Chapter Twelve
Makan Malam Keluarga Hadinata
POV: Juna
“Papa mau ketemu kamu,” kata Valerie di telepon, jam dua lewat lima pagi, dengan suara orang yang baru bangun dan tidak sadar sedang menjatuhkan bom.
Aku langsung duduk di kasur busa.
“Kapan?”
“Jumat malam. Makan malam di rumah.”
“Rumah siapa?”
“Rumah Papa sama Mama. Di Menteng.” Jeda. “Kamu kok napasnya cepat?”
“Nggak.”
“Napasmu kayak habis naik lima lantai.”
“Val, Papa kamu itu yang bikin separuh direksi Jakarta takut.”
“Iya.”
“Yang katanya pernah nolak presiden komisaris bank tiga kali.”
“Itu cuma gosip. Dua kali.” Ia menguap. “Santai, Sayang. Papa nggak gigit.”
“Papa kamu bikin direktur bank nangis.”
“Direktur bank memang gampang nangis.” Suaranya mengantuk, puas. “Kamu kan nggak gampang nangis.”
“Aku nangis waktu Tari dapet nilai A statistik.”
“Itu beda. Itu nangis bahagia.” Jeda. “Jumat, Jun. Pakai baju yang bikin kamu nyaman. Sisanya biar aku yang urus.”
Masalah pertama adalah baju.
Selasa sore, sebuah kotak besar dikirim ke rusun dengan kurir khusus. Di dalamnya ada setelan jas abu-abu gelap, kemeja putih, dasi biru tua, dan sepasang sepatu pantofel kulit yang mengilap seperti cermin. Ada kartu kecil di atasnya, tulisan tangan miring yang sudah kukenal: Buat Jumat. Ukurannya aku tebak dari waktu peluk kamu di motor. — V.
Tari mengeluarkan suara seperti ketel mendidih.
Aku menatap setelan jas itu lama. Kainnya halus. Labelnya merek yang hanya pernah kulihat di papan reklame mal. Harganya pasti lebih mahal dari motorku.
Lalu aku memasukkan semuanya kembali ke kotak, menutupnya, dan menelepon Valerie.
“Val.”
“Udah sampai? Cocok?”
“Aku nggak bisa pakai.”
Hening di seberang.
“Kenapa?” Suaranya mengecil. “Nggak suka modelnya? Aku bisa ganti. Aku bisa...”
“Bukan modelnya.” Aku menatap kotak itu. “Val, aku mau ketemu Papa kamu sebagai aku. Kalau aku pakai jas yang kamu beliin, Papa kamu bakal lihat jasnya. Bukan aku.”
Hening lagi. Lebih panjang.
“Aku nggak malu sama batikku,” kataku pelan. “Aku cuma takut kamu yang malu.”
“Jun.”
“Ya.”
“Kamu pakai batik yang di hotel itu, kan? Yang cokelat?”
“Iya.”
“Aku suka batik itu.” Suaranya bergetar sedikit. “Aku suka banget. Waktu kamu pakai itu di lobby hotel, aku lupa lagi marah sama satpam.”
“Jadi nggak apa-apa?”
“Nggak apa-apa.” Ia menarik napas. “Tapi sepatunya pakai, ya. Papa suka sepatu.”
Aku menatap sepatu pantofel mengilap di dalam kotak.
“Sepatunya aku kembaliin juga, Val.”
“Jun...”
“Aku punya sepatu pantofel. Punya Bapak. Aku semir.”
Hening yang paling panjang. Lalu, sangat pelan:
“Oke. Pakai punya Bapak.”
Rumah keluarga Hadinata ada di ujung jalan yang dinaungi pohon-pohon trembesi tua, di belakang pagar besi tinggi berwarna hitam. Rumahnya bergaya kolonial, putih, dua lantai, dengan pilar-pilar besar di teras depan dan jendela-jendela tinggi berbingkai kayu. Halamannya luas, rumputnya dipotong rata seperti karpet.
Aku memarkir motorku di antara dua mobil Eropa yang mengilap.
