Chapter Four
Daftar yang Salah Alamat
POV: Aris (orang pertama)
“Gue butuh data.”
Bagas mengatakan ini pada hari Senin pagi, di tangga menuju lantai dua, sambil menaiki dua anak tangga sekaligus dan membuat seluruh koridor bergetar.
“Data apa.”
“Data dia. Sukanya apa. Nggak sukanya apa. Warna favorit. Makanan favorit. Film. Lagu. Semuanya.”
“Buat apa?”
“Buat gue pelajarin.”
Aku berhenti di anak tangga kesembilan. “Lo mau ngapalin orang?”
“Gue mau siap.” Dia berbalik, mundur menaiki tangga menghadapku, yang selalu dia lakukan dan selalu bikin aku ingin menariknya. “Ris, ini kayak lawan tim baru. Lo harus tau mereka main pakai apa. Kalau gue ngobrol sama dia terus dia nyebut sesuatu dan gue blank, mati gue.”
“Kalau lo hafal semuanya terus lo jawab terlalu pas, dia bakal curiga.”
“Ya makanya gue butuh lo buat ngatur.”
Dia bilang itu ringan sekali. Seperti minta tolong fotokopi.
Aku melanjutkan naik.
“Ris?”
“Nanti gue usahain.”
“YES.” Dia berbalik dan hampir menabrak anak kelas X yang membawa setumpuk kertas ulangan. “Sorry, dek. Sorry. Ris — Kamis ya? Kamis gue mau udah pegang datanya.”
“Kamis.”
“LOVE YOU, RIS.”
“Jangan teriak gitu di tangga.”
Yang perlu aku jelaskan tentang tugas ini adalah: aku tidak keberatan.
Itu bagian yang paling sulit dijelaskan pada orang yang belum pernah jadi orang seperti aku. Semua orang membayangkan bahwa disuruh mengumpulkan informasi tentang seseorang yang kamu sukai, untuk diberikan kepada orang lain, adalah siksaan.
Bukan.
Rasanya seperti punya izin.
Selama ini, setiap kali aku memperhatikan sesuatu tentang Amara — cara dia menulis di pinggir halaman dengan pensil, cara dia melepas ikatan rambut tepat setelah bel, cara dia selalu meletakkan tas di depan tubuhnya kalau berdiri menunggu — aku menyimpannya dan merasa sedikit tidak enak, seperti orang yang menyimpan barang temuan tanpa melapor.
Sekarang aku punya alasan.
Sekarang memperhatikan dia adalah tugas.
Aku tidak menyadari betapa buruknya itu sampai jauh, jauh belakangan.
Selasa.
Aku menunggu sampai dia duduk dan membuka bukunya, dan sampai Bagas — yang hari ini benar-benar membaca, atau setidaknya benar-benar menatap satu halaman dengan sungguh-sungguh — tenggelam di meja tengah.
“Boleh nanya?”
Amara mengangkat kepala. “Boleh.”
“Ini agak random.”
“Aku suka random.”
Aku menarik buku catatan sampul cokelat, membukanya di halaman kosong, dan meletakkan pena di sampingnya seperti orang yang sedang mengisi formulir peminjaman.
“Perpustakaan mau bikin pengadaan buku baru,” kataku. “Pak Hendra nyuruh gue survei kecil. Lima orang dari tiap kelas.”
Ini bohong.
Ini bohong pertama yang aku ucapkan tentang Amara, dan aku bahkan tidak merasakannya keluar.
“Oh.” Dia menutup bukunya dengan jari. “Serius? Bagus dong. Koleksinya di sini—“
“Menyedihkan.”
“Aku mau bilang ‘punya karakter’.”
“Itu kata halus buat menyedihkan.”
Dia tersenyum. “Oke. Survei. Tanya.”
Aku menulis namanya di paling atas. Lalu berhenti, dan mencoretnya, dan menulis Responden 1, karena tiba-tiba melihat namanya di halaman itu terasa salah.
