Chapter Thirty One

Malam di Lift, Lima Tahun Lalu

POV: Valerie

Aku mau menceritakan malam itu sekali saja. Dari dalam. Seperti yang sebenarnya.

Bukan dari rekaman. Rekaman hanya menyimpan suara. Rekaman tidak menyimpan dingin di telapak kaki, atau bau karbol di lorong, atau rasa topi rajut abu-abu yang gatal di kepala yang tidak punya rambut lagi.

Aku mau menceritakannya karena besok aku akan melamar laki-laki yang ada di balik pintu itu. Dan aku mau, sebelum aku berlutut di depannya, mengingat dengan benar kenapa aku berlutut.


Aku dua puluh tiga tahun dan aku sedang sekarat.

Tidak ada yang mengatakannya dengan kata itu. Dokter bilang kondisinya menantang. Mama bilang kamu pasti sembuh. Papa tidak bilang apa-apa, karena setiap kali ia mencoba bicara di kamarku, suaranya pecah dan ia harus keluar. Tapi aku tahu. Aku membaca laporan hasil labku sendiri. Aku selalu membaca semua halaman.

Kemo pertama gagal. Kemo kedua membuat rambutku rontok dalam sebelas hari, seluruhnya, sampai Mama harus memungutinya dari bantal setiap pagi sambil pura-pura tidak menangis. Aku tidak bisa makan. Semua makanan rasanya seperti menggigit sendok logam. Beratku turun sebelas kilo. Aku berhenti bercermin di minggu ketiga.

Dan donornya tidak ada.

Keluargaku tidak ada yang cocok. Aku anak tunggal. Mama membuat drive pendaftaran di mana-mana: di kantor Papa, di kampus-kampus, di masjid dan gereja, di lobby rumah sakit ini. Ratusan orang mendaftar. Ribuan. Tidak ada yang cocok.

Empat bulan.

Dokter bilang, kalau sebulan lagi tidak ada donor...

Ia tidak menyelesaikan kalimatnya. Aku menyelesaikannya sendiri, di kepalaku, setiap malam.


Malam itu hujan.

Aku tidak bisa tidur. Aku tidak pernah bisa tidur. Setiap kali memejamkan mata, aku takut tidak membukanya lagi. Pak Darto tertidur di kursi di luar kamarku, kepalanya miring ke dinding, buku saku tergeletak di pangkuannya. Ia sudah tiga malam tidak tidur karena aku.

Aku tidak membangunkannya.

Aku mau teh manis. Teh manis panas. Teh di kamarku selalu dingin karena perawat mengantarnya jam delapan dan aku baru ingat meminumnya jam sebelas. Kantin rumah sakit di lantai satu buka dua puluh empat jam. Aku tahu dari Mama.

Aku memakai topi rajut abu-abu. Masker. Sandal rumah sakit. Aku berjalan pelan di lorong lantai empat, berpegangan ke dinding, melewati Pak Darto yang mendengkur pelan, ke lift.

Lift gedung B. Pintu stainless steel yang kusam. Tombol panggil bulat yang menyala oranye.

Aku masuk sendirian. Menekan angka 1.

Lift turun. Lantai empat. Lantai tiga.

Lalu berhenti.


Bukan berhenti seperti sampai di lantai. Berhenti dengan sentakan. Seperti orang tersandung. Lampu di langit-langit sangkar berkedip sekali, dua kali, lalu mati.

Gelap.

Bukan gelap biasa. Gelap total. Gelap kotak baja yang tergantung di lubang, di antara dua lantai, di tengah malam, di gedung rumah sakit tempat orang-orang datang untuk sembuh atau untuk mati.

Aku mencari tombol. Menekan semuanya. Tidak ada yang menyala.

Aku menekan tombol alarm. Bunyinya lemah, jauh, seperti teriakan dari bawah air.

Aku memukul pintu. Tanganku tidak punya tenaga. Pukulanku terdengar seperti ketukan anak kecil.

Lalu napasku hilang.

Aku tidak tahu bagaimana menjelaskannya. Rasanya seperti dadaku dijepit. Seperti udara di kotak baja itu dihisap keluar perlahan-lahan. Aku jatuh terduduk di lantai sangkar yang dingin. Punggungku menempel di dinding. Aku menarik masker dari wajahku karena aku pikir masker itu yang membuatku tidak bisa bernapas.

Bukan maskernya.

Di dalam gelap itu, aku berpikir: Ini dia. Aku nggak akan mati di ranjang. Aku akan mati di sini. Sendirian. Di kotak ini.

Dan anehnya, aku tidak takut mati. Aku sudah empat bulan takut mati. Aku sudah terlalu capek untuk takut.

Aku takut Mama tidak tahu aku tidak takut.

