← Aku Duluan

Chapter Ten

Rak 800

POV: Aris (orang pertama)


Setelah hari itu, aku melakukan sesuatu yang tidak pernah aku akui sebagai keputusan.

Aku mulai sibuk.

Bukan berpura-pura sibuk. Aku benar-benar membuat diriku sibuk, yang jauh lebih efektif dan jauh lebih sulit dibantah. Aku mengusulkan pada Pak Hendra untuk melakukan inventarisasi ulang rak 800-an — sastra, rak paling kacau, dua ratus tiga puluh judul — dan beliau menatapku selama beberapa detik dengan tatapan seorang pria yang tahu persis apa yang sedang terjadi dan tidak berniat ikut campur.

“Silakan,” kata beliau. “Jangan sampai malam.”

Jadi mulai Selasa itu, aku menghabiskan istirahat kedua di lorong rak 800-an dengan troli dan buku catatan inventaris, membelakangi meja panjang, dan itu adalah hal paling pengecut yang pernah aku lakukan sambil terlihat rajin.


Amara tetap datang.

Itu yang tidak aku perhitungkan.

Aku pikir kalau aku tidak ada di meja sirkulasi, dia akan duduk, membaca, dan pulang. Itu yang dilakukan orang normal di perpustakaan.

Hari pertama, dia memang begitu.

Hari kedua, dia memindahkan kursinya.

Bukan pindah meja. Dia mengambil kursi dari meja panjang dan menaruhnya di ujung lorong rak 800-an, tiga meter dariku, menghadap ke dalam lorong, dan duduk di sana dan membaca.

Aku menghitung tiga ratus dua judul hari itu, yang merupakan rekor pribadi, dan tidak mengingat satu pun dari tiga ratus dua judul itu.

Hari ketiga, kursinya sudah ada di sana sebelum aku datang.


“Rak berapa hari ini?”

“800.”

“Kemarin juga 800.”

“Ada dua ratus tiga puluh judul.”

“Kamu sudah tiga hari.”

“Ada yang nggak ada kartunya.”

Amara membalik halaman. “Berapa yang nggak ada kartunya?”

“Sembilan.”

“Sembilan,” ulangnya. “Dari dua ratus tiga puluh.”

Aku menulis nomor punggung di kolom kanan.

“Iya.”

“Berarti dua ratus dua puluh satu bukunya baik-baik saja.”

“Iya.”

“Tapi kamu masih di sini.”

Aku menulis nomor berikutnya.

Ada bunyi halaman dibalik.

“Ris.”

“Hm.”

“Kalau aku pindah kursi ke rak 900, kamu bakal inventaris rak 900?”

Pena berhenti.

“Itu bukan gimana caranya inventaris kerja.”

“Aku tanya kamu bakal atau enggak.”

Aku menaruh buku di rak. Mengambil yang berikutnya.

“Amara.”

“Ya?”

“Gue lagi kerja.”

Hening.

Lalu bunyi buku ditutup — tidak dibanting, ditutup, pelan, dan entah kenapa itu jauh lebih buruk.

“Oke,” katanya.

Dan dia duduk di sana selama dua puluh menit lagi tanpa membuka bukunya sama sekali, dan aku mencatat empat puluh judul dengan tangan yang tidak sepenuhnya stabil, dan tidak satu kali pun aku berbalik.


Bagas, sementara itu, sedang mengalami apa yang dia sebut sebagai “fase riset”.

“Gue harus cari tahu siapa orangnya.”

“Jangan.”

“Kenapa?”

“Karena kalau lo cari tahu, lo bakal nemu, dan lo bakal jadi orang yang tahu.”

Bagas mengunyah. “Terus?”

“Terus lo nggak bisa jadi orang yang nggak tahu lagi.”

Dia menunjuk aku dengan sendok. “Ini kenapa gue kadang takut sama lo.”

Ekek, dari seberang meja, tanpa mengangkat wajah dari ponselnya: “Anak kuliahan.”

