Chapter Twenty Three
Proyek Baru, Hati Lama
POV: Juna
Cikarang panas.
Bukan panas Jakarta yang lengket dan berbau knalpot. Panas Cikarang kering dan berdebu, panas yang menempel di kulit seperti pasir halus. Proyeknya gudang logistik tiga lantai di kawasan industri, dikelilingi pabrik-pabrik dan truk kontainer yang lewat setiap tiga menit, mengangkat debu kuning yang masuk ke mana-mana. Ke mata. Ke hidung. Ke gigi.
Liftnya lift barang. Kotak baja besar, polos, tanpa cermin, tanpa musik, tanpa tombol darurat yang terlalu gampang dipencet. Lift yang mengangkut palet dan forklift, bukan manusia. Tidak ada yang terjebak di dalamnya dan menelepon ibunya sambil menangis. Tidak ada yang perlu ditenangkan.
Aku bekerja di sana dari jam tujuh pagi sampai jam enam sore, lalu menyetir motor satu setengah jam pulang ke rusun lewat tol dan jalan arteri yang macet. Lalu aku naik lima lantai ke unit yang kosong, karena Tari masih di kos Dinda dan tidak membalas pesanku.
Aku makan nasi kucing yang kubeli di warung pinggir tol. Sendirian. Di kursi plastik di ruang tengah, di bawah kipas angin yang batuk-batuk, di depan foto Bapak dan Ibu.
Lalu jam dua pagi, HP-ku bergetar.
Udah makan?
Setiap malam. Jam dua. Satu pesan.
Aku membaca setiap malam. Aku tidak membalas.
Malam keempat, ia menambahkan: Aku nggak akan atur apa-apa lagi. Tapi aku boleh kangen, kan? Kangen nggak ada di kontrak.
Aku mengetik balasan. Aku menghapusnya. Aku mengetik lagi. Aku menghapusnya lagi. Aku menatap layar sampai tiga titik itu pasti sudah muncul dan hilang di layarnya, dan aku tahu ia melihatnya, dan aku tahu ia menunggu, dan aku menaruh HP di lantai dengan layar menghadap ke bawah.
Aku tidak tidur malam itu.
Malam keenam, pesannya panjang.
Papa cerita soal registri. Soal cek dua rumah yang kamu tolak lima tahun lalu. “Saya nggak jual. Saya cuma kasih.” Papa nyimpen kalimat itu di buku catatannya sampai sekarang.
Aku menatap pesan itu lama.
Aku ingat telepon itu. Lima tahun lalu, beberapa minggu setelah donor. Petugas registri bilang, keluarga penerima ingin menyampaikan terima kasih dalam bentuk materi. Jumlahnya besar. Mas bersedia? Aku sedang di atas sangkar lift di gedung perkantoran di Thamrin, berdiri di atas atap kotak baja yang tergantung di lubang setinggi dua puluh lantai. Aku bilang tidak. Petugas itu bertanya, ada pesan untuk keluarga penerima? Aku memikirkannya sepuluh detik. Lalu aku mengucapkan kalimat itu.
Aku tidak tahu ada orang yang menuliskannya. Aku tidak tahu ada ayah yang menyimpannya di buku catatan kulit lusuh selama lima tahun.
Aku udah cabut rekomendasi promosimu. Aku udah minta Mama nggak ngubah apa-apa soal beasiswa Tari. Aku nggak akan atur apa-apa lagi, Jun. Bukan janji. Udah aku lakuin.
Kamu nggak harus bales. Kamu nggak harus balik.
Tapi aku masih di sini. Lift nomor tiga pintunya udah tepat waktu. Aku benci.
Aku membaca baris terakhir itu tiga kali.
Lift nomor tiga pintunya udah tepat waktu. Aku benci.
Aku tertawa. Di kamar sempitku, jam dua pagi, sendirian, aku tertawa. Pendek dan basah dan tidak percaya. Karena hanya Valerie yang bisa membenci lift yang berfungsi dengan baik. Hanya Valerie yang bisa merindukan pintu yang telat nol koma dua detik.