Valerie sudah menunggu di teras. Ia memakai gaun panjang warna biru tua, lengan pendek, potongannya sederhana tapi jatuh di tubuhnya seperti air. Rambutnya disanggul rendah. Anting-anting mutiara kecil di telinganya.
Ia berlari menuruni tangga teras begitu melihatku. Berlari dengan heels, di atas jalan setapak batu, dengan gaun panjang. Pak Darto, di belakangnya, membuat gerakan setengah melompat seperti mau menangkapnya kalau jatuh.
Ia tidak jatuh. Ia sampai di depanku, berhenti, dan menatapku dari kepala sampai kaki.
Batik cokelat tua. Celana kain hitam. Sepatu pantofel Bapak, yang kusemir dua jam semalam sampai jari-jariku hitam semua.
“Kamu ganteng banget,” katanya.
“Kamu yang...”
“Jangan balas. Biarin aku yang bilang duluan sekali-kali.” Ia merapikan kerah batikku, pelan, lalu tangannya berhenti di dadaku. “Gugup?”
“Sedikit.”
“Jantungmu nggak sedikit.”
“Oke. Banyak.”
Ia tersenyum, lalu berjinjit dan mencium pipiku. “Pipi nggak dihitung,” bisiknya. “Ayo. Mama udah nangis dari sore.”
“Kenapa Mama kamu nangis?”
Valerie tidak menjawab. Ia hanya menggenggam tanganku dan menarikku ke tangga teras.
Bu Ratih Hadinata berdiri di ambang pintu depan. Perempuan bertubuh mungil dengan rambut sebahu yang sudah sedikit beruban, memakai kebaya modern warna hijau sage. Wajahnya mirip Valerie, tapi lebih bulat, lebih lembut, dengan garis-garis tawa di sudut mata.
Ia menatapku.
Lalu matanya berkaca-kaca. Lalu air matanya jatuh. Lalu, sebelum aku sempat mengucapkan selamat malam, Bu, ia sudah melangkah maju dan memelukku.
Memeluk. Erat. Lama. Seperti memeluk anak yang pulang dari perang.
Aku berdiri kaku, tanganku menggantung di udara, tidak tahu harus ditaruh di mana. Aku menatap Valerie dari atas bahu Bu Ratih. Valerie menggigit bibirnya, matanya juga basah.
“Bu,” kataku pelan. “Selamat malam.”
Bu Ratih melepaskan pelukannya, tapi tidak melepaskan lenganku. Ia mengangkat satu tangan, menyentuh pipiku. Jemarinya gemetar.
“Akhirnya,” bisiknya.
Aku membeku.
Akhirnya. Kata yang sama. Kata yang diucapkan Valerie di lobby, dengan suara pecah, sebelum menciumku. Kata yang kutulis di bawah Teori #1, yang sampai sekarang belum bisa kujelaskan.
“Ma,” kata Valerie. Suaranya tajam. Pelan, tapi tajam.
Bu Ratih mengerjap. Ia menatap putrinya, lalu menatapku, lalu menyeka air matanya dengan punggung tangan sambil tertawa kecil.
“Akhirnya,” ulangnya, lebih ringan sekarang, “Valerie bawa pacar ke rumah. Dua puluh delapan tahun, Nak. Dua puluh delapan tahun Ibu nunggu.”
Aku tersenyum sopan. Bu Ratih tersenyum balik.
Tapi di sebelahku, Valerie menggenggam tanganku begitu erat sampai jari-jariku sakit.
Pak Bramantyo Hadinata tidak tersenyum.
Ia sudah duduk di ujung meja makan yang panjang, di ruang makan dengan lampu gantung kristal dan dinding berlapis panel kayu. Laki-laki enam puluhan, berbadan tegap, rambut perak disisir rapi ke belakang, kumis tipis. Ia memakai kemeja batik sutra warna gelap yang harganya mungkin sama dengan setahun sewa rusun kami.
Ia berdiri waktu aku masuk. Mengulurkan tangan.
Aku menjabatnya. Genggamannya keras. Sangat keras. Genggaman orang yang sedang mengukur sesuatu.