“Apa?”

“Orangnya anak kuliahan.” Ekek menaruh ponselnya. “Gue udah investigasi.”

Bagas menegak. “SERIUS?”

“Jangan didenger,” kataku.

“Gue punya sumber,” kata Ekek.

“Sumber lo siapa?”

“Nadia.”

“Nadia anak IPA 1?”

“Nadia anak IPA 1 yang duduk di belakang Amara sejak kelas sepuluh,” kata Ekek, dengan nada seseorang yang menyerahkan bukti di persidangan. “Dan Nadia bilang, dan gue kutip persis: ‘Gue nggak tahu, tapi gue punya spreadsheet.’”

Hening.

“Spreadsheet apa?” tanya Bagas.

“Nadia punya spreadsheet.”

“SPREADSHEET APA, EKEK.”

“Gue nggak dikasih lihat.” Ekek mengangkat bahu. “Tapi ada. Dan itu artinya sesuatu.”

Aku minum air.

“Ekek.”

“Ya?”

“Berhenti.”

“Kenapa?”

Dan aku bilang, dengan nada yang lebih tajam dari yang aku niatkan, cukup tajam sampai Bagas menoleh:

“Karena dia bukan kasus. Dia orang.”

Ekek mengerjap.

Meja itu diam selama beberapa detik, yang untuk meja yang berisi Ekek adalah sesuatu yang hampir tidak pernah terjadi.

“Ya,” kata Ekek akhirnya. “Sori.”

Bagas masih menatapku.

“Ris.”

“Apa.”

“Lo galak.”

“Gue nggak galak.”

“Lo galak dari Selasa.”

Aku berdiri dan membawa nampanku ke tempat pengembalian, dan dalam perjalanan aku memikirkan bahwa aku baru saja membela seseorang dari sesuatu yang aku sendiri lakukan setiap hari selama setahun setengah, dan bahwa perbedaannya adalah aku melakukannya dengan rapi dan tidak berisik.


Kamis.

Aku sampai di rak 800 dan kursi itu tidak ada.

Aku berdiri di ujung lorong dengan troli selama mungkin sepuluh detik, memandangi lantai tempat kursi itu biasanya berada, dan merasakan sesuatu yang tidak punya hak untuk aku rasakan.

Lalu aku mulai bekerja.

Nomor 812.4. 812.6. 813.1.

Ada langkah kaki di belakang lorong.

“Kamu ambil yang atas atau bawah?”

Aku berbalik.

Amara berdiri di ujung lorong. Tanpa kursi. Tanpa buku. Lengan seragamnya digulung sampai siku, yang tidak pernah dia lakukan.

“Apa?”

“Aku bantu.” Dia melangkah masuk. “Kamu tiga hari di rak yang sama. Kalau berdua, sehari selesai.”

“Nggak usah.”

“Kenapa?”

“Karena ini tugas gue.”

“Itu bukan alasan,” katanya. “Itu kebiasaan yang kamu jadiin alasan.”

Kalimat itu.

Kalimat yang sama dari hari Sabtu di perpustakaan kosong, dikembalikan padaku tanpa satu kata pun berubah, dan dari cara dia mengucapkannya aku tahu dia mengingatnya persis dan menyimpannya untuk dipakai.

Amara mengambil buku dari troli.

“Nomornya di mana?”

“Punggung bawah.”

“Ini 813.5.”

“Berarti empat rak dari sini, deret ketiga.”

Dan dia mulai bekerja.


Lorong rak 800 lebarnya kira-kira delapan puluh sentimeter.

Aku belum pernah mengukurnya. Aku mengukurnya hari itu, dalam kepala, dengan sangat teliti, karena itu adalah satu-satunya hal yang bisa aku lakukan untuk tidak memikirkan hal lain.

