Chapter Three

Teori Nomor Satu: Salah Orang

POV: Juna

Jam satu siang, videonya sudah ditonton satu juta kali.

Jam tiga sore, dua juta.

Jam lima sore, waktu aku sampai di kantor PT Elevasi Prima Teknik untuk menyerahkan laporan harian, angkanya sudah empat koma dua juta, dan aku tahu angka pastinya karena Gilang membacakannya keras-keras setiap tiga menit seperti penyiar hitung cepat pemilu.

“Empat koma dua satu, Bang!”

“Lang.”

“Empat koma dua dua!”

“Gilang.”

“Komennya udah dua ratus ribu! Ada yang bilang Bang Juna mirip aktor Thailand!”

“Aktor Thailand siapa?”

Gilang menggulir layar. “Nggak disebut. Pokoknya Thailand.”

Bang Ucok duduk di meja seberang, kakinya naik ke kursi, kopi sachet di tangan. Ia menatapku dengan wajah orang tua yang bangga anaknya masuk TV, padahal umurnya cuma lebih tua empat tahun dariku.

“Jun,” katanya. “Aku sudah bilang dari dulu. Rezeki itu nggak ke mana.”

“Ini bukan rezeki, Bang.”

“Dicium CEO di depan seratus kamera bukan rezeki?” Ia menyesap kopinya. “Ingat pepatah, Jun: sekali dayung, dua tiga pulau terlampaui. Kamu itu dayungnya.”

“Terus pulaunya?”

“Pulaunya ya dia.”

“Dua tiga pulau?”

Bang Ucok berpikir sebentar. “Dia kaya. Pulaunya pasti banyak.”

Aku menyerah dan menunduk ke laporanku. Di kolom “catatan pekerjaan”, aku menulis: Lift 3 Hadinata Tower, sensor pintu disetel ulang, jeda tutup normal. Lalu aku berhenti, karena aku tidak yakin itu benar. Pintu itu masih telat nol koma dua detik waktu terakhir aku naik. Aku tidak sempat membetulkannya. Aku sibuk diseret ke lantai 40 oleh mantan marinir.

Aku menambahkan satu baris: Perlu pengecekan lanjutan.

Lalu aku menatap baris itu lama sekali, dan bertanya-tanya kenapa pengecekan lanjutan tiba-tiba terdengar seperti sesuatu yang lain.


Pak Hendrik, supervisor kami, memanggilku ke ruangannya sebelum aku pulang.

Ruangannya sempit, penuh map yang ditumpuk di lantai karena lemarinya sudah penuh sejak 2019. Di dinding ada kalender bergambar lift dari distributor suku cadang, dan di mejanya ada foto anak kembarnya memakai baju renang. Ia menatapku dari balik meja dengan ekspresi yang biasanya ia pakai kalau ada klien komplain.

“Juna,” katanya. “Duduk.”

Aku duduk.

“Saya sudah kerja di bidang lift dua puluh dua tahun,” katanya. “Saya pernah lihat orang terjebak di lift sama mantan pacarnya. Saya pernah lihat orang lahiran di lift. Saya pernah lihat kambing di lift, Juna. Kambing. Di apartemen lantai 30.”

“Iya, Pak.”

“Tapi saya belum pernah lihat teknisi saya dicium CEO klien terbesar kita di depan wartawan.”

“Saya juga belum pernah, Pak.”

Pak Hendrik mencondongkan badan ke depan. Suaranya turun, seperti mau membagi rahasia negara.

“Kamu pakai apa?”

“Pakai apa, Pak?”

“Pelet. Kamu pakai pelet apa? Dukun mana?”

“Pak, saya nggak pakai apa-apa.”

“Kontrak Hadinata Tower itu kontrak terbesar kita tahun ini, Juna. Lima tahun pemeliharaan. Kalau kamu bikin masalah sama Bu Valerie, kontraknya bisa putus. Kalau kontraknya putus, saya putus. Kalau saya putus, anak saya nggak les renang.” Ia menunjuk foto anak kembarnya. “Lihat. Mereka suka renang.”