“Genre?”
“Nonfiksi. Yang tentang orang.”
“Biografi?”
“Bukan biografi orang besar.” Dia memiringkan kepala, mencari kata. “Yang tentang orang yang nggak terkenal. Yang kerjanya sepele terus ditulis serius.”
Aku menulis. Nonfiksi. Orang biasa. Kerja sepele ditulis serius.
“Contohnya?”
“Aku pernah baca soal orang yang kerjanya benerin jam gedung. Satu buku. Tebel. Cuma tentang itu.” Dia menaruh dagunya di tangan. “Yang bikin aku suka bukan jamnya. Yang bikin aku suka, orang itu naik ke menara tiap Kamis selama dua puluh tahun dan nggak ada satu pun orang di kota itu yang tahu namanya. Tapi kalau dia berhenti, semua orang telat.”
Pena aku berhenti setengah detik.
“Kenapa?” katanya.
“Nggak apa-apa. Lanjut. Fiksi?”
“Fiksi aku nggak pilih-pilih. Asal jangan yang tokohnya sempurna.”
“Kenapa?”
“Karena capek.” Dia mengucapkannya cepat, tanpa dipikir, dan lalu wajahnya berubah sedikit seperti orang yang menjatuhkan sesuatu. “Maksudku—“
“Nggak usah dijelasin.”
Dia menatapku.
“Oke,” katanya pelan.
Aku menulis: Tokoh sempurna: tidak.
“Lanjut. Format. Buku fisik atau digital?”
“Fisik. Yang udah dipinjem banyak orang.”
“Kenapa?”
“Karena ada bekasnya.” Dia mengetuk sampul buku di depannya. “Halaman yang paling banyak dibuka tuh beda. Lebih lemas. Jadi kamu bisa tahu bagian mana yang orang-orang balik terus.”
“Itu namanya buku rusak.”
“Itu namanya buku dipakai.”
“Pak Hendra bakal beda pendapat.”
“Pak Hendra menyimpan buku kayak menyimpan bukti.”
Aku hampir tertawa, dan menutupinya dengan pura-pura membetulkan pena.
“Terakhir.” Aku mengetuk halaman. “Kalau perpustakaan ini bisa nambah satu hal — bukan buku — apa?”
Amara berpikir lama. Lebih lama dari semua pertanyaan lain.
“Kursi yang menghadap jendela,” katanya akhirnya. “Yang cuma satu. Bukan meja. Kursi doang.”
“Kenapa cuma satu?”
“Supaya jelas itu buat sendirian.” Dia mengangkat bahu. “Kalau dua, orang bakal ngajak. Kalau satu, orang bakal ninggalin kamu.”
Aku menulis itu.
Dan sementara aku menulisnya — sementara pena bergerak dan tinta membentuk kata kursi yang menghadap jendela, satu, supaya jelas itu buat sendirian — ada sesuatu yang lewat di kepalaku, cepat, seperti bayangan burung di lantai.
Sesuatu yang berbunyi: ini semua terlalu cocok.
Aku mengabaikannya.
Aku menutup buku catatan dan bilang terima kasih, dan Amara berkata “sama-sama, semoga bukunya beneran dibeli,” dan kembali membaca.
Dan aku duduk di balik meja sirkulasi merasa — dan aku ingat ini dengan sangat jelas, karena rasanya bagus, dan karena rasa bagus itu yang paling memalukan — merasa berguna.
Rabu.
Aku menyalin data itu ke halaman bersih supaya rapi.
Ini kebiasaan lama. Kalau aku mencatat sesuatu buru-buru, aku selalu menyalinnya ulang malamnya, dengan urutan yang lebih baik dan tulisan yang lebih rapat.
Jadi aku duduk di meja kamar, jam sembilan malam, dan menyalin.
