← Aku Duluan

Chapter Sixteen

Sekarang Kamu

POV: Aris (orang pertama)


Kamis, Bagas tidak masuk sekolah.

Jumat, dia masuk.

Aku melihatnya di parkiran pukul tujuh kurang, dari koridor lantai satu. Dia turun dari motor, melepas helm, dan berjalan ke kelas dengan langkah yang normal, dan berbicara dengan Ekek di tangga, dan tertawa pada sesuatu.

Dia tidak melihat ke arahku.

Kami sebangku. Kelas XI IPA 2, deret keempat dekat jendela, sejak awal semester.

Jumat itu dia datang, meletakkan tasnya, duduk, dan mengeluarkan bukunya.

“Pagi,” kataku.

“Pagi.”

Dan itu saja.

Empat jam pelajaran. Dua kali istirahat. Dia menjawab kalau aku bertanya. Dia menjawab dengan sopan dan lengkap dan tidak satu kata pun lebih.

Aku belum pernah mengalami Bagas yang sopan. Aku tidak tahu bahwa itu mungkin.

Pada jam pelajaran keempat, Pak Hendra masuk untuk Fisika, dan beliau berhenti di deret keempat selama dua detik lebih lama dari yang perlu, dan melanjutkan ke depan kelas.


Istirahat kedua, aku ke perpustakaan.

Amara tidak datang.

Itu hari Jumat; dia tidak pernah datang hari Jumat. Aku tahu itu. Aku tetap menunggu, dan aku tetap mengangkat wajah setiap kali pintu terbuka, dan aku melakukan itu selama empat puluh menit seperti orang bodoh.

Vela datang pukul setengah dua belas.

Dia berdiri di depan meja sirkulasi dan tidak meletakkan buku apa pun.

“Dia pindah les.”

“Apa?”

“Amara. Les hari Selasa sama Kamis sekarang. Jam dua.”

Aku menyusun kartu yang tidak perlu disusun.

“Oke.”

“Dia daftar hari Selasa kemarin,” kata Vela. “Padahal dia sudah les di tempat lama tiga tahun.”

Kipas berdecit.

“Kenapa lo cerita ke gue?”

Vela menatapku.

Dan untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya, dia terlihat marah. Bukan dingin. Marah, dengan rahang yang mengencang dan tangan yang mencengkeram tali tas terlalu erat.

“Karena dia nangis di ruang ganti hari Senin,” katanya, “dan aku yang harus duduk di situ dua jam, dan aku nggak bisa bilang apa-apa yang bener karena semua yang bener itu tentang kamu.”

“Vela—“

“Dan karena aku sudah setahun setengah bilang ke dia untuk nyerah.” Suaranya naik, dan di perpustakaan itu terdengar seperti teriakan. “Setahun setengah, Ris. Aku bilang kamu nggak akan pernah gerak. Aku bilang dia buang waktu.”

Dia berhenti.

Dan sesuatu terjadi di wajahnya — sesuatu yang aku tidak mengerti sama sekali hari itu, dan yang baru aku mengerti berbulan-bulan kemudian di ruang ganti yang sama.

Dia terlihat bersalah.

“Dan aku benar,” katanya, pelan. “Dan aku nggak pernah sebenci ini sama diri aku sendiri.”

Dia pergi.


Aku menunggu Bagas di parkiran pulang sekolah.

Dia melihatku dari jauh dan tetap berjalan ke motornya, dan itu artinya dia tidak akan menghindar, dan itu lebih dari yang aku pantas dapatkan.

“Gas.”

“Hm.”

“Boleh gue ngomong?”

Dia membuka jok, mengambil helmnya. “Ngomong.”

“Gue mau minta maaf.”

“Udah.”

“Gas—“

“Gue udah maafin lo hari Rabu malem.” Dia menutup jok. “Gue nggak marah. Gue cuma nggak bisa ngomong sama lo kayak biasa dulu. Itu dua hal beda.”

“Berapa lama?”

“Nggak tau.”