Lalu tawaku berhenti, dan aku menatap layar itu, dan aku merasakan sesuatu di dadaku yang bukan pertanyaan dingin di kursi yang paling besar.
Sesuatu yang lain. Sesuatu yang kecil dan hangat dan keras kepala, yang duduk di sudut, di tempat pertanyaan itu dulu duduk.
Aku mengetik. Aku menghapus. Aku mengetik lagi. Aku menghapus lagi.
Akhirnya aku mengetik satu kata. Satu-satunya kata yang bisa kuketik tanpa tanganku gemetar.
Udah.
Aku mengirimnya sebelum bisa menghapusnya.
Lalu aku menaruh HP di dada dan menatap noda bocor berbentuk peta Kalimantan, dan aku tidak tahu apakah aku baru saja membuka pintu atau hanya mengintip dari celahnya.
Bang Ucok datang hari Minggu.
Ia naik motor dari Jakarta Timur ke Cikarang, dua jam, di hari liburnya, membawa dua bungkus nasi padang dan termos kopi. Ia menemukanku di pos jaga proyek, duduk di bangku kayu di bawah atap seng, makan gorengan dingin.
“Jun.”
“Bang. Kok ke sini?”
“Istriku nyuruh.” Bang Ucok duduk di sebelahku, membuka bungkusan nasi padang. “Dia bilang, ‘Cok, temenmu itu lagi patah hati. Kamu harus jenguk. Bawa nasi padang. Laki-laki patah hati harus makan rendang.’”
“Istri Abang bijak.”
“Itu sebabnya aku nikahin.” Bang Ucok menyodorkan satu bungkus. “Makan.”
Aku makan. Rendangnya dingin dan bumbunya sudah meresap terlalu lama, tapi itu rendang terenak yang pernah kumakan.
Kami makan diam. Truk kontainer lewat, mengangkat debu kuning. Bang Ucok menutup nasinya dengan tangan sampai debunya reda.
“Jun,” katanya akhirnya. “Aku mau kasih pepatah.”
“Silakan, Bang.”
“Pepatah pertama.” Ia mengangkat jari telunjuk. “Nasi sudah menjadi bubur.”
“Artinya udah terlambat, Bang.”
“Bukan.” Bang Ucok menggeleng dengan yakin. “Artinya kalau nasinya udah jadi bubur, ya makan buburnya. Bubur juga enak. Apalagi bubur kacang ijo.”
Aku menatapnya. “Itu bukan arti pepatahnya, Bang.”
“Sekarang iya.” Ia mengangkat jari tengah. “Pepatah kedua. Air susu dibalas air tuba.”
“Itu artinya kebaikan dibalas kejahatan.”
“Bukan. Artinya kalau ada orang ngasih air susu, kamu jangan balas pakai air tuba. Balas pakai air susu juga. Atau bubur kacang ijo.”
“Bang...”
“Pepatah ketiga.” Jari manis. “Bagai pungguk merindukan bulan.”
“Itu artinya merindukan sesuatu yang nggak mungkin.”
Bang Ucok menatapku lama. Lalu menggeleng pelan, dengan wajah kasihan.
“Jun. Kamu salah. Semua orang salah. Pungguk itu burung hantu. Dia lihat bulan tiap malam. Bulannya nggak ke mana-mana. Bulannya cuma di atas. Nunggu.” Bang Ucok menunjuk langit siang yang putih berdebu. “Yang nggak mungkin itu bukan bulannya. Yang nggak mungkin itu punguknya nggak mau terbang.”
Aku diam.
Bang Ucok kembali makan rendangnya. “Itu pepatah dari istriku. Yang terakhir. Dia bilang aku harus sampaikan ke kamu kata per kata.”
Reza datang hari Selasa.
Ia datang dengan mobil sport warna putih yang langsung tertutup debu kuning dalam lima menit pertama di jalan proyek. Ia memarkirnya di samping truk molen, keluar dengan kemeja biru muda dan sepatu kulit mengilap, dan langsung batuk-batuk karena debu.
“Juna! Bro!”
