Chapter Fourteen

Rezeki Nomplok

POV: Juna

Senin pagi, Pak Hendrik memanggilku ke ruangannya dan tidak menyodorkan kacang telur.

Itu tanda pertama ada yang aneh.

Tanda kedua: ia berdiri waktu aku masuk. Pak Hendrik tidak pernah berdiri untuk siapa pun kecuali klien besar dan istrinya.

Tanda ketiga: ia tersenyum.

“Juna,” katanya. “Duduk. Duduk, duduk.”

Aku duduk. Pak Hendrik tetap berdiri, memutari mejanya, lalu bersandar di pinggir meja di depanku seperti presenter acara motivasi.

“Saya mau sampaikan kabar,” katanya.

“Kabar apa, Pak?”

“Kantor pusat baru kirim surat.” Ia mengambil selembar kertas dari mejanya, kertas berkop resmi dengan logo perusahaan. “Mulai bulan depan, kamu diangkat jadi supervisor lapangan. Pegang tiga tim. Termasuk tim Hadinata Tower.”

Aku menatap kertas itu.

“Supervisor?”

“Supervisor.”

“Saya?”

“Kamu.”

“Pak, Bang Ucok lebih senior dari saya. Dua tahun.”

“Ucok nggak bisa bikin laporan tanpa salah ketik.” Pak Hendrik menyerahkan kertas itu kepadaku. “Kantor pusat lihat rekam jejakmu. Sembilan tahun nggak pernah ada komplain. Nol kecelakaan. Nilai evaluasi tertinggi tiga tahun berturut-turut.”

Aku membaca surat itu. Pelan. Dua kali. Di bawahnya ada angka gaji baru. Hampir dua kali lipat gajiku sekarang. Ada tunjangan transportasi. Ada asuransi kesehatan yang mencakup tanggungan keluarga.

Tanggungan keluarga. Tari.

“Kenapa sekarang, Pak?” tanyaku pelan.

Pak Hendrik mengangkat bahu. “Saya juga nggak tahu. Surat dari pusat nggak pernah jelasin kenapa.” Ia menepuk bahuku. “Rezeki, Jun. Nggak usah dicari kenapa.”

Aku menatap surat itu lagi.

Lalu, karena aku sudah sembilan tahun bekerja keras dan tidak pernah dipromosikan, karena Tari butuh asuransi, karena cicilan motorku tinggal enam bulan, karena aku capek, aku melipat surat itu dan memasukkannya ke saku seragam, di sebelah formulir lecek yang penuh catatan kecil.

“Terima kasih, Pak,” kataku.

Pak Hendrik membuka laci. Mengeluarkan sebungkus kacang telur. Lalu, setelah berpikir sebentar, mengeluarkan satu bungkus lagi.

“Selamat,” katanya.


Bang Ucok tidak marah.

Aku sudah menyiapkan diri untuk itu. Aku sudah menyiapkan kalimat-kalimat permintaan maaf sepanjang jalan dari ruangan Pak Hendrik ke ruang istirahat. Tapi waktu aku memberitahunya, Bang Ucok hanya menatapku lama, lalu menepuk bahuku keras-keras.

“Jun,” katanya. “Pepatah bilang: di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung.”

“Hubungannya apa, Bang?”

“Kamu yang pijak, kamu yang junjung.” Ia mengangguk dengan bijak. “Aku ikut senang. Beneran.”

“Abang nggak apa-apa?”

“Aku nggak bisa bikin laporan tanpa salah ketik, Jun. Pak Hendrik benar.” Ia tertawa. “Aku jadi supervisor, nanti laporanku isinya typo semua. Kantor pusat pusing.”

Gilang, yang dari tadi diam sambil makan gorengan, tiba-tiba berkata: “Bang Juna. Kok kebetulan, ya?”

“Kebetulan apa?”

“Kontrak Hadinata Tower dulu juga turunnya cepat banget. Kata orang tender, biasanya tiga bulan. Kita dua minggu.” Gilang mengunyah tahu isinya. “Sekarang Bang Juna naik pangkat, pegang tim Hadinata. Kebetulan, ya?”

Hening sebentar.

Bang Ucok menatap Gilang. “Lang. Kamu kebanyakan nonton sinetron.”

“Iya, Bang. Sinetron itu banyak kebetulannya.”

Aku tertawa. Bang Ucok tertawa. Gilang ikut tertawa dengan mulut penuh tahu isi.

Tapi waktu aku kembali ke ruang mesin sore itu, kalimat Gilang menempel di kepalaku seperti sisa oli di kuku yang tidak hilang walaupun sudah dicuci.

Kebetulan, ya?

