Chapter Seventeen

Bekas Luka

POV: Juna

Valerie tidak pulang malam itu.

Pak Darto yang memutuskan, bukan aku. Ia berdiri di depan kami di bawah terpal yang masih meneteskan sisa hujan, menatap Valerie yang matanya bengkak dan menatapku yang belum bisa melepaskan tangannya, lalu berkata dengan suara laporan dinas:

“Bu. Kondisi Ibu tidak memungkinkan untuk perjalanan. Saya rekomendasikan Ibu bermalam di lokasi.”

“Pak Darto,” kataku. “Lokasinya rusun lima lantai tanpa lift.”

“Ibu sudah naik tangga itu tiga kali, Mas.”

“Kamarnya sempit.”

“Ibu pernah tidur di kamar rumah sakit dengan tiga ranjang lain. Selama satu tahun.” Pak Darto menatapku. “Ibu akan baik-baik saja.”

Valerie memegang lenganku lebih erat.

Tari berdiri dari tangga rusun, menyeka mata dengan lengan bajunya, dan mengumumkan dengan suara serak bahwa Kakak boleh tidur di kamarnya, ia akan tidur di kasur lipat di ruang tengah, dan Mas tidur di lantai kamar Mas sendiri seperti biasa, dan semua orang akan menjaga sopan santun karena ini rumah keluarga.

“Kamu yang paling nggak sopan di rumah ini, Tar,” kataku.

“Malam ini aku sopan, Mas.” Matanya berkaca-kaca lagi. “Malam ini aku sopan banget.”


Kami naik lima lantai pelan-pelan.

Valerie berjalan di depanku, tangannya di pagar besi yang dingin dan basah. Di lantai tiga, langkahnya melambat. Di lantai empat, ia berhenti di anak tangga yang retak, tempat dompetnya jatuh pertama kali, berminggu-minggu lalu.

Ia menatap anak tangga itu.

“Di sini,” katanya pelan. “Pertama kali kamu hampir lihat.”

“Aku cuma lihat setengah detik.”

“Aku tahu. Aku hampir pingsan.”

“Kamu rebut dompetnya cepat banget. Kayak ninja.”

Ia tertawa pelan, lelah. Lalu ia menoleh ke belakang, menatapku dari anak tangga di atasku. Wajahnya di bawah lampu neon tangga yang berkedip-kedip terlihat sangat pucat dan sangat muda.

“Waktu itu kamu bilang tulisannya kayak pernah lihat,” katanya.

“Aku nggak bilang.”

“Kamu nggak bilang. Tapi muka kamu bilang.” Ia tersenyum, sedih. “Aku lihat dari sini. Kamu natap tasku sampai lantai lima.”

Aku tidak menjawab. Ia benar.


Di kamar mandi rusun kami yang kecil, Valerie berganti baju dengan kaus oblongku yang paling besar dan celana training Tari. Rambutnya basah, digulung handuk. Wajahnya bersih dari riasan, dan tanpa riasan ia terlihat lebih muda, lebih lelah, dan entah bagaimana lebih cantik.

Ia duduk di kasur busaku. Di kamarku. Di bawah noda bocor berbentuk peta Kalimantan.

Aku duduk di lantai, bersandar ke dinding, di seberangnya. Jarak satu meter. Satu meter yang terasa sangat jauh dan sangat dekat sekaligus.

Tari sudah menutup pintu kamarnya. Aku tidak mendengar dengkurannya. Aku tahu ia tidak tidur.

Kipas angin kecil di pojok berputar pelan. Di luar, sisa hujan menetes dari talang.

“Kamu mau tanya apa?” kata Valerie.

“Semua.”

“Tanya aja.”

Aku menatap tanganku sendiri. Tangan yang tadi memegang kartu itu. Di bawah kukunya masih ada sisa oli dari kerja siang tadi.

“Kamu sakit berapa lama?”

