← Aku Duluan

Chapter Thirteen

Lapangan Upacara

POV: Aris (orang pertama)


Aku menyiapkan sebelas kalimat.

Aku benar-benar menghitungnya. Selama enam hari, di angkot, di kamar, di antara jam pelajaran, aku menyusun dan membongkar dan menyusun ulang, dan pada Jumat malam aku punya sebelas versi, dan semuanya berarti tidak.

Beberapa sopan. Beberapa jelas. Satu — yang aku buat pada hari Rabu, ketika aku paling lelah — hampir jujur, dan aku membuangnya pada hari Kamis karena jujur adalah hal yang tidak bisa aku bayar.

Yang aku tidak siapkan adalah kemungkinan bahwa aku tidak akan sempat memakai satu pun dari sebelasnya.


Sabtu.

Hujan turun dari subuh sampai pukul sembilan, lalu berhenti mendadak, seperti keran ditutup.

Sekolah pada hari Sabtu punya kualitas yang aneh. Semua bangunannya sama, tapi kosongnya membuat ukurannya berubah. Koridor terasa lebih panjang. Lapangan terasa lebih lebar. Suara langkahmu sendiri kembali padamu dari tembok.

Satpam membuka gerbang tanpa bertanya. Beliau sudah terbiasa; anak-anak ekskul datang tiap Sabtu.

Aku sampai pukul sepuluh kurang lima.

Amara sudah ada di lapangan.

Bukan di perpustakaan. Bukan di kantin. Bukan di aula.

Di lapangan upacara — lapangan beton di depan gedung utama, dengan tiang bendera di tengah dan garis-garis cat putih yang sudah pudar untuk menandai barisan kelas.

Air masih menggenang tipis di beberapa bagian. Langit belum bersih; masih putih dan rendah.

Dia berdiri kira-kira di tengah, di sebelah kiri tiang bendera, memakai kaus biasa dan celana jeans, yang membuat seluruh pemandangan itu terasa salah — Amara di sekolah tanpa seragam, seperti melihat guru di supermarket.

Dia tidak melihat ke arahku waktu aku datang. Dia melihat ke tanah.

Aku berhenti tiga meter darinya.

“Basah,” kataku.

“Iya.”

“Kita bisa ke koridor.”

“Enggak.”

Angin membawa bau beton basah.

“Kenapa di sini?”

Amara mengangkat wajahnya.

Dan aku melihat bahwa dia sudah menangis sebelum aku datang, dan sudah selesai, dan sudah membereskannya — matanya tidak merah lagi tapi bulu matanya masih menggumpal di ujung, dan itu adalah detail yang aku ingat selama bertahun-tahun setelahnya dengan kejelasan yang tidak aku minta.

“Karena aku pernah jatuh di sini,” katanya.


“Februari,” katanya. “Kelas sepuluh. Aku belum sarapan tiga hari.”

“Tiga hari?”

“Aku pindahan. Dari luar kota.” Dia menggeser sepatunya di beton. “Bangun jam lima, berangkat jam setengah enam, nggak sempat. Ibu aku sibuk. Aku juga gengsi bilang.”

Aku tidak berkata apa-apa.

“Hari itu panas banget. Aneh, ya, Februari.” Dia mendongak sedikit ke langit yang putih. “Barisan kelas sepuluh paling depan. Pembina upacara ngomong lama. Aku ngerasa telinga aku berdenging, terus lantai kayak miring.”

“Amara—“

“Aku nggak pingsan total,” katanya. “Itu yang orang nggak tahu. Aku sadar sepanjang waktu.”

Angin bergerak di lapangan.

“Aku sadar pas jatuh. Aku sadar pas ada yang teriak. Aku sadar pas orang-orang ngerubungin.” Suaranya rata, seperti orang membacakan laporan. “Aku sadar pas ada yang motret. Aku dengar bunyi kameranya. Dua kali.”

Sesuatu di dadaku menutup.

