Chapter Fifteen
Empat Belas Halaman
POV: Aris (orang pertama)
Rabu, Bagas datang ke rumahku tanpa memberi tahu.
Aku sedang di dapur. Ibuku shift sore. Pukul setengah lima, dan ada ketukan di pintu, dan aku membuka dan dia berdiri di teras dengan tas sekolah masih di punggung.
“Belum ganti baju?”
“Belum sempat.”
“Masuk.”
Dia masuk, melepas sepatu, dan duduk di lantai ruang depan seperti yang selalu dia lakukan sejak SMP meskipun ada kursi.
“Gue butuh bantuan,” katanya.
“Bantuan apa.”
“Gue harus nyiapin kalimatnya.”
Aku ke dapur mengambil dua gelas air.
“Lo nggak perlu nyiapin kalimat.”
“Gue perlu.” Dia menerima gelasnya. “Ris, gue gagal dua kali. Dua kali. Yang pertama gue bilang ‘ramai ya’ di ruangan isi tujuh orang. Yang kedua gue bilang laporan Vela bagus ke orang yang bukan Vela.”
“Itu bukan gagal, itu—“
“Itu gagal.” Dia meminum airnya sampai habis. “Gue nggak mau ada yang ketiga. Gue mau tulis kalimatnya, gue apalin, dan gue ngomong. Itu doang.”
Aku duduk di lantai di seberangnya.
“Oke.”
“Lo bantuin?”
“Iya.”
Dan aku benar-benar bermaksud membantu.
Aku ingin ini dicatat dengan jujur, karena aku sudah cukup sering tidak jujur dalam cerita ini. Duduk di lantai ruang depan rumahku pada Rabu sore, aku benar-benar bermaksud membantu Bagas menyusun kalimat untuk menembak perempuan yang aku cintai, dan aku tidak merasa itu aneh sama sekali, karena aku sudah menghabiskan dua hari terakhir memasang batu di atas kertas dan sistemnya bekerja dengan sangat baik.
“Kertas ada?”
“Di kamar.”
Aku berdiri.
Dan itu — kalimat itu, langkah itu, keputusan yang memakan waktu kurang dari satu detik dan tidak melibatkan pertimbangan apa pun — itu yang mengakhiri segalanya.
“Gue ambilin,” kata Bagas. “Lo bikinin gue kopi dong. Gue ngantuk banget.”
“Di laci meja gue. Kertas HVS.”
“Oke.”
Dia berdiri dan masuk ke kamarku.
Aku ke dapur.
Aku menjerang air.
Aku mengambil dua sachet kopi dari toples, dan aku ingat memikirkan bahwa kami kehabisan gula, dan aku ingat membuka lemari untuk mengecek, dan aku ingat menemukan setengah bungkus dan berpikir cukup.
Dan aku ingat berdiri di dapur dan menyadari, sekitar empat puluh detik terlambat, bahwa laci meja kamarku tidak pernah aku kunci untuk kertas HVS.
Aku menaruh sendok.
Aku berjalan ke kamar.
Bagas berdiri di sana.
Laci terbuka.
Buku catatan sampul cokelat ada di tangannya, terbuka, dan dia sudah membaca cukup lama karena jempolnya ada di halaman keenam.
Aku berdiri di ambang pintu.
Air mendidih di dapur dan aku tidak mematikannya.
“Gas.”
Dia tidak mengangkat wajah.
“Bagas.”
Dia membalik halaman.
“Bagas, taruh.”
Dia membalik halaman lagi.
Dan aku berdiri di sana dan tidak mengambilnya, karena mengambilnya berarti sudah terlambat, dan tidak mengambilnya juga berarti sudah terlambat, dan tubuhku memilih yang kedua karena yang kedua tidak melibatkan gerakan.
Air terus mendidih.
Bagas sampai di halaman terakhir yang ada tulisannya.
Lalu dia menutup buku itu.
