Chapter Thirty Three

Epilog — Golongan Darah Anak Kita

POV: Valerie

Setahun kemudian, aku masih bangun jam lima pagi tanpa alarm.

Tapi bukan karena takut lagi.

Aku bangun karena ada lengan yang melingkar di pinggangku, berat dan hangat, dan napas di tengkukku yang pelan dan teratur, dan kaki yang membelit kakiku di bawah selimut. Aku bangun karena tubuhku sudah terbiasa merasakan semua itu, dan setiap pagi, selama setahun, tubuhku masih tidak percaya itu nyata.

Kamar kami tidak di lantai paling atas apartemen di Kuningan. Kamar kami di rumah kecil di Rawamangun, dua lantai, dengan halaman sempit dan pohon mangga yang buahnya kecil-kecil dan asam. Juna yang memilih rumah ini. Ia bilang rumahnya harus dekat dengan rusun, supaya Tari bisa mampir, dan dekat dengan Bu Sum, supaya kami bisa sarapan bubur kacang ijo setiap Minggu.

Rumah ini punya lift.

Lift kecil, untuk dua orang, dari lantai satu ke lantai dua. Juna memasangnya sendiri bulan lalu. Ia bilang itu untuk nanti. Untuk waktu aku tidak bisa naik tangga lagi.

Aku tertawa waktu ia bilang itu. Aku bilang aku masih kuat naik tangga lima lantai rusun pakai heels.

Ia menatap perutku. Lalu menatapku.

“Nanti, Val,” katanya. “Nanti kamu nggak boleh naik tangga.”

Itu tiga bulan lalu. Sebelum perutku mulai kelihatan.


“Pagi,” gumamnya di tengkukku, setengah tidur.

“Pagi.”

“Jam berapa?”

“Lima.”

“Kamu kebangun lagi.”

“Iya.”

“Kenapa?”

Aku membalikkan badan di dalam pelukannya. Pelan, karena perutku sekarang punya pendapat sendiri soal gerakan cepat. Wajahnya dekat. Matanya masih setengah tertutup. Rambutnya berantakan. Ada bekas bantal di pipinya.

“Mau lihat kamu,” kataku.

Ia membuka satu mata. “Udah setahun lihat.”

“Belum cukup.”

Ia tersenyum, mengantuk, dan menarikku lebih dekat. Tangannya turun dari pinggangku ke perutku. Ke lengkungan kecil di bawah kaus oblongnya yang kupakai. Kaus oblongnya yang paling besar, yang tidak pernah kukembalikan, yang sekarang mulai kekecilan di bagian perut.

Telapak tangannya hangat dan kasar dan diam di sana. Seperti menunggu.

“Dia belum gerak?” bisiknya.

“Belum. Masih tidur. Kayak bapaknya.”

“Bapaknya udah bangun.”

“Bapaknya setengah bangun.”

Ia membuka mata seluruhnya. Menatapku. Lalu menatap bibirku.

“Kamu lihatin bibirku,” kataku.

“Iya.”

“Udah setahun nikah, masih lihatin.”

“Kamu juga masih ngitung.”

“Tiga kali,” aku mengaku. “Sejak kamu buka mata.”

Ia tertawa pelan. Lalu ia menciumku. Pelan. Malas. Ciuman pagi yang tidak terburu-buru, ciuman orang yang tahu masih ada seumur hidup untuk ciuman-ciuman berikutnya.

Tapi tangannya di perutku mulai bergerak. Naik. Ke pinggang. Ke punggung, di bawah kaus oblong. Telapak tangannya menyusuri tulang belakangku seperti membaca huruf braille, pelan, dari bawah ke atas. Seperti malam itu di depan perapian. Seperti setiap pagi sejak malam itu.

“Jun,” bisikku di bibirnya. “Kamu harus kerja jam tujuh.”

“Iya.”

“Ini jam lima.”

“Masih dua jam.”

“Kamu supervisor. Supervisor harus dateng duluan.”

“Supervisor boleh telat,” katanya, bibirnya turun ke leherku, “kalau istrinya bangun jam lima cuma buat lihatin dia.”

Aku tertawa. Lalu berhenti tertawa.

Lalu tidak ada lagi yang bicara soal jam tujuh.


Ia telat dua puluh menit.

Pak Hendrik mengirim pesan WhatsApp berisi foto sebungkus kacang telur dan satu kalimat: Supervisor telat karena alasan pribadi. Saya catat. Juna membacanya sambil memakai sepatu di teras, wajahnya merah sampai ke telinga.