Jadi aku mengeluarkan HP dari saku baju rumah sakit. HP casing ungu. Layarnya satu-satunya cahaya di dalam gelap. Aku membuka perekam suara. Aku menekan tombol merah.

Nama file default: Rekaman 047.

Aku menggantinya. Jariku gemetar di layar. kalau aku nggak keluar.

Lalu aku bicara ke Mama.


Ketukan di pintu datang di menit kedua.

Tiga kali. Keras. Dari luar.

Lalu suara.

“Halo? Ada orang di dalam?”

Suara laki-laki. Muda. Sedikit terengah. Ada bunyi hujan di belakangnya, samar, dan bunyi tetesan air, seperti seseorang yang baru masuk dari luar dan bajunya masih basah.

Aku tidak menjawab. Aku tidak bisa.

Ketukan lagi. “Halo? Mbak? Mas? Ada orang?”

“Ada,” kataku. Suaraku keluar seperti bisikan.

Dan suara di balik pintu itu langsung berubah. Turun. Pelan. Tenang. Seperti seseorang berlutut di lantai, mendekatkan wajahnya ke celah pintu.

“Mbak nggak apa-apa?”

Aku bilang aku tidak tahu. Aku bilang aku tidak bisa napas.

Dan ia bilang: “Mbak. Dengerin saya, ya.”

Aku mendengarkan.


Aku tidak akan menceritakan empat puluh menit itu kata per kata. Aku sudah mendengarnya ratusan kali. Aku hafal setiap jeda, setiap tawa, setiap nada fals.

Aku hanya akan menceritakan apa yang tidak ada di rekaman.

Yang tidak ada di rekaman adalah bahwa waktu ia bilang tenang, sebentar lagi aman, aku merangkak di lantai sangkar yang gelap, ke arah suaranya, sampai pipiku menempel di pintu baja yang dingin. Aku menempelkan telinga di celah sempit di bagian atas pintu, celah selebar dua jari, satu-satunya tempat udara dan cahaya lorong masuk.

Dan dari celah itu, aku bisa melihat sesuatu. Hanya sedikit. Sepotong. Ujung sepatu safety yang basah. Lutut celana abu-abu yang kotor oli. Dan tangan. Tangan laki-laki yang bertumpu di lantai koridor, jari-jarinya panjang, kukunya pendek dan ada sisa hitam oli di bawahnya.

Aku tidak pernah melihat wajahnya. Tapi aku melihat tangannya selama empat puluh menit.

Lima tahun kemudian, di lift Hadinata Tower, waktu ia membersihkan lipstik di sudut bibirku dengan tisu, aku memejamkan mata. Bukan karena ingin terlihat romantis. Karena aku melihat tangannya, dari dekat, dan aku tahu. Aku langsung tahu. Sisa hitam oli di bawah kuku. Jari-jari panjang. Tangan yang sama.

Yang tidak ada di rekaman adalah bahwa waktu ia bercerita soal adiknya yang marah karena tidak dijemput les, aku tersenyum di dalam gelap untuk pertama kalinya dalam tiga bulan. Senyum sungguhan. Pipiku sakit karena sudah lama tidak dipakai senyum.

Yang tidak ada di rekaman adalah bahwa waktu ia bilang suara Mbak nggak jelek, aku menangis. Diam-diam. Tanpa suara. Karena itu pertama kalinya dalam empat bulan ada orang yang memujiku tanpa kasihan. Ia tidak tahu aku sekarat. Ia tidak tahu aku botak di bawah topi rajut. Ia hanya mendengar suaraku, dan ia bilang suaraku tidak jelek.

Yang tidak ada di rekaman adalah bahwa waktu ia menyanyi, aku tidak hanya tertawa. Aku bernapas. Benar-benar bernapas. Paru-paruku yang tadi dijepit tiba-tiba terbuka, seperti jendela yang dibuka paksa, dan udara masuk, dingin dan basah dan bau karbol, dan aku tertawa karena lagunya jelek dan aku menangis karena aku bisa bernapas.

Dan yang tidak ada di rekaman, yang tidak pernah kuceritakan kepada siapa pun, bahkan kepada Mama, adalah ini:

Di menit ketiga puluh delapan, sebelum aku bilang suara Mas bikin aku pengen hidup, aku memutuskan sesuatu.

Aku memutuskan untuk tidak mati.

Bukan karena dokter. Bukan karena donor. Belum ada donor. Belum ada apa-apa.

Aku memutuskan untuk tidak mati karena aku ingin tahu wajah orang di balik pintu ini. Aku ingin keluar. Aku ingin sembuh. Aku ingin mencarinya, di mana pun ia berada, dan melihat wajahnya dan bilang terima kasih.

Aku ingin hidup cukup lama untuk itu.

Itu satu-satunya alasan yang kupunya malam itu. Bukan alasan yang besar. Bukan alasan yang mulia. Hanya alasan kecil, bodoh, keras kepala, dari gadis dua puluh tiga tahun di lantai sangkar lift yang gelap.

