Chapter Seven
Yang Tidak Kuingat
POV: Aris (orang pertama)
Bu Sri mulai bekerja pukul lima lewat empat puluh.
Aku tahu ini karena aku dan Bagas berdiri di depan gerbang pukul lima lewat tiga puluh pada Senin pagi, dalam gelap yang belum sepenuhnya pergi, dan satpam menatap kami dengan curiga yang sangat masuk akal.
“Mau ngapain.”
“Wawancara, Pak,” kata Bagas.
“Wawancara siapa.”
“Bu Sri.”
Satpam itu memandang kami lama.
“Kalian dihukum?”
“Enggak, Pak.”
“Bener nggak dihukum?”
“Bener, Pak. Tugas.”
Beliau membuka gerbang dengan ekspresi orang yang sudah lama berhenti berusaha memahami anak SMA.
Wawancaranya berlangsung empat puluh menit dan sembilan puluh persennya tidak berguna untuk laporan.
Bu Sri bercerita tentang anaknya yang kerja di Bekasi. Tentang harga cabai. Tentang bahwa lantai keramik yang ada motifnya lebih susah dilihat kotornya daripada yang polos, dan bahwa itu masalah besar yang tidak dipikirkan siapa pun ketika membangun sekolah.
Bagas mendengarkan semuanya. Itu yang perlu aku catat.
Aku pikir dia akan bosan di menit kesepuluh. Dia tidak. Dia duduk di anak tangga lantai dua dengan siku di lutut, dan bertanya hal-hal yang tidak ada di daftar pertanyaan, dan tertawa di tempat yang tepat, dan waktu Bu Sri bilang beliau tidak pernah sarapan sebelum berangkat karena tidak sempat, Bagas berkata “Besok saya bawain, Bu,” dan Bu Sri tertawa dan bilang jangan, dan besoknya Bagas membawa dua bungkus nasi kuning.
Aku mencatat itu di buku catatan yang lain — yang untuk sekolah, bukan yang sampul cokelat.
Bukan karena berguna untuk laporan.
Karena aku ingin mengingatnya.
Ada orang-orang yang baik karena mereka sudah memutuskan untuk jadi orang baik, dan mereka melakukannya dengan hati-hati, seperti aku. Lalu ada Bagas, yang baik dengan cara yang sama sekali tidak terpikir, seperti orang bersin.
Dan aku ingat berpikir, di tangga lantai dua pukul enam pagi: dia pantas.
Aku ingat berpikir itu dengan lega.
Itu bukan pikiran yang murah hati. Aku baru mengerti belakangan. Setiap kali aku berpikir dia pantas, yang sebenarnya aku lakukan adalah memperbarui izin untuk tidak bergerak.
Selasa, istirahat kedua.
Amara datang tanpa buku.
Itu hal pertama yang aku perhatikan. Dia selalu membawa dua; hari itu dia membawa nol. Cuma tas, dan tangan kosong, dan dia duduk di meja panjang seperti biasa lalu tidak melakukan apa-apa selama tiga menit penuh.
Bagas tidak ada — ada rapat OSIS untuk persiapan pentas seni, dan dia diseret masuk karena dia satu-satunya orang yang bisa mengangkat panggung tanpa mengeluh.
Jadi cuma kami berdua dan tiga anak kelas X di rak fiksi.
“Nggak baca?”
“Nggak.”
“Kenapa?”
“Lagi nggak bisa fokus.”
Aku menstempel kartu. “Ada ulangan?”
“Ada. Tapi bukan itu.”
Aku menunggu. Ini keterampilan yang aku punya dan tidak pernah aku anggap sebagai keterampilan: aku bisa menunggu tanpa membuat orang merasa sedang ditunggu.
Amara memutar botol airnya di meja. Setengah putaran, balik lagi.
“Ris.”
“Hm.”
“Boleh nanya sesuatu yang aneh?”
“Boleh.”
“Kamu inget upacara kelas sepuluh?”
Aku mengangkat wajah.
“Upacara yang mana?”
“Yang ada anak pingsan.”
Aku memikirkan itu.
