Chapter Fourteen
Senin
POV: Aris (orang pertama)
Minggu berlangsung selama kira-kira empat hari.
Aku bangun pukul enam karena tubuhku tidak tahu ini hari libur. Aku menyapu teras. Aku mencuci sepatu yang basah dan menjemurnya. Aku menyetrika seragam untuk seminggu penuh, lima potong, yang biasanya aku lakukan dua potong sekali dan sisanya seadanya.
Ibuku memperhatikan semua itu dari dapur tanpa berkomentar.
Pukul sebelas beliau datang membawa dua gelas teh dan duduk di kursi plastik di teras, dan meletakkan satu gelas di lantai di sebelahku.
“Kamu setrika lima.”
“Iya.”
“Biasanya dua.”
“Iya.”
Beliau minum tehnya.
“Ibu nggak nanya,” kata beliau. “Ibu cuma ngasih tahu kamu, kalau nanti mau cerita, Ibu di sini.”
“Iya, Bu.”
Kami duduk di teras selama mungkin dua puluh menit tanpa berkata apa-apa lagi. Ada anak-anak main bola di ujung gang. Ada tukang bakso lewat dua kali.
Menjelang beliau berdiri untuk masuk, beliau berkata — ringan, seperti menyebut cuaca:
“Ris.”
“Ya?”
“Kamu tahu nggak, kamu itu dari kecil kalau ditawarin sesuatu selalu bilang nggak usah.”
Aku memegang gelas teh.
“Ibu pernah tawarin kamu sepeda pas kelas empat. Kamu bilang nggak usah, nanti Ibu nggak punya uang.”
“Emang nggak punya.”
“Emang nggak punya,” beliau mengakui. “Tapi kamu umur sepuluh. Anak umur sepuluh nggak seharusnya ngitung uang ibunya.”
Beliau membuka pintu.
“Ibu nggak marah, ya. Ibu cuma kadang mikir, kamu tuh nggak pernah kasih Ibu kesempatan buat ngasih kamu apa-apa.”
Pintu tertutup.
Aku duduk di teras dengan teh yang sudah dingin sampai matahari pindah.
Senin.
Aku sampai sekolah pukul enam lewat dua puluh, lebih awal dari biasanya.
Perpustakaan tutup hari Senin karena latihan upacara. Jadi tidak ada tempat untuk bersembunyi, dan aku berdiri di koridor timur seperti orang biasa, dan itu terasa salah, seperti memakai sepatu orang lain.
Upacara dimulai pukul tujuh.
Aku berdiri di barisan kelas XI IPA 2, deret ketiga, dan di seberang lapangan barisan kelas XI IPA 1 berdiri di tempat mereka biasanya berdiri.
Aku tidak melihat ke sana.
Pembina upacara bicara tentang kedisiplinan selama dua belas menit. Bendera naik. Semua orang menyanyi.
Dan aku berdiri di beton yang hari Sabtu masih basah, di lapangan yang sama, dan menghitung: dari tempatku berdiri sekarang ke tempat aku berdiri hari Sabtu, jaraknya kira-kira lima langkah.
Tidak ada yang pingsan hari itu.
Amara menemukanku pukul sepuluh, di koridor lantai dua, di antara ruang kelas dan tangga.
Bukan di perpustakaan. Perpustakaan tutup, dan dia tahu itu, dan aku mengerti bahwa dia sengaja memilih tempat yang tidak punya kenangan apa-apa.
Koridor lantai dua pukul sepuluh sedang kosong karena semua kelas sedang berlangsung. Kami berdua sedang tidak di kelas — dia karena dia ketua sesuatu dan punya alasan permanen, aku karena aku minta izin ke toilet dan tidak kembali.
Dia berdiri di dekat jendela.
Rambutnya diikat. Seragam rapi. Wajah koridor.
“Pagi.”
“Pagi.”
Dan dia tidak bertanya.