Tapi alasan kecil itu yang membuatku makan bubur kacang ijo gosong buatan Mama tiga bulan kemudian. Yang membuatku bertahan di ruang isolasi setelah transplantasi. Yang membuatku membaca kartu itu setiap malam.


Pintunya terbuka di menit keempat puluh satu.

Cahaya lorong masuk, terlalu terang. Perawat-perawat menerobos. Selimut biru dibungkus ke tubuhku. Kursi roda. Suara mereka panik dan lega bersamaan: Mbak Valerie! Ya Allah, Mbak!

Aku mencoba menoleh. Aku mau melihat wajahnya. Tapi perawat mendorong kursi rodaku terlalu cepat, dan selimut biru menutupi sebagian wajahku, dan topi rajut abu-abuku melorot ke mata.

Yang kulihat hanya sepotong. Laki-laki berseragam abu-abu, basah kuyup, sedang berusaha berdiri dari lantai. Lututnya kesemutan. Ia oleng sedikit. Ia menunduk, memegang lututnya.

Aku tidak melihat wajahnya.

Jadi aku mengangkat tanganku dari balik selimut, dan melambai kecil, ke belakang, tanpa bisa menoleh.

Dan aku berteriak, dengan suara yang tadi tidak ada:

“Makasih, Mas Lift! Aku nggak takut lagi!”

Kursi roda berbelok di tikungan koridor. Dan ia hilang.


Dua bulan kemudian, waktu dokter sudah berhenti menyebut angka, Mama masuk ke kamarku sambil menangis dan tertawa dan menjatuhkan tasnya di lantai.

Ada donor. Satu. Orang asing. Cocok.

Aku tidak menangis waktu itu. Aku sudah terlalu capek untuk menangis. Aku hanya menatap langit-langit dan berpikir: Aku nggak boleh mati sekarang. Aku belum ketemu Mas Lift.

Empat bulan setelah transplantasi, waktu aku masih di ruang isolasi, waktu aku masih tidak bisa makan dan semua makanan rasanya seperti logam, seorang perawat menyerahkan amplop kecil dari registri. Di dalamnya, kartu putih kecil. Tulisan tangan biru, miring ke kanan, huruf g dengan ekor seperti kail.

Halo, orang yang aku nggak kenal.

Aku membacanya. Aku tersenyum. Lalu aku sampai di paragraf kedua.

Di depan rumahku ada warung bubur kacang ijo. Paling enak sedunia.

Aku berhenti bernapas.

Paling enak sedunia. Dengan nada itu. Dengan cara itu. Seperti suara di balik pintu baja, yang bilang Bu Sum, paling enak sedunia, Mbak harus coba kalau udah sembuh.

Aku menangis seharian. Perawat panik. Mama panik. Dokter dipanggil. Aku tidak bisa menjelaskan kepada siapa pun kenapa aku menangis.

Bagaimana aku menjelaskan bahwa orang yang memberiku alasan untuk hidup, dan orang yang memberiku sumsum tulang untuk hidup, adalah orang yang sama? Bagaimana aku menjelaskan bahwa Tuhan, atau takdir, atau apa pun itu, memberiku orang yang sama dua kali?

Aku pikir itu kebetulan. Keajaiban. Lima tahun aku pikir itu kebetulan.

Sampai dua minggu lalu, waktu Juna berdiri di depan pintu apartemenku, basah kuyup, dengan helm kekecilan, dan memberikan formulir dari Mama.

Buat mbak yang tadi kejebak di lift lantai 3.

Bukan kebetulan.

Ia turun ke lobby. Untukku. Dua puluh satu menit setelah aku berteriak aku nggak takut lagi.

Ia memilihku. Waktu itu. Di dalam gelap. Tanpa tahu siapa aku.

Sama seperti aku memilihnya.


“Kak,” kata Tari. “Kakak nangis lagi.”

Aku mengerjap. Aku duduk di lantai ruang tengah rusun, di bawah kipas angin yang batuk-batuk. Malam Kamis. Satu hari sebelum lamaran.

Di sekelilingku, kru rahasiaku. Tari, bersila di depanku dengan buku catatan kuliah yang sekarang dipakai untuk mencatat rencana. Bang Ucok dan Gilang, duduk di kursi plastik, masing-masing memegang gelas kopi. Bu Sum, di pojok, mengupas kacang ijo untuk besok. Pak Darto, berdiri di dekat pintu seperti biasa, buku saku hitam baru di tangan.

Juna tidak ada. Juna sedang lembur di Cikarang. Tari yang memastikan.

“Kakak ngelamun,” kata Tari.

“Aku lagi inget sesuatu.”

“Inget apa?”