Delapan puluh sentimeter berarti kalau dua orang berdiri berdampingan menghadap rak yang sama, jarak antara bahu ke bahu kira-kira dua puluh sentimeter.

Kami bekerja selama empat puluh menit.

Dia cepat. Itu yang mengejutkan. Dia menangkap sistem nomornya dalam sepuluh menit dan setelah itu tidak perlu bertanya lagi, dan dia menyusun dengan cara yang sama seperti dia melakukan segalanya — tanpa tergesa, tanpa satu gerakan yang tidak perlu.

Kami tidak banyak bicara.

“Ini rusak.”

“Taruh di troli bawah.”

“Rusaknya gimana?”

“Jilidan lepas. Nanti gue lem.”

“Kamu bisa ngelem buku?”

“Bisa.”

“Siapa yang ngajarin?”

“Pak Hendra.”

“Pak Hendra ngajarin kamu ngelem buku.”

“Pak Hendra ngajarin gue banyak hal dan nggak pernah bilang lagi ngajarin.”

Amara tertawa. Satu embusan lewat hidung.

Dan aku menyadari, terlalu terlambat, bahwa aku sedang merasa senang.

Bukan bahagia. Sesuatu yang lebih rendah dan lebih berbahaya dari bahagia: nyaman. Nyaman adalah hal yang membuat orang lupa menjaga pintu.


Buku itu bernomor 899.221.

Aku ingat nomornya. Aku ingat nomornya karena aku sudah mengingat hal-hal yang salah selama seluruh cerita ini, dan ini salah satunya.

Buku itu ada di rak deret keempat, dan buku itu terselip di belakang dua buku lain, dan aku dan Amara melihatnya pada saat yang sama.

Kami mengulurkan tangan pada saat yang sama.

Rak itu sempit. Tanganku dari kanan, tangannya dari kiri, dan jarak antara punggung tanganku dan punggung tangannya menjadi — aku tidak tahu. Satu sentimeter. Kurang.

Aku bisa merasakan panasnya. Itu yang tidak pernah orang ceritakan; bahwa sebelum kulit menyentuh kulit, ada jarak di mana kamu sudah bisa merasakan panas orang lain, dan jarak itu terasa lebih intim daripada sentuhan itu sendiri karena tidak ada yang bisa disalahkan atas jarak.

Amara tidak menarik tangannya.

Aku tahu dia tidak menarik tangannya, karena aku menghitung — satu, dua — dan pada hitungan kedua tangan itu masih di sana, dan pada hitungan kedua aku menyadari bahwa dia sedang menunggu.

Bahwa dia sudah memutuskan untuk tidak bergerak.

Bahwa satu-satunya orang yang bisa membuat sesuatu terjadi atau tidak terjadi di lorong rak 800 pada Kamis itu adalah aku.

Aku menarik tanganku.

Cepat. Terlalu cepat. Sikuku menghantam rak di belakangku dan dua buku jatuh ke lantai dengan bunyi yang di perpustakaan terdengar seperti ledakan.

“Sori,” kataku.

Aku berlutut memungut buku.

Aku memungutnya sangat lama. Dua buku. Aku memungutnya selama kira-kira delapan detik, yang tidak masuk akal, dan aku tahu itu tidak masuk akal bahkan saat aku melakukannya.

Ketika aku berdiri, Amara sudah mengambil buku 899.221 dari rak.

Dia memegangnya dengan dua tangan.

“Ini rusak juga,” katanya.

Suaranya rata.

“Taruh di troli bawah.”

Dia menaruhnya di troli bawah.

Lalu dia berdiri di lorong itu, menghadap rak, tidak menghadapku, dan berkata:

“Ris.”

“Hm.”

“Aku boleh nanya sesuatu yang aneh?”

Kipas berdecit di ruangan sebelah.

“Boleh,” kataku.

“Kalau ada orang,” katanya, “yang tiap hari duduk di ruangan yang sama sama kamu. Terus dia pindahin kursinya biar lebih deket. Terus dia bantuin kamu inventaris rak yang nggak ada hubungannya sama dia sama sekali.”