Aku tidak melemahkan genggamanku. Aku juga tidak mengencangkannya. Aku menjabat tangannya seperti aku menjabat tangan semua orang: mantap, hangat, tidak lebih, tidak kurang.
Ia menatap mataku tiga detik. Lalu melepaskan tangannya.
“Duduk,” katanya.
Aku duduk. Valerie di sebelah kiriku. Bu Ratih di seberang. Pak Bramantyo di ujung meja, di sebelah kananku, cukup dekat sehingga aku bisa mencium wangi kayu cendana dari kemejanya.
Pelayan menyajikan sup. Pak Bramantyo tidak menyentuh supnya.
“Juna,” katanya.
“Ya, Pak.”
“Kamu kerja di mana?”
“PT Elevasi Prima Teknik, Pak. Teknisi lift.”
“Sudah berapa lama?”
“Sembilan tahun, Pak.”
“Gaji kamu berapa?”
“Pa!” kata Valerie dan Bu Ratih bersamaan.
Aku menyebutkan angkanya. Jujur. Persis. Termasuk uang lembur dan potongan BPJS.
Pak Bramantyo tidak berkedip. Ia mengangguk sekali, seperti mencatat angka itu di kepalanya. Lalu:
“Itu tidak cukup untuk beli satu tas anak saya.”
“Pa,” kata Valerie, suaranya sekarang benar-benar suara CEO, suara yang membekukan ruang rapat. “Cukup.”
“Saya tahu, Pak,” kataku.
Pak Bramantyo menatapku.
“Saya tahu gaji saya nggak cukup buat beli tas Valerie,” kataku. “Saya juga tahu gaji saya nggak cukup buat beli rumah di Menteng, atau mobil kayak yang di depan, atau jas yang Valerie kirim minggu ini dan saya kembaliin.”
Bu Ratih menurunkan sendok supnya.
“Kamu kembalikan jasnya?” tanya Pak Bramantyo.
“Iya, Pak.”
“Kenapa?”
“Karena saya mau Bapak lihat saya. Bukan jasnya.”
Hening di meja makan. Lampu kristal di atas kepala kami berdenting pelan tertiup angin dari jendela.
Pak Bramantyo meletakkan kedua tangannya di atas meja, jari-jarinya bertaut. Ia mencondongkan badan ke arahku.
“Kalau begitu, Juna,” katanya pelan. “Apa yang bisa kamu kasih ke anak saya?”
Aku diam.
Aku sudah memikirkan pertanyaan ini sepanjang perjalanan motor dari rusun. Di setiap lampu merah. Aku sudah menyiapkan jawaban-jawaban: kesetiaan, kejujuran, kerja keras. Kata-kata yang bagus. Kata-kata yang terdengar seperti jawaban di sinetron yang ditonton Tari.
Tapi duduk di sini, di bawah lampu kristal, di sebelah Valerie yang tangannya mencengkeram lututku di bawah meja, semua jawaban itu terasa seperti jas yang bukan ukuranku.
“Nggak ada, Pak,” kataku. “Cuma saya.”
Pak Bramantyo tidak bergerak.
“Saya nggak punya apa-apa yang Valerie belum punya,” lanjutku. “Dia lebih kaya dari saya, lebih pintar dari saya, lebih berani dari saya. Saya nggak bisa kasih dia rumah, mobil, atau liburan ke Eropa. Saya cuma bisa kasih diri saya. Jam dua pagi kalau dia nggak bisa tidur. Tangan saya kalau dia takut. Sayur asem resep ibu saya kalau dia lapar.”
Aku menatap Pak Bramantyo.
“Kalau itu nggak cukup, Pak, saya ngerti. Tapi saya nggak bisa bohong dan bilang saya punya yang lain.”
Hening.
Panjang sekali. Begitu panjang sampai aku bisa mendengar detak jam dinding antik di pojok ruangan, dan napas Valerie yang tertahan di sebelahku, dan Bu Ratih yang menyeka matanya diam-diam dengan serbet.
