Chapter Thirty One
Lapangan yang Sama
POV: Aris (orang pertama)
Ada empat hari antara Rabu dan Sabtu, dan aku menghabiskan tiga di antaranya menyusun kalimat.
Aku ingin melaporkan itu dengan jujur, karena kalau aku menghilangkannya, ceritanya akan lebih rapi dan lebih bohong.
Hari Rabu malam aku menulis empat versi.
Hari Kamis aku menulis tiga lagi, dan mencoret dua dari hari Rabu.
Hari Jumat pagi aku punya sembilan.
Dan pada Jumat sore, pukul empat lewat, aku duduk di kamar dengan sembilan kalimat di depanku dan tiba-tiba merasa sangat, sangat lelah.
Karena aku pernah melakukan ini.
Sebelas kalimat, enam hari, satu lapangan upacara yang basah. Dan tidak satu pun dari sebelasnya yang bisa berdiri, dan yang keluar dari mulutku pada akhirnya adalah tidak ada apa-apa selama sepuluh detik.
Aku menatap sembilan kalimat itu.
Lalu aku merobek halamannya.
Dan aku duduk di kamar sampai gelap dan tidak menulis apa pun lagi, dan aku tidur dengan perasaan seperti orang yang melepaskan pegangan di kolam yang dalam.
Sabtu.
Tidak hujan.
Aku ingat itu karena aku sudah menyiapkan diri untuk hujan — seluruh cerita ini terbuat dari hujan, dan aku sampai di gerbang sekolah pukul sepuluh kurang lima dengan payung di tas karena kebiasaan tujuh belas tahun tidak mati dalam tiga minggu.
Langitnya bersih. Panas. Beton lapangan kering dan memantulkan cahaya sampai mata sakit.
Amara sudah ada di sana.
Di lapangan upacara. Di sebelah kiri tiang bendera, kira-kira di tempat yang sama.
Memakai kaus dan celana jeans. Rambut tidak diikat.
Aku berjalan menyeberangi lapangan dan berhenti tiga meter darinya, seperti yang aku lakukan sembilan bulan lalu, dan menyadari bahwa aku berdiri di posisi yang sama persis dan bahwa itu bukan kebetulan sama sekali; itu jarak yang tubuhku pilih otomatis.
Aku maju satu langkah.
Dua meter.
Amara memperhatikan itu. Aku melihat matanya turun ke kakiku dan naik lagi.
“Kamu geser.”
“Iya.”
“Kenapa?”
“Karena tiga meter itu jarak gue,” kataku. “Dan gue nggak mau pake jarak gue hari ini.”
Lapangan panas.
“Aku sudah di sini dari jam setengah sepuluh,” katanya.
“Kenapa?”
“Karena aku takut aku nggak akan dateng kalau aku nunggu sampai jam sepuluh di rumah.”
Aku memandang beton.
“Amara.”
“Bentar.” Dia menahan tangannya di udara. “Aku mau bilang sesuatu dulu. Kalau kamu ngomong duluan aku bakal—“
Dia berhenti.
Dan tersenyum, sedikit, ke arah tanah.
“Aku bakal ngerusak susunanku,” katanya. “Ya. Aku juga nyusun. Kita berdua sama parahnya.”
“Gue robek punya gue tadi malem.”
Dia mengangkat wajahnya.
“Beneran?”
“Sembilan kalimat.”
“Aku punya enam.”
“Lo bawa?”
“Di kepala.”
“Ya udah, buang.”
Amara menatapku beberapa detik.
Lalu dia menghela napas — panjang, seluruhnya — dan bahunya turun.
“Oke,” katanya. “Sudah dibuang.”
“Aku mau ngomong dua hal,” katanya, “terus kamu boleh ngomong apa aja.”
“Oke.”
“Yang pertama, aku minta maaf.”
Aku mengangkat wajah.
“Bukan buat berhenti nunggu,” katanya cepat. “Itu aku nggak minta maaf. Itu benar dan aku bakal ngelakuin lagi.”
Dia memasukkan tangannya ke saku.
“Aku minta maaf buat dua tahun tiga bulan sebelumnya.”
Beton. Tiang bendera.
“Aku bilang ke diri aku sendiri aku sabar,” katanya. “Aku bilang aku ngasih kamu waktu. Aku bilang kalau kamu sadar sendiri artinya beneran.”
Dia menggeleng.
“Itu bohong. Semuanya. Aku nunggu kamu ngomong lebih dulu supaya kalau ini gagal, yang malu bukan aku.”
Dia menatapku.
“Aku marah sama kamu selama delapan bulan karena kamu nggak berani minta,” katanya. “Dan aku sendiri nggak pernah minta apa pun, sekali pun, selama dua tahun tiga bulan. Aku cuma ngasih tanda dan marah karena nggak dibaca.”
Angin bergerak di lapangan panas.
“Jadi maaf,” katanya. “Aku nyalahin kamu buat sesuatu yang aku lakuin juga.”
