Chapter Fifteen

Ulang Tahun Kedua

POV: Valerie

Setiap tanggal 17 Maret, aku bangun jam lima pagi tanpa alarm.

Lima tahun berturut-turut. Tubuhku tahu tanggalnya sebelum kepalaku sadar. Aku membuka mata dalam gelap, mendengar dengung AC dan suara kendaraan pertama di jalan jauh di bawah, dan aku tahu, bahkan sebelum melihat HP, bahwa hari ini adalah hari itu.

Aku berbaring diam beberapa menit, menatap langit-langit yang terlalu tinggi, dan menyentuh bekas luka kecil di bawah tulang selangka kananku.

Bekas luka yang dua minggu lalu dicium seseorang di depan perapian, di tengah kabut.

Masih sakit? tanyanya waktu itu.

Udah nggak, kataku.

Itu benar. Bekas lukanya sudah tidak sakit. Yang sakit adalah tidak bisa menjelaskannya.


HP-ku bergetar jam enam lewat dua puluh.

Pagi, Val. Hari ini aku hari pertama jadi supervisor. Doain nggak salah ketik laporan.

Aku tersenyum ke layar. Lalu aku mengetik:

Kamu pasti salah ketik. Tapi nggak apa-apa. Supervisor ganteng boleh salah ketik.

Siapa yang bilang?

Peraturan perusahaan. Aku yang bikin.

Kamu bikin peraturan buat semua hal.

Buat semua hal yang menyangkut kamu.

Tiga titik muncul. Hilang. Muncul lagi. Aku tahu ia sedang mengetik, menghapus, mengetik lagi. Aku sudah hafal ritmenya. Biasanya ia butuh tiga kali hapus sebelum mengirim sesuatu yang manis.

Nanti malam makan bareng? Aku traktir. Gaji supervisor.

Aku menatap pesan itu lama.

Aku ingin bilang iya. Aku ingin bilang iya dengan seluruh tubuhku. Aku ingin duduk di angkringan Mbah Karto dengan gaun yang kena kecap, dan menyuapinya nasi kucing, dan merayakan hari pertamanya jadi supervisor.

Tapi hari ini 17 Maret.

Maaf, Sayang. Hari ini ada acara keluarga. Besok, ya?

Jeda. Lebih lama dari biasanya.

Oke. Kamu nggak apa-apa?

Aku menatap pertanyaan itu. Empat kata. Dan entah bagaimana, dari empat kata di layar, ia bisa mendengar sesuatu yang tidak kutulis.

Aku nggak apa-apa, tulisku. Semangat kerjanya. Aku sayang kamu.

Aku juga sayang kamu, Val.

Aku menaruh HP di dada dan memejamkan mata.

Ia sudah bisa mengetik sayang tanpa menghapus tiga kali.


Rumah Papa dan Mama di Menteng sunyi pagi itu. Pelayan-pelayan sudah diberi libur setengah hari, seperti setiap 17 Maret. Hanya ada Mama di dapur, memakai celemek bunga-bunga yang sudah lusuh, berdiri di depan kompor.

Mama tidak bisa masak. Sama seperti aku. Tapi setiap 17 Maret, selama lima tahun, Mama memasak satu hal dengan tangannya sendiri.

Bubur kacang ijo.

“Kamu dateng,” kata Mama tanpa menoleh. Ia sedang mengaduk panci kecil dengan sendok kayu. Kacang ijonya sudah pecah, santannya sudah masuk, wangi jahe dan gula aren memenuhi dapur.

“Selalu dateng, Ma.”

Mama menoleh. Matanya sudah merah. Ia selalu menangis di hari ini, dari pagi. Papa bilang Mama menangis dari jam tiga subuh setiap 17 Maret, diam-diam di kamar mandi, supaya aku tidak lihat.

Aku memeluk Mama dari belakang. Ia menepuk tanganku yang melingkar di pinggangnya.

“Lima tahun,” bisiknya.

