Chapter Seven
Tombol Merah
POV: Valerie
Aku tidur sambil memeluk boneka kelinci.
Aku perempuan dua puluh delapan tahun, CEO perusahaan dengan aset triliunan, pemilik apartemen di lantai paling atas yang kamarnya terlalu luas untuk satu orang. Dan aku tidur sambil memeluk boneka kelinci dari pasar malam, yang bulunya bau asap kerak telor dan sedikit oli dari tangan laki-laki yang memenangkannya.
Aku tidak menyesal.
Paginya, Kiki datang ke apartemenku membawa dua gelas kopi dan wajah orang yang sudah tahu jawabannya sebelum bertanya.
“Gimana semalam?”
Aku menunjuk boneka kelinci di sebelahku.
Kiki menatap boneka itu lama. “Dia menang tembak balon?”
“Sepuluh tembakan. Sepuluh balon.”
“Senapannya bengkok, kan? Pasar malam selalu bengkokin senapan.”
“Dia tahu. Dia bidik dua senti ke kiri.”
Kiki duduk di ujung kasurku, menyerahkan kopi, dan menghela napas dengan dramatis. “Val, aku sudah jadi sahabatmu sejak SMA. Aku lihat kamu nolak anak menteri. Aku lihat kamu nolak pewaris pabrik rokok. Aku lihat kamu nolak Reza tiga kali dan bikin dia nangis di parkiran.”
“Dia nggak nangis.”
“Dia nangis, Val. Aku yang kasih tisu.” Kiki menyesap kopinya. “Dan sekarang kamu tidur meluk boneka kelinci karena laki-laki itu bisa ngitung kemiringan senapan.”
“Iya.”
“Kamu sudah habis.”
“Sudah dari lama, Ki.”
Kiki menatapku, dan untuk sesaat wajah nyinyirnya luntur. Ia tahu apa yang kumaksud dengan “dari lama”. Ia ada di sana. Ia yang menemaniku menyusuri warung demi warung tahun lalu, yang memotret setiap gerobak bubur di Jakarta Timur, yang duduk di mobil enam bulan lalu waktu aku tidak bisa berhenti gemetar.
“Terus hari ini rencanamu apa?” tanyanya pelan.
Aku menyesap kopi. “Aku mau minta dia cek tombol darurat lift lantai 40.”
Kiki berhenti minum.
“Val.”
“Hm?”
“Tombol darurat.”
“Iya.”
“Yang bikin lift berhenti.”
“Iya, Ki.”
Kiki menaruh kopinya di nakas, perlahan, seperti orang menaruh benda yang mudah meledak. “Kamu yakin?”
Aku tidak menjawab. Aku menatap boneka kelinci di sebelahku.
Aku tidak naik lift yang berhenti selama lima tahun. Aku naik lift setiap hari, tentu saja. Aku bekerja di lantai 40. Tapi setiap kali lift bergetar sedikit lebih lama di satu lantai, setiap kali pintunya telat terbuka sedetik, napasku pendek, dan aku harus menghitung sampai sepuluh di kepala.
Aku tidak mau memikirkan kenapa. Bukan pagi ini.
“Aku mau tahu,” kataku akhirnya, “apakah kalau sama dia, rasanya beda.”
Jam sepuluh, aku menelepon kantor PT Elevasi Prima Teknik sendiri, bukan lewat asisten.
“Saya mau teknisi Juna cek tombol darurat lift lantai 40,” kataku. “Kayaknya terlalu gampang dipencet.”
Di seberang, aku mendengar orang di bagian administrasi menahan napas, lalu berbisik ke orang di sebelahnya: “Kategori baru lagi.”
Ia datang jam sebelas. Seragam abu-abu yang sudah disetrika, kotak perkakas di tangan kanan, dan ekspresi orang yang sudah menyerah pada takdir tapi masih berusaha menjaga martabat.
“Pagi, Mbak.”
“Siang.”
“Siang, Mbak.” Ia menatap lift yang terbuka di depanku. “Tombol daruratnya kenapa?”
“Terlalu gampang dipencet.”
“Itu memang harus gampang, Mbak. Namanya darurat.”
“Coba cek dulu.”
Ia menatapku dengan curiga, lalu melangkah masuk ke lift. Aku menyusul. Pak Darto, yang biasanya ikut, berhenti di depan pintu lift dan menatapku.
“Pak Darto naik tangga,” kataku.
“Bu, ini lantai 40.”
“Bapak mantan marinir.”
