← Aku Duluan

Chapter Twelve

Prasangka

POV: Aris (orang pertama)


Lomba debat antarsekolah tingkat kota jatuh pada hari Sabtu, dua minggu setelah pentas seni, di aula sebuah SMA di seberang kota yang gedungnya tiga kali lebih besar dari gedung kami.

Aku tidak berniat ikut.

Aku ikut karena Bu Ana kekurangan orang untuk mengangkut berkas dan menjaga meja pendaftaran, dan karena Bu Ana bertanya padaku dengan cara guru bertanya pada anak yang mereka tahu tidak akan menolak.

“Firmawan, kamu bisa Sabtu?”

“Bisa, Bu.”

Beliau bahkan tidak menunggu jawabannya. Beliau sudah menulis namaku sebelum aku selesai bicara.


Timnya empat orang: Amara sebagai pembicara pertama, Vela sebagai pembicara kedua, dua anak kelas XII yang jarang bicara di luar latihan.

Bagas tidak ikut. Ada pertandingan futsal antarsekolah di hari yang sama, di tempat yang berlawanan arah, dan dia mengeluh tentang itu selama tiga hari.

“Kenapa nggak digeser.”

“Panitianya beda.”

“Ya kan bisa dikoordinasiin.”

“Bagas, ini kota. Bukan RT.”

Dia menendang batu di koridor. “Ris, lo lihatin ya. Terus laporin ke gue.”

“Laporin apa?”

“Dia menang atau enggak.”

“Gue bisa WA.”

“Gue mau lo ceritain.” Dia menoleh. “Yang detail. Kayak lo biasa cerita.”

Aku memikirkan itu sebentar.

“Oke,” kataku.


Aulanya dingin.

Itu hal pertama yang aku catat. AC-nya sentral dan bekerja di seluruh ruangan, tidak seperti perpustakaan kami yang cuma dingin di sisi kiri. Kursinya empuk. Panggungnya punya lampu yang bisa diatur.

Sekolah ini punya uang, dan sekolah yang punya uang selalu terasa lebih sunyi.

Meja pendaftaran ada di lobi. Aku duduk di sana dari pukul tujuh sampai pukul sembilan, memberi nomor peserta, mencentang daftar hadir, menunjukkan letak toilet kepada tiga puluh orang.

Amara lewat pukul delapan.

Dia sudah pakai jas almamater. Rambutnya diikat rapi — versi koridor, versi yang untuk dilihat.

Dia berhenti di depan meja.

“Nomor?”

“Empat belas.”

Aku menuliskannya di kartu dan menyerahkannya.

Jari kami tidak bersentuhan. Aku sudah sangat, sangat mahir dalam hal itu sekarang.

“Makasih.”

“Semangat.”

Amara mengambil kartunya.

Sejak Kamis di lorong rak 800, kami sudah bicara — tentu saja kami bicara, di perpustakaan, tentang buku dan denda dan apakah kipasnya perlu dilaporkan. Kalimat-kalimat yang benar semua bentuknya.

Dia berhenti setengah langkah.

“Ris.”

“Ya?”

“Kamu nggak harus di sini.”

“Gue disuruh Bu Ana.”

“Bu Ana nyuruh semua orang. Setengahnya bilang nggak bisa.”

Aku menyusun kartu peserta.

“Gue bisa,” kataku.

Amara berdiri di sana satu detik lebih lama dari yang perlu.

Lalu dia masuk ke aula.


Ronde penyisihan berlangsung dari pukul sembilan sampai pukul satu, dan aku menghabiskan sebagian besarnya di lobi.

Tapi pada ronde ketiga, seluruh peserta sudah terdaftar dan tidak ada lagi yang harus dicentang, dan Bu Ana bilang “masuk aja, Firmawan, nonton”, jadi aku masuk.

Aku tidak duduk di kursi penonton.

Aku berdiri di sisi kiri aula, di dekat pintu samping, tempat operator lampu duduk dengan papan tombolnya. Dari situ kamu tidak melihat panggung dari depan. Kamu melihatnya dari samping, sedikit dari belakang, dan kamu bisa melihat wajah pembicara dalam profil dan seluruh punggung penonton.

Ini posisi yang aku pilih.

Aku selalu memilih posisi seperti ini, di ruangan mana pun, sepanjang hidupku, tanpa pernah sekalipun menyebutnya sebagai pilihan.


Mosi ronde ketiga: Dewan ini akan menghapus sistem peringkat di sekolah menengah.

Tim kami di pihak kontra.

Amara maju sebagai pembicara pertama.

Dan aku ingin menjelaskan sesuatu yang tidak akan terdengar romantis sama sekali, karena ini bukan tentang bagaimana dia terlihat.

Dia berdiri di podium dengan kertas yang tidak dia pakai. Dia menaruhnya, lalu memindahkannya ke sisi kiri podium, yang aku tahu artinya dia sudah memutuskan untuk tidak melihatnya.