PROYEK A — PROFIL
1. Bacaan. Nonfiksi tentang orang biasa. Kerja sepele, ditulis serius. Kagum sama orang yang konsisten dan tidak dikenal.
2. Fiksi. Tidak suka tokoh sempurna. Alasan: “capek.”
3. Buku. Fisik. Suka yang sudah dipakai banyak orang. Suka bekas.
4. Perpustakaan. Ingin satu kursi menghadap jendela. Satu, bukan dua. Supaya orang meninggalkannya sendirian.
Aku berhenti.
Aku membaca daftar itu dari atas ke bawah.
Lalu dari bawah ke atas.
Ada suara di rumah — kulkas, kipas, motor lewat. Ibuku belum pulang.
Orang yang naik ke menara tiap Kamis selama dua puluh tahun dan tidak ada yang tahu namanya.
Buku yang halamannya lemas karena sering dibuka.
Kursi buat sendirian.
Aku meletakkan pena.
Ada perasaan tertentu yang tidak punya nama yang enak — perasaan waktu kamu sedang mengerjakan soal dan sadar bahwa jawaban yang kamu tulis di nomor tujuh sebenarnya jawaban untuk nomor tiga. Bukan panik. Lebih dingin dari panik. Semacam kesadaran administratif bahwa ada sesuatu yang salah tempat, dan bahwa kalau kamu mulai memeriksanya, kamu harus memeriksa semuanya.
Aku duduk di kamarku, jam sembilan malam, dengan daftar itu di depanku.
Dan aku membaca ulang.
Dan aku berpikir: ini bukan tentang gue.
Aku berpikir itu dengan sengaja. Aku menyusun kalimat itu di kepala dan menaruhnya seperti orang menaruh batu di atas kertas yang mau terbang.
Ini bukan tentang gue. Ini deskripsi tipe orang. Banyak orang begini. Ini kebetulan yang wajar. Bagas juga konsisten — dia latihan tiap hari. Bagas juga nggak sempurna. Bagas juga—
Bagas tidak pernah naik ke menara mana pun tanpa memberi tahu siapa-siapa. Bagas naik ke menara sambil merekam untuk story.
Aku mematikan lampu meja.
Aku berbaring di tempat tidur dan menatap langit-langit selama waktu yang cukup lama untuk mendengar ibuku pulang, membuka pintu, meletakkan tas, dan menghangatkan sesuatu di dapur.
Dan aku mengambil keputusan yang, dari semua keputusan di sepanjang cerita ini, adalah yang paling kecil dan paling merusak.
Aku memutuskan untuk tidak memeriksa.
Kamis.
Aku menyerahkan daftar itu ke Bagas di kantin, sebelum bel istirahat kedua.
Aku menulisnya ulang sekali lagi malam itu. Rapi. Dengan poin-poin. Tanpa satu pun kalimat yang bisa dibaca dua arti.
Bagas membacanya dengan mulut sedikit terbuka.
“Ris.”
“Hm.”
“Ini... gila.”
“Itu cuma empat poin.”
“INI EMPAT POIN YANG GILA.” Dia mengetuk kertasnya. “‘Nggak suka tokoh sempurna.’ Ris, ini artinya gue nggak perlu jaim!”
“Itu artinya dia capek sama orang yang pura-pura.”
“Sama aja.”
“Enggak, tapi terserah.”
Ekek menjulurkan kepala dari seberang meja. “Kertas apa itu.”
Bagas menutupnya dengan telapak tangan secepat kilat, dan gerakan itu jauh lebih mencurigakan daripada kertasnya sendiri.
“Tugas.”
“Tugas apa.”
“Tugas... Sejarah.”
Ekek menyipitkan mata. “Yang lama?”
“IYA. YANG LAMA.”
Aku minum air.
