← Aku Duluan

Chapter Twenty

Payung

POV: Aris (orang pertama)


Hujan datang lagi pada hari Kamis di minggu ketiga bulan itu.

Bukan hujan yang bagus. Yang turun sejak pukul dua siang dan tidak berhenti-berhenti, yang membuat lapangan tergenang dan koridor licin dan seluruh sekolah berbau kain basah.

Aku mengunci perpustakaan pukul setengah lima.

Dan di koridor timur, di tempat yang sama, dengan posisi berdiri yang sama — tas dipegang di depan tubuh dengan dua tangan — Amara sedang menunggu.

Aku berhenti tiga langkah darinya.

“Jemputan?”

“Nggak ada.”

“Les?”

“Aku pindah balik ke Senin Rabu.” Dia tidak menoleh. “Minggu lalu.”

Air turun dari talang dalam garis-garis putus.

“Jadi lo nunggu apa?”

Dan Amara menoleh, dan berkata:

“Kamu.”


Aku ingin menjelaskan sesuatu tentang koridor timur.

Koridor itu tidak istimewa. Lantainya keramik putih yang sudah kusam, atapnya seng, dan kalau hujan deras suaranya membuat orang harus mengeraskan suara. Ada tiga pot tanaman plastik yang tidak pernah dibersihkan siapa pun.

Tapi koridor itu adalah tempat aku memberikan payungku pada seseorang dan berjalan pulang basah, dan berpikir bahwa yang aku lakukan itu tidak berarti apa-apa.

Dua bulan lalu.

Rasanya seperti tiga tahun.


“Duduk,” katanya.

Ada dua bangku kayu panjang di koridor itu, untuk anak-anak yang menunggu jemputan. Kami duduk di ujung yang sama, dengan satu jarak telapak tangan di antara kami.

Amara membuka tasnya.

Dan mengeluarkan payung.

Biru tua. Gagangnya dengan lakban hitam yang terkelupas di ujung, karena aku pernah memperbaikinya sendiri dan hasilnya jelek.

Dia meletakkannya di bangku, di antara kami.

“Aku balikin.”

Aku menatap payung itu.

“Dua bulan.”

“Dua bulan sembilan hari.”

Hujan menghantam seng.

“Kenapa sekarang?”

Amara menaruh tangannya di gagang payung itu, tidak memegang, hanya menyentuh.

“Karena aku pinjam ini bukan buat dipakai,” katanya.

Aku menunggu.

“Aku pinjam ini supaya kamu nanya.” Dia menatap payung itu, bukan aku. “Aku bawa ke sekolah tiap hari selama dua bulan. Di tas. Waktu kemarau juga. Aku bawa hari Senin itu.”

Sesuatu di tenggorokanku mengeras.

“Gue lihat,” kataku.

“Aku tahu kamu lihat.”

“Gue nggak ngomong apa-apa.”

“Aku tahu.”

Air dari talang.

“Kenapa lo bawa hari itu?” kataku. “Lo udah tahu gue bakal nolak.”

Amara diam beberapa saat.

“Karena kalau kamu nanya soal payungnya,” katanya, “artinya masih ada kemungkinan.”

Aku menunduk.

“Itu bodoh,” katanya. “Aku tahu itu bodoh. Aku umur tujuh belas dan aku bawa payung orang ke sekolah selama dua bulan kayak orang bawa jimat.”

“Itu nggak bodoh.”

“Itu bodoh, Ris.”

“Gue nyimpen termos lo,” kataku.

Amara mengangkat wajahnya.

“Apa?”

“Termos lo.” Aku menatap hujan. “Yang lo kasih waktu gue sakit. Gue cuci hari itu juga, gue taruh terbalik di rak piring rumah gue, dan gue nggak balikin sampai sekarang.”

“Itu... dua bulan lebih.”

“Iya.”

“Kenapa nggak dibalikin?”

Dan aku memberikan jawaban yang paling jujur yang aku punya, yang aku sendiri baru mengerti sekitar dua minggu lalu:

“Karena selama itu ada di rak piring gue, gue punya alasan buat mikirin lo tiap pagi.”

Hujan.

Amara tidak berkata apa-apa untuk waktu yang lama.

Lalu dia tertawa — pendek, dan basah, dan dia mengusap matanya dengan pergelangan.

“Kita berdua parah banget.”

“Iya.”

“Dua bulan. Kamu nyimpen termos, aku nyimpen payung.”

