Chapter Twenty Three
Sembilan Belas Menit
POV: Aris (orang pertama)
Bagas mengajakku main futsal pada hari Sabtu.
Bukan menonton. Main.
“Gue nggak bisa main.”
“Gue tau.”
“Gue beneran nggak bisa.”
“Ris, gue udah lihat lo di lapangan Jumat kemarin. Gue tau lo nggak bisa.” Dia mengunci ponselnya. “Justru itu.”
“Justru apa?”
“Justru gue mau lihat lo jelek di sesuatu,” katanya. “Sekali aja.”
Lapangan futsal sewaan di belakang pasar, pukul tujuh pagi, karena itu jam paling murah.
Ada enam orang: Bagas, Ekek, tiga anak tim futsal yang aku tahu wajahnya dan tidak tahu namanya sampai hari itu (Rizal, Fatur, Gilang), dan aku.
Bagas melempar rompi ke arahku.
“Lo satu tim sama gue.”
“Kenapa?”
“Karena kalau lo satu tim sama Ekek, lo bakal mati.”
“GUE DENGER.”
“GUE EMANG MAU LO DENGER.”
Aku ingin melaporkan hasilnya dengan jujur.
Aku bermain sembilan belas menit sebelum aku harus duduk.
Selama sembilan belas menit itu, aku menyentuh bola empat kali. Tiga di antaranya karena bola menabrak kakiku. Satu karena Bagas mengoper padaku dari jarak dua meter dengan kekuatan yang jelas-jelas dikurangi, dan aku menendangnya keluar lapangan.
Ekek merayakan seolah dia mencetak gol.
“KELUAR! KELUAR CUY! DARI JARAK DUA METER!”
“Ekek.”
“GUE NGGAK NYANGKA MANUSIA BISA—“
Dan lalu Ekek terpeleset di air bekas hujan semalam dan jatuh dengan bunyi yang sangat memuaskan, dan seluruh lapangan berhenti, dan Bagas duduk di lantai karena dia tertawa terlalu keras untuk berdiri.
Aku ikut tertawa.
Itu yang mengejutkan aku. Bukan bahwa aku bermain buruk — itu bisa diprediksi. Tapi bahwa aku berdiri di tengah lapangan futsal sewaan pukul setengah delapan pagi, dengan kaus basah dan napas terengah, tertawa pada seseorang yang jatuh.
Rizal menepuk punggungku waktu lewat.
“Nggak apa-apa, Bang. Lo tuh mainnya kayak orang yang lagi mikirin sesuatu.”
“Gue emang mikirin sesuatu.”
“Nah, itu masalahnya.” Dia mengambil bola. “Futsal tuh nggak boleh mikir.”
Aku duduk di pinggir lapangan pada menit kedua puluh.
Bagas menyusul lima menit kemudian, melempar dirinya duduk di sebelahku, dan menyodorkan botol minumnya yang sudah tinggal seperempat dan hangat.
Kali ini aku menerimanya.
“Lo parah banget.”
“Gue tahu.”
“Gue serius, Ris. Gue udah main sama banyak orang. Ada yang jelek. Lo tuh bukan jelek.”
“Terus apa?”
“Lo tuh kayak orang yang belum pernah dikasih tau bahwa dia boleh ngambil bola.”
Aku minum.
“Apa maksudnya.”
“Serius, coba lo inget.” Dia menunjuk lapangan. “Tiap kali bolanya ada di deket lo, lo mundur. Bukan takut. Lo tuh mundur kayak ngasih jalan. Kayak lo mikir bolanya buat orang lain.”
Rizal mencetak gol. Ekek berteriak protes tentang sesuatu yang tidak jelas.
“Gue nggak sadar,” kataku.
“Gue tau lo nggak sadar.” Bagas mengambil botolnya kembali. “Itu bagian yang bikin gue pengin nangis.”
Kami duduk di sana beberapa saat.
Dan lalu, tanpa mengubah nada suaranya sama sekali, Bagas berkata:
“Ris, gue mau ngomong sesuatu terus abis itu kita nggak usah bahas lagi.”
“Oke.”
“Gue masih kepikiran.”
Aku menoleh.
“Bukan soal Amara,” katanya cepat. “Beneran. Itu udah selesai. Gue liat kalian di kantin minggu lalu dan gue nggak ngerasa apa-apa, dan gue nunggu sampai malem buat mastiin, dan tetep nggak ngerasa apa-apa.”
“Terus?”
Bagas memutar botol di tangannya.
