Chapter Eight
Dua Menit di Belakang Aula
POV: Aris (orang pertama)
Laporan wawancara selesai pada hari Jumat, tiga ribu dua ratus kata, dan Vela mengirimkannya ke grup kelompok pukul sebelas malam dengan pesan yang berbunyi lengkap:
Vela: sudah.
Bagas: ANJIR CEPET BANGET
Bagas: maaf
Bagas: maksudnya makasih
Vela: ya.
Aku membacanya di tempat tidur dan menyadari bahwa selama dua minggu penuh, jadwal yang dibuat Vela di perpustakaan hari Sabtu itu bekerja dengan sempurna. Bagas dan Amara berada di ruangan yang sama persis dua kali, dua-duanya di jam pelajaran, dua-duanya kurang dari lima menit.
Yang berada di ruangan yang sama dengan Amara adalah Vela.
Dan yang berada di ruangan yang sama dengan Bagas, setiap pagi pukul enam selama dua minggu, di tangga lantai dua, adalah aku.
Aku memikirkan itu selama kira-kira dua puluh detik.
Lalu aku menaruh ponsel dan tidur.
Pentas seni jatuh pada Sabtu terakhir bulan itu.
Sekolah berubah bentuk. Lapangan basket ditutup panggung. Ada tenda-tenda kelas yang menjual hal-hal yang tidak masuk akal — kelas XII IPS 2 menjual es teh dengan tiga rasa dan menamainya “Es Teh Filosofis”. Ada sound system yang disewa dari luar dan diatur oleh anak-anak yang tidak tahu cara mengaturnya, jadi selama satu jam pertama semua orang mendengar dengung.
Aku ditugaskan menjaga stan perpustakaan.
Stan perpustakaan adalah meja lipat dengan taplak, dua puluh buku obralan seharga tiga ribu, dan sebuah kardus bertuliskan “AMBIL SATU, TARUH SATU”. Pak Hendra menaruhnya di sudut paling jauh dari panggung, yang aku curigai adalah bentuk kebaikan hati beliau yang paling murni.
Aku duduk di sana dari jam sembilan pagi.
Empat orang mampir sebelum tengah hari. Dua di antaranya bertanya di mana toilet.
Bagas muncul pukul satu, sudah berkeringat, membawa dua gelas es teh.
“Filosofis?”
“Rasa mangga.”
“Filosofinya di mana?”
“Nggak ada. Gue udah nanya. Anak IPS bilang ‘ya biar keren aja, Bang.’” Dia duduk di kursi plastik di sebelahku dan langsung mulai mengetuk-ngetuk kaki.
Ketukan itu tidak berhenti selama empat puluh menit berikutnya.
“Bagas.”
“Ya?”
“Kaki lo.”
“Sorry.”
Berhenti tiga detik. Mulai lagi.
“Jam berapa?” tanyanya.
“Setengah dua.”
“Acaranya selesai jam?”
“Setengah lima.”
“Setengah lima.” Dia mengangguk. “Oke. Setengah lima.”
“Lo udah nanya jam itu empat kali.”
“Gue tahu.”
Dia mengusap telapak tangannya ke celana. Dua kali. Lalu memeriksa ponselnya tanpa membukanya, lalu memasukkannya lagi.
Aku menyusun buku obralan yang sudah tersusun.
“Ris.”
“Hm.”
“Kalau dia nolak gimana.”
Aku berhenti menyusun.
Ada versi diriku yang bisa menjawab pertanyaan itu dengan benar. Versi itu ada di suatu tempat, dan dia tahu bahwa jawaban yang benar bukan menenangkan, dan bahwa yang Bagas butuhkan hari itu bukan strategi.
“Berarti lo tahu,” kataku.
“Itu jawaban paling nggak enak yang pernah gue denger.”
“Itu jawaban yang bener.”
Bagas tertawa — pendek, gugup.
“Gue tuh mikir gini,” katanya. “Selama gue belum nanya, gue masih bisa mikir mungkin. Kan enak, mungkin. Mungkin tuh nyaman banget.”
