← Aku Duluan

Chapter Three

Selasa dan Kamis

POV: Aris (orang pertama)


Dua minggu berlalu, dan tahap satu berhasil.

Aku menulis kalimat itu di buku catatan sampul cokelat pada hari Kamis kedua, dan pada saat itu aku benar-benar percaya bahwa aku sedang mencatat keberhasilan Bagas.


Begini bentuk keberhasilan itu.

Bagas datang ke perpustakaan Selasa dan Kamis. Dia duduk di meja tengah. Dia membuka buku. Dia bertahan dua puluh menit sebelum kepalanya mulai jatuh, dan pada minggu kedua dia benar-benar tertidur satu kali dengan mulut terbuka, dan tidak ada seorang pun yang menoleh.

Itu kemenangan. Sungguh. Anomali sudah berubah jadi perabot.

Yang tidak masuk ke dalam catatan — karena aku tidak menganggapnya bagian dari proyek — adalah bahwa selama dua minggu itu, jam istirahat kedua di hari Selasa dan Kamis berubah bentuk.

Amara berhenti duduk di meja pojok.

Dia pindah ke meja panjang di dekat sirkulasi. Alasan yang dia berikan, pada hari pertama, sambil meletakkan dua buku dan tas:

“Pojok itu bocor.”

Aku melihat ke langit-langit di atas meja pojok. Ada noda cokelat pucat yang usianya kira-kira sama dengan sekolah ini.

“Itu bocor tahun lalu. Udah ditambal.”

“Ditambal sama sekolah ini,” katanya, duduk. “Aku nggak percaya.”

“Sekarang kemarau.”

“Aku juga nggak percaya kemarau.”

Dan begitulah.


Meja panjang di dekat sirkulasi berjarak dua setengah meter dari kursiku. Cukup jauh untuk tidak dianggap duduk bersama. Cukup dekat untuk bicara tanpa mengeraskan suara — yang penting, karena Pak Hendra punya pendengaran seperti kelelawar dan tidak segan menggunakannya.

Kami tidak selalu bicara. Itu bagian yang paling aku ingat.

Ada hari-hari di mana dia datang, duduk, membaca empat puluh menit, dan pergi dengan satu anggukan. Dan itu tidak canggung. Itu justru bagian yang paling nyaman — bahwa ada orang di ruangan yang tidak menuntut ruangan itu bersuara.

Tapi ada juga hari-hari lain.

Selasa, minggu pertama.

“Kamu selalu di sini?”

“Selasa sampai Jumat. Senin latihan upacara, jadi tutup.”

“Bukan itu maksudku.” Dia menutup bukunya dengan jari sebagai pembatas. “Maksudku, kamu selalu di sini. Istirahat pertama, kedua, pulang sekolah. Kamu nggak pernah di kantin?”

“Kantin itu kandang.”

Dia tertawa. Bukan tawa panjang — satu embusan lewat hidung, cepat, dan langsung ditutup dengan telapak tangan seolah dia tidak ingin ketahuan tertawa di perpustakaan.

“Kandang,” ulangnya.

“Ada enam meja buat empat meja. Itu matematika yang jahat.”

“Kamu nggak suka rame.”

“Gue nggak keberatan rame. Gue keberatan rame yang nggak ada gunanya.”

Amara memiringkan kepala. “Rame yang ada gunanya itu apa?”

Aku memikirkan itu lebih lama dari yang seharusnya untuk pertanyaan basa-basi.

“Lapangan pas ada pertandingan,” kataku akhirnya. “Semua orang ribut buat hal yang sama. Itu ada arahnya.”

Dia menatapku sebentar. Lalu membuka bukunya lagi.

“Aku setuju,” katanya, ke halaman.

Kamis, minggu pertama.

Dia datang membawa termos kecil dan meletakkannya di meja seolah itu hal paling wajar di dunia.

“Nggak boleh makan minum di perpustakaan,” kataku.

“Ini bukan minum. Ini wadah.”

“Wadah berisi.”

“Kamu nggak tahu isinya.”

“Gue bisa cium.”

“Itu masalah kamu, bukan masalah wadahnya.”

Aku menyerah. Pak Hendra sedang keluar. Aku menghitung risiko dan memutuskan bahwa jika ada satu orang di sekolah ini yang bisa membicarakan jalan keluarnya dari hukuman apa pun, itu Amara.

“Teh?”

“Jahe.”

“Kamu lagi sakit?”

“Enggak.” Dia membuka tutupnya sedikit; uapnya keluar tipis. “Aku suka aja. Bikinnya lama, jadi berasa dihargai.”

