Chapter Thirty
Saya Butuh Orang
POV: Aris (orang pertama)
Aula penuh.
Aku tidak menduga itu. Rapat kerja terbuka biasanya dihadiri empat puluh orang — pengurus OSIS, ketua kelas, dan anak-anak yang membolos pelajaran dengan alasan yang sah.
Rabu itu ada mungkin tiga ratus orang.
Aku tahu kenapa. Karena ini rapat pertama Amara sebagai ketua, karena dua ratus enam belas suara membuat orang penasaran, dan karena tidak ada satu pun ketua OSIS dalam lima tahun terakhir yang membuka rapat kerjanya untuk umum.
Aku duduk di deret kesebelas dari depan, di kursi paling pinggir dekat lorong.
Posisi yang aku pilih.
Aku selalu memilih posisi seperti ini, di ruangan mana pun, sepanjang hidupku.
Amara membuka rapat pukul sembilan lewat dua menit.
Dia berdiri di podium yang sama tempat pembina upacara biasanya bicara, dengan kertas yang dia taruh di sisi kiri dan tidak dia pakai.
“Terima kasih sudah datang,” katanya. “Saya akan sampaikan tiga hal, lalu kita buka usulan. Rapat ini selesai jam sebelas, dan kalau lewat, itu salah saya.”
Ada tawa kecil.
Dia bicara empat puluh menit.
Aku tidak mendengarkan sebagian besarnya.
Aku ingin mencatat itu dengan jujur, karena tidak romantis dan karena itu benar: aku duduk di deret kesebelas dan aku tidak mendengarkan, karena seluruh isi kepalaku sedang bekerja pada satu masalah dan masalah itu adalah bahwa tanganku dingin.
Aku memasukkannya ke saku.
Di saku kanan ada selembar kertas yang dilipat empat, yang sudah aku bawa selama tiga minggu, dengan enam kata di dalamnya yang aku tulis pada Senin sore setelah seseorang mengembalikan payung.
Aku menyentuhnya.
Dan aku menariknya keluar dan meletakkannya di pangkuan.
Dan aku memikirkan — selama kira-kira lima detik yang memalukan — betapa mudahnya kalau aku menyerahkan kertas ini.
Aku bisa berdiri, berjalan ke depan setelah rapat selesai, meletakkannya di meja, dan pergi.
Itu akan berhasil. Itu akan jelas. Itu tidak memerlukan suaraku sama sekali.
Aku melipat kertas itu lagi dan memasukkannya kembali ke saku.
Karena aku sudah menghabiskan delapan bulan menulis empat belas halaman tentang seseorang yang duduk tiga meter dariku, dan menyerahkan kertas adalah hal yang sama, dengan bungkus yang lebih berani.
“Oke,” kata Amara, pukul sembilan lewat empat puluh lima. “Sekarang usulan.”
Dia mengangkat papan jalan.
“Yang lewat kotak sudah kami baca semua, ada dua puluh tiga. Tapi rapat ini terbuka, jadi kalau ada yang mau ngomong langsung, silakan angkat tangan. Sebutkan nama dan kelas.”
Ada jeda.
Lalu seorang anak kelas X mengangkat tangan dan mengusulkan agar kantin menambah meja, dan seluruh aula bertepuk tangan, dan Amara mencatat.
Lalu anak kelas XII IPS mengusulkan agar jadwal ekskul digeser.
Lalu ada tiga usulan tentang toilet, berturut-turut, yang membuat Amara berkata “oke, saya paham, ini prioritas” dan aula tertawa.
Pukul sepuluh lewat lima, usulan mulai habis.
“Ada lagi?”
Aula diam.
“Kalau tidak ada, kita—“
Aku mengangkat tangan.
Aku ingin menjelaskan apa yang terjadi di tubuhku pada saat itu, karena ini adalah satu-satunya hal berani yang pernah aku lakukan dan aku ingin catatannya akurat.
Tanganku naik sebelum aku memutuskan.
Itu bukan keberanian. Aku ingin sangat jelas soal itu. Itu adalah tubuh yang sudah tiga minggu diberi tahu apa yang harus dilakukan dan akhirnya melakukannya di detik terakhir sebelum pintunya tutup, seperti orang yang melompat ke kereta yang sudah bergerak.
Dan begitu tanganku di atas, aku menyadari apa yang aku lakukan, dan seluruh isi perutku jatuh.
Amara berhenti di tengah kalimat.
Aku melihat dia melihatku.
Dan aku melihat wajahnya — dari jarak sebelas deret, di aula berisi tiga ratus orang — melakukan sesuatu yang sangat kecil di sekitar mata.
“Silakan,” katanya.
Suaranya rata.
Aku berdiri.
Dan tiga ratus kepala menoleh.
“Aris Firmawan. Sebelas IPA dua.”
Suaraku terdengar aneh di aula. Aku belum pernah mendengar suaraku di ruangan sebesar itu.
