Chapter Twenty Seven

HP Lama

POV: Valerie

Aku datang ke Cikarang enam hari berturut-turut.

Setiap pagi jam lima, aku berdiri di depan gerobak Bu Sum. Setiap pagi jam tujuh lewat dua puluh, mobil kecilku berhenti di gerbang proyek, mengepulkan uap bubur kacang ijo dari jendela-jendelanya. Setiap pagi Pak Slamet menyerahkan helm kuning yang kebesaran, dan aku mengencangkan talinya sampai ujung, dan helmnya tetap miring ke kiri.

Hari kedua, para pekerja mulai memanggilku Bu Bos.

Hari ketiga, Pak Slamet bertanya dengan malu-malu apakah besok bisa ditambah kerupuk.

Hari keempat, Bu Sum tidak ikut karena encok, jadi aku yang menyendok bubur ke mangkuk-mangkuk plastik di meja lipat. Aku menumpahkan santan ke kemejaku sendiri. Empat puluh pekerja konstruksi tertawa. Aku ikut tertawa.

Dan setiap hari, Juna turun dari tangga darurat jam setengah delapan. Mengambil mangkuknya. Makan di anak tangga terakhir, pelan, mata terpejam setiap kali menelan.

Setiap hari ia bicara sedikit lebih banyak.

Hari pertama, ia tidak bilang apa-apa. Hanya makan.

Hari kedua, ia bilang, “Makasih.”

Hari ketiga, ia bilang, “Buburnya kemanisan hari ini. Bu Sum lagi sedih?”

“Bu Sum lagi encok,” kataku.

“Pantes.” Ia menatap mangkuknya. “Kalau encok, Bu Sum suka kebanyakan gula. Biar semangat.”

Hari keempat, waktu aku mau pulang, ia berjalan bersamaku ke mobil. Tidak bilang apa-apa. Hanya berjalan di sebelahku, di jalan proyek yang berdebu, setengah langkah di belakang, seperti dulu di pasar malam sebelum aku memeluk lengannya.

Hari kelima, sebelum aku masuk mobil, ia mengulurkan tangan dan membetulkan tali helm kuningku, yang selalu miring ke kiri. Ia mengencangkannya, lalu memutar sedikit posisi helmnya di kepalaku sampai lurus. Jemarinya menyentuh pipiku sebentar. Sangat sebentar.

“Helmnya kebesaran,” katanya.

“Aku tahu.”

“Besok aku bawain yang ukuran kecil.”

Aku menatapnya. Ia tidak menatapku. Ia menatap tali helmnya, seperti menatap panel lift yang perlu disetel.

“Besok,” ulangku pelan. “Berarti kamu mau aku dateng besok.”

Ia diam. Telinganya merah di bawah debu.

“Helmnya kebesaran, Val,” katanya lagi, seolah itu jawaban.

Itu jawaban.


Hari keenam, hujan.

Bukan gerimis. Hujan deras, hujan Jakarta yang turun seperti seseorang membalik ember dari langit. Jalan tol Cikampek tergenang di beberapa titik. Aku menyetir pelan, wiper bergerak secepat-cepatnya, Pak Darto di kursi penumpang memeluk panci bubur dengan wajah semakin pucat setiap kali ban mobil tergelincir sedikit.

Jam enam pagi, HP-ku bergetar. Pesan dari Juna. Pesan pertama yang ia kirim duluan sejak basement.

Val. Jangan dateng hari ini. Hujan. Jalan licin.

Aku membacanya di lampu merah di pintu tol. Lalu aku menaruh HP di dasbor dan terus menyetir.

Waktu aku sampai di gerbang proyek jam delapan kurang sepuluh, terlambat setengah jam, ia sudah berdiri di sana.

Di depan pos jaga. Di bawah payung hitam besar yang jelas bukan miliknya, mungkin milik Pak Slamet. Seragamnya basah di bagian bahu dan celana. Ia memegang sesuatu di tangan satunya.

Helm proyek. Warna putih. Ukuran kecil.

Aku turun dari mobil. Hujan langsung membasahi kemejaku.

Ia berjalan ke arahku. Cepat. Mengangkat payungnya ke atas kepalaku, sehingga ia sendiri yang kehujanan.

“Aku bilang jangan dateng,” katanya. Suaranya marah. Tapi bukan marah. Takut.

“Aku tahu.”

“Jalan tol banjir.”

“Nggak semua.”

“Kamu bisa celaka, Val.”

