Chapter Twenty One

Aku Nggak Pura-Pura

POV: Juna

Aku memberi tahu Tari jam enam pagi, di ruang tengah, di bawah kipas angin yang batuk-batuk.

Aku tidak tidur semalaman. Aku duduk di atap sampai jam tiga, lalu turun dan duduk di kursi plastik di ruang tengah sampai matahari terbit, menatap foto Bapak dan Ibu di dinding. Aku menyusun kalimat. Aku menghapus kalimat. Aku menyusunnya lagi.

Ketika Tari keluar dari kamarnya dengan rambut acak-acakan dan handuk di bahu, aku masih duduk di sana.

“Mas nggak tidur?”

“Tar. Duduk dulu.”

Ia menatapku. Lalu duduk di lantai di depanku, bersila, seperti waktu ia membuat analisis Teori #4 dengan kacamata baca palsu.

Aku menceritakan semuanya. Soal tender. Soal promosi. Soal Yayasan Cahaya Bangsa. Soal Bu Ratih, ketua dewan pembinanya. Soal pencairan yang dipercepat.

Tari mendengarkan tanpa memotong. Wajahnya berubah pelan-pelan, dari bingung, ke kaget, ke sesuatu yang lebih keras.

Ketika aku selesai, ia diam lama.

“Terus?” katanya.

“Terus Mas mau kamu lepas beasiswanya.”

Hening.

Kipas angin berdecit. Di luar, Bu Sum menyalakan kompor gerobaknya. Bunyi sendok sayur di panci.

“Apa?” kata Tari pelan.

“Mas yang bayar kuliahmu lagi. Kayak dulu. Mas bisa lembur. Mas bisa...”

“Mas.” Tari berdiri. “Aku daftar sendiri.”

“Mas tahu, Tar, tapi...”

“Mas nggak tahu!” Suaranya naik. “Aku daftar sendiri, Mas! Tiga bulan lalu! Sebelum Mas kenal Kakak! Aku nulis esai tiga minggu! Aku begadang tiap malam! IPK-ku tiga koma delapan! Aku lolos seleksi berkas, aku lolos wawancara, aku...”

“Pencairannya dipercepat, Tar.”

“Terus kenapa?”

“Kita nggak tahu kamu lolos karena kamu, atau karena...”

Aku berhenti. Terlambat.

Tari menatapku. Wajahnya putih. Matanya, yang tadi menyala marah, sekarang membesar dan basah dan sangat, sangat terluka.

“Karena apa, Mas?” bisiknya.

Aku tidak menjawab.

“Karena Kakak?” Suaranya bergetar. “Mas pikir aku lolos karena Kakak? Mas pikir aku nggak cukup pinter buat lolos sendiri?”

“Bukan gitu, Tar.”

“Terus gimana?”

“Mas cuma... Mas nggak mau kita utang sama...”

“Utang!” Tari tertawa. Tawa yang pecah dan basah dan sangat mirip dengan tawa Valerie di atap semalam. “Itu lagi! Selalu itu! Mas, aku udah sembilan tahun dengerin Mas ngomong soal utang! Jangan terima dari Paman! Jangan terima dari tetangga! Jangan terima dari siapa pun! Nanti ditagih!”

“Tar...”

“Mas bukan takut utang!” Tari berteriak sekarang. Air matanya jatuh. “Mas takut ditolong! Mas takut ada orang yang sayang Mas tanpa alasan! Karena kalau ada yang sayang Mas tanpa alasan, Mas nggak bisa ngontrol! Mas nggak bisa bayar! Mas nggak bisa nolong balik!”

Aku diam.

Tari menatapku. Napasnya berat. Tangannya terkepal di sisi tubuh, sama seperti tanganku semalam di atap, menahan diri dari sesuatu.

“Aku nggak akan lepas beasiswanya, Mas,” katanya. Pelan sekarang. Dingin. “Itu punyaku. Aku yang dapet. Mas boleh nggak percaya. Tapi aku tahu.”

Ia berbalik, masuk ke kamarnya, dan mengunci pintu.

Lima belas menit kemudian, ia keluar dengan tas punggung dan tas jinjing berisi baju. Ia tidak menatapku. Ia berjalan ke pintu depan.

“Mau ke mana, Tar?”