“Dari diagnosis sampai transplantasi, delapan bulan. Kemo dua kali. Yang pertama nggak berhasil.” Suaranya datar. Datar seperti orang membaca laporan kuartal. Aku tahu itu caranya bertahan. “Setelah transplantasi, aku di rumah sakit hampir lima bulan lagi. Terus kontrol tiap bulan. Terus tiap tiga bulan. Terus tiap enam bulan. Terus...”

“Sampai hari pertama.”

Ia menatapku. “Kok tahu?”

“Kamu bilang pagi itu dokter bilang sesuatu. Di lift. Kamu bilang...” Aku berhenti. Ia tidak pernah bilang. Tapi aku ingat matanya yang basah sebelum masuk lobby. Bulu matanya yang basah di ujung. “Kamu nangis sebelum cium aku.”

Valerie memeluk lututnya. “Pagi itu dokter bilang lima tahun. Nggak ada tanda kambuh. Aku sembuh.”

“Terus kamu langsung ke Hadinata Tower.”

“Langsung.”

“Kenapa nggak nunggu?”

“Karena aku udah nunggu lima tahun.” Ia menatapku. “Aku nggak mau datang ke kamu sebagai pasien, Jun. Aku mau datang sebagai perempuan yang sehat. Yang bisa naik tangga lima lantai. Yang bisa makan bubur sambil hujan. Pagi itu dokter bilang aku sehat. Terus aku nggak bisa nunggu sedetik pun lagi.”

Aku memejamkan mata.

Akhirnya.

Bukan akhirnya ketemu. Bukan akhirnya dapet. Akhirnya boleh.


“Kamu sendiri,” kata Valerie pelan. “Kamu ingat?”

“Ingat apa?”

“Donornya.”

Aku membuka mata. Menatap noda bocor di langit-langit.

“Ingat,” kataku.

Ia diam, menunggu.

“Registri telepon aku di tengah kerja. Aku lagi di lubang lift di Kemang. Petugasnya bilang, Mas Juna, sel punca Mas cocok sama seorang pasien. Mas bersedia lanjut?” Aku tertawa pelan. “Aku nggak ngerti apa-apa soal sel punca. Aku cuma ingat daftar di meja di lobby rumah sakit, beberapa bulan sebelumnya. Swab pipi. Isi formulir. Lima menit. Aku udah lupa.”

“Kamu bilang iya.”

“Aku bilang iya. Terus aku tanya, pasiennya siapa. Mereka bilang nggak boleh dikasih tahu. Aku bilang oke.” Aku menatap tanganku. “Terus lima hari disuntik obat. Tulangku pegal semua. Kayak habis ngangkat lift sendirian. Tari nanya aku kenapa jalannya kayak kakek-kakek. Aku bilang keseleo.”

“Kamu nggak bilang ke Tari?”

“Dia masih SMA. Aku nggak mau dia khawatir.”

“Terus?”

“Terus hari keenam, aku dibawa ke ruangan. Darahku dikeluarin dari satu lengan, masuk mesin, terus balik lagi ke lengan satunya. Empat jam. Aku nonton TV di langit-langit. Ada sinetron. Tari pasti suka.” Aku tersenyum ke noda bocor. “Perawatnya baik. Dia bilang, Mas, ini mungkin nyelamatin nyawa orang. Aku bilang, semoga. Terus aku tidur.”

Valerie diam. Aku mendengar napasnya, pelan dan tersendat.

“Terus kartunya,” katanya.

“Terus kartunya. Aku nulis itu di kantor registri, sore harinya. Lenganku masih diplester dua-duanya.” Aku mengangkat kedua tanganku, menunjuk lipatan siku kiri dan kanan. “Aku bingung mau nulis apa. Aku nggak mau nulis yang sedih. Kalau orangnya lagi sakit, dia nggak butuh baca yang sedih. Jadi aku nulis soal bubur.”

“Bubur kacang ijo paling enak sedunia.”

“Iya.”

“Kenapa bubur?”

Aku diam lama. Kipas angin berdecit.