Aku sedang duduk di atas sangkar lift barang, di dalam lubang lift yang terbuka di lantai dua, mengencangkan baut rel pemandu. Aku menunduk dan melihat Reza berdiri di depan pintu lift yang terbuka, menengadah, sepatu kulitnya sudah kuning.
“Mas Reza?”
“Turun! Aku bawa makanan!”
“Saya lagi kerja, Mas.”
“Aku tunggu!”
Ia menunggu empat puluh menit. Duduk di peti kayu di dekat lift, di bawah atap seng, kemejanya basah keringat, mengipasi diri dengan map plastik yang ia ambil entah dari mana. Mandor proyek, Pak Slamet, menatapnya dengan wajah orang yang melihat alien.
Waktu aku akhirnya turun, Reza sudah membuka dua kotak makanan dari restoran Jepang mahal. Sushi. Di tengah proyek gudang di Cikarang. Di bawah atap seng.
“Makan,” katanya. “Aku pesan yang paling mahal. Nggak tahu kamu suka apa.”
Aku menatap sushi itu. Aku belum pernah makan sushi.
“Mas Reza ngapain ke sini?”
“Jenguk kamu.”
“Kita nggak sedekat itu, Mas.”
“Kita dekat!” Reza tersinggung. “Aku fans kamu. Fans itu dekat. Sepihak, tapi dekat.”
Aku duduk di peti kayu di sebelahnya. Mengambil sepotong sushi dengan tangan, karena tidak ada sumpit. Memasukkannya ke mulut. Rasanya aneh. Dingin, asin, lembut. Tidak seperti apa pun yang pernah kumakan.
“Gimana?” tanya Reza penuh harap.
“Kayak nasi kucing yang lagi les bahasa Jepang.”
Reza tertawa begitu keras sampai Pak Slamet menjatuhkan rokoknya.
“Juna,” kata Reza setelah tawanya reda. Suaranya berubah. Lebih pelan. “Aku mau cerita sesuatu.”
“Soal apa, Mas?”
“Soal Valerie.” Ia menatap sushi di kotaknya. “Kamu tahu kan aku ditolak tiga kali.”
“Tahu.”
“Kamu tahu kapan pertama kali?”
Aku menggeleng.
“Empat tahun lalu,” kata Reza. “Di rumah sakit.”
Aku berhenti mengunyah.
“Waktu itu dia baru transplantasi beberapa bulan. Masih di rumah sakit. Masih botak, masih kurus. Keluargaku sama keluarganya udah lama ngomongin perjodohan dari kami kecil. Mamaku bilang, Za, ini waktunya. Dia lagi lemah, lagi butuh dukungan, kamu datang, kamu tunjukin kamu serius.” Reza tertawa pahit. “Strategi bisnis. Keluargaku selalu begitu.”
“Terus Mas datang.”
“Aku datang. Bawa bunga. Bawa cincin. Berlutut di samping ranjang rumah sakit. Kayak di film.” Reza menggeleng pelan. “Dia lihat aku lama. Terus dia bilang, ‘Za. Kamu baik. Tapi aku udah punya seseorang.’”
Aku membeku.
“Aku tanya siapa,” lanjut Reza. “Soalnya aku kenal semua cowok di lingkaran kami. Nggak ada yang dekat sama dia. Dia nggak pernah pacaran. Terus dia bilang...”
Reza berhenti. Menatapku.
“Dia bilang, ‘Aku belum tahu namanya.’”
Truk kontainer lewat. Debu kuning mengepul. Aku tidak menutup mataku.
Aku belum tahu namanya.
“Aku kira dia ngelantur,” kata Reza. “Efek obat. Aku pulang, bilang ke Mama, Valerie nolak, katanya udah punya orang yang dia nggak tahu namanya. Mama bilang dia pasti masih trauma. Tahun depannya aku coba lagi. Ditolak lagi. Dia bilang hal yang sama. ‘Aku udah punya seseorang.’ Tahun depannya lagi, ketiga kali, dia bilang, ‘Za, aku lagi nyari dia. Aku hampir ketemu.’”