Itu yang tidak aku siapkan. Aku sudah menyiapkan diri untuk ditanya — jadi gimana — dan aku punya kalimat pembuka yang sudah aku putar berkali-kali.
Amara tidak bertanya apa-apa. Dia berdiri di dekat jendela dan menunggu, dan dengan begitu dia memaksaku menjadi orang yang memulai.
Dia sudah tahu. Aku baru mengerti belakangan. Dia sudah tahu jawabannya sejak detik ketujuh di lapangan hari Sabtu, dan seluruh keperluan Senin ini bukan untuk mendengar jawabannya.
Itu untuk membuatku mengucapkannya sendiri.
“Amara.”
“Ya.”
Kalimat pertama dari sebelas.
“Gue nggak bisa.”
Dia mengangguk. Sekali.
“Kenapa?”
Dan aku memberikan alasan yang sudah aku susun selama enam hari, yang aku periksa dari segala sudut, yang tidak punya satu pun celah:
“Karena Bagas.”
Amara memandang keluar jendela.
“Dia yang minta lebih dulu,” kataku. “Dia dateng ke gue sebelum ini semua ada. Dia cerita ke gue soal lo sebelum gue—“
Aku berhenti.
“Sebelum kamu apa?”
“Sebelum apa-apa,” kataku.
Dia tidak memaksa. Dia tidak mengejar kalimat yang aku potong. Itu, dari semua yang dia lakukan hari itu, mungkin yang paling murah hati, dan aku tidak pantas menerimanya.
“Dia sahabat gue tujuh tahun,” kataku. “Waktu bokap gue pergi, gue nggak keluar kamar empat hari. Dia ngetuk pintu tiap hari. Hari kelima gue buka, dan dia nggak nanya apa-apa, dia cuma bilang ayo main.”
Ada suara guru mengajar dari kelas di ujung koridor.
“Gue nggak bisa ngambil ini dari dia.”
Dan aku berhenti, dan aku menunggu, dan aku — Tuhan, aku baru menyadari ini bertahun-tahun kemudian dan rasanya seperti menemukan sesuatu yang busuk di belakang lemari — aku menunggu dia bilang bahwa aku baik.
Itu yang aku tunggu.
Aku baru saja menghancurkan seseorang di koridor lantai dua dan sebagian dari diriku sedang menunggu dia mengkonfirmasi bahwa aku melakukannya karena aku orang yang baik.
Amara berbalik dari jendela.
“Boleh aku ngomong satu hal?”
“Boleh.”
“Terus kamu nggak usah jawab.”
“Oke.”
Dia menyandarkan punggungnya ke ambang jendela.
“Bagas nggak minta kamu buat nggak suka aku,” katanya. “Dia minta kamu bantuin dia. Itu dua hal yang beda, dan kamu nyampur dua-duanya jadi satu supaya kamu punya alasan yang keliatan mulia.”
Koridor sangat sunyi.
“Dan kamu tahu itu,” katanya. “Kamu pinter, Ris. Kamu tahu itu.”
“Amara—“
“Aku belum selesai.” Suaranya tidak naik. “Kamu bilang kamu nggak bisa ngambil ini dari dia. Tapi aku bukan barang. Aku bukan sesuatu yang bisa diambil dari orang. Aku belum pernah jadi punya dia sedetik pun.”
Aku menatap lantai.
“Kalau kamu bilang tidak karena kamu nggak suka aku, aku bakal terima. Sakit, tapi terima. Itu hak kamu.” Dia berhenti. “Tapi kamu nggak bilang itu.”
Hening.
“Kenapa kamu nggak bilang itu, Ris?”
Dan aku berdiri di koridor lantai dua dan tidak menjawab, karena satu-satunya jawaban yang aku punya akan meruntuhkan seluruh bangunan yang aku dirikan.
Amara menunggu.
Lalu dia mengangguk — pelan, seperti orang menutup buku.
“Oke,” katanya.
Dan lalu dia melakukan hal yang paling menghancurkan yang bisa dilakukan seseorang, dan dia melakukannya tanpa tahu itu menghancurkan, karena dia melakukannya karena dia memang orang yang seperti itu.