Aku berdiri di ambang pintu, memakai daster dan sweter rajutnya yang kebesaran, memegang gelas teh tawar, dan tertawa.

“Kamu nggak boleh ketawa,” katanya.

“Kenapa?”

“Kamu yang bikin aku telat.”

“Kamu yang bilang supervisor boleh telat.”

Ia berdiri. Berjalan ke arahku. Mencium dahiku, lalu perutku, lalu bibirku. Urutannya selalu sama. Setiap pagi.

“Sabtu,” katanya. “Jangan lupa.”

“Aku nggak pernah lupa.”


Sabtu adalah hari donor.

Tiga bulan sekali, selama setahun ini, aku menemaninya ke PMI Jakarta Timur. Bu Nurul selalu ada di meja pendaftaran. Bu Nurul selalu memeluk kami berdua seperti memeluk anak dan menantu. Bu Nurul sekarang punya foto kami di dinding di belakang meja pendaftarannya, foto dari hari pernikahan, di samping poster tetesan darah berbentuk hati.

“Mbak Valerie!” Bu Nurul berdiri waktu kami masuk. Lalu ia melihat perutku. “Ya Allah, Mbak! Udah berapa bulan?”

“Lima, Bu.”

“Ya Allah, ya Allah.” Bu Nurul memelukku. Lalu memeluk perutku. Lalu memeluk Juna. “Selamat! Selamat! Mau laki atau perempuan?”

“Belum tahu, Bu,” kata Juna. “Belum mau tahu.”

“Kenapa?”

Juna menatapku. Aku tersenyum.

“Biar kejutan,” kataku.

Juna berbaring di kursi donor nomor lima. Kursi yang sama. Selalu kursi yang sama. Aku duduk di kursi plastik di sebelah kanannya, di sisi yang jauh dari lengan yang akan ditusuk.

Ia mengulurkan tangan kanannya kepadaku tanpa diminta.

Aku menggenggamnya.

“Lihat aku,” katanya. “Jangan lihat jarumnya.”

“Aku udah nggak takut jarum,” kataku.

Itu tidak sepenuhnya benar. Tapi sudah lebih benar dari setahun lalu. Bulan kedua kehamilan, aku harus tes darah setiap dua minggu, dan setiap kali, Juna izin dari kerja dan duduk di sebelahku dan menggenggam tanganku dan menghitung sampai sepuluh. Setelah tes kelima, aku tidak perlu ia menghitung lagi. Setelah tes kedelapan, aku bisa melihat jarumnya.

Tapi aku tetap menatapnya. Bukan karena takut. Karena aku suka menatapnya.

Petugas memasukkan jarum ke lengan kirinya. Ia tidak berkedip. Ia tersenyum kepadaku, seperti biasa, seolah tidak terjadi apa-apa.

Dan darahnya mengalir. Merah tua. O positif. Ke dalam kantong plastik, ke lengan seseorang yang tidak ia kenal, di rumah sakit yang tidak ia tahu, mungkin di ruang perawatan di mana seseorang sedang menghitung sampai sepuluh di dalam gelap.

“Kamu nggak pernah penasaran?” tanyaku. Pertanyaan yang sama. Setiap tiga bulan.

Dan jawabannya, setiap tiga bulan, sedikit berubah.

Setahun lalu, ia bilang nggak, nanti orangnya ngerasa utang.

Enam bulan lalu, ia bilang sedikit.

Hari ini, ia menatap selang tipis yang mengalirkan darahnya, lalu menatapku, lalu menatap perutku.

“Penasaran,” katanya. “Tapi nggak apa-apa nggak tahu.”

“Kenapa nggak apa-apa?”

“Karena aku tahu ada yang nerima.” Ia meremas tanganku. “Kayak kamu. Lima tahun aku nggak tahu darahku ke mana. Ternyata ke orang yang paling penting di hidupku. Jadi sekarang, setiap kali donor, aku mikir...”

Ia berhenti. Telinganya memerah.

“Mikir apa?”

“Mikir, mungkin ada orang lain yang juga nemu orang paling penting di hidupnya. Gara-gara darah ini.” Ia memalingkan wajah, malu. “Bodoh, ya?”

Aku tidak bisa menjawab. Aku hanya membungkuk, sejauh perutku mengizinkan, dan mencium punggung tangannya.

“Itu dihitung?” tanyanya.

“Tangan nggak dihitung.”

“Udah setahun nikah, masih banyak yang nggak dihitung.”

“Aku masih CEO. Aku masih yang bikin aturan.”


Sepuluh menit kemudian, petugas mencabut jarum dan menempelkan plester bulat warna cokelat di lipatan sikunya.