“Karena waktu Bapak sama Ibu meninggal,” kataku pelan, “minggu pertama, aku sama Tari nggak bisa makan apa-apa. Nggak lapar. Nggak bisa nelan. Bu Sum bawain bubur kacang ijo ke atas. Dua mangkuk. Tiap pagi. Satu minggu penuh. Nggak mau dibayar.” Aku menatap Valerie. “Bubur itu yang bikin aku sama Tari bisa makan lagi. Jadi aku pikir, kalau orang yang lagi sakit itu nggak bisa makan, mungkin bubur bisa bantu juga.”

Valerie menutup mulutnya dengan tangan.

“Aku nggak bisa makan,” bisiknya dari balik tangannya. “Setelah transplantasi. Berminggu-minggu. Semua makanan rasanya kayak logam. Perawat maksa. Mama nangis.”

“Terus?”

“Terus suatu pagi aku baca kartumu lagi. Untuk keseratus kalinya. Terus aku bilang ke Mama, Ma, aku mau bubur kacang ijo.” Ia menurunkan tangannya. Air mata mengalir lagi. “Mama nggak bisa masak. Mama nggak pernah masak seumur hidupnya. Tapi pagi itu Mama ke dapur rumah sakit, minjem kompor, masak bubur kacang ijo pakai resep dari internet. Gosong di bawah. Kemanisan. Kacangnya keras.”

“Terus kamu makan?”

“Aku habisin.” Ia tertawa, basah. “Itu makanan pertama yang aku habisin setelah transplantasi. Sejak itu, setiap 17 Maret, Mama masak bubur kacang ijo. Masih gosong. Masih kemanisan.”

Aku tidak bisa bicara.

Bu Sum. Bubur dua mangkuk setiap pagi di minggu pertama. Lima tahun kemudian, bubur gosong dan kemanisan di dapur rumah sakit. Dari tangan Bu Sum ke tanganku ke kartu ke tangan Valerie ke tangan ibunya.

Seperti kalimat Bapak. Tenang. Sebentar lagi aman. Dari tangan ke tangan.


“Jun,” kata Valerie.

“Hm.”

“Kamu mau lihat?”

Aku tahu apa yang ia maksud.

Aku mengangguk.

Valerie menggeser tubuhnya ke ujung kasur busa, mendekat ke tempatku duduk di lantai. Ia menarik kerah kaus oblongku yang kebesaran, yang ia pakai, pelan, ke samping. Ke bahu kanannya.

Bekas luka itu. Garis pendek, dua senti, sedikit lebih pucat dari kulit di sekitarnya. Di bawah tulang selangka.

Aku sudah melihatnya di villa, di depan perapian. Aku sudah menciumnya. Tapi waktu itu aku tidak tahu apa itu.

“Kateter,” kata Valerie pelan. “Selang yang dipasang langsung ke pembuluh darah besar. Buat masukin obat kemo. Buat ambil darah tiap hari. Biar lenganku nggak ditusuk terus.”

Ia menatap bekas luka itu sendiri.

“Dan buat masukin selmu,” tambahnya. “Hari itu. 17 Maret. Lewat sini.”

Aku mengangkat tanganku.

Tanganku gemetar. Aku tidak bisa menghentikannya. Tangan yang tenang di lubang lift, tenang di atas sangkar setinggi dua puluh lantai, tenang memegang tangan orang-orang yang ketakutan, gemetar seperti tangan anak kecil.

Aku menyentuh bekas luka itu dengan ujung jari.

Kulitnya halus. Sedikit lebih licin dari kulit di sekitarnya. Hangat.

Lewat sini.

Sebagian dari aku masuk ke tubuhnya lewat sini. Lima tahun lalu. Ketika aku sedang tidur di ruang apheresis dengan sinetron di TV langit-langit, dan ia sedang terbaring di ruang lain, di gedung lain, menunggu sesuatu dari orang asing.

Sesuatu itu aku.

Aku tidak sadar aku menangis sampai Valerie mengangkat tangannya dan mengusap pipiku.

“Jun.”

“Maaf.”

“Jangan minta maaf.”

“Aku nggak tahu,” kataku. Suaraku pecah. “Aku nggak tahu itu kamu. Waktu itu kamu sakit dan aku nggak tahu. Kamu takut dan aku nggak tahu. Kamu nggak bisa makan dan aku nggak tahu. Aku cuma nulis soal bubur terus pulang, terus kerja lagi, terus lupa.”

