Chapter One

Ciuman di Lantai Dasar

POV: Juna

Seumur hidup, aku sudah dicium tiga kali.

Dua kali oleh almarhumah ibuku, di kening, waktu aku lulus SD dan waktu aku pertama kali pulang membawa gaji. Satu kali oleh kambing kurban milik Pak RT, yang salah paham waktu aku menyodorkan daun singkong terlalu dekat ke wajahku sendiri.

Pagi ini angka itu bertambah. Pelakunya bukan kambing.

Pelakunya CEO.


Jam setengah tujuh pagi, lobby Hadinata Tower masih bau cat baru dan karpet yang belum pernah diinjak sepatu kotor. Lantainya marmer putih, mengilap sampai aku bisa melihat lubang hidungku sendiri waktu menunduk. Di tengah lobby berdiri karangan bunga setinggi dua orang dewasa, dan pita merah sepanjang lapangan voli sudah terbentang di depan pintu utama, menunggu digunting jam sepuluh nanti.

Aku berlutut di depan panel lift nomor tiga dengan kotak perkakas terbuka di samping lutut.

“Jun, itu lift sehat,” kata Bang Ucok dari belakangku. Ia bersandar ke pilar dengan tangan terlipat, gaya mandor padahal pangkatnya sama denganku. “Udah kita tes kemarin. Lima puluh kali naik turun. Lancar kayak jalan tol jam tiga pagi.”

“Pintunya telat nutup,” kataku.

“Telat berapa?”

“Nol koma empat detik.”

Gilang, yang sedang jongkok di sebelahku sambil makan roti sobek, berhenti mengunyah. “Bang Juna ngitung nol koma empat detik pakai apa?”

“Pakai perasaan.”

“Perasaan kok bisa pakai koma.”

Aku tidak menjawab. Aku sudah sembilan tahun mengurus lift. Lift itu seperti orang: kalau ada yang tidak beres, ia memberi tanda kecil dulu sebelum benar-benar ngambek. Pintu yang telat nol koma empat detik hari ini bisa jadi pintu yang macet di lantai dua puluh minggu depan, dengan orang di dalamnya yang memukul-mukul dinding sambil menelepon ibunya.

Aku tidak suka ada orang terjebak di lift. Bukan karena prosedur. Aku hanya tidak suka.

“Lagian,” Bang Ucok melanjutkan, “hari ini yang penting bukan lift. Yang penting penampilan. Ingat kata pepatah, Jun: tak kenal maka tak sayang, tak sayang maka tak kenal.”

“Itu bukan pepatah, Bang. Itu muter-muter.”

“Justru itu. Hidup memang muter-muter.”

Gilang mengangguk khidmat, seolah baru mendengar firman.

Aku kembali ke panel. Sensor pintunya agak kotor, debu proyek yang belum tuntas dibersihkan. Aku mengelapnya pelan dengan kain mikrofiber, lalu menyetel ulang jedanya. Di atas kepalaku, layar digital lift menunjukkan angka satu, berkedip sabar.

Dari tempatku berlutut, aku bisa melihat papan besar di dekat pintu masuk. Di sana terpampang wajah perempuan yang hari ini akan menggunting pita: rambut hitam panjang bergelombang, blazer putih, tatapan lurus ke kamera. Di bawahnya tertulis nama dengan huruf emas: Valerie Sasmita Hadinata, Chief Executive Officer.

Aku pernah melihat wajah itu di papan reklame di dekat Cawang, setiap pagi, waktu motorku berhenti di lampu merah. Tapi aku tidak pernah benar-benar memperhatikannya. Orang yang naik motor jam enam pagi tidak sempat jatuh cinta pada papan reklame. Ia sibuk memikirkan bensin, cicilan, dan apakah adiknya sudah sarapan.

“Katanya orangnya galak,” bisik Gilang, mengikuti arah pandanganku. “Katanya direktur keuangan yang lama dipecat cuma pakai dua kalimat.”

“Dua kalimat apa?”

“Nggak ada yang tahu. Yang denger langsung pada pingsan.”

“Katanya juga nggak pernah senyum,” tambah Bang Ucok. “Senyumnya cuma ada di papan itu. Itu pun hasil edit.”

“Kalian dengar dari mana?”

“Dari satpam.”

“Satpam dengar dari mana?”

“Dari OB.”

Aku menutup panel. Kalau rantai informasinya dimulai dari OB, aku lebih percaya ramalan cuaca.


Jam sepuluh kurang lima, lobby sudah berubah jadi lautan.