“Kos Dinda. Beberapa hari.”

“Tar.”

Ia berhenti di ambang pintu. Tidak menoleh.

“Mas,” katanya. “Waktu Bapak sama Ibu nggak ada, Mas nggak pernah bilang ke aku kalau Mas capek. Nggak pernah sekali pun. Aku nggak tahu Mas donor sel punca. Aku nggak tahu Mas makan nasi kucing tiga kali sehari. Aku tahu dari Kakak.”

Ia menarik napas.

“Kakak yang kasih tahu aku soal Mas. Bukan Mas sendiri. Pikirin itu.”

Pintu menutup.

Aku duduk di kursi plastik, sendirian, di bawah kipas angin yang batuk-batuk, di depan foto Bapak dan Ibu.

Bapak tersenyum dari dinding. Seperti biasa.

Aku tidak bisa menatapnya.


Pak Hendrik tidak menyodorkan kacang telur.

Ia menatapku dari balik mejanya selama hampir satu menit tanpa bicara, setelah aku selesai menjelaskan. Lalu ia melepas kacamatanya, memijat pangkal hidungnya, dan memakai kacamatanya lagi.

“Ulangi,” katanya.

“Saya mau promosinya dibatalkan, Pak. Saya mau balik jadi teknisi biasa. Dan saya mau dipindah dari tim Hadinata Tower. Ke proyek lain. Di mana aja.”

“Kenapa?”

“Alasan pribadi, Pak.”

“Alasan pribadi.” Pak Hendrik mengulang kata itu seperti mengulang kategori kerusakan yang tidak masuk akal. Lift kesepian. “Juna. Kamu sembilan tahun kerja di sini. Kamu nggak pernah minta apa-apa. Nggak pernah minta naik gaji. Nggak pernah minta cuti lebih dari tiga hari. Sekarang kamu dapet promosi, dan kamu minta dibatalin?”

“Iya, Pak.”

“Karena Bu Valerie?”

Aku diam.

Pak Hendrik menatapku lama. Lalu ia membuka laci. Aku menunggu tangannya keluar dengan kacang telur.

Ia mengeluarkan selembar formulir. Formulir permohonan mutasi.

“Ada proyek gedung baru di Cikarang,” katanya pelan. “Kawasan industri. Jauh. Panas. Debu di mana-mana. Liftnya barang, bukan penumpang. Nggak ada yang mau ke sana.”

“Saya mau, Pak.”

Pak Hendrik menatapku. “Kamu yakin?”

“Yakin.”

Ia mendorong formulir itu ke arahku. Aku mengisinya. Tanganku tidak gemetar. Aku heran tanganku tidak gemetar.

Waktu aku menyerahkan formulir itu kembali, Pak Hendrik menerimanya tanpa melihat. Ia menatapku.

“Saya nggak kasih kacang telur hari ini,” katanya.

“Iya, Pak.”

“Kacang telur buat orang yang masih waras.”

Aku mengangguk. Berdiri. Berjalan ke pintu.

“Juna.”

Aku berhenti.

Pak Hendrik melempar sesuatu. Aku menangkapnya refleks. Sebungkus kacang telur.

“Buat di jalan,” katanya, tanpa menatapku. “Cikarang jauh.”


Aku menyerahkan tim Hadinata Tower kepada Bang Ucok jam tiga sore.

Kami berdiri di ruang mesin, di depan meja besi kecil di pojok. Aku menunjukkan jadwal pemeliharaan, catatan kerusakan, kontak penting. Aku menunjukkan bantalan rol lift nomor tiga yang baru kuganti. Aku menunjukkan sensor pintu lift nomor tiga yang suka telat nol koma dua detik kalau debu proyek masuk.

Bang Ucok mendengarkan semuanya tanpa satu pepatah pun.

Itu yang paling membuatku takut.

Ketika aku selesai, ia menatapku lama.

“Jun,” katanya. “Kamu yakin?”

“Yakin, Bang.”

“Kamu nggak yakin.”

“Yakin.”

“Pepatah bilang...” Ia berhenti. Menggeleng. “Nggak. Hari ini nggak ada pepatah.”

Gilang, yang dari tadi berdiri di dekat pintu, tiba-tiba melangkah maju dan memelukku. Erat. Seperti anak kecil memeluk kakaknya yang mau merantau.