Dia memasang helmnya.

“Bagas.”

Dia berhenti dengan tali helm setengah terpasang.

“Lo jadi nembak dia hari ini?”

Dan Bagas menatapku dari balik helm dengan tatapan yang membuatku merasa berumur sepuluh tahun.

“Enggak,” katanya.

“Kenapa?”

“Karena gue baca empat belas halaman.”

Dia mengencangkan tali helmnya.

“Ris, gue bukan orang pinter. Gue nggak bisa mikir kayak lo.” Dia menghidupkan motor. “Tapi gue tau satu hal. Gue baca catetan lo, terus gue mikir, kalau gue punya perasaan sekuat itu ke dia, gue bakal nulis apa?”

Dia menoleh.

“Gue nggak bisa jawab,” katanya. “Gue nggak punya apa-apa buat ditulis. Gue cuma tau dia kerja keras di aula kosong dan itu bikin gue kagum.”

Motornya menyala.

“Itu bukan cinta, Ris. Itu kagum.” Dia mengangkat kaki dari tanah. “Gue baru tau bedanya kemarin, dan gue tau karena gue baca punya lo.”

“Gas—“

“Gue mundur.” Dia menarik gas. “Bukan buat lo. Buat dia.”

Dan dia pergi.

Dan berhenti sepuluh meter kemudian, dan berbalik, dan berteriak melintasi parkiran dengan suara yang bisa membelah beton:

“DAN KALAU LO TETEP DIEM SETELAH INI, GUE BENERAN MUKUL LO.”

Tiga anak kelas X menoleh.

Bagas pergi.


Aku berdiri di parkiran selama mungkin dua menit.

Lalu aku berlari.


Aku ingin menceritakan bagian ini dengan tepat, karena semua orang mengira momen seperti ini terasa heroik.

Tidak.

Aku berlari keluar gerbang dan menyadari bahwa aku tidak tahu ke mana. Aku tidak tahu tempat lesnya yang baru. Aku tidak tahu rumahnya — aku tahu arahnya, timur, itu saja, karena mobil sekolah. Aku tidak punya nomornya. Delapan bulan mencatat dan aku tidak pernah punya nomornya, karena meminta nomor seseorang adalah tindakan orang yang meminta.

Aku berdiri di trotoar depan gerbang dengan napas terengah dan menyadari bahwa arsitektur yang aku bangun selama tujuh belas tahun bekerja dengan sangat baik: aku telah berhasil membuat hidup di mana aku tidak bisa menghubungi satu-satunya orang yang aku inginkan.

Aku kembali ke sekolah.

Aku ke ruang OSIS. Kosong.

Aku ke kelas XI IPA 1. Kosong, kursi sudah dinaikkan.

Aku ke aula. Ke kantin. Ke lapangan.

Dan lalu aku berhenti di tengah koridor timur, dengan seragam basah di punggung, dan aku berpikir seperti orang yang menjaga perpustakaan.

Aku berpikir: dia bilang mau kursi menghadap jendela. Satu, bukan dua. Supaya jelas itu buat sendirian.

Aku berjalan ke perpustakaan.

Aku membuka kunci dan masuk.

Kosong. Tentu saja kosong; sudah pukul tiga, sudah aku kunci satu jam lalu.

Aku berdiri di ruangan itu di antara rak-rak yang aku susun sendiri selama setahun, dan aku merasa sangat, sangat bodoh.

Lalu aku melihat kursi di ujung lorong rak 800.

Kursi dari meja panjang. Yang dia pindahkan tiga minggu lalu. Yang tidak pernah aku kembalikan ke tempatnya.

Aku menatap kursi itu selama beberapa detik.

Lalu aku mengambil pena dan kertas dari meja sirkulasi, dan menulis, dan menempelkannya di pintu kaca perpustakaan dari dalam sehingga terbaca dari koridor:

SELASA & KAMIS, ISTIRAHAT KEDUA. AKU DI SINI. — A.F.

Lalu aku mengunci pintu dan pulang.