Lalu dia mulai.

Dan selama tujuh menit, dia melakukan sesuatu yang aku belum pernah lihat orang lakukan sedekat itu.

Dia tidak berteriak. Setengah dari peserta hari itu berteriak — mereka pikir keras berarti kuat. Amara bicara dengan volume yang membuat orang harus diam untuk mendengarnya, yang merupakan trik yang jauh lebih kejam.

Dia membangun argumennya seperti orang menyusun rak. Satu di atas satu. Setiap kali dia menaruh sesuatu, dia memeriksa apakah yang di bawahnya masih berdiri.

Dan pada menit kelima, tim lawan menyela — interupsi, sah — dan seorang anak laki-laki berdiri dan mengatakan sesuatu yang cepat dan tajam dan dirancang untuk menjatuhkan.

Amara berhenti.

Menunggu dia selesai.

Lalu berkata, “Terima kasih,” dan mengulang argumen lawan itu kembali dengan kata-katanya sendiri — lebih rapi, lebih jelas, lebih kuat dari cara anak itu mengucapkannya.

Dan setelah itu, dia membongkarnya.

Anak itu duduk dengan wajah orang yang baru saja dibantu ke tempat pemakamannya sendiri.

Ada tawa kecil di antara penonton.

Amara tidak tersenyum.

Dan di menit keenam, dia sampai ke bagian yang aku kenal.

”...karena peringkat itu bukan alat ukur. Peringkat itu alat pandang. Dan begitu sekolah punya alat pandang, yang berubah bukan cara siswa belajar. Yang berubah cara siswa dilihat. Kita tidak sedang bicara soal nilai. Kita sedang bicara soal prasangka—“

Dan dia menabraknya.

”—prasangkaan yang—“

Setengah detik.

Dia berhenti. Menarik napas lewat hidung. Dan mengulang, jernih:

”—prasangka yang tumbuh dari angka.”

Lalu melanjutkan.

Tidak ada yang menyadari. Aku yakin tidak ada satu pun dari seratus orang di aula itu yang menyadari, kecuali mungkin Vela.

Aku berdiri di sisi kiri aula, dekat pintu samping, di sebelah operator lampu.

Dan aku tahu.

Aku tahu bahwa dia mengulang kata itu empat puluh dua kali di ruang baca dua pada suatu sore bulan lalu, karena aula dipakai, karena dia butuh tempat kosong, karena aku bilang pakai saja dan aku tidak akan mendengarkan.

Aku tahu bahwa setiap kali dia salah, dia tidak marah. Dia menarik napas dan mengulang.

Aku tahu bahwa hari ini, di ruangan berisi seratus orang, dia salah satu kali — dan memperbaikinya dalam setengah detik, dan tidak seorang pun tahu berapa harga setengah detik itu.

Dan aku berdiri di sana dan berhenti berbohong pada diriku sendiri.

Itu saja. Tidak ada musik. Tidak ada gerakan lambat.

Cuma seorang anak laki-laki berdiri di samping panggung sambil memegang papan jalan berisi daftar hadir, menyadari bahwa dia sudah tahu selama berbulan-bulan, dan bahwa satu-satunya pekerjaan yang dia lakukan selama itu adalah membangun tempat untuk tidak tahu.

Aku mencintainya.

Kalimat itu datang dengan bentuk lengkapnya, tanpa disiapkan, di sebuah aula dingin di seberang kota, pada menit keenam ronde ketiga.

Dan hal pertama yang aku rasakan bukan bahagia.

Hal pertama yang aku rasakan adalah capek.

Capek yang dalam, yang seperti orang meletakkan sesuatu setelah membawanya terlalu jauh. Karena ternyata membangun tempat untuk tidak tahu itu pekerjaan, dan aku sudah melakukannya setiap hari selama berbulan-bulan, dan aku baru sadar berapa beratnya justru pada saat aku berhenti.

Aku berdiri di sana sampai tujuh menitnya habis.

Bel meja berbunyi. Amara mengumpulkan kertasnya yang tidak dia pakai. Turun dari podium.

Dan sebelum dia duduk, dia menoleh ke kiri.

Ke pintu samping.

Dan melihatku.

Dan aku tidak tahu apa yang ada di wajahku pada saat itu — aku tidak pernah tahu apa yang ada di wajahku, itu bagian dari masalahnya — tapi aku tahu apa yang terjadi di wajahnya.

Dia berhenti.

Setengah langkah, di tengah aula, dengan seratus orang di sekelilingnya.

Lalu dia duduk.


Timnya menang ronde itu. Menang ronde keempat. Kalah tipis di semifinal, dengan selisih yang oleh salah satu juri disebut “paling kecil hari ini.”

Pukul empat sore semuanya selesai.

Aku membereskan meja pendaftaran, mengembalikan papan jalan ke Bu Ana, dan membantu memasukkan kardus berkas ke bagasi mobil sekolah.