“Aku nggak bisa gerak dan nggak bisa ngomong tapi aku bisa dengar semuanya. Ada yang bilang ‘itu anak baru ya?’ Ada yang bilang ‘cantik ya.’ Ada yang ketawa.” Dia menelan. “Ada tiga puluh orang berdiri ngeliatin aku terbaring di beton dan nggak ada satu pun dari mereka yang mikir buat ngasih aku ruang.”

Aku memandang beton di antara kami.

Genangan tipis. Pantulan langit putih.

“Terus ada yang masuk,” katanya.

Aku tidak mengangkat wajah.

“Aku nggak lihat mukanya. Aku cuma lihat sepatu, terus tiba-tiba gelap — bukan gelap pingsan, gelap teduh. Ada yang berdiri di depan aku terus bentangin jas almamater.”

Angin lagi.

“Terus dia bilang, ke semua orang: mundur, panas.”

Amara berhenti.

“Dua kata,” katanya. “Mundur, panas. Terus semua orang mundur.”

Aku masih memandang beton.

“Terus kamu pergi,” katanya.

Aku menutup mata.

“Guru datang, aku dibawa ke UKS, dan waktu aku duduk di ranjang UKS aku nanya ke Vela siapa yang tadi berdiri di depan aku, dan Vela bilang ‘anak IPA 2, yang jaga perpustakaan.’”

Lapangan itu sangat sepi.

“Setahun setengah, Ris,” katanya. “Aku nunggu kamu nyebut itu sekali aja. Sekali. Nggak usah panjang. ‘Eh, kamu yang pingsan waktu itu ya.’ Itu doang.”

“Amara—“

“Kamu nggak pernah nyebut.” Suaranya naik untuk pertama kalinya. “Kamu nggak pernah nyebut, dan aku mikir ya udah mungkin dia sopan, mungkin dia nggak mau bikin aku malu. Terus aku ke perpustakaan tiap Selasa Kamis selama satu setengah tahun dan kamu inget aku minjam buku apa, kamu inget aku suka duduk di mana, kamu inget aku nulis pakai pensil—“

Dia berhenti untuk mengambil napas dan napasnya tidak rata.

“—dan minggu lalu aku nanya, dan kamu bilang kamu nggak inget.”

Aku mengangkat wajah.

“Gue nggak inget,” kataku.

“Aku tahu.” Dia tertawa, satu kali, dan bunyinya jelek. “Itu bagian yang paling nggak masuk akal. Vela cerita ke aku hari Kamis. Dia bilang kamu beneran nggak inget. Dia bilang kamu cuma inget jasnya.”

“Iya.”

“Kenapa?”

Dan aku memberikan satu-satunya jawaban jujur yang aku punya sepanjang bab ini, yang aku ucapkan tanpa menyiapkannya, dan yang ternyata jauh lebih menyakitkan daripada semua kebohongan yang sudah aku susun:

“Karena buat gue itu bukan kejadian.”

Amara menatapku.

“Ada orang butuh udara,” kataku. “Gue punya jas. Itu aja isinya. Gue nggak nyimpen apa-apa karena nggak ada yang perlu disimpen.”

Dan di lapangan upacara yang basah, di hari Sabtu pukul sepuluh lewat, aku melihat wajah Amara berubah — dan yang paling buruk adalah ini:

Dia tidak terlihat lebih terluka.

Dia terlihat lebih jatuh cinta.

“Iya,” katanya pelan. “Itu masalahnya.”


Dia melangkah mendekat.

Satu langkah. Dua.

Jaraknya jadi kurang dari satu meter, dan aku menahan diri untuk tidak mundur, dan aku bangga pada diriku sendiri untuk itu, dan aku ingin sekali kembali ke lapangan itu dan menampar anak laki-laki yang bangga pada dirinya sendiri karena tidak mundur.

“Ris.”

“Ya.”

“Aku suka kamu.”

Tiang bendera. Genangan. Langit putih.

“Sejak Februari kelas sepuluh,” katanya. “Aku sudah menghitung. Satu tahun tujuh bulan.”

Aku tidak bisa bicara.