“Saya nggak bikin masalah, Pak. Dia yang...”

“Saya tahu. Saya lihat videonya empat belas kali.” Ia bersandar. “Pertanyaan saya cuma satu. Kalian benar pacaran?”

“Nggak, Pak.”

“Terus kenapa dia bilang pacaran?”

“Saya juga lagi nyari tahu, Pak.”

Pak Hendrik menatapku lama. Lalu ia membuka laci, mengeluarkan sebungkus kacang telur, dan menyodorkannya padaku. Ini caranya mengakhiri percakapan sulit.

“Hati-hati, Jun,” katanya. “Orang kaya itu kalau main-main, mainannya bisa rusak.”

Aku mengambil kacang telurnya dan pamit.

Di jalan pulang, di atas motor, di tengah kemacetan Cawang, aku berhenti di lampu merah di bawah papan reklame yang sama seperti tiap pagi. Wajah perempuan itu menatap ke bawah, ke arah jalan, ke arah ratusan orang bermotor yang tidak pernah benar-benar melihatnya.

Kali ini aku melihat.

Dan entah kenapa, di wajah di papan reklame itu, aku malah teringat sudut bibirnya yang berantakan dan bulu matanya yang basah.

Klakson di belakangku berbunyi panjang. Lampu sudah hijau.


Rusun kami ada di lantai lima. Tidak ada lift. Ironis untuk teknisi lift, tapi aku sudah berhenti merasa ironis sejak tahun kedua.

Begitu motorku masuk ke parkiran, aku tahu ada yang aneh. Ibu-ibu yang biasanya duduk di bangku semen depan blok sambil mengupas bawang semuanya berdiri. Anak-anak yang biasanya main sepeda berhenti. Bapak-bapak di pos ronda menurunkan kartu domino mereka.

Lalu mereka bertepuk tangan.

Aku mematikan mesin motor dan duduk di atasnya, tidak tahu harus berbuat apa.

“JUNAAA!” Bu Sum berteriak dari balik gerobak bubur kacang ijonya di depan gerbang rusun. Ia melambaikan sendok sayur besar seperti bendera. “Sini! Sini! Foto dulu!”

“Bu Sum, saya capek.”

“Capek dicium CEO? Sini! Ibu mau pajang di gerobak. Tulisannya: Langganan Bu Sum Dicium CEO. Biar laris!”

“Bu...”

“Kamu dari kecil makan bubur Ibu. Waktu kamu belum bisa bayar, Ibu kasih ngutang. Sekarang kamu dicium CEO, masa Ibu nggak dapat foto?”

Ini fitnah yang tidak bisa kubantah, karena benar. Aku turun dari motor, berdiri di sebelah gerobak, dan membiarkan Bu Sum memotret kami berdua dengan HP-nya yang layarnya retak di pojok. Ia mengatur posisiku tiga kali. Ia menyuruhku senyum. Ia menyuruhku pegang mangkuk. Ia menyuruhku pegang mangkuk sambil senyum.

“Nah,” katanya puas. “Ganteng. Pantes dicium.”

“Bu Sum.”

“Makan dulu. Gratis hari ini. Tapi besok bayar.”

Aku makan semangkuk bubur kacang ijo di bangku plastik di sebelah gerobak, sementara tetangga satu per satu lewat dan menepuk bahuku, seolah aku baru pulang dari medan perang. Pak RT lewat dan bilang ia sudah tahu dari dulu aku orang besar. Mbak Yuni dari lantai tiga lewat dan bilang aku harus hati-hati, orang kaya itu suka main hati. Anak Mbak Yuni, umur tujuh tahun, lewat dan bertanya apakah sekarang aku boleh naik lift gratis selamanya.

