Chapter Twenty Five
Yang Kudengar dari Balik Pintu
POV: Aris (orang pertama)
Pemilihan ketua OSIS jatuh pada minggu ketiga bulan berikutnya, dan Amara mencalonkan diri.
Aku tahu sebelum pengumuman resmi karena dia memberitahuku di perpustakaan pada hari Kamis, dengan nada seseorang yang melaporkan cuaca.
“Aku daftar.”
“Ketua OSIS?”
“Iya.”
“Kenapa?”
Amara membalik halaman. “Karena kalau bukan aku, yang jadi Radit, dan Radit itu orang yang tahun lalu ngajuin proposal buat ngehapus jam ekskul supaya bisa nambah try out.”
“Oh.”
“Iya. Oh.”
“Bukan itu alasannya.”
Dia mengangkat wajah.
“Bukan,” katanya. “Alasannya karena aku sudah tiga tahun ngerjain semuanya tanpa jabatan, dan aku mau sekali aja namanya ditulis.”
Aku menstempel kartu.
“Bagus,” kataku.
Dan aku benar-benar bermaksud begitu.
Masa kampanye berlangsung sembilan hari.
Yang aku tidak antisipasi adalah bahwa sembilan hari itu mengubah sekolah menjadi sesuatu yang lain. Poster di mana-mana. Anak-anak kelas X yang tiba-tiba punya pendapat. Sebuah akun base yang biasanya membahas siapa jadian dengan siapa berubah menjadi forum kebijakan publik selama satu setengah minggu.
Dan sorotan yang biasanya diarahkan ke Amara — yang sudah cukup besar — dikalikan tiga.
Dia menanganinya dengan cara yang membuatku ingin berdiri jauh-jauh dan menonton: rapi, tenang, tanpa membuang tenaga. Dia tidak menempel poster berlebihan. Dia tidak membuat konten. Dia berkeliling kelas satu per satu selama tiga hari, membawa selembar kertas berisi tiga poin, dan menjawab pertanyaan.
Pada hari keenam, dia sudah unggul di semua obrolan yang aku dengar.
Pada hari keenam juga, aku berdiri di balik pintu ruang OSIS.
Aku tidak sengaja.
Aku ingin mencatat itu karena penting, meskipun pada akhirnya tidak mengubah apa pun: aku tidak menguping dengan niat. Aku mengantar kardus berisi map dari perpustakaan ke ruang OSIS, karena Bu Ana meminta, karena aku selalu mengiyakan.
Pintunya setengah terbuka.
Dan aku mendengar namaku.
Aku berhenti dengan kardus di tangan.
“—ya bukan gitu maksud gue.” Suara laki-laki. Bukan Bimo; aku tidak pernah tahu siapa. “Gue cuma bilang, orang bakal nanya.”
“Nanya apa?” Suara Amara.
“Ya, lo tau.”
“Aku nggak tau. Makanya aku nanya.”
Jeda.
“Ya, orang bakal mikir lo—“ Suara itu mencari kata. “Lo kan mau jadi ketua OSIS. Lo tuh representasi. Terus lo jalan sama anak yang, ya, gimana ya, yang nggak—“
“Yang nggak apa?”
“Yang nggak keliatan.”
Aku berdiri di koridor memegang kardus.
Dan suara Amara berubah — bukan naik, tapi mengeras, dengan cara yang aku kenal dari podium ronde ketiga di aula seberang kota.
“Kamu tau nggak dia siapa?”
“Ya gue tau, dia yang—“
“Kamu nggak tau.” Suaranya jernih. “Kamu tau dia yang jaga perpustakaan. Itu doang. Sekarang aku tanya balik: kamu pernah pinjam buku di sekolah ini?”
Jeda.
“Enggak.”
“Tiga tahun.”
“Gue nggak suka baca.”
“Nggak apa-apa kalau nggak suka baca.” Suara kursi bergeser. “Tapi kamu barusan bilang orang yang ngerjain sesuatu tiap hari selama dua tahun itu ‘nggak keliatan’, dan alasannya adalah karena kamu nggak pernah masuk ke ruangan tempat dia kerja.”
