← Aku Duluan

Chapter Six

Kerja Kelompok Lintas Kelas

POV: Aris (orang pertama)


Bu Ana punya kebiasaan yang, menurut teori Ekek, adalah bentuk kejahatan terencana: setiap dua bulan sekali beliau membuat tugas gabungan antarkelas dan menentukan kelompoknya sendiri.

“Ini bukan pendidikan,” kata Ekek di kantin, menunjuk papan pengumuman lewat jendela. “Ini eksperimen sosial.”

“Ini tugas Bahasa Indonesia,” kataku.

“Ini eksperimen sosial YANG DISAMARKAN sebagai tugas Bahasa Indonesia.”

“Lo cuma nggak suka dipisah dari Bagas.”

“GUE CUMA NGGAK SUKA DIPISAH DARI BAGAS.”

Dia menghantam meja. Dua anak kelas X di meja sebelah pindah tempat.

Aku menghabiskan tehku dan berdiri untuk melihat daftarnya.

Kertasnya ditempel di papan dekat ruang guru, dan sudah dikerumuni. Aku menunggu kerumunan tipis, karena aku tidak pernah bisa mengerti kenapa orang harus berdesakan untuk informasi yang tidak akan berubah.

KELOMPOK 4: Amara Widyastuti (XI IPA 1) Vela Ardhana (XI IPA 1) Bagas Aryasatya (XI IPA 2) Aris Firmawan (XI IPA 2)

Aku membaca daftar itu tiga kali.

Lalu aku melihat ke bawah, ke kelompok lima, enam, tujuh, sampai dua belas, mencari tanda-tanda bahwa Bu Ana punya sistem apa pun. Urutan absen: tidak. Ranking: tidak. Acak: mungkin.

Di belakangku, seseorang berkata dengan nada paling datar di dunia:

“Bu Ana dapat wangsit.”

Vela. Berdiri dengan tangan di tali tas, membaca papan itu tanpa ekspresi.

“Lo percaya wangsit?”

“Aku percaya guru yang bosan.”

Dan dari ujung koridor, seperti dipanggil, terdengar suara yang bisa membelah beton:

“KELOMPOK EMPAT!”

Bagas berlari. Benar-benar berlari. Dia menabrak papan pengumuman dengan kedua tangan, membaca, lalu berbalik ke arahku dengan wajah orang yang menang undian.

“RIS.”

“Gue baca.”

“RIS. KELOMPOK EMPAT.”

“Gue. Baca.”

“Ini takdir.”

“Ini absen.”

“Ini TAKDIR YANG BERBENTUK ABSEN.”

Vela, tanpa menoleh, berkata: “Kalian satu kelompok denganku juga.”

Bagas membeku.

Aku melihat seluruh euforia keluar dari tubuhnya seperti udara dari balon yang bocor pelan.

“Oh,” katanya. “Halo.”

“Halo.”

“Gue Bagas.”

“Aku tahu.”

“Lo Vela.”

“Aku tahu.”

Jeda.

“Ramai ya,” kata Vela.

Dan berjalan pergi.

Bagas berdiri di depan papan pengumuman selama sepuluh detik penuh, menatap ke tempat Vela tadi berdiri, seperti orang yang baru ditembak dan belum sadar dia sudah jatuh.

“Ris.”

“Hm.”

“Dia inget.”

“Semua orang inget.”

“RIS.”


Tugasnya sendiri sederhana sampai membosankan: menyusun laporan wawancara tentang seseorang yang bekerja di lingkungan sekolah. Satpam, petugas kebersihan, penjaga kantin, tukang parkir. Tiga ribu kata, dikumpulkan dua minggu lagi.

Kami sepakat rapat pertama hari Sabtu, di perpustakaan, karena aku punya kunci dan karena tidak ada satu pun dari kami yang mau mengusulkan rumah masing-masing.