Aku menatap foto Bapak dan Ibu di dinding. Ayah Juna tersenyum di foto itu, laki-laki kurus dengan kumis tipis dan mata yang sama dengan mata Juna. Teknisi listrik di kampung yang duduk di sebelah anaknya setiap mati lampu.

“Inget kenapa aku mau ngelamar dia,” kataku.


Rencananya sederhana.

Besok, Jumat sore, Bang Ucok akan menelepon Juna. Bilang pintu lift nomor tiga Hadinata Tower telat lagi nol koma dua detik. Juna sudah resmi jadi supervisor tim Hadinata sejak Senin, setelah serah terima Cikarang selesai. Ia pasti datang. Ia tidak bisa membiarkan pintu yang telat.

Aku akan menunggu di lift itu.

Bang Ucok akan berjaga di ruang mesin, memastikan semuanya aman. Lift berhenti di antara lantai 39 dan 40. Lampunya tetap menyala. Remnya kunci. Tidak ada yang berbahaya.

“Bu,” kata Bang Ucok untuk keempat kalinya malam itu. “Ibu yakin mau pencet tombol merah lagi? Kata Juna, Ibu takut lift berhenti.”

“Aku yakin, Bang.”

“Pepatah bilang...” Bang Ucok berpikir. “Nggak ada pepatahnya. Saya cuma khawatir.”

“Aku nggak takut lagi, Bang,” kataku. Dan aku sadar itu benar. “Dari lima tahun lalu, sebenarnya.”

Bu Sum akan memasak bubur kacang ijo. Dua panci. Untuk semua orang yang akan menunggu di lantai 40. Mama, Papa, Kiki, Reza, Pak Hendrik dan istrinya dan anak kembarnya yang suka renang. Mbah Karto dari angkringan, kalau ia mau naik taksi online yang sudah Tari pesankan.

Gilang bertugas memegang kamera. Ia sudah latihan tiga hari. Ia masih memotret dengan jari menutupi lensa.

Dan Pak Darto bertugas memastikan Juna tidak curiga.

“Mas Juna tidak curiga, Bu,” lapor Pak Darto. “Saya sudah pantau. Mas Juna fokus pada sesuatu yang lain.”

“Fokus apa?”

Pak Darto diam. Lalu menatap Tari.

Tari langsung menunduk ke buku catatannya dengan kecepatan yang mencurigakan.

“Tari,” kataku.

“Aku nggak tahu apa-apa, Kak.”

“Tari, kamu tahu sesuatu.”

“Aku terikat sumpah, Kak.” Tari menatapku dengan mata berkaca-kaca. “Sumpah ganda. Aku disumpah Kakak, aku disumpah Mas. Dua-duanya demi skincare. Aku nggak bisa ngomong apa-apa. Kalau aku ngomong, dua set skincare-ku melayang.”

Aku menatapnya. Lalu menatap Bang Ucok, yang tiba-tiba sangat tertarik pada gelas kopinya. Lalu Gilang, yang bersiul pelan sambil menatap langit-langit. Lalu Bu Sum, yang mengupas kacang ijo dengan senyum lebar yang tidak bisa ia sembunyikan.

Kotak di saku batiknya. Tujuh kali ia memegangnya di makan malam.

Aku tertawa.

“Dia mau ngelamar duluan,” kataku.

“Aku nggak bilang apa-apa!” teriak Tari.

“Kamu nggak perlu bilang, Tar.”

Aku berdiri. Berjalan ke jendela kecil di ruang tengah rusun. Di luar, gang sudah gelap. Gerobak Bu Sum sudah ditutup terpal. Spanduk kuning menyala dengan tulisan PALING ENAK SEDUNIA dan kata (KATANYA) yang dicoret tebal, bergoyang pelan tertiup angin dari kanal.

“Bang Ucok,” kataku, tanpa menoleh.

“Siap, Bu.”

“Teleponnya majuin. Jam tiga sore, bukan jam lima.”

“Kenapa, Bu?”

Aku tersenyum ke kaca jendela. Senyum miring. Nakal. Penuh rencana.

“Karena kalau dia mau ngelamar duluan,” kataku, “aku harus lebih duluan.”

Di belakangku, Tari menutup wajahnya dengan buku catatan dan berteriak tanpa suara. Bang Ucok tertawa sampai tersedak kopi. Gilang memotret dengan jari menutupi lensa. Bu Sum menyeka matanya dengan ujung kerudung.

Dan Pak Darto, di dekat pintu, membuka buku saku hitamnya yang baru, dan menulis dengan huruf kapital yang rapi:

PERSIAPAN INSIDEN 25. RENCANA DIUBAH. JAM 15.00.

CATATAN PRIBADI: DUA-DUANYA MAU DULUAN. SAYA TIDAK AKAN IKUT CAMPUR. SAYA HANYA AKAN MENCATAT.