“Kamu nggak boleh tahu. Peraturannya gitu.”

“Tapi kamu sendirian.”

“Aku nggak sendirian.” Ia menangkup wajahku dengan kedua tangannya. “Aku punya kartumu. Setiap hari. Setiap kali takut. Aku nggak pernah sendirian, Jun.”

Aku menatapnya. Lalu aku menunduk dan menempelkan dahiku ke bekas luka itu. Bukan mencium. Hanya menempelkan. Seperti orang menempelkan telinga ke dinding untuk mendengar sesuatu di baliknya.

Di bawah dahiku, jantungnya berdetak. Pelan. Teratur. Hidup.

Darahku. Mengalir di sana.

“Kamu hidup,” bisikku ke kulitnya.

Tangannya masuk ke rambutku. “Karena kamu.”

“Bukan karena aku.” Aku menggeleng pelan, dahiku masih di bahunya. “Karena dokter. Karena Mama kamu. Karena kamu kuat. Aku cuma tidur empat jam nonton sinetron.”

“Jun.”

“Kamu yang berjuang. Bukan aku.”

“Jun, lihat aku.”

Aku mengangkat kepala.

Valerie menatapku. Matanya merah, bengkak, basah. Tapi ada sesuatu di dalamnya yang keras kepala. Sesuatu yang sama dengan yang kulihat di kantornya, hari aku bilang aku bukan dunia Mbak.

“Kamu boleh bilang itu bukan karena kamu,” katanya pelan. “Kamu boleh bilang kamu cuma tidur nonton sinetron. Tapi aku yang hidup di tubuh ini. Aku yang tahu. Dan aku bilang, aku hidup karena kamu. Kamu nggak boleh ambil itu dari aku.”

Aku diam.

“Itu bukan utang,” lanjutnya. “Itu bukan tagihan. Itu cuma kenyataan. Kamu boleh nggak suka kenyataannya. Tapi kamu nggak boleh bilang itu nggak benar.”

Aku menatapnya lama.

Lalu aku menariknya ke pelukanku. Ia turun dari kasur busa ke lantai, ke pangkuanku, ke dadaku, dan aku memeluknya di lantai kamar sempitku, di bawah kipas angin yang berdecit, di bawah noda bocor berbentuk peta Kalimantan.

Kami menangis. Berdua. Lama.


Dari kamar sebelah, terdengar suara.

Awalnya pelan. Seperti isakan yang ditahan. Lalu makin keras. Lalu tidak tertahan sama sekali.

Tari.

Tari menangis tersedu-sedu, keras, seperti anak kecil, dari balik dinding tipis yang memisahkan kamarnya dan kamarku. Dinding yang tidak pernah bisa menyembunyikan apa pun.

Valerie mengangkat kepala dari dadaku. Kami saling tatap.

“Tar,” panggilku pelan. “Kamu nguping?”

“NGGAK!” teriak Tari dari balik dinding, suaranya hancur oleh tangis. “AKU NGGAK NGUPING! DINDINGNYA YANG TIPIS!”

“Kamu nangis.”

“AKU NGGAK NANGIS!” Isakan keras. “AKU LAGI... AKU LAGI ALERGI!”

“Alergi apa?”

“ALERGI SAMA KALIAN BERDUA!”

Valerie tertawa. Tertawa di sela tangisnya, basah dan pecah dan tidak bisa berhenti. Ia menyembunyikan wajahnya di leherku dan bahunya berguncang.

Dari balik dinding, Tari terus menangis. Lalu, setelah beberapa saat, suaranya berubah, lebih pelan, dan ia berkata:

“Mas.”

“Hm.”

“Mas yang nyelamatin Kakak.”

Aku tidak menjawab.

“Mas nggak pernah cerita,” lanjut Tari, suaranya bergetar. “Waktu itu Mas jalannya kayak kakek-kakek seminggu. Mas bilang keseleo. Mas bohong.”