“Amara—“
“Yang kedua.” Dia mengangkat tangannya lagi. “Yang kedua lebih penting.”
“Aku dua minggu ini mikirin satu hal,” katanya. “Terus aku ngomong sama Vela dan dia bilang aku nyebelin dan aku bilang aku tau, dan terus aku tetep mikirin.”
Dia mengeluarkan tangannya dari saku.
“Kalau kamu dateng ke sini hari ini dan bilang kamu suka aku,” katanya, “aku nggak tau apa itu cukup.”
Sesuatu di dadaku turun.
“Kenapa?”
“Karena kamu udah pernah bilang itu,” katanya. “Di depan pagar rumahku, sembilan bulan lalu, dan kamu jujur, dan kamu nangis, dan aku percaya kamu.”
Dia menatapku.
“Terus delapan bulan kemudian kamu mundur pelan-pelan sambil ngerjain katalog.”
Aku menutup mata.
“Aku nggak lagi ngehukum kamu,” katanya, dan suaranya melembut. “Aku serius. Aku cuma — Ris, aku nggak bisa masuk lagi ke sesuatu yang bakal ngilang tiap kali kamu ngerasa aku bakal capek. Aku nggak sanggup dua kali.”
“Gue tau.”
“Jadi aku nggak butuh kamu bilang kamu suka aku,” katanya. “Aku udah tau kamu suka aku. Aku udah tau dari Februari kelas sepuluh, sebenernya, aku cuma butuh dua tahun buat ngaku.”
Aku mengangkat wajah.
“Terus lo butuh apa?”
Dan Amara berdiri di lapangan upacara yang panas dan kering, di sebelah kiri tiang bendera, dan mengajukan pertanyaan yang telah menunggu selama tiga puluh satu bab:
“Siapa yang duluan, Ris?”
Aku tidak mengerti selama kira-kira dua detik.
“Apa?”
“Siapa yang duluan,” katanya lagi.
“Maksud lo—“
“Aku nggak lagi nanya siapa yang suka lebih awal,” katanya. “Itu jelas aku. Februari kelas sepuluh. Aku menang.”
Dia melangkah satu langkah mendekat.
“Aku nanya sesuatu yang lain.”
Dia berhenti kira-kira satu meter dariku.
“Selama sembilan bulan,” katanya, “aku yang pertama. Aku yang pindah meja. Aku yang pindah kursi. Aku yang bikin janji ketemu. Aku yang ngaku. Aku yang pegang tangan kamu di depan pagar rumahku terus bilang ‘sekarang kamu’.”
Suaranya mulai bergetar.
“Aku yang meluk kamu di koridor timur, dan kamu butuh tiga detik. Aku yang deketin muka aku di kamar aku, dan kamu mundur.”
Aku memandangi beton.
“Setiap hal di antara kita,” katanya, “aku yang mulai. Semuanya. Dua tahun tiga bulan.”
Dia menarik napas.
“Aku nggak minta kamu berubah jadi orang lain,” katanya. “Aku nggak minta kamu jadi Bagas. Aku nggak minta kamu berani.”
Angin.
“Aku cuma mau, sekali aja, dalam hidup aku,” katanya, “jadi orang yang dipilih dan bukan orang yang milih.”
Lapangan upacara pada Sabtu pukul sepuluh lewat sangat sepi.
Dan aku berdiri di sana dan aku mengerti.
Bukan mengerti dengan cara yang aku lakukan di perpustakaan hari Selasa itu, di mana aku mengerti selama sepersekian detik lalu membangun tempat untuk tidak mengerti.
Aku mengerti dan tetap di dalamnya.
Karena dia benar tentang semuanya, dan karena yang dia minta bukan pengakuan.
Yang dia minta adalah urutan.
Bukan apakah aku dicintai. Itu sudah selesai. Yang belum pernah dia miliki, sekali pun, dalam dua tahun tiga bulan, adalah pengalaman menjadi orang yang tidak harus bergerak lebih dulu.
Aku membuka mulut.
Dan aku menemukan bahwa jawabannya ada di sana, lengkap, sederhana, dua kata, dan bahwa aku sudah membawanya sejak entah kapan.
Dan aku juga menemukan sesuatu yang lain.
Bahwa kalau aku mengucapkannya sekarang, di lapangan panas ini, sebagai jawaban atas pertanyaan yang dia ajukan — maka itu masih dia yang memulai.
Dia bertanya. Aku menjawab.
Dia bergerak. Aku mengikuti.
Sekali lagi, untuk kesekian ratus kalinya, dan bahkan pada hari terakhir aku akan tetap menjadi orang yang merespons.
Aku menutup mulutku.
Amara menunggu.
Dan aku melihat wajahnya berubah — pelan, dengan cara yang aku kenal, cara air surut — dan aku menyadari bahwa dia sedang membaca diamku sebagai diam yang sama seperti sembilan bulan lalu.
“Amara.”
“Nggak apa-apa,” katanya, dan sudah mulai berbalik. “Aku ngerti kalau—“
“Bukan itu.”
