Chapter Twenty Four
Biopsi
POV: Valerie
Kontrol tahunanku dijadwalkan enam bulan lalu.
Selasa, jam sembilan pagi, di rumah sakit yang sama. Rumah sakit yang namanya membuat garpuku jatuh di meja makan Papa. Rumah sakit yang punya paviliun bernama keluarga kami, dibangun lima tahun lalu dengan uang yang Papa tidak bisa berikan kepada seseorang.
Aku tidak pernah naik lift di rumah sakit itu.
Lima tahun aku kontrol di sana. Setiap bulan, lalu setiap tiga bulan, lalu setiap enam bulan, lalu setahun sekali. Dan setiap kali, aku naik tangga ke lantai empat, ke poli hematologi. Pak Darto tidak pernah bertanya kenapa. Mama tidak pernah bertanya. Dokter pernah sekali bertanya, waktu aku sampai di ruangannya dengan napas terengah-engah, dan aku bilang aku sedang olahraga.
Selasa itu, aku naik tangga lagi. Empat lantai. Heels di tangan, kaki telanjang di anak tangga marmer yang dingin.
Di lantai tiga, aku berhenti dan bersandar ke dinding. Napasku lebih berat dari biasanya. Aku mengira itu karena aku kurang tidur seminggu ini. Karena aku menunggu jam dua pagi setiap malam. Karena aku makan tidak teratur sejak basement.
Aku tidak mengira itu apa-apa.
Dokterku membaca hasil darahku dan tidak melepas kacamatanya.
Ia meletakkan map di meja. Menautkan jari-jarinya. Lalu berkata:
“Nah.”
Aku membeku.
Lima tahun duduk di kursi yang sama. Aku tahu kebiasaannya. Kalau beritanya biasa, ia membaca sambil tetap berkacamata. Kalau beritanya bagus, ia melepas kacamata dan menatapku. Kalau beritanya buruk, ia menaruh map di meja dulu, menautkan jari, dan berkata nah sebelum kalimat apa pun.
“Trombositmu turun,” katanya. “Cukup jauh dari kontrol terakhir. Ada beberapa sel di apusan darah tepi yang saya mau lihat lebih jelas.”
“Artinya apa, Dok?”
“Artinya belum apa-apa.” Ia menatapku dengan mata tua yang sudah melihatku botak dan kurus dan tidak bisa mengangkat sendok. “Bisa infeksi virus. Bisa kelelahan. Bisa efek obat. Banyak kemungkinan. Tapi saya nggak mau nebak. Saya mau pastikan.”
“Pastikan gimana?”
Ia diam sebentar.
“Biopsi sumsum tulang,” katanya. “Besok pagi. Kamu menginap malam ini supaya kami bisa pantau.”
Biopsi sumsum tulang.
Aku pernah menjalaninya empat kali. Lima tahun lalu. Jarum besar, ditusukkan ke tulang panggul belakang, sampai ke dalam tulang, untuk menyedot sumsum. Dibius lokal, tapi bius lokal tidak bisa membius tekanan. Tidak bisa membius bunyi. Bunyi jarum menembus tulang, seperti sedotan menembus tutup plastik gelas es.
Aku mengangguk. Seperti CEO menerima laporan kerugian. Angguk sekali. Ucapkan terima kasih. Tanya langkah selanjutnya.
“Langkah selanjutnya, Dok?”
Dokter itu menatapku lama. Lalu, untuk pertama kalinya dalam lima tahun, ia melepas kacamatanya di tengah berita buruk.
“Langkah selanjutnya, Valerie,” katanya pelan, “kamu telepon orang yang kamu sayang.”
Aku menelepon Mama.
Mama datang dalam empat puluh menit, masih memakai sandal rumah, rambut belum disisir, Papa di belakangnya dengan wajah abu-abu. Mama memelukku di lorong poli hematologi, di depan perawat-perawat yang sudah mengenal kami lima tahun, dan tidak bilang apa-apa. Papa berdiri di belakang Mama, tangannya di bahuku, gemetar.
Aku menelepon Kiki.
Kiki datang dalam tiga puluh menit, berlari dari parkiran dengan heels, menabrak troli obat di lorong, minta maaf ke perawat, lalu sampai di depanku dengan napas terengah-engah dan wajah putih.