Sekolah ini punya upacara setiap Senin selama tiga tahun, yang berarti kira-kira seratus dua puluh upacara, yang berarti kira-kira empat puluh anak pingsan. Barisan kelas X selalu paling depan dan paling lama berdiri. Setiap bulan ada yang tumbang. Itu bagian dari lanskap, seperti tiang bendera dan pengeras suara yang mendengung.
“Banyak yang pingsan,” kataku.
“Semester dua. Bulan Februari. Panas banget.”
“Februari itu musim hujan.”
“Hari itu enggak.”
Aku menyusun kartu.
Aku benar-benar mencoba. Aku ingin ini dicatat dengan jujur — aku benar-benar mencoba mengingat, karena dia bertanya dengan cara yang membuatku ingin punya jawaban.
Yang muncul cuma potongan yang tidak berbentuk. Panas. Suara pengeras yang berdengung. Seseorang berteriak minta air. Kerumunan. Aku ingat kerumunan, karena aku selalu ingat kerumunan; kerumunan adalah hal yang membuatku ingin pergi dari ruangan.
Dan aku ingat berpikir bahwa mereka semua berdiri terlalu dekat.
“Enggak,” kataku akhirnya. “Gue nggak inget.”
Amara berhenti memutar botolnya.
“Nggak inget sama sekali?”
“Gue inget ada yang pingsan. Beberapa kali. Gue nggak inget yang mana.”
Dia menunduk ke mejanya.
Lalu dia tertawa.
Kecil. Satu embusan lewat hidung. Yang biasa dia lakukan.
Tapi kali ini bunyinya turun di ujung.
“Ya udah,” katanya. “Nggak apa-apa.”
“Kenapa emang?”
“Nggak apa-apa.”
“Amara.”
“Beneran.” Dia mengangkat wajahnya, dan dia sudah tersenyum, dan senyumnya benar semua bentuknya. “Aku cuma lagi kepikiran hal-hal lama. Kadang gitu, kan. Kamu inget kejadian random terus penasaran orang lain inget nggak.”
“Terus?”
“Terus ternyata nggak.” Dia mengangkat bahu. “Itu normal.”
Kipas berdecit.
Aku kembali ke kartu katalog. Ada dua puluh tiga kartu yang harus dipisahkan berdasarkan tanggal jatuh tempo, dan aku memisahkannya, dan itu memakan waktu kira-kira empat menit.
Selama empat menit itu, Amara tidak berkata apa-apa.
Dia juga tidak pergi.
Dia duduk di meja panjang, tanpa buku, memegang botol air yang tidak dia minum, memandang ke arah jendela.
Aku mengangkat wajah sekali.
Wajahnya dari samping tidak menunjukkan apa pun. Itu wajah yang sudah dilatih. Aku tahu itu bahkan waktu itu — bahwa Amara punya wajah untuk koridor dan wajah untuk ruangan kosong, dan bahwa yang sedang dia pakai sekarang adalah yang untuk koridor, dipakai di ruangan yang cuma berisi aku.
Aku seharusnya bertanya lagi.
Aku tidak bertanya lagi, karena aku sudah bertanya dua kali dan dia sudah bilang tidak apa-apa dua kali, dan aku adalah orang yang percaya bahwa menghormati orang berarti berhenti waktu mereka bilang berhenti.
Itu terdengar mulia.
Itu juga sangat, sangat nyaman.
Bel berbunyi.
Amara berdiri, menyandang tasnya. Sampai di pintu, dia berhenti — tentu saja dia berhenti — dan bicara tanpa berbalik.
“Ris.”
“Ya.”
“Kamu inget nama semua anak yang pinjam buku di sini?”
“Enggak semua.”
“Berapa?”
Aku menghitung. “Yang rutin, mungkin empat puluh.”
“Empat puluh nama.”
“Iya.”
“Kamu inget empat puluh nama orang yang minjem buku,” katanya, “tapi nggak inget hari itu.”
Aku membuka mulut.
Dia sudah keluar.
Sepulang sekolah, aku menemukan Vela di rak 900-an.
Dia tidak sedang mengambil buku. Dia berdiri di lorong rak dengan tangan di tali tas, menghadap deretan punggung buku, dan sama sekali tidak bergerak.
“Nyari sesuatu?”
“Enggak.”
Aku mendorong troli pengembalian melewatinya.
“Vela.”
“Ya.”
“Boleh nanya?”
Dia menoleh. Itu sudah lebih dari yang biasanya dia berikan.