“Dari dulu Om udah gratis naik lift,” kataku. “Om yang benerin.”

Ia menatapku dengan rasa hormat yang baru.

Bubur Bu Sum masih sama rasanya seperti waktu aku kecil: manis, kental, dengan santan yang gurih dan sedikit jahe yang menghangatkan tenggorokan. Aku sudah makan bubur ini ribuan kali. Waktu Bapak dan Ibu masih ada. Waktu mereka sudah tidak ada. Waktu aku pertama kali menggandeng Tari pulang dari sekolah SD dan kami tidak punya uang untuk apa-apa selain dua mangkuk bubur yang dibayar dengan janji.

Bubur ini rasanya rumah.

Dan aku tidak tahu kenapa, sambil menyendok bubur itu, aku teringat perempuan di lantai 40 yang tangannya masih gemetar dan belum sarapan.


Tari menyambutku di pintu dengan teriakan.

Bukan teriakan selamat datang. Teriakan histeris yang biasanya hanya keluar kalau ia melihat kecoak terbang atau mendapat nilai A di mata kuliah statistik.

“MAS JUNA!”

“Assalamualaikum.”

“MAS JUNA DICIUM VALERIE HADINATA!”

“Waalaikumsalam, Tari.”

“Waalaikumsalam! MAS!” Ia menarik lenganku masuk dan menutup pintu, lalu berdiri di depanku dengan HP di tangan, layar menunjukkan video yang sudah kulihat terlalu sering hari ini. “Mas tahu nggak dia siapa? Mas TAHU NGGAK?”

“CEO.”

“Bukan cuma CEO! Dia itu idola, Mas! Dia satu-satunya CEO perempuan umur di bawah tiga puluh yang masuk daftar orang paling berpengaruh tahun ini! Dia ngomong di forum ekonomi pakai bahasa Inggris, Prancis, sama Mandarin! Dia nolak tiga konglomerat! Aku follow Instagram-nya dari SMA! Aku punya poster kutipannya di kamar!”

“Poster yang mana?”

Tari menunjuk ke dalam kamarnya. Aku melongok. Di atas meja belajarnya, di antara poster grup K-pop dan jadwal kuliah, ada selembar kertas tercetak berisi kalimat bahasa Inggris dengan tanda tangan miring di bawahnya. Aku selalu mengira itu kutipan motivasi dari internet.

“Itu dia?”

“ITU DIA, MAS!”

Aku duduk di kursi plastik di ruang tengah kami yang sempit, di bawah kipas angin yang berbunyi seperti batuk. Tari berdiri di depanku dengan tangan di pinggang, seperti jaksa.

“Jelasin,” katanya.

“Nggak ada yang bisa dijelasin, Tar. Mas lagi benerin lift, dia datang, terus...”

“Terus nyium Mas.”

“Iya.”

“Terus bilang Mas pacarnya.”

“Iya.”

“Mas pacaran sama Valerie Hadinata dan nggak bilang sama aku?”

“Mas nggak pacaran sama dia. Mas baru ketemu dia hari ini.”

Tari menyipitkan mata. “Mas yakin?”

“Yakin.”

“Seratus persen?”

“Seratus persen, Tar. Mas ingat semua orang yang pernah Mas tolong. Mas ingat semua klien. Mas pasti ingat kalau pernah ketemu orang kayak dia.”

Tari diam sebentar. Lalu duduk di lantai di depanku, bersila, dan menatapku dengan wajah serius.

“Oke,” katanya. “Kalau gitu kita harus analisis.”


Analisis itu berlangsung di atas formulir work order bekas yang kuambil dari tas kerjaku. Tari bersikeras kami harus menulisnya, karena di mata kuliah metodologi penelitian dosennya bilang semua hipotesis harus tertulis.

Di bagian belakang formulir, dengan pulpen biru yang tintanya hampir habis, aku menulis judul:

KENAPA DIA MENCIUMKU

Tari membaca dari balik bahuku. “Mas, judulnya kayak judul lagu galau.”