Wartawan berdiri berlapis di balik tali pembatas, kamera mereka terangkat seperti senjata. Tamu-tamu berjas mahal bergerombol dekat karangan bunga, bicara pelan dengan suara orang yang tidak pernah antre. Pelayan lalu-lalang membawa nampan berisi minuman yang warnanya terlalu cantik untuk diminum.

Aku seharusnya sudah pergi. Tim kami diminta menyingkir ke ruang mesin sebelum acara dimulai, supaya tidak ada seragam abu-abu yang merusak foto. Tapi pintu lift nomor tiga kembali telat, kali ini nol koma dua detik, dan aku tidak bisa meninggalkannya begitu saja.

“Jun!” desis Bang Ucok dari balik pot tanaman besar di dekat tangga darurat. Ia dan Gilang bersembunyi di sana seperti dua tentara di parit. “Udah, tinggalin! Nanti kita dimarahin!”

“Dua menit.”

“Dua menit itu lama, Jun! Orang bisa nikah dalam dua menit!”

Aku berlutut lagi, membuka panel, dan baru memegang obeng ketika lobby mendadak hening.

Bukan hening biasa. Hening yang membuat bulu kudukku berdiri, seperti hening sebelum hujan deras. Semua percakapan berhenti di tengah kalimat. Bahkan bunyi gelas berdenting pun hilang.

Lalu terdengar suara hak sepatu di atas marmer.

Tok. Tok. Tok.

Pelan, teratur, yakin. Seperti detak jam.

Aku menoleh.

Perempuan dari papan reklame itu sedang berjalan menembus lobby. Dan papan reklame itu, ternyata, bohong.

Bukan bohong karena hasil edit. Bohong karena terlalu sederhana. Papan reklame tidak bisa menangkap bagaimana rambutnya bergerak setiap kali ia melangkah, atau bagaimana cahaya dari langit-langit kaca jatuh di tulang pipinya. Papan reklame tidak bisa menangkap matanya: gelap, tajam, dan entah kenapa basah. Ia mengenakan gaun putih sederhana yang jatuh sampai bawah lutut, dan di dunia yang adil, gaun sesederhana itu tidak boleh membuat satu lobby lupa bernapas.

Ia cantik. Bukan cantik yang bikin orang bersiul. Cantik yang bikin orang menunduk, seolah melihat terlalu lama itu tidak sopan.

Para wartawan memotret. Tamu-tamu menyingkir memberi jalan. Seorang laki-laki bertubuh besar dengan potongan rambut cepak berjalan dua langkah di belakangnya, matanya menyapu ruangan seperti radar.

Aku menunggu ia berbelok ke podium.

Ia tidak berbelok.

Ia berjalan lurus. Ke arah lift nomor tiga. Ke arahku.

Aku menoleh ke belakang, memastikan ada orang penting di belakangku. Tidak ada. Hanya dinding marmer dan tombol lift.

Ia berhenti tepat di depanku.

Aku buru-buru berdiri, obeng masih di tangan, dan tiba-tiba sadar aku memakai seragam abu-abu dengan noda oli di lutut kiri, di tengah ruangan penuh jas yang harganya setara motorku.

“Selamat pagi, Bu,” kataku, karena hanya itu yang terpikir. “Maaf, saya sedang cek pintunya sebentar. Sebentar lagi...”

Ia menatapku.

Lama. Terlalu lama untuk orang asing. Matanya bergerak di wajahku, dari dahi ke mata ke mulut, seperti sedang mencocokkan sesuatu dengan ingatannya.

Lalu tangannya terangkat, menggenggam kerah seragamku, dan menarikku turun.

Dan ia menciumku.


Aku tidak tahu berapa lama.

Mungkin dua detik. Mungkin dua puluh. Otakku berhenti menghitung, padahal tadi pagi aku masih bisa menghitung nol koma empat detik.

Yang kuingat hanya potongan-potongan. Bibirnya hangat dan lebih lembut dari yang masuk akal. Ada rasa samar lipstik, sedikit manis, seperti permen yang belum pernah kucoba. Wangi tubuhnya bukan wangi parfum mal; wanginya mahal dan tenang, seperti kamar hotel yang belum pernah kutiduri. Jemarinya yang menggenggam kerahku gemetar. Gemetar sungguhan, seperti orang kedinginan, padahal lobby itu hangat oleh lampu.

Dan ada bunyi. Ratusan bunyi rana kamera, seperti hujan es di atas atap seng.

Ia melepaskanku.

Wajahnya masih dekat. Sangat dekat. Aku bisa melihat bulu matanya yang basah dan bibirnya yang, ya Tuhan, sekarang lipstiknya sedikit berantakan karena aku.