“Aku nggak celaka.”

“Tapi bisa!” Suaranya naik. Pertama kali sejak basement, suaranya naik. Hujan memukul payung di atas kami seperti genderang. “Kamu baru keluar rumah sakit seminggu! Kamu nyetir sendiri di tol pas hujan deras! Kamu...”

Ia berhenti. Napasnya berat.

Aku menatapnya. Air hujan menetes dari rambutnya ke wajahnya. Matanya merah.

“Kamu khawatir,” kataku pelan.

Ia tidak menjawab.

“Kamu berdiri di sini dari jam berapa?”

Ia tidak menjawab.

“Jun.”

“Jam tujuh,” katanya akhirnya.

Satu jam. Ia berdiri satu jam di depan gerbang proyek, di bawah hujan, dengan payung pinjaman dan helm ukuran kecil, menunggu mobil yang ia suruh jangan datang.

“Kenapa kamu nunggu kalau kamu suruh aku jangan dateng?” bisikku.

Ia menatapku. Hujan. Payung. Helm putih di tangannya.

“Karena aku tahu kamu tetep dateng,” katanya.

Lalu ia memakaikan helm putih itu di kepalaku. Pelan. Mengencangkan talinya. Helmnya pas. Lurus. Tidak miring.

Jemarinya tertinggal di tali helm, di bawah daguku. Hangat, walaupun basah.

Dan untuk sesaat, di bawah payung pinjaman itu, di tengah hujan deras di gerbang proyek di Cikarang, ia menatap bibirku. Bukan sekilas. Lama.

Aku menahan napas.

Minta, Jun. Minta. Sekali aja.

Ia tidak meminta.

Ia menarik tangannya dari tali helmku dan mundur setengah langkah, ke dalam hujan.

“Aku belum bisa, Val,” bisiknya. Air hujan mengalir di wajahnya, dan aku tidak tahu yang mana hujan dan yang mana bukan. “Setiap kali aku mau percaya, ada suara yang bilang, dia cuma bayar. Dia cuma bayar. Aku nggak bisa matiin suaranya.”


Malam itu, Kiki datang ke apartemenku dengan dua gelas kopi dan wajah orang yang sudah tahu jawabannya sebelum bertanya.

Aku menceritakan semuanya. Hujan. Payung. Helm putih ukuran kecil. Satu jam di depan gerbang. Setiap kali aku mau percaya, ada suara yang bilang, dia cuma bayar.

Kiki mendengarkan tanpa memotong. Waktu aku selesai, ia meletakkan kopinya di meja dan menatapku.

“Val. Kamu masih nyimpen file itu?”

Aku tahu file apa yang ia maksud.

“Masih.”

“Kenapa nggak kamu kasih ke dia?”

“Aku udah bilang, Ki. Aku mau dia percaya karena aku. Bukan karena bukti.”

Kiki diam lama. Ia memutar gelas kopinya di atas meja.

“Kamu tahu nggak,” katanya akhirnya, “aku dulu nggak percaya Reza serius.”

Aku mengangkat kepala.

“Dia ngajak aku makan malam tiga kali setelah rooftop. Aku tolak dua kali. Aku pikir dia cuma iseng. Aku pikir dia cuma pelarian karena kamu tolak dia.” Kiki tersenyum tipis. “Terus suatu malam dia kirim foto. Foto lama. Dari zaman SMA. Ulang tahun kamu yang ketujuh belas, di rumahmu. Aku di pojok, pakai kacamata tebal, rambut kuncir dua, ketawa sama kue ulang tahun.”

“Aku ingat foto itu.”

“Reza bilang dia nyimpen foto itu dari SMA. Bukan karena ada kamu di situ. Karena ada aku.” Kiki menatap gelas kopinya. “Dia bilang dia naksir aku dari umur tujuh belas. Tapi keluarganya mau dia sama kamu, jadi dia nurut. Sepuluh tahun dia nurut.”

Aku menatap Kiki. Matanya basah di balik kacamata.

“Aku percaya dia sekarang,” kata Kiki pelan. “Bukan karena aku nggak percaya dia sebelumnya. Aku nggak percaya diriku sendiri. Aku nggak percaya ada orang yang bisa suka aku duluan. Sebelum kamu. Sebelum semuanya.”

Ia mengangkat kepala, menatapku.

“Val. Kadang orang butuh bukti bukan karena nggak percaya kamu. Tapi karena nggak percaya dirinya sendiri.”