“Dihargai sama siapa?”

“Sama aku.” Dia menutupnya lagi. “Kamu nggak pernah bikin sesuatu buat diri sendiri yang ribet?”

“Enggak.”

“Kenapa?”

“Karena kalau ribet, gue bikinnya buat orang lain.”

Aku mengucapkannya tanpa berpikir, dengan nada orang menyebut fakta cuaca.

Amara tidak menjawab.

Ketika aku mengangkat wajah, dia sedang menatapku dengan ekspresi yang belum pernah aku lihat sebelumnya — bukan kaget, bukan kasihan. Sesuatu yang lebih pelan dari itu. Seperti orang yang baru saja menemukan satu keping di kotak puzzle dan sedang memutuskan di mana meletakkannya.

“Apa,” kataku.

“Nggak apa-apa.”

Dia minum tehnya. Aku kembali ke kartu katalog.

Tiga menit kemudian, tanpa mengangkat kepala dari bukunya, dia berkata:

“Besok bawa termos sendiri.”

“Gue nggak punya termos.”

“Ya beli.”

“Gue nggak minum teh.”

“Ya belajar.”

Dan itu, entah bagaimana, terasa seperti dimarahi.

Selasa, minggu kedua.

Ini hari Bagas tertidur.

Dia duduk di meja tengah dengan buku Sejarah terbuka di halaman yang sama sejak Kamis lalu, dan pada menit kedua puluh tiga kepalanya turun, dan pada menit kedua puluh lima dia mendengkur — pendek, sekali, cukup keras.

Aku mengangkat kepala. Amara juga.

Mata kami bertemu di atas ruangan.

Dan dia menutup mulutnya dengan punggung tangan, bahunya bergetar, dan aku harus menunduk ke laci dan berpura-pura mencari sesuatu selama sepuluh detik penuh.

Ketika aku bangkit lagi, dia sudah kembali serius, kecuali matanya.

“Temanmu?” bisiknya.

“Iya.”

“Dia rajin sekali.”

“Dia lagi memperbaiki nilai Sejarah.”

“Sejarah apa?”

Aku membuka mulut. Menutupnya.

“Yang lama,” kataku.

Kali ini dia benar-benar harus menunduk ke mejanya, dan aku mendengar suara napas yang tercekat, dan Pak Hendra membuka pintu ruangannya dan menatap kami berdua dengan tatapan seorang pria yang sudah tiga puluh tahun mengajar dan tidak lagi terkejut oleh apa pun.

Beliau menutup pintunya kembali.


Aku ingin berhenti di sini dan mengatakan sesuatu yang jujur.

Aku tahu apa yang sedang terjadi.

Bukan tahu dengan cara yang bisa diucapkan. Tahu dengan cara yang lebih rendah dari itu — cara tubuh tahu bahwa besok akan hujan sebelum awan datang.

Aku tahu karena aku mulai tidur lebih larut di hari Rabu.

Aku tahu karena aku mulai mengecek jam di hari Senin.

Aku tahu karena pada suatu titik di minggu kedua, aku menyadari bahwa aku telah memindahkan tumpukan buku pengembalian dari rak belakang ke rak depan, dan alasannya adalah karena rak depan menghadap meja panjang, dan itu berarti kalau aku berdiri untuk menyusun buku, aku menghadap ke arahnya alih-alih membelakanginya.

Aku menyadari itu, berdiri sendirian di antara rak pada suatu sore, dengan tumpukan buku di tangan.

Dan yang aku lakukan adalah ini:

Aku memikirkan Bagas mengetuk pintu kamarku empat hari berturut-turut.

Lalu aku memindahkan tumpukan itu kembali ke rak belakang.

Dan aku merasa lega, karena aku sudah menyelesaikan masalahnya.

Itu bukan pengorbanan. Aku ingin ini dicatat dengan benar, karena nanti aku akan menyebutnya pengorbanan berkali-kali dan aku akan salah.

Itu penghindaran.

Selama aku tidak pernah masuk ke lapangan, aku tidak pernah bisa kalah.


Kamis, minggu kedua.

Aku datang lebih pagi untuk mengecek pengembalian yang menumpuk, dan menemukan Vela sudah berdiri di depan meja sirkulasi. Perpustakaan belum resmi buka. Lampu belum semuanya hidup.

“Belum jam tujuh,” kataku.

“Aku tahu.”

Dia meletakkan sebuah buku. Sejarah Perkembangan Aksara Nusantara.

“Balikin.”