Es tehku berembun. Air menetes ke taplak.
“Terus kenapa lo tetep mau nanya?”
Bagas menoleh, dan dia terlihat benar-benar heran bahwa aku bertanya.
“Ya karena mungkin itu bukan punya gue,” katanya. “Itu punya kepala gue doang.”
Dengung sound system berhenti tiba-tiba. Seseorang di panggung berkata “tes, tes” dan seluruh lapangan bersorak untuk alasan yang tidak jelas.
“Gue nggak mau punya sesuatu yang cuma ada di kepala gue, Ris.” Dia menghabiskan es tehnya. “Rasanya kayak nyimpen makanan di kulkas terus nggak pernah dimakan. Lama-lama busuk, tapi lo tetep ngerasa punya.”
Aku memandangi buku-buku obralan.
“Sejak kapan lo bisa ngomong kayak gitu.”
“Sejak gue tiap pagi ngobrol sama Bu Sri selama dua minggu.” Dia berdiri, menepuk celananya. “Orang tua tuh nular.”
Pukul empat, aku menemukan Amara di belakang aula.
Bukan mencari. Aku perlu mengembalikan kardus buku ke gudang, dan jalur ke gudang lewat belakang aula, dan di sana ada koridor sempit antara tembok aula dan pagar belakang, tempat orang-orang menaruh kursi rusak.
Dia duduk di salah satu kursi rusak itu.
Rambutnya sudah dilepas. Dia memegang gelas es teh yang esnya sudah habis, dan dia sedang tidak melakukan apa pun.
“Sembunyi?”
Amara mengangkat wajah.
“Istirahat.”
“Bedanya?”
“Istirahat itu kalau ada yang tahu kamu di mana.”
Aku menaruh kardus di lantai.
“Ada yang tahu lo di sini?”
“Sekarang ada.”
Aku berdiri di sana sebentar. Lalu aku duduk di kursi rusak yang satunya, dua kursi darinya, dan kursi itu miring ke kiri dan aku harus menahan diri dengan kaki.
“Itu patah,” katanya.
“Sekarang gue tahu.”
“Aku sudah dua tahun tahu.”
“Kenapa nggak bilang?”
“Karena kamu duduk terlalu cepat.”
Dari balik tembok, sound system memutar sesuatu yang berat dan seluruh lapangan bersorak lagi.
Kami mendengarkan itu selama beberapa saat.
“Ramai,” kataku.
“Ini rame yang ada gunanya?”
Aku menoleh.
Dia masih menatap lurus ke depan, ke pagar belakang, dan ada senyum sangat kecil di sudut mulutnya.
“Lo inget.”
“Aku inget banyak hal.”
Sesuatu bergerak di dadaku. Buku di rak, satu sentimeter.
“Iya,” kataku. “Ini rame yang ada gunanya.”
“Kenapa?”
“Karena semua orang ributnya buat hal yang sama.”
Amara memutar gelas kosongnya.
“Aku nggak,” katanya.
“Nggak apa?”
“Nggak ribut buat hal yang sama.” Dia meletakkan gelas itu di lantai. “Aku udah dari tadi pagi senyum ke seratus orang. Nanti jam lima aku naik panggung, baca pengumuman lomba, semua orang tepuk tangan. Habis itu ada yang minta foto. Aku bakal foto.”
“Terus?”
“Terus aku nggak inget satu pun percakapan hari ini.” Dia menoleh ke arahku. “Kecuali yang ini.”
Ada jeda.
Jeda yang, kalau aku hitung sekarang, panjangnya kira-kira empat detik.
Aku ingat suara sound system. Aku ingat kursi yang miring ke kiri. Aku ingat bahwa tanganku ada di paha dan bahwa aku sadar akan tanganku, yang berarti sesuatu, karena orang tidak sadar akan tangannya sendiri kecuali ada alasan.
Dan aku ingat bahwa aku membuka mulut.
“Amara—“
Dan dari ujung koridor, suara.
“RIS?”
