Chapter Eighteen
Bawa Diri Kamu Aja
POV: Aris (orang pertama)
Aku hampir membawa payung.
Aku sudah memegangnya. Sabtu pagi, pukul delapan, berdiri di depan pintu dengan payung lipat di tangan dan langit yang bersih tanpa satu awan pun, dan aku memegangnya selama kira-kira sepuluh detik sebelum meletakkannya kembali di rak sepatu.
Lalu aku mengambilnya lagi.
Lalu aku meletakkannya lagi.
“Kamu ngapain sih?” Ibuku lewat membawa cucian.
“Nggak ngapa-ngapain.”
“Kamu udah tiga kali ambil payung.”
“Iya.”
“Hujan nggak?”
“Enggak.”
Beliau berhenti. Menatapku. Lalu menatap payung.
“Ris.”
“Iya, Bu.”
“Kamu kenapa?”
Aku tidak menjawab, karena jawabannya adalah aku tidak tahu harus jadi siapa kalau aku tidak membawa apa-apa, dan itu bukan kalimat yang bisa diucapkan pukul delapan pagi di depan rak sepatu.
Ibuku menaruh cuciannya di kursi.
“Kamu mau ketemu siapa?”
“Teman.”
“Teman.”
“Iya.”
“Ris, kamu udah setrika baju yang bukan seragam. Dua kali.”
Aku menutup mata.
Beliau tertawa — pendek, dan tidak menggoda, dan beliau tidak bertanya lebih lanjut. Beliau mengambil cuciannya dan berjalan ke belakang, dan sebelum menghilang di dapur beliau berkata:
“Tinggalin payungnya.”
Amara sudah ada di halte, memakai kaus dan celana jeans dan sepatu kets, dan itu masih terasa salah — Amara di luar seragam, seperti kata dalam bahasa yang aku kenal tapi ditulis dengan huruf lain.
“Kamu bawa apa?”
“Nggak ada.”
Dia melihat tanganku. Melihat kantong celanaku. Lalu menyipitkan mata.
“Tasnya?”
“Nggak bawa tas.”
“Kamu selalu bawa tas.”
“Lo bilang bawa diri gue aja.”
Amara berdiri di halte dan menatapku selama tiga detik penuh dengan ekspresi yang tidak bisa aku baca, dan lalu dia berkata:
“Oke. Aku nggak nyangka kamu beneran.”
“Gue selalu ngerjain yang diminta.”
“Nah.” Dia menunjuk aku. “Itu. Itu masalahnya.”
“Apa?”
“Nggak apa-apa. Ayo.”
Rencananya, ternyata, adalah tidak ada rencana.
Aku bertanya tiga kali ke mana kami akan pergi dan tiga kali dia bilang “jalan aja”, dan pada pertanyaan keempat dia berhenti di trotoar dan berbalik menghadapku.
“Ris.”
“Apa?”
“Kamu nggak nyaman ya.”
“Gue nyaman.”
“Kamu udah nanya tujuan empat kali.”
“Karena kalau ada tujuan gue bisa—“ Aku berhenti.
“Bisa apa?”
Trotoar. Motor lewat. Seorang bapak menyapu halaman.
“Bisa mikirin cara sampai ke sana,” kataku.
Amara mengangguk pelan.
“Berarti hari ini kamu nggak punya kerjaan.”
“Iya.”
“Gimana rasanya?”
Aku memikirkan itu dengan serius, karena dia bertanya dengan serius.
“Kayak nggak pegangan,” kataku.
Dan Amara — bukannya menghibur, bukannya bilang tidak apa-apa — mengangguk lagi dan berkata:
“Bagus.”
Dan mulai berjalan.
Kami berjalan kira-kira empat puluh menit.
Melewati pasar. Melewati deretan bengkel. Melewati sekolah dasar yang pagarnya baru dicat hijau menyala dan kelihatan buruk sekali.
Kami tidak melakukan apa-apa. Aku ingin menekankan ini karena itu adalah seluruh isi hari itu: kami tidak melakukan apa-apa selama enam jam, dan itu adalah hari terbaik dalam hidupku sampai saat itu, dan aku menghabiskan tiga jam pertamanya merasa tidak enak.
“Kamu tegang.”
“Enggak.”
“Bahu kamu naik sampai ke kuping.”
Aku menurunkan bahuku.
“Sekarang kamu nurunin bahu kamu dengan sengaja dan itu lebih parah.”
“Amara.”
“Iya?”
“Gue nggak tahu gue harus ngapain.”
Dia berhenti di depan warung yang menjual es cendol dan menoleh.
“Kamu nggak harus ngapa-ngapain.”
“Itu yang bikin susah.”
Dia memesan dua es cendol tanpa bertanya aku mau apa — dan itu, anehnya, membuatku lega. Satu keputusan yang tidak perlu aku buat.