Sabtu pukul sembilan, sekolah kosong. Kelas terkunci semua. Cuma ada satpam di pos depan dan bunyi burung yang biasanya tertutup keributan manusia.

Aku sampai lebih awal, membuka jendela, menyalakan kipas.

Vela datang kedua, membawa laptop dan tidak menyapa.

Amara datang ketiga, membawa dua botol air dan meletakkan satu di depanku tanpa berkata apa-apa.

Bagas datang keempat, dua puluh menit terlambat, dengan rambut basah dan bau sabun, dan mengumumkan sambil masuk:

“MAAF. Gue habis latihan.”

“Latihan Sabtu pagi?” tanya Amara.

“Gue latihan tiap hari.”

“Termasuk Minggu?”

“Termasuk Minggu.”

Vela, tanpa mengangkat wajah dari laptopnya: “Kenapa?”

Bagas menoleh, kaget bahwa dia diajak bicara. “Kenapa apa?”

“Kenapa tiap hari.”

“Oh.” Dia menarik kursi, duduk. “Karena kalau gue libur sehari, gue bisa ngerasain di hari ketiga. Nggak ada yang lain yang bisa ngerasain. Cuma gue.”

Vela mengetik.

Lalu berhenti.

Lalu — dan ini yang membuat hari itu jadi hari yang aneh — dia mengangkat wajahnya dan menatap Bagas selama kira-kira dua detik.

“Oke,” katanya. Dan kembali mengetik.

Bagas melihat ke arahku dengan mata apa itu tadi.

Aku mengangkat bahu.


Kami menghabiskan setengah jam pertama berdebat tentang siapa yang mau diwawancarai.

Bagas mengusulkan Pak Ujang, tukang parkir, dengan argumen bahwa Pak Ujang “kenal semua motor di sekolah ini dan itu keren.”

Amara mengusulkan Bu Sri, petugas kebersihan lantai dua, dengan argumen yang lebih panjang dan lebih sulit dibantah.

Vela mengusulkan agar kami “pilih saja yang mana pun, ini cuma tiga ribu kata.”

Aku tidak mengusulkan siapa-siapa. Aku menulis semua usulan di papan tulis kecil yang biasa dipakai untuk mengumumkan buku baru, dan itu menjadi tugasku secara diam-diam, tanpa ada yang memberikannya padaku, seperti biasa.

“Kenapa Bu Sri?” tanya Bagas.

Amara memutar botol airnya di meja.

“Dia yang bersihin lantai dua tiap pagi sebelum jam enam,” katanya. “Setiap hari. Sebelum kita datang. Jadi kita nggak pernah lihat lantai dua kotor. Kita nggak tahu lantai dua bisa kotor.”

Aku berhenti menulis.

“Terus?” kata Bagas.

“Terus itu kerjaan yang cuma keliatan kalau nggak dikerjain.” Dia mengangkat bahu. “Aku mau tulis itu.”

Vela mengangkat wajahnya dari laptop.

Dan menatap aku.

Bukan Amara. Aku.

Selama mungkin satu setengah detik, dengan ekspresi yang tidak berubah sama sekali, dan itu jauh lebih buruk daripada kalau dia mengangkat alis.

Aku menulis BU SRI di papan dengan huruf yang agak terlalu besar.

“Oke,” kataku. “Bu Sri.”


Pukul sepuluh, Ekek datang.

Tidak ada yang mengundang Ekek. Ekek tidak ada di kelompok kami. Ekek ada di kelompok sembilan dan seharusnya berada di rumah Rizal di seberang jalan besar.

Dia mengetuk jendela perpustakaan dari luar, yang secara teknis adalah tindakan kriminal.

“WOI.”

Aku membuka jendela. “Lo ngapain.”

“Numpang wifi.”

“Perpustakaan nggak ada wifi.”

“Ya makanya gue masuk buat protes.”

Dia sudah setengah badan di jendela. Aku menariknya masuk karena alternatifnya adalah dia jatuh dan patah tulang dan aku yang harus menjelaskan.