Aku diam.

Kalimat itu masuk ke dadaku, pelan, seperti kunci yang menemukan lubangnya.

Setiap kali aku mau percaya, ada suara yang bilang, dia cuma bayar.

Juna tidak meragukanku. Juna meragukan dirinya. Ia tidak percaya bahwa seseorang bisa memilihnya tanpa alasan. Tanpa jasa. Tanpa sesuatu yang ia berikan lebih dulu. Ia sudah sembilan tahun hidup dengan keyakinan itu, sejak amplop di pemakaman Bapaknya. Keyakinan bahwa nilainya hanya sebesar apa yang ia berikan.

Dan satu-satunya hal yang bisa membuktikan sebaliknya, satu-satunya hal yang bisa menunjukkan bahwa aku memilihnya sebelum ia memberiku apa pun, ada di HP lama dengan baterai kembung di laci nakasku.

“Kalau aku kasih,” kataku pelan, “itu ngatur lagi, Ki. Aku ngatur dia percaya.”

“Nggak.” Kiki menggeleng. “Ngatur itu kalau kamu kasih diam-diam, terus dia nggak bisa nolak. Ini kamu kasih terang-terangan. Dia boleh dengerin, boleh nggak. Dia boleh percaya, boleh nggak.” Kiki meraih tanganku. “Itu bukan ngatur, Val. Itu jujur.”


Kiki pulang jam sebelas.

Aku duduk di kasur, memeluk lutut, menatap laci nakas.

Lalu aku membukanya.

HP lama. Casing ungu yang pudar. Baterai kembung. Layar retak di sudut.

Di sebelahnya, laptop. Di dalam laptop, salinan file itu. Aku sudah menyalinnya tiga kali, lima tahun lalu, karena aku takut HP ini mati selamanya.

Aku membuka laptop.

Folder. Nama folder: J. Aku memberinya nama itu enam bulan lalu, setelah warung bubur Bu Sum. Sebelumnya, nama foldernya: Mas Lift.

Di dalamnya, satu file audio.

kalau aku nggak keluar.m4a

Durasi: 41 menit 17 detik.

Aku belum memutarnya sejak enam bulan lalu. Sejak hari aku duduk di mobil di seberang warung bubur dengan kaca setengah terbuka, dan mendengar suara yang sama tertawa di dekat gerobak, dan lututku lemas. Malam itu aku memutar file ini sekali, dari awal sampai akhir, untuk memastikan. Lalu aku tidak memutarnya lagi. Aku tidak perlu. Aku sudah tahu.

Aku memakai earphone.

Aku menekan play.


Hening dulu. Beberapa detik. Bunyi napas, pendek-pendek, gemetar. Napasku. Napas gadis dua puluh tiga tahun yang berdiri sendirian di kotak baja yang berhenti di antara dua lantai, di gedung rumah sakit, jam sepuluh malam.

Lalu bunyi ketukan. Dari luar. Di pintu baja.

Lalu suara.

Aku memejamkan mata.

Aku tidak akan menceritakan apa yang ada di file itu. Tidak di sini. Bukan sekarang. Itu bukan milikku untuk diceritakan sendirian.

Aku hanya akan bilang: aku mendengarkan empat puluh satu menit tujuh belas detik itu sampai habis. Duduk di kasur, memeluk lutut, earphone di telinga, di apartemen yang terlalu luas. Aku tertawa di menit kedua puluh tiga, di tempat yang sama aku tertawa lima tahun lalu. Aku menangis di menit ketiga puluh delapan, di tempat yang sama aku menangis lima tahun lalu.

Dan di detik-detik terakhir, waktu suara-suara perawat menerobos dan pintu baja itu terbuka dan rekaman berakhir dengan bunyi gemerisik selimut dan roda kursi roda, aku mendengar napasku sendiri. Napas gadis dua puluh tiga tahun itu. Napasnya tidak pendek-pendek lagi.

Napasnya tenang.

Aku melepas earphone. Menatap layar laptop. Kursor berkedip di nama file.

kalau aku nggak keluar.m4a

Aku keluar. Lima tahun lalu, aku keluar dari lift itu. Dan aku keluar dari rumah sakit. Dan aku keluar dari semua hal yang seharusnya membunuhku.

Karena ada suara di balik pintu baja yang menyuruhku bertahan sampai sepuluh. Lalu sampai sepuluh lagi. Lalu sampai sepuluh lagi.