“Val.”
“Belum apa-apa, Ki. Kata dokter belum apa-apa.”
“Aku tahu.” Ia memelukku. “Aku tahu. Aku tahu.”
Aku tidak menelepon Juna.
Kamar perawatanku di paviliun. Paviliun Hadinata. Papa yang membangunnya. Kamar paling ujung, dengan jendela besar yang menghadap taman rumah sakit dan pohon flamboyan yang sedang berbunga merah.
Kamar yang terlalu luas untuk satu orang. Terlalu bersih. Terlalu putih.
Mama duduk di sofa di samping ranjang, mengupas jeruk yang tidak akan dimakan siapa pun. Papa berdiri di depan jendela, menatap taman, punggungnya kaku. Kiki duduk di kursi dekat pintu, memegang HP dengan dua tangan.
“Val,” kata Kiki pelan. “Juna.”
“Jangan.”
“Val, dia harus tahu.”
“Jangan, Ki.”
Mama berhenti mengupas jeruk. Papa berbalik dari jendela.
“Nak,” kata Mama. “Kenapa?”
Aku menatap langit-langit kamar. Putih. Lampu neon panjang. Seperti lampu-lampu lain di rumah sakit ini lima tahun lalu, di malam-malam waktu aku masih takut mati.
Bukan sekarang. Jangan ingat sekarang.
“Karena aku nggak mau dia balik karena kasihan,” kataku.
Hening.
“Dia pergi karena dia pikir aku cuma bayar utang,” lanjutku. Suaraku tenang. Terlalu tenang. “Dia pikir aku sayang dia karena dia nyelamatin aku. Kalau sekarang aku sakit lagi, terus dia tahu, terus dia balik...” Aku menarik napas. “Dia balik karena apa, Ma? Karena sayang? Atau karena nggak tega? Karena refleks? Karena dia selalu refleks nolong orang?”
“Val...”
“Aku nggak mau tahu jawabannya.” Air mataku jatuh, diam-diam, ke bantal rumah sakit yang wangi pemutih. “Aku nggak mau dia balik terus aku nggak bisa bedain. Sama kayak dia nggak bisa bedain aku sayang dia atau aku bayar dia.”
Mama meletakkan jeruk dan pisau di meja. Lalu ia naik ke ranjang. Ke ranjang rumah sakit yang sempit. Ia berbaring di sebelahku, memelukku dari samping, seperti lima tahun lalu, seperti waktu aku masih kecil dan takut petir.
“Kamu sama dia sama aja,” bisik Mama di rambutku. “Sama-sama keras kepala. Sama-sama nggak mau orang lain khawatir.”
Aku tertawa, basah, di bahu Mama.
“Tari juga bilang gitu,” kataku.
Malam itu, aku mematikan HP-ku.
Bukan karena baterainya habis. Aku mematikannya dengan sengaja, jam satu lewat lima puluh, sebelum jam dua.
Karena aku tahu, kalau HP-ku menyala, jam dua nanti aku akan mengetik udah makan? Dan kalau aku mengetiknya, aku akan menambahkan sesuatu. Aku di rumah sakit. Atau Aku takut. Atau Tolong dateng.
Dan ia akan datang. Aku tahu ia akan datang. Ia selalu datang. Ke lantai 40 tanpa dipanggil. Ke mobilku waktu aku ngambek. Ke taman di pinggir kanal dengan bubur kacang ijo di tangan.
Ia akan datang karena aku takut. Dan aku tidak akan pernah tahu apakah ia datang karena aku, atau karena ketakutanku.
Jadi aku mematikan HP-ku dan menaruhnya di laci nakas rumah sakit.
Lalu aku membuka tasku dan mengeluarkan HP yang lain.
HP lama. Casing ungu yang sudah pudar. Baterai kembung. Layar retak di sudut. Aku membawanya ke mana-mana sejak minggu lalu, sejak basement, di dalam tas, seperti orang membawa jimat.
HP itu tidak menyala. Baterainya sudah lama mati, dan aku tidak pernah mengisinya, karena aku takut kalau aku mengisinya, baterai yang kembung itu akan meledak dan aku akan kehilangan isinya selamanya.