Aku mengusirnya. Aku tidak mau jadi orang yang mencari alasan untuk tidak percaya pada hal baik. Tari sudah bilang. Mas nyari teori karena Mas takut.

Aku tidak mau takut lagi.


Rabu malam, Tari pulang dari kampus dengan wajah seperti orang yang baru melihat hantu.

Ia berdiri di ambang pintu rusun, masih memakai tas punggung, memegang HP dengan kedua tangan, dan tidak bergerak.

“Tar? Kenapa?”

“Mas.” Suaranya tipis. “Aku dapet beasiswa.”

Aku berdiri dari kursi plastik. “Beasiswa apa?”

“Beasiswa penuh. Sampai lulus. Uang kuliah sama uang saku.” Ia menatap layar HP-nya. “Yayasan Cahaya Bangsa. Aku daftar tiga bulan lalu. Aku kira nggak lolos. Pengumumannya harusnya bulan depan. Tapi mereka kirim email sekarang. Katanya pencairannya dipercepat.”

Ia mengangkat kepala. Matanya berkaca-kaca.

“Mas nggak usah bayar kuliahku lagi.”

Aku tidak bisa bicara.

Empat tahun. Empat tahun aku membayar uang kuliah Tari dengan lembur, dengan sif malam, dengan menunda servis motor sampai remnya bunyi, dengan makan nasi kucing tiga kali sehari di minggu-minggu terakhir sebelum gajian. Empat tahun aku menghitung setiap rupiah supaya adikku tidak perlu berhenti kuliah seperti aku.

Dan sekarang aku tidak perlu menghitung lagi.

Tari menjatuhkan tasnya dan berlari ke arahku. Memelukku. Erat. Seperti waktu SD, waktu sepatunya jebol dan ia menangis di gerbang sekolah.

“Mas,” isaknya di dadaku. “Mas bisa servis motor sekarang.”

Aku tertawa. Tertawa sambil menangis. Aku memeluk adikku di ruang tengah rusun kami yang sempit, di bawah kipas angin yang batuk-batuk, di depan foto Bapak dan Ibu yang tersenyum dari dinding.

“Bapak,” kataku pelan, menatap foto itu. “Tari dapet beasiswa.”

Tari mengangkat kepala, menatap foto itu juga. Lalu ia membungkuk dalam-dalam di depan foto Bapak dan Ibu, seperti orang memberi hormat.


Aku menelepon Valerie malam itu. Jam sembilan, bukan jam dua.

“Val. Aku dapet promosi. Tari dapet beasiswa.”

Hening di seberang. Lalu suara Valerie, terlalu cepat dan terlalu ceria: “Serius? Ya Tuhan, Jun! Selamat!”

“Supervisor. Pegang tiga tim. Termasuk Hadinata Tower.”

“Wah. Berarti kamu bakal lebih sering ke gedungku.”

“Iya.”

“Bagus. Aku suka.”

“Tari dapet dari Yayasan Cahaya Bangsa. Kamu pernah dengar?”

Jeda. Sangat singkat. Kurang dari satu detik. Jeda yang kalau aku sedang mengukur pintu lift, akan kucatat sebagai nol koma tujuh detik.

“Pernah,” kata Valerie. “Yayasan yang bagus.”

“Tari nangis. Aku juga.”

“Kamu nangis?”

“Sedikit.”

“Kamu pantas nangis, Jun. Kamu pantas dapet semua itu.” Suaranya melembut. Melembut sekali. “Kamu udah kerja keras banget. Udah lama banget.”

“Kamu kok kedengeran mau nangis juga?”

“Aku ikut senang.”

“Kamu beneran nggak apa-apa?”

“Aku nggak apa-apa, Sayang.” Ia menarik napas. “Aku cuma bahagia lihat kamu bahagia.”

Aku tersenyum. Aku menutup telepon. Dan aku tidak memikirkan jeda nol koma tujuh detik itu sama sekali.

Belum.


Hari Kamis, aku bertemu Mbak Sisca.

Mbak Sisca adalah manajer kantor di salah satu perusahaan penyewa di lantai 22 Hadinata Tower. Perempuan tiga puluhan, rambut dicat cokelat terang, blazer merah, dan senyum yang terlalu lebar untuk orang yang baru kenal. Ia menelepon karena lift lantai 22 berbunyi aneh. Kali ini, berbeda dengan lantai 40, lift itu memang berbunyi aneh. Ada bantalan rol pintu yang aus.

Aku memperbaikinya dalam dua puluh menit. Mbak Sisca menonton sepanjang dua puluh menit itu, bersandar di dinding koridor, memegang gelas kopi.

“Mas yang di video itu, kan?” tanyanya.

“Iya, Mbak.”