Pak Darto menatapku lama. Lalu ia mengangguk, berbalik, dan berjalan ke pintu tangga darurat dengan langkah orang yang sedang berangkat ke medan perang yang tidak ia setujui.
Pintu lift menutup. Hanya kami berdua.
Ia sudah berlutut di depan panel tombol, membuka penutupnya dengan obeng kecil, memeriksa kabel di balik tombol merah besar bertuliskan STOP. Punggungnya menghadapku. Bahunya lebar di balik seragam abu-abu itu. Ada sedikit rambut yang mencuat di tengkuknya, seperti ia baru keramas pagi ini dan tidak sempat menyisir.
Aku menekan tombol lantai satu.
Lift mulai turun.
“Mbak, saya lagi kerja,” katanya tanpa menoleh.
“Kerjanya sambil jalan.”
“Panelnya kebuka.”
“Kamu bisa.”
Lantai 38. 37. 36. Aku berdiri di belakangnya, menatap tengkuknya, dan merasakan jantungku mulai bekerja terlalu keras. Bukan karena dia. Atau bukan cuma karena dia.
Lantai 30. 29.
Ia menutup panel dan berdiri. “Tombolnya normal, Mbak. Pegasnya sesuai standar. Nggak ada yang...”
Lantai 24.
Aku melangkah maju dan menekan tombol merah itu.
Lift berhenti dengan sentakan halus.
Angka di layar membeku di antara 24 dan 23. Dengung motor yang biasanya tidak kusadari tiba-tiba hilang, dan baru saat hilang aku sadar betapa selama ini dengung itu menemaniku. Lampu tetap menyala. Udara tetap mengalir dari kisi-kisi di langit-langit. Tidak ada yang berbahaya.
“Mbak,” katanya, nadanya datar. “Itu buat darurat.”
“Ini darurat.”
“Darurat apa?”
Aku berbalik menghadapnya. Aku sudah merencanakan kalimat ini sejak semalam, sambil memeluk boneka kelinci. Aku sudah berlatih di depan cermin kamar mandi. Kalimatnya pendek, nakal, sempurna.
“Darurat,” kataku, “sekarang kamu nggak bisa kabur.”
Ia menatapku. Telinganya mulai merah. Rencanaku berjalan.
Lalu aku menyadari keheningannya.
Bukan keheningan yang romantis. Keheningan logam. Keheningan kotak baja yang tergantung di tengah lubang gelap setinggi dua puluh tiga lantai, dengan kabel-kabel yang tidak bisa kulihat dan udara yang tiba-tiba terasa lebih tipis.
Napasku pendek.
Aku mencoba menghitung di kepala. Satu. Dua. Tiga. Tapi angka-angka itu lari, seperti selalu lari, dan dinding lift mendekat, dan cahaya lampu di langit-langit menjadi terlalu putih, terlalu terang, seperti cahaya di tempat lain, di waktu lain, yang tidak mau kuingat...
Jangan sekarang. Bukan sekarang.
Punggungku menyentuh dinding. Aku tidak ingat mundur. Tanganku mencari pegangan dan tidak menemukan apa-apa. Telingaku berdenging.
“Mbak.”
Suaranya dekat. Sangat dekat.
Aku membuka mata, dan aku tidak tahu kapan aku memejamkannya. Ia berdiri di depanku. Ia tidak menyentuhku. Ia hanya berdiri di sana, membungkuk sedikit supaya matanya sejajar dengan mataku, dan wajahnya, wajah yang semenit lalu merah karena malu, sekarang tenang sekali. Tenang seperti permukaan air di pagi hari.
“Mbak,” katanya lagi. “Lihat saya.”
Aku melihatnya.
“Boleh saya pegang tangan Mbak?”
Aku mengangguk. Aku tidak bisa bicara.
Ia mengambil kedua tanganku dengan kedua tangannya. Tangannya hangat dan kasar, telapaknya penuh kapalan, dan ia menggenggam tanganku tidak terlalu kencang, tidak terlalu longgar. Seperti orang yang sudah terbiasa memegang tangan orang-orang yang ketakutan.
“Tenang,” katanya. “Sebentar lagi aman.”
Dunia berhenti untuk kedua kalinya.
Jangan. Jangan ingat. Bukan sekarang.
“Saya bisa jalanin liftnya sekarang,” katanya pelan. “Tinggal tarik tombolnya. Dua detik. Mau?”