Aku membungkuk dan menempelkan bibirku di atas plester itu.

Pelan. Lama. Seperti pertama kali. Seperti setiap tiga bulan sejak pertama kali.

Juna diam. Lengannya rileks di bawah bibirku sekarang, tidak tegang lagi seperti dulu. Ia sudah tahu ritual ini. Ia menunggunya.

Ketika aku mengangkat kepala, ia sedang tersenyum ke langit-langit ruang donor.

“Dompetmu udah penuh plester,” katanya.

“Belum. Masih muat.”

“Berapa sekarang?”

“Lima.”

“Lima?”

“Yang pertama, dari dulu. Terus empat lagi, setahun ini.” Aku tersenyum. “Masih muat sampai tua.”

Ia tertawa. Bu Nurul, dari meja pendaftaran, memotret kami diam-diam dengan HP-nya, seperti biasa.


Setelah donor, aku menyuapinya di rumah makan Padang yang lantainya agak lengket dan kipas anginnya berputar terlalu lambat. Rendang, gulai hati ayam, sayur daun singkong. Selalu sama.

“Aaa,” kataku.

“Val, aku bisa makan sendiri.”

“Tangan kirimu baru ditusuk.”

“Aku makan pakai tangan kanan.”

“Aaa, Jun.”

Ia membuka mulut. Telinganya masih merah, setelah setahun. Pelayan berpeci di balik etalase kaca sudah tidak menoleh lagi. Ia sudah terbiasa.

Di tengah suapan ketiga, ia berhenti mengunyah dan menatap perutku.

“Val.”

“Hm.”

“Golongan darahnya nanti apa?”

Aku menurunkan sendok.

Pertanyaan itu sudah lama ingin kutanyakan juga. Aku sudah membacanya di jurnal-jurnal kedokteran jam dua pagi, waktu aku tidak bisa tidur karena perutku kram dan ia tertidur di sebelahku.

“Kamu tahu golongan darahku apa?” tanyaku.

“O. Kayak aku.”

“Itu darahku, Jun. Sel darahku. Semua dari sumsum tulangmu.” Aku menyentuh perutku. “Tapi bayinya bukan dari darahku. Bayinya dari aku. Dari gen-ku yang asli. Yang dulu.”

Ia mengerutkan kening. “Yang dulu A?”

“Yang dulu A.”

Juna menatapku. Lalu menatap perutku. Aku bisa melihat ia sedang menghitung, seperti menghitung beban penyeimbang di kepala.

“Jadi bayinya bisa A,” katanya pelan. “Atau O.”

“Iya.”

“Kalau O, dia kayak aku.”

“Dan kayak darahku sekarang.”

“Kalau A...” Ia diam. “Kalau A, dia kayak kamu. Kamu yang dulu. Kamu sebelum semuanya.”

Aku mengangguk. Mataku tiba-tiba panas.

Kamu sebelum semuanya. Gadis dua puluh tiga tahun yang punya rambut, yang belum pernah naik lift dan takut, yang golongan darahnya A dan tidak tahu ada laki-laki di Jakarta Timur yang makan bubur kacang ijo setiap pagi dan bilang itu paling enak sedunia.

“Kamu mau yang mana?” tanyaku. Suaraku serak.

Juna menatapku lama. Lalu ia mengambil sendok dari tanganku, menyendok nasi dan gulai hati ayam, dan mengangkatnya ke depan mulutku.

“Aaa,” katanya.

Aku membuka mulut. Ia menyuapiku.

“Dua-duanya,” katanya, setelah aku menelan. “Kalau A, aku punya kamu yang dulu. Kalau O, aku punya kita yang sekarang.”

Aku menangis di rumah makan Padang. Lagi. Pelayan berpeci menyodorkan tisu dari balik etalase tanpa menoleh.


Malam hari, di kamar kami di Rawamangun, Juna berbaring di sebelahku dengan kepala di dekat perutku.

Lampu tidur menyala kuning redup. Di luar, hujan pelan mengetuk-ngetuk daun pohon mangga. Di nakas, di sebelah ranjang, HP lama dengan casing ungu. Baterainya sudah diganti. Juna yang menggantinya, dengan sangat hati-hati, dengan obeng kecil retak milik almarhum ayahnya. File di dalamnya masih ada. Kami tidak pernah memutarnya lagi. Kami tidak perlu.

