Chapter Nineteen
Kok Dia
POV: Aris (orang pertama)
Sekolah butuh sebelas hari untuk bereaksi.
Aku pikir akan lebih cepat. Ternyata informasi di sekolah bergerak seperti air di tanah — ia meresap dulu ke lapisan bawah, diam-diam, dan baru muncul di permukaan setelah jenuh.
Yang membuatnya muncul adalah foto.
Bukan foto kami. Foto pintu perpustakaan.
Seseorang — aku tidak pernah tahu siapa, dan pada akhirnya aku memutuskan tidak ingin tahu — memotret kertas yang aku tempel di pintu kaca pada hari Jumat itu, dan lupa aku turunkan.
SELASA & KAMIS, ISTIRAHAT KEDUA. AKU DI SINI. — A.F.
Fotonya masuk ke base gosip sekolah pada hari Rabu pukul delapan malam, dengan caption yang berbunyi: ada yang tau ini apa
Dan pada pukul sembilan malam, tiga puluh empat balasan sudah menjawabnya.
Ekek menunjukkan ponselnya padaku di kantin hari Kamis pagi dengan wajah orang yang membawa mayat.
“Ris.”
“Gue udah lihat.”
“Lo udah lihat?”
“Amara kirim jam sepuluh semalem.”
Ekek menaruh ponselnya. “Lo baca komennya?”
“Enggak.”
“Bagus. Jangan.”
Aku mengambil ponselnya.
“RIS—“
Aku membaca.
Tiga puluh empat balasan pada saat itu; sekarang ada tujuh puluh. Aku membaca dua puluh yang teratas dalam waktu kira-kira empat puluh detik, dan itu cukup, karena semuanya adalah variasi dari satu kalimat yang sama.
kok dia
serius A.W. sama anak perpus?
ga nyangka aja
maksudnya bukan jelek ya cuma ga nyangka
wkwkwk turun kelas
jangan gitu, dia baik kok anaknya
iya baik. baik doang.
Aku mengembalikan ponselnya.
“Ris.”
“Hm.”
“Lo nggak apa-apa?”
“Nggak apa-apa.”
Dan aku benar-benar mengira itu benar, selama kira-kira empat jam.
Amara sama sekali tidak terganggu.
Ini bagian yang paling sulit aku pahami minggu itu.
Dia datang ke perpustakaan hari Kamis seperti biasa, meletakkan tasnya di meja panjang, dan hal pertama yang dia katakan adalah:
“Kamu lupa turunin kertasnya.”
“Iya.”
“Tiga minggu.”
“Iya.”
“Ris, itu di pintu kaca. Menghadap koridor.”
“Gue lupa.”
Amara duduk. “Aku suka sih kertasnya.”
Aku mengangkat wajah.
“Bagian mananya?”
“Bagian ‘A.F.’” Dia membuka bukunya. “Kamu nulis inisial. Kayak surat rahasia zaman kolonial.”
“Gue nggak mau nulis nama lengkap.”
“Kenapa?”
“Karena kalau nama lengkap, artinya gue ngumumin.”
Dia berhenti membalik halaman.
“Terus sekarang gimana?”
“Sekarang gue keumumin sama orang lain,” kataku.
Amara menatapku beberapa detik.
“Kamu keganggu.”
“Enggak.”
“Ris.”
“Gue nggak keganggu.”
Dia meletakkan bukunya.
“Aku baca semua komennya semalem,” katanya. “Tujuh puluh dua. Aku baca semua.”
“Kenapa lo baca?”
“Karena kalau aku nggak baca, aku bakal ngebayangin, dan yang aku bayangin selalu lebih parah.” Dia mengangkat bahu. “Itu udah aku pelajarin dari kelas sepuluh.”
“Terus?”
“Terus nggak ada yang baru.” Dia membuka bukunya lagi. “Sama persis kayak dua tahun lalu. Kata-katanya beda, strukturnya sama.”
“Amara.”
“Hm.”
“Mereka ngomongin gue.”