“Februari kelas sepuluh,” kataku. “Ada upacara. Ada yang pingsan.”
Sesuatu terjadi di wajahnya.
Bukan ekspresi. Vela tidak punya ekspresi. Yang terjadi lebih kecil dari itu — semacam pengencangan, seperti orang yang menutup laci sebelum ada yang melihat isinya.
“Kenapa kamu tanya?”
“Amara nanya ke gue. Gue nggak inget.”
Vela menatapku.
Diam itu berlangsung cukup lama sampai aku bisa mendengar Pak Hendra menyeruput kopi dari ruangan sebelah.
“Kamu nggak inget,” katanya. Datar, tanpa nada tanya.
“Enggak.”
“Sama sekali.”
“Vela, ada empat puluh anak pingsan selama tiga tahun—“
“Kamu yang berdiri di depan dia.”
Troli berhenti.
“Apa?”
Vela mengambil satu buku dari rak. Bukan buku tertentu. Dia cuma butuh sesuatu di tangannya.
“Kamu berdiri di depan dia,” katanya. “Ada tiga puluh orang ngerubungin. Ada yang motret. Kamu masuk, kamu berdiri di antara dia sama kerumunan, kamu bentangin jas almamater kamu.”
Aku tidak bergerak.
“Terus kamu bilang ke semua orang: mundur, panas.”
“Gue—“
“Terus guru datang. Terus dia dibawa ke UKS.” Vela mengembalikan buku itu ke rak, di tempat yang salah, dan aku bahkan tidak membetulkannya. “Terus kamu pergi.”
Kipas berdecit di ruangan sebelah.
“Terus kamu nggak pernah nyebut itu lagi,” kata Vela. “Nggak ke dia. Nggak ke siapa pun. Setahun setengah.”
Aku memegang gagang troli.
Ada sesuatu yang datang kembali — tidak utuh, tidak seperti di film, tidak dengan musik. Cuma satu potongan: berat kain jas di kedua tangan, dan matahari yang menembus kainnya jadi warna kuning kotor, dan pikiran yang sangat spesifik dan sangat membosankan yang aku ingat berputar di kepalaku saat itu:
Mereka berdiri terlalu dekat. Dia butuh udara.
Itu saja.
Itu isi kepalaku. Itu seluruh kejadiannya, dari dalam.
“Gue inget jas,” kataku pelan.
“Kamu inget jas.”
“Gue nggak inget orangnya.”
Dan aku dengar, untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya, Vela mengeluarkan napas lewat hidung dengan cara yang bisa disebut emosi.
“Kamu itu,” katanya, “orang paling nyebelin yang pernah aku temui.”
“Kenapa?”
“Karena kamu nggak sadar.” Dia menyandang tasnya. “Kalau kamu sadar terus pura-pura lupa, aku bisa benci kamu. Ini lebih parah.”
“Vela—“
“Dan aku nggak akan cerita apa-apa lagi.” Dia melangkah keluar dari lorong rak. “Kalau kamu mau tahu, tanya dia.”
“Kenapa lo nggak cerita?”
Dia berhenti.
Dan untuk sepersekian detik — cuma sepersekian, dan aku baru bisa membacanya berbulan-bulan kemudian — ada sesuatu di bahunya yang bukan dingin sama sekali.
“Karena kalau aku yang cerita,” katanya, “itu jadi cerita aku.”
Dia pergi.
Aku berdiri di lorong rak 900-an dengan troli berisi sebelas buku pengembalian.
Lalu aku mengambil buku yang dia taruh salah tempat, dan mengembalikannya ke posisi yang benar, karena itu yang aku lakukan.
Malamnya aku tidak bisa tidur.
Bukan dengan cara dramatis. Aku tidak berguling-guling. Aku berbaring dengan mata terbuka dan menatap langit-langit dan memikirkan hal yang sangat kecil:
Bahwa kalau aku mengingatnya, aku akan menyimpannya.
Itu yang membuat perutku dingin. Bukan bahwa aku lupa. Tapi kesadaran bahwa aku telah melakukan hal yang, seandainya aku ingat, akan aku putar berulang di kepala selama setahun setengah — dan aku melakukannya, dan berjalan pergi, dan tidak menyimpan apa-apa.