“Kamu yang suruh nulis.”

“Terusin.”

Aku menulis:

Teori #1: Salah orang.

“Mungkin dia kira Mas orang lain,” kataku. “Mantannya, atau orang yang mirip. Terus dia malu mau ngaku, jadi dia terusin aja.”

Tari menatap teori itu lama, lalu menggeleng dengan wajah kasihan.

“Mas,” katanya. “Orang secantik itu nggak salah orang. Orang secantik itu nyewa orang biar nggak pernah salah.”

“Siapa tahu matanya minus.”

“Dia pakai lensa kontak, Mas. Aku tahu. Ada di wawancara majalah.”

“Kamu kok tahu semua?”

“Aku fans, Mas. Fans itu riset.”

Aku mengetuk pulpen ke formulir. “Terus menurut kamu kenapa?”

Tari menarik napas panjang, seperti mau menyampaikan teori relativitas.

“Menurutku,” katanya, “dia jatuh cinta sama Mas.”

“Tari.”

“Serius!”

“Dia baru lihat Mas hari ini.”

“Cinta pada pandangan pertama, Mas. Ada di jurnal psikologi.”

“Jurnal apa?”

“Pokoknya ada.” Tari mengibaskan tangan. “Lagian Mas nggak lihat matanya di video? Aku pause, aku zoom. Dia nangis, Mas. Sebelum nyium Mas, matanya udah merah. Orang yang cuma iseng nggak nangis dulu.”

Aku diam.

Aku juga melihatnya. Dari dekat, di lift, waktu ia memejamkan mata. Bulu matanya basah. Ia menangis sebelum masuk lobby.

Kenapa orang menangis sebelum mencium orang asing?

“Mas,” kata Tari, lebih pelan sekarang. “Dia ngomong apa ke Mas? Di video nggak kedengaran.”

“‘Akhirnya.’”

“Akhirnya?”

“Iya. Cuma itu. ‘Akhirnya.’”

Tari mengerutkan kening. “Akhirnya apa? Akhirnya ketemu? Akhirnya dapat?”

“Mas nggak tahu.”

Kami berdua menatap formulir itu dalam diam. Kipas angin batuk-batuk di atas kepala. Dari luar jendela, aku mendengar Bu Sum menutup gerobaknya dan anak-anak dipanggil pulang untuk mandi.

Di bawah Teori #1, aku menulis satu baris kecil:

Dia bilang: “Akhirnya.”

Lalu aku melipat formulir itu dan memasukkannya ke saku seragamku.


Aku tidak bisa tidur.

Jam satu pagi, aku masih berbaring di kasur busa tipis di kamarku, menatap langit-langit yang ada noda bocor berbentuk seperti peta Kalimantan. Dari kamar sebelah, aku mendengar Tari mendengkur pelan.

Aku menyentuh bibirku sendiri.

Itu bodoh. Aku tahu itu bodoh. Aku laki-laki dua puluh sembilan tahun yang sudah sembilan tahun bekerja, yang bisa memperbaiki lift dua puluh lantai dalam gelap, yang membesarkan adiknya sendirian sejak umur dua puluh. Aku tidak seharusnya berbaring jam satu pagi sambil menyentuh bibir seperti anak SMA.

Tapi aku masih bisa merasakannya. Hangat. Lembut. Rasa permen yang belum pernah kucoba. Dan jemari yang gemetar di kerahku.

Lift kamu aman. Yang nggak aman itu aku.

Aku membalikkan badan, menekan wajah ke bantal, dan berharap bantal itu bisa menelan seluruh hari ini.


Jam lima lewat empat puluh pagi, HP-ku berbunyi.

Aku terbangun dengan kepala berat, meraba-raba HP di lantai di samping kasur. Nomor tidak dikenal. Pesan WhatsApp. Foto profilnya kosong.

