Chapter Nine
Satu Setengah Tahun
POV: Aris (orang pertama)
“Tanyain.”
“Enggak.”
“Ris.”
“Enggak.”
“Satu pertanyaan doang.”
“Satu pertanyaan yang bikin gue keliatan aneh.”
Bagas menaruh dua tangan di meja sirkulasi dan menunduk sampai wajahnya sejajar dengan wajahku, yang dia kira adalah teknik persuasi.
“Lo tuh temennya. Lo bisa nanya apa aja.”
“Gue bukan temennya. Gue orang yang jaga tempat dia baca.”
“Itu lebih intim.”
“Itu profesi.”
Sudah dua hari sejak pentas seni. Bagas belum tidur benar — matanya bengkak dan dia bicara lebih cepat dari biasanya, seperti orang yang sudah terlalu lama memikirkan hal yang sama sendirian.
“Ris.” Dia menurunkan suaranya. “Gue nggak mau kejadian kayak kemarin lagi. Gue mau tahu medannya dulu.”
“Medan?”
“Iya. Kalau dia udah punya pacar, ya udah, gue mundur. Selesai. Gue nggak mau jadi orang bego yang nembak cewek yang udah punya pacar terus jadi bahan tertawaan satu angkatan.”
“Dia nggak punya pacar.”
“Lo tahu dari mana?”
Dan aku membuka mulut untuk menjawab, dan menyadari — dengan cara yang sangat spesifik dan sangat tidak nyaman — bahwa aku memang tahu. Aku tahu karena aku sudah menyimpulkannya berbulan-bulan lalu dari data yang tidak pernah aku sadari sedang aku kumpulkan: siapa yang menjemputnya, jam berapa dia pulang, berapa lama dia memegang ponselnya di meja panjang tanpa membalik layarnya.
“Gue nggak tahu,” kataku.
“NAH.”
“Bagas—“
“Satu pertanyaan, Ris.” Dia berdiri tegak lagi. “Terus abis itu gue nggak minta apa-apa lagi seminggu. Janji.”
Kipas berdecit.
Aku menyerah. Aku selalu menyerah; satu-satunya variabel adalah berapa lama.
“Selasa,” kataku.
Selasa.
Amara datang membawa dua buku seperti biasa, meletakkan tasnya di meja panjang, dan sebelum dia sempat duduk aku sudah menyelesaikan tiga per empat percakapan ini di kepalaku dan sudah tahu bahwa aku akan membencinya.
Bagas duduk di meja tengah, membuka bukunya, dan sama sekali tidak membaca. Aku bisa merasakan seluruh tubuhnya diarahkan ke meja sirkulasi seperti antena parabola.
Aku menunggu sepuluh menit supaya tidak terlihat seperti tugas.
Lalu:
“Amara.”
“Hm?”
“Boleh nanya sesuatu yang aneh?”
Dia mengangkat wajah dari bukunya. Dan — aku tidak bisa menjelaskan ini dengan baik — sesuatu di posturnya berubah. Bahunya turun setengah senti. Dia menutup bukunya dengan jari sebagai pembatas, yang selalu dia lakukan kalau dia berniat mendengarkan sungguh-sungguh.
“Boleh,” katanya.
“Lo udah punya pacar?”
Kipas berdecit.
Amara memandangku selama waktu yang, sekarang kalau aku pikirkan, terlalu lama untuk pertanyaan sesederhana itu.
“Belum,” katanya.
“Oke.” Aku menunduk ke kartu katalog. “Makasih.”
“Itu aja?”
“Itu aja.”
“Kamu nggak nanya kenapa?”
Aku mengangkat wajah.
Dia masih menatapku. Jarinya masih di dalam buku.
“Kenapa?” kataku.
Dan Amara berkata:
“Karena aku lagi nunggu satu orang.”
Ruangan tidak berubah.
Itu bagian yang aneh, dan itu bagian yang selalu sama. Kipas tetap berputar. Bagas tetap duduk membelakangi kami dengan buku terbuka. Tiga anak kelas X tetap berbisik di rak fiksi. Debu tetap melayang di garis cahaya.
“Oh,” kataku.
“Satu setengah tahun.”
Ada bunyi di kepalaku. Bukan bunyi sungguhan. Semacam dengung, seperti pengeras suara yang dinyalakan sebelum ada yang bicara.