Karena bagiku itu bukan kejadian.
Bagiku itu cuma: seseorang butuh udara, dan aku punya jas.
Aku bangun. Menyalakan lampu meja. Membuka laci — yang aku kunci sekarang, tiap malam, tanpa pernah bertanya pada diri sendiri kenapa.
Buku catatan sampul cokelat. Halaman PROYEK A — PROFIL.
Aku membaca daftarnya lagi.
Nonfiksi tentang orang biasa. Kerja sepele, ditulis serius. Kagum sama orang yang konsisten dan tidak dikenal.
Orang yang naik ke menara tiap Kamis selama dua puluh tahun dan tidak ada yang tahu namanya.
Kerjaan yang cuma keliatan kalau nggak dikerjain.
Aku menutup buku itu.
Aku duduk di meja kamar dengan tangan di atas sampulnya.
Dan aku melakukan hal yang sama seperti malam itu, satu minggu lalu, dan aku melakukannya lebih cepat kali ini karena aku sudah punya jalurnya:
Aku menyusun kalimat, dan menaruhnya di atas semua ini seperti batu di atas kertas yang mau terbang.
Dia nanya karena dia lagi kepikiran hal lama.
Vela cerita karena Vela suka bikin orang nggak nyaman.
Dan kalaupun — kalaupun — itu berarti sesuatu, itu satu setengah tahun yang lalu, dan sekarang ada Bagas, dan Bagas yang minta lebih dulu, dan Bagas yang mengetuk pintu kamar gue empat hari berturut-turut waktu gue nggak buka.
Kalimat terakhir itu bekerja paling baik.
Kalimat terakhir itu selalu bekerja paling baik.
Aku mematikan lampu, mengunci laci, dan tidur.
Rabu pagi, Bagas menemukanku di gerbang dengan wajah yang bersinar dari jarak lima belas meter.
“RIS.”
“Pagi.”
“Gue mau ngomong.”
“Ngomong.”
Dia menarik napas. Menahannya. Melepasnya.
“Gue mau nembak dia.”
Gerbang, tiang bendera, anak-anak yang berjalan masuk. Semuanya tetap di tempatnya.
“Kapan?”
“Habis pentas seni.” Dia mencengkeram tali tasnya. “Dua minggu lagi. Setelah laporan selesai, setelah semuanya kelar. Gue udah mikirin. Gue nggak mau bikin momen — lo bilang jangan bikin momen, kan. Jadi gue mau abis pentas aja, pas semua orang udah bubar.”
Aku mengangguk.
“Menurut lo gimana?”
Dan aku berkata, dengan suara yang rata, dengan wajah yang aku yakin sepenuhnya benar bentuknya:
“Bagus. Itu bagus.”
Bagas menghantam bahuku dengan telapak tangan.
“GUE GEMETERAN.”
“Gue lihat.”
“Ris, tangan gue dingin lagi.”
“Itu normal.”
“Lo pernah ngerasain gitu nggak sih?”
Bel masuk berbunyi.
“Enggak,” kataku.
- 1 Permintaan yang Tidak Bisa Kutolak
- 2 Rencana Pertama dan Kegagalan Pertama
- 3 Selasa dan Kamis
- 4 Daftar yang Salah Alamat
- 5 Termos yang Salah Terima
- 6 Kerja Kelompok Lintas Kelas
- 7 Yang Tidak Kuingat reading
- 8 Dua Menit di Belakang Aula
- 9 Satu Setengah Tahun
- 10 Rak 800
- 11 Pertanyaan yang Salah Jawab
- 12 Prasangka
- 13 Lapangan Upacara
- 14 Senin
- 15 Empat Belas Halaman
- 16 Sekarang Kamu
- 17 Minggu Pertama
- 18 Bawa Diri Kamu Aja
- 19 Kok Dia
- 20 Payung
- 21 Bimo
- 22 Tiga Puluh Delapan Koma Empat
- 23 Sembilan Belas Menit
- 24 Yang Vela Simpan
- 25 Yang Kudengar dari Balik Pintu
- 26 Kering Sendirian
- 27 Sepeda
- 28 Ruang Ganti
- 29 Empat Hari
- 30 Saya Butuh Orang
- 31 Lapangan yang Sama
- 32 Aku Duluan