Isinya sudah kusalin. Tiga kali. Ke laptop, ke awan, ke flashdisk yang kusimpan di brankas Papa. Tapi HP ini yang asli. HP ini yang ada di tanganku malam itu.
Aku tidak menyalakannya. Aku hanya memegangnya. Di dada. Di atas bekas luka di bawah tulang selangka.
Dan dalam kepalaku, tanpa perlu memutar apa pun, aku mendengar suara itu. Nada fals itu. Cengkok dangdut yang dipaksakan.
Lift-nya macet, jangan cemberut...
Aku memejamkan mata.
Jam dua pagi. Kamar gelap kecuali lampu kecil di atas pintu dan cahaya monitor yang berkedip hijau.
Mama tertidur di sofa, tangannya masih memegang jeruk yang tidak dimakan. Papa pulang jam sebelas karena Mama memaksanya. Kiki tidur di kursi lipat di dekat pintu, kepalanya miring di sandaran, mulutnya sedikit terbuka.
Aku tidak tidur.
Aku menatap langit-langit, memegang HP lama di dada, dan berpikir tentang laki-laki di rusun lima lantai, lima belas kilometer dari sini. Laki-laki yang malam ini akan menunggu getaran HP-nya jam dua. Laki-laki yang semalam akhirnya membalas Udah. Kamu?
Kamu?
Satu kata yang membuatku menangis sampai subuh semalam. Karena itu pertanyaan. Karena untuk pertama kalinya sejak basement, ia bertanya balik. Ia ingin tahu apakah aku sudah makan.
Aku tidak membalasnya. Aku tidak bisa. Aku takut kalau aku membalas, aku akan mengetik terlalu banyak.
Dan sekarang ia akan menunggu. Malam ini. Jam dua. Dan tidak ada yang datang.
Maaf, Jun.
Aku menatap tanganku. Kulitku pucat di bawah cahaya monitor. Di pergelangan tangan, ada gelang plastik putih rumah sakit dengan namaku dan nomor rekam medis dan, tercetak kecil di bawahnya, golongan darahku.
O Rh+
Aku menyentuh huruf O itu dengan ujung jari.
Dulu A. Sekarang O. Sejak 17 Maret, lima tahun lalu. Darahnya mengalir di tubuhku. Setiap sel darah merah, setiap sel darah putih, setiap trombosit yang sekarang turun dan tidak ada yang tahu kenapa, semuanya berasal dari sumsum tulangnya. Semuanya miliknya.
Kalau besok biopsinya menunjukkan sesuatu, itu bukan hanya tubuhku yang gagal. Itu sesuatu yang ia berikan yang gagal.
Dan ia akan menyalahkan dirinya sendiri. Aku tahu. Ia akan berpikir selnya tidak cukup bagus. Ia akan berpikir seharusnya ia memberi lebih. Ia akan datang ke sini dan berdiri di sebelah ranjangku dan menatapku dengan mata yang penuh rasa bersalah, dan ia tidak akan pernah pergi lagi, karena ia tidak bisa pergi dari orang yang ia pikir ia kecewakan.
Aku tidak mau itu. Aku tidak mau ia tinggal karena merasa bersalah. Sama seperti ia tidak mau aku tinggal karena merasa berutang.
Aku memejamkan mata. Air mata keluar dari sudutnya, mengalir ke telinga, dingin.
Golongan darahku sekarang kamu, pikirku. Tapi hatimu nggak harus.
Hatimu boleh pergi, Jun. Hatimu boleh ke Cikarang. Hatimu boleh nggak percaya. Darahmu di sini, di aku, dan itu cukup. Itu harus cukup.
Aku mengulang kalimat itu di kepalaku sampai kedengarannya seperti doa.
Kedengarannya tidak seperti doa. Kedengarannya seperti kebohongan.
Biopsinya jam delapan pagi.
Aku berbaring miring di ranjang, membelakangi perawat, lututku ditekuk ke dada seperti janin. Gaun rumah sakit dibuka di bagian belakang. Udara AC dingin di kulit punggungku.
Mama duduk di kursi di depan wajahku. Ia memegang kedua tanganku. Tangannya dingin. Tanganku lebih dingin.
“Bius lokalnya dulu, ya, Bu Valerie,” kata dokter di belakangku. “Agak perih.”