“Amara—“
“Dan kalau kamu ngomongin representasi,” katanya, “aku justru mau jadi ketua OSIS yang jalan sama orang kayak dia. Karena sekolah ini isinya tujuh ratus orang yang nggak keliatan dan tiga puluh orang yang keliatan, dan tiga puluh itu yang selalu jadi ketua.”
Hening.
“Ada lagi?”
“...Nggak.”
“Bagus. Balik ke poin nomor dua.”
Aku menaruh kardus di depan pintu dan pergi.
Aku tidak masuk. Aku menaruh kardus itu di lantai, di samping pintu, tempat siapa pun bisa menemukannya, dan aku berjalan kembali ke perpustakaan dan duduk di belakang meja sirkulasi.
Dan aku ingin menjelaskan apa yang terjadi di dalam dadaku pada saat itu, karena ini bagian yang selalu salah dimengerti orang.
Aku tidak merasa malu.
Aku merasa bangga, selama kira-kira empat detik. Bangga yang hangat dan penuh dan hampir tidak tertahankan — perempuan itu berdiri di ruang OSIS dan membela aku dengan seluruh senjata yang dia punya dan dia menang, seperti biasa, dalam dua menit.
Empat detik.
Dan lalu datang yang kedua, yang lebih pelan, yang masuk seperti air ke sepatu:
Dia harus.
Dia harus melakukan itu. Karena aku ada.
Dia sedang berkampanye untuk sesuatu yang dia inginkan sejak tiga tahun lalu, dan pada hari keenam, di ruang OSIS, dia harus berhenti membahas poin nomor dua dan menghabiskan dua menit membela keberadaanku.
Dua menit itu bukan gratis.
Dan ini yang membuatku berbeda dari semua orang yang pernah berkata aku nggak mau ngerepotin: aku tahu persis berapa harganya. Aku sudah tujuh belas tahun menghitung harga. Itu satu-satunya keahlian sejati yang aku punya.
Aku duduk di belakang meja sirkulasi dan aku menghitung.
Dan kesimpulannya sangat rapi, sangat masuk akal, dan sangat baik hati:
Kalau gue nggak keliatan, dia nggak perlu ngebelain.
Aku tidak memutuskan hubungan.
Aku ingin ini sangat jelas, karena kalau aku memutuskan hubungan, itu akan jadi tindakan, dan tindakan bisa dilawan.
Aku melakukan sesuatu yang jauh lebih rapi.
Hari ketujuh. Amara menungguku di koridor lantai satu untuk jalan bareng ke kantin.
“Ris.”
“Bentar, gue mau ambil buku di ruang guru.”
“Aku tunggu.”
“Lama.”
“Aku tunggu.”
“Amara, ini bisa setengah jam.”
Dia menunggu dua puluh menit dan aku memastikan buku itu memang ada di ruang guru dan memang butuh dua puluh menit.
Itu bagian yang penting. Semuanya benar. Tidak ada satu pun kebohongan yang bisa ditunjuk.
Hari kedelapan. Dia mengajakku ke kelas XI IPS 3, kelas terakhir yang belum dia datangi.
“Buat apa gue ikut?”
“Nggak buat apa-apa. Aku cuma pengen kamu ada.”
“Nanti dikira gue tim sukses.”
“Terus kenapa?”
“Terus nanti jadi bahan.”
Amara menatapku.
“Ris.”
“Gue ada katalog kelas X yang belum selesai. Deadline-nya Jumat.”
Itu juga benar. Katalognya memang ada. Deadline-nya memang Jumat. Deadline itu aku tetapkan sendiri, tiga minggu lalu, dan tidak ada satu orang pun di dunia ini yang akan memeriksanya.
Dia tidak memaksa.
Dan pada hari kesembilan, aku menemukan bahwa dia berhenti menunggu di koridor.
Bagas menghadangku di parkiran pada hari kesembilan.
Dia berdiri di depan motorku — motor Ekek, yang aku pinjam untuk pulang karena hujan — dengan lengan terlipat.
“Minggir, Gas.”
“Enggak.”
“Gue mau pulang.”
“Lo mau kabur.”
Aku berhenti.
“Gue lagi banyak kerjaan.”