Aku menstempel kartu.
“Lama.”
“Iya.”
“Dia tahu?”
Amara meletakkan bukunya di meja. Menutupnya sepenuhnya kali ini.
“Enggak,” katanya.
“Kenapa nggak dibilangin?”
“Karena aku nggak mau jadi yang bilang.”
“Kenapa?”
Dan dia menjawab — pelan, jelas, dengan mata yang tidak lepas dari mataku sedetik pun:
“Karena kalau aku yang bilang, artinya dia nggak pernah lihat. Artinya selama satu setengah tahun aku ngasih semua tanda dan dia nggak lihat satu pun. Dan aku nggak mau tahu itu.”
Meja sirkulasi punya permukaan formika yang sudah terkelupas di sudut kiri. Aku bisa melihat lapisan kayu di bawahnya. Aku menatap itu dengan sangat, sangat serius.
“Orangnya siapa?”
“Kamu nggak kenal.”
“Anak sini?”
Jeda.
“Iya.”
“Kelas berapa?”
“Ris.”
Aku mengangkat wajah.
Dan Amara — yang punya wajah untuk koridor dan wajah untuk ruangan kosong — sedang memakai wajah yang ketiga, yang belum pernah aku lihat, dan yang aku pahami maknanya kira-kira delapan bulan terlambat.
“Dia orang yang nggak inget,” katanya.
Kipas berdecit.
Dan aku — aku ingin bagian ini dicatat dengan tepat, tanpa dihaluskan, karena kalau ada satu detik dalam seluruh cerita ini di mana aku benar-benar memilih, ini detiknya —
Aku mengerti.
Aku mengerti dalam waktu kurang dari sepersekian detik. Kalimat itu tidak punya makna lain. Tidak ada jalan lain untuk membacanya. Ada satu orang di sekolah ini yang minggu lalu duduk di kursi ini dan bilang gue nggak inget, dan orang itu memakai seragam yang sekarang aku pakai.
Aku mengerti.
Dan lalu, di dalam kepalaku, sesuatu bekerja. Cepat. Efisien. Seperti mesin yang sudah dilatih tujuh belas tahun untuk melakukan persis satu hal.
Bisa jadi bukan gue.
Sekolah ini seribu dua ratus orang. Banyak orang yang lupa banyak hal.
Dia bilang “kamu nggak kenal”.
Dia bilang itu barusan. Dia bilang gue nggak kenal orangnya.
Berarti bukan gue.
Berarti bukan gue.
Aku menstempel kartu.
“Oh,” kataku. “Berarti dia bego.”
Amara tidak bergerak.
“Apa?”
“Kalau ada yang ngasih tanda satu setengah tahun terus lo nggak lihat,” kataku, “berarti lo bego.”
Amara menatapku.
Dan wajahnya melakukan sesuatu yang, kalau aku boleh memilih satu hal untuk tidak pernah aku lihat lagi seumur hidup, mungkin ini.
Dia tersenyum.
Bentuknya benar semua. Sudutnya benar. Giginya benar.
Dan matanya tidak ikut, sama sekali, seperti ada dua orang berbeda di wajah yang sama.
“Iya,” katanya. “Dia bego.”
Dia membuka bukunya lagi.
Dia tidak membaca. Aku tahu dia tidak membaca karena dia tidak membalik halaman selama sisa istirahat, dan aku tahu dia tidak membalik halaman karena aku memperhatikan, dan aku memperhatikan karena aku selalu memperhatikan, dan itu adalah lelucon paling kejam dalam hidupku.
Bel berbunyi.
Amara berdiri, menyandang tas, dan berjalan keluar tanpa berhenti di pintu.
Untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya, dia tidak berhenti di pintu.
Bagas menghampiri meja sirkulasi dalam tiga langkah besar.
“GIMANA?”
“Belum punya.”
“YES—“
“Tapi ada orang.”
Bagas berhenti di tengah kepalan tinju.
“Ada orang gimana?”
“Ada orang yang dia suka.” Aku menyusun kartu. “Udah satu setengah tahun. Orangnya nggak tahu.”
Aku mengucapkannya dengan suara yang rata. Aku ingat betapa ratanya suaraku. Aku ingat merasa sedikit bangga pada betapa ratanya suaraku, dan aku ingat berpikir bahwa itu artinya aku baik-baik saja.