Hujan mulai turun pukul setengah lima.

Bukan gerimis. Yang deras, yang tiba-tiba, yang membuat semua orang berlari ke bawah kanopi sambil berteriak tanpa alasan.

Mobil sekolah cuma muat sembilan orang. Kami dua belas.

“Yang rumahnya arah timur, saya antar dulu,” kata Bu Ana. “Sisanya tunggu, saya balik lagi setengah jam.”

Aku arah timur.

Aku bilang, “Saya nunggu aja, Bu.”

Bu Ana menghitung kepala, mengangguk, dan pergi.

Dan ketika mobil itu keluar dari pelataran, aku menoleh dan menyadari bahwa yang tersisa di bawah kanopi bersamaku, dari dua belas orang, adalah tiga anak kelas XII yang sedang menelepon jemputan.

Dan Amara.

Yang rumahnya arah timur.

Yang seharusnya ada di dalam mobil itu.


Kami berdiri di bawah kanopi gedung yang bukan gedung kami, di kota yang sama tapi di bagian yang asing, dengan hujan yang jatuh terlalu deras untuk dibicarakan.

Tiga anak kelas XII pindah ke ujung kanopi yang lain untuk mendapat sinyal.

Amara berdiri kira-kira satu setengah meter dariku.

Rambutnya sudah dilepas.

“Kamu lihat,” katanya.

Suaranya nyaris tenggelam di hujan.

“Iya.”

“Yang mana?”

“Ronde tiga.”

Air jatuh dari pinggir kanopi dalam garis yang tidak putus.

“Aku salah,” katanya.

“Lo betulin.”

“Kamu dengar aku salah.”

“Iya.”

“Nggak ada yang dengar aku salah.”

Aku menatap hujan.

“Gue dengar,” kataku.

Amara tidak berkata apa-apa untuk waktu yang cukup lama.

Lalu dia berkata, sangat pelan, dengan nada yang tidak marah dan tidak sedih dan itu justru yang membuatnya susah didengar:

“Ris, aku capek.”

Aku menoleh.

“Capek apa?”

“Aku nggak mau jelasin.” Dia memandang lurus ke depan. “Kalau aku jelasin, artinya aku yang bilang. Dan aku udah bilang aku nggak mau jadi yang bilang.”

Hujan.

“Amara—“

“Jemputan aku lima belas menit lagi,” katanya. “Aku telepon pas kamu lagi angkat kardus.”

Dan lalu dia melakukan sesuatu yang aku tidak siap sama sekali.

Dia berbalik menghadapku.

“Sabtu depan,” katanya. “Kamu ada acara?”

“Enggak.”

“Perpustakaan?”

“Tutup Sabtu.”

“Bagus.” Dia menyandang tasnya. “Jam sepuluh. Di sekolah. Aku mau ngomong.”

“Ngomong apa?”

Amara menatapku.

Dan di bawah kanopi gedung asing, dengan hujan yang membuat seluruh dunia terdengar seperti satu suara, dia berkata:

“Kamu tahu apa.”

Sebuah mobil masuk ke pelataran, lampunya menyapu dinding.

Dia melangkah keluar ke hujan tanpa payung — dia punya payung, aku tahu dia punya payung, payungku ada di tasnya sejak bulan lalu — dan berlari ke mobil dan masuk dan pintunya tertutup.

Aku berdiri di bawah kanopi selama dua puluh menit sampai Bu Ana kembali.


Malamnya Bagas menelepon.

“RIS. GIMANA?”

“Kalah semifinal.”

“Anjir. Sayang banget.”

“Selisihnya paling tipis hari itu.”

“Dia sedih nggak?”

Aku duduk di tepi tempat tidur dengan lampu mati.

“Enggak,” kataku.

“Bagus. Dia emang kuat ya.” Ada bunyi Bagas melempar dirinya ke kasur. “Gue tadi menang, tapi gue nggak cetak gol. Gue assist dua.”

“Bagus.”

“Ris.”

“Hm.”

“Lo kok suaranya aneh.”

Aku menatap laci meja yang terkunci.

“Capek,” kataku.

“Ya udah, tidur sana. Besok gue ceritain yang detail.”

“Iya.”

“Ris.”

“Apa.”

“Makasih ya udah lihatin.”

Sambungan terputus.

Aku duduk di kegelapan kamarku dengan ponsel di tangan yang sudah mati layarnya.

Sabtu depan. Jam sepuluh. Di sekolah.

Aku sudah tahu apa yang akan terjadi. Aku sudah tahu sejak dia mengucapkannya di bawah kanopi.

Dan aku menghabiskan enam hari berikutnya menyiapkan kalimat yang akan aku ucapkan, dan setiap kalimat yang aku siapkan adalah kalimat yang sama, dengan susunan yang berbeda-beda, dan semuanya berarti tidak.