Dia berdiri tegak. Merapikan tali tasnya. Dan berkata:
“Makasih ya udah jujur.”
Sesuatu di dadaku pecah dengan sangat pelan dan sangat sopan.
“Amara.”
“Aku serius.” Dia bahkan tersenyum sedikit, dan senyumnya benar semua bentuknya, dan matanya ikut kali ini, dan itu jauh, jauh lebih buruk. “Ada empat orang yang pernah nembak aku dan nggak ada satu pun yang mau ngomong lagi sama aku setelahnya. Kamu jawab langsung dan kamu jelasin alasannya. Itu lebih dari yang aku dapet biasanya.”
“Itu bukan—“
“Aku nggak akan aneh,” katanya. “Aku tetap ke perpustakaan. Kamu tetap jaga perpustakaan. Nggak ada yang berubah.”
“Amara, tunggu—“
“Aku ada rapat OSIS jam sebelas.”
Dia menyandang tasnya.
Dan dia berjalan melewatiku menuju tangga.
Dan pada saat dia melewatiku, dari jarak setengah meter, aku melihatnya.
Tasnya terbuka sedikit di bagian atas — ritsleting yang tidak ditarik penuh, karena isinya terlalu penuh, karena dia baru selesai rapat sesuatu dan membawa map.
Dan di dalamnya, terselip di antara map dan buku, ada gagang payung.
Warna biru tua. Dengan pita perekat di ujung gagang yang mulai terkelupas karena aku pernah memperbaikinya sendiri dengan lakban hitam dan hasilnya jelek.
Payungku.
Yang dia pinjam pada suatu Kamis di koridor timur, dua bulan lalu, ketika dia bilang kalau aku ambil ini, aku nggak akan balikin cepat-cepat, dan aku bilang denda di sini nol rupiah.
Dia masih membawanya.
Ke sekolah. Hari itu. Pada hari dia tahu dia akan ditolak.
Aku melihatnya.
Dia tahu aku melihatnya — aku tahu dia tahu, karena langkahnya berhenti setengah detik dan tangannya bergerak sedikit ke arah tas dan lalu berhenti, karena menutup ritsleting sekarang akan berarti mengakui bahwa ada sesuatu yang perlu ditutup.
Kami berdua berdiri di koridor lantai dua selama satu detik penuh dengan payung itu di antara kami.
Aku tidak berkata apa-apa.
Aku tidak berkata apa-apa.
Amara berjalan ke tangga dan turun dan tidak menoleh.
Aku tidak masuk kelas sisa hari itu.
Aku pergi ke perpustakaan — yang tutup, yang kuncinya ada di kantongku — dan aku membukanya dan menutup pintunya kembali dan tidak menyalakan lampu.
Perpustakaan tanpa lampu pada hari Senin siang punya warna yang aneh. Cahaya cuma masuk dari dua jendela di sisi timur, jadi setengah ruangan terang dan setengahnya lagi tidak ada.
Aku duduk di kursi di belakang meja sirkulasi.
Aku tidak menangis. Aku ingin mencatat ini bukan karena aku bangga — sebaliknya. Aku tidak menangis, dan yang aku rasakan tentang itu adalah semacam kelegaan yang membuat perutku sakit, karena artinya sistemnya masih bekerja.
Aku duduk di sana selama dua jam.
Dan pada suatu titik di antara jam itu, aku melakukan hal yang aku lakukan setiap kali sesuatu terjadi: aku mulai menyusun.
Aku menyusun ini menjadi cerita yang bisa aku bawa.
Gue melakukan hal yang benar.
Bagas minta lebih dulu.
Amara akan baik-baik saja; dia kuat, dia selalu kuat, dia berdiri di podium dan memperbaiki kesalahannya dalam setengah detik.
Dia bahkan bilang makasih.
Dia bilang makasih.
Kalimat itu yang paling bagus. Kalimat itu yang bisa aku pakai untuk waktu yang lama.