Jarum kecil. Perih. Lalu hangat. Lalu kebas.
Aku tidak melihat. Aku tidak pernah melihat. Tapi aku mendengar. Aku mendengar dokter membuka bungkusan steril. Bunyi plastik. Bunyi logam di atas nampan.
Jarum biopsi.
Napasku pendek. Pandanganku menyempit. Dinding kamar mendekat. Lampu neon di langit-langit jadi terlalu putih, terlalu terang, seperti lampu di tempat lain, di waktu lain...
“Val,” kata Mama. “Lihat Mama.”
Aku melihat Mama. Mama tersenyum. Matanya merah.
“Tarik napas, Bu,” kata dokter. “Ini tekanan, ya. Bukan sakit. Tekanan.”
Aku merasakan tekanan.
Tekanan di tulang panggul belakang. Dalam. Berat. Seperti seseorang menekan ibu jarinya sekuat tenaga ke tulangku. Lalu bunyi. Bunyi yang tidak bisa dibius. Bunyi kecil, tumpul, dari dalam tubuhku sendiri, seperti sedotan menembus tutup plastik.
Aku menggigit bibir.
Mama meremas tanganku. “Hitung, Nak. Hitung sama Mama.”
Aku tidak menghitung bersama Mama.
Aku menghitung dengan suara lain. Suara yang tidak ada di ruangan ini. Suara rendah, tenang, sedikit serak, yang menghitung di telingaku dari tempat yang sangat jauh.
Satu. Dua. Tiga.
Tangan yang menggenggam tanganku di PMI. Ibu jari yang mengusap punggung tanganku, bolak-balik, pelan. Lihat aku. Jangan lihat jarumnya.
Empat. Lima. Enam.
Tekanan bertambah. Sedotan. Aku merasakan sesuatu ditarik dari dalam tulangku. Rasa ngilu yang tidak bisa dijelaskan, yang membuat seluruh kakiku kesemutan.
Tujuh. Delapan.
Dalam kepalaku, nada fals itu. Cengkok yang dipaksakan.
Hitung sampai sepuluh, tarik napas panjang...
Sembilan.
Nanti kita turun, beli bubur kacang...
Sepuluh.
“Sudah, Bu,” kata dokter. “Sudah selesai. Ibu hebat.”
Aku melepaskan napas yang kutahan. Napasnya keluar gemetar, seperti tangis, tapi bukan tangis. Mama mencium punggung tanganku berkali-kali.
“Kamu hebat,” bisik Mama. “Kamu hebat, Nak. Kamu hitung sampai sepuluh.”
Aku tidak menjawab. Aku menatap dinding putih di belakang Mama dan merasakan bekas tusukan di punggungku, perih dan dalam, dan berpikir:
Aku nggak hitung sendiri, Ma.
Hasilnya tiga hari lagi.
Dokter bilang aku boleh pulang besok, tapi aku tidak mau pulang. Aku mau di sini. Dekat dengan dokterku, dekat dengan laboratorium, dekat dengan apa pun yang akan menentukan apakah lima tahun terakhir hidupku adalah bonus yang sudah habis atau awal dari sesuatu yang lebih panjang.
Sore hari, Mama pergi ke kantin. Papa belum datang. Aku berbaring di ranjang dengan bantal di bawah punggung, menatap pohon flamboyan di luar jendela.
Pintu kamar sedikit terbuka. Di koridor, aku mendengar suara Kiki. Pelan. Berbisik. Seperti orang yang sedang menelepon dan tidak mau didengar.
Aku menajamkan telinga.
“...iya. Paviliun Hadinata. Kamar paling ujung... Nggak, dia nggak tahu aku telepon... Iya, aku tahu dia bilang jangan... Hasilnya tiga hari lagi... Iya... Iya, Tar...”
Tar.
Aku duduk tegak. Jahitan di punggungku menarik, perih.
“Kiki!”
Bisikan di koridor berhenti. Hening. Lalu pintu terbuka pelan, dan Kiki muncul di ambang pintu dengan HP masih di telinga dan wajah orang yang tertangkap basah mencuri.
“Kamu telepon Tari?”