“Lima tahun, Ma.”

“Ulang tahun kedua kamu yang kelima.”

Aku tertawa pelan di bahunya. Mama selalu menyebutnya begitu: ulang tahun kedua. Ulang tahun pertama adalah hari aku lahir. Ulang tahun kedua adalah hari aku hidup lagi.


Kami makan di gazebo kecil di taman belakang, di bawah pohon kamboja yang sedang berbunga putih. Dua mangkuk bubur kacang ijo. Satu kue kecil dari toko roti langganan, dengan satu lilin berbentuk angka lima.

Papa datang terlambat, seperti setiap tahun. Ia tidak bisa menghadapi pagi hari ini. Ia muncul jam sepuluh, dengan mata bengkak dan kemeja yang kancingnya salah pasang, membawa sebuah kotak kecil berbungkus kertas emas.

“Papa, kancing Papa salah.”

Papa menunduk, menatap kemejanya, lalu menatapku. “Papa tahu.”

“Kenapa nggak dibenerin?”

“Biar kamu benerin.”

Aku berdiri dan membetulkan kancing kemeja Papa. Satu per satu. Papa diam selama aku melakukannya, menatap ubun-ubunku. Waktu aku selesai, ia memelukku. Erat. Seperti waktu aku masih kecil dan ia pulang dari perjalanan bisnis.

“Terima kasih,” bisiknya di rambutku.

“Buat apa, Pa?”

“Buat hidup.”

Kami duduk bertiga di gazebo. Mama menyalakan lilin. Kami tidak menyanyi. Kami tidak pernah menyanyi di hari ini. Kami hanya diam, menatap api kecil di atas angka lima, sampai lilinnya meleleh sedikit.

Lalu, seperti setiap tahun, Mama mengangkat mangkuk buburnya ke depan dada, memejamkan mata, dan berbisik:

“Terima kasih, Nak. Di mana pun kamu.”

Papa mengangkat mangkuknya juga. “Terima kasih.”

Aku mengangkat mangkukku.

Lima tahun aku mengucapkan terima kasih ke udara. Ke orang yang tidak punya wajah, tidak punya nama, hanya tulisan tangan biru di sebuah kartu kecil. Lima tahun aku membayangkan wajahnya. Kadang aku membayangkan laki-laki tua. Kadang anak muda. Kadang perempuan. Aku tidak tahu.

Tahun ini aku tahu.

Tahun ini, orang itu sedang di Hadinata Tower, hari pertama jadi supervisor, mungkin sedang salah ketik laporan, mungkin sedang makan bekal di ruang mesin, mungkin sedang menatap HP-nya dan bertanya-tanya kenapa pacarnya terdengar aneh pagi ini.

“Terima kasih,” bisikku ke mangkuk bubur. Suaraku pecah.

Mama membuka mata. Menatapku.

“Kamu belum bilang ke dia,” katanya. Bukan pertanyaan.

Aku menurunkan mangkukku.

“Belum, Ma.”

“Kenapa?”

“Aku mau dia milih aku dulu.”

“Dia udah milih kamu, Nak.” Mama meletakkan mangkuknya. “Dia datang ke rumah ini pakai sepatu almarhum bapaknya. Dia bilang ke Papa, cuma dia yang bisa dia kasih. Dia udah milih kamu.”

“Aku tahu.”

“Terus apa lagi yang kamu tunggu?”

Aku menatap bubur kacang ijo di mangkukku. Menatap gula aren yang mengental di permukaannya.

“Aku takut, Ma,” kataku akhirnya. “Aku takut kalau dia tahu, dia bakal lihat aku beda. Dia bakal mikir aku sama dia karena utang. Dia orang yang paling takut ngerasa ditagih. Dia sendiri yang bilang.”

“Valerie.”

“Dia bilang, Ma. Di PMI. Dia bilang mending nggak tahu darahnya ke siapa. Biar orangnya nggak ngerasa utang.” Aku menyeka mataku dengan punggung tangan. “Gimana aku bilang ke orang kayak gitu, bahwa aku... bahwa aku adalah...”