“Gas.” Ekek bersandar, melipat tangan, dan mengucapkan kalimat berikut dengan keyakinan seorang detektif di akhir novel: “Gue udah mikir dua minggu ini. Lo tiap Selasa Kamis ke perpustakaan. Lo bawa buku yang sama terus. Lo nggak pernah minjem apa-apa.”
“Terus?”
“Lo bukan ke sana buat belajar.”
Bagas menelan ludah.
“Lo ke sana,” kata Ekek, “buat ngedeketin Bu Sarah.”
Hening.
“Guru Bahasa Indonesia,” lanjut Ekek. “Dia sering ke perpustakaan hari Selasa. Gue perhatiin. Gas, gue nggak nge-judge, tapi—“
“BU SARAH UDAH PUNYA ANAK DUA.”
“CINTA ITU BUTA.”
“EKEK—“
“Gue dukung lo,” kata Ekek dengan khidmat, menepuk tangan Bagas. “Apa pun keputusan lo.”
Bagas menatapku dengan mata yang meminta pertolongan.
Aku menghabiskan airku, meletakkan gelas, dan berkata:
“Ekek.”
“Ya?”
“Jangan sebar.”
“Nggak akan!”
“Bagus.” Aku berdiri. “Karena kalau Bu Sarah dengar, yang malu bukan Bagas. Yang malu orang yang nyebarin.”
Ekek terlihat seperti baru memikirkan hal itu untuk pertama kali dalam hidupnya.
Di belakangku, saat aku pergi, aku dengar Bagas berbisik: “Anjir, dia jago banget ya.”
Dan Ekek menjawab: “Ngeri. Kalem-kalem gitu.”
Istirahat kedua, aku duduk di meja sirkulasi dan mengerjakan katalog.
Bagas datang. Duduk. Membuka bukunya. Dan hari itu — untuk pertama kalinya dalam dua minggu — ketika Amara masuk, dia menoleh, dan berkata dengan volume normal, tanpa berdehem, tanpa mengumumkan:
“Eh. Sore.”
Amara berhenti. Melihat jam dinding. Lalu ke Bagas.
“Ini siang.”
“Oh iya.” Bagas nyengir, tanpa panik sama sekali. “Gue emang gitu. Waktu buat gue relatif.”
Dan Amara — tertawa.
Kecil. Satu embusan lewat hidung. Tapi tertawa.
“Oke,” katanya. “Siang, waktu-relatif.”
Dia berjalan ke meja panjang.
Bagas menoleh ke arahku dengan mata sebesar piring, dan mengepalkan tinju di bawah meja, sekali, seperti orang yang baru mencetak gol dan tidak boleh selebrasi.
Dan aku mengacungkan jempol.
Aku benar-benar mengacungkan jempol. Aku ingat rasa jariku waktu melakukannya.
Lalu aku menunduk ke kartu katalog dan mulai menyusun ulang tumpukan yang sudah tersusun, dan aku terus menyusunnya untuk waktu yang cukup lama.
Sore, sepuluh menit sebelum tutup.
Aku sedang mengembalikan buku ke rak 900-an ketika aku merasa ada orang di ujung lorong rak.
Amara. Memegang buku yang sudah dia pinjam sejak minggu lalu.
“Aku mau nanya.”
“Perpanjang aja, nggak usah nanya.”
“Bukan itu.” Dia melangkah masuk ke lorong. Rak di sini tinggi; lampunya cuma satu, di ujung, jadi kami berdua ada di bagian yang setengah gelap. “Survei kemarin.”
Aku memasukkan satu buku ke rak. “Iya?”
“Itu buat siapa?”
Tanganku masih di punggung buku.
“Pak Hendra.”
“Aku tanya Pak Hendra tadi pagi,” katanya. “Nggak ada pengadaan sampai tahun depan.”
Kipas angin berdecit di ruangan sebelah.
Aku bisa merasakan denyut di leher, di tempat yang biasanya tidak aku rasakan.
Aku menarik tanganku dari rak dan berbalik menghadapnya.