Dan itu, aku sadar di angkot, adalah hal paling pengecut yang bisa dilakukan seseorang: menunggu.

Aku turun dari angkot dua halte sebelum rumahku.


Rumahnya tidak sulit ditemukan, ternyata.

Aku sudah tahu arahnya. Aku tahu nama kompleksnya karena mobil sekolah menyebutkannya hari Sabtu. Aku bertanya pada satpam kompleks, dan satpam kompleks bertanya cari siapa, dan aku bilang nama lengkapnya, dan beliau bilang blok C nomor sebelas.

Butuh empat puluh menit total, termasuk salah belok dua kali.

Aku berdiri di depan pagar blok C nomor sebelas pukul lima sore dengan seragam yang sudah tidak layak dan tas yang berat dan tidak ada satu pun kalimat yang disiapkan.

Aku memencet bel.

Seorang perempuan paruh baya membuka pintu — ibunya, wajahnya sama di bagian mata — dan melihatku dari ujung ke ujung.

“Cari siapa?”

“Amara ada, Bu?”

“Kamu siapa?”

Dan aku hampir berkata teman sekolah.

Aku merasakan kalimat itu naik, otomatis, aman, benar secara teknis.

“Saya Aris,” kataku. “Saya yang salah.”

Ibunya menatapku.

Lalu — dan aku tidak akan pernah tahu apa yang beliau simpulkan dalam tiga detik itu — beliau menoleh ke dalam dan memanggil.

“Amara. Ada tamu.”


Dia keluar memakai kaus dan celana pendek dan rambut yang basah dari mandi, dan berhenti begitu melihatku, dan wajahnya tidak menunjukkan apa pun.

Ibunya masuk. Pintu ditutup setengah.

Kami berdiri di teras dengan pagar di antara kami karena tidak ada yang membukanya.

“Ngapain.”

“Gue mau ngomong.”

“Aku ada les jam enam.”

“Lo pindah les ke Selasa sama Kamis.”

Amara berhenti.

“Vela cerita,” kataku.

Dia melipat tangan.

Sore itu tidak hujan. Aku ingat itu dengan jelas karena selama berbulan-bulan setiap hal penting terjadi saat hujan, dan hari itu langitnya bersih dan jingga dan sama sekali tidak dramatis.

“Ngomong,” katanya.

Dan aku membuka mulut.

Dan aku menyadari bahwa aku belum pernah, seumur hidupku, mengucapkan kalimat yang meminta sesuatu.

“Gue—“ Aku berhenti.

Amara menunggu.

Dan aku melihat sesuatu di wajahnya yang membuat perutku dingin: dia tidak sedang menunggu dengan harapan.

Dia sedang menunggu dengan sabar.

Seperti orang yang sudah tahu kalimat ini akan gagal, dan sudah memutuskan untuk berdiri di sana sampai gagal, karena dia sopan.

Itu yang mengeluarkannya.

“Gue suka kamu,” kataku.

Pagar. Jingga. Suara televisi dari dalam rumah.

Amara tidak bergerak.

“Sabtu itu gue bohong,” kataku. “Senin itu gue bohong. Gue bilang karena Bagas, dan itu bukan alasan, itu tempat sembunyi. Gue pakai nama sahabat gue buat nutupin bahwa gue takut.”

“Takut apa?”

“Takut minta.”

Dia mengerjap.

“Gue nggak pernah minta apa-apa ke siapa pun seumur hidup gue,” kataku, dan suaraku pecah di tengah dan aku membiarkannya. “Bukan karena gue baik. Karena kalau gue nggak pernah minta, gue nggak pernah bisa ditolak. Kalau gue nggak pernah ikut, gue nggak pernah bisa kalah.”

Amara memegang pagar.

“Bapak gue pergi waktu gue sepuluh,” kataku. “Gue nggak pernah cerita ini ke siapa pun kecuali Bagas, dan Bagas tahu bukan karena gue cerita, tapi karena dia ada di situ.”

Aku menarik napas dan udara masuk tidak rata.