Ekek berdiri, membersihkan celananya, dan melihat sekeliling.

Lalu melihat Amara.

Lalu melihat Bagas.

Lalu melihat Amara lagi.

Dan aku bisa mendengar, secara harfiah, bunyi mesin di kepalanya menyala.

“Oh,” katanya.

“Ekek.”

“OH.”

“Ekek.”

“BU SARAH DI MANA?”

Bagas menutup wajahnya dengan buku.

Amara menoleh. “Siapa?”

“Nggak ada,” kataku.

“Bu Sarah,” kata Ekek, khidmat, “adalah masa lalu yang harus kita hormati.”

“EKEK—“

“Gue nggak nge-judge!”

Vela, tanpa mengangkat wajah: “Siapa dia?”

“Ini Rizky,” kataku. “Panggilannya Ekek.”

“Kenapa Ekek?”

“Nggak ada yang tahu,” kata Bagas dari balik buku. “Udah dari SMP.”

“Gue tahu,” kata Ekek.

“Lo nggak tahu.”

“Gue tahu, gue cuma nggak mau cerita.”

“LO NGGAK TAHU.”

Amara tertawa — yang keras, yang jarang, yang membuat dia langsung menutup mulut dengan punggung tangan dan melihat ke arah pintu seolah Pak Hendra bisa muncul di hari Sabtu.

Dan Ekek — yang tidak pernah membaca ruangan seumur hidupnya, tapi kadang-kadang, secara tidak sengaja, membaca ruangan dengan sempurna — menunjuk Amara dan berkata:

“Nah. Ini bagus. Ini kelompok yang sehat.”

Lalu dia duduk di lantai, bersandar ke rak, dan mengeluarkan ponselnya.

“Lo ngapain,” kataku.

“Gue nunggu.”

“Nunggu apa.”

“Nunggu perkembangan.”


Yang terjadi setelah itu berlangsung selama satu jam dan aku masih tidak sepenuhnya bisa menjelaskannya.

Ekek mulai membantu.

Bukan membantu tugas. Membantu Bagas.

Dia melakukannya dengan cara paling tidak halus yang bisa dibayangkan manusia. Ketika Amara bertanya siapa yang mau menyusun daftar pertanyaan, Ekek langsung berkata “BAGAS JAGO NYUSUN PERTANYAAN” dari lantai. Ketika Amara berkata dia butuh seseorang menemani wawancara pagi-pagi, Ekek berkata “BAGAS BANGUN JAM LIMA TIAP HARI, DIA COCOK.”

Ketika Amara sama sekali tidak berkata apa-apa selama dua menit penuh, Ekek berkata, ke udara:

“Bagas tuh baik banget, lho.”

Bagas menoleh dengan wajah orang yang sedang dibunuh pelan-pelan.

“Ekek.”

“Apa?”

“Diem.”

“Gue lagi bantuin.”

“LO LAGI NGEBUNUH GUE.”

Dan di sinilah Vela masuk.

Dia menutup laptopnya. Perlahan. Dengan bunyi klik yang entah bagaimana terdengar mengancam di ruangan sebesar itu.

“Rizky.”

Ekek menegak. “Ya?”

“Kamu bilang Bagas bangun jam lima tiap hari.”

“Iya!”

“Berarti dia bisa wawancara Bu Sri jam enam pagi.”

“BISA BANGET.”

“Bagus.” Vela membuka laptopnya lagi. “Aris ikut. Dua orang, biar ada yang catat.”

Bagas terlihat lega.

Vela melanjutkan, tanpa jeda:

“Aku dan Amara ambil bagian penyusunan. Kita kerjakan di rumahku. Senin, Rabu, Jumat.”

Dan aku melihat Bagas menghitung.

Dan aku melihat wajahnya berubah ketika hasil hitungannya sampai.