Dia berhenti.
“Gue punya jawabannya,” kataku.
Dia menoleh.
“Terus kenapa nggak dijawab?”
Dan aku berdiri di lapangan upacara yang panas dan kering, di beton yang sama, dua meter dari orang yang sudah menunggu dua tahun tiga bulan, dan aku berkata:
“Karena kalau gue jawab sekarang, gue masih ngikutin.”
Amara mengerjap.
“Lo yang nanya,” kataku. “Lo yang mulai. Lagi.”
Angin bergerak di lapangan.
“Dan gue nggak mau ngasih lo jawaban,” kataku. “Gue mau ngasih lo yang lo minta.”
Dia berdiri di sana dengan tangan di sisi tubuh.
“Ris, itu—“
“Senin,” kataku.
Dia menatapku.
“Apa?”
“Senin,” kataku lagi. “Gue yang bilang. Bukan karena lo nanya. Karena gue mau.”
Dan aku melihat sesuatu masuk ke wajahnya yang belum pernah aku lihat di sana sebelumnya — bukan harapan, bukan lega.
Sesuatu yang lebih mirip orang yang baru saja diberi kursi setelah berdiri sangat lama.
“Kamu nyuruh aku nunggu,” katanya, “dua hari lagi.”
“Iya.”
“Aku udah bilang aku berhenti nunggu.”
“Gue tau.”
Aku memasukkan tangan ke saku dan mengeluarkan selembar kertas yang dilipat empat, yang sudah tiga minggu ada di sana, dengan enam kata di dalamnya.
Aku tidak memberikannya padanya.
Aku merobeknya, di depannya, jadi empat, dan memasukkan potongannya kembali ke saku.
“Apa itu?”
“Jalan pintas,” kataku.
Amara berdiri di lapangan upacara.
Dan lalu — untuk pertama kalinya sejak dia mengembalikan payung itu di perpustakaan tiga minggu lalu — dia tertawa.
Yang keras. Yang jarang. Yang membuat dia menutup mulutnya dengan punggung tangan.
“Kamu tau nggak,” katanya dari balik tangannya, “kamu itu orang paling nyusahin yang pernah aku temuin.”
“Iya.”
“Aku nunggu dua tahun tiga bulan terus kamu nambah dua hari.”
“Iya.”
“DUA HARI, RIS.”
“Empat puluh delapan jam,” kataku. “Gue udah ngitung.”
Dan Amara menutup wajahnya dengan dua tangan dan tertawa lebih keras, dan bahunya bergetar, dan di lapangan upacara yang kosong pada Sabtu pukul sepuluh lewat, tidak ada satu orang pun yang mendengar.
Dia menurunkan tangannya.
Matanya basah.
“Senin jam berapa?”
Dan aku hampir bilang jam berapa aja.
Aku merasakan kalimat itu naik — sopan, aman, menyerahkan keputusan pada orang lain, seperti yang aku lakukan tujuh belas tahun.
Aku menelannya.
“Jam tujuh,” kataku. “Di gerbang. Sebelum bel.”
“Kenapa jam tujuh?”
“Karena gue nggak mau nunggu sampai istirahat,” kataku. “Dan gue nggak mau punya waktu buat nyusun kalimat.”
Amara memandangiku.
“Oke,” katanya.
Dan lalu, sebelum berbalik, dia menambahkan — dan suaranya sudah tenang, dan itu jauh lebih menakutkan daripada kalau dia menangis:
“Ris.”
“Ya?”
“Kalau kamu nggak dateng hari Senin,” katanya, “aku nggak akan marah. Aku nggak akan bikin drama. Aku bakal nyapa kamu di koridor sampai kita lulus.”
Dia menyandang tasnya.
“Tapi aku nggak akan nanya lagi.”
- 1 Permintaan yang Tidak Bisa Kutolak
- 2 Rencana Pertama dan Kegagalan Pertama
- 3 Selasa dan Kamis
- 4 Daftar yang Salah Alamat
- 5 Termos yang Salah Terima
- 6 Kerja Kelompok Lintas Kelas
- 7 Yang Tidak Kuingat
- 8 Dua Menit di Belakang Aula
- 9 Satu Setengah Tahun
- 10 Rak 800
- 11 Pertanyaan yang Salah Jawab
- 12 Prasangka
- 13 Lapangan Upacara
- 14 Senin
- 15 Empat Belas Halaman
- 16 Sekarang Kamu
- 17 Minggu Pertama
- 18 Bawa Diri Kamu Aja
- 19 Kok Dia
- 20 Payung
- 21 Bimo
- 22 Tiga Puluh Delapan Koma Empat
- 23 Sembilan Belas Menit
- 24 Yang Vela Simpan
- 25 Yang Kudengar dari Balik Pintu
- 26 Kering Sendirian
- 27 Sepeda
- 28 Ruang Ganti
- 29 Empat Hari
- 30 Saya Butuh Orang
- 31 Lapangan yang Sama reading
- 32 Aku Duluan