Pak Bramantyo menatapku. Lalu, perlahan, ia mengambil sendok supnya.
“Sup kamu dingin,” katanya. “Makan.”
Itu saja.
Aku mengambil sendokku. Di bawah meja, cengkeraman Valerie di lututku perlahan melonggar, lalu berubah jadi usapan. Pelan. Bolak-balik. Seperti mengusap sesuatu yang mudah tergores.
Hidangan kedua adalah ikan kakap bakar dengan sambal matah. Hidangan ketiga adalah perdebatan soal lift.
Aku tidak tahu bagaimana mulainya. Pak Bramantyo bertanya soal gedung Hadinata Tower, lalu soal lift-nya, lalu tiba-tiba ia sudah menjelaskan dengan penuh keyakinan bahwa lift di gedung tinggi pakai sistem hidrolik, seperti dongkrak mobil, dan itulah sebabnya lift bisa naik empat puluh lantai.
“Pak,” kataku hati-hati. “Lift empat puluh lantai pakai sistem traksi. Bukan hidrolik.”
Pak Bramantyo menurunkan garpunya. “Hidrolik.”
“Hidrolik cuma buat gedung rendah, Pak. Maksimal enam atau tujuh lantai. Pistonnya nggak bisa lebih tinggi dari itu.”
“Saya pernah baca.”
“Bapak bacanya di mana?”
“Di majalah.”
“Majalah apa, Pak?”
Pak Bramantyo diam. Bu Ratih menutup mulutnya dengan serbet, bahunya bergetar.
“Traksi itu pakai tali baja, Pak,” lanjutku. “Tali bajanya dililit di puli di ruang mesin paling atas. Di ujung satunya sangkar lift, di ujung satunya lagi beban penyeimbang. Jadi motornya nggak angkat seluruh berat lift. Cuma selisihnya.”
“Beban penyeimbang,” ulang Pak Bramantyo.
“Iya, Pak. Kayak timbangan. Satu sisi lift, satu sisi beban. Motornya cuma dorong sedikit, timbangannya yang kerja.”
Pak Bramantyo menatapku. Lalu menatap istrinya. Lalu menatap Valerie.
“Kenapa nggak ada yang pernah bilang ke saya?” tanyanya.
“Karena nggak ada yang berani koreksi Papa,” kata Valerie.
“Kamu berani.”
“Aku nggak tahu soal lift.”
Pak Bramantyo kembali menatapku. Ada sesuatu di matanya yang berubah. Bukan senyum. Belum. Tapi sesuatu yang sedikit kurang keras.
“Lanjutkan,” katanya. “Beban penyeimbangnya beratnya berapa?”
Dan aku melanjutkan.
Aku menjelaskan soal beban penyeimbang, soal tali baja, soal governor dan rem pengaman. Pak Bramantyo bertanya lagi, dan lagi, dan lagi. Ia mengeluarkan pulpen dari saku kemejanya dan menggambar diagram di belakang kartu menu, dan aku mengoreksi gambarnya, dan ia mengoreksi koreksiku, dan ia salah, dan ia mengakui salah.
Di tengah semua itu, Valerie mencondongkan badan ke arahku. Dekat sekali. Bibirnya di telingaku. Tangannya di bawah meja, di atas lututku, naik sedikit, hanya sedikit, cukup untuk membuat seluruh tubuhku tegang.
“Papa lagi nanya soal mesin lift,” bisiknya. “Fokus, Sayang. Jangan mikirin aku yang pakai gaun ini.”
Aku tersedak air putih.
“Kamu kenapa?” tanya Pak Bramantyo.
“Nggak apa-apa, Pak. Keselek.”
Valerie bersandar kembali ke kursinya, mengangkat gelas anggurnya, dan menyesapnya dengan wajah tanpa dosa. Tangannya masih di lututku.
Di seberang meja, Bu Ratih tersenyum kepada putrinya. Senyum seorang ibu yang tahu persis apa yang sedang terjadi di bawah meja dan memutuskan tidak melihatnya.
Bel pintu berbunyi di tengah hidangan penutup.