“Aslinya lebih ganteng.”

“Terima kasih, Mbak.”

“Mas udah lama pacaran sama Bu Valerie?”

“Belum lama, Mbak.”

“Oh.” Mbak Sisca mendekat satu langkah. “Belum lama. Berarti masih bisa berubah pikiran, dong.”

Aku berhenti mengencangkan baut. Aku menoleh. Mbak Sisca tersenyum lebih lebar, lalu, dengan gerakan yang sangat santai, meletakkan tangannya di lenganku. Di atas lengan seragamku. Tepat di bisep.

“Wah,” katanya. “Kerja angkat-angkat, ya, Mas? Keras.”

Aku menarik lenganku pelan, sesopan mungkin. “Saya harus lanjut kerja, Mbak.”

“Nanti makan siang bareng, yuk? Ada kafe baru di lantai dasar.”

“Saya bawa bekal, Mbak.”

“Bekal?” Mbak Sisca tertawa. “Lucu banget. Siapa yang masakin? Bu Valerie?” Ia tertawa lagi. “Bu Valerie kan nggak bisa masak. Semua orang di gedung ini tahu. Kalau Mas mau makanan rumahan, saya bisa...”

“Mas Juna.”

Suara itu datang dari ujung koridor. Datar. Dingin. Setajam pisau baru diasah.

Kami berdua menoleh.

Valerie berdiri di depan pintu lift yang terbuka, Pak Darto dua langkah di belakangnya. Ia memakai blazer hitam, rok pensil, dan heels yang ujungnya runcing seperti senjata. Rambutnya disanggul ketat. Wajahnya wajah CEO. Wajah yang membekukan rapat direksi.

Ia tidak menatapku. Ia menatap tangan Mbak Sisca. Tangan yang tadi ada di lenganku.

Mbak Sisca menurunkan tangannya dengan sangat cepat.

“B-Bu Valerie. Selamat siang.”

“Siang.” Valerie berjalan menyusuri koridor. Pelan. Hak sepatunya berbunyi di lantai marmer. Tok. Tok. Tok. Seperti detak jam. Seperti di lobby, hari pertama. “Bu Sisca dari PT Mitra Kencana, ya?”

“I-iya, Bu.”

“Kontrak sewa kalian habis bulan Juli.”

Mbak Sisca memucat. “I-iya, Bu.”

Valerie berhenti di sebelahku. Tidak di depanku, tidak di belakang. Di sebelahku, begitu dekat sampai bahunya menyentuh lenganku. Lengan yang tadi disentuh Mbak Sisca.

“Lift-nya sudah beres, Mas Juna?” tanyanya kepadaku, tanpa menoleh.

“Sudah, Bu.”

Bu. Aku memanggilnya Bu. Di depan orang lain, di jam kerja, refleks. Valerie mengangkat satu alis, sangat sedikit.

“Bagus,” katanya. Lalu ia menatap Mbak Sisca. “Bu Sisca, terima kasih sudah melapor kerusakannya. Kami selalu menghargai penyewa yang peduli fasilitas gedung.”

“S-sama-sama, Bu.”

“Satu hal lagi.”

“Y-ya, Bu?”

Valerie tersenyum. Senyum yang tidak sampai ke mata sama sekali. Senyum yang membuat suhu koridor turun lima derajat.

“Lengan ini,” katanya, menyentuh lenganku dengan ujung jarinya, tepat di tempat tangan Mbak Sisca tadi, “punya saya.”

Mbak Sisca berdiri membeku.

“Bahu ini,” lanjut Valerie, jarinya pindah ke bahuku, “punya saya.”

Aku tidak bisa bernapas.

“Dan mulut yang tadi senyum ke Ibu,” katanya, menatap Mbak Sisca lurus-lurus, “juga punya saya.”

Lalu ia menarik kerah seragamku, menarikku turun, dan menciumku.

Di koridor lantai 22. Di depan Mbak Sisca. Di depan Pak Darto. Di depan seorang OB yang kebetulan lewat membawa ember pel dan menjatuhkannya.

Ciumannya tidak lembut. Tidak seperti di bawah pohon ketapang, atau di depan perapian. Ciumannya keras, posesif, seperti stempel di dokumen resmi. Tangannya mencengkeram kerahku. Bibirnya menekan bibirku seolah sedang menulis namanya di sana.

Ketika ia melepaskanku, napasku tidak ada di mana-mana.

Mbak Sisca sudah tidak ada. Aku tidak tahu kapan ia pergi. Aku hanya mendengar bunyi pintu kantor di ujung koridor menutup keras.

Valerie merapikan kerahku. Pelan. Dengan ujung jari. Wajahnya masih wajah CEO, tapi pipinya merah, dan matanya tidak bisa menatapku.

