← Aku Duluan

Chapter Twenty Nine

Empat Hari

POV: Aris (orang pertama)


Bagas menyeretku ke lapangan hari Jumat sore.

Secara harfiah. Dia datang ke perpustakaan pukul empat kurang, mengambil tasku dari belakang meja sirkulasi, dan berjalan keluar dengan tas itu di bahunya.

“Bagas.”

“Ayo.”

“Tas gue.”

“Iya. Makanya ayo.”

Aku mengunci perpustakaan dan menyusul.


Lapangan sore hari Jumat sudah kosong; anak-anak futsal libur karena pelatihnya ada urusan. Cuma ada dua anak kelas X yang main bola pakai botol di ujung.

Bagas duduk di rumput pinggir lapangan dan melempar tasku ke sebelahnya.

Aku duduk.

“Ris, gue mau ngomong dan gue udah nyiapin.”

“Lo nyiapin?”

“Gue nulis di notes hape gue.” Dia mengeluarkan ponselnya, lalu memasukkannya lagi. “Nggak, gue hafalin aja. Kalau gue baca kedengerannya bego.”

Aku menunggu.

“Gue tau lo udah dua minggu ini kerja kayak orang gila,” katanya. “Ekek yang cerita. Katanya lo di perpus tiap hari sampe jam lima.”

“Pak Hendra udah nyuruh gue pulang jam empat.”

“Terus lo pulang jam empat?”

“Iya.”

“Terus lo ngapain di rumah?”

Aku memandangi rumput.

“Nyusun katalog,” kataku.

“ANJIR.”

“Gue bawa pulang.”

“RIS.”

“Itu boleh.”

“ITU BUKAN SOAL BOLEH.” Dia menghantam rumput dengan telapak tangan. “Lo bawa kerjaan perpustakaan sekolah PULANG. Ke rumah. Buat dikerjain di kamar. Jam sembilan malem.”

“Jam sepuluh.”

Bagas menutup wajahnya dengan dua tangan.


Kami duduk beberapa saat.

Dua anak kelas X di ujung lapangan berteriak karena botolnya masuk sesuatu.

“Ris.”

“Hm.”

“Gue mau minta maaf.”

Aku menoleh.

“Buat apa?”

“Buat bulan lalu.” Dia menarik rumput dengan dua jari. “Waktu di parkiran. Gue bilang ‘ngilang pelan-pelan itu cuma lebih lama.’ Gue inget mukanya lo.”

“Lo bener.”

“Gue bener,” katanya, “tapi gue ngomongnya kayak orang marah, dan gue emang lagi marah, dan gue marahnya bukan sama lo.”

Dia melempar rumput itu.

“Gue marah sama diri gue sendiri,” katanya. “Karena gue udah tau lo bakal kayak gitu dan gue nggak ngapa-ngapain selain teriak di parkiran.”

“Lo bisa ngapain?”

“Gue bisa dateng ke rumah lo tiap hari.”

Aku menoleh.

Bagas menatap lapangan.

“Kayak dulu,” katanya.


Dan aku duduk di rumput pinggir lapangan pada Jumat sore, dan aku menyadari bahwa ini adalah momennya.

Nomor dua di daftar.

Gue mau Bagas tau bahwa empat hari itu penting buat gue, dan gue mau bilang itu tanpa nangis.

Aku sudah menulisnya delapan hari lalu di halaman Yang gue mau, dan aku sudah membacanya setiap malam sejak itu, dan setiap malam aku memikirkan bahwa aku akan mengatakannya besok.

Delapan hari.

Dan sekarang orangnya duduk di sebelahku dan membuka pintunya sendiri, dan aku merasakan seluruh tubuhku menolak.

Aku menarik rumput.

“Gas.”

“Hm.”

“Gue mau ngomong sesuatu.”

“Ngomong.”

Aku membuka mulut.

Dan tidak ada apa-apa.

Aku duduk di sana dengan mulut terbuka dan tenggorokan yang tidak punya jalur, dan aku merasakan sesuatu yang sangat mirip panik — bukan karena takut ditolak, karena Bagas tidak akan menolak apa pun, karena Bagas adalah orang paling aman yang aku kenal di dunia ini.

Itu yang membuatnya lebih buruk.

Kalau aku tidak bisa mengucapkannya pada orang teraman, aku tidak akan pernah bisa mengucapkannya pada siapa pun.

“Ris?”

“Bentar.”

“Nggak apa-apa. Gue nunggu.”

“Jangan bilang gitu.”

“Kenapa?”