Pelayan membukakan pintu, dan suara yang sangat kukenal terdengar dari ruang depan: “Tante! Om! Maaf telat! Ada macet di Thamrin!”
Reza Danuarta masuk ke ruang makan dengan kemeja biru muda dan senyum presenter kuis. Ia membawa sekotak kue dari toko roti mahal.
“Reza,” kata Valerie datar. “Kamu nggak diundang.”
“Aku diundang Tante!” Reza menunjuk Bu Ratih. “Tante bilang ‘kapan-kapan main ke rumah’. Ini kapan-kapan.”
“Itu tiga tahun lalu, Reza.”
“Kapan-kapan nggak ada tanggal kedaluwarsanya, Val.”
Bu Ratih tertawa dan menyuruh pelayan menyiapkan satu kursi lagi. Reza tidak duduk di kursi yang disiapkan. Ia menariknya ke sebelahku, di sisi kanan, mendesak Pak Bramantyo sedikit ke ujung, dan duduk dengan wajah berbinar.
“Juna! Bro! Ketemu lagi!”
“Mas Reza.”
“Gimana? Udah di-interogasi Om?”
“Udah, Mas.”
“Udah ditanya gaji?”
“Udah.”
“Udah ditanya mau kasih apa?”
“Udah.”
Reza menatapku dengan mata lebar. “Kamu jawab apa?”
“Cuma saya.”
Reza terdiam. Lalu ia menoleh ke Pak Bramantyo, lalu ke Valerie, lalu kembali kepadaku, dan menepuk-nepuk bahuku dengan kekuatan yang berlebihan.
“Itu,” katanya penuh semangat, “itu tekniknya! Nggak ngapa-ngapain! Cuma saya! Om, aku dulu jawab apa waktu ditanya?”
Pak Bramantyo menatap Reza datar. “Kamu jawab portofolio saham keluargamu.”
“Lima belas menit,” kata Bu Ratih.
“Pakai slide,” tambah Valerie.
Reza menutup wajahnya dengan kedua tangan. Lalu, dari balik tangannya, dengan suara yang tiba-tiba berbeda, malu, pelan, ia bertanya kepadaku: “Bro. Kalau mau ngajak orang makan malam kedua kali, harus ngomong apa?”
Valerie langsung menoleh. “Orang siapa?”
“Nggak siapa-siapa.”
“Reza.”
“Orang aja, Val. Orang.”
“Kiki?”
Reza diam. Telinganya merah. Merah sampai ke leher, seperti telingaku.
Valerie menatapnya lama. Lalu senyum pelan muncul di wajahnya, senyum yang miring itu, yang nakal, yang biasanya ia pakai untukku.
“Rooftop,” katanya. “Tujuh hidangan. Pemain biola. Kalian berdua.”
“Itu kebetulan!”
“Kamu suruh pemain biolanya main dangdut.”
“Itu permintaan tulus dari hati!”
Pak Bramantyo, di ujung meja, mengeluarkan suara aneh. Suara pendek, tertahan, dari tenggorokan. Aku butuh dua detik untuk sadar bahwa itu tawa.
Ketika hidangan penutup selesai dan kopi disajikan, Pak Bramantyo berbicara soal pekerjaan dengan Reza. Soal proyek properti, soal investor, soal rumah sakit.
“Paviliun di Medika Harapan sudah selesai renovasi,” kata Pak Bramantyo. “Kamu sudah lihat, Reza? Lima tahun lalu kita bangun, sekarang sudah...”
Bunyi garpu jatuh ke piring.
Aku menoleh. Garpu kue Valerie tergeletak di piringnya, dan tangannya, yang tadi memegangnya, sekarang terdiam di udara. Wajahnya tidak berubah. Masih tenang. Masih wajah CEO. Tapi ia tidak berkedip.
Bu Ratih, di seberang meja, langsung mengulurkan tangan dan menyentuh punggung tangan putrinya. Pelan. Tanpa kata.
