← Aku Duluan

Chapter Five

Termos yang Salah Terima

POV: Aris (orang pertama)


Aku bangun hari Jumat dengan tenggorokan yang terasa seperti amplas dan kepala yang beratnya bertambah dua kilogram semalam.

Ibuku sudah tahu sebelum aku bilang apa-apa. Beliau meletakkan punggung tangan di dahiku sambil lewat, tanpa berhenti berjalan, seperti orang mengecek suhu air.

“Hangat.”

“Nggak apa-apa.”

“Kamu pulang basah kemarin.”

“Enggak.”

“Sepatumu di teras, Ris. Dua-duanya basah dari dalam.”

Aku diam.

Ibuku berhenti di depan pintu dapur. Beliau masih pakai seragam apotek, yang berarti beliau belum tidur sejak shift semalam.

“Payungmu ke mana?”

“Di loker.”

“Yang satu lagi.”

Aku menarik selimut sampai bahu dan menatap tembok.

Ibuku tidak mengejar. Beliau tidak pernah mengejar; itu bukan gaya beliau. Beliau cuma diam beberapa detik lebih lama dari yang nyaman, lalu masuk dapur, dan sepuluh menit kemudian ada bubur di meja dan dua tablet parasetamol di sebelah gelas.

Dan sebuah catatan.

Kalau sakit, jangan sekolah. Kalau sekolah, jangan sok kuat. Pilih satu.

Aku memilih yang kedua.


Perpustakaan hari Jumat biasanya sepi karena ada Jumatan dan jam pelajaran terpotong. Aku bisa duduk di balik meja sirkulasi dan tidak melakukan apa-apa selama empat puluh menit tanpa ada yang menganggap itu aneh.

Yang tidak aku perhitungkan adalah Bagas.

“ANJIR.”

Dia berdiri di ambang pintu, menunjuk wajahku dengan seluruh tangan.

“Sst.”

“Ris, muka lo kayak nasi basi.”

“Terima kasih.”

“Serius.” Dia menyeberang ruangan dan menempelkan punggung tangannya di dahiku sebelum aku sempat menghindar, dan dia melakukannya persis seperti ibuku, dan itu menyebalkan. “Anjir. Panas.”

“Gue tahu.”

“Kenapa lo masuk?”

“Karena kalau gue nggak masuk, perpustakaan tutup.”

“Terus?”

“Terus nggak ada yang buka.”

Bagas menatapku seperti aku baru saja mengucapkan sesuatu dalam bahasa asing.

“Ris, ini perpustakaan sekolah. Bukan rumah sakit. Nggak ada yang mati kalau tutup sehari.”

Aku tidak punya jawaban untuk itu yang tidak akan membuka percakapan yang tidak ingin aku buka. Jadi aku menstempel sesuatu.

Dia menarik kursi dan duduk di depan meja, dan untuk sekali ini dia duduk pelan, dan kursinya tidak berdecit.

“Lo kehujanan kemarin?”

“Sedikit.”

“Payung lo?”

Ada jeda yang panjangnya kira-kira satu detik, dan aku tahu betul apa yang aku lakukan di dalam satu detik itu. Aku menimbang dua kalimat. Yang pertama benar. Yang kedua aman.

“Ketinggalan,” kataku.

“Lo? Ketinggalan payung?” Bagas tertawa. “Ris, lo tuh orang yang bawa dua payung ke sekolah pas kemarau.”

“Kemarin gue lupa.”

“Aneh.” Dia menggeleng-geleng. “Ya udah, nanti gue anter pulang. Gue bawa motor.”

“Nggak usah.”

“Gue anter.”

“Bagas—“

“Gue. Anter.” Dia menepuk meja sekali, final. “Lo tuh kalau sakit jadi galak. Baru tahu gue.”

Dan itu, sialnya, membuatku ingin tertawa, dan tertawa membuat tenggorokanku terasa seperti dikikis, jadi aku batuk delapan kali berturut-turut dan Bagas panik dan menyodorkan botol minumnya sendiri yang sudah tinggal seperempat dan hangat.


Istirahat kedua.

Aku tahu Amara tidak datang hari Jumat. Selasa dan Kamis, itu polanya, dan pola adalah satu-satunya hal yang bisa aku andalkan di dunia ini.

Jadi ketika pintu terbuka pukul sepuluh lewat lima belas dan yang masuk adalah dia, otakku butuh waktu dua detik penuh untuk memproses bahwa jadwalnya salah, bukan mataku.

Bagas — yang sedang duduk di meja tengah dengan bukunya — langsung tegak seperti orang dengar peluit.

Amara berjalan lurus ke meja sirkulasi.

Dia meletakkan sesuatu di atas meja, di sebelah tumpukan kartu katalog.

Termos kecil. Yang itu. Stainless, penyok sedikit di bagian bawah.

“Minum.”

Aku menatapnya.

“Ini punya lo.”

“Iya.”

“Terus?”

“Terus minum.” Dia mendorongnya dua sentimeter lebih dekat. “Jahe. Aku bikin pagi tadi.”