“Karena kalau lo bilang lo nunggu, gue jadi punya waktu,” kataku. “Dan kalau gue punya waktu, gue bakal pake buat nyusun.”

Bagas menoleh.

Dan lalu dia melakukan sesuatu yang, tujuh tahun aku mengenalnya, membuktikan bahwa dia jauh lebih pintar dari yang dia kira tentang dirinya sendiri.

“Oke,” katanya. “Sepuluh detik. Abis itu gue pulang.”

“Gas—“

“Sembilan.”

“BAGAS.”

“Delapan.”

“Empat hari itu penting buat gue.”

Hitungan berhenti.


Lapangan sangat sepi.

“Waktu bokap gue pergi,” kataku, dan suaraku keluar terlalu cepat karena aku takut berhenti. “Gue nggak keluar kamar empat hari. Dan lo ngetuk tiap hari.”

Aku menarik rumput.

“Dan gue nggak pernah bilang apa-apa soal itu selama tujuh tahun,” kataku. “Dan lo juga nggak. Dan gue selalu mikir itu bagus. Gue mikir itu artinya kita ngerti tanpa harus ngomong.”

Aku menelan.

“Padahal enggak,” kataku. “Gue diem karena kalau gue ngomong, gue harus ngaku bahwa gue butuh lo. Dan gue nggak mau ngaku bahwa gue butuh siapa pun.”

Bagas tidak bergerak.

“Jadi gue simpen,” kataku. “Selama tujuh tahun. Dan gue pake buat bayar. Lo bener soal itu. Lo bilang gue pake empat hari itu buat bayar semua yang gue kasih ke lo dan lo nggak pernah tau lo lagi ditagih.”

Aku menoleh.

“Itu salah,” kataku. “Bukan cuma salah. Itu jahat. Karena gue ngubah satu-satunya hal yang paling penting dalam hidup gue jadi kwitansi.”

Dua anak kelas X berteriak di ujung lapangan.

“Gas.”

“Hm.”

“Empat hari itu bukan utang,” kataku. “Itu yang bikin gue keluar kamar.”

Aku menarik napas dan udaranya tidak rata.

“Dan gue butuh lo,” kataku. “Sekarang. Bukan dulu. Sekarang.”


Bagas tidak berkata apa-apa selama kira-kira lima detik.

Lalu dia berdiri.

“Gas—“

“Bentar.” Dia berjalan tiga langkah menjauh, membelakangi aku, dan berdiri di sana dengan tangan di pinggang.

Aku bisa melihat bahunya bergerak.

“Anjir,” katanya, ke lapangan. “Anjir, Ris.”

“Sori.”

“JANGAN SORI.” Dia berbalik, dan matanya merah, dan dia bahkan tidak berusaha menyembunyikannya. “Tujuh tahun. Tujuh tahun gue nunggu lo bilang satu kalimat yang isinya lo butuh sesuatu, dan lo ngasih gue paragraf.”

Dia mengusap wajahnya dengan lengan.

“Dan lo nggak nangis,” katanya.

“Enggak.”

“Gue nangis.”

“Iya.”

“NGGAK ADIL.”

Dan aku tertawa — dan lalu suara tawaku pecah di tengah, dan aku menunduk ke rumput, dan aku juga menangis, dan itu memalukan dan berair dan sama sekali tidak seperti di film.

Bagas duduk kembali di rumput di sebelahku dan tidak berkata apa-apa dan tidak menyentuhku dan itu persis benar.


Kami duduk sampai matahari turun cukup rendah untuk membuat tiang gawang punya bayangan panjang.

“Ris.”

“Hm.”

“Sekarang lo harus ngomong ke dia.”

“Gue tau.”

“Enggak, lo nggak tau.” Bagas menoleh. “Karena kalau lo tau, lo udah ngelakuin.”

“Gue lagi nyiapin.”

“Nah.”

“Apa?”

“‘Lagi nyiapin.’” Dia menirukan suaraku, dan tiruannya buruk. “Ris, lo nyiapin sebelas kalimat waktu dia nembak lo, dan lo nggak pake satu pun.”

Aku memandangi rumput.

“Gue tau,” kataku.

“Terus kenapa lo nyiapin lagi?”

“Karena gue nggak tau cara lain.”

Bagas menghela napas.

“Ris, gue mau tanya satu hal,” katanya. “Dan gue mau lo jawab cepet. Jangan mikir.”

“Oke.”

“Lo mau apa?”

“Gue mau dia balik.”

“BUKAN ITU.”

Aku menoleh.

“Gue nggak nanya lo mau siapa,” kata Bagas. “Gue nanya lo mau apa. Buat lo. Kalau dia nggak ada di dunia ini sekalipun.”