Pak Bramantyo berhenti bicara. Ia menatap putrinya. Lalu, dengan kelancaran orang yang sudah terbiasa mengganti topik di tengah rapat, ia menoleh kepada Reza: “Gimana proyek Bekasi?”
Reza, yang tidak menyadari apa-apa, langsung bercerita panjang soal proyek Bekasi.
Aku menatap Valerie.
Ia mengambil garpunya lagi. Memotong kuenya. Memasukkannya ke mulut. Mengunyah. Wajahnya tenang. Tangannya hampir tidak gemetar.
Hampir.
Di bawah meja, aku mencari tangannya dan menggenggamnya. Tangannya dingin. Dingin seperti di PMI, sebelum jarum masuk.
Ia tidak menoleh. Tapi jari-jarinya membalas genggamanku, erat, seperti orang yang berpegangan di lift yang berhenti.
Aku tidak bertanya. Aku menyimpan nama itu. Medika Harapan. Di sebelah semua catatan kecil di formulir lecek di saku batikku.
Pukul sepuluh malam, waktu aku mengambil helm dari motorku di halaman depan, Pak Bramantyo keluar dari pintu samping dan berjalan ke arahku.
Sendirian. Tanpa Valerie, tanpa Bu Ratih, tanpa Pak Darto.
Aku menegakkan badan.
Ia berhenti di sebelah motorku. Menatapnya. Motor bebek tua, catnya sudah kusam, jok-nya ditambal di satu sudut. Lalu ia menatap sepatuku.
“Sepatu itu,” katanya. “Bukan dari Valerie.”
“Bukan, Pak. Punya almarhum bapak saya.”
Pak Bramantyo diam lama.
“Saya punya divisi pemeliharaan gedung,” katanya akhirnya. “Di Hadinata Land. Kepala divisinya pensiun tahun depan. Gajinya lima kali gajimu sekarang. Mobil dinas. Asuransi keluarga.”
Aku menatapnya.
“Saya bisa kasih posisi itu ke kamu,” lanjutnya. “Besok.”
Aku memegang helmku. Aku memikirkan Tari dan kuliahnya. Aku memikirkan cicilan motor yang belum lunas. Aku memikirkan rusun lima lantai tanpa lift.
“Terima kasih, Pak,” kataku. “Tapi saya nggak bisa terima.”
Pak Bramantyo tidak terlihat terkejut.
“Kenapa?”
“Karena kalau saya kerja di bawah Bapak, setiap kali Valerie bangga sama saya, dia nggak akan pernah tahu banggaannya karena saya atau karena Bapak.” Aku menatap sepatu Bapak di kakiku. “Saya mau dia bangga karena saya, Pak. Walaupun banggaannya kecil.”
Pak Bramantyo menatapku lama. Sangat lama. Lampu taman di belakangnya menyala kuning, dan bayangannya jatuh panjang di atas rumput yang dipotong rata.
Lalu ia berkata sesuatu yang aneh.
“Kamu mirip seseorang.”
“Siapa, Pak?”
Pak Bramantyo tidak menjawab. Ia menatap ke langit malam, ke arah pohon-pohon trembesi tua yang daunnya bergoyang pelan.
“Orang yang pernah menolak saya,” katanya. “Dulu.”
Lalu ia menepuk bahuku, dua kali, keras, dan berjalan kembali ke rumah tanpa menoleh.
Aku berdiri di samping motorku, memegang helm, menatap punggungnya sampai ia menghilang di balik pintu samping.
Valerie mengantarku sampai gerbang. Pak Darto berjaga di pos satpam, pura-pura memeriksa monitor CCTV.
“Papa ngomong apa tadi?” tanyanya.
“Nawarin kerjaan.”
Valerie berhenti berjalan. “Terus?”
“Aku tolak.”
Ia menatapku. Lalu, perlahan, ia tersenyum. Senyum yang lebar dan basah dan sangat bangga, seperti aku baru saja memenangkan boneka kelinci di pasar malam untuk kedua kalinya.
“Papa suka kamu,” katanya.
“Kok tahu?”