“Bang Juna,” katanya di bahuku. “Nanti balik, ya.”

Aku tidak menjawab. Aku menepuk punggungnya. Dua kali.


Motorku diparkir di basement dua.

Basement dua Hadinata Tower luas, dingin, berbau bensin dan beton basah. Lampu-lampu neon panjang di langit-langit menyala putih, beberapa berkedip. Deretan mobil-mobil mahal milik eksekutif berjajar rapi. Motorku di pojok, di area parkir motor vendor, di sebelah pilar beton yang ada coretan nomor.

Aku memakai jaket. Mengikat tali sepatu. Mengambil helm dari spion.

“Jun.”

Aku membeku.

Suaranya bergema di basement yang kosong. Pantulannya kembali dari dinding beton, sekali, dua kali, seperti ia memanggilku tiga kali.

Aku berbalik.

Valerie berdiri di ujung lorong parkir, di bawah lampu neon yang berkedip. Ia memakai blazer hitam, rok pensil, heels. Pakaian kantor. Rambutnya disanggul rapi. Wajahnya bersih, riasannya sempurna. Wajah CEO.

Tapi tangannya. Tangannya gemetar di sisi tubuhnya.

Pak Darto berdiri lima langkah di belakangnya. Wajahnya datar. Tapi ia tidak memegang buku saku.

“Kiki bilang kamu minta pindah,” kata Valerie. Suaranya bergema. “Ke Cikarang.”

“Iya.”

“Pak Hendrik bilang kamu batalin promosi.”

“Iya.”

“Tari bilang kamu minta dia lepas beasiswa.”

Aku diam.

“Tari telepon aku jam delapan pagi, Jun.” Suaranya mulai retak. “Dia nangis. Dia bilang dia di kos temannya. Dia bilang kamu nggak percaya dia pinter.”

Aku menunduk.

Valerie berjalan mendekat. Hak sepatunya berbunyi di lantai beton. Tok. Tok. Tok. Seperti di lobby hari pertama. Seperti detak jam. Bunyi itu bergema di seluruh basement, berlapis-lapis, seperti ada sepuluh Valerie yang berjalan ke arahku.

Ia berhenti satu meter di depanku.

“Kenapa?” tanyanya. “Kenapa kamu hukum dirimu sendiri?”

“Aku nggak hukum diriku, Val.”

“Kamu pindah ke Cikarang. Ke proyek yang nggak ada yang mau. Kamu tolak promosi yang kamu pantas dapet. Kamu bikin adikmu sendiri nangis.” Ia menatapku. “Itu apa namanya kalau bukan hukuman?”

Aku mengangkat kepala. Menatapnya.

“Itu namanya ngelunasin,” kataku.

Ia membeku.

“Kontraknya dari kamu. Promosinya dari kamu. Beasiswanya dari keluargamu.” Aku memegang helm di tanganku erat-erat. “Aku nggak bisa balikin kontraknya. Itu bukan punyaku. Tapi promosinya bisa aku balikin. Tim Hadinata bisa aku tinggalin. Biar nggak ada yang nyambung lagi.”

“Jun...”

“Biar kamu nggak utang apa-apa sama aku,” kataku. “Dan aku nggak utang apa-apa sama kamu.”

Valerie menatapku. Matanya penuh. Riasan sempurnanya mulai goyah di sudut mata.

“Mulai hari ini lunas, Val,” kataku pelan. “Kamu bebas.”


Hening.

Lampu neon di atas kepala kami berkedip. Sekali. Dua kali. Di kejauhan, sebuah mobil keluar dari slot parkir, ban-nya berdecit di lantai beton yang licin.

“Aku nggak mau bebas,” kata Valerie.

Suaranya sangat pelan.

“Val.”

“Aku nggak mau bebas, Jun. Aku nggak mau lunas.” Air matanya jatuh. Satu. Riasan matanya meleleh membentuk garis hitam tipis di pipinya. “Aku udah bilang di atap. Aku mau seumur hidup.”

“Seumur hidup itu lama, Val.”

“Aku tahu! Aku tahu lama! Aku hampir nggak punya seumur hidup, Jun! Lima tahun lalu dokter bilang aku mungkin nggak sampai Natal!” Suaranya bergema di basement, pecah, berlapis-lapis. “Kamu yang kasih aku seumur hidup! Dan sekarang kamu bilang lunas?”