Ini momennya. Aku tahu itu bahkan waktu itu. Ada pintu di lorong rak 900-an pada sore itu, dan pintu itu terbuka selama mungkin tiga detik, dan aku bisa berjalan melewatinya.
Yang harus aku lakukan cuma bilang yang sebenarnya.
“Bagas,” kataku.
Amara diam.
“Temen gue. Yang di meja tengah.” Suaraku rata. Aku bangga pada betapa ratanya suaraku. “Dia mau kenal lo. Dia nggak tahu harus mulai dari mana. Jadi gue bantuin.”
Lampu di ujung lorong berdengung.
Aku menunggu dia marah. Aku sudah menyiapkan diri untuk itu — marah karena diintip, marah karena dipakai, marah karena aku bohong.
Amara tidak marah.
Dia berdiri di sana, memegang bukunya dengan dua tangan di depan tubuh, dan wajahnya melakukan sesuatu yang aku tidak bisa baca sama sekali. Dia menunduk sedikit. Menarik napas. Menahannya.
Lalu, ketika dia mengangkat wajahnya, dia tersenyum.
Senyum yang salah. Aku tidak bisa menjelaskan kenapa aku tahu itu salah — bentuknya benar semua, sudutnya benar, giginya benar. Tapi ada sesuatu di sekitar matanya yang tidak ikut.
“Oh,” katanya. “Bagas.”
“Iya.”
“Yang kapten futsal.”
“Iya.”
Dia mengangguk perlahan. Tiga kali.
“Dia baik?”
“Dia orang paling baik yang gue kenal.”
“Hm.” Amara menyerahkan bukunya padaku. “Perpanjang, ya.”
Aku menerimanya.
“Amara.”
“Ya?”
“Lo nggak marah?”
Dia sudah setengah berbalik. Dia berhenti, dan menoleh, dan di cahaya lorong yang setengah itu aku melihat sesuatu lewat di wajahnya — cepat, seperti bayangan burung di lantai — dan hilang sebelum aku sempat menamainya.
“Enggak,” katanya. “Kenapa aku harus marah?”
Dan dia menambahkan, sambil berjalan keluar dari lorong rak, dengan nada yang begitu ringan sampai butuh waktu berbulan-bulan bagiku untuk memahaminya:
“Kamu cuma bantuin temanmu. Kamu kan emang gitu.”
Malamnya, aku membuka buku catatan sampul cokelat dan menulis di bawah daftar profil:
Tahap 2 berhasil. Dia bicara sama Bagas hari ini tanpa disuruh.
Aku menatap kalimat itu.
Lalu aku menutup buku catatan, mengunci laci, dan tidur dengan lampu menyala.
- 1 Permintaan yang Tidak Bisa Kutolak
- 2 Rencana Pertama dan Kegagalan Pertama
- 3 Selasa dan Kamis
- 4 Daftar yang Salah Alamat reading
- 5 Termos yang Salah Terima
- 6 Kerja Kelompok Lintas Kelas
- 7 Yang Tidak Kuingat
- 8 Dua Menit di Belakang Aula
- 9 Satu Setengah Tahun
- 10 Rak 800
- 11 Pertanyaan yang Salah Jawab
- 12 Prasangka
- 13 Lapangan Upacara
- 14 Senin
- 15 Empat Belas Halaman
- 16 Sekarang Kamu
- 17 Minggu Pertama
- 18 Bawa Diri Kamu Aja
- 19 Kok Dia
- 20 Payung
- 21 Bimo
- 22 Tiga Puluh Delapan Koma Empat
- 23 Sembilan Belas Menit
- 24 Yang Vela Simpan
- 25 Yang Kudengar dari Balik Pintu
- 26 Kering Sendirian
- 27 Sepeda
- 28 Ruang Ganti
- 29 Empat Hari
- 30 Saya Butuh Orang
- 31 Lapangan yang Sama
- 32 Aku Duluan