“Papa kalah debat sama kamu dan nggak marah.” Ia menggenggam kedua tanganku. “Papa nggak pernah kalah debat, Jun. Dan kalau kalah, dia marah tiga hari. Malam ini dia kalah dan dia ketawa.”
“Aku dengar. Kayak orang keselek.”
“Itu tawa Papa yang paling tulus.”
Aku tertawa. Lalu, karena gerbang sudah dekat dan malam sudah larut dan ia terlalu cantik di bawah lampu taman dengan gaun biru tuanya, aku menariknya pelan ke balik pilar gerbang, keluar dari pandangan kamera CCTV, dan menciumnya.
Ia tersentak kecil, lalu tertawa di bibirku, lalu menciumku balik.
“Ini dihitung?” bisiknya, ketika aku akhirnya menjauhkan wajahku.
“Dihitung.”
“Kenapa?”
“Karena aku yang mulai.”
Ia menatapku dengan mata berkilat. Lalu menarik kerah batikku dan menciumku lagi, lebih lama, lebih dalam, sampai punggungku menempel di pilar gerbang yang dingin.
“Ini juga dihitung,” katanya, napasnya pendek. “Karena aku yang lanjutin.”
Dari pos satpam, aku mendengar bunyi pulpen menggores kertas.
Malam itu, di atas kasur busa, aku membuka formulir yang sudah lecek.
Aku tidak menulis teori. Aku sudah berhenti menulis teori.
Aku menulis:
Mama Valerie bilang “akhirnya”. Sama kayak Valerie.
Valerie diam waktu Papa nyebut Medika Harapan. Garpunya jatuh. Mama langsung pegang tangannya.
Papa Valerie bilang aku mirip seseorang. Orang yang pernah nolak dia. Dulu.
Aku menatap tiga baris itu lama.
Lalu aku melipat formulir itu, menaruhnya di bawah bantal, dan menatap noda berbentuk peta Kalimantan.
Ada sesuatu di sana. Aku tahu ada sesuatu. Sesuatu yang semua orang di rumah itu tahu, dan hanya aku yang tidak.
Tapi Valerie bilang nanti. Dan aku sudah janji menunggu nanti.
HP-ku bergetar. Jam dua lewat satu menit.
“Jun.”
“Hm.”
“Papa barusan ketuk pintu kamarku.”
“Kenapa?”
“Dia bilang...” Suaranya bergetar, setengah tertawa, setengah menangis. “Dia bilang, ‘Pacarmu benar soal beban penyeimbang. Papa sudah cek di internet.’”
Aku tertawa sampai Tari menggedor dinding kamarku dari sebelah.
- 1 Ciuman di Lantai Dasar
- 2 Pagi Ini Dokter Bilang Aku Sembuh
- 3 Teori Nomor Satu: Salah Orang
- 4 Lift Lantai 40 Rusak Lagi
- 5 Dua Ratus Mangkuk Bubur
- 6 Bawa Aku ke Duniamu
- 7 Tombol Merah
- 8 Kalau Mbak Serius
- 9 Angkringan, Bukan Rooftop
- 10 Telepon Jam Dua Pagi
- 11 Yang Punya Darahnya
- 12 Makan Malam Keluarga Hadinata reading
- 13 Kunci Pintunya
- 14 Rezeki Nomplok
- 15 Ulang Tahun Kedua
- 16 Kartu Laminasi
- 17 Bekas Luka
- 18 Siapa yang Menang Tender
- 19 Kamu Pernah Menolakku
- 20 Kamu Bayar Utang
- 21 Aku Nggak Pura-Pura
- 22 Laki-Laki yang Nggak Mau Apa-Apa
- 23 Proyek Baru, Hati Lama
- 24 Biopsi
- 25 Lift yang Sama
- 26 Helm Proyek
- 27 HP Lama
- 28 Kalau Aku Nggak Keluar
- 29 Duluan
- 30 Meja Makan Hadinata (Lagi)
- 31 Malam di Lift, Lima Tahun Lalu
- 32 Sebentar Lagi Aman
- 33 Epilog — Golongan Darah Anak Kita