Di sebelah HP itu, buku saku Pak Darto yang lama, sampul cokelat, dua puluh tiga insiden. Dan buku saku yang baru, sampul hitam, yang Pak Darto berikan kepada kami di hari pernikahan, terbungkus pita emas. Di halaman pertama, tulisan huruf kapital yang rapi:

ARSIP PERNIKAHAN. MULAI INSIDEN 24. UNTUK IBU DAN MAS JUNA. DARI DARTO.

Halaman terakhir yang terisi bertanggal kemarin, waktu Pak Darto datang mengantar kue dari Mama:

INSIDEN 61. RUMAH RAWAMANGUN. MAS JUNA MENGUKUR PERUT IBU PAKAI BENANG. IBU TERTAWA.

CATATAN PRIBADI: SAYA AKAN JADI KAKEK ANGKAT. SAYA SUDAH BELI BUKU SAKU KETIGA.

“Val,” bisik Juna di dekat perutku.

“Hm.”

“Dia udah bangun?”

Aku menunggu. Lalu, pelan, dari dalam, seperti ketukan kecil di pintu baja, ada sesuatu yang bergerak.

“Udah,” bisikku.

Juna menempelkan telapak tangannya di perutku. Diam. Menunggu. Ketukan kecil lagi, tepat di bawah tangannya.

Wajahnya berubah. Seperti waktu pertama kali, di lobby, waktu aku menarik kerahnya. Seperti waktu di bedeng proyek, waktu ia mendengar suaranya sendiri lima tahun lalu. Seperti waktu di lift nomor tiga, waktu ia membuka kotak beludru merah dan aku tahu ia juga mau duluan.

“Halo,” bisiknya ke perutku. Suaranya bergetar. “Ini Bapak.”

Ketukan kecil.

Juna tertawa, basah. Ia menatapku. Matanya merah.

“Dia jawab,” katanya.

“Dia kenal suaramu.”

“Kok tahu?”

Aku menyentuh rambutnya. Pelan. Seperti menyentuh sesuatu yang mudah tergores.

“Karena aku juga kenal suaramu,” kataku. “Sebelum aku tahu wajahmu.”

Juna menatapku lama. Lalu ia kembali menunduk ke perutku. Menarik napas. Dan dengan suara yang paling fals di dunia, dengan cengkok dangdut yang dipaksakan, dengan nada yang meleset di setiap baris, ia bernyanyi:

“Lift-nya macet, jangan cemberut,
Bapak di sini, nggak bakal kabur,
Hitung sampai sepuluh, tarik napas panjang,
Nanti kita turun, beli bubur kacang...”

Ia berhenti. “Bagian ini biasanya Bapak ganti tergantung orangnya.”

Ketukan kecil.

“Bubur kacang ijo,” kata Juna ke perutku. “Pasti bubur kacang ijo. Paling enak sedunia. Nanti kamu coba. Bu Sum udah janji mau masakin yang khusus buat kamu.”

Aku tertawa. Aku menangis. Aku tidak bisa membedakannya lagi.

Juna menyanyikan lagu itu sampai habis. Dua kali. Tiga kali. Ketukan kecil di perutku melambat, makin pelan, sampai akhirnya berhenti. Tertidur.

“Dia tidur,” bisik Juna.

“Lagunya berhasil.”

“Lagunya jelek banget.”

“Makanya berhasil.”

Ia mengangkat kepalanya dari perutku. Merangkak ke atas, ke bantal, ke sebelahku. Menarikku ke pelukannya. Lengannya di pinggangku, telapak tangannya di perutku, napasnya di tengkukku.

Seperti setiap malam.

“Val,” gumamnya, setengah tertidur.

“Hm.”

“Makasih.”

“Buat apa?”

Ia diam lama. Aku pikir ia sudah tertidur.

Lalu, sangat pelan, di tengkukku:

“Buat hidup lama.”

Aku memejamkan mata.

Di luar, hujan pelan mengetuk daun pohon mangga. Di nakas, HP lama dengan casing ungu dan dua buku saku. Di dompetku di laci, kartu putih kecil dengan tulisan tangan biru, dan lima plester bulat warna cokelat di belakangnya. Di jari manisku, cincin dengan ukiran Jangan takut lagi.

Dan di dalam tubuhku, darahnya. Mengalir. Tenang. Diam. Tidak minta apa-apa.

Dan di bawah darahnya, di bawah telapak tangannya, sesuatu yang baru. Separuh aku yang dulu. Separuh dia. Golongan darahnya belum tahu. Tidak penting.

Aku tahu satu hal.

Aku tidak takut lagi.

Dan aku tidak menghitung sampai sepuluh sebelum tidur.

Aku tidak perlu.

Ada yang menghitung bersamaku.