“Ini yang dua minggu lalu.”

“Iya.”

“Lo baca?”

“Enggak.”

Aku menariknya. Kartunya keluar. Aku mengisi tanggal.

“Ada yang bisa gue bantu lagi?”

“Amara pindah meja.”

Pena berhenti.

“Pojok bocor,” kataku.

“Pojok itu ditambal Agustus tahun lalu. Aku yang laporin ke Pak Hendra.”

Kipas angin berdecit.

Aku menyelesaikan tanggalnya. Menutup kartu. Meletakkan buku di tumpukan.

“Kalau gitu dia salah info,” kataku.

Vela tidak bergerak.

“Kamu tahu dia nggak salah info.”

“Gue tahu dia bilang bocor.”

“Itu bukan hal yang sama.”

Aku mengangkat wajah. Perpustakaan pagi-pagi punya cahaya yang jelek — abu-abu dan datar, seperti ruangan yang belum diputuskan mau jadi apa hari ini. Wajah Vela terlihat lebih muda di cahaya itu, dan entah kenapa itu bikin lebih tidak nyaman, bukan lebih.

“Vela.”

“Ya.”

“Lo mau ngomong apa?”

Dia diam beberapa detik. Lalu, dengan nada yang sama sekali tidak berubah:

“Enggak. Aku cuma mau lihat.”

“Lihat apa?”

“Lihat kamu milih.”

Dia mengambil tasnya.

“Gue nggak milih apa-apa.”

“Iya,” katanya, sudah berjalan. “Itu juga milih.”

Pintu tertutup.

Aku berdiri di belakang meja sirkulasi selama mungkin satu menit penuh, di ruangan yang lampunya belum semua hidup, memegang pena yang tidak sedang menulis apa-apa.

Lalu aku menyalakan sisa lampunya dan mulai bekerja.


Istirahat kedua, Bagas datang lebih awal dari Amara. Dia duduk di meja tengah, membuka bukunya, dan pada menit ketiga sudah menoleh ke arahku dengan wajah orang yang punya berita.

Aku menggeleng.

Dia mengangguk.

Aku menggeleng lebih tegas.

Dia berdiri, berjalan ke meja sirkulasi dengan sangat santai — dia benar-benar sudah membaik dalam dua minggu ini, aku bangga secara profesional — dan bersandar di meja.

“Ris.”

“Sst.”

“Gue mau tanya.”

“Tanya.”

“Dua minggu udah kelar besok.” Dia menurunkan suaranya, dan untuk pertama kalinya sejak hari di perpustakaan itu, aku bisa dengar tangannya dingin dari cara dia bicara. “Tahap dua apa?”

Aku menyusun tiga kartu.

Di ujung ruangan, pintu terbuka. Aku tidak perlu melihat untuk tahu. Ada ritme tertentu pada cara dia menutup pintu — pelan, dua tahap, karena engselnya berbunyi kalau dilepas begitu saja dan dia sudah tahu itu.

Bagas menegang di sebelahku, dan mulai melihat ke arah pintu.

“Jangan nengok,” bisikku.

“Kenapa?”

“Perabot nggak nengok.”

Dia menahan diri. Dia benar-benar menahan diri. Aku melihat otot rahangnya bekerja.

Amara berjalan melewati kami. Dia melirik Bagas — sekilas, sopan, tanpa beban — lalu menatapku.

“Ris.”

“Pagi.”

“Ini siang.”

“Perpustakaan nggak punya jam.”

“Kamu punya jam. Di tangan kamu.”

“Rusak.”

“Terus kenapa dipakai?”

“Karena kalau nggak dipakai, gue lupa gue punya.”

Amara berhenti. Menatapku satu detik lebih lama dari yang perlu.

“Itu kalimat paling aneh yang pernah aku dengar,” katanya, dan berjalan ke meja panjang.

Bagas, di sebelahku, tidak bergerak sama sekali.

Setelah Amara duduk, dia menoleh perlahan.

“Ris,” bisiknya. “Lo tuh ngomong sama dia kayak biasa aja.”

“Iya.”

“Kayak orang normal.”

“Iya.”

“Gimana caranya?”

Aku membuka laci. Mengambil buku catatan sampul cokelat. Membukanya di halaman PROYEK A, dan menulis satu baris baru sementara aku bicara, karena kalau tanganku bekerja, suaraku bisa tetap rata.

“Karena gue nggak mau apa-apa dari dia,” kataku.

Bagas mengangguk-angguk, tersenyum, dan menepuk bahuku.

“Nah. Itu. Gue harus kayak gitu.”