Dan Bagas — yang biasanya tertawa, yang biasanya memukul bahuku, yang biasanya membuat semuanya lebih ringan — tidak bergerak sedikit pun.
“Gue udah bilang,” katanya. “Bulan lalu. Di lapangan. Gue bilang lo bakal mulai nolak jalan bareng di koridor terus bilang lo ada urusan di perpus.”
“Gue emang ada urusan—“
“Ris.” Dia melangkah maju. “Gue bilang persis itu. Gue bilang kalimatnya persis. Dan lo tetep ngelakuin.”
Hujan mulai turun di atap parkiran.
“Lo tau nggak yang bikin gue pengin nangis?” katanya. “Lo denger gue waktu itu. Gue lihat muka lo. Lo denger, lo ngerti, dan lo tetep ngelakuin.”
“Gas—“
“Berarti ngerti aja nggak cukup.”
Dia mundur satu langkah dan membiarkan aku lewat.
“Gue nggak bakal ngomong ke dia,” katanya. “Itu bukan urusan gue.”
Aku menaikkan standar motor.
“Tapi Ris.” Dia menaruh tangannya di setang, menahan. “Kalau lo ngilang pelan-pelan supaya dia nggak sakit, lo salah. Ngilang pelan-pelan itu bukan lebih baik dari pergi. Itu cuma lebih lama.”
Orasi calon ketua OSIS diadakan hari Sabtu pagi di aula.
Aku tidak datang.
Aku ingin sangat jujur tentang bagaimana aku tidak datang, karena caranya penting.
Aku bangun pukul enam. Aku menyetrika seragam. Aku sampai di sekolah pukul tujuh lewat lima belas, empat puluh lima menit sebelum acara.
Dan aku pergi ke perpustakaan.
Dan aku membuka pintu dan menyalakan lampu dan mengeluarkan tumpukan katalog kelas X, dan aku bekerja, dan pada pukul delapan aku mendengar pengeras suara menyala dari aula, dan pada pukul delapan lewat sepuluh aku mendengar suara Amara sampai ke perpustakaan lewat tembok, tertunda setengah detik, seperti dari gudang.
Aku bisa mendengar nadanya. Aku tidak bisa mendengar kata-katanya.
Aku menyusun kartu.
Ada sembilan puluh tiga kartu dan aku menyusunnya berdasarkan nomor rak dan lalu aku menyusunnya lagi berdasarkan tanggal dan lalu aku menyusunnya lagi berdasarkan nomor rak.
Pukul sembilan, tepuk tangan.
Pukul sembilan lewat lima, suara ratusan orang bergerak keluar aula.
Pukul sembilan lewat dua puluh, pintu perpustakaan terbuka.
Amara berdiri di ambang pintu.
Masih memakai jas almamater. Rambut diikat rapi. Kertas di tangan yang jelas tidak dia pakai.
Dia tidak masuk.
“Kamu di sini.”
“Iya.”
“Sejak jam berapa?”
“Tujuh lewat.”
Kipas berdecit.
“Aku nyari kamu di aula,” katanya. “Dua kali. Sebelum mulai, sama pas jeda.”
“Gue ada katalog.”
Amara berdiri di ambang pintu.
Dan dia tidak marah.
Aku sudah berkali-kali menulis kalimat itu di sepanjang cerita ini dan setiap kali artinya berbeda. Kali ini artinya adalah: dia terlihat seperti orang yang sudah selesai menghitung.
“Ris,” katanya.
“Ya?”
“Kamu denger aku di ruang OSIS hari Selasa, kan?”
Ruangan itu jadi sangat sempit.
“Apa?”
“Kardusnya,” katanya. “Kamu naruh kardus map di depan pintu terus pergi. Aku keluar lima menit kemudian dan kardusnya ada di lantai.”
Aku menyusun kartu.
“Bu Ana suruh anter.”
“Kamu nggak pernah naruh barang di lantai,” katanya. “Dua tahun, Ris. Kamu selalu masuk. Kamu selalu naruh di meja.”
Sembilan puluh tiga kartu.
“Iya,” kataku.
Amara mengangguk pelan.
