← Aku Duluan

Chapter Twenty Six

Kering Sendirian

POV: Aris (orang pertama)


Dia datang pukul tiga sore.

Bukan istirahat kedua. Bukan hari Selasa atau Kamis. Senin, pukul tiga, ketika perpustakaan sudah kosong dan aku sedang mengembalikan troli terakhir ke belakang meja sirkulasi.

Aku mendengar pintu.

Dua tahap, karena engselnya berbunyi kalau dilepas begitu saja.

“Selamat,” kataku.

Amara berdiri di dekat pintu.

“Makasih.”

“Dua ratus enam belas.”

“Iya.”

“Itu banyak.”

“Iya.”

Dia tidak melangkah masuk lebih jauh.

Dan aku, yang selama tujuh belas tahun tidak pernah bisa membaca ruangan dengan benar, membaca ruangan itu dengan sempurna dalam waktu kurang dari dua detik.

Aku tahu.

Aku tahu dari cara dia berdiri — tidak menaruh tas di meja panjang, tidak menarik kursi, tidak melepas ikatan rambutnya meskipun bel sudah lama berbunyi.

Dia tidak datang untuk duduk.

“Amara.”

“Aku sudah nyiapin ini,” katanya. “Semalam. Aku tulis. Terus aku hafalin. Terus aku buang kertasnya karena aku nggak mau ini kayak orasi.”

Kipas berdecit.

“Jadi mungkin berantakan,” katanya. “Maaf.”

“Nggak apa-apa.”

Dia membuka tasnya.

Dan mengeluarkan payung.

Biru tua. Lakban hitam yang terkelupas di ujung gagang.

Sesuatu di dadaku berhenti bekerja.

“Amara—“

“Aku minjem ini lagi minggu lalu,” katanya. “Kamu inget?”

Aku ingat.

Selasa. Hujan sore. Dia lupa membawa payung dan aku memberikan payungku dan berjalan ke halte basah, dan dia berkata maaf ya, dan aku berkata denda di sini nol rupiah, dan aku merasa senang selama seluruh perjalanan pulang.

“Iya,” kataku.

Dia meletakkan payung itu di meja sirkulasi.

“Aku balikin.”


“Ris.”

“Ya.”

“Aku mau kamu dengerin sampai selesai.”

Aku memegang pinggir meja.

“Oke.”

Amara menarik napas.

“Aku nggak marah,” katanya. “Aku mau bilang itu paling awal karena kamu bakal ngabisin tiga hari mikirin apa salah kamu, dan aku nggak mau kamu punya bahan buat itu.”

“Amara—“

“Belum selesai.”

Aku diam.

“Aku menang kemarin,” katanya. “Dua ratus enam belas suara. Itu selisih terbesar dalam lima tahun; Nadia yang bilang, dia punya datanya.”

Dia menggeser payung itu satu sentimeter di meja.

“Dan waktu namanya dibacain, aku nyari kamu di lapangan,” katanya. “Aku tau kamu nggak akan ada. Aku sudah tau dari hari Sabtu. Tapi aku tetep nyari, dua kali, muter kepala kayak orang bego di depan tujuh ratus orang.”

Aku menutup mata.

“Terus aku nemu Vela,” katanya. “Dan Vela lihat muka aku dan langsung tau, dan dia nggak ngomong apa-apa, dia cuma pegang tangan aku.”

Kipas.

“Vela,” katanya. “Orang yang nyimpen surat aku selama satu setengah tahun.”


“Aku nggak akan bilang kamu jahat,” katanya. “Kamu bukan orang jahat. Kamu orang paling baik yang pernah aku kenal, dan aku serius, dan itu bukan hiburan.”

Dia mengangkat wajahnya.

“Kamu ngasih payung ke orang,” katanya. “Terus kamu pulang basah. Terus kamu bilang nggak apa-apa.”

Aku memandangi meja.

“Kamu ngelakuin itu ke aku, ke anak kelas sepuluh, ke ibu kantin, ke semua orang. Sama persis.” Suaranya mulai bergetar. “Dan waktu aku pertama kali lihat, aku pikir itu hal paling bagus yang pernah aku lihat dari manusia.”

Dia menelan.

“Sekarang aku ngerti itu apa,” katanya.

“Amara—“

“Kamu nggak ngasih payung karena kamu peduli,” katanya. “Kamu ngasih payung supaya kamu jadi orang yang basah.”

Perpustakaan sangat sunyi.

“Karena selama kamu yang basah, kamu nggak punya utang ke siapa pun,” katanya. “Selama kamu yang basah, kamu aman. Nggak ada yang bisa ngambil apa-apa dari kamu karena kamu nggak pernah pegang apa-apa.”

Aku memegang pinggir meja lebih erat.

“Dan aku sudah delapan bulan,” katanya, “berdiri di sebelah kamu, kering, sambil ngeliatin kamu basah.”

Suaranya pecah.

“Aku capek jadi orang yang kering sendirian, Ris.”


Aku tidak berkata apa-apa.

Bukan karena tidak ada yang bisa dikatakan.

Karena setiap kalimat yang naik ke tenggorokanku adalah kalimat yang meminta dia tinggal, dan setelah tujuh belas tahun, tenggorokanku tidak punya jalur untuk itu.

Amara menunggu.

Dia menunggu — lagi, lagi, seperti di lapangan upacara, seperti di lorong rak 800, seperti di kamar dengan piring jeruk di pangkuanku.

Aku menghitung.

Empat detik. Enam. Sembilan.