Bagas duduk di kursi seberang meja. Perlahan.
“Anjir.”
“Iya.”
“Satu setengah tahun.”
“Iya.”
“Siapa?”
“Dia nggak bilang. Gue tanya, dia bilang gue nggak kenal.”
“Lo nggak kenal?” Bagas mengerutkan kening. “Lo kenal semua orang di sekolah ini.”
“Gue kenal empat puluh orang yang minjem buku.”
“Ya tapi—“ Dia menggosok tengkuknya. “Berarti anak luar? Alumni? Anak kuliahan?”
“Mungkin.”
“ANJIR.” Dia menghantam meja pelan. “Gue kalah sama anak kuliahan.”
“Lo belum kalah.”
“Ris, orang nunggu satu setengah tahun tuh bukan main-main.”
“Orangnya nggak tahu,” kataku. “Berarti nggak ada apa-apa. Berarti itu cuma di kepala dia.”
Dan aku mendengar diriku sendiri mengucapkan itu.
Berarti itu cuma di kepala dia.
Kata-kata Bagas sendiri, dari kursi plastik di sebelah stan perpustakaan, dua hari lalu, dibalik dan dikembalikan padanya sebagai penghiburan.
Bagas mengangguk. Perlahan. Lalu lebih cepat.
“Bener,” katanya. “Bener juga. Kalau orangnya nggak tahu, ya berarti belum ada apa-apa.”
“Iya.”
“Gue masih punya kesempatan.”
“Iya.”
“Ris.” Dia berdiri, menepuk bahuku. “Lo tuh kalau ngomong bikin gue tenang. Serius. Gue nggak tahu gimana caranya lo bisa mikir sejernih itu pas gue lagi kacau.”
Aku menstempel kartu yang sudah aku stempel.
Sepuluh menit setelah Bagas pergi, Vela masuk.
Dia tidak membawa buku. Dia tidak pura-pura membawa buku. Dia berjalan lurus ke meja sirkulasi dan berdiri di depanku dan tidak berkata apa-apa selama kira-kira lima detik.
“Perpustakaan tutup lima menit lagi.”
“Aku tahu.”
“Ada yang bisa dibantu?”
“Aku dari rak 300,” katanya.
Aku mengangkat wajah.
Rak 300 ada di belakang meja panjang. Kalau seseorang berdiri di lorong rak 300 dan tidak bergerak, orang di meja panjang tidak akan melihatnya, dan orang di meja sirkulasi juga tidak.
Tapi orang itu bisa mendengar semuanya.
“Sejak kapan?”
“Sejak dia duduk.”
Aku menutup buku katalog.
“Vela.”
“Ya.”
“Lo mau ngomong apa.”
Dan Vela — untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya — mengucapkan lebih dari satu kalimat berturut-turut tanpa diminta.
“Aku sudah lihat banyak orang bohong,” katanya. “Anak-anak di sini bohong sepanjang waktu. Soal nilai, soal rokok, soal siapa yang naksir siapa. Itu gampang dibaca. Orang bohong itu matanya bergerak, suaranya naik, tangannya nggak tahu mau ditaruh di mana.”
Dia meletakkan dua jari di permukaan meja sirkulasi.
“Kamu tadi nggak begitu.”
“Gue nggak bohong.”
“Aku tahu.” Dia menatapku. “Itu yang bikin aku mau muntah.”
Kipas berdecit.
“Kamu ngerti,” kata Vela. “Aku lihat kamu ngerti. Ada satu detik di mana kamu ngerti — mukamu berubah, cuma sedikit, di sekitar mata. Terus setengah detik kemudian mukamu balik lagi.”
“Vela.”
“Kamu ngapain di setengah detik itu, Ris?”
Aku tidak menjawab.
“Kamu ngomong apa ke diri kamu sendiri?”
Ada suara Pak Hendra dari ruangan sebelah, menaruh cangkir.
“Dia bilang gue nggak kenal orangnya,” kataku.
Vela menatapku.
Lalu dia menutup mata sebentar — sebentar sekali, seperti orang yang menahan sakit kepala — dan waktu dia membukanya lagi, ada sesuatu di sana yang bukan kemarahan dan bukan penghinaan.