“Dan nggak ada yang ngomong.”

“Nggak ada yang ngomong,” ulangnya.

Dia mengambil payung itu dan meletakkannya di pangkuanku.

“Sekarang dibalikin,” katanya. “Aku nggak butuh alasan lagi.”

Aku memegangnya.

Gagangnya dingin. Lakbannya masih terkelupas di tempat yang sama.

Dan lalu aku melakukan sesuatu yang aku tidak rencanakan sama sekali, yang bahkan tidak melewati kepalaku sebagai keputusan.

Aku membuka payung itu.

Di dalam koridor. Di bawah atap.

“Ris—“

“Diem.”

Payung itu terkembang dengan bunyi kain yang keras, sekali, dan menutupi kami berdua di bangku kayu di koridor yang tidak ada hujannya sama sekali.

Amara menatapku.

“Kamu ngapain?”

“Gue nggak tahu,” kataku.

Dan itu benar. Aku sungguh tidak tahu. Aku duduk di bangku kayu di koridor timur memegang payung terbuka di atas kepala kami berdua di tempat yang kering, dan aku tidak punya satu pun penjelasan.

“Ini konyol,” katanya.

“Iya.”

“Ini konyol banget.”

“Iya.”

Dan Amara mulai tertawa.

Yang keras. Yang jarang. Yang membuat dia menutup mulutnya dengan punggung tangan — kecuali kali ini dia tidak menutupnya, karena tidak ada siapa-siapa di koridor itu, dan karena hujan lebih keras dari dia.

Dia tertawa sampai bahunya bergetar.

“Kenapa,” kataku.

“Nggak apa-apa.”

“Amara.”

“Kamu—“ Dia mengambil napas. “Kamu tuh orang paling nggak romantis yang pernah aku temui dan kamu barusan buka payung di dalem gedung.”

“Gue nggak lagi berusaha romantis.”

“AKU TAHU.” Dia menutup wajahnya. “Itu yang bikin lucu.”

Aku memegang payung itu.

Dan aku melihat dia tertawa dari jarak setengah meter di bawah payung biru tua yang gagangnya aku lakban sendiri, dan aku berpikir — dengan sangat jelas, dalam bentuk kalimat lengkap:

Ini yang gue mau.

Bukan ini yang gue butuh. Bukan ini yang gue harus jaga. Bukan ini yang gue harus pantas dapatkan.

Ini yang gue mau.

Kalimat itu terasa asing di kepalaku, seperti kata dalam bahasa yang aku pelajari terlambat.


Tawanya reda.

Dan lalu, tanpa peringatan apa pun, dia bergeser di bangku dan memeluk aku dari samping.

Lengannya melingkar di punggungku, kepalanya di bahuku, dan seluruh berat tubuhnya condong ke arahku, dan payung itu miring dan aku hampir menjatuhkannya.

Aku membeku.

Aku ingin sangat jujur tentang ini: aku membeku selama tiga detik penuh.

Bukan karena tidak mau. Karena tubuhku tidak punya prosedur untuk itu. Selama tujuh belas tahun aku adalah orang yang memberi payung, yang membawa kardus, yang menyusun kursi. Tidak ada satu pun dari peran itu yang melibatkan seseorang bersandar padaku dan berhenti.

Tiga detik.

Lalu aku menaruh payung itu di bangku dan melingkarkan lenganku di bahunya.

Dan Amara mengembuskan napas — panjang, seluruhnya, seperti orang yang menaruh sesuatu yang sudah dibawa terlalu jauh.

“Kamu lama,” katanya, ke bahuku.

“Tiga detik.”

“Aku ngitung,” katanya. “Empat.”

“Tiga.”

“Empat, Ris.”

Hujan menghantam seng.

Kami duduk seperti itu — aku tidak tahu berapa lama. Cukup lama sampai bahuku mati rasa dan aku tidak menggerakkannya. Cukup lama sampai suara hujan berubah dari deras jadi sedang.

Dan di suatu titik, aku merasakan dia bicara ke bahuku:

“Ris.”

“Hm.”

“Aku bukan hadiah.”

Aku menoleh sedikit.

“Apa?”

“Aku ngerasa kamu mikir aku hadiah,” katanya. “Kayak sesuatu yang kamu dapet karena akhirnya kamu berani. Dan sekarang kamu harus jagain supaya nggak diambil balik.”

Aku tidak berkata apa-apa.