“Itu yang aku takutin.”

“Apa?”

“Itu.” Aku menatapnya. “Kamu bilang aku yang kasih kamu seumur hidup. Jadi kamu mau kasih seumur hidupmu balik ke aku. Itu bayar, Val. Itu namanya bayar.”

Valerie menatapku seperti aku baru saja menamparnya.

“Kamu...” Napasnya tersendat. “Kamu beneran nggak bisa percaya, ya? Kamu beneran nggak bisa percaya ada orang yang sayang kamu tanpa alasan?”

Aku tidak menjawab.

Karena Tari sudah menanyakan hal yang sama, enam jam lalu, di ruang tengah, dengan air mata yang sama.

Dan aku tidak punya jawaban untuk Tari. Aku tidak punya jawaban untuk Valerie.


Valerie melangkah maju. Setengah meter sekarang.

“Cium aku,” katanya.

Aku menatapnya.

“Cium aku sekali lagi, Jun.” Suaranya bergetar. “Kalau habis itu kamu masih mau pergi, pergi. Aku nggak akan halangin. Aku nggak akan suruh Pak Darto kejar kamu. Aku nggak akan atur apa-apa lagi.”

“Val...”

“Satu kali.” Ia mengangkat dagunya. Wajahnya basah. Matanya keras kepala. “Kamu yang minta di bawah pohon ketapang. Sekarang aku yang minta. Satu kali.”

Aku menatap wajahnya.

Wajah yang kucium di lobby, di lift, di bawah pohon ketapang, di depan perapian, di balik pilar gerbang rumah Papa-nya. Wajah yang menangis di atap semalam. Wajah yang hidup karena sesuatu yang kuberikan lima tahun lalu.

Aku ingin. Seluruh tubuhku ingin.

Kalau aku menciumnya sekarang, aku tidak akan bisa pergi. Aku tahu itu. Aku akan menciumnya, lalu aku akan memeluknya, lalu aku akan bilang nggak apa-apa, lalu aku akan bangun besok pagi dengan pertanyaan yang sama di tengah dadaku.

Aku mengangkat tanganku. Menyentuh pipinya. Pelan. Ibu jariku mengusap garis hitam riasan yang meleleh di bawah matanya.

Ia memejamkan mata. Menunggu.

Aku membungkuk.

Dan aku mencium dahinya.

Bukan bibirnya. Dahinya. Lama. Seperti ibuku mencium dahiku waktu aku lulus SD. Seperti orang mengucapkan selamat jalan kepada seseorang yang akan pergi jauh.

Ketika aku menjauhkan wajahku, Valerie membuka mata. Ia menatapku. Ia tahu apa artinya ciuman di dahi. Aku melihat ia tahu.

Wajahnya hancur. Pelan-pelan. Seperti gedung yang runtuh dalam gerakan lambat.

“Jaga diri, Val,” kataku. “Makan yang bener.”

Aku memakai helm.


Aku naik ke motor. Memasukkan kunci. Menyalakan mesin. Bunyinya keras di basement yang sunyi, bergema, menelan semua suara lain.

Lalu aku melihat Pak Darto.

Ia sudah tidak di belakang Valerie lagi. Ia berdiri di depan motorku. Di jalur keluar. Tegak, tangan di sisi tubuh, seperti tembok.

Aku menatapnya dari balik kaca helm.

“Pak,” kataku. “Minggir.”

Pak Darto tidak bergerak. Ia menatapku lama dengan wajah datarnya yang tidak bisa dibaca. Lalu, perlahan, ia mengeluarkan buku saku dari saku jasnya.

Ia membukanya. Menatap halaman kosong. Pulpennya di tangan.

Lalu ia menutup buku saku itu lagi. Tanpa menulis apa-apa.

“Mas Juna,” katanya. Suaranya sama datar seperti biasa. Tapi ada sesuatu di bawahnya yang belum pernah kudengar. “Saya tidak akan mencatat ini.”

Aku tidak bisa menjawab.