“Dan aku sudah coba semua cara yang bisa dilakukan orang tanpa harus ngomong.” Suaranya mulai bergetar dan dia menahannya dengan cara yang bisa aku dengar — dia mengambil napas lewat hidung, sama seperti di podium, sama seperti setiap kali dia salah menyebut satu kata. “Aku pindah meja. Aku pindah kursi. Aku bikinin kamu teh. Aku bantuin kamu inventaris rak yang nggak ada hubungannya sama aku.”

“Amara.”

“Aku pinjam payung kamu dan nggak balikin selama dua bulan supaya kamu nanya.” Dia tertawa lagi, dan lagi-lagi bunyinya jelek. “Kamu nggak pernah nanya.”

“Denda di sini nol rupiah,” kataku.

Dan itu — kalimat bodoh, refleks, kalimat yang keluar karena mulutku mencari sesuatu yang sudah dikenal untuk dipegang — itu yang membuat dia menangis.

Bukan yang sebelumnya. Yang itu.

“IYA,” katanya, dan air matanya jatuh dan dia tidak menghapusnya. “Iya. Nol rupiah. Semuanya nol rupiah sama kamu. Kamu ngasih payung, nol rupiah. Kamu ngasih jas, nol rupiah. Kamu ngasih waktu kamu tiap Selasa Kamis selama satu setengah tahun dan itu juga nol rupiah.”

“Itu bagus—“

“ITU NGGAK BAGUS.” Suaranya membentur gedung dan kembali. “Ris, kalau semuanya gratis, artinya nggak ada yang berharga. Artinya aku nggak beda sama anak kelas sepuluh yang lupa jas hujan.”

Aku berdiri di lapangan itu dengan tangan di sisi tubuh.

“Kamu nggak pernah minta apa-apa dari aku,” katanya. “Sekali pun. Setahun setengah.”

“Gue nggak butuh apa-apa.”

“AKU TAHU.” Dia mengusap wajahnya dengan lengan, kasar, sekali. “Itu yang bikin aku gila. Kamu nggak butuh apa-apa dari siapa pun. Kamu berdiri di tengah semua orang kayak—kayak—“

Dia mencari kata. Dia selalu mencari kata; itu yang membuatnya jago debat dan itu juga yang membuatnya hancur di lapangan itu, karena kali ini kata yang dia cari harus benar.

“—kayak orang yang udah mutusin dia nggak ikut,” katanya.

Angin bergerak.

“Kamu ikut nggak, Ris?”

Aku membuka mulut.

Dan tidak ada apa pun di dalamnya.

Sebelas kalimat. Enam hari. Semuanya tersusun rapi di suatu tempat di kepalaku, dan tidak satu pun dari mereka bisa berdiri di lapangan itu.

Amara menunggu.

Dia menunggu — dan ini bagian yang aku tidak akan pernah memaafkan diriku sendiri — dia menunggu dengan wajah yang masih punya harapan. Aku bisa melihatnya. Dia sudah menangis, dia sudah berteriak, dan di balik semua itu dia masih berdiri di lapangan upacara pada hari Sabtu dengan wajah orang yang berpikir mungkin.

“Aku—“ Dia berhenti. Menarik napas. “Ris, aku tuh yang—“

Dan dia berhenti lagi.

Berhenti di tengah kalimat, dengan mulut masih setengah terbuka, seperti orang yang menginjak rem.

Aku melihat sesuatu tertahan di wajahnya. Sesuatu yang sudah sampai di ujung dan ditarik kembali.

“Aku...” Dia menutup mulutnya. Menelan. “Nggak apa-apa. Lupain.”

“Lupain apa?”

“Nggak ada.”

“Amara—“

“Jawab aja,” katanya. “Kamu nggak usah jawab yang tadi. Jawab yang pertama.”

Lapangan upacara. Tiang bendera. Garis cat putih yang pudar.

Dan aku berdiri di atas beton yang sama di mana, satu tahun tujuh bulan lalu, aku membentangkan jas almamater dan berkata dua kata dan pergi tanpa menyimpan apa pun.

Aku membuka mulut.

Dan aku memikirkan Bagas duduk di kursi berdecit di perpustakaan dengan tali serut di mulutnya.

Aku memikirkan Bagas di warung kopi berkata kalau iya, lo bilang sekarang, gue mundur.