“Amara—“

“Kamu batuk dari koridor. Aku dengar dari kelas.”

“Kelas lo di lantai dua.”

“Kamu batuknya keras.”

Aku memegang termos itu. Masih hangat. Bagian bawahnya lebih hangat dari bagian atas, artinya baru diisi ulang, artinya dia membawanya ke sini bukan dari pagi tapi dari kelas, artinya dia memikirkan ini di antara jam pelajaran.

Aku tidak ingin memikirkan itu, jadi aku memikirkannya sangat detail.

“Makasih.”

“Nggak usah dibalikin buru-buru.”

“Kenapa semua barang lo nggak usah dibalikin buru-buru?”

Amara berhenti.

Sesuatu terjadi di wajahnya — cepat, tidak lebih dari sekejap. Bukan tersinggung. Sesuatu yang lebih mirip orang yang sedang dibaca dan tidak siap dibaca.

“Karena aku nggak suru-buru,” katanya. Lalu menutupnya dengan, “Dan karena kamu perpustakaan. Kamu terbiasa nunggu barang balik.”

“Denda di sini—“

“Nol rupiah. Aku tahu.” Dia menyandarkan tas ke pinggang. “Itu kalimat kamu yang paling sering.”

“Gue nggak punya banyak kalimat.”

“Kamu punya. Kamu cuma nggak keluarin.”

Kipas angin berdecit.

Aku membuka tutup termos. Uapnya naik, terlalu pedas untuk hidung yang tersumbat, tapi cukup untuk membuat sesuatu di kepalaku terbuka setengah senti.

Aku minum.

Panas. Terlalu banyak jahe. Ada gula merah, dan ada sesuatu lain yang tidak bisa aku identifikasi.

“Serai,” katanya, tanpa aku tanya.

Aku mengangkat wajah.

“Muka kamu bingung,” katanya. “Itu serai.”

“Gue nggak bingung.”

“Alis kamu naik sebelah. Itu bingung.”

“Itu genetik.”

“Itu bingung, Ris.”

Dan aku ingin — sungguh, untuk pertama kalinya dengan kejelasan yang tidak bisa aku salahartikan sebagai lapar — aku ingin tetap di ruangan ini sampai bel berbunyi dan bel berikutnya berbunyi dan hari selesai, cuma untuk melihat berapa banyak lagi hal yang dia perhatikan tentang wajahku.

Lalu aku mendengar kursi bergeser.

Bagas berdiri.

Dan aku melihat seluruh kejadian berikutnya datang dari jauh, seperti orang melihat bus di tikungan, dan tidak melakukan apa pun.

“Eh,” kata Bagas, mendekat, dengan senyum yang bagus dan bahu yang lebar dan sama sekali tanpa niat buruk. “Itu buat Aris?”

Amara berbalik. “Iya.”

“Wah.” Bagas melirikku, lalu ke termos, lalu ke Amara. “Baik banget.”

“Dia sakit.”

“Iya, dia emang bandel.” Bagas menepuk bahuku, dan aku merasakan tulang. “Gue udah bilang suruh pulang, nggak mau.”

“Aku juga udah bilang jangan sok kuat.”

“NAH.” Bagas mengangkat tangan ke arah Amara, seperti menemukan sekutu di negeri asing. “Bener kan. Dia tuh gitu. Semua orang diurus, dia sendiri kagak.”

Amara tertawa.

Dan Bagas — dengan naluri yang, harus aku akui, sangat baik untuk seseorang yang dua minggu lalu mengatakan “ramai ya” di ruangan berisi tujuh orang — langsung menyambar.

“Lo bikin sendiri?”

“Iya.”

“Susah nggak?”

“Lumayan. Serainya harus digeprek dulu.”

“Gue nggak tahu serai bisa digeprek.”

“Serai emang harus digeprek.”

“Gue kira serai itu dipotong.”

“Kalau dipotong nggak keluar wanginya.”

“ANJIR.” Bagas menoleh ke arahku dengan wajah yang benar-benar takjub. “Ris, lo tahu nggak soal serai?”

“Enggak.”

“Gue juga enggak!” Dia kembali ke Amara, dan aku melihatnya menemukan pijakan, dan aku melihat Amara meresponnya, dan semuanya berjalan persis seperti yang aku rancang di halaman PROYEK A. “Lo suka masak?”

“Nggak suka. Cuma suka yang ribet.”

“Bedanya?”

“Kalau ribet, jadinya berasa dihargai.”

Bagas berpikir sebentar. Lalu:

“Kayak nyetrika baju bola sendiri.”

Amara berkedip. “Apa?”

“Serius.” Dia tidak bercanda; itu bagian terbaik dari Bagas, dia tidak pernah bercanda saat dia bersungguh-sungguh. “Gue nyetrika sendiri sebelum tanding. Padahal nanti kotor juga. Tapi kalau nggak disetrika, gue main jelek.”

Ada jeda.