Aku seharusnya bilang mau. Aku seharusnya bilang jalankan, cepat, keluarkan aku dari sini. Tapi tangannya ada di tanganku, dan suaranya ada di telingaku, dan sesuatu di dalam dadaku yang sedang meledak dan sesuatu yang sedang pulang bertabrakan di tempat yang sama.
“Jangan,” kataku. Suaraku pecah. “Jangan pergi.”
“Saya nggak ke mana-mana, Mbak. Liftnya yang jalan. Saya tetap di sini.”
“Jangan.”
Ia diam sebentar. Lalu ia mengangguk, seolah memahami sesuatu yang tidak kujelaskan.
“Oke,” katanya. “Kita di sini dulu. Sampai Mbak siap.”
Ia tidak melepaskan tanganku. Ia malah menariknya sedikit, pelan, sampai aku tidak lagi bersandar ke dinding, sampai aku berdiri di depannya dan dinding lift tidak lagi menyentuh punggungku.
“Mbak mau dengar sesuatu yang konyol?”
Aku menatapnya.
“Saya punya lagu,” katanya. Telinganya merah lagi, dan entah kenapa itu yang membuatku bisa bernapas. “Buat orang yang kejebak di lift. Saya bikin sendiri. Jelek banget. Suara saya fals. Tapi biasanya orang jadi ketawa, terus lupa takutnya.”
“Nyanyi,” bisikku.
Ia menarik napas. Lalu, dengan suara yang benar-benar fals, dengan cengkok dangdut yang dipaksakan dan nada yang meleset di setiap baris, ia bernyanyi:
“Lift-nya macet, jangan cemberut,
Abang di sini, nggak bakal kabur,
Hitung sampai sepuluh, tarik napas panjang,
Nanti kita turun, beli bubur kacang...”
Ia berhenti. “Bagian ini biasanya saya ganti tergantung orangnya. Kadang bubur ayam. Kadang bakso.”
“Lanjutin,” kataku.
“Tarik, Mang... eh, tarik napas, Mbak,
Tombol merah bukan musuh kita,
Mesin ini cuma lagi capek,
Sama kayak Abang yang belum gajian...”
Aku tertawa.
Aku tidak tahu dari mana tawa itu datang. Tawa itu keluar dari dadaku bersamaan dengan sesuatu yang lain, sesuatu yang basah dan panas, dan baru waktu ia berhenti bernyanyi aku sadar bahwa aku tertawa sambil menangis. Air mata jatuh di pipiku, diam-diam, tanpa suara, dan aku tidak bisa menghentikannya, dan aku tidak mau menghentikannya.
Lagu itu.
Nada yang fals itu. Cengkok yang dipaksakan itu.
Aku tidak mau ingat. Aku tidak mau ingat sekarang. Biarkan aku di sini saja. Di lift ini. Hari ini.
Ia berhenti bernyanyi. Ia menatap pipiku yang basah, dan wajahnya berubah, panik untuk pertama kalinya.
“Mbak, maaf. Lagunya jelek banget, ya? Saya...”
“Bukan,” kataku.
“Terus kenapa nangis?”
“Karena lagunya jelek banget,” kataku, dan tertawa lagi, dan menangis lagi.
Ia menatapku seperti menatap mesin yang tidak ada di buku manual. Lalu, perlahan, ia melepaskan satu tanganku dan mengangkat tangannya ke pipiku. Ia ragu sebentar di udara, seperti waktu di lobby, seperti menunggu izin.
Aku memiringkan kepala ke telapak tangannya.
Ia mengusap air mataku dengan ibu jarinya. Pelan, seperti mengusap lipstik di sudut bibirku minggu lalu. Seperti membersihkan sesuatu yang mudah tergores.
Aku tidak tahu siapa yang bergerak duluan.
Mungkin aku. Mungkin dia. Mungkin lift itu sendiri bergetar sedikit dan mendorong kami. Yang kutahu, dahiku sudah menempel di dahinya. Napasnya di bibirku. Tanganku, yang tadi gemetar, sekarang menekan dadanya, tepat di atas jantungnya, dan jantungnya berlari begitu cepat sampai aku bisa merasakannya lewat seragam.
“Jun,” bisikku.
“Hm.”
“Jantungmu.”
“Iya.”
“Cepat banget.”
“Iya.”
“Kenapa?”
