← Aku Duluan

Chapter Seventeen

Minggu Pertama

POV: Aris (orang pertama)


Senin pagi, aku sampai di gerbang pukul enam lewat empat puluh dan tidak tahu harus berbuat apa.

Ini masalah yang tidak pernah aku antisipasi. Selama tujuh belas tahun, aku selalu tahu apa yang harus aku lakukan di ruangan mana pun: cari yang perlu dikerjakan, kerjakan, jangan berdiri di tengah.

Sekarang aku berdiri di gerbang sekolah dengan status yang belum pernah aku punya, dan tidak ada satu pun buku di perpustakaan itu yang menjelaskan protokolnya.

Apakah aku menunggu?

Apakah menunggu itu wajar, atau apakah menunggu itu tindakan orang yang menuntut?

Kalau aku masuk lebih dulu, apakah itu artinya aku menghindar?

Aku berdiri di sana selama enam menit memikirkan ini, yang merupakan jumlah waktu yang tidak masuk akal untuk dihabiskan pada pertanyaan sesederhana itu, dan pada menit ketujuh sebuah mobil masuk ke pelataran dan Amara turun dan melihatku berdiri di gerbang seperti tiang.

Dia berjalan mendekat.

“Pagi.”

“Pagi.”

“Kamu nunggu?”

“Enggak.”

Amara menatapku.

“Iya,” kataku.

“Bagus.” Dia menyandang tasnya. “Jangan bilang enggak kalau iya.”

“Oke.”

“Ris.”

“Hm.”

“Kamu berdiri di sini berapa lama?”

“Tujuh menit.”

“Ngapain?”

“Mikir apakah nunggu itu wajar atau nggak.”

Amara memandangku beberapa detik.

Lalu dia tertawa — yang keras, yang jarang, yang membuat tiga anak kelas X menoleh — dan menutup mulutnya dengan punggung tangan, dan tetap tertawa di balik tangannya sambil berjalan masuk.

“Kenapa,” kataku, menyusul.

“Nggak apa-apa.”

“Amara.”

“Nanti aku ketawa lagi.”


Hal kedua yang tidak aku antisipasi: sekolah tidak langsung tahu.

Aku pikir akan ada semacam ledakan. Aku pikir pada jam sembilan seluruh angkatan sudah membicarakannya.

Ternyata tidak. Ternyata dua orang yang tidak pernah terlihat bersama sebelumnya bisa berjalan berdampingan masuk gerbang, dan tidak ada yang menyimpulkan apa pun, karena tidak ada yang punya kategori untuk itu.

Yang tahu paling awal adalah Ekek.

Ekek tahu pada hari Selasa, pukul sepuluh lewat dua puluh, karena dia sedang mencari Bagas di koridor lantai satu dan lewat depan perpustakaan dan melihat ke dalam lewat pintu kaca.

Dia berhenti.

Dia mundur satu langkah.

Dia melihat lagi.

Lalu dia membuka pintu perpustakaan — perpustakaan, di mana dia belum pernah masuk seumur hidupnya — dan berdiri di ambang dan berkata dengan volume yang tidak bisa dimaafkan:

“KALIAN PEGANGAN TANGAN?”

Sembilan kepala terangkat.

Amara — yang duduk di meja panjang, yang tangan kirinya memang sedang berada di atas meja dan bertumpang dengan tanganku karena aku sedang berdiri di sisi meja pura-pura membetulkan tumpukan buku — tidak menarik tangannya.

Itu yang aku pelajari tentang Amara minggu itu. Dia tidak pernah menarik tangannya.

“Iya,” katanya.

Ekek berdiri di ambang pintu.

Wajahnya melalui kira-kira empat tahap emosi dalam dua detik, dan tahap terakhirnya adalah semacam kemenangan spiritual.

“GUE UDAH TAU.”

“Lo nggak tau apa-apa,” kataku.

“GUE UDAH TAU DARI DULU.”

“Lo kira Bagas naksir Bu Sarah.”

“ITU STRATEGI PENGALIHAN—“

Dan Pak Hendra keluar dari ruangannya.

Ekek menghilang. Secara harfiah; aku berkedip dan ambang pintu sudah kosong dan ada suara sandal berlari di koridor.

Pak Hendra melihat pintu yang masih bergoyang. Lalu melihat meja panjang. Lalu melihat tanganku dan tangan Amara.

Beliau tidak berkata apa-apa.

Beliau berjalan ke rak 800, mengambil satu buku, dan kembali ke ruangannya.

Amara berbisik: “Dia lihat.”

“Dia selalu lihat.”

“Dia nggak ngomong apa-apa.”

“Dia nggak pernah ngomong apa-apa.” Aku menyusun buku. “Dia bakal nyindir tiga minggu lagi pas kita udah lupa.”


Hal ketiga: Bagas.

Ini yang paling aku takutkan, dan ini yang paling tidak seperti yang aku bayangkan.