“Bu,” kataku pelan. “Itu tadi...”

“Jangan panggil aku Bu.”

“Val.”

“Hm.”

“Kamu cemburu.”

“Nggak.”

“Kamu cium aku di depan penyewa gedung.”

“Itu prosedur.”

“Prosedur apa?”

“Prosedur penanganan ancaman terhadap aset perusahaan.” Ia masih tidak menatapku. “Kamu aset perusahaan. Supervisor tim Hadinata Tower.”

“Aku belum mulai jadi supervisor. Bulan depan.”

“Prosedurnya berlaku surut.”

Aku menatapnya. Pipinya makin merah. Telinganya juga. Aku belum pernah melihat telinga Valerie memerah.

“Val,” kataku pelan. “Kupingmu merah.”

Ia menoleh dengan tajam. “Panas.”

“AC-nya delapan belas derajat,” kataku. “Kamu yang setel.”

Valerie menatapku. Matanya membesar. Lalu ia menutup wajahnya dengan kedua tangan dan mengeluarkan suara yang terdengar seperti jeritan yang ditahan.

“Kamu,” katanya dari balik tangannya. “Kamu belajar dari aku lagi.”

“Kamu gurunya.”

“Aku benci kamu.”

“Nggak.”

“Nggak,” ia mengaku, masih dari balik tangannya. “Tapi aku benci cewek blazer merah itu.”


Di depan lift, Pak Darto sudah mengeluarkan buku sakunya. Aku berjalan melewatinya dan sempat membaca halaman yang sedang ia tulis:

INSIDEN 23. LANTAI 22. PUKUL 11.47. IBU MENCIUM SUBJEK. DI DEPAN PENYEWA.

CATATAN: PENYEWA PT MITRA KENCANA PERLU DIPANTAU.

CATATAN PRIBADI: IBU CEMBURU. SAYA BELUM PERNAH LIHAT.

“Pak,” bisikku. “Bagian catatan pribadi itu...”

Pak Darto menutup buku sakunya. “Untuk arsip, Mas.”

“Arsip apa?”

Ia menatapku dengan wajah datar. “Arsip pernikahan.”

Aku tersedak udara.


Malam itu, di atas kasur busa, aku membuka formulir lecek dari saku seragamku. Surat promosi terlipat di sebelahnya.

Aku menatap keduanya lama.

Lalu aku menulis:

Aku jadi supervisor. Tari dapet beasiswa. Rezeki nomplok.

Gilang bilang: kebetulan, ya?

Waktu aku sebut Yayasan Cahaya Bangsa, Val diam nol koma tujuh detik.

Aku menatap baris terakhir itu. Pulpen di tanganku berhenti.

Lalu, perlahan, aku mencoret baris itu. Satu garis tipis.

Aku nggak mau jadi orang yang curiga sama hal baik.

Aku melipat formulir itu dan menaruhnya di bawah bantal.

Di kamar sebelah, aku mendengar Tari bernyanyi pelan sambil menyetrika baju kuliahnya. Lagu cinta. Fals. Bahagia.

HP-ku bergetar. Jam dua lewat empat menit.

“Jun.”

“Hm.”

“Maaf soal tadi siang.”

“Yang mana?”

“Yang cium kamu di depan penyewa.”

“Kamu nggak nyesel.”

“Nggak,” katanya. “Tapi aku harus bilang maaf. Biar sopan.”

Aku tertawa pelan.

“Jun.”

“Hm.”

“Kamu tahu kan,” katanya, suaranya tiba-tiba serius, “aku sayang kamu?”

Aku diam.

Ia belum pernah mengatakannya. Tidak dengan kata itu. Ia sudah mengatakan pacarku, punyaku, aku serius, aku jago nunggu. Tapi belum pernah sayang. Bukan sebagai panggilan. Sebagai kata kerja.

“Val.”

“Hm.”

“Aku juga sayang kamu.”

Hening di seberang.

Aku menghitung. Kebiasaan.

Satu. Dua. Tiga.

Di detik kesebelas, aku mendengar ia menarik napas, gemetar, dan berkata dengan suara yang hampir tidak terdengar:

“Kamu curang. Kamu bikin aku diam sebelas detik lagi.”

“Aku hitung.”

“Aku tahu kamu hitung.” Ia tertawa basah. “Jun, tidur.”

“Kamu yang nelepon jam dua.”

“Iya. Dan sekarang aku nggak bisa tidur gara-gara kamu.”

“Tanggung jawab?”

“Seumur hidup,” katanya, dan aku menutup mata dan tersenyum ke noda berbentuk peta Kalimantan sampai jam tiga pagi.