Lift lantai 40 rusak. Tolong naik. Sekarang.

Aku duduk tegak. Mataku langsung terbuka penuh.

Lalu pesan kedua masuk.

Dan simpan nomorku. Jangan pakai nama “Bu CEO”. Pakai “Sayang”.

Lalu pesan ketiga.

Aku sudah sarapan, btw. Kamu yang suruh.

Lalu pesan keempat, satu detik kemudian.

Kamu tidur pakai baju apa? Jangan jawab. Aku mau bayangin sendiri.

Aku menatap layar HP itu lama sekali. Jempolku melayang di atas keyboard. Aku mengetik “Mbak, ini nomor saya dapat dari mana”, menghapusnya. Mengetik “Liftnya rusak bagaimana, Mbak”, menghapusnya. Mengetik “Saya tidur pakai kaus”, lalu buru-buru menghapusnya dengan panik seolah ada yang bisa melihat.

Lalu aku mendengar suara dari luar kamarku. Suara plastik berkeresek. Suara orang yang berusaha diam-diam dan gagal.

Aku membuka pintu.

Tari berdiri di ruang tengah dengan rambut acak-acakan dan piyama bergambar beruang, memeluk sebuah kotak besar berwarna merah muda dengan pita emas. Di sampingnya, di lantai, ada dua kotak lagi dengan logo merek skincare yang namanya pernah ia sebut-sebut dengan nada orang menyebut surga.

Ia membeku waktu melihatku.

Kami saling menatap.

“Tari,” kataku.

“Mas.”

“Kotak apa itu?”

“Paket.”

“Dari siapa?”

Tari memeluk kotak itu lebih erat. “Mas, dengar dulu.”

“Kamu kasih nomor Mas ke dia?”

“Mas, ini bukan sogokan.” Tari mengangkat dagu dengan martabat seorang diplomat. “Ini investasi.”

“Investasi apa?”

“Investasi masa depan Mas!” Ia menunjuk kotak di pelukannya. “Tadi malam jam sebelas ada DM ke Instagram aku. Dari asistennya. Sopan banget, Mas. Bilang Bu Valerie ingin menghubungi kakak saya dengan cara yang baik dan tidak mengganggu. Terus nanya aku suka skincare apa.”

“Terus kamu jawab.”

“Aku jawab jujur. Aku dididik untuk jujur.”

“Terus kamu kasih nomor Mas.”

Tari diam. Lalu, sangat pelan: “Dia nanya baik-baik, Mas.”

Aku memijat pangkal hidungku.

“Satu set lengkap, Mas,” bisik Tari, matanya berkaca-kaca menatap kotak di pelukannya. “Serum, toner, krim malam. Aku nggak akan sanggup beli ini sampai lulus S2.”

HP di tanganku bergetar lagi.

Kenapa belum dibalas? Aku lihat centang biru. Kamu lagi mikirin aku, ya?

Aku menatap layar. Lalu Tari. Lalu layar lagi.

Di dalam saku seragam yang tergantung di balik pintu kamarku, formulir dengan judul KENAPA DIA MENCIUMKU masih terlipat, dengan satu teori yang sudah dibantah adikku sendiri.

Aku mengetik.

Saya berangkat, Mbak. Liftnya jangan dipakai dulu.

Balasannya masuk kurang dari dua detik.

Hati-hati di jalan, Sayang. Aku tunggu di lantai 40.

Dan Jun.

Lain kali dibalas lebih cepat. Aku nggak suka nunggu lama.

Kecuali nunggu kamu.

Aku menaruh HP di meja dan menatap Tari, yang masih memeluk kotak skincare-nya seperti memeluk bayi.

“Mas,” katanya pelan. “Mukanya merah.”

“Kipasnya rusak.”

“Kipasnya nyala, Mas.”

Aku masuk kamar mandi dan menyalakan keran sekencang mungkin supaya tidak bisa mendengar Tari tertawa.