Ada bisik-bisik di deret depan. Aku bisa mendengar bentuknya meskipun tidak kata-katanya, dan aku tahu bentuk itu, karena aku sudah membacanya tujuh puluh dua kali di base pada suatu malam bulan lalu.
Aku memegang sandaran kursi di depanku.
“Saya jaga perpustakaan,” kataku.
Seseorang tertawa kecil di suatu tempat. Bukan mengejek — jenis tawa yang keluar karena orang mengenali sesuatu.
“Sejak kelas sepuluh semester dua,” kataku. “Dua tahun.”
Amara tidak menulis apa-apa di papan jalannya.
“Usulan saya satu,” kataku. “Saya minta perpustakaan punya petugas siswa lebih dari satu orang.”
Aula diam.
“Sekarang cuma saya,” kataku. “Bukan karena nggak ada yang boleh. Karena nggak ada yang tahu boleh. Nggak pernah ada pengumuman, nggak pernah ada pendaftaran, dan itu udah dua tahun.”
Ada suara kertas di deret depan.
“Kalau ada tiga orang,” kataku, “perpustakaan bisa buka hari Senin. Sekarang tutup Senin karena saya latihan upacara. Bisa buka sampai jam lima tanpa ada yang harus pulang jalan kaki. Bisa ada yang jaga waktu satu orang sakit.”
Aku menarik napas.
Dan di sinilah aku seharusnya berhenti.
Usulannya sudah lengkap. Alasannya sudah tiga. Semuanya rapi, semuanya berguna, semuanya tentang perpustakaan.
Aku bisa duduk.
“Dan,” kataku.
Aula.
Tiga ratus orang.
“Dan itu bukan alasan yang sebenernya.”
Aku memegang sandaran kursi lebih erat.
“Alasan yang sebenernya,” kataku, “saya nggak mau sendirian di ruangan itu lagi.”
Aula sangat sunyi.
“Saya udah dua tahun ngerjain kerjaan tiga orang sendirian dan saya selalu bilang saya biasa,” kataku, dan suaraku pecah di satu tempat dan aku terus bicara. “Saya nggak biasa. Saya cuma nggak pernah minta.”
Bisik-bisik berhenti.
“Dan saya nggak pernah minta karena kalau saya minta, ada kemungkinan nggak dikasih,” kataku. “Dan saya lebih milih ngerjain semuanya sendirian selamanya daripada satu kali denger orang bilang enggak.”
Aku menelan.
“Jadi ini pertama kali,” kataku. “Saya minta. Di depan orang. Biar saya nggak bisa nyabut.”
Aku berdiri di deret kesebelas dengan tangan gemetar di sandaran kursi.
“Itu aja,” kataku. “Makasih.”
Aku duduk.
Ada jeda yang panjangnya kira-kira dua detik.
Lalu, dari deret keempat, seseorang bertepuk tangan.
Aku tidak perlu melihat untuk tahu siapa, karena tidak ada satu orang pun di sekolah itu yang bertepuk tangan dengan cara yang begitu keras dan begitu tidak tahu malu.
Bagas berdiri sambil bertepuk tangan.
Dan Ekek, di sebelahnya, berdiri juga sambil berteriak “WOOO” tanpa alasan yang jelas dan tanpa memahami sepenuhnya apa yang baru saja terjadi.
Dan lalu Rizal. Dan Fatur. Dan Gilang.
Dan lalu seluruh deret keempat.
Dan aku duduk di deret kesebelas dengan wajah yang terbakar dan menatap lurus ke depan, ke podium.
Amara berdiri di podium dengan papan jalan di tangan.
Dia tidak bertepuk tangan.
Dia menulis sesuatu.
Lalu dia mengangkat wajahnya dan berkata, dengan suara yang benar-benar rata:
“Usulan diterima. Saya bicara dengan Pak Hendra minggu ini.”
Dan dia melanjutkan ke agenda berikutnya.
Rapat selesai pukul sebelas kurang lima.
Aku menunggu sampai aula hampir kosong, karena tentu saja aku menunggu, karena beberapa hal berubah lebih lambat dari yang lain.
Bagas menghantam bahuku di lorong keluar.
“RIS.”
“Sst.”
“GUE NANGIS.”
“Lo nggak nangis.”
“GUE HAMPIR NANGIS. ITU SAMA AJA.”
Ekek muncul dari belakang. “Bang, tadi maksudnya apa?”
“Gue minta temen kerja di perpus.”
“Oh.” Ekek mengangguk. “Gue kira lo mau nembak dia di depan umum.”
“EKEK.”
“Ya kan aku bilang ‘gue kira’.”
Bagas menyeret Ekek pergi dengan tangan di kerahnya.
Amara ada di koridor lantai satu, di dekat papan pengumuman, sendirian, memegang papan jalannya.
Aku berhenti tiga meter darinya.
Koridor itu tidak kosong. Ada mungkin dua puluh orang yang lewat, anak-anak yang keluar dari aula, dua guru di ujung.
“Ris.”
“Hai.”
Dia menurunkan papan jalannya.