Kami duduk di bangku kayu di depan warung.
“Ris.”
“Hm.”
“Aku mau cerita sesuatu.”
“Cerita.”
Dia mengaduk es cendolnya.
“Waktu kelas sepuluh, tiga bulan setelah pindah, ada yang nembak aku.” Dia mengangkat bahu. “Anak kelas sebelas waktu itu. Namanya Bimo.”
Aku menunggu.
“Aku tolak. Baik-baik. Aku pikir udah selesai.” Dia mengetuk sendok ke pinggir gelas. “Dua hari kemudian ada yang bikin story: ‘ada yang ngerasa dirinya terlalu bagus.’ Terus ada yang balas. Terus jadi ramai seminggu.”
“Amara—“
“Aku nggak sedih,” katanya. “Aku belajar. Aku belajar bahwa kalau aku ngomong duluan—“
Dia berhenti.
Sesuatu berkedip di wajahnya, cepat, dan dia mengoreksi diri.
“—kalau aku yang bicara lebih dulu,” katanya, “aku yang nanggung ceritanya. Jadi aku berhenti bicara lebih dulu. Tentang apa pun.”
Es cendol di gelasku mulai mencair.
“Setahun setengah,” kataku.
“Iya.”
“Itu bukan belajar. Itu—“
“Itu takut,” katanya. “Aku tahu. Aku sudah tahu sejak lama. Aku cuma bilangnya belajar karena kedengarannya lebih pinter.”
Ada anak kecil lewat sambil menyeret sandal.
“Kita mirip ya,” kataku.
Amara menoleh.
“Enggak,” katanya.
“Enggak?”
“Kamu diam supaya nggak kehilangan. Aku diam supaya nggak dilihat.” Dia menghabiskan es cendolnya. “Itu kelihatannya sama dari luar. Tapi kalau kamu obatin yang satu pakai obat yang satunya, nggak sembuh.”
Aku memandanginya.
“Lo mikirin ini berapa lama?”
“Dua tahun.”
“Anjir.”
Amara tertawa dan hampir tersedak es cendol, dan aku harus menepuk punggungnya, dan itu adalah sentuhan pertama hari itu yang terjadi tanpa aku perhitungkan sama sekali.
Pukul satu kami sampai di sungai kecil di belakang kompleks perumahan — bukan sungai yang indah, sungai kota, dengan beton di kedua sisinya dan sampah di beberapa tempat — dan duduk di tanggul.
“Ini tempat kamu?”
“Ini bukan tempat siapa-siapa,” katanya. “Itu gunanya.”
Kami duduk di sana lama sekali.
Dan di suatu titik — aku tidak tahu kapan, karena tidak ada momen yang bisa ditunjuk — aku berhenti tegang.
Aku menyadarinya belakangan, sekitar pukul tiga, ketika aku sadar bahwa aku sudah berbicara selama sepuluh menit tentang sistem klasifikasi Dewey dan kenapa nomor 800 selalu paling kacau, dan bahwa Amara mendengarkan seluruhnya, dan bahwa aku tidak sekali pun berhenti untuk mengecek apakah dia bosan.
“Maaf,” kataku, tiba-tiba sadar.
“Kenapa?”
“Gue ngomongin rak buku sepuluh menit.”
“Iya.”
“Itu ngebosenin.”
“Ris.” Amara memiringkan kepala. “Aku pernah dengar kamu ngomong lebih dari lima kalimat berturut-turut?”
Aku memikirkan itu.
“Enggak,” kataku.
“Nah.”
Dia bersandar ke belakang, bertumpu pada tangannya.
“Kamu tahu nggak,” katanya, “hari ini aku belajar tiga hal tentang kamu yang aku nggak tahu setelah satu setengah tahun.”
“Apa aja?”
“Satu, kamu benci pagar sekolah dasar yang dicat hijau.”
“Itu warna yang salah secara moral.”
“Dua, kamu bisa ngomong sepuluh menit nonstop kalau topiknya nomor rak.”
“Itu sistem yang menarik.”
“Tiga,” katanya, dan berhenti.
“Tiga apa?”
Amara menatap sungai.
“Tiga, kamu ketawa,” katanya. “Kamu ketawa empat kali hari ini. Aku ngitung.”
Aku tidak tahu harus menjawab apa.
“Setahun setengah aku duduk di perpustakaan itu,” katanya, “dan aku belum pernah dengar kamu ketawa sekali pun.”
Kami pulang pukul lima.
Di halte, menunggu angkot, dia berdiri di sebelahku dan tidak berbicara selama beberapa menit.
Lalu:
“Ris.”
“Hm.”
“Aku boleh minta sesuatu?”
“Boleh.”
“Minggu depan,” katanya, “aku mau kamu yang nentuin kita ke mana.”
Aku menoleh.
“Kenapa?”