Dia kembali ke mejanya.

Aku menatap baris yang baru saja aku tulis di buku catatan.

Tahap 2: buat dia bicara duluan.

Aku memandanginya beberapa saat. Lalu aku menghapus kata terakhir dengan tip-ex dan menggantinya:

Tahap 2: buat dia yang mulai bicara.

Aku tidak tahu kenapa aku melakukan itu.

Aku bilang pada diri sendiri bahwa itu supaya kalimatnya lebih rapi.


Sore itu hujan.

Bukan hujan besar — hujan yang cukup untuk membuat semua orang menunggu di bawah kanopi dan mengeluh, tapi tidak cukup untuk membuat siapa pun benar-benar khawatir.

Aku mengunci perpustakaan pukul setengah lima. Bagas sudah pulang duluan karena ada latihan tanding di lapangan luar.

Di koridor timur, Amara berdiri sendirian, memegang tas di depan tubuh dengan dua tangan.

“Vela?”

“Pulang lebih awal. Ada les.”

Aku berhenti tiga langkah darinya. Air turun dari talang dalam garis-garis putus.

“Jemputan?”

“Telat. Ada macet di jalan besar.”

“Berapa lama?”

“Empat puluh menit.”

Aku melihat ke halte di seberang gerbang. Jaraknya kira-kira empat puluh meter tanpa atap.

Aku membuka tas.

Dan berhenti.

Karena tanganku sudah di dalam, jariku sudah menyentuh gagang payung, dan aku menyadari — dengan cara yang datang belakangan, seperti orang yang baru merasakan sakit setelah melihat lukanya — bahwa aku sudah melakukan gerakan ini sebelum otakku memutuskan apa pun.

Bahwa tanganku lebih cepat dari alasanku.

Aku menariknya keluar.

“Ini,” kataku.

Amara menatap payung itu. Lalu menatapku.

“Kamu?”

“Ada satu lagi di loker.”

“Kamu selalu bilang gitu.”

“Karena selalu ada.”

Dia tidak mengambilnya.

“Ris.”

“Hm.”

“Kalau aku ambil ini,” katanya pelan, “aku nggak akan balikin cepat-cepat.”

Hujan mengisi jeda itu.

Aku seharusnya bertanya kenapa.

Aku ingin bertanya kenapa.

“Nggak apa-apa,” kataku. “Denda di sini nol rupiah.”

Amara mengambil payung itu dari tanganku. Jari kami tidak bersentuhan; dia memegang gagangnya di bagian bawah, aku melepas di bagian atas, dengan presisi dua orang yang sama-sama sedang berhati-hati tentang hal yang sama tanpa membicarakannya.

Dia membukanya. Bunyi kain terkembang, keras, sekali.

“Makasih.”

“Hati-hati.”

Dia melangkah keluar, lalu berhenti setelah dua langkah, dan menoleh dari balik pinggir payung.

“Ris.”

“Ya?”

“Yang di loker itu ada beneran, kan?”

Aku mengangguk.

Dia menatapku beberapa saat. Air jatuh dari pinggir payung dalam garis melengkung.

“Kamu nggak pandai bohong,” katanya.

Lalu pergi.


Loker perpustakaan punya satu payung lipat berwarna biru yang gagangnya patah sejak bulan Maret dan tidak bisa dibuka lebih dari setengah.

Aku pulang basah, naik angkot yang penuh, dengan tas di pangkuan supaya buku-buku di dalamnya tidak kena.

Sampai rumah, ibuku sudah berangkat shift sore. Ada nasi di rice cooker dan tempe di wajan tertutup piring, dan catatan di meja: Makan. Jangan cuma mi.

Aku ganti baju. Duduk. Makan.

Lalu aku mengambil buku catatan sampul cokelat dan membukanya di halaman PROYEK A, dan menulis data hari ini, karena itu tugasku, karena itu yang sudah aku janjikan.

Kamis. Hujan. Menunggu jemputan 40 menit di koridor timur. Sendirian kalau Vela ada les.

Aku menatap kalimat itu.

Ini informasi yang berguna. Bagas bisa memakainya. Kamis depan, dia bisa ada di koridor timur pukul setengah lima dengan payung, dan itu akan jadi kebetulan yang sempurna, dan itu memang gunanya semua catatan ini.

Aku memegang pena di atas halaman selama, mungkin, satu menit.

Lalu aku menutup buku catatan tanpa menulis apa-apa lagi, dan meletakkannya di laci, dan mengunci lacinya, yang tidak pernah aku lakukan sebelumnya.