“Aku bukan itu,” katanya. “Aku orang. Aku bakal ngeselin. Aku bakal salah. Kemarin aku marah sama Vela soal hal yang sepele banget dan aku nggak minta maaf sampai sekarang karena aku gengsi.”

“Lo marah sama Vela?”

“Nanti aja.” Dia mengeratkan pelukannya sedikit. “Intinya, kamu nggak perlu jagain aku kayak barang pinjaman.”

Aku memandang ke depan.

Ke koridor. Ke tiga pot tanaman plastik. Ke pintu gerbang di ujung yang kelihatan berkabut karena hujan.

Dan aku menyadari, dengan rasa dingin yang pelan, bahwa selama tiga puluh detik terakhir aku tidak sedang memikirkan apa yang dia katakan.

Aku sedang memeriksa koridor.

Melihat ke arah gerbang. Melihat ke arah tangga. Menghitung dari mana orang bisa muncul dan berapa detik aku punya untuk melepas.

Aku sedang memeluk orang yang aku cintai untuk pertama kalinya dalam hidupku, dan sebagian dari otakku sedang bekerja sebagai penjaga.

“Ris?”

“Hm.”

“Kamu tegang lagi.”

“Enggak.”

Dia mengangkat kepalanya dari bahuku.

Dan dia menatapku, dan lalu — dan aku tahu persis kapan dia menyadarinya, karena aku melihat matanya bergerak — dia mengikuti arah pandangku ke gerbang.

Lalu kembali ke wajahku.

Amara tidak berkata apa-apa.

Dia menaruh kepalanya kembali di bahuku.

Dan itu, dari semua yang bisa dia lakukan, adalah yang paling murah hati dan yang paling buruk, karena artinya dia memutuskan untuk membiarkannya.

Untuk hari ini.


Jemputannya datang pukul lima lewat sepuluh.

Aku mengantarnya sampai gerbang, dan aku memegang payung yang terbuka di atas kepala kami berdua, dan kali ini payung itu berfungsi sebagaimana mestinya.

Di depan mobil, dia berhenti.

“Ris.”

“Hm.”

“Termosnya.”

“Iya?”

“Jangan dibalikin,” katanya.

Aku menatapnya.

“Kenapa?”

Dan Amara membuka pintu mobil, dan sebelum masuk dia berkata:

“Karena aku suka kamu mikirin aku tiap pagi.”

Pintu ditutup.

Mobilnya keluar gerbang.


Aku pulang naik angkot, dengan payung basah di antara kaki, dan tas di pangkuan.

Dan sepanjang jalan aku memikirkan tiga detik itu.

Bukan pelukannya. Tiga detik sebelum aku membalasnya.

Aku memikirkan bahwa tubuhku tidak tahu apa yang harus dilakukan ketika seseorang bersandar padaku, dan bahwa itu bukan soal malu atau canggung.

Itu soal bahwa aku tidak pernah membangun tempat di dalam diriku untuk menampung orang lain.

Aku membangun tempat untuk melayani orang lain. Itu tempat yang berbeda. Tempat itu punya meja dan pintu dan jam buka, dan orang datang dan mengambil apa yang mereka butuhkan dan pergi, dan tidak ada satu pun yang pernah tinggal.

Aku turun di ujung gang.

Rumah gelap; ibuku shift sore.

Aku menaruh payung di rak sepatu supaya kering.

Lalu aku ke dapur, dan aku berdiri di depan rak piring, dan aku melihat termos stainless kecil yang penyok di bagian bawah yang sudah berdiri terbalik di sana selama dua bulan.

Aku tidak memindahkannya.

Aku berdiri di dapur yang gelap dan menatapnya, dan aku merasa bahagia — untuk pertama kalinya, dengan jelas, tanpa syarat, dengan cara yang tidak perlu dijelaskan pada siapa pun.

Dan lalu, tanpa aku undang, sebuah pikiran datang:

Berapa lama.

Aku menyalakan lampu dapur.

Berapa lama sampai dia capek.

Aku membuka rice cooker. Ada nasi.

Berapa lama sampai dia lihat yang dilihat anak kelas sepuluh itu.

Aku mengambil piring.

Dan aku makan berdiri di dapur, sendirian, di rumah yang kosong, dengan payung mengering di rak sepatu dan termos terbalik di rak piring.

Dan aku tidak bilang apa-apa pada siapa pun tentang pikiran itu.