“Kamu tadi—“ Dia berhenti. “Kamu berdiri di depan tiga ratus orang.”
“Iya.”
“Kamu ngomong tentang kamu sendiri.”
“Iya.”
“Selama—“ Dia melihat papan jalannya. “Aku ngitung. Satu menit lima puluh detik.”
“Lo ngitung?”
“Aku selalu ngitung.”
Ada anak-anak lewat di antara kami.
Dan aku berjalan tiga langkah dan memeluknya.
Aku ingin mencatat ini dengan tepat.
Aku tidak bertanya. Aku tidak memberi tanda. Aku tidak menunggu dia mengulurkan tangan, dan aku tidak memeriksa koridor.
Itu bagian yang aku pilih dengan sadar, dan itu bagian tersulit: aku tidak melihat ke gerbang, aku tidak melihat ke tangga, aku tidak menghitung berapa detik yang aku punya.
Aku memeluknya di koridor lantai satu pada pukul sebelas kurang lima dengan dua puluh orang lewat dan dua guru di ujung.
Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku memulai sesuatu.
Amara berdiri dengan tangan di sisi tubuh selama kira-kira dua detik.
Lalu papan jalannya jatuh ke lantai dengan bunyi keras, dan dia memelukku balik, dan seluruh berat tubuhnya condong ke depan.
Aku merasakan dia bernapas satu kali dengan cara yang tidak rata.
“Kamu lama,” bisiknya.
“Tiga minggu.”
“Aku ngitung,” katanya. “Dua puluh dua hari.”
Lalu dia mundur.
Dia mundur satu langkah penuh, dan memungut papan jalannya dari lantai, dan berdiri tegak, dan aku melihat wajahnya kembali ke bentuk yang aku kenal — bukan wajah koridor, tapi sesuatu yang lebih keras dari itu.
“Ris.”
“Ya.”
“Itu bagus,” katanya. “Itu bagus banget dan aku bakal inget itu seumur hidup aku.”
“Tapi?”
“Tapi itu bukan buat aku.”
Aku menatapnya.
“Kamu minta petugas perpustakaan,” katanya. “Itu buat kamu. Itu bener. Itu yang harus kamu lakuin.”
Dia memegang papan jalannya dengan dua tangan.
“Tapi kamu belum ngomong apa-apa ke aku.”
Koridor.
Anak-anak lewat.
“Amara—“
“Aku bilang aku berhenti nunggu,” katanya, “dan aku nggak bohong. Aku beneran berhenti. Tiga minggu ini aku nggak sekali pun berdiri di depan pintu perpustakaan.”
Suaranya mengeras.
“Dan aku nggak akan mulai lagi cuma karena kamu meluk aku di koridor.”
Aku memegang tali tasku.
“Gue mau ngomong,” kataku.
“Sekarang?”
Dan aku membuka mulut, di koridor lantai satu, dengan dua puluh orang lewat dan dua guru di ujung, dan aku menyadari bahwa aku tidak menyiapkan apa pun.
Untuk pertama kalinya, aku benar-benar tidak menyiapkan apa pun.
Dan yang keluar adalah:
“Iya. Tapi nggak di sini.”
Amara menatapku.
“Kenapa nggak di sini?”
“Karena di sini rame,” kataku, “dan gue mau lo denger, bukan gue mau orang lihat.”
Dan sesuatu di wajahnya bergerak.
“Oke,” katanya.
“Sabtu,” kataku. “Jam sepuluh. Di sekolah.”
Dia mengerjap.
Dan aku tahu dia menghitung — karena dia selalu menghitung, dan karena kalimat itu adalah kalimatnya sendiri, dikembalikan padanya setelah sembilan bulan.
“Di mana?” katanya.
“Lo tau di mana.”
- 1 Permintaan yang Tidak Bisa Kutolak
- 2 Rencana Pertama dan Kegagalan Pertama
- 3 Selasa dan Kamis
- 4 Daftar yang Salah Alamat
- 5 Termos yang Salah Terima
- 6 Kerja Kelompok Lintas Kelas
- 7 Yang Tidak Kuingat
- 8 Dua Menit di Belakang Aula
- 9 Satu Setengah Tahun
- 10 Rak 800
- 11 Pertanyaan yang Salah Jawab
- 12 Prasangka
- 13 Lapangan Upacara
- 14 Senin
- 15 Empat Belas Halaman
- 16 Sekarang Kamu
- 17 Minggu Pertama
- 18 Bawa Diri Kamu Aja
- 19 Kok Dia
- 20 Payung
- 21 Bimo
- 22 Tiga Puluh Delapan Koma Empat
- 23 Sembilan Belas Menit
- 24 Yang Vela Simpan
- 25 Yang Kudengar dari Balik Pintu
- 26 Kering Sendirian
- 27 Sepeda
- 28 Ruang Ganti
- 29 Empat Hari
- 30 Saya Butuh Orang reading
- 31 Lapangan yang Sama
- 32 Aku Duluan