baris, ditulis dengan tulisan yang lebih kecil dari biasanya, tidak dengan huruf kapital:

Basement dua. Tidak dicatat. Semoga nanti ada insiden 24.

Aku menutup buku saku itu dan menekannya ke dadaku.

“Pak,” kataku, suaraku serak. “Saya boleh pinjam ini?”

“Itu memang buat Ibu,” kata Pak Darto. “Dari awal.”


Malam itu, jam dua, aku mengetik pesan yang sama.

Udah makan?

Aku menatapnya. Lalu, setelah lama, aku menambahkan:

Papa cerita soal registri. Soal cek dua rumah yang kamu tolak lima tahun lalu. “Saya nggak jual. Saya cuma kasih.” Papa nyimpen kalimat itu di buku catatannya sampai sekarang.

Aku udah cabut rekomendasi promosimu. Aku udah minta Mama nggak ngubah apa-apa soal beasiswa Tari. Aku nggak akan atur apa-apa lagi, Jun. Bukan janji. Udah aku lakuin.

Kamu nggak harus bales. Kamu nggak harus balik.

Tapi aku masih di sini. Lift nomor tiga pintunya udah tepat waktu. Aku benci.

Aku mengirimnya sebelum aku bisa menghapusnya.

Centang biru. Dua puluh detik.

Tiga titik.

Aku menahan napas.

Tiga titik bertahan lama. Lebih lama dari malam keempat. Lima belas detik. Tiga puluh. Satu menit. Aku membayangkannya di kamar sempitnya di rusun, di bawah noda bocor berbentuk peta Kalimantan, mengetik dan menghapus dan mengetik lagi.

Tiga titik hilang.

Lalu muncul lagi.

Lalu, akhirnya, satu pesan masuk.

Udah.

Satu kata.

Aku menatap kata itu sampai mataku perih. Udah. Ia sudah makan. Ia membalas. Setelah empat hari, setelah basement, setelah ciuman di dahi dan teriakan yang bergema, ia membalas.

Satu kata. Tidak ada Val. Tidak ada Sayang. Tidak ada pertanyaan balik.

Tapi ia membalas.

Aku menekan HP ke dadaku dan menangis, kali ini dengan sesuatu yang hampir mirip lega, dan aku tidak mengirim apa-apa lagi malam itu. Aku tidak mau mendesak. Aku tidak mau mengatur.

Aku hanya berbaring di kasur yang terlalu luas, memeluk boneka kelinci dan buku saku Pak Darto, dan berbisik ke langit-langit:

“Udah makan. Bagus.”

Lalu, lebih pelan, kepada laki-laki yang tidak bisa mendengarku, di rusun lima lantai lima belas kilometer dari sini:

“Aku tunggu, Jun. Aku jago nunggu.”