Bagas.
Amara menegak. Aku berdiri terlalu cepat dan kursi rusak itu terguling ke belakang dengan bunyi keras.
Bagas muncul di ujung koridor, melihat kami berdua, dan berhenti.
Dan aku melihat wajahnya berubah — bukan curiga, sama sekali bukan curiga. Sesuatu yang lebih sederhana dan lebih buruk.
Dia terlihat gugup.
Karena rencananya adalah setelah acara. Setelah semua orang bubar. Dan sekarang dia berdiri di koridor belakang aula pukul empat lewat sepuluh dengan Amara sendirian di depannya, dan semua persiapan dua minggunya baru saja jatuh dari meja.
“Eh,” katanya. “Hai.”
“Hai,” kata Amara.
“Gue nyari Ris.”
“Dia di situ.”
“Iya.” Bagas menelan ludah. “Gue lihat.”
Aku mengangkat kardus.
Aku bisa merasakan seluruh bentuk momen itu di tanganku — bahwa kalau aku pergi sekarang, aku meninggalkan mereka berdua di koridor sempit yang tidak dilewati siapa pun, sepuluh menit sebelum Amara harus naik panggung, dengan Bagas yang sudah dua minggu menyiapkan kalimatnya.
Ini yang aku rancang. Sejak halaman pertama buku catatan sampul cokelat. Ini persis tahap terakhirnya.
“Gue ke gudang,” kataku.
Aku berjalan.
Lima langkah.
Dan aku dengar Bagas berkata, di belakangku, dengan suara yang sudah dia atur:
“Amara. Gue mau ngomong sebentar.”
Aku terus berjalan.
Enam langkah. Tujuh.
Ada belokan di ujung koridor menuju gudang, dan di belokan itu ada tembok, dan aku sampai di tembok itu dan aku tidak berbelok.
Aku berdiri di sana dengan kardus di tangan.
Aku ingin sangat jujur tentang bagian ini, karena ini bagian yang tidak pernah aku ceritakan pada siapa pun.
Aku tidak berhenti karena aku ingin mendengar.
Aku berhenti karena kakiku berhenti.
Dan aku berdiri di balik tembok itu dengan kardus berisi dua puluh buku obralan, dan aku merasakan seluruh tubuhku menjadi satu hal saja, dan hal itu adalah: jangan.
Bukan kalimat. Tidak sejelas kalimat. Sesuatu yang lebih rendah dari bahasa, di suatu tempat di antara tulang rusuk, yang berbunyi jangan jangan jangan dengan ritme yang sama dengan detak.
Dan aku berdiri di sana membenci diriku sendiri dengan intensitas yang membuat telapak tanganku basah.
Dari balik tembok:
“Jadi... gue mau bilang...”
Jeda.
“Gue...”
Jeda yang lebih panjang.
Dan lalu, suara Bagas — bukan suara yang dia siapkan, tapi suaranya yang asli, yang naik satu nada waktu dia panik:
“Gue mau bilang laporannya bagus banget. Yang Bu Sri. Lo yang nulis bagian akhirnya kan? Yang soal keramik motif?”
Hening.
“Itu Vela yang nulis,” kata Amara.
“OH. Oh iya. Iya, Vela.” Tawa yang terlalu keras. “Ya intinya bagus. Bagus banget. Gue baca dua kali.”
“Makasih.”
“Iya. Ya udah. Itu aja.”
“Oke.”
“Oke.”
“Aku harus ke panggung.”
“Iya! Iya, silakan. Sori.”
Langkah kaki. Menjauh.
Aku menunggu sampai suaranya hilang, lalu aku menghitung sampai sepuluh, lalu aku berbelok ke gudang dan menaruh kardus itu dan berdiri sendirian di antara kursi-kursi tumpuk dan bau kapur.
Dan yang aku rasakan pertama kali — sebelum apa pun, sebelum aku sempat memilih untuk merasakan hal lain — adalah lega.
Lega yang murni. Lega yang mengalir dari bahu ke perut. Lega seperti orang yang mendengar bahwa ujiannya ditunda.