Aku memikirkan pintu kamarku, dan empat hari, dan anak SMP yang berdiri di teras.

Aku tidak berkata apa-apa.

Detik pertama, itu masih bisa disebut mencari kata.

Detik ketiga, itu sudah jadi sesuatu yang lain.

Detik kelima, wajah Amara berubah.

Aku melihatnya terjadi. Aku melihat harapan itu keluar dari wajahnya dengan cara yang sangat pelan dan sangat teratur, seperti air surut, dan aku berdiri di sana dan membiarkannya.

Detik ketujuh.

Detik kesepuluh.

“Oke,” katanya.

Suaranya sudah rata lagi.

“Amara—“

“Nggak apa-apa.” Dia mengusap wajahnya sekali lagi, dan kali ini dengan rapi, dengan ujung jari, dengan gerakan seseorang yang sudah biasa membereskan dirinya sendiri sebelum masuk ruangan. “Kamu nggak perlu jawab hari ini.”

“Gue—“

“Senin,” katanya. “Kamu jawab hari Senin.”

“Kenapa Senin?”

Dan Amara menatapku dari jarak kurang dari satu meter, di lapangan basah, dengan mata yang sudah kering.

“Karena kalau kamu jawab sekarang,” katanya, “kamu bakal jawab pakai apa yang kamu pikirin tentang orang lain.”

Dia mengambil tasnya dari beton.

“Aku mau kamu jawab pakai apa yang kamu mau.”

Dia berjalan melewatiku.

Dan aku berdiri di lapangan upacara sendirian selama waktu yang aku tidak hitung, menghadap tiang bendera, dengan sepatu yang mulai basah dari bawah karena beton yang menggenang.


Aku pulang jalan kaki. Empat kilometer.

Aku tidak memutuskan untuk jalan kaki. Aku sampai di halte, dan angkot lewat, dan aku tidak mengangkat tangan, dan angkot berikutnya lewat dan aku tidak mengangkat tangan, dan setelah angkot ketiga aku berhenti berpura-pura menunggu dan mulai berjalan.

Aku memikirkan sebelas kalimat.

Semuanya tidak.

Aku menyusunnya selama enam hari dan setiap satu dari sebelas kalimat itu berarti tidak, dan aku tidak pernah sekalipun — sekalipun, dalam enam hari — menyusun satu kalimat yang berarti iya.

Bahkan sebagai latihan.

Bahkan untuk melihat bentuknya.

Aku berhenti di trotoar di depan bengkel yang tutup.

Karena aku menyadari sesuatu yang jauh lebih buruk daripada semua yang terjadi di lapangan tadi.

Aku tidak sedang memutuskan.

Aku sudah memutuskan. Bertahun-tahun lalu. Jauh sebelum Amara, jauh sebelum Bagas datang ke perpustakaan dengan sepatu bola, jauh sebelum ada apa pun untuk diputuskan.

Aku memutuskannya di suatu tempat di usia sepuluh tahun, di sebuah rumah yang tiba-tiba lebih sepi, ketika seorang anak laki-laki menyimpulkan satu hal dan menyimpannya begitu dalam sampai dia lupa itu pernah jadi kesimpulan:

Bahwa cara paling aman untuk tidak ditinggalkan adalah tidak pernah meminta.

Dan segala sesuatu setelah itu — perpustakaan, payung yang dua, catatan yang rapi, kesediaan untuk membantu siapa pun kapan pun tanpa pernah menagih — bukan kebaikan.

Itu arsitektur.

Aku berjalan sisa tiga kilometer.

Sampai rumah pukul satu. Ibuku sedang libur; beliau di dapur.

“Kamu jalan kaki?”

“Iya.”

Beliau melihat sepatuku. Melihat wajahku.

Dan beliau — yang tidak pernah mengejar, yang tidak pernah bertanya dua kali — meletakkan pisau di talenan dan berkata:

“Ris. Sini.”

“Nanti, Bu.”

Aku masuk kamar dan menutup pintu.

Aku duduk di lantai dengan punggung ke pintu, seperti anak umur sepuluh tahun.

Dan Senin masih dua hari lagi.