Kasihan.
Itu jauh lebih buruk.
“Kamu tahu kenapa dia bilang gitu?” katanya.
“Enggak.”
“Karena kamu nanya ‘orangnya siapa’.” Vela mengambil tasnya. “Dia baru saja bilang dia nunggu satu orang selama satu setengah tahun, dan kamu nanya siapa. Ke dia. Sambil natap dia.”
“Terus?”
“Terus dia harus bilang sesuatu supaya dia bisa keluar dari ruangan ini tanpa hancur.”
Vela menyandang tasnya.
“Dia nggak bohong buat nutupin,” katanya. “Dia bohong buat kabur.”
Dia berjalan ke pintu.
“Vela.”
Dia berhenti.
“Kenapa lo peduli?” kataku. “Lo nggak suka gue. Lo bilang sendiri gue nyebelin.”
Vela berdiri di ambang pintu dengan punggung menghadapku.
“Aku nggak peduli sama kamu,” katanya.
Dan dia menambahkan — dan aku baru mengerti kalimat ini di bab yang jauh, jauh kemudian, ketika semuanya sudah terlambat dan Amara berteriak pada Vela di ruang ganti dan aku tidak ada di sana untuk mendengarnya —
“Aku cuma capek lihat dia nunggu.”
Pintu tertutup.
Aku mengunci perpustakaan pukul setengah lima.
Di koridor timur tidak ada siapa-siapa. Tidak hujan hari itu; langit bersih, dan matahari sore masuk lewat sela-sela atap dan membuat garis-garis panjang di lantai.
Aku berjalan pulang.
Naik angkot. Duduk di ujung. Tas di pangkuan.
Dan di sepanjang jalan, aku melakukan pekerjaan yang sudah sangat aku kuasai. Aku menyusun ulang seluruh percakapan itu, kalimat demi kalimat, dan setiap kali aku sampai di dia orang yang nggak inget, aku memasang kalimat di atasnya seperti batu di atas kertas yang mau terbang:
Dia bilang gue nggak kenal orangnya.
Dan setiap kali aku sampai di dia bohong buat kabur, aku memasang batu yang lebih besar:
Vela suka bikin orang nggak nyaman. Itu hobi dia.
Dan setiap kali kedua batu itu bergeser, aku memasang yang ketiga, yang paling berat, yang selalu bekerja:
Bagas mengetuk pintu kamar gue empat hari berturut-turut waktu gue nggak buka.
Angkot berhenti di ujung gang.
Aku turun. Membayar. Berjalan masuk.
Rumah kosong; ibuku shift sore. Ada nasi di rice cooker dan tempe di wajan tertutup piring.
Aku makan berdiri di dapur.
Lalu aku mencuci piring itu, dan mengeringkannya, dan menaruhnya di rak — di sebelah termos stainless kecil yang penyok di bagian bawah, yang sudah dua minggu berdiri terbalik di rak piring rumahku karena aku belum mengembalikannya, dan tidak pernah sekalipun bertanya pada diriku sendiri kenapa.
- 1 Permintaan yang Tidak Bisa Kutolak
- 2 Rencana Pertama dan Kegagalan Pertama
- 3 Selasa dan Kamis
- 4 Daftar yang Salah Alamat
- 5 Termos yang Salah Terima
- 6 Kerja Kelompok Lintas Kelas
- 7 Yang Tidak Kuingat
- 8 Dua Menit di Belakang Aula
- 9 Satu Setengah Tahun reading
- 10 Rak 800
- 11 Pertanyaan yang Salah Jawab
- 12 Prasangka
- 13 Lapangan Upacara
- 14 Senin
- 15 Empat Belas Halaman
- 16 Sekarang Kamu
- 17 Minggu Pertama
- 18 Bawa Diri Kamu Aja
- 19 Kok Dia
- 20 Payung
- 21 Bimo
- 22 Tiga Puluh Delapan Koma Empat
- 23 Sembilan Belas Menit
- 24 Yang Vela Simpan
- 25 Yang Kudengar dari Balik Pintu
- 26 Kering Sendirian
- 27 Sepeda
- 28 Ruang Ganti
- 29 Empat Hari
- 30 Saya Butuh Orang
- 31 Lapangan yang Sama
- 32 Aku Duluan