Aku tidak bisa menyelesaikan kalimatnya.

Papa meletakkan tangannya di atas tanganku. Tangannya besar dan hangat dan sedikit gemetar.

“Nak,” katanya. “Makin lama kamu simpan, makin berat.”

“Aku tahu, Pa.”

“Papa pernah simpan sesuatu dari Mama. Satu bulan.” Papa menatap Mama. “Bukan hal buruk. Hadiah ulang tahun. Papa mau bikin kejutan. Tapi tiap hari Papa simpan, Papa makin takut ketahuan, makin takut salah ngomong, makin takut Mama kecewa. Akhirnya Papa sakit perut sebulan.”

Mama tertawa di sela tangisnya. “Itu hadiah kalung.”

“Kalungnya bagus,” kata Papa.

“Kalungnya jelek, Pa.”

Papa menatap Mama, tersinggung. Aku tertawa. Mama tertawa. Lalu kami bertiga tertawa di gazebo di bawah pohon kamboja, dengan mata merah dan bubur kacang ijo yang mulai dingin.

“Bilang,” kata Mama setelah tawanya reda. “Segera.”

Aku mengangguk.

“Janji?”

“Janji, Ma.”


Aku tidak langsung pulang.

Jam empat sore, aku menyuruh Pak Darto menyetir tanpa tujuan. Ia tidak bertanya. Ia hanya menyetir. Melewati Sudirman, melewati Semanggi, melewati Cawang, di bawah papan reklame dengan wajahku sendiri yang menatap ke jalan.

Di suatu tempat di Jakarta Timur, di pinggir taman kecil di dekat kanal, aku menyuruhnya berhenti.

Aku tidak tahu kenapa di sana. Taman itu tidak istimewa. Ada ayunan berkarat, perosotan yang catnya mengelupas, bangku semen yang retak. Anak-anak bermain bola di tanah lapang yang becek. Tapi dari sana, kalau aku melihat lurus ke ujung jalan, aku bisa melihat atap rusun lima lantai. Tempat jemuran. Tempat ia berdiri hari itu, memegang jepitan baju, waktu aku melambaikan tangan.

Aku duduk di jok belakang mobil dan menangis.

Bukan tangisan yang keras. Tangisan yang pelan, terus-menerus, seperti keran yang bocor. Aku tidak tahu kenapa aku menangis. Mungkin karena 17 Maret. Mungkin karena janji yang kubuat kepada Mama. Mungkin karena aku takut kehilangan sesuatu yang baru saja kudapat.

Pak Darto tidak menoleh. Ia mematikan radio dan menatap lurus ke depan, seperti di parkiran rumah sakit pagi itu, hari dokter melepas kacamatanya.

Lalu, setelah lama, aku mendengar ia bicara pelan di telepon. Terlalu pelan untuk kudengar.

Aku tidak bertanya ia menelepon siapa.


Empat puluh menit kemudian, seseorang mengetuk kaca jendela mobil.

Aku mengangkat kepala.

Juna berdiri di luar, masih memakai seragam abu-abu dengan tanda pengenal baru di dada, tulisannya SUPERVISOR. Rambutnya berantakan seperti habis memakai helm. Napasnya sedikit berat.

Dan di tangannya, ia memegang sebuah mangkuk plastik bertutup. Dari celah tutupnya, aku mencium wangi jahe dan gula aren.

Bubur kacang ijo.

Aku membeku.

Juna membuka pintu mobil. Pelan. Ia menatap wajahku, yang basah dan berantakan, dan wajahnya sendiri berubah. Ia tidak bilang apa-apa. Ia masuk ke jok belakang, duduk di sebelahku, menutup pintu, dan menyodorkan mangkuk plastik itu.

“Pak Darto bilang kamu belum makan dari siang,” katanya. “Aku beliin di Bu Sum. Kamu suka, kan?”