“Gue kepikiran soal tujuh tahun.”
Lapangan berisik. Bola menghantam papan.
“Gue mikir terus,” katanya. “Sejak malem itu. Gue coba inget-inget, dari SMP, kapan sih gue pernah nanya lo mau apa.”
“Bagas—“
“Gue nemu satu.” Dia mengangkat satu jari. “Satu, Ris. Tujuh tahun. Kelas dua SMP, gue nanya lo mau es krim rasa apa.”
“Itu cukup.”
“ITU NGGAK CUKUP.”
Dia melempar botolnya ke tas.
“Dan yang bikin gue nggak bisa tidur,” katanya, “bukan bahwa gue nggak nanya. Tapi bahwa gue nggak pernah ngerasa aneh. Tujuh tahun, Ris. Gue nggak pernah sekali pun mikir, ‘kok si Aris nggak pernah minta apa-apa ya, aneh nih.’”
Dia menggosok wajahnya.
“Gue cuma nerima. Kayak air keran.”
Aku memandangi lapangan.
“Gas.”
“Hm.”
“Itu gue yang bikin.”
“Gue tau.”
“Enggak, dengerin.” Aku menoleh. “Gue bikin diri gue jadi kayak gitu. Sengaja. Gue bikin gue jadi orang yang gampang. Karena orang yang gampang nggak ditinggalin.”
Bagas diam.
“Jadi lo nggak salah karena nggak nanya,” kataku. “Gue yang ngedesain supaya nggak ada yang nanya.”
Bola menghantam papan lagi.
“Anjir,” kata Bagas pelan.
“Iya.”
“Itu jahat banget.”
“Iya.”
“Gue nggak tau ke siapa, tapi itu jahat banget.”
Dan aku tertawa. Pendek, dan tidak lucu.
“Ke gue,” kataku.
Kami bermain satu babak lagi. Aku duduk.
Pukul sembilan lewat, semuanya selesai, dan enam orang berkeringat duduk di warung di depan lapangan minum es teh yang harganya tiga ribu.
Ekek menempelkan gelas dingin ke lututnya yang lecet.
“Gue tuh sebenernya jago,” katanya. “Cuma lapangannya licin.”
“Lo jatoh sendiri, Kek.”
“KARENA LICIN.”
“Nggak ada yang jatoh selain lo.”
“KARENA GUE YANG PALING CEPET.”
Fatur, yang belum bicara sekali pun sepanjang pagi, berkata: “Logikanya lucu.”
Dan Ekek menoleh dengan wajah pengkhianatan sedalam samudra.
“FATUR. LO NGOMONG.”
“Gue emang bisa ngomong.”
“LO NGGAK PERNAH NGOMONG SELAMA DUA TAHUN.”
“Gue ngomong kalau ada yang perlu dikomentarin.”
Bagas menghantam meja, tertawa.
Dan aku duduk di bangku panjang warung itu, dengan es teh tiga ribu di tangan, di antara lima orang yang tidak satu pun aku kenal dengan baik kecuali satu, dan aku menyadari bahwa aku sedang tidak melakukan apa-apa yang berguna.
Aku tidak sedang membantu siapa pun.
Aku tidak sedang mencatat apa pun.
Aku duduk di sana, tidak berguna, dan tidak ada yang mengusirku.
Bagas mengantarku pulang.
Di depan gang, dia mematikan mesin — dia selalu mematikan mesin di depan gang, sejak dulu, karena aku pernah bilang ibuku tidur.
“Ris.”
“Hm.”
“Gue mau minta sesuatu.”
“Minta.”
“Ini bakal aneh.”
“Minta aja.”
Bagas memegang helmnya dengan dua tangan.
“Gue mau lo minta sesuatu ke gue,” katanya.
Aku menoleh.
“Apa aja,” katanya. “Beneran apa aja. Gue nggak peduli sekecil apa. Gue cuma mau denger lo minta sesuatu ke gue sekali dalam tujuh tahun.”
Gang. Ayam tetangga. Suara televisi dari rumah sebelah.
Aku duduk di jok belakang motor yang mesinnya mati dan tidak bisa memikirkan satu hal pun.
Bukan karena aku tidak butuh apa-apa. Karena setiap kali sesuatu muncul di kepalaku, ada mesin yang langsung memeriksanya: ini merepotkan nggak. Ini bikin dia rugi nggak. Ini bikin dia mikir gue ngerepotin nggak.
Dan mesin itu menolak semuanya dalam waktu kurang dari sedetik.
“Gue nggak bisa,” kataku.