“Oke,” katanya.

Dan sesuatu di dalam diriku berteriak dengan sangat keras dan tidak mengeluarkan satu suara pun.

“Aku nggak bilang putus,” katanya.

Aku mengangkat wajah.

“Aku nggak akan bilang itu,” katanya, “karena aku sudah bilang ke kamu bahwa aku benci orang yang mundur diem-diem, dan aku nggak mau jadi orang yang ngelakuin hal yang aku benci.”

Dia menyandang tasnya.

“Aku bilang begini,” katanya. “Aku berhenti nunggu.”

Kipas berdecit.

“Aku nunggu satu setengah tahun sebelum kita jadian dan delapan bulan setelahnya,” katanya. “Dua tahun tiga bulan, Ris. Aku ngitung. Kamu tau aku selalu ngitung.”

Dia berjalan ke pintu.

“Aku nggak marah,” katanya lagi, dan kali ini terdengar seperti dia mengucapkannya untuk dirinya sendiri. “Aku nggak akan aneh di sekolah. Aku nggak akan nyuruh orang milih pihak. Aku bakal tetap nyapa kamu di koridor.”

Dia berhenti di ambang pintu.

Tentu saja dia berhenti di ambang pintu. Dia selalu berhenti di ambang pintu; dia selalu punya satu kalimat lagi dan dia selalu menyimpannya sampai punggungnya menghadapku.

“Ris.”

“Ya.”

“Kalau suatu hari kamu bisa minta sesuatu,” katanya, “yang beneran, yang buat kamu sendiri, yang bukan buat orang lain—“

Suaranya berhenti.

“—aku mau denger.”

Dan lalu:

“Tapi aku nggak akan nunggu di depan pintu lagi.”


Pintu tertutup.

Dua tahap.


Aku berdiri di belakang meja sirkulasi.

Ada payung biru tua di atas formika yang terkelupas di sudut kiri.

Kipas berputar.

Aku tidak tahu berapa lama aku berdiri di sana. Cukup lama sampai cahaya dari jendela sisi timur bergeser dan bagian ruangan yang terang jadi lebih kecil.

Lalu aku melakukan hal yang paling aku kuasai di dunia.

Aku mengembalikan troli ke tempatnya.

Aku mematikan kipas.

Aku memeriksa jendela — tiga, semuanya, kaitnya dua-dua.

Aku memasukkan sembilan puluh tiga kartu katalog ke laci dan menutupnya.

Aku mengambil payung dari meja sirkulasi.

Dan aku berdiri memegangnya, dan aku melihat lakban hitam yang aku pasang sendiri delapan bulan lalu dengan hasil yang jelek, dan aku berpikir bahwa aku seharusnya memperbaikinya dengan benar, seharusnya membeli lakban baru, seharusnya—

Aku menaruh payung itu di laci meja sirkulasi.

Bukan di tas.

Di laci perpustakaan, tempat barang temuan disimpan.

Dan aku mengunci perpustakaan pukul empat lewat dan berjalan ke gerbang dan hari itu tidak hujan sama sekali.


Aku pulang naik angkot.

Ibuku sedang di rumah; hari Senin beliau libur.

“Ris.”

“Iya, Bu.”

“Makan?”

“Nanti.”

Aku masuk kamar dan menutup pintu, dan aku duduk di kursi meja belajar, dan aku menarik laci — yang tidak aku kunci lagi sejak bulan lalu.

Buku catatan sampul cokelat.

Aku membukanya di halaman Hari ini.

Ada empat entri di sana. Rabu jeruk. Sabtu futsal. Dua lagi dari minggu-minggu setelahnya, keduanya pendek.

Aku mengambil pena.

Dan aku duduk di sana, dengan pena di atas kertas, selama waktu yang sangat lama.

Karena aku menyadari bahwa aku tidak tahu bagaimana menulis kalimat ini.

Bukan karena terlalu menyakitkan.

Karena setiap versi yang muncul di kepalaku berbentuk laporan tentang orang lain.

Amara berhenti nunggu.

Amara ngembaliin payung.

Amara menang 216 suara.

Aku menaruh pena.

Aku mengambilnya lagi.

Dan akhirnya aku menulis satu baris, dan tulisannya jelek, dan tangannya tidak stabil, dan itu adalah kalimat pertama dalam seluruh buku catatan itu — empat belas halaman tentang Amara, empat entri tentang hari-hariku, dua ratus tiga puluh judul rak 800 — yang subjeknya adalah aku sendiri dan tidak menjelaskan apa pun:

Gue nggak mau dia pergi.

Aku menatap kalimat itu.

Enam kata.

Dan aku menyadari bahwa aku baru saja menuliskan sesuatu yang seharusnya aku ucapkan lima belas menit lalu, di ruangan berjarak tiga meter dari orangnya, dan bahwa aku memilih untuk menulisnya.

Karena menulis itu aman.

Karena kertas tidak pergi.

Aku menutup buku catatan itu.

Dan aku duduk di kamar dengan lampu belum dinyalakan sampai gelap, dan pada suatu titik ibuku mengetuk pintu, dan aku tidak menjawab, dan beliau tidak masuk.

Dan aku ingat berpikir — dengan jernih, tanpa drama, seperti orang membaca nomor rak:

Empat hari.

Terakhir kali gue kayak gini, ada yang ngetuk pintu empat hari.

Sekarang gue tujuh belas.

Dan nggak ada yang bakal ngetuk, karena gue udah ngajarin semua orang bahwa gue nggak butuh apa-apa.