“Dan gue mikir, kalau gue jadi orang yang ngasih terus, orang nggak akan pergi. Karena mereka butuh gue. Karena gue berguna.” Aku menggeleng. “Itu bukan baik, Amara. Itu dagang. Gue dagang selama tujuh belas tahun dan gue nggak pernah nyadar.”

Sore itu sangat sunyi.

“Empat belas halaman,” kataku.

“Apa?”

“Gue nulis empat belas halaman tentang kamu sejak Agustus.” Aku menelan. “Gue kasih Bagas empat poin. Sisanya gue simpan di laci yang gue kunci tiap malam, dan gue bilang ke diri gue sendiri itu kebiasaan nyatat.”

Amara menatapku.

“Gue tahu waktu di lorong rak,” kataku. “Gue tahu waktu di perpustakaan pas kamu bilang satu setengah tahun. Gue ngerti. Gue ngerti tiap kali dan gue mutusin buat nggak ngerti.”

“Kenapa?”

“Karena kalau gue ngerti, gue harus jadi orang yang minta.”

Suara televisi dari dalam rumah.

“Dan gue nggak tahu caranya,” kataku. “Gue masih nggak tahu caranya. Gue berdiri di sini dan gue nggak punya kalimat, karena gue nggak pernah bikin satu pun kalimat yang artinya iya, bahkan buat latihan.”

Aku memegang pagar.

“Tapi gue mau belajar,” kataku. “Kalau kamu masih mau.”


Amara tidak berkata apa-apa selama waktu yang sangat lama.

Cukup lama sampai aku mulai menyusun cara pergi dari teras itu dengan sopan.

Lalu dia membuka pagar.

Dia tidak masuk ke dalam. Dia membuka pagar dan keluar dan berdiri di trotoar di depanku, dengan kaki telanjang di semen, dan rambut yang masih basah, dan wajah yang akhirnya bukan wajah koridor.

“Aku mau kamu ngerti sesuatu,” katanya.

“Iya.”

“Aku nggak marah sama kamu karena kamu nolak aku.” Suaranya bergetar. “Aku marah karena kamu nolak aku pakai alasan orang lain. Kamu bahkan nggak kasih aku kehormatan buat ditolak sama kamu.”

“Gue tahu.”

“Dan aku juga salah,” katanya.

Aku mengangkat wajah.

“Aku tahu kamu bohong soal survei buku itu,” katanya. “Aku sudah tanya Pak Hendra. Aku tahu, dan aku diam, karena kalau aku nanya lebih jauh mungkin semuanya berhenti.”

Dia mengusap matanya dengan pergelangan.

“Aku ngasih tanda satu setengah tahun dan nggak pernah sekali pun ngomong, dan aku bilang ke diri aku sendiri itu karena aku nunggu kamu sadar.” Dia menggeleng. “Bukan. Itu karena kalau aku yang ngomong, aku jadi orang yang ngejar. Dan aku lebih takut jadi bahan omongan daripada takut kehilangan kamu.”

“Amara—“

“Jadi kita berdua pengecut,” katanya. “Cuma pengecutnya beda bentuk.”

Langit sudah lebih jingga.

“Ris.”

“Ya?”

“Bilang lagi.”

“Apa?”

“Yang tadi.” Dia menatapku. “Bilang lagi. Sekarang aku dengerin beneran.”

Dan aku berdiri di trotoar depan blok C nomor sebelas pada Jumat sore pukul lima lewat, dan aku berkata:

“Gue suka kamu.”

Amara menutup matanya.

Lalu dia mengulurkan tangannya dan mengambil tanganku.

Bukan menyentuh. Mengambil — dia menggenggamnya, dengan sengaja, dengan seluruh jari, dan aku merasakan tangannya dingin di luar dan hangat di telapak dan sedikit gemetar.

Aku tidak bergerak.

Dan dia menahannya di sana, dan setelah beberapa detik dia berkata, pelan:

“Sekarang kamu.”

Aku menutup jariku.