“Iya.”
“Mereka bilang lo turun kelas.”
Amara mengangkat wajahnya.
Dan untuk pertama kalinya dalam percakapan itu, ada sesuatu yang tajam di matanya.
“Iya,” katanya. “Dan itu tentang aku, bukan tentang kamu.”
“Apa?”
“Ris, mereka nggak lagi ngomongin kamu.” Dia mencondongkan badan. “Mereka nggak peduli kamu siapa. Mereka marah karena aku milih sesuatu yang nggak sesuai sama versi aku yang mereka simpen di kepala mereka.”
“Itu sama aja.”
“Enggak.” Dia menggeleng. “Kalau mereka ngomongin kamu, mereka bakal nyebut hal spesifik. Coba baca lagi. Ada nggak satu pun komen yang nyebut sesuatu tentang kamu yang beneran?”
Aku memikirkan itu.
kok dia. ga nyangka. baik doang.
Tidak ada satu pun.
“Enggak,” kataku.
“Nah.” Dia kembali ke bukunya. “Mereka nggak kenal kamu. Mereka cuma tahu kamu bukan apa yang mereka harapin.”
Kipas berdecit.
“Lo nggak marah?”
“Aku sudah marah dua tahun lalu,” katanya. “Sekarang aku cuma capek. Dan capek itu lebih gampang dibawa.”
Empat jam kemudian, aku mengerti kenapa aku tidak bisa menerima jawabannya.
Aku sedang mengembalikan buku ke rak 300 ketika dua anak kelas X masuk. Mereka tidak melihatku; aku ada di lorong rak, dan lorong rak menelan orang.
“Ini perpusnya?”
“Iya.”
“Yang mana orangnya?”
“Nggak ada kayaknya.”
“Yah.”
Jeda.
“Emang beneran ya?”
“Kata kakak gue iya.”
“Gila sih. Kayak, oke, dia baik. Tapi—“
Dan lalu yang satu lagi berkata sesuatu yang membuatku berdiri diam di lorong rak 300 dengan dua buku di tangan selama waktu yang cukup lama:
“Ya kali orang kayak gitu bisa dapet Amara. Pasti dikasihanin.”
Mereka keluar.
Aku berdiri di sana.
Dan yang menyakitkan bukan kalimatnya.
Yang menyakitkan adalah bahwa selama tiga detik penuh — tiga detik, aku menghitungnya kemudian — aku setuju.
Sebagian dari diriku berdiri di lorong rak 300 dan berpikir: iya, ya.
Dan sebagian itu bukan bagian yang baru. Bagian itu sudah ada di sana sejak lama. Bagian itu yang bilang Bagas yang pantas. Bagian itu yang menyusun sebelas kalimat yang semuanya berarti tidak.
Anak-anak kelas sepuluh itu tidak memberitahuku sesuatu yang baru.
Mereka mengucapkan sesuatu yang sudah aku ucapkan pada diriku sendiri selama bertahun-tahun, dan mendengarnya dari mulut orang lain terasa seperti konfirmasi.
Aku mengembalikan dua buku itu ke rak.
Dan aku tidak menceritakannya pada siapa pun.
Jumat.
Bagas menendang bola ke arahku di lapangan, pelan, dan aku menghentikannya dengan kaki dengan kompetensi seorang petugas perpustakaan.
“Lo main jelek banget.”
“Gue nggak main.”
“Lo berdiri di lapangan futsal. Itu main.”
Dia mengambil bolanya. Ini pertama kalinya sejak bab yang aku tidak mau ingat bahwa dia mengajakku melakukan sesuatu.
“Ris.”
“Hm.”
“Gue baca base.”
Aku tidak berkata apa-apa.
“Gue mau nulis komen,” katanya. “Terus gue nggak jadi.”
“Bagus.”
“Kenapa bagus? Gue mau belain lo.”
“Karena kalau lo belain gue di base, besok yang dibahas jadi kenapa kapten futsal belain anak perpus.” Aku menendang bolanya balik, jelek. “Dan itu tiga hari lagi jadi bahan.”