Dan dia berdiri di kamarku menghadap meja, membelakangi aku, dan tidak berbalik selama waktu yang cukup lama.
Ketika dia akhirnya berbicara, suaranya biasa saja.
Itu bagian yang membuatku ingin muntah.
“Empat belas halaman,” katanya.
“Gas.”
“Gue dikasih empat poin.”
Air mendidih. Ketel mulai berbunyi.
“Matiin airnya,” katanya.
“Bagas—“
“Matiin airnya, Ris.”
Aku ke dapur dan mematikan kompor dan kembali dan dia masih berdiri di posisi yang sama.
Dia berbalik.
Dan aku sudah menyiapkan diri untuk banyak hal — teriakan, pukulan, pintu dibanting, motor yang dinyalakan dengan gas terlalu besar di gang.
Bagas duduk di tepi tempat tidurku.
Dia meletakkan buku catatan itu di kasur, di antara kami, dan dia menatap lantai.
“Sejak kapan?”
“Bagas—“
“Sejak kapan, Ris.”
Aku bersandar di kusen pintu karena aku tidak yakin kakiku bisa diandalkan.
“Gue nggak tahu,” kataku.
“Jangan.”
“Gue serius.” Dan aku serius, itu yang paling buruk. “Gue nggak tahu kapan mulai. Gue baru tahu gue suka dia hari Sabtu dua minggu lalu, di lomba debat, pas dia salah nyebut satu kata.”
Bagas mengangkat wajahnya.
“Dua minggu lalu.”
“Iya.”
“Terus di warung kopi itu—“ Dia berhenti. Menghitung. “Warung kopi itu sebelum atau sesudah?”
Aku menutup mata.
“Sebelum.”
“Ris.”
“Sebelum.”
“Gue tanya lo di warung kopi, dan lo bilang enggak.” Suaranya masih rata. “Dan itu sebelum lo tahu.”
“Iya.”
“Terus lo tahu dua minggu lalu.” Dia mengetuk buku catatan di kasur dengan satu jari. “Dan ini ditulis dari bulan Agustus.”
Aku tidak berkata apa-apa.
“Ris, gue nggak bego.”
“Gue tahu.”
“Lo nulis empat belas halaman tentang cara dia nulis pakai pensil terus dihapus sebelum balikin buku.” Dia mengambil buku itu, membukanya, dan membaca dengan suara datar: “‘Tanggal 3 September. Dia lepas ikatan rambut tepat setelah bel, tiap hari, kayak itu bagian dari seragam.’”
Dia menutupnya.
“Ini bukan orang yang baru sadar dua minggu lalu.”
Ada motor lewat di gang.
“Iya,” kataku.
Itu satu kata dan aku mengucapkannya dan seluruh bangunan yang aku dirikan selama tujuh belas tahun berdiri di sana tanpa satu pun dinding.
Bagas menaruh buku catatan itu di kasur.
Dan lalu dia menangis.
Tanpa suara. Dia menunduk dan bahunya bergerak dua kali dan dia mengusap wajahnya dengan lengan seragam sekali, kasar, dan berhenti.
Aku tidak pernah melihatnya menangis. Tujuh tahun. Tidak waktu neneknya meninggal. Tidak waktu dia patah tangan di kelas dua SMP.
“Gas—“
“Diem dulu.”
Aku diam.
Dia bicara setelah kira-kira satu menit.
“Gue nggak marah lo suka dia.”
“Gas—“
“Gue serius.” Dia mengangkat wajahnya, dan matanya merah, dan suaranya masih rata, dan itu jauh lebih menakutkan daripada kalau dia berteriak. “Orang suka orang. Itu bukan salah. Gue nggak punya hak apa-apa atas dia. Gue tahu itu.”
Dia menarik napas.
“Yang bikin gue pengin mukul lo,” katanya, “bukan itu.”
“Terus apa.”
“Lo tahu, dan lo tetep bantuin gue.”