“Karena hari ini kamu ikut aku.” Dia memandang jalan. “Dan kamu ikut aku dengan sangat sabar dan sangat baik dan kamu nggak protes sekali pun.”
“Itu bagus, kan?”
“Enggak.”
Angkot lewat, penuh, tidak berhenti.
“Ris, kalau kamu terus jadi orang yang ngikutin,” katanya, “aku bakal jadi orang yang nyeret.”
Aku berdiri di halte dan merasakan sesuatu dingin masuk ke perutku.
“Aku nggak mau jadi orang yang nyeret,” katanya, dan suaranya lebih pelan. “Aku sudah jadi ketua enam hal di sekolah itu. Aku capek jadi yang nentuin. Aku nggak mau capek juga sama kamu.”
“Amara—“
“Aku nggak lagi marah.” Dia menoleh, dan dia memang tidak marah; dia terlihat lelah, dan itu lebih buruk. “Ini hari terbaik aku dalam dua tahun. Aku serius.”
“Tapi?”
“Tapi aku yang milih halte. Aku yang milih jalan. Aku yang milih es cendol.” Dia mengangkat bahu. “Kamu bahkan nggak bilang kamu nggak suka cendol.”
Aku membuka mulut.
“Kamu nggak suka cendol,” katanya. “Aku lihat kamu makan. Kamu makan kayak orang ngerjain tugas.”
Angkot berikutnya datang.
Dia mengangkat tangan.
“Minggu depan,” katanya. “Kamu yang pilih. Boleh apa aja. Boleh jelek. Boleh salah.”
Angkot berhenti.
“Kalau gue salah pilih?”
Dan Amara — dengan satu kaki sudah di pijakan angkot, dengan tangan di gagang pintu — menoleh dan berkata:
“Ya bagus. Berarti kamu yang salah.”
Pintu ditutup.
Angkotnya pergi.
Aku pulang jalan kaki sampai halte berikutnya karena aku butuh berpikir.
Dan yang aku pikirkan adalah ini:
Selama tujuh belas tahun, aku belum pernah sekali pun memilih tempat untuk siapa pun.
Aku memilih rak. Aku memilih rute angkot. Aku memilih urutan yang paling efisien untuk mengerjakan sesuatu.
Tapi memilih tempat berarti berkata aku ingin ini, dan berkata aku ingin ini berarti orang lain harus ikut, dan orang lain yang ikut bisa tidak suka, dan orang yang tidak suka bisa menyesal, dan orang yang menyesal bisa pergi.
Aku berdiri di trotoar di depan bengkel yang tutup — bengkel yang sama, aku baru sadar, tempat aku berhenti pada hari Sabtu ketika aku berjalan pulang empat kilometer.
Dan aku mengeluarkan ponselku.
Aris: minggu depan
Aris: ada perpustakaan kota. yang di jalan pahlawan.
Aris: koleksinya lebih parah dari sekolah tapi ada satu ruang baca yang lantai dua, jendelanya besar, dan hampir nggak pernah ada orang.
Aris: gue mau ke situ.
Aku menatap layarnya.
Lalu, sebelum aku sempat menghapusnya, aku menambahkan satu baris lagi:
Aris: dan gue emang nggak suka cendol.
Balasannya datang dalam empat detik.
Amara: AKHIRNYA
Amara: jam berapa
Aku berdiri di trotoar dan mengetik jam sepuluh, dan mengirimnya, dan lalu aku berdiri di sana beberapa saat lagi dengan ponsel di tangan.
Rasanya tidak seperti kemenangan.
Rasanya seperti berdiri di lapangan tanpa tahu di mana posisiku.
Tapi aku di lapangan.
- 1 Permintaan yang Tidak Bisa Kutolak
- 2 Rencana Pertama dan Kegagalan Pertama
- 3 Selasa dan Kamis
- 4 Daftar yang Salah Alamat
- 5 Termos yang Salah Terima
- 6 Kerja Kelompok Lintas Kelas
- 7 Yang Tidak Kuingat
- 8 Dua Menit di Belakang Aula
- 9 Satu Setengah Tahun
- 10 Rak 800
- 11 Pertanyaan yang Salah Jawab
- 12 Prasangka
- 13 Lapangan Upacara
- 14 Senin
- 15 Empat Belas Halaman
- 16 Sekarang Kamu
- 17 Minggu Pertama
- 18 Bawa Diri Kamu Aja reading
- 19 Kok Dia
- 20 Payung
- 21 Bimo
- 22 Tiga Puluh Delapan Koma Empat
- 23 Sembilan Belas Menit
- 24 Yang Vela Simpan
- 25 Yang Kudengar dari Balik Pintu
- 26 Kering Sendirian
- 27 Sepeda
- 28 Ruang Ganti
- 29 Empat Hari
- 30 Saya Butuh Orang
- 31 Lapangan yang Sama
- 32 Aku Duluan