“Coba.”
“Gue lagi nyoba.”
“Ris.”
“Gue LAGI NYOBA, Gas.”
Suaraku naik dan aku terkejut sendiri, dan Bagas juga terkejut, dan kami berdua diam.
“Sori,” kataku.
“Nggak apa-apa.” Dia menaruh helmnya di jok. “Itu bagus, malah.”
“Bagian mananya bagus.”
“Bagian lo teriak.”
Aku menggosok wajahku.
Dan lalu, dari suatu tempat yang tidak aku duga, sesuatu muncul.
Sesuatu yang sangat kecil dan sangat konyol dan sama sekali tidak penting.
“Gas.”
“Hm.”
“Kalau lo lewat depan rumah gue,” kataku, “jangan gas motor lo di gang.”
Bagas menoleh.
“Bukan pas nganterin gue,” kataku cepat. “Lo udah matiin mesin kalau nganterin gue. Maksud gue kalau lo lewat aja, mau ke rumah Ekek atau ke mana. Lo suka narik gas di tikungan itu.”
Dia menatapku.
“Ibu gue tidur siang,” kataku. “Shift malem.”
Hening.
“Itu doang?” katanya.
“Iya.”
“Itu permintaan lo?”
“Iya.”
Dan Bagas menutup matanya dan menghela napas panjang dan berkata:
“Anjir, Ris. Tujuh tahun. Lo bisa minta gue beliin motor.”
“Gue nggak mau motor.”
“GUE JUGA NGGAK BAKAL BELIIN. TAPI LO BISA MINTA.”
Dia memasang helmnya.
“Oke,” katanya. “Gue nggak akan narik gas di gang lo. Sumpah.”
“Makasih.”
“Jangan makasih.”
“Kenapa?”
Bagas menghidupkan motornya — pelan, dengan gas seminimal mungkin.
“Karena orang yang minta nggak usah bilang makasih buat dikasih,” katanya. “Itu bikin permintaannya jadi utang.”
Dan dia pergi, keluar dari gang dengan kecepatan orang tua, tanpa menarik gas sekali pun.
Malam itu, aku menulis di halaman Hari ini:
Sabtu. Main futsal 19 menit. Nyentuh bola 4 kali, 3 nggak sengaja. Nendang keluar dari jarak 2 meter.
Ekek jatoh. Gue ketawa.
Bagas bilang gue mundur tiap kali bola deket. Katanya gue kayak ngasih jalan.
Gue minta sesuatu ke Bagas. Pertama kali dalam 7 tahun.
Isinya: jangan narik gas di gang.
Aku menatap baris terakhir.
Lalu aku menambahkan:
Kecil banget. Tapi tangan gue keringetan pas ngomong.
Dan pada hari Minggu, pukul sebelas pagi, ponselku bergetar.
Vela: Aris.
Vela: Aku mau ketemu.
Vela: Sendirian. Jangan bilang Amara.
Aku menatap layarnya.
Aris: kenapa?
Ada jeda yang panjang. Cukup panjang sampai aku sempat menaruh ponsel, mengambil piring, dan kembali.
Vela: Karena aku mau ngomong sesuatu ke dia besok
Vela: dan kamu berhak tau lebih dulu
Vela: karena setengahnya tentang kamu
- 1 Permintaan yang Tidak Bisa Kutolak
- 2 Rencana Pertama dan Kegagalan Pertama
- 3 Selasa dan Kamis
- 4 Daftar yang Salah Alamat
- 5 Termos yang Salah Terima
- 6 Kerja Kelompok Lintas Kelas
- 7 Yang Tidak Kuingat
- 8 Dua Menit di Belakang Aula
- 9 Satu Setengah Tahun
- 10 Rak 800
- 11 Pertanyaan yang Salah Jawab
- 12 Prasangka
- 13 Lapangan Upacara
- 14 Senin
- 15 Empat Belas Halaman
- 16 Sekarang Kamu
- 17 Minggu Pertama
- 18 Bawa Diri Kamu Aja
- 19 Kok Dia
- 20 Payung
- 21 Bimo
- 22 Tiga Puluh Delapan Koma Empat
- 23 Sembilan Belas Menit reading
- 24 Yang Vela Simpan
- 25 Yang Kudengar dari Balik Pintu
- 26 Kering Sendirian
- 27 Sepeda
- 28 Ruang Ganti
- 29 Empat Hari
- 30 Saya Butuh Orang
- 31 Lapangan yang Sama
- 32 Aku Duluan