Pintu apartemenku diketuk jam sebelas lewat empat puluh.

Mama. Masih memakai kebaya dari acara yayasan, wajahnya lelah, sanggulnya sedikit berantakan. Ia membawa map plastik bening di dada.

“Kiki telepon Mama,” katanya. “Katanya kamu mau kasih file itu ke Juna.”

“Belum, Ma. Aku belum mutusin.”

Mama masuk. Duduk di sofa ruang tengah. Menatap laptop yang masih terbuka di kasur, yang bisa ia lihat dari pintu kamar.

“Kamu dengerin lagi,” katanya. Bukan pertanyaan.

“Iya.”

“Masih sama?”

“Masih sama, Ma.”

Mama menatap map plastik di pangkuannya. Lama.

“Nak,” katanya. “Kalau kamu kasih file itu ke dia, Mama juga mau kasih sesuatu.”

Aku menatap map itu. “Apa itu, Ma?”

Mama memegang map itu lebih erat. “Sesuatu yang Mama temuin enam bulan lalu. Waktu kamu bilang nama donor itu Juna Mahesa. Mama buka kotak-kotak lama di gudang yayasan. Kotak dari lima tahun lalu.”

“Kotak apa?”

Mama menatapku. Matanya basah.

“Itu biar Mama yang kasih langsung ke dia,” katanya. “Mama udah nunggu enam bulan. Mama nggak kasih tahu kamu, karena Mama takut kamu pakai buat ngatur. Mama takut kamu kasih ke dia di waktu yang pas, dengan cara yang pas, kayak kamu atur kontrak.” Mama tersenyum, sedih. “Tapi kalau kamu kasih file itu terang-terangan, tanpa ngatur, Mama juga akan kasih ini terang-terangan.”

Aku tidak mengerti. Aku menatap map plastik bening itu. Dari luar, aku hanya bisa melihat selembar kertas di dalamnya. Formulir. Kertas yang sudah menguning di ujung. Ada tulisan tangan di atasnya, tinta biru, tapi map plastiknya memantulkan lampu dan aku tidak bisa membacanya.

“Ma, itu apa?”

“Bukan punya kamu, Nak,” kata Mama lembut. “Itu punya dia.”


Jam dua pagi.

Aku duduk di kasur dengan HP di tangan. HP-ku yang sekarang, bukan yang lama. WhatsApp terbuka. Percakapan dengan Pak Teknisi, yang tidak pernah kuganti namanya.

File itu sudah di sana. Terlampir. Belum terkirim.

kalau aku nggak keluar.m4a

Aku mengetik pesan di bawahnya. Menghapusnya. Mengetik lagi. Seperti dia. Tiga kali hapus sebelum mengirim sesuatu yang benar.

Akhirnya:

Jun.

Ini bukan bukti. Ini aku, lima tahun lalu. Sebelum aku tahu namamu. Sebelum transplantasi. Sebelum kartu itu.

Kamu boleh nggak dengerin. Kamu boleh hapus. Aku nggak ngatur apa-apa.

Tapi kalau kamu dengerin, dengerin sampai habis. 41 menit. Jangan berhenti di tengah.

Aku udah nggak takut lagi kamu tahu.

Aku menatap pesan itu lama.

Lalu aku menekan kirim.

Centang satu. Abu-abu.

Centang dua. Abu-abu. Terkirim.

Aku menaruh HP di kasur, layar menghadap ke atas, dan memeluk boneka kelinci, dan menatap layar itu.

Satu menit. Lima menit. Sepuluh menit.

Lalu, di jam dua lewat tiga belas menit, centang itu berubah.

Biru.

Ia membuka pesannya.

Aku menahan napas.

Di layar, di bawah nama Pak Teknisi, status berubah: sedang mengetik...

Lalu hilang.

Lalu, untuk waktu yang sangat lama, tidak ada apa-apa.

Tidak ada tiga titik. Tidak ada balasan. Hanya centang biru, dan nama Pak Teknisi, dan status online yang tidak berubah.

Ia tidak membalas.

Ia sedang mendengarkan.

Aku memejamkan mata, memeluk boneka kelinci lebih erat, dan di dalam kepalaku, tanpa suara, aku mulai menghitung.

Satu. Dua. Tiga.

Empat puluh satu menit tujuh belas detik. Aku menghitung bersamanya, dari lima belas kilometer jauhnya, seperti dulu ia menghitung bersamaku dari balik pintu baja.