Aku berdiri di gudang itu selama mungkin satu menit penuh, merasakannya.
Lalu aku mengerti apa yang barusan aku rasakan.
Dan aku takut.
Bukan malu. Aku ingin membedakan ini dengan hati-hati, karena malu akan lebih mudah — malu bisa dibersihkan dengan minta maaf.
Aku takut.
Karena kalau aku bisa merasa lega saat sahabatku gagal, maka semua yang aku percaya tentang diriku selama tujuh belas tahun — bahwa aku orang yang membantu, bahwa aku orang yang mengurus, bahwa aku orang yang tidak butuh apa-apa — itu semua bukan sifat.
Itu cuma tempat sembunyi.
Dan tempat sembunyi bisa kelihatan dari luar.
Bagas menemukanku di gudang lima menit kemudian.
Dia bersandar di kusen pintu. Dia tidak tersenyum.
“Gue nggak jadi.”
“Gue tahu.”
“Lo denger?”
“Enggak,” kataku.
Kebohongan keempat.
Bagas menggosok wajahnya dengan dua tangan, keras, sampai kulitnya merah.
“Gue bego banget, Ris.”
“Enggak.”
“‘Laporannya bagus banget.’” Dia meniru suaranya sendiri, dan itu menyakitkan untuk didengar. “‘Yang soal keramik motif.’ Ris, gue bahkan salah nyebut yang nulis.”
“Lo gugup.”
“Gue nggak pernah gugup!”
“Sekarang lo gugup. Itu artinya sesuatu.”
Bagas menurunkan tangannya.
“Artinya apa?”
Dan aku berkata — dan aku benar-benar percaya pada apa yang aku katakan, itu bagian yang paling aneh, aku percaya setiap katanya bahkan sambil merasakan lega itu masih hangat di perutku —
“Artinya ini beneran buat lo.”
Bagas menatapku.
Lalu dia mengangguk. Beberapa kali. Semakin cepat.
“Iya,” katanya. “Iya. Bener.”
Dia menarik napas dan meluruskan bahunya, dan dalam tiga detik dia kembali jadi Bagas, karena itu yang dia lakukan, karena dia tidak pernah tinggal lama di tempat yang gelap.
“Gue coba lagi,” katanya. “Nggak hari ini. Tapi gue coba lagi.”
“Oke.”
“Lo bantuin gue lagi kan?”
Dari luar gudang, terdengar suara pengeras: seseorang mengetuk mikrofon, lalu suara Amara, jernih dan terlatih dan sopan, membacakan daftar pemenang lomba.
Suaranya sampai ke gudang agak tertunda, karena tembok, jadi setiap kata sampai setengah detik setelah seharusnya.
“Iya,” kataku.
- 1 Permintaan yang Tidak Bisa Kutolak
- 2 Rencana Pertama dan Kegagalan Pertama
- 3 Selasa dan Kamis
- 4 Daftar yang Salah Alamat
- 5 Termos yang Salah Terima
- 6 Kerja Kelompok Lintas Kelas
- 7 Yang Tidak Kuingat
- 8 Dua Menit di Belakang Aula reading
- 9 Satu Setengah Tahun
- 10 Rak 800
- 11 Pertanyaan yang Salah Jawab
- 12 Prasangka
- 13 Lapangan Upacara
- 14 Senin
- 15 Empat Belas Halaman
- 16 Sekarang Kamu
- 17 Minggu Pertama
- 18 Bawa Diri Kamu Aja
- 19 Kok Dia
- 20 Payung
- 21 Bimo
- 22 Tiga Puluh Delapan Koma Empat
- 23 Sembilan Belas Menit
- 24 Yang Vela Simpan
- 25 Yang Kudengar dari Balik Pintu
- 26 Kering Sendirian
- 27 Sepeda
- 28 Ruang Ganti
- 29 Empat Hari
- 30 Saya Butuh Orang
- 31 Lapangan yang Sama
- 32 Aku Duluan