Kamar itu sangat sempit tiba-tiba.
“Lo bikinin gue rencana.” Dia mengangkat tangannya, membiarkannya jatuh. “Lo suruh gue duduk diem dua minggu. Lo kasih gue daftar. Lo bilang ‘itu pintu masuk’ pas dia bawain lo minum. Lo bilang ‘bagus’ pas gue bilang gue mau nembak dia hari Jumat.”
“Bagas—“
“Lo bilang bagus, Ris.”
Aku memandang lantai.
“Lo tau gue bakal kayak gini,” katanya. “Lo pinter. Lo tuh orang paling pinter yang gue kenal. Lo tau dari awal ini bakal berakhir sama gue berdiri di kamar lo kayak orang bego.”
“Gue nggak—“
“Dan lo tetep bantuin.” Dia berdiri. “Itu bukan setia, cuy—“
Dia berhenti.
Dia benar-benar berhenti, di tengah kata, karena tujuh tahun bersahabat berarti kamu punya panggilan-panggilan yang muncul sendiri ketika kamu sedang tidak menjaga mulutmu. Cuy adalah panggilan untuk hari-hari biasa. Untuk perpustakaan. Untuk tangga sekolah jam tujuh pagi.
Dia menelan.
“Itu bukan setia, Ris,” katanya. “Itu pengecut.”
Dia melewatiku ke pintu.
“Bagas.”
Dia berhenti di ruang depan, memakai sepatunya.
“Gue nolak dia,” kataku.
Tangannya berhenti di tali sepatu.
“Apa?”
“Hari Senin.” Suaraku terdengar aneh di telingaku sendiri. “Dia nembak gue hari Sabtu. Gue nolak hari Senin. Gue bilang karena lo.”
Bagas berdiri perlahan.
Dan wajahnya — untuk pertama kalinya sejak dia membuka laci itu — berubah jadi sesuatu yang tidak aku duga sama sekali.
Ngeri.
“Lo apa?”
“Gue bilang gue nggak bisa ngambil ini dari lo—“
“LO PAKE NAMA GUE?”
Dan itu suara yang aku tunggu sejak dua jam lalu, dan sekarang setelah datang aku ingin dia berhenti.
“Lo tolak dia,” katanya, “pakai nama gue?”
“Bagas, lo minta lebih dulu—“
“GUE MINTA LO BANTUIN, RIS.” Dia menghantam kusen pintu dengan sisi telapak tangan, sekali, dan seluruh rumah bergetar. “Gue minta lo bantuin gue kenalan sama orang. Gue nggak pernah minta lo ngerusak hidup lo sendiri buat gue. Gue nggak pernah minta lo jadi—“
Dia berhenti, terengah.
“Gue nggak pernah minta lo jadi tumbal, anjing.”
Ruang depan sangat sunyi.
“Lo tau nggak lo bikin gue jadi apa?” katanya. “Lo bikin gue jadi alasan. Sekarang seumur hidup gue, tiap kali gue inget dia, gue bakal inget bahwa gue alasan dia ditolak.”
“Itu bukan—“
“Gue nggak minta itu.” Suaranya pecah di tengah. “Gue nggak pernah minta itu, Ris. Lo yang ngasih. Lo selalu ngasih. Lo ngasih terus sampe gue nggak pernah bisa nolak, karena gue bahkan nggak tau lo lagi ngasih.”
Dia mengusap wajahnya.
“Tujuh tahun,” katanya. “Tujuh tahun gue mikir gue temen lo. Terus gue baca empat belas halaman itu dan gue sadar gue nggak pernah nanya lo mau apa. Sekali pun. Tujuh tahun.”
Dia membuka pintu.
“Gas.”
“Lo tau bagian yang paling parah?” Dia berdiri di ambang pintu dengan punggung menghadapku. “Gue ngetuk pintu kamar lo empat hari waktu bokap lo pergi. Empat hari. Gue inget itu, dan gue selalu inget itu, dan gue nggak pernah nyebut karena kayaknya nggak sopan.”