Karena yang baru saja Vela lakukan, dengan tiga kalimat dan nada suara seorang petugas administrasi, adalah menghapus setiap kemungkinan Bagas berada di ruangan yang sama dengan Amara selama dua minggu ke depan.

Semuanya masuk akal. Semuanya efisien. Tidak ada satu pun yang bisa dibantah tanpa terdengar seperti orang yang punya agenda lain.

“Eh,” kata Bagas. “Tapi kan—“

“Ada yang keberatan?” kata Vela.

Hening.

“Nggak,” kata Bagas.

“Bagus.”

Ekek berbisik dari lantai, tidak cukup pelan: “Gila. Dia jenderal.”


Kami bubar pukul setengah dua belas.

Bagas keluar bersama Ekek, dan aku bisa dengar dari koridor suara Bagas yang meninggi dan suara Ekek yang membela diri dengan kalimat “GUE NGGAK TAHU DIA BAKAL GITU.”

Amara mengumpulkan botol-botol kosong dan membuangnya, yang tidak diminta siapa pun.

Aku menutup jendela.

Vela berdiri di sebelahku, memasukkan laptopnya ke tas, dan berkata — pelan, dan hanya untukku:

“Kamu nggak protes.”

Aku menutup kait jendela.

“Protes apa?”

“Aku baru saja mengubur temanmu.”

“Lo bikin jadwal.”

“Aku bikin jadwal yang menguburnya.”

Aku memasang kait yang kedua.

“Kenapa lo bikin?”

Vela menutup ritsleting tasnya.

“Karena aku mau lihat kamu ngomong apa,” katanya.

Aku berbalik.

Dia sudah menyandang tasnya. Di ruangan yang cuma dihuni kami berdua dan cahaya jam sebelas, wajahnya tidak menunjukkan apa pun sama sekali.

“Vela.”

“Ya.”

“Lo mau apa?”

“Aku nggak mau apa-apa.” Dia melangkah ke pintu. “Aku cuma nggak suka lihat orang jatuh dari tempat yang bisa dicegah.”

“Bagas nggak jatuh.”

Vela berhenti di ambang pintu.

“Aku nggak lagi ngomongin Bagas,” katanya.

Dan pergi.


Amara masih di dalam, menyusun kursi.

“Nggak usah,” kataku. “Nanti gue.”

“Empat kursi.”

“Gue biasa.”

“Itu bukan alasan.” Dia mengangkat satu kursi dan meletakkannya di tempatnya. “Itu kebiasaan yang kamu jadiin alasan.”

Aku berdiri di sana memegang kursi keempat.

“Kalimat lo hari ini tajam-tajam.”

“Aku lagi kesel.”

“Sama siapa?”

Amara mendorong kursi terakhir ke bawah meja. Lalu dia berdiri, memegang tali tasnya dengan dua tangan, dan menatapku dari seberang meja panjang.

“Sama orang yang selalu jadi yang nyusun kursi,” katanya.

Kipas berdecit.

“Itu cuma kursi.”

“Iya,” katanya. “Itu selalu cuma kursi.”

Dia mengambil tasnya.

Di pintu, dia berhenti — dia selalu berhenti di pintu, aku menyadarinya belakangan, dia selalu punya satu kalimat lagi dan dia selalu menyimpannya sampai punggungnya menghadapku — dan berkata:

“Senin aku ke rumah Vela.”

“Iya.”

“Kamu nggak nanya kenapa dia ngatur begitu?”

Aku menaruh kursi keempat.

“Enggak.”

“Kenapa?”

Dan aku memberikan jawaban yang, kalau ada satu kalimat di seluruh cerita ini yang ingin aku tarik kembali, mungkin ini:

“Karena itu bukan urusan gue.”

Amara berdiri di ambang pintu.

Lalu dia bilang, “Oke,” dengan nada yang datar dan sopan dan sama sekali tidak seperti dia.

Dan pintu tertutup dengan dua tahap, karena engselnya berbunyi kalau dilepas begitu saja, dan dia sudah tahu itu.