Aku tidak bisa bicara.
“Terus hari itu,” kata Reza, “di lobby Hadinata Tower. Aku lihat videonya. Dia cium kamu. Terus aku ngerti.” Ia menatapku. “Kamu orangnya. Dari awal. Dari waktu dia masih botak di rumah sakit dan belum tahu namamu.”
Aku menatap tanganku. Tangan yang hitam oli sampai pergelangan.
“Itu karena donornya, Mas,” kataku pelan. “Dia tahu ada donor. Dia punya kartuku. Dia nggak tahu namaku, tapi dia tahu aku ada. Jadi dia bilang udah punya seseorang. Itu wajar. Itu terima kasih.”
Reza menatapku lama.
“Bro,” katanya. “Kamu pernah lihat orang yang lagi berterima kasih?”
“Pernah.”
“Gimana mukanya?”
Aku berpikir. Aku ingat orang-orang yang keluar dari lift macet. Wajah lega. Senyum lelah. Jabat tangan. Makasih, Mas. Lalu mereka pergi dan tidak pernah ingat wajahku lagi.
“Lega,” kataku. “Terus pergi.”
“Valerie nggak pergi,” kata Reza. “Lima tahun. Dia nggak pergi. Dia nolak aku tiga kali. Dia keliling Jakarta Timur nanya ke tukang bubur. Dia atur kontrak gedung biar kamu ada di lobby hari itu. Itu bukan terima kasih, bro. Orang terima kasih nggak segitunya.”
“Terus itu apa?”
Reza mengangkat bahu. Ia memasukkan sepotong sushi ke mulutnya, mengunyah, menelan.
“Aku nggak tahu,” katanya. “Aku cuma tahu dia bilang ‘aku udah punya seseorang’ dengan muka yang sama kayak Kiki waktu ngomongin aku.”
Aku menatapnya.
Reza memerah. Sampai ke leher.
“Lupain kalimat terakhir,” katanya cepat.
Reza pulang jam empat sore, dengan mobil sport yang sekarang lebih mirip mobil reli. Sebelum masuk mobil, ia berhenti dan menoleh.
“Juna. Satu lagi.”
“Apa, Mas?”
“Pertanyaan yang kamu tanya ke dia. Yang dia nggak bisa jawab.” Reza menatapku. “Kalau kamu bukan donornya, dia bakal cium kamu nggak?”
Aku membeku. “Mas tahu dari mana?”
“Kiki.” Reza mengangkat bahu. “Kiki cerita semuanya. Kami... ngobrol banyak akhir-akhir ini.”
“Terus?”
“Terus aku mikir.” Reza mengetuk-ngetuk atap mobilnya yang berdebu. “Pertanyaan itu nggak adil, bro. Itu kayak nanya, kalau Valerie nggak sakit, kamu bakal ketemu dia nggak? Ya nggak. Kamu tukang lift di Jakarta Timur, dia CEO di Sudirman. Kalian nggak bakal ketemu. Tapi kalian ketemu. Karena dia sakit. Karena kamu donor.”
Ia membuka pintu mobil.
“Cara orang ketemu itu nggak penting, bro,” katanya. “Yang penting kenapa mereka nggak pergi.”
Ia masuk mobil, menutup pintu, dan pergi, meninggalkan awan debu kuning yang menelan seluruh jalan proyek.
Malam itu, aku duduk di kursi plastik di ruang tengah rusun yang kosong.
Tari masih belum pulang. Pesanku masih centang dua abu-abu. Foto Bapak dan Ibu tersenyum dari dinding.
Aku mengeluarkan formulir lecek dari saku jaket. Membukanya di atas meja.
KENAPA DIA MENCIUMKU
Empat teori. Dicoret. Catatan-catatan kecil. Jawaban di bagian bawah: Dia yang nerima. Aku yang ngasih. Lima tahun lalu.
Aku mengambil pulpen dan menulis di bawahnya:
Reza bilang: empat tahun lalu, di rumah sakit, dia bilang “aku udah punya seseorang. Aku belum tahu namanya.”