“Akhirnya,” bisiknya.

Suaranya pecah di tengah kata itu.

Aku membuka mulut. Tidak ada yang keluar.

Ia berbalik menghadap kerumunan wartawan, satu tangannya masih memegang kerahku, dan dengan suara yang tiba-tiba jernih dan tenang, suara orang yang terbiasa memimpin rapat, ia berkata:

“Ini pacar saya.”

Lobby meledak.

Wartawan berteriak bertanya bersamaan. Lampu kilat menyala tanpa henti. Seorang tamu menjatuhkan gelasnya. Dari balik pot tanaman, aku mendengar suara Gilang tersedak roti sobek.

Aku akhirnya menemukan suaraku.

“Mbak,” kataku pelan, hanya untuknya. “Saya teknisi lift.”

Ia menoleh. Dan untuk pertama kalinya, ia tersenyum. Bukan senyum papan reklame. Senyum yang miring sedikit, nakal, dan begitu cantik sampai aku hampir menjatuhkan obeng.

“Aku tahu,” katanya.

Tangannya masih di kerahku. Masih gemetar. Dari dekat, aku bisa melihat napasnya pendek-pendek, dan sesuatu di matanya seperti orang yang baru berlari jauh sekali lalu akhirnya sampai.

Aku tidak tahu siapa dia, selain nama di papan reklame. Aku tidak tahu kenapa dia melakukan ini. Tapi aku tahu satu hal dari sembilan tahun bekerja: orang yang tangannya gemetar seperti itu sedang ketakutan, apa pun yang ditunjukkan wajahnya.

Jadi aku melakukan hal yang selalu kulakukan kalau ada orang ketakutan di depanku.

Aku menurunkan suaraku dan berkata, “Tenang. Sebentar lagi aman.”

Ia membeku.

Benar-benar membeku. Senyumnya hilang. Matanya membesar, menatapku seolah aku baru saja mengucapkan sesuatu dalam bahasa yang hanya ia dan aku yang mengerti. Bibirnya terbuka sedikit, lalu menutup lagi. Jemarinya di kerahku mengencang.

Sesuatu yang tidak bisa kubaca melintas di wajahnya. Lalu hilang, ditelan wajah CEO yang rapi.

“Pak Darto,” katanya tanpa melepaskan pandangan dariku.

Laki-laki bertubuh besar di belakangnya maju selangkah. “Siap, Bu.”

“Bawa dia ke lantai 40.”

“Siap, Bu.”

“Bu, pengguntingan pitanya...” seseorang berbisik panik dari samping, perempuan berkacamata dengan tablet di tangan.

“Kiki, kamu yang gunting.”

“Aku? Val, ini acaramu!”

“Kamu COO. Belajar jadi CEO lima menit.”

Lalu tangan Pak Darto mendarat di bahuku. Sopan, tapi beratnya seperti karung semen.

“Mari, Mas,” katanya.


Dari semua lift di Hadinata Tower, Pak Darto menggiringku ke lift nomor tiga.

Lift yang pintunya telat nol koma dua detik.

Perempuan itu masuk duluan. Aku menyusul, Pak Darto terakhir, dan pintu menutup. Telat nol koma dua detik. Aku tahu, karena bahkan setelah dicium CEO di depan seratus kamera, bagian otakku yang mengurus lift tetap bekerja.

Hening.

Lift naik. Angka di layar mulai bergerak: 2, 3, 4.

Aku berdiri di pojok, punggung menempel dinding, memegang obeng seperti pegangan hidup. Pak Darto berdiri di dekat pintu, tegak, menatap langit-langit, lalu mengeluarkan buku saku kecil dan pulpen dari saku jasnya. Ia menulis sesuatu.

Perempuan itu berdiri di tengah lift. Ia menatap pantulan dirinya di pintu baja, lalu menatapku lewat pantulan itu.

Dan aku, tanpa sadar, melirik bibirnya.

Lipstiknya masih berantakan. Sedikit merah keluar dari garis bibir bawahnya. Karena aku. Gara-gara bibirku. Pikiran itu membuat leherku panas.

“Mau cium aku lagi, ya?”

Aku tersedak udara.

“Nggak, Mbak.”

“Matamu turun ke bibirku dua kali.” Ia berbalik menghadapku. “Aku hitung.”

“Lipstiknya...” Aku menunjuk sudut bibirku sendiri, tidak berani menunjuk bibirnya. “Belepotan, Mbak.”

Ia menyentuh bibirnya dengan ujung jari, lalu melihat warna merah di jarinya. Ia tidak terlihat malu. Ia terlihat puas.