Bagas menangkapnya dengan kaki.
“Anjir. Lo bener.”
“Gue tahu.”
“Lo selalu bener,” katanya. “Itu nyebelin banget.”
Dia menggiring bola ke kiri dan ke kanan tanpa alasan.
“Ris.”
“Apa.”
“Boleh gue jujur?”
“Boleh.”
Dia berhenti menggiring.
“Waktu pertama kali gue denger kalian jadian,” katanya, “gue juga mikir ‘kok dia’.”
Aku menoleh.
“Selama satu detik doang,” katanya cepat. “Terus gue inget empat belas halaman itu. Terus gue mikir, ‘oh iya. Ya jelas dia.’”
Lapangan sore. Anak-anak lain sedang pemanasan di ujung.
“Tapi satu detik itu ada,” kata Bagas. “Dan gue sahabat lo tujuh tahun.”
“Kenapa lo cerita ini?”
“Karena gue mau lo tau bahwa itu normal,” katanya. “Semua orang bakal mikir gitu satu detik. Termasuk gue. Termasuk—“
Dia berhenti.
“Termasuk siapa?”
“Termasuk lo,” katanya.
Bola menggelinding di antara kami.
“Ris, gue nggak pinter.” Dia mengangkat bahu. “Tapi gue tau lo. Dan gue tau lo lagi ngitung.”
“Ngitung apa?”
“Ngitung berapa banyak orang yang mikir gitu. Terus lo bakal nemu angkanya gede. Terus lo bakal mikir mereka bener.”
Aku menatap bola.
“Jangan,” katanya.
“Gas—“
“Gue serius, Ris.” Dia mengambil bolanya dan mengempitnya di pinggang. “Lo tuh kalau mundur, mundurnya rapi. Nggak keliatan. Lo bakal mulai nolak jalan bareng di koridor terus bilang ‘gue ada urusan di perpus’.”
Aku tidak berkata apa-apa.
Karena aku sudah melakukannya. Hari Kamis. Amara mengajakku ke kantin dan aku bilang aku harus menyelesaikan katalog, dan itu benar, katalognya memang belum selesai, dan katalog itu bisa menunggu tiga hari.
Bagas melihat wajahku.
“Anjir,” katanya. “Lo udah mulai.”
“Enggak.”
“Ris.”
“Gue ada kerjaan beneran.”
“Lo selalu ada kerjaan beneran.” Dia melempar bola ke tanah. “Itu senjata lo. Lo satu-satunya orang yang bisa kabur dari sesuatu sambil keliatan rajin.”
Sabtu, perpustakaan kota.
Aku yang memilih. Aku yang menentukan jam. Aku yang salah menghitung dua hal: bahwa perpustakaan kota buka pukul sembilan, bukan sepuluh, dan bahwa ruang baca lantai dua sedang direnovasi.
Kami berakhir di ruang baca lantai satu, yang penuh, yang berisik, dan yang AC-nya mati.
“Maaf,” kataku.
“Kenapa?”
“Ini jelek.”
“Iya, jelek banget.”
“Gue harusnya nelpon dulu.”
“Iya, harusnya.” Amara duduk di kursi plastik di antara dua bapak-bapak yang membaca koran. “Tapi kamu yang milih.”
“Itu nggak bikin lebih bagus.”
“Bikin,” katanya.
Dia mengipasi lehernya dengan brosur.
“Ris, kamu tau nggak,” katanya, “hari ini kamu udah bilang maaf empat kali sejak jam sembilan.”
Aku menghitung mundur.
Empat.
“Kamu nggak perlu minta maaf karena AC-nya mati.”
“Gue yang milih tempat.”
“Iya. Terus AC-nya mati. Itu dua hal yang nggak nyambung.” Dia menoleh. “Kamu tau kenapa kamu minta maaf?”
“Kenapa?”