Ia tidak menjawab. Ia memejamkan mata. Dahinya masih di dahiku. Tangannya, yang tadi di pipiku, turun ke leherku, ke tengkukku, berhenti di sana, hangat dan diam, dan seluruh tubuhku tahu bahwa satu gerakan kecil, satu saja, akan menyelesaikan jarak yang tersisa.
Aku sudah berjanji.
Aku nggak akan cium kamu lagi sampai kamu yang minta.
Aku ingin mengingkari janji itu dengan seluruh tubuhku. Aku ingin menarik kerahnya seperti di lobby, menariknya turun, dan tidak melepaskannya sampai lantai satu, sampai Pak Darto pingsan di tangga darurat, sampai seluruh gedung ini tahu.
Tapi aku ingin dia yang minta. Aku ingin, sekali saja dalam hidupnya, laki-laki ini meminta sesuatu untuk dirinya sendiri.
“Jun,” bisikku. “Kamu mau minta sesuatu?”
Matanya terbuka. Dari jarak ini, matanya cokelat tua dan basah, dan ada sesuatu di dalamnya yang bergulat, sesuatu yang sudah lama sekali tidak diizinkan keluar.
Bibirnya terbuka.
“Mbak, saya...”
KRRRK.
Interkom di panel lift berbunyi keras. Suara statis, lalu suara laki-laki yang terengah-engah seperti baru berlari dua puluh lantai.
“LIFT LANTAI 40. LIFT LANTAI 40. INI DARTO. MOHON LAPOR. ADA YANG TERLUKA? GANTI.”
Kami membeku.
“SAYA ULANGI. LIFT BERHENTI DI ANTARA LANTAI 24 DAN 23. SAYA DI LANTAI 24. SAYA BISA BUKA PINTU SECARA MANUAL. GANTI.”
Ia menjauhkan wajahnya dariku. Pelan. Dahinya meninggalkan dahiku, dan udara dingin AC langsung mengisi tempatnya.
Ia menekan tombol interkom. “Pak Darto, ini Juna. Aman. Nggak ada yang terluka. Liftnya saya jalanin sekarang.”
Jeda.
“...Ibu aman?”
Ia menatapku. Aku mengangguk.
“Ibu aman, Pak.”
Jeda lebih panjang.
“Mas Juna.”
“Ya, Pak.”
“Insiden ini saya catat.”
Interkom mati.
Ia menatapku. Aku menatapnya. Lalu ia tertawa, pendek dan tidak percaya, dan aku ikut tertawa, dan tawa kami memenuhi kotak baja kecil itu, dan entah bagaimana tidak ada lagi yang menakutkan di sana.
Lift berjalan lagi. Dengungnya kembali. Angka di layar bergerak: 23, 22, 21.
Kami berdiri bersebelahan sekarang, bukan berhadapan. Bahunya menyentuh bahuku. Ia tidak menjauh.
“Mbak takut lift,” katanya. Bukan pertanyaan.
“Cuma lift yang berhenti.”
“Kenapa?”
Aku menatap angka di layar. 18. 17.
Bukan sekarang.
“Pernah kejadian,” kataku. “Dulu. Lama.”
Ia tidak bertanya lagi. Aku tahu ia ingin bertanya. Aku bisa merasakan pertanyaan itu di bahunya yang menegang. Tapi ia tidak bertanya, karena ia laki-laki yang tidak pernah memaksa pintu yang tidak dibuka dari dalam.
“Terus kenapa Mbak tetap pencet tombolnya?”
“Karena aku mau tahu apakah sama kamu, rasanya beda.”
Ia menoleh. “Beda?”
Aku menatapnya. “Beda, Jun.”
Lantai 10. 9.
“Aku masih nyimpan HP lama,” kataku tiba-tiba. Aku tidak tahu kenapa aku mengatakannya. Mungkin karena lagu itu. Mungkin karena dahinya tadi. “Udah rusak. Baterainya kembung. Nggak bisa dipakai buat apa-apa. Tapi aku nggak bisa buang.”
“Kenapa nggak bisa?”
“Ada sesuatu di dalamnya yang bikin aku berani.”
Ia diam. Lalu, dengan suara pelan yang hampir tidak terdengar di antara dengung lift: “Saya juga punya barang kayak gitu.”
“Apa?”
“Obeng Bapak. Gagangnya udah retak. Saya nggak pakai. Tapi saya bawa terus di kotak perkakas.”
Lantai 3. 2.
Aku menatap kotak perkakasnya. Lalu menatapnya. Laki-laki ini membawa obeng retak milik ayahnya yang sudah meninggal ke mana pun ia pergi, dan ia baru saja memberitahuku, di lift yang baru saja berhenti, seolah itu rahasia kecil yang tidak penting.