“Mas nggak mau kamu khawatir.”

“Mas selalu gitu.” Isakan lagi. “Mas selalu nggak mau aku khawatir. Mas selalu nanggung sendiri.”

Hening. Kipas angin berdecit.

“Kak,” kata Tari.

“Iya, Tar?” jawab Valerie, suaranya serak.

“Makasih udah hidup.”

Valerie membeku di pelukanku.

“Makasih udah hidup lama,” lanjut Tari pelan dari balik dinding. “Biar Mas nggak rugi.”

Valerie menutup mulutnya dengan tangan. Air matanya jatuh ke kaus oblongku yang ia pakai.

Aku memeluknya lebih erat. Dan menatap dinding tipis itu, tempat adikku duduk di sisi lain, menangis untuk perempuan yang sudah ia jadikan kakak.


Valerie tertidur di kasur busaku jam satu pagi. Bukan di kamar Tari. Ia tertidur di tengah kalimat, di pangkuanku, dan aku mengangkatnya ke kasur dan menyelimutinya dengan selimut tipis yang sudah pudar warnanya.

Aku tidur di lantai di sebelahnya, seperti yang Tari bilang. Sopan santun. Rumah keluarga.

Tapi aku tidak tidur.

Aku berbaring di lantai, menatap noda bocor berbentuk peta Kalimantan, mendengarkan napasnya yang teratur di atas kasur. Dengkurannya kecil seperti anak kucing, sama seperti di telepon jam dua pagi. Sesekali ia bergumam sesuatu dalam tidurnya. Sekali, aku mendengar namaku.

Aku mengambil formulir lecek dari saku seragam yang tergantung di balik pintu. Membukanya di atas dada. Membaca dalam gelap, dengan cahaya lampu jalan yang masuk dari jendela.

KENAPA DIA MENCIUMKU

Teori #1. Teori #2. Teori #3. Teori #4. Semua dicoret.

Catatan-catatan kecil. Dia bilang: “Akhirnya.” Dia makan bubur Bu Sum kayak orang berdoa. Rasanya kayak hidup kedua. Dompetnya nggak boleh dipegang siapa pun. Dia takut lift yang berhenti. Mama Valerie bilang “akhirnya”. Sama kayak Valerie.

Semua jawabannya ada di sini. Sudah ada dari awal. Aku saja yang tidak bisa membacanya.

Aku mengambil pulpen dan menulis di bagian paling bawah:

Jawaban: Dia yang nerima. Aku yang ngasih. Lima tahun lalu.

Aku menatap kalimat itu lama.

Lalu sesuatu yang kecil dan dingin, sesuatu yang sejak di bawah terpal tadi sudah duduk diam di sudut dadaku, pelan-pelan bergerak.

Aku menatap kalimat itu lagi. Dia yang nerima. Aku yang ngasih.

Dan untuk pertama kalinya malam itu, sebuah pertanyaan muncul di kepalaku. Pertanyaan yang tidak kuinginkan. Pertanyaan yang langsung kudorong kembali ke sudut, ke tempat gelap, ke tempat aku menyimpan semua hal yang tidak mau kupikirkan.

Kalau aku bukan orang yang ngasih, dia bakal cium aku nggak?

Aku melipat formulir itu. Cepat. Seperti menutup panel yang kabelnya terbuka.

Lalu aku berbaring miring, menghadap kasur, dan menatap tangan Valerie yang terjuntai dari pinggir kasur busa, jemarinya setengah terbuka, dekat sekali dengan wajahku.

Aku menggenggam tangan itu. Pelan, supaya ia tidak bangun.

Ia tidak bangun. Tapi jemarinya, dalam tidur, membalas genggamanku.

Erat. Seperti orang yang berpegangan di lift yang berhenti.

Aku memejamkan mata dan memaksa diriku hanya merasakan itu. Hanya genggaman itu. Hanya napasnya. Hanya darahku yang mengalir di tubuhnya, yang hangat dan hidup dan tidur di kasur busaku.

Pertanyaan itu diam di sudut.

Untuk malam ini.