Rabu, dia menaruh tasnya di bangku sebelahku seperti biasa, duduk, dan berkata:

“Ekek bilang lo pegangan tangan di perpustakaan.”

Aku menyiapkan diri.

“Iya.”

“Di perpustakaan.”

“Iya.”

Bagas menoleh dengan wajah datar.

“Ris, itu tempat kerja lo.”

“...Apa?”

“Lo pegangan tangan di tempat kerja lo.” Dia menggeleng-geleng, dan mulutnya bergerak, dan aku menyadari dengan sangat terlambat bahwa dia sedang menahan tawa. “Gue nggak nyangka lo tipe kayak gitu.”

“Bagas.”

“Gue kira lo profesional.”

“BAGAS.”

Dan dia tertawa — keras, sekali, dengan cara yang membuat seluruh kelas menoleh dan tidak mengganggu siapa pun — dan aku merasakan sesuatu di dadaku terbuka dengan bunyi yang hampir bisa didengar.

Lalu dia berhenti tertawa.

“Ris.”

“Hm.”

“Gue masih belum bisa ngobrol kayak dulu.”

“Gue tahu.”

“Gue lagi usaha.”

“Gue tahu.”

Dia membuka bukunya.

“Tapi gue bisa becandain lo,” katanya. “Itu udah kemajuan.”


Yang tidak aku antisipasi keempat — dan ini yang paling penting — adalah bahwa aku tidak tahu cara jadi pacar.

Aku tahu cara jadi berguna.

Ternyata itu dua hal yang sangat berbeda, dan ternyata aku hanya punya satu dari keduanya, dan ternyata Amara bisa merasakan perbedaannya sejak hari ketiga.

Begini bentuknya.

Selasa. Amara bilang dia harus mengumpulkan proposal kegiatan OSIS sebelum Jumat dan formatnya berantakan. Aku merapikan formatnya. Dua jam. Malam.

Rabu. Amara bilang dia lupa bawa pulpen. Aku memberikan pulpenku. Aku selalu bawa tiga.

Kamis. Amara bilang tempat lesnya yang baru jauh dan dia harus naik dua angkot. Aku mencari rute alternatif, menghitung waktunya, dan mengirimkan hasilnya lewat pesan dalam bentuk poin-poin bernomor.

Semua ini aku lakukan dengan senang hati.

Semua ini aku lakukan dengan sangat, sangat cepat.

Dan pada hari Kamis malam, setelah aku mengirim tiga poin bernomor tentang rute angkot, ponselku bergetar.

Amara: makasih

Amara: Ris

Amara: aku boleh nanya sesuatu?

Aris: boleh

Ada jeda. Aku bisa melihat tulisan “sedang mengetik” muncul dan hilang tiga kali.

Amara: hari ini kamu gimana?

Aku menatap layar.

Aris: maksudnya?

Amara: hari kamu. gimana.

Aku duduk di tepi tempat tidur.

Dan aku menyadari bahwa aku tidak punya jawaban. Bukan karena harinya buruk. Karena aku tidak pernah menyimpan data itu. Aku menyimpan data tentang orang lain — siapa yang butuh apa, siapa yang telat mengembalikan apa. Tidak ada arsip untuk hariku sendiri.

Aris: biasa aja*

Amara: itu bukan jawaban

Aris: itu jawaban yang jujur

Amara: aris

Amara: aku nggak minta kamu benerin apa-apa

Amara: aku cuma pengen tau hari kamu gimana

Aku menatap layar selama mungkin dua menit.

Lalu aku mengetik, menghapus, mengetik lagi.

Aris: ada anak kelas 10 numpahin air di rak 300. gue lap 40 menit. bukunya 4 rusak.

Amara: terus?

Aris: terus gue kesel

Aris: gue nggak marahin dia. tapi gue kesel.

Jeda.

Amara: nah

Amara: itu hari kamu

Amara: makasih

Aku menaruh ponsel.

Dan aku duduk di tepi tempat tidur dengan perasaan yang aneh sekali — semacam malu yang tidak ada objeknya, karena aku baru saja mengaku bahwa aku kesal pada anak kelas sepuluh dan itu terasa seperti membuka lemari yang sudah lama tidak dibuka dan menemukan bahwa isinya masih ada.


Jumat.

Kami pulang bareng untuk pertama kalinya.

Naik angkot, karena aku naik angkot dan Amara bilang dia mau lihat rutenya.

“Kamu naik ini tiap hari?”

“Iya.”

“Berapa lama?”

“Empat puluh menit kalau lancar.”

“Empat puluh menit.” Dia memegang tiang. Angkot itu penuh; kami berdiri di dekat pintu. “Sama pulang berarti satu setengah jam sehari.”

“Iya.”

“Kamu ngapain selama itu?”

“Mikir.”

“Mikirin apa?”