“Karena kalau kamu minta maaf, kamu balik jadi orang yang salah dan aku balik jadi orang yang harus dilayanin.” Dia mengipas lebih cepat. “Itu posisi yang kamu ngerti. Kamu nyaman di situ.”
Aku duduk di kursi plastik di sebelahnya.
Dua bapak-bapak membalik koran secara bersamaan.
“Amara.”
“Hm.”
“Lo pernah mikir ‘kok dia’?”
Kipasan itu berhenti.
Dia menoleh perlahan.
“Apa?”
“Waktu lo mutusin,” kataku. “Waktu lo pertama kali sadar lo suka gue. Di UKS, atau kapan pun. Lo pernah mikir ‘kok dia’?”
Ruang baca itu berisik dan panas dan sama sekali bukan tempat untuk percakapan ini.
Amara menaruh brosurnya.
“Iya,” katanya.
Sesuatu jatuh di dadaku.
“Sekali,” katanya. “Kelas sepuluh, sebulan setelah kejadian upacara. Aku duduk di kelas dan aku mikir, ini anak yang mana ya, yang jaga perpus itu, yang nggak pernah ngomong.”
Aku menatap lantai.
“Terus?”
“Terus aku ke perpustakaan buat lihat,” katanya. “Dan kamu lagi ngelem buku.”
Aku mengangkat wajah.
“Kamu ngelem buku selama dua puluh menit,” katanya. “Sendirian. Nggak ada yang lihat. Bukunya jelek, bukunya nggak penting, judulnya Kumpulan Puisi Pilihan terbitan tahun sembilan belas delapan puluhan yang nggak akan pernah dipinjam siapa pun.”
Dia menatapku.
“Dan kamu ngerjainnya rapi banget.”
Dua bapak-bapak membalik koran lagi.
“Habis itu aku nggak pernah mikir ‘kok dia’ lagi,” katanya. “Sekali pun. Dua tahun.”
Aku memandangi tanganku.
“Amara.”
“Hm.”
“Gue mikir gitu.”
Dia diam.
“Setiap hari,” kataku.
Dan Amara — di ruang baca lantai satu perpustakaan kota, di antara dua bapak-bapak dan AC yang mati dan kursi plastik yang berdecit — mengambil tanganku dan menggenggamnya di atas pahanya sendiri, di tempat yang bisa dilihat siapa pun yang menoleh.
“Aku tahu,” katanya.
“Lo nggak capek?”
“Capek.”
Aku menoleh.
“Aku capek,” katanya lagi, tenang. “Aku nggak akan bohong sama kamu soal itu. Tapi aku lebih capek nunggu satu setengah tahun, dan aku tetap nunggu.”
Dia mengeratkan genggamannya.
“Cuma satu permintaan aku.”
“Apa?”
“Kalau kamu mau mundur,” katanya, “mundurnya jangan diem-diem.”
- 1 Permintaan yang Tidak Bisa Kutolak
- 2 Rencana Pertama dan Kegagalan Pertama
- 3 Selasa dan Kamis
- 4 Daftar yang Salah Alamat
- 5 Termos yang Salah Terima
- 6 Kerja Kelompok Lintas Kelas
- 7 Yang Tidak Kuingat
- 8 Dua Menit di Belakang Aula
- 9 Satu Setengah Tahun
- 10 Rak 800
- 11 Pertanyaan yang Salah Jawab
- 12 Prasangka
- 13 Lapangan Upacara
- 14 Senin
- 15 Empat Belas Halaman
- 16 Sekarang Kamu
- 17 Minggu Pertama
- 18 Bawa Diri Kamu Aja
- 19 Kok Dia reading
- 20 Payung
- 21 Bimo
- 22 Tiga Puluh Delapan Koma Empat
- 23 Sembilan Belas Menit
- 24 Yang Vela Simpan
- 25 Yang Kudengar dari Balik Pintu
- 26 Kering Sendirian
- 27 Sepeda
- 28 Ruang Ganti
- 29 Empat Hari
- 30 Saya Butuh Orang
- 31 Lapangan yang Sama
- 32 Aku Duluan