“Itu salah kamu,” katanya.

“Saya nggak ngapa-ngapain.”

“Justru itu. Kamu nggak ngapa-ngapain, tapi tetap berantakan.” Ia mengeluarkan sehelai tisu dari tas kecilnya, lalu mengulurkannya padaku. “Benerin.”

Aku menatap tisu itu. Lalu Pak Darto. Pak Darto sedang menatap langit-langit dengan sangat serius, seperti langit-langit lift adalah lukisan di museum.

“Mbak bisa sendiri, kan?”

“Bisa.” Ia melangkah mendekat. Satu langkah, dan lift mendadak terasa sempit sekali. “Tapi aku mau kamu.”

Lift sudah di lantai 17.

Aku mengambil tisu itu. Tanganku, yang bisa menyetel sensor pintu dengan selisih nol koma sekian detik, tiba-tiba lupa caranya tenang. Aku mengangkat tisu ke sudut bibirnya dan mengusap pelan, sangat pelan, seperti membersihkan kaca panel yang mudah tergores.

Ia tidak bergerak. Ia memejamkan mata.

Dan karena ia memejamkan mata, aku bisa melihatnya dari dekat tanpa ketahuan: kulitnya yang terlalu bersih, bekas lelah samar di bawah matanya yang tertutup bedak, bulu matanya yang masih basah di ujung.

Ia baru menangis. Sebelum masuk lobby, perempuan ini menangis.

“Sudah, Mbak,” kataku. Suaraku keluar lebih serak dari yang kumau.

Ia membuka mata. “Cepat banget.”

“Lipstiknya cuma sedikit.”

“Lain kali bikin berantakan lebih banyak, biar lama.”

Di dekat pintu, pulpen Pak Darto berhenti, lalu menulis lagi, lebih cepat.

Lantai 28. Aku menempelkan punggungku lebih rapat ke dinding, padahal sudah tidak ada ruang lagi.

“Kamu nggak tanya namaku?” katanya.

“Semua orang tahu nama Ibu.”

“Aku mau dengar kamu yang bilang.”

Aku menelan ludah. “Bu Valerie.”

“Bukan Bu.”

“...Mbak Valerie.”

“Lebih dekat lagi.”

Aku diam. Lift sudah di lantai 35. Ia menunggu, kepalanya sedikit miring, dan cara ia menungguku persis seperti orang yang sudah terbiasa menunggu, dan tidak keberatan menunggu sedikit lebih lama.

Aku tidak menyebut namanya lebih dekat.

Ia tersenyum lagi. Senyum yang miring itu. “Nanti,” katanya, ringan. Seolah itu janji, bukan ancaman. Atau dua-duanya.

Ting.

Lantai 40. Pintu terbuka, kali ini tepat waktu.

Perempuan itu melangkah keluar lebih dulu, gaun putihnya bergoyang pelan. Pak Darto memberi isyarat agar aku menyusul. Sebelum keluar, aku sempat melihat buku saku di tangannya. Tulisannya rapi, huruf kapital semua, seperti laporan dinas:

INSIDEN 1. PUKUL 10.02. LOBBY. SUBJEK DICIUM. SUBJEK TIDAK MELAWAN.

Di bawahnya ada baris kedua yang baru ditulis:

INSIDEN 1B. PUKUL 10.06. LIFT 3. SUBJEK MEMBERSIHKAN LIPSTIK. SUBJEK GEMETAR.

“Pak,” kataku pelan. “Itu nggak perlu dicatat.”

Pak Darto menutup buku sakunya. “Semua perlu dicatat, Mas. Untuk keamanan.”

“Keamanan siapa?”

Ia menatapku dengan wajah datar yang sama sekali tidak bisa dibaca. “Keamanan Mas.”

Aku keluar dari lift.

Koridor lantai 40 sunyi, berlapis karpet abu-abu tebal yang menelan bunyi langkah. Di ujungnya, pintu kaca besar terbuka, dan perempuan itu berdiri di sana, menungguku, dengan latar langit Jakarta yang putih dan terlalu terang.

Aku yakin seratus persen aku belum pernah bertemu dengannya. Aku mengingat wajah semua orang yang pernah kutolong keluar dari lift macet, dan wajahnya tidak ada di sana. Orang secantik itu tidak mungkin terlewat.

Tapi caranya menatapku dari ujung koridor itu seperti orang yang sedang membaca ulang sesuatu yang sudah lama sekali ia hafal.

Dan untuk pertama kalinya dalam sembilan tahun, aku berjalan ke arah yang tidak kutahu apakah aman.