Angin masuk dari pintu yang terbuka.
“Ternyata lo juga inget,” katanya. “Dan lo pake itu.”
Dia menoleh setengah.
“Lo pake empat hari itu buat bayar semua yang lo kasih ke gue selama tujuh tahun, dan gue nggak pernah tau gue lagi ditagih.”
Pintu tertutup.
Motornya menyala di gang dan pergi dan suaranya menipis dan hilang.
Aku berdiri di ruang depan.
Ketel di dapur sudah dingin. Dua sachet kopi masih di meja, belum dibuka.
Aku masuk kamar.
Buku catatan sampul cokelat ada di kasur, terbuka di halaman ketujuh.
Aku mengambilnya.
Dan aku membacanya — bukan sebagai orang yang menulisnya, tapi seperti Bagas membacanya empat puluh menit lalu, dari luar, sebagai orang asing yang menemukan sesuatu di laci orang lain.
3 September. Dia lepas ikatan rambut tepat setelah bel.
17 September. Dia bawa dua buku, satu ditumpuk di seberang biar nggak ada yang duduk.
2 Oktober. Nulis di pinggir halaman pakai pensil. Selalu dihapus sebelum balikin.
19 Oktober. Termos. Jahe, gula merah, serai.
4 November. Dia bilang: kalau ribet, berasa dihargai.
11 November. Kursi menghadap jendela. Satu, bukan dua.
28 November. Kamis. Hujan. Nunggu jemputan 40 menit di koridor timur.
Empat belas halaman.
Delapan bulan.
Dan tidak satu pun dari mereka pernah aku tunjukkan pada siapa pun, dan tidak satu pun dari mereka pernah aku akui pada diriku sendiri sebagai apa adanya.
Aku duduk di lantai kamar dengan punggung ke tempat tidur.
Dan akhirnya — pukul enam sore hari Rabu, sendirian, di rumah yang kosong, empat hari terlambat dan delapan bulan terlambat dan satu tahun tujuh bulan terlambat —
aku menangis.
Bukan yang indah. Yang jelek, yang bunyinya memalukan, yang membuat hidungmu tersumbat dan bahumu sakit.
Aku menangis di lantai kamar sampai ibuku pulang pukul sembilan dan menemukanku masih di sana, dan beliau tidak bertanya apa-apa, dan beliau duduk di lantai di sebelahku dengan seragam apoteknya masih terpakai, dan beliau melingkarkan lengannya di bahuku.
Dan beliau berkata satu hal.
“Kamu nggak harus jadi orang baik terus, Ris.”
- 1 Permintaan yang Tidak Bisa Kutolak
- 2 Rencana Pertama dan Kegagalan Pertama
- 3 Selasa dan Kamis
- 4 Daftar yang Salah Alamat
- 5 Termos yang Salah Terima
- 6 Kerja Kelompok Lintas Kelas
- 7 Yang Tidak Kuingat
- 8 Dua Menit di Belakang Aula
- 9 Satu Setengah Tahun
- 10 Rak 800
- 11 Pertanyaan yang Salah Jawab
- 12 Prasangka
- 13 Lapangan Upacara
- 14 Senin
- 15 Empat Belas Halaman reading
- 16 Sekarang Kamu
- 17 Minggu Pertama
- 18 Bawa Diri Kamu Aja
- 19 Kok Dia
- 20 Payung
- 21 Bimo
- 22 Tiga Puluh Delapan Koma Empat
- 23 Sembilan Belas Menit
- 24 Yang Vela Simpan
- 25 Yang Kudengar dari Balik Pintu
- 26 Kering Sendirian
- 27 Sepeda
- 28 Ruang Ganti
- 29 Empat Hari
- 30 Saya Butuh Orang
- 31 Lapangan yang Sama
- 32 Aku Duluan