Lapangan.

Bayangan tiang gawang.

Aku membuka mulut dan menutupnya lagi.

“Nah,” kata Bagas. “Itu masalahnya.”

“Gue nggak—“

“Ris, gue bego di sekolah tapi gue nggak bego soal orang.” Dia menunjuk lapangan dengan dagunya. “Lo pikir dia berhenti karena lo mundur. Enggak. Dia berhenti karena lo kosong.”

Aku menatapnya.

“Lo nggak punya apa-apa yang lo mau,” katanya. “Lo cuma punya orang-orang yang lo urus. Dan orang yang isinya cuma ngurus orang lain itu — Ris, itu bukan pacar. Itu fasilitas.”

Dua anak kelas X pulang, menyeret botolnya.

“Terus gue harus gimana?”

“Cari satu hal,” kata Bagas. “Satu aja. Yang lo mau, yang bukan buat siapa-siapa. Terus minta di depan orang.”

“Di depan orang?”

“Iya.”

“Kenapa harus di depan orang?”

Dan Bagas berdiri, menepuk celananya, dan berkata:

“Karena kalau lo minta sendirian, lo bisa nyabut. Kalau lo minta di depan orang, lo nggak bisa.”


Aku pulang naik angkot.

Dan aku memikirkan halaman Yang gue mau dan nomor tiga yang masih kosong.

Gue nggak tau. Gue harus cari tau.

Dan aku duduk di angkot yang penuh, dengan tas di pangkuan, dan aku mulai dari yang paling dasar, seperti orang menyusun rak dari nol.

Apa yang gue lakuin tiap hari?

Perpustakaan.

Kenapa?

Karena kalau tidak ada yang membuka, tidak ada yang membuka.

Itu alasan?

Itu alasan yang aku pakai selama dua tahun.

Aku menatap ke luar jendela angkot.

Dan aku memikirkan sesuatu yang Pak Hendra katakan di ruangan tiga kali tiga meter dengan kopi terlalu panas:

Tidak ada satu tempat pun di dunia ini yang seharusnya bergantung pada satu anak umur tujuh belas.

Dan aku memikirkan sembilan puluh tiga kartu katalog yang aku susun ulang tiga kali dalam satu sore.

Dan dua ratus tiga puluh judul rak 800 yang aku inventaris selama tiga hari padahal bisa selesai dalam satu.

Dan sebelas buku yang aku lem dalam sembilan hari.

Dan aku menyadari — di angkot, di antara halte kelima dan keenam — bahwa aku sudah dua tahun mengerjakan pekerjaan tiga orang, sendirian, di ruangan yang tidak punya siapa-siapa, dan bahwa aku selalu menyebutnya “gue biasa”.

Dan bahwa itu bukan pengabdian.

Itu tempat aku bersembunyi, dan aku sudah membangunnya begitu bagus sampai tidak ada satu orang pun yang pernah menawarkan bantuan, karena aku tidak pernah sekali pun terlihat seperti orang yang membutuhkannya.

Aku turun di halte sebelum rumahku.

Dan aku berjalan sisa jalan, dan di trotoar di depan bengkel yang tutup — bengkel yang sama, selalu bengkel yang sama — aku mengeluarkan ponselku dan membuka catatan dan mengetik satu baris.

3. Gue mau ada orang lain di perpustakaan itu selain gue.

Aku menatapnya.

Lalu aku menambahkan, di bawahnya:

Bukan karena gue nggak sanggup. Karena gue nggak mau sendirian lagi.


Hari Senin, papan pengumuman OSIS memuat selebaran baru.

RAPAT KERJA TERBUKA — RABU, 09.00, AULA Seluruh siswa boleh hadir dan mengajukan usulan program. Ketua OSIS: Amara Widyastuti

Aku berdiri di depan papan itu selama mungkin dua menit.

Lalu aku ke perpustakaan, membuka laci meja sirkulasi, dan mengambil formulir usulan yang sudah disediakan panitia di kotak depan.

Dan aku duduk di belakang meja sirkulasi dan mulai mengisinya.

Dan lalu aku berhenti.

Karena aku menyadari bahwa mengisi formulir adalah persis hal yang akan aku lakukan.

Rapi. Tertulis. Diserahkan lewat kotak. Tidak perlu berdiri, tidak perlu suara, tidak perlu tujuh ratus orang menoleh.

Aku menatap formulir itu.

Lalu aku melipatnya dua kali dan memasukkannya ke laci, di sebelah payung biru tua dengan lakban hitam yang terkelupas.

Dan aku menutup lacinya.