Dia berhenti.

“Menurut kamu, orang itu lagi ngapain?”

Aku berdiri di lorong rak 800 dengan dua buku di tangan.

Dan aku ingin mengatakan sesuatu tentang detik-detik itu yang aku belum pernah katakan.

Aku tidak bingung.

Semua orang yang mendengar cerita ini nanti akan mengira aku bingung. Bagas akan mengira itu. Ibuku akan mengira itu. Bahkan Amara, jauh di kemudian hari, akan menawarkan versi yang lebih baik hati: kamu nggak sadar.

Aku sadar.

Aku berdiri di lorong itu dan aku tahu persis apa yang sedang terjadi dan aku tahu persis kalimat apa yang akan mengakhiri semuanya, dan kalimat itu ada di mulutku, dan panjangnya kurang dari sepuluh kata.

Dan aku juga tahu apa yang akan terjadi kalau aku mengucapkannya.

Aku akan berhenti jadi orang yang membantu.

Aku akan jadi orang yang meminta.

Dan orang yang meminta bisa ditolak, dan bisa salah, dan bisa mengambil sesuatu dari sahabatnya sendiri, dan bisa berdiri di depan seluruh sekolah sebagai jawaban atas pertanyaan kok dia? — dan semua itu adalah hal yang bisa terjadi padaku, dan selama tujuh belas tahun aku sudah membangun seluruh hidupku menjadi tempat di mana hal-hal tidak terjadi padaku.

Aku menaruh dua buku itu di rak.

“Nggak tahu,” kataku.

Hening.

“Nggak tahu?”

“Iya.”

Amara berbalik menghadapku.

Dan dia tidak marah. Aku sudah menyiapkan diri untuk marah — marah bisa aku tangani, marah punya bentuk.

Dia menatapku dengan ekspresi orang yang sedang membaca kalimat terakhir sebuah buku dan menyadari bahwa buku itu tidak akan menjelaskan apa pun.

“Oke,” katanya.

Dia melepas gulungan lengan seragamnya. Merapikannya. Mengancingkan.

“Amara—“

“Aku ada les jam empat.” Dia mengambil tasnya dari ujung lorong. “Selamat lanjut inventaris.”

Dia berjalan keluar.

Dia tidak berhenti di pintu.


Aku menyelesaikan rak 800 sore itu. Dua ratus tiga puluh judul, sembilan tanpa kartu, empat rusak.

Aku mengembalikan troli. Mengunci lemari. Mematikan kipas.

Lalu aku duduk di kursi di belakang meja sirkulasi, di perpustakaan yang sudah kosong dan sudah gelap di bagian yang jauh dari jendela, dan aku duduk di sana selama waktu yang cukup lama sampai Pak Hendra keluar dari ruangannya dengan tas dan kunci.

Beliau berhenti.

“Sudah selesai?”

“Sudah, Pak.”

“Berapa yang rusak?”

“Empat.”

Beliau mengangguk. Berjalan ke pintu. Lalu berhenti lagi, tanpa berbalik.

“Firmawan.”

“Ya, Pak?”

Pak Hendra sudah tiga puluh tahun mengajar di sekolah ini. Beliau mengajar Fisika, membina perpustakaan, dan mengepel lantai sendiri setiap Jumat karena beliau tidak percaya pada cara orang lain mengepel.

“Buku yang tidak ada kartunya,” kata beliau, “itu bukan buku hilang.”

“Pak?”

“Itu buku yang ada di rak selama bertahun-tahun dan tidak pernah ada yang mencatat.” Beliau memutar kunci di tangannya. “Kalau kamu tidak buat kartunya, tidak ada yang bisa pinjam. Buku itu ada, tapi tidak bisa diambil siapa pun.”

Beliau membuka pintu.

“Sayang sekali,” kata beliau.

Dan pulang.