Aku ingin memeluknya. Aku ingin menciumnya. Aku ingin menangis lagi.
Ting.
Lantai 1. Pintu terbuka.
Pak Darto berdiri di depan pintu lift, kemejanya basah keringat, napasnya berat, buku saku di tangan. Ia sudah turun dua puluh empat lantai lewat tangga, lalu, aku menduga, berlari turun lagi ke lobby ketika mendengar lift bergerak.
Ia menatapku. Ia menatap Juna. Ia menatap jarak di antara bahu kami, yang tidak ada.
Lalu ia membuka buku sakunya dan menulis, keras, sampai aku bisa mendengar ujung pulpennya menggores kertas.
Malam itu, aku tidak bisa tidur.
Aku berbaring di kasur yang terlalu luas, memeluk boneka kelinci, dan menatap laci nakas di sebelahku. Di dalam laci itu, di bawah tumpukan surat-surat yang tidak pernah kubaca ulang, ada sebuah HP lama dengan casing ungu yang sudah pudar. Baterainya kembung. Layarnya retak di sudut.
Aku tidak membuka laci itu.
Bukan sekarang. Dia belum boleh tahu. Aku mau dia milih aku dulu.
Jam sebelas lewat dua puluh, HP-ku bergetar.
Aku mengambilnya dengan malas, menduga pesan dari Kiki, atau dari Papa yang belum bisa berhenti mengirim tautan pulau-pulau yang dijual.
Bukan.
Nomor yang kusimpan dengan nama Pak Teknisi. Nomor yang selama sembilan hari ini hanya membalas pesanku, tidak pernah sekali pun memulai.
Satu pesan.
Mbak sudah makan?
Aku menatap pesan itu.
Tiga kata. Tidak ada gombal. Tidak ada emoji. Tidak ada apa-apa kecuali pertanyaan yang sama yang ia tanyakan di ambang pintu kantorku, hari pertama, ketika tanganku masih gemetar.
Ini pertama kalinya ia mengirim pesan duluan.
Aku menekan HP ke dadaku dan menangis untuk ketiga kalinya hari itu. Kali ini tanpa takut sama sekali.
Lalu aku mengetik dengan jempol yang gemetar:
Belum. Kamu mau suapin?
Balasannya datang tiga menit kemudian. Tiga menit yang terasa seperti lift berhenti.
Makan dulu, Mbak. Saya nggak bisa tidur kalau Mbak belum makan.
Aku menatap kalimat itu sampai layarnya mati sendiri.
Saya nggak bisa tidur kalau Mbak belum makan.
Lalu aku bangun dari kasur, berjalan ke dapur jam sebelas malam, dan membuat mi instan untuk pertama kalinya dalam lima tahun, karena seorang teknisi lift tidak bisa tidur kalau aku belum makan, dan aku tidak akan membiarkan dia tidak tidur.
- 1 Ciuman di Lantai Dasar
- 2 Pagi Ini Dokter Bilang Aku Sembuh
- 3 Teori Nomor Satu: Salah Orang
- 4 Lift Lantai 40 Rusak Lagi
- 5 Dua Ratus Mangkuk Bubur
- 6 Bawa Aku ke Duniamu
- 7 Tombol Merah reading
- 8 Kalau Mbak Serius
- 9 Angkringan, Bukan Rooftop
- 10 Telepon Jam Dua Pagi
- 11 Yang Punya Darahnya
- 12 Makan Malam Keluarga Hadinata
- 13 Kunci Pintunya
- 14 Rezeki Nomplok
- 15 Ulang Tahun Kedua
- 16 Kartu Laminasi
- 17 Bekas Luka
- 18 Siapa yang Menang Tender
- 19 Kamu Pernah Menolakku
- 20 Kamu Bayar Utang
- 21 Aku Nggak Pura-Pura
- 22 Laki-Laki yang Nggak Mau Apa-Apa
- 23 Proyek Baru, Hati Lama
- 24 Biopsi
- 25 Lift yang Sama
- 26 Helm Proyek
- 27 HP Lama
- 28 Kalau Aku Nggak Keluar
- 29 Duluan
- 30 Meja Makan Hadinata (Lagi)
- 31 Malam di Lift, Lima Tahun Lalu
- 32 Sebentar Lagi Aman
- 33 Epilog — Golongan Darah Anak Kita