Aku menatap mangkuk itu.

Bubur kacang ijo. Di tanggal 17 Maret. Dibawa oleh tangan yang sama yang lima tahun lalu menulis tentang bubur kacang ijo di sebuah kartu kecil untuk orang asing.

Ia tidak tahu. Ia sama sekali tidak tahu.

Aku menangis lagi. Kali ini keras.

Juna panik. Ia menaruh mangkuk itu di jok, menarikku ke pelukannya, dan memelukku erat-erat. Tangannya di punggungku, mengusap pelan, bolak-balik, seperti mengusap sesuatu yang mudah tergores.

“Val. Val, kenapa? Kenapa? Ada yang jahatin kamu?”

Aku menggeleng di dadanya.

“Keluargamu kenapa-kenapa? Papa? Mama?”

Aku menggeleng lagi.

“Terus kenapa?”

Aku tidak bisa bicara. Aku hanya menangis di seragam abu-abunya yang bau oli dan sabun cuci, di bawah tanda pengenal baru bertuliskan SUPERVISOR, sementara di luar, anak-anak bermain bola di tanah becek dan langit Jakarta perlahan berubah oranye.

Juna tidak bertanya lagi. Ia hanya memelukku. Lama. Sangat lama.


Ketika tangisku akhirnya reda, aku masih bersandar di dadanya. Ia menyandarkan dagunya di ubun-ubunku.

“Hari ini,” kataku pelan, suaraku serak, “ulang tahun. Dari orang yang nyelamatin hidupku.”

Aku tahu bagaimana kalimat itu akan terdengar di telinganya. Aku membiarkannya.

Juna diam.

Aku merasakan tubuhnya menegang sedikit. Sangat sedikit. Hanya otot di lengannya yang mengencang.

“Laki-laki?” tanyanya. Suaranya hati-hati. Terlalu hati-hati.

“Iya.”

Hening.

“Dia...” Juna berhenti. Mulai lagi. “Dia ganteng?”

Aku mengangkat kepala dari dadanya dan menatapnya. Wajahnya serius, berusaha keras terlihat santai, tapi rahangnya tegang dan telinganya merah. Ia cemburu. Laki-laki ini cemburu pada dirinya sendiri, dan ia sama sekali tidak tahu.

Aku tertawa. Tertawa di sela air mata, tidak bisa ditahan.

“Kenapa ketawa?”

“Ganteng banget,” kataku.

Rahangnya makin tegang. “Lebih ganteng dari aku?”

Aku menatapnya. Matanya yang cokelat tua. Alisnya yang tebal. Bekas oli di pelipisnya. Tanda pengenal SUPERVISOR yang dipasang sedikit miring.

“Sama persis,” kataku.

Juna menatapku dengan wajah bingung. “Sama persis gimana?”

“Sama persis, Jun.” Aku mengangkat tangan dan meluruskan tanda pengenalnya. “Gantengnya persis kayak kamu.”

Ia menatapku lama. Aku tahu ia tidak mengerti. Aku tahu kalimat itu masuk ke kepalanya dan tidak menemukan tempat untuk duduk.

“Aku nggak ngerti,” katanya akhirnya.

“Aku tahu.”

“Kamu mau cerita?”

Aku membuka mulut.

Kalimatnya ada di ujung lidahku. Jun, orang itu kamu. Lima kata. Lima kata yang sudah kutahan sejak enam bulan lalu, sejak warung bubur Bu Sum, sejak lobby, sejak lift yang berhenti, sejak perapian. Lima kata yang Mama suruh kuucapkan segera. Yang Papa bilang makin lama makin berat.

Jun, orang itu...

Aku menatapnya. Menatap matanya yang menunggu. Matanya yang selalu menunggu, tidak pernah memaksa.

Dan aku teringat suaranya di PMI. Kalau aku tahu, nanti orangnya ngerasa utang. Nggak enak. Mending nggak tahu.