Lalu Amara berkata, pelan, “Iya. Kayak gitu.”

Dan mereka berdua tertawa.

Aku duduk di balik meja sirkulasi dengan termos hangat di tangan, dan mendengarkan dua orang menemukan satu sama lain lewat serai dan setrikaan, dan aku merasa persis dua hal secara bersamaan, dan dua hal itu tidak bisa berada dalam satu tubuh tanpa merusak sesuatu:

Aku bangga.

Dan aku ingin keluar dari ruangan ini.


Bel berbunyi.

Amara mengambil tasnya. Sebelum pergi, dia mengetuk meja sirkulasi dua kali dengan buku jari.

“Habisin.”

“Iya.”

“Aris.”

Aku mengangkat wajah. Dia jarang memakai nama lengkapku.

“Pulang,” katanya. “Beneran.”

Lalu dia keluar.

Bagas berdiri di tempatnya selama tiga detik penuh setelah pintu tertutup.

Lalu dia berbalik, dan wajahnya adalah wajah orang yang baru saja melihat mukjizat kecil.

“Ris.”

“Hm.”

“Ris. RIS.”

“Gue denger.”

“Gue ngobrol sama dia.” Dia mencengkeram pinggir meja. “Gue ngobrol sama dia SELAMA TIGA MENIT dan gue nggak bilang ‘ramai ya’ SEKALI PUN.”

“Prestasi.”

“Ris, gue serius, itu—“ Dia mengusap wajahnya dengan dua tangan. “Gue bahkan nggak ngerencanain. Gue cuma lihat termos itu terus gue mikir, ini pintu masuk.”

Termos itu masih di tanganku.

“Iya,” kataku. “Itu pintu masuk.”

“Dia baik banget ya bawain lo minum.”

“Iya.”

“Dia tuh sebenernya perhatian sama semua orang, ya?”

Ini pertanyaannya.

Ini pertanyaan yang, kalau aku jawab jujur, seluruh sisa cerita ini tidak akan pernah terjadi.

Karena jawaban jujurnya adalah: Enggak. Gue jaga perpustakaan ini setahun lebih. Gue lihat dia lewatin anak yang jatuh dari sepeda tanpa nengok. Gue lihat dia nolak minjemin catatan ke tiga orang berbeda dengan alasan yang sama persis. Dia bukan orang yang perhatian ke semua orang. Dia orang yang perhatian ke sedikit orang, dan sisanya dia layani dengan sopan supaya nggak ada yang komplain.

Aku tahu itu.

Aku sudah tahu itu sejak sebelum Bagas bertanya.

“Iya,” kataku. “Kayaknya gitu.”

Bagas mengangguk, puas, dan mengambil tasnya.

“Gue ambil motor. Tunggu di gerbang.”

Dia pergi.

Aku duduk sendirian di perpustakaan yang mulai kosong, memegang termos yang sudah tidak sepanas tadi.

Dan aku sadar bahwa aku baru saja berbohong untuk kedua kalinya, dan bahwa bohong yang kedua jauh lebih murah dari yang pertama, dan bahwa itulah masalahnya dengan bohong.


Bagas mengantarku sampai depan gang.

“Masuk sampai depan rumah aja,” katanya.

“Gangnya sempit.”

“Gue muat.”

“Motor lo muat. Suara lo enggak. Ibu gue baru tidur.”

“Oh.” Dia langsung mengecilkan gas, sungguh-sungguh. “Sorry.”

Aku turun. Melepas helm.

“Ris.”

“Hm.”

Dia masih memegang setang, kaki satu di tanah.

“Makasih ya.”

“Buat apa?”

“Buat semuanya.” Dia mengangkat bahu, canggung dengan cara yang jarang. “Gue tahu gue banyak nyusahin. Dua minggu ini lo ngatur semua. Gue nggak ngasih apa-apa.”

“Lo nganterin gue pulang.”

“Itu mah wajib.”

“Ya udah. Itu aja.”

Bagas menatapku sebentar. Lalu dia bilang, tanpa senyum:

“Kalau lo suka orang, bilang ke gue ya.”

Jalanan tiba-tiba terasa sangat sepi.

“Kenapa?”

“Ya biar gue bisa bantuin juga.” Dia menghidupkan gas sedikit. “Masa gue doang yang dibantuin terus. Nggak enak.”

Dia nyengir.

Aku mengangguk.

“Iya,” kataku.

Dan itu adalah kebohongan ketiga, dan yang ini bahkan tidak terasa seperti kebohongan sama sekali, karena bentuknya cuma satu kata dan satu anggukan, dan karena aku sudah percaya bahwa aku tidak punya apa-apa untuk dibilang.

Motornya pergi. Suaranya menipis di ujung gang.

Aku masuk rumah. Ibuku tidur di kamar depan dengan kipas menyala.

Aku ke dapur, mencuci termos itu sampai bersih, dan menaruhnya terbalik di rak piring supaya kering.

Lalu aku berdiri di sana lebih lama dari yang diperlukan untuk menaruh sebuah termos.