“Sejak hari itu kamu mundur.”
“Gue nggak mundur.”
“Kamu mundur,” katanya. “Kamu mundur dengan sangat rapi dan sangat sopan dan setiap alasan kamu bener semua.”
Dia menurunkan kertas orasinya ke sisi tubuh.
“Kamu tau nggak, itu yang paling parah,” katanya. “Aku nggak bisa marah ke satu hal pun. Katalognya ada. Bukunya di ruang guru. Deadline-nya Jumat. Aku ngecek semua, Ris. Aku ngecek.”
Aku mengangkat wajah.
“Lo ngecek?”
“Iya.” Dan untuk pertama kalinya suaranya bergetar. “Aku ngecek pacar aku kayak orang meriksa alibi. Kamu tau rasanya gimana?”
Kipas berdecit.
“Amara—“
“Aku nggak mau ngomong sekarang,” katanya. “Aku baru selesai orasi dan aku capek dan kalau aku ngomong sekarang aku bakal ngomong sesuatu yang bagus banget susunannya dan itu bakal jadi senjata.”
Dia berbalik.
“Senin,” katanya. “Kita ngomong Senin.”
Dan dia pergi.
Aku duduk di perpustakaan sendirian dengan sembilan puluh tiga kartu katalog.
Dan aku menyusunnya lagi.
Dan pada suatu titik, di antara kartu keempat puluh dan keempat puluh satu, aku menyadari sesuatu yang membuat tanganku berhenti:
Aku sudah tahu.
Aku sudah tahu sejak hari Selasa. Aku tahu persis apa yang sedang aku lakukan, aku tahu namanya, aku tahu bentuknya, Bagas bahkan menyebutkan kalimat persisnya satu bulan sebelum aku melakukannya.
Aku tahu, dan aku tetap melakukan.
Dan di bulan-bulan sebelumnya aku selalu punya pembelaan: aku tidak sadar. Aku tidak sadar di lorong rak 900. Aku tidak sadar di perpustakaan hari Selasa. Aku tidak ingat upacara kelas sepuluh.
Sekarang pembelaan itu habis.
Ternyata mengerti diri sendiri tidak menyembuhkan apa pun.
Ternyata kamu bisa berdiri di dalam kepalamu sendiri sambil menonton dirimu melakukan hal yang sama persis, dengan komentar lengkap, seperti orang menonton pertandingan yang dia sudah tahu skornya.
Aku menaruh kartu keempat puluh satu.
Dan aku menyadari bahwa aku ingin sekali menangis dan tidak bisa, karena sistemnya masih bekerja, karena sistemnya selalu bekerja, karena sistem itu satu-satunya hal yang tidak pernah meninggalkan aku.
Hasil pemilihan diumumkan hari Senin pagi.
Amara menang dengan selisih dua ratus enam belas suara.
Aku tahu dari base, karena aku tidak ada di lapangan waktu pengumuman.
Aku ada di perpustakaan.
- 1 Permintaan yang Tidak Bisa Kutolak
- 2 Rencana Pertama dan Kegagalan Pertama
- 3 Selasa dan Kamis
- 4 Daftar yang Salah Alamat
- 5 Termos yang Salah Terima
- 6 Kerja Kelompok Lintas Kelas
- 7 Yang Tidak Kuingat
- 8 Dua Menit di Belakang Aula
- 9 Satu Setengah Tahun
- 10 Rak 800
- 11 Pertanyaan yang Salah Jawab
- 12 Prasangka
- 13 Lapangan Upacara
- 14 Senin
- 15 Empat Belas Halaman
- 16 Sekarang Kamu
- 17 Minggu Pertama
- 18 Bawa Diri Kamu Aja
- 19 Kok Dia
- 20 Payung
- 21 Bimo
- 22 Tiga Puluh Delapan Koma Empat
- 23 Sembilan Belas Menit
- 24 Yang Vela Simpan
- 25 Yang Kudengar dari Balik Pintu reading
- 26 Kering Sendirian
- 27 Sepeda
- 28 Ruang Ganti
- 29 Empat Hari
- 30 Saya Butuh Orang
- 31 Lapangan yang Sama
- 32 Aku Duluan