Aku menutup mulutku.

“Nanti,” bisikku. “Sebentar lagi. Aku janji, Jun. Sebentar lagi.”

Ia menatapku. Ada sesuatu di matanya yang bergulat, sesuatu yang ingin bertanya dan memutuskan tidak bertanya. Lalu ia mengangguk.

“Oke,” katanya. “Aku nunggu.”

“Kamu nggak marah?”

“Aku cemburu,” katanya jujur. “Sama orang itu. Sedikit.”

“Sedikit?”

“Banyak.” Ia menghela napas panjang. “Tapi aku nggak marah. Kalau dia nyelamatin hidupmu, aku harus bilang terima kasih sama dia. Bukan cemburu.”

Aku tidak bisa bernapas.

Aku harus bilang terima kasih sama dia.

Aku menarik kerah seragamnya dan menciumnya.

Bukan ciuman nakal. Bukan ciuman posesif di depan penyewa. Ciuman yang lembut dan basah dan putus asa, ciuman orang yang ingin mengucapkan lima kata tapi tidak bisa, dan memakai bibirnya untuk mengucapkan semuanya yang lain.

Ia membalasnya pelan. Tangannya di pipiku, mengusap air mata yang masih tersisa.

Ketika kami berhenti, dahinya menempel di dahiku.

“Val.”

“Hm.”

“Kamu lihat bibirku.”

Aku tertawa, basah. “Kamu yang bilang itu sekarang?”

“Aku belajar dari kamu.”

“Terus?”

“Terus makan buburnya dulu.” Ia mengambil mangkuk plastik dari jok, membuka tutupnya, dan menyodorkan sendok. “Nanti dingin.”

Aku menatap bubur kacang ijo itu. Uapnya sudah tipis. Gula arennya mengental di pinggir.

“Suapin,” kataku.

Juna menatapku. Lalu, tanpa protes, tanpa bilang aku bisa makan sendiri atau tangan kirimu nggak ditusuk, ia mengambil sendok itu, menyendok bubur, meniupnya pelan, dan mengangkatnya ke depan mulutku.

“Aaa,” katanya.

Aku membuka mulut.

Ia menyuapiku bubur kacang ijo, di jok belakang mobil, di pinggir taman kecil di dekat kanal, di tanggal 17 Maret, dan ia tidak tahu, sama sekali tidak tahu, bahwa hari yang sedang ia rayakan bersamaku adalah hari yang ia berikan sendiri.


Malam itu, di kamar apartemenku, aku membuka dompet kulit warna krem.

Kartu putih kecil di slot paling depan. Tulisan tangan biru yang sudah sedikit pudar. Di belakangnya, plester bulat warna cokelat dari PMI.

Aku tidak membaca kartu itu. Aku sudah hafal.

Aku hanya menyentuhnya dengan ujung jari, lalu menyentuh bekas luka di bawah tulang selangkaku, lalu menyentuh bibirku yang tadi sore disuapi bubur.

Kalau dia nyelamatin hidupmu, aku harus bilang terima kasih sama dia.

Aku membuka aplikasi catatan di HP dan mengetik satu baris:

Sabtu ini. Aku bilang semuanya.

Aku menatap baris itu lama. Lalu menyimpannya.

Jam dua lewat dua menit, HP-ku bergetar.

“Val.”

“Hm.”

“Selamat ulang tahun.”

Aku membeku. “Apa?”

“Buat orang itu. Yang nyelamatin kamu.” Suaranya pelan, sedikit malu. “Aku nggak kenal dia. Tapi aku mau bilang selamat ulang tahun. Sama terima kasih. Sampaiin, ya, kalau kamu ketemu dia.”

Aku menekan HP ke pipiku. Air mataku jatuh lagi, untuk kesekian kalinya hari itu.

“Aku sampaiin,” bisikku.

“Janji?”

“Janji, Jun.” Aku memejamkan mata. “Dia pasti senang.”