Dan aku memasangnya di atas semuanya, seperti batu di atas kertas yang mau terbang, dan aku duduk di perpustakaan yang setengah gelap dan merasakan sesuatu yang bentuknya sangat mirip damai.
Lalu aku ingat gagang payung biru tua dengan lakban hitam yang terkelupas.
Dan batunya bergeser.
Aku memasang batu yang lebih besar.
Dan bergeser lagi.
Aku duduk di sana sampai bel pulang berbunyi dan seluruh sekolah bergerak keluar dan suaranya sampai ke perpustakaan lewat tembok, tertunda setengah detik, seperti dari gudang.
Bagas menemukanku di gerbang.
“RIS!”
Dia menghantam bahuku dengan telapak tangan.
“Lo ke mana aja? Gue nyariin lo pas istirahat. Kata Ekek lo izin ke toilet terus ilang.”
“Perpustakaan.”
“Perpustakaan tutup.”
“Gue punya kunci.”
“Anjir, lo punya kunci?” Dia terlihat benar-benar kagum. “Lo bisa masuk kapan aja?”
“Iya.”
“Gila. Lo tuh kayak punya markas rahasia.”
Kami berjalan ke parkiran.
Dan Bagas bicara — tentang latihan, tentang bahwa pelatihnya mengganti formasi, tentang bahwa Ekek jatuh dari tangga hari ini dan tidak apa-apa tapi sangat lucu — dan aku mengangguk di tempat yang tepat.
Di parkiran, dia berhenti di sebelah motornya dan menoleh.
“Ris.”
“Hm.”
“Gue mau ngomong sesuatu.”
Aku menunggu.
“Gue udah mikir dua minggu ini.” Dia memegang helmnya dengan dua tangan. “Soal yang lo bilang. Soal jadi orang yang nggak ngeliatin dia.”
“Terus?”
“Gue mau nembak dia,” katanya. “Beneran kali ini. Hari Jumat.”
Parkiran. Motor. Anak-anak berteriak di kejauhan.
“Jumat?”
“Iya.” Dia menarik napas. “Gue udah nggak mau nunggu. Kalau ditolak ya udah. Setidaknya gue nggak nyimpen sesuatu di kulkas sampai busuk.”
Dia memasang helmnya.
“Menurut lo gimana?”
Dan aku berdiri di parkiran pada hari Senin sore, empat jam setelah aku menolak seorang perempuan di koridor lantai dua dengan alasan bahwa sahabatku minta lebih dulu, dan aku melihat sahabatku itu memasang helmnya dengan tangan yang gemetar sedikit.
Dan aku berkata:
“Bagus.”
Bagas mengacungkan jempol dan menghidupkan motornya.
- 1 Permintaan yang Tidak Bisa Kutolak
- 2 Rencana Pertama dan Kegagalan Pertama
- 3 Selasa dan Kamis
- 4 Daftar yang Salah Alamat
- 5 Termos yang Salah Terima
- 6 Kerja Kelompok Lintas Kelas
- 7 Yang Tidak Kuingat
- 8 Dua Menit di Belakang Aula
- 9 Satu Setengah Tahun
- 10 Rak 800
- 11 Pertanyaan yang Salah Jawab
- 12 Prasangka
- 13 Lapangan Upacara
- 14 Senin reading
- 15 Empat Belas Halaman
- 16 Sekarang Kamu
- 17 Minggu Pertama
- 18 Bawa Diri Kamu Aja
- 19 Kok Dia
- 20 Payung
- 21 Bimo
- 22 Tiga Puluh Delapan Koma Empat
- 23 Sembilan Belas Menit
- 24 Yang Vela Simpan
- 25 Yang Kudengar dari Balik Pintu
- 26 Kering Sendirian
- 27 Sepeda
- 28 Ruang Ganti
- 29 Empat Hari
- 30 Saya Butuh Orang
- 31 Lapangan yang Sama
- 32 Aku Duluan