Angkot berbelok dan Amara terhuyung dan aku menahan lengannya dan melepaskannya begitu dia stabil, terlalu cepat, seperti orang menyentuh panci panas.

Dia memperhatikan itu.

Dia tidak berkomentar. Tapi dia memperhatikan; aku bisa lihat dari cara matanya turun ke tanganku lalu naik lagi.

“Mikirin apa?” ulangnya.

“Macem-macem. Rak yang perlu dibetulin. Buku yang belum balik.”

“Kamu mikirin perpustakaan selama satu setengah jam sehari.”

“Nggak seluruhnya.”

“Sisanya?”

Angkot berhenti. Dua orang turun. Ada ruang di bangku.

Kami duduk. Amara di sebelah kiri, dekat jendela.

“Sisanya gue mikirin kamu,” kataku.

Amara menoleh cepat.

Dan aku merasakan seluruh wajahku memanas, dan aku menatap lurus ke depan ke punggung sopir angkot, dan aku berkata:

“Itu jawaban yang jujur juga.”

Dia tidak berkata apa-apa selama beberapa detik.

Lalu tangannya bergerak di antara kami dan mengambil tanganku, dan menaruhnya di bangku di antara kami, dan menutupinya dengan tangannya sendiri sehingga dari luar itu terlihat seperti dua orang yang duduk berdekatan dan tidak lebih.

“Kamu boleh gitu,” katanya, pelan.

“Gitu gimana?”

“Nyentuh lengan aku pas angkotnya belok.” Dia menatap ke luar jendela. “Kamu nggak harus langsung lepas.”

Aku memandang tangan kami.

“Gue nggak tahu batasnya,” kataku.

“Batas apa?”

“Batas antara bantuin sama—“ Aku mencari kata dan tidak menemukannya. “Gue tahu cara bantuin orang. Gue nggak tahu cara yang satunya.”

Angkot bergerak.

“Yang satunya apa?”

“Gue nggak tahu namanya.”

Amara diam.

Lalu dia berkata, dan suaranya sangat pelan, dan aku harus condong sedikit untuk mendengarnya di atas suara mesin:

“Namanya butuh, Ris.”

Aku menatapnya.

“Bantuin itu kamu ngasih. Butuh itu kamu ngambil.” Dia masih memandang ke luar jendela. “Kamu jago banget yang pertama. Kamu belum pernah coba yang kedua.”

Angkot berhenti di halte.

“Terus caranya gimana?”

Dan Amara menoleh, dan dia tersenyum, dan senyumnya kali ini benar semua bentuknya dan matanya ikut.

“Latihan,” katanya.


Aku turun di halte sebelum halteku, karena rumahnya lebih jauh dan aku bilang aku mau memastikan dia sampai — dan dia menahan lenganku sebelum aku turun.

“Enggak.”

“Amara—“

“Kamu turun di halte kamu.” Dia menahan lenganku. “Aku nggak akan hilang di angkot.”

“Gue cuma—“

“Kamu cuma mau mastiin aku aman,” katanya. “Aku tahu. Tapi kamu bakal jalan kaki dua kilometer balik ke rumah kamu, dan kamu bakal bilang nggak apa-apa, dan aku bakal duduk di rumah tahu bahwa kamu jalan kaki dua kilometer karena aku.”

Angkot berhenti.

“Turun.”

Aku turun.

Dan dari jendela, sebelum angkot bergerak, dia berkata:

“Ris.”

“Apa?”

“Besok Sabtu.”

“Iya.”

“Aku mau ketemu.”

“Oke. Gue jemput—“

“Enggak.” Dia menggeleng. “Aku nggak mau kamu jemput, aku nggak mau kamu nyusun rute, aku nggak mau kamu bawa payung dua.”

Angkot mulai bergerak.

“Terus gue bawa apa?”

Dan Amara berteriak dari jendela angkot yang sudah lima meter menjauh, cukup keras sampai ibu-ibu di halte menoleh:

“BAWA DIRI KAMU AJA!”


Aku berjalan pulang.

Dan di sepanjang jalan aku memikirkan bahwa aku tidak tahu apa artinya itu.

Bukan dalam arti bingung. Aku mengerti kalimatnya. Aku mengerti maksudnya.

Aku hanya tidak tahu apa yang tersisa dari seseorang kalau kamu mengambil kegunaannya.

Aku sampai rumah pukul setengah lima. Ibuku sedang libur.

“Kamu senyum.”

“Enggak.”

“Kamu senyum, Ris.”

Aku masuk kamar.

Aku duduk di meja. Membuka laci — yang tidak aku kunci lagi sejak Rabu minggu lalu.

Buku catatan sampul cokelat.

Aku membukanya di halaman kosong, dan menulis di paling atas — bukan PROYEK A, bukan tahap apa pun:

Hari ini.

Dan lalu aku duduk di sana selama lima menit tanpa bisa menulis satu baris pun.