“Dua belas tahun saya menjaga Ibu,” lanjutnya. “Saya menjaganya di rumah sakit. Satu tahun. Setiap malam saya duduk di kursi di luar kamarnya. Saya dengar dia nangis. Saya dengar dia muntah. Saya dengar dia baca kartu itu keras-keras, setiap malam, supaya bisa tidur.”

Tanganku di setang motor mencengkeram.

“Saya tidak pernah mencatat apa pun di tahun itu, Mas. Karena tidak ada yang layak dicatat. Hanya bertahan.” Pak Darto memasukkan buku sakunya kembali. “Sejak Mas datang, saya mencatat dua puluh tiga insiden. Dua puluh tiga kali Ibu tertawa. Dua puluh tiga kali Ibu hidup.”

Ia menatapku.

“Ini tidak saya catat,” katanya pelan. “Karena ini bukan insiden. Ini kerusakan.”

Lalu ia melangkah ke samping. Membuka jalan.


Aku menarik gas.

Motor meluncur keluar dari slot parkir. Aku melewati deretan mobil-mobil mahal, pilar-pilar beton, lampu neon yang berkedip. Di spion kiri, aku melihat Valerie berdiri di tempat yang sama. Tidak bergerak. Tangan di sisi tubuh.

Lalu, waktu motorku sampai di tanjakan menuju basement satu, aku mendengar suaranya.

Bukan panggilan. Bukan Jun. Teriakan.

“AKU NGGAK PURA-PURA!”

Suaranya meledak di basement. Bergema. Memantul dari setiap dinding beton, setiap pilar, setiap kap mobil. Berlapis-lapis. Seperti seratus Valerie berteriak bersamaan.

“AKU NGGAK PURA-PURA, JUN! DARI AWAL! DARI SEBELUM AWAL!”

Aku tidak berhenti.

Aku tidak tahu bagaimana aku tidak berhenti. Tanganku di setang gemetar begitu keras sampai motorku oleng di tanjakan. Tapi aku tidak berhenti.

Di spion, untuk sedetik terakhir sebelum tanjakan menelan pandanganku, aku melihatnya jatuh. Lututnya menghantam lantai beton. Tangannya menutup wajah.

Dan aku melihat Pak Darto berlari. Mantan marinir yang tidak pernah berlari di depan siapa pun, berlari, dan berlutut di sebelahnya, dan memeluknya.

Lalu tanjakan. Lalu basement satu. Lalu pintu keluar. Lalu cahaya sore Jakarta yang terlalu terang.


Lampu merah di Cawang.

Aku berhenti di bawah papan reklame. Di atasku, wajahnya menatap ke bawah. Blazer putih. Tatapan lurus ke kamera. Senyum yang kata Bang Ucok hasil edit.

Aku tidak melihat ke atas.

Aku menunduk di balik helm, dan aku menangis.

Bukan tangisan pelan. Tangisan seperti Tari waktu kecil, waktu sepatunya jebol dan ia berdiri di gerbang sekolah tidak bisa pulang. Tangisan yang keluar dari tempat yang sudah sembilan tahun tertutup rapat, sejak pemakaman Bapak dan Ibu, sejak amplop dan tagihan tiga bulan sesudahnya. Bahuku berguncang. Kaca helmku berembun. Aku tidak bisa melihat apa-apa.

Lampu berubah hijau.

Klakson di belakangku berbunyi. Sekali. Dua kali. Panjang.

Aku tidak bergerak.

Motor-motor menyelip di kiri dan kananku. Seseorang berteriak sesuatu. Klakson lagi.

Aku tidak bergerak.

Di saku jaketku, formulir lecek dengan judul KENAPA DIA MENCIUMKU. Di bawah semua teori yang dicoret, di bawah jawaban yang kutulis malam itu, ada satu kalimat yang belum kutulis. Kalimat yang baru saja diteriakkan di basement dua, bergema seratus kali.

Aku nggak pura-pura. Dari awal. Dari sebelum awal.

Dari sebelum awal.

Aku tidak mengerti. Aku sama sekali tidak mengerti.

Lampu berubah merah lagi.

Aku masih di sana. Di bawah wajahnya. Menangis di balik helm, di tengah lalu lintas Jakarta yang tidak peduli, sementara di belakangku, seratus kendaraan mengklakson laki-laki bodoh yang baru saja membebaskan satu-satunya orang yang pernah memintanya untuk tidak pergi.