Kiki menurunkan HP-nya. Layarnya masih menyala. Panggilan masih berjalan. Aku bisa melihat nama di layar dari sini: Tari (adik J).
“Val...”
“Aku bilang jangan bilang Juna!”
“Aku nggak bilang Juna.” Kiki mengangkat dagunya. Wajahnya keras kepala, wajah COO yang sedang mempertahankan keputusan di depan dewan komisaris. “Aku janji nggak bilang Juna. Aku nepatin janji. Aku nggak bilang Juna.”
“Kiki...”
“Aku nggak pernah janji nggak bilang Tari.”
Aku menatapnya. Ia menatapku. Di HP-nya, dari speaker yang kecil, aku mendengar suara Tari, samar, menangis: “Kak Kiki? Kak? Itu suara Kakak? Kak Val?”
Kiki menatap HP-nya, lalu menatapku.
“Maaf, Val,” katanya. Matanya basah. “Kamu sayang dia dengan cara yang salah. Aku sayang kamu dengan cara yang benar.”
Ia mengangkat HP-nya ke telinga lagi.
“Iya, Tar. Kamar paling ujung. Iya. Hati-hati di jalan.”
Aku tidak bicara dengan Kiki sampai malam.
Aku berbaring miring, membelakangi pintu, menatap pohon flamboyan yang bunga-bunga merahnya mulai gelap ditelan senja. Punggungku perih. Hatiku lebih perih.
Tari akan bilang ke Juna. Aku tahu itu. Tari tidak bisa menyimpan rahasia, sama seperti Tari tidak bisa menolak skincare. Dalam satu jam, atau dua, atau besok pagi, Juna akan tahu.
Dan ia akan datang.
Karena ia selalu datang.
Dan aku tidak akan pernah tahu kenapa.
Aku menekan HP lama di dadaku, di atas bekas luka, dan memejamkan mata.
Lalu, karena tidak ada yang bisa melihatku, karena Mama di kantin dan Kiki di koridor dan Pak Darto di luar pintu dengan buku saku yang sekarang ada di tasku, aku membiarkan diriku melakukan satu hal yang sudah kularang selama seminggu.
Aku berharap.
Aku berharap ia datang. Bukan karena kasihan. Bukan karena refleks. Bukan karena darahnya ada di sini.
Aku berharap ia datang karena ia tidak bisa tidak datang.
Dan aku, yang sudah memutuskan tidak mau dia datang karena kasihan, yang sudah mematikan HP dan melarang semua orang bilang, menatap pintu kamar itu sepanjang malam, setiap kali ada langkah kaki di koridor, setiap kali ada bayangan lewat di celah bawah pintu.
Menunggu.
Aku jago menunggu.
Tapi malam itu, untuk pertama kalinya dalam lima tahun, aku tidak mau jago.
- 1 Ciuman di Lantai Dasar
- 2 Pagi Ini Dokter Bilang Aku Sembuh
- 3 Teori Nomor Satu: Salah Orang
- 4 Lift Lantai 40 Rusak Lagi
- 5 Dua Ratus Mangkuk Bubur
- 6 Bawa Aku ke Duniamu
- 7 Tombol Merah
- 8 Kalau Mbak Serius
- 9 Angkringan, Bukan Rooftop
- 10 Telepon Jam Dua Pagi
- 11 Yang Punya Darahnya
- 12 Makan Malam Keluarga Hadinata
- 13 Kunci Pintunya
- 14 Rezeki Nomplok
- 15 Ulang Tahun Kedua
- 16 Kartu Laminasi
- 17 Bekas Luka
- 18 Siapa yang Menang Tender
- 19 Kamu Pernah Menolakku
- 20 Kamu Bayar Utang
- 21 Aku Nggak Pura-Pura
- 22 Laki-Laki yang Nggak Mau Apa-Apa
- 23 Proyek Baru, Hati Lama
- 24 Biopsi reading
- 25 Lift yang Sama
- 26 Helm Proyek
- 27 HP Lama
- 28 Kalau Aku Nggak Keluar
- 29 Duluan
- 30 Meja Makan Hadinata (Lagi)
- 31 Malam di Lift, Lima Tahun Lalu
- 32 Sebentar Lagi Aman
- 33 Epilog — Golongan Darah Anak Kita