Bang Ucok bilang: yang nggak mungkin bukan bulannya. Punguknya yang nggak mau terbang.
Reza bilang: cara orang ketemu nggak penting. Yang penting kenapa mereka nggak pergi.
Dia nggak pergi.
Aku menatap baris terakhir itu lama.
Lalu, di bawahnya, aku menulis sesuatu yang membuat tanganku berhenti di tengah:
Aku yang pergi.
Jam dua pagi, aku menunggu.
Aku tidak tidur. Aku berbaring di kasur busa dengan HP di dada, layar menghadap ke atas, menunggu getaran. Menunggu Udah makan?
Jam dua lewat nol menit. Tidak ada.
Jam dua lewat lima. Tidak ada.
Jam dua lewat lima belas. Tidak ada.
Aku duduk. Membuka WhatsApp. Membuka percakapan dengan Val.
Pesan terakhirnya kemarin malam, jam dua lewat satu menit: Udah makan? Dan balasanku, dua menit kemudian, satu kata yang akhirnya bisa kuketik untuk kedua kalinya: Udah. Kamu?
Ia tidak membalas kamu?-ku.
Dan malam ini, untuk pertama kalinya dalam tujuh malam, tidak ada Udah makan?
Jam dua lewat tiga puluh. Tidak ada.
Jam tiga. Tidak ada.
Aku menatap layar. Status terakhir dilihat: kemarin pukul 02.03.
Ia tidak membuka WhatsApp sejak kemarin malam.
Sesuatu di dadaku, sesuatu yang dingin dan lama, yang sudah ada sejak aku umur dua puluh, sejak telepon dari rumah sakit malam itu, Mas Juna, Bapak sama Ibu Mas kecelakaan, sesuatu itu bangun.
Bukan pertanyaan. Bukan kalau aku bukan donormu.
Ketakutan.
Ketakutan orang yang pernah menunggu kabar terlalu lama, di suatu tempat, dan kabarnya tidak pernah datang. Ketakutan yang sama yang kulihat di wajahnya di jok belakang mobil, waktu aku dua jam empat puluh menit di lubang lift tanpa sinyal.
Aku kira kamu kenapa-kenapa. Aku kira kamu jatuh. Aku kira...
Aku mengetik.
Val?
Centang satu. Abu-abu. Tidak terkirim.
HP-nya mati.
Aku menatap centang abu-abu itu sampai matahari terbit. Waktu itu aku belum tahu bahwa, lima belas kilometer dari rusun, di sebuah ruang perawatan yang lampunya terlalu putih, ia sedang menghitung sampai sepuluh sendirian.
- 1 Ciuman di Lantai Dasar
- 2 Pagi Ini Dokter Bilang Aku Sembuh
- 3 Teori Nomor Satu: Salah Orang
- 4 Lift Lantai 40 Rusak Lagi
- 5 Dua Ratus Mangkuk Bubur
- 6 Bawa Aku ke Duniamu
- 7 Tombol Merah
- 8 Kalau Mbak Serius
- 9 Angkringan, Bukan Rooftop
- 10 Telepon Jam Dua Pagi
- 11 Yang Punya Darahnya
- 12 Makan Malam Keluarga Hadinata
- 13 Kunci Pintunya
- 14 Rezeki Nomplok
- 15 Ulang Tahun Kedua
- 16 Kartu Laminasi
- 17 Bekas Luka
- 18 Siapa yang Menang Tender
- 19 Kamu Pernah Menolakku
- 20 Kamu Bayar Utang
- 21 Aku Nggak Pura-Pura
- 22 Laki-Laki yang Nggak Mau Apa-Apa
- 23 Proyek Baru, Hati Lama reading
- 24 Biopsi
- 25 Lift yang Sama
- 26 Helm Proyek
- 27 HP Lama
- 28 Kalau Aku Nggak Keluar
- 29 Duluan
- 30 Meja Makan Hadinata (Lagi)
- 31 Malam di Lift, Lima Tahun Lalu
- 32 